
"Hallo suster Jovi, bagaimana? bisa kan? jadi suster untuk Ernest lagi?."
Tuan Toni tidak tahu apa yang terjadi, namun yang jelas suara Jovi tidak menyambung pertanyaan dari ayah tercinta Ernest tersebut.
"Suster Jovi, anda baik-baik saja kan?."
"Aaa.. iya Tuan Ernest,"
"Hehehe saya bukan Ernest, saya papa'nya ini, suster rindu Ernest ya?."
"Ouh maaf, maaf Tuan Toni."
"Telfon Ernest kan bisa kalau memang rindu, tapi malam ini kemungkinan Ernest sudah istirahat, tolong ya Suster Jovi, bantu saya sekali ini saja."
"Tuan, tapi saya ha.."
"Suster, saya belum bisa mempercayai orang lain untuk menjaga Ernest, dia satu-satu nya putra laki-laki yang saya miliki suster, semenjak di tinggal almarhum istri saya, Ernest sangat tertutup, tidak bisa terbuka dan apalagi percaya pada orang lain, tapi saya rasa, sejak mengenal anda Suster Jovi, sikapnya tidak se dingin dengan orang lain, saya yakin.. Ernest juga sadar akan hal itu."
"Saya mohon suster, sekali ini saja."
Suara pinta Tuan Toni benar-benar sangat lirih.
Jovi menjeda percakapan sangat lama.
Tuan Toni tau, bahwa Jovi sedang menimang tawaran dari ayah pengusaha kaya di Surabaya tersebut.
"Ma-maaf tuan, saya tidak bisa."
Tuan Toni terkejut.
Papa Ernest menyakini, ada masalah antara putranya dan Jovi.
"Kenapa begitu? apa selama ini Ernest memperlakukan suster dengan buruk? suster, selama ini saya lihat suster selalu sabar pada Ernest, apa ada masalah? kenapa Ernest? dia kurang ajar ya?."
"Bukan tuan, bukan begitu."
"Saya ingin mencari pekerjaan yang jam kerjanya tidak sampai menginap tuan, setelah saya coba bekerja satu bulan jauh dari keluarga menjadi suster, saya merasa terlalu berat, maaf tuan besar."
"Begitu ya.., ya.. ya.. saya paham, jam kerja memang tidak bisa seperti di rumah sakit, perawat pribadi memang lebih berat."
"Tapi suster, bisa ya tolong saya..?? begini saja, kalau memang nanti suster tidak mau menginap, suster bisa pulang sore. selanjutnya saya akan hubungi Ernest dan orang rumah, bagaimana?."
"Apa tidak sebaiknya, Tuan Toni mencari lagi suster baru untuk Tuan Ernest, sehingga penjagaan Tuan Ernest bisa maksimal."
"Aaaa.. iya, iya, yang suster Jovi ucapkan ada benarnya, tapi itupun membutuhkan waktu perekrutan lagi, kalau begitu sambil saya cari pengganti suster baru, sementara Suster Jovi jagakan Ernest ya..?."
"Baik tuan."
"Suster sudah di Surabaya kan?."
"Sudah tuan."
"Baik, besok saya hubungi suster lagi, kalau memang Ernest sudah balik dari Jakarta, susah lawan Ernest, dari dulu paling alot (kaku) kalau di ajak ke rumah sakit, maaf ya suster, sudah mengganggu malam-malam begini."
"Tidak papa tuan besar, semoga tuan besar selalu dalam keadaan sehat-sehat di luar kota."
"Terima kasih banyak suster Jovi, suster sudah selalu bisa membantu keluarga saya, terutama masalah Ernest, nampaknya sudah larut malam, saya tutup ya telponnya? selamat istirahat."
"Iya tuan, selamat istirahat kembali."
"Ya."
"Tut..," ponsel terputus.
Tidak lagi terdengarnya suara Tuan Toni, suasana ramainya terminal menyadarkan Jovi lagi. Dokter Nalen sudah ada di sampingnya, Jovi tersentak, ia tidak menyadari, Nalen sudah ada dari tadi.
Perempuan cantik itu sudah memperkirakan, keputusan yang di ambil ia sudah tepat. Menolong keluarga Wijaya tidak bisa berlama-lama, sebelum akhirnya Jovi di temukan Fictor masih sebagai suster.
Malam itu, dingin sudah menusuk tulang, ikat rambut di kepala, menurun ke bawah, beberapa helai rambut Jovi turut menutupi wajah.
"Siapa yang menelpon?."
"Kenapa panggilannya tuan?."
Jovi menyilakan rambut, tetapi angin saling berlomba tidak mau menerima sapuan tangan Jovi.
"Beliau Tuan Toni Wijaya Dokter."
Nalen membantu Jovi, menyilakan sisa helai rambut, masih nakal menempel di pipi.
"Sebentar, sebentar, bapak itu yang punya rumah sakit dan tempat dulu kamu kuliah kan, tempat Edo bekerja kan?."
"Iya Dokter."
"Terus? ada kepentingan apa dengan kamu? Toni Wijaya itu orang penting lo, kenapa menelpon kamu malam-malam Jov?."
"Anaknya saya rawat, kemarin sebetulnya sudah menjadi terakhir kontrak kerja saya Dok, tapi tuan Toni meminta lagi untuk menjaga putranya Dok."
Jovi menatap ke depan, tak ada niat melihat wajah Dokter Nalen yang ada di sampingnya.
"Anaknya? siapa ya? Edo pernah bilang, tapi saya sendiri sudah lupa Jov,"
"Ernest Dok, namanya."
"Ouh iya, Ernest, mereka itu keluarga kaya raya ya.. pengusaha sukses, salah satu crazy rich Surabaya, putra Tuan Toni sendiri, juga sudah terkenal di mana-mana."
"Pernah juga sih berpapasan di rumah sakit waktu acara apa gitu, tapi tidak bisa berkenalan, yaa.. wajarlah, mereka kalangan atas, mainnya sama petinggi rumah sakit, tidak sepadan jika dengan kita yang hanya berprofesi dokter."
Jovi menoleh.
"Saya malah tidak dokter Dok, hanya sebatas pernah kuliah kesehatan, doubel nggak pantas dong berarti."
__ADS_1
"Iya nggak pantas." Dokter Nalen menjatuhkan.
"Iya kah..?."
Mata Jovi kosong, mencoba sadar diri.
"Iya, betul, sungguh."
"Ya mungkin."
"Kamu nggak pantas, kamu pantasnya cuma sama aku." Nalen tertawa.
"Hahaha.. gombal," Jovi mendorong tubuh Dokter Nalen.
"Baper ya..? jangan-jangan udah jatuh cinta sama Ernest ya..?."
"Sok tau, sok tau." Jovi tidak sungkan memukul pundak Dokter tampan tersebut.
"Hahaha, bukan Ernest sih, jatuh cinta sama Tuan siapa tadi yang baru nelpon,"
"Bukaaan...," Jovi tertawa menarik baju Dokter Nalen.
"Ouh iya, Tuan Toni, ya kan ya? aduuuh.. lama nggak ketemu Jovi, eh seleranya udah rubah jadi aki-aki ini,"
Bibir Jovi nampak di manyunkan.
"Ngambek? mas, mas, permen mas?."
"Jangaaaan, Dokterr.. malu ah, malah beneran di beliin permen, itu manyun gara-gara kesel Dok, huuu.. nggak peka."
"Sudah pinter kode-kodean sekarang ya?." pipi Jovi di cubit Dokter Nalen.
"Aduuuh, aduuuhhh."
Dokter Nalen menekan ke dua pipi Jovi, sehingga bibir merah perempuan cantik tersebut maju 5cm dari sebelumnya.
"Dokter... lepasin."
"Nggak mau, cantikan begini."
"Haaa... sakit Dok."
"Lebih sakit di tolak kamu."
"Hahahhaha." bibir Jovi riuh dengan tawa.
Tawa lama, yang sudah tidak pernah terlihat, malam ini sungguh adanya. Sikap lembut Dokter Nalen dan Jovi mengalir begitu saja, seolah mengembalikan Jovi pada masa lalunya.
Kedekatan antar dua insan, meski tidak sampai jadi kekasih. Dokter Nalen tetap menganggap, Jovi adalah perempuan kecil Nalen seperti dulu.
Meskipun tidak secara gamblang Dokter Nalen menyebutkan ada sakit hati, saat Jovi menolaknya. Ahli bedah tampan RS. Intan Medika, lebih suka mengganti dengan membercandai Jovi.
Canda tawa mereka terhenti, pukul sudah menunjukkan 24.00 malam, Dokter Nalen mengajak Jovi ke tempat penitipan mobil. Jalan mereka membersamai.
Sepulang dari kantor, wajah lelah mereka, Ernest membangunkan, dan Jovi melihat kaca jendela, hari sudah mendadak berganti malam. Walaupun kejadiannya tidak sama, tapi Jovi sering mengaitkan.
Lagi-lagi suasana Enmaru kembali mengingatkan. Hamparan pulau seribu dan tinggi monas, malam hari sangat terlihat indah.
"Tuan Ernest, semoga tidur tuan malam ini nyenyak ya..?? good night Tuan Ernest, have a nice dream for you, save me in your heart."
Janji yang pernah Jovi ucapkan, sepertinya sudah lupa. Suara lirih Tuan Toni meminta menjaga Ernest, lebih mendominan isi kepala Jovi. Terbukti benar, cinta memang bisa mengalahkan semua.
Mendengar Ernest jatuh sakit, sudah berusaha menolak, mau bagaimana lagi, takdir mengantar kedua insan kembali. Sehebat apapun kita melepaskan, takdir tidak kehabisan cara untuk menyatukan.
*************************
PERJALANAN MENUJU SURABAYA.
Di Dalam Mobil.
Dokter Nalen mengendarai mobil, menyucup secangkir kopi, lewat tol kebo mas, kembali ke Surabaya.
"Jov."
"Ya."
"Kalau bukan karena erupsi gunung merapi dan semua penerbangan di Jakarta tertutup total, mungkin kita tidak akan bertemu, dan ini takdir kita."
"Kita bisa tidak bertemu, kalau seandainya Dokter memutuskan kembali ke Surabaya naik bemo, 100% takdir tidak akan mempertemukan kita."
"Hahaha.., kalau ada odong-odong, lebih baik naik odong-odong."
"Belum keluar Jakarta, sudah putus rantai odong-odongnya Dokter."
"Ya udah, naik ke pelaminan bareng kamu aja deh, gimana?."
"Cuma naik ya? ya udah amplopnya dulu mana?," ledek Jovi berwajah lucu.
"Ini sungguh Jovi, saya tidak bercanda, apa waktu 5 tahun masih kurang buat kamu untuk menerima cinta saya? dulu fokus skripsi, sekarang apa masih ada fokus yang lain lagi?."
Jovi diam saja.
"Maaf.. maaf..."
Mobil jadi hening.
Dokter Nalen merasa tidak enak, ia sadar, pernyataan ke Jovi terlalu mengejutkan perempuan cantik tersebut.
"Eh rumah kamu masih di Kalimaya kan?." sorot mata Dokter Nalen melihat ke arah spion.
Mobil menyebrang.
__ADS_1
"Iya Dok."
"Gimana kabarnya tante Rita sama Om Yusuf, sehat kan?."
"Sehat Dokter."
Sesampai di Surabaya, perjalanan menuju perumahan Jl. Kalimaya, Dokter Nalen benar tidak melupakan di mana rumah Jovi. Tanpa di komando, mobil sudah membelokkan diri,ber kecepatan standart.
Suasana perumahan, nampak asri, hening kawasan perumahan, dan satu satpam di dalam ruang jaga pos terlihat memperhatikan mobil Dokter Nalen. Pagar putih rumah Jovi sudah mulai nampak.
Jovi sudah sangat merindukan suasana rumah, orang tua dan Aqila akan jadi sasaran utama, melepaskan rindu. Lama 30 hari, ia meninggalkan rumah, sayang masih ada beban lagi yang di tanggung.
Semesta Grup ada di fikiran Jovi, Fictor dan bayangan kebangkrutan, akan berdampak bagi keluarga. Berpindahnya kerjasama PT. Jyco ke Wijaya Grup, takut, yang di anggap melatar belakangi semua adalah Jovi.
Karena itu, Jovi tidak berani lama menjadi dan berada di samping Ernest.
Mobil Dokter Nalen berhenti di depan rumah Jovi.
"Terima kasih Dokter, sudah mengantarkan saya sampai di rumah."
"Harus ada imbalannya."
"Apa?."
"Cupp..," Nalen mendaratkan ciuman.
"Hati-hati ya, jangan tinggalkan saya lagi Jov, sejauh apapun kamu belum siap, saya masih akan sabar menunggu kamu, lekas tidur kalau sudah masuk."
"Terima kasih dok, saya masuk dulu."
Jovi menarik tangannya, dari pegangan tangan Nalen. Nomor ponsel baru milik Jovi, tak ubah di mulai lagi komunikasi antar mereka berdua.
Jovi sendiri merasa terkejut, Nalen se romantis itu dengan perempuan, yang dulu di temui'nya saat menjadi dosen tamu di kampus.
Tubuh Jovi sudah keluar mobil, koper yang ada di belakang pintu mobil belakang juga turut di ambil. Sebelum Dokter Nalen pergi, lambaian tangan dari dalam kaca mobil di lihat Jovi.
Nalen meninggalkan kawasan perumahan di pukul 01.00 dini hari.
"Kreeekk..." pintu pagar di buka.
Jovi masuk, roda koper turut ikut bersuara, lampu dalam ruang rumah satu pun tidak ada yang menyala. Tangis Aqila kadang terdengar, tapi kembali samar tak ada.
"Mah.. Pah.. Jovi pulang, mah..."
"Mamah..."
Pandangan mata perempuan cantik tersebut jalan ke arah carport, mobil papa Jovi masih di luar. Tertanda mobil Jovi belum di jual.
Rencananya, Jovi akan menjual besok mobilnya ke showroom. Guna menyelesaikan sisa pinjaman senilai 900.000.000 dari Om Purwo.
"Kreeeekkk..."
"Jovi....," mama membuka pintu.
Mama Jovi memeluk anaknya.
"Mama, kangen banget sama kamu nak."
"Jovi juga mah," pelukan mereka
"Mah, Aqila masih tidur ya?."
"Iya, kamu naik taksi? kenapa sampai malam begini? ayoo, ayoo kamu pasti capek, biar mama yang bawakan kopernya."
"Nggak, tadi Jovi nggak sengaja ketemu Dokter Nalen di bus, jadi tadi Dokter Nalen pulang bareng ngantar Jovi."
"Nalen? kebetulan sekali, syukurlah nak, mama lega kamu pulang dengan selamat."
"Iya mah."
Dua ibu dan anak tersebut jalan masuk ke dalam kamar Jovi. Lelah tubuh yang benar di rasakan oleh putrinya, membuat mama Jovi mengambil air hangat, meredam hangat tubuh anaknya akibat suasana dingin malam.
Mama Jovi mondar mandir, mengambil air, mengambil camilan, menyiapkan baju mandi untuk Jovi. Orang tua perempuan Jovi tersebut seolah lupa, bahwa hari masih tengah malam, belum pagi.
"Jovi ini air hangat, minum ya nak."
Tak berselang lama.
"Jov, ini jeruk, sekalian untuk menghangatkan kondisi tubuh kamu, musim lagi pancaroba, jadi harus jaga kesehatan."
Mama Jovi keluar.
Mama Jovi masuk lagi.
"Mama siapkan dulu baju, kamu mau mandi nggak? mandi aja biar segar."
Sorot mata Jovi nampak sangat sedih, saat melihat orang yang begitu di cintai, mengkhawatirkan Jovi lebih dari dirinya sendiri. Mama cantik Aqila tersebut, membuka koper Jovi satu persatu.
"Jov, mandi dulu, pakai air hangat, biar tubuh kamu segar, kamu habis perjalanan jauh."
"Nggak mah, Jovi lagi kurang enak badan."
"Kalau begitu kamu rebahan dulu ya..!! mama ambilkan air rendaman buat kompres kamu."
Belum selesai mendudukkan diri, merapikan semua isi koper ke dalam almari panjang kamar putrinya. Mama Jovi seperti tidak lelah, menyiapkan semua yang di butuhkan.
Walaupun Jovi tidak meminta, cinta dan kasih sayang mama Jovi, mengerti apabila anak sulungnya tersebut, memang tidak banyak bicara.
Sehebat itu, mama Jovi bisa memasang wajah teduh, sorot mata mama Jovi juga nampak biasa, walaupun Jovi tau, naiknya hutang bunga sempat membuat syock kedua orang tua.
"Bagaimana meeting kamu selama ini di Jakarta sayang? kamu sudah pamit Pak Fictor?." tanya mama Jovi.
__ADS_1
Sebelumnya memang Jovi belum pernah memberi kejelasan apapun tentang apa yang sebetulnya di lakukan perempuan cantik tersebut dalam satu bulan.