Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
32. Karena Berkas PT. Antariksa


__ADS_3

Masih seputar dengan pekerjaan yang ada di kantor, Sonia yang baru saja mengambil duduk di kursi kantor, setelah selesai beristirahat di kantin, sudah mendapatkan telepon dari Ernest lagi.


Dalam hati Sonia berfikir, pasti Ernest akan kebingungan dan menyuruh Meghan datang ke ruangan Ernest, untuk membantu. Semua semakin diyakini Sonia, ketika panggilan dari telepon kantor sudah lebih dari 3 kali.


"Tring.. ting.. ting.. ting.. " telepon kantor Sonia berbunyi.


"Hallo, selamat siang Pak Ernest, ada yang bisa saya bantu."


"Sonia, saya sudah selesai menemukan file design PT. Antariksa yang saya cari, kamu segera kirimkan nama dua PT yang berkasnya masih belum ditemukan ya?."


"Sungguh pak?? Bapak sudah selesai dengan semua berkas tadi?," Sonia seperti tidak percaya.


"Iya sudaahhh..., kalau begitu, kamu sekalian ambil semua map ini lagi aja, dan bawa nama dua PT tadi," pinta Ernest.


"Ba-baik pak, sebentar lagi saya ke ruangan bapak."


"Oke cepat ya.. saya tunggu biar cepat selesai."


Ernest menutup telepon.


Setelah mendengarkan permintaan atasannya, Sonia masih dibuat tidak percaya, Ernest tidak mungkin menyelesaikan semua berkas hanya dalam hitungan jam.


Selama ini yang Sonia tahu, Meghan lah yang selalu diminta Ernest mencari berkas. Sembari menduga, dan tidak percaya, kedua tangan Sonia mengetik nama PT yang sudah diminta Ernest daritadi.


"Berkasnya hampir mendekati angka 100, dan Pak Ernest bisa mencari file design yang dia maksud, nggak.. nggak.. itu nggak mungkin.. masak sih. ??," gumam Sonia sendirian.


Ruang Direktur Utama (Ernest Wijaya)


Selesai mengecek file design, Ernest akhirnya sudah mulai bisa bernafas lega. Dirinya sudah mempelajari materi yang akan digunakan untuk meeting besok pagi.


Hanya tinggal menyelesaikan dua berkas nama PT, melakukan penanda tanganan kerjasama, semua sudah kembali normal. Kedua mata Ernest melihat jam, sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.


Ernest benar-benar tidak menyadari, fokusnya dia dibantu dengan suster Jovi, sudah menyita semua waktu hampir seharian penuh. Begitupun juga Jovi, hari ini diajak bekerja hebat.


"Suster."


"Iya tuan."


"Saya lapar, kita sudah hampir melewatkan makan siang."


"Hah..??," Jovi tersentak, melihat jam tangannya sudah pukul 14.00 WIB.


"Ma-maaf tuan, saya segera siapkan makan siang tuan," tubuhnya beranjak mengambil box makan.


"Bawakan vitamin juga ya suster, kelihatannya hari ini kita pulang sedikit terlambat."


"Baik tuan, sebelum minum vitamin, tuan minum obat dulu."


"Iyaaa," mata Ernest masih tidak beralih pandangan memandangi susternya.


Melihat rambut panjang Jovi dari samping, tergerai begitu indah. Hidung mancungnya benar-benar menjulang tinggi, dan merah alami bibir suster Jovi, sangat terlihat cantik.


Ernest berencana mengajak Jovi ke ruang berkas dan juga arsip kantor. Dia akan meminta bantuan kepada Jovi, mencari dua nama PT yang akan dikirimkan Sonia, setelah ini.


Jika benar, Jovi bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu, kemungkinan Ernest akan menghubungi pihak staff HRD rumah sakit, meminta kembali daftar riwayat Jovi, ketika mengajukan permohonan menjadi suster untuk tuan muda itu.


Jovi berjalan ke arah Ernest, mengambil kursi dan duduk disamping atasan Meghan tersebut. Sikapnya masih ramah, suster Jovi masih sangat baik, memperlakukan Ernest.


"Tuan, tuan makan sendiri?,"


"Suapin ya..!! saya malas makan," rengeknya manja.


"Baik tuan."


"Suster belum makan ya?."


"Belum tuan, nanti saja."


"Jangan begitu, suster Jovi kan punya maag, bagi dua saja makan saya siang ini sust."


"Tidak tuan," dia menggeleng kepala.


Ditengah kecurigaannya pada suster cantiknya itu, hati kecil Ernest benar-benar tidak bisa di bohongi, Ernest mulai merasa mencintai Jovi.


Matanya tidak berhenti memandangi Jovi, yang menunduk sibuk menyiapkan makan siang. Jemari tangan Jovi menutup semua, mengemas selesai deretan box makan.


Tidak sengaja, Jovi mengangkat kepala, melihat ke arah Ernest. Ernest pun menatap kosong, bola matanya tidak berpindah arah, meski Jovi sudah melihat, Ernest tetap memandang ke arah suster Jovi.


"Tuan, ada apa?."


Ernest masih tidak bergeming.


"Tuan Ernest," tangan Jovi dikipas pada kedua mata tuan muda.


"Tuan," panggilnya berteriak.


"Hhmm.. iya, ada apa suster?," posisi duduk Ernest dikembalikan semula.


"Tidak, tidak.. tidak ada apa-apa kok tuan."

__ADS_1


"Ouuuuhhh..," Ernest langsung berbalik pura-pura mengambil satu berkas penting di laci.


Keduanya sama-sama tidak enak. Ernest benar dibuat malu, kenapa bisa sampai tidak sadar, ada Jovi yang sudah memandangi dia.


Selanjutnya, Ernest mencium aroma masakan yang masih tetap hangat, dari sendok tangan suster cantiknya. Mulut laki-laki tampan tersebut, membuka, menikmati setiap sendok suapan dari Jovi siang ini.


File yang diambil dari laci, di geletakkan lagi oleh Ernest, karena memang tidak perlu untuk dicek. Sedangkan file di map hitam, sudah dirapikan lebih dulu, masuk ke dalam, almari kaca di belakang meja kerja Ernest.


"Suster, makan saja, nggak papa," baiknya Ernest menawari.


"Nggak usah tuan," geleng Jovi diikuti rambut panjangnya berlarian.


"Makan aja, nasi dan lauknya itu banyak suster."


Jovi menggelengkan kepala.


"Nggak usah tuan, nggak papa."


"Saya suapin ya..??," Ernest mengambil sendok di kotak makan.


"Nggak usah tuan, saya belum lapar," jawabnya langsung menjauhkan wajah.


"Nggak papa suster, ini makan aja, ayoo dibuka mulutnya haakk...."


"Tuan saja, sini saya suapi lagi," Jovi merebut sendok.


"Eeeitsss.. nggak bisa," Ernest mengangkat sendok tinggi-tinggi.


"Tuan...."


"Tuan, jangan, nanti nasinya tumpah semua."


"Makanya, ayoo makan, sini-sini hakkk.. dibuka ya mulutnya suster Jovi," rayu Ernest tertawa geli.


Jovi menuruti keinginan CEO muda itu.


"Makan yang banyak ya sus, biar bisa konsentrasi, jaga mood, dan bantuin saya, unccchh unchhh...," kata Ernest sembari menyuapkan nasi ke mulut Jovi.


"Hahaha, tuan jangan begitu, saya malu."


"Nggak papa kan, tadi kan kamu juga bilang gitu ke saya, ya kan suster Jovi? masak lupa," Ernest sama-sama tertawa.


"Hehehe iyaa tuan."


"Ayooo, ayooo, makan lagi, haakkk... suster."


Untuk kedua kalinya, Ernest menyuapkan satu sendok nasi ke arah kakak Aqila itu. Bercanda mereka disela-sela makan siang, sedikit melupakan kecurigaan Ernest.


Meski Jovi menolak mulutnya dibersihkan oleh Ernest, tetapi putra Tuan Toni, masih memaksa, membersihkan sisa makan siang, dimulut perempuan yang menggunakan baju hijau tosca.


"Eehemmm.. ehemmm..," suara Meghan menyeruak ke ruangan.


Mata Jovi terbelalak, mendapati Meghan tiba-tiba ada di depannya. Begitupun juga Ernest, wajahnya langsung merubah musam, memandang ke arah wanita yang tidak jadi di nikahinya.


"Meghan, Sonia, kenapa tidak mengetuk pintu?," Ernest menaruh sendok makan.


"Tadi saya sudah ketuk pintunya Pak Ernest, tapi dari dalam tidak ada jawaban," tutur Sonia.


"Sama." jawaban Meghan hanya seperti itu.


"Ya sudah, silahkan masuk," Ernest mempersilahkan.


Meghan dan Sonia sama-sama mendekat ke arah kursi didepan atasannya hari ini.


"Ada apa Sonia? bagaimana dengan dua nama PT yang saya minta? kamu sudah bawa kan?."


"Sudah Pak Ernest, ini dua nama PT yang berkasnya belum kita temukan, kelihatannya semua berada di ruang arsip dan berkas di lantai 6," Sonia menyerahkan lembaran.


"Oke terimakasih, nanti saya cek sendiri."


"PT. Mahakam bermap hijau pak, dan PT. Torifam warna kuning," jelas Sonia.


"Baik-baik, makasih ya, kamu selesaikan juga segera, berkas pengajuan tander yang sudah kamu kerjakan, nanti berikan ke saya."


"Baik Pak Ernest."


Sedangkan Ernest mulai memandang malas ke arah perempuan di samping Sonia. Meghan terlihat menggunakan kemeja warna merah bata, yang dulunya, Ernest paling suka, ketika mantan kekasihnya menggunakan baju itu.


Tapi tidak untuk sekarang, setiap Ernest memandang Meghan. Dia selalu mengingat jahatnya Meghan meninggalkan dirinya sendiri di dalam restoran, sampai tutup.


"Ada apa Meghan kamu ke sini? bukannya kamu ada di staff editing?," Ernest heran.


"Maaf pak, saya hanya menawarkan bantuan, tadi Sonia bilang Pak Ernest sedikit kalang kabut dengan pekerjaan bapak, apalagi ditambah hari ini Devi tidak masuk."


"Apa yang mau kamu bantu?."


"Kalau kamu tidak keberatan, saya bisa bantu memilah file dan mengelompokkan berkas sesuai jenisnya," Meghan menawarkan bantuan dengan percaya diri.


"Saya sendiri merasa bersalah pak, kalau waktu itu saya belum menyelesaikan semua pekerjaan di bagian sekertaris, sebelum dipindahkan oleh Pak Ernest, mungkin semua tidak akan terjadi," Meghan seolah peduli.

__ADS_1


"Maaf ya.. hari ini berkas dari PT. Antariksa sudah saya temukan, berkas di map merah, juga sudah di kelompokkan oleh suster saya, jadi maaf ya.. saya tidak perlu bantuan kalian."


"Hah..?? sudah selesai ?? maaf Pak Ernest, file dari PT. Antariksa itu terbagi menjadi banyak pak, ada design lay out, data statistik, dan lain-lain," tutur Meghan tidak yakin.


"Sudah Meghan," jawab Ernest santai.


"Tidak mungkin pak, saya tau, Pak Ernest tidak begitu bisa menata berbagai jenis berkas, ya maaf pak, karena itu bukan pekerjaan bapak," Meghan merasa Ernest membohonginya.


"Kamu cek saja kalau tidak percaya, berkasnya sudah ada didepan kamu kan, lihat saja," tantang Ernest membuang muka.


"Pak, file PT Antariksa itu, ada denah, ada file statistik, kemudian bangun tata ruang, semua harus dikelompokkan dengan benar Ernest, maaf maksudnya Pak Ernest."


"Cek saja cek, kalau kamu tidak percaya," Ernest dibuat kesal oleh sikap Meghan.


Sedangkan Sonia yang mulai melihat adu argument Meghan dengan atasan, merasa menyesalkan sikap sahabatnya.


Daritadi Sonia sudah memberi tahu, tapi Meghan masih keukuh, minta masuk ke ruangan Ernest, untuk menawarkan bantuan.


"Haduuuh.. Meghan Meghan.. udah dibilangin daritadi loe nggak percaya sih? sekarang malah bertengkar sama Pak Ernest," Sonia membatin dalam hati melihat Meghan di sampingnya.


Sonia mulai merasa tidak enak dengan Ernest, pasalnya sudah lama, dia dan Meghan berada di ruang direktur utama. Meghan tidak menyadari, dia ditunggu oleh Sonia.


Mata Meghan sama sekali tidak mau lepas dari berkas, hatinya tidak terima dan tidak yakin. Sedangkan, Ernest mulai kesal, menunggu lama Meghan, tidak segera pergi dari ruangan siang ini.


"Sudah sudah, kalau memang tidak ada lagi yang kamu butuhkan, mungkin kamu bisa keluar saja," perintah Ernest.


"Sebentar pak, saya cek dulu, di bagian A, bagian ini harusnya untuk design, dan B untuk promo," Meghan mengecek berkas didepannya.


"Terserah kamu lah," jawab atasannya pasrah.


"Ouh ya Sonia, kamu bawa lagi berkas-berkas itu, semua sudah dikelompokkan oleh suster Jovi, ada tanda A, B, C sampai E kalau tidak salah, nanti tolong kamu ketik ulang, dan tempel dibagian kanan map ya..!!."


"Ouh iya Pak Ernest baik, kalau begitu saya bawa keluar lagi berkas-berkasnya," Sonia mengambil tumpukan map.


"Ayooo Meghan," ajak Sonia pergi dari ruangan.


Melihat Meghan yang masih mengecek berkas, perempuan cantik mantan Ernest sangat dibuat tidak percaya, berkas yang dikelompokkan, sama persis seperti biasa, ketika Meghan mengelompokkan.


Sekarang bukan hanya Ernest yang curiga, Meghan juga semakin dibuat penasaran. Darimana Jovi bisa mengetahui pengelompokkan dokumen, sangat urut, sesuai abjad, dan penaruhan berkas.


"Suster satu ini benar-benar tidak beres, awas saja kamu Jovi, kamu selalu menggagalkan semua rencanaku," Meghan membatin kesal dalam hati.


"Kamu bantu Sonia ya..," Ernest memandang Meghan yang masih tidak lepas dari berkas.


"Iya, baik, makasih," jawabnya cuek ikut pergi dengan Sonia.


Meghan melangkahkan kaki, tetapi dia kembali ke arah Ernest lagi. Karena Jovi lagi, dirinya gagal mencari muka di depan Ernest.


"Hati-hati Ernest, gue yakin, suster Jovi bukan suster sungguhan," Meghan memberitahu Ernest.


"Karena profesi suster, tidak akan bisa membantu merapikan berkas secepat ini, dia bukan suster," telunjuk tangan Meghan tidak malu lagi mengarah ke Jovi.


"Meghan... jaga ucapan kamu, kamu tidak berhak menilai suster Jovi seperti itu, keluar kamu Meghan," bentak Ernest tidak main-main.


"Loe jangan mau Ernest, dibodohi sama Jovi, dia nggak se lugu seperti penampilannya."


"Meghan.. pergi....!!! gue panggil satpam nanti," tangan Ernest meraih gagang telepon.


"Oke gue keluar."


"BRAAAAKKK...!!," suara pintu ruangan yang ditutup Meghan.


Sekarang Jovi yang dibuat tercengang atas tuduhan dari Meghan, ucapan dari Meghan, baru menyadarkan, betapa bodohnya Jovi, bisa hilang kendali, menunjukkan kepandai'annya dalam menata arsip.


Perempuan cantik tersebut, benar-benar lupa, jika posisinya hari ini bukanlah sekertaris di kantor Fictor. Semua diluar kendali, Jovi gemetaran, apalagi telunjuk tangan Meghan seperti belum hilang menunjuk dirinya.


Semua kebiasaan bertahun-tahun Jovi, menjadi sekertaris di kantor adalah alasannya lupa. Suasana ruang kerja, selalu melemahkan ingatan dia, bahwa profesi dia hari ini, adalah suster.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Meghan pasti akan menyelidiki semua?, Jovi kenapa kamu bodoh sekali," suster Jovi membatin sedih.


Ernest sangat dibuat gemas oleh Meghan, gara-gara mantan sekertarisnya, dia takut Jovi tidak akan bisa masuk ke dalam perangkap Ernest.


Semua akan memastikan bahwa perempuan cantik bernama Jovi benar mata-mata atau bukan.


"Suster Jovi, saya minta, kamu jangan masukkan hati perkataan Meghan tadi, dia hilang kendali hari ini."


"Iya tuan, saya juga menyadari, wajar saja Meghan berfikir seperti itu, karena dia nggak tau, saya pernah magang di rumah sakit bagian arsip," alasan Jovi sekena'nya.


"Iya suster, benar kata suster, sudah lah jangan diambil pusing," Ernest membuat Jovi untuk tenang kembali.


"Iya tuan, baik."


"Setelah ini ikut saya lagi ya, ke ruang arsip, bantu saya mencari dua file dari PT. Mahakam dan PT. Torifam, karena Sonia bilang ada dilantai 6."


"Iya tuan, baik, nanti saya coba cari dan pilah lagi."


"Meghan memang seperti itu, dulu saya kurang suka sama sikap dia, yang sering suudzon suster, semoga setelah Meghan tidak dengan saya, dia bisa merubah sikap," Ernest pura-pura curhat.


"Iya tuan."

__ADS_1


Jovi masih takut, dia takut Ernest menaruh curiga padanya. Tetapi tidak ada gelagat Ernest yang mencurigai Jovi sama sekali. Beruntung, curhatan Ernest sedikit melegakan susternya.


Jovi merasa, Ernest memang benar-benar tidak mengambil pusing pernyataan Meghan. Semua membuat Jovi bisa bernafas lega.


__ADS_2