
Setelah menunggu loading komputer, dan komputer sudah normal kembali, tanpa menunggu komando dari Ernest, tangan Jovi sudah mulai mengetik berita acara.
Bahkan tanpa aba-aba dari Ernest, maupun mendengarkan dulu bagaimana panduan membuat berita acara, mahirnya tangan Jovi sudah melakukan semuanya.
Ternyata suster cantik tersebut, masih ingat betul bagaimana cara membuat berita acara untuk rapat kantor. Daritadi Ernest selalu dibuat bertanya lebih dalam, siapa sebenarnya Jovi ini.
Penggunaan font, ukuran kertas, margin di komputer, serta spasi 1,5, semua akan dicek oleh Ernest. Mengajak Jovi menyelesaikan semua tugas, yang diberikan oleh CEO Wijaya Group.
"Suster Jovi begitu detail memperhatikan ukuran kertas, penggunaan spasi, dan semuanya..!! dia tidak mungkin kalau hanya perawat, siapa Suster Jovi? apa memang datangnya suster Jovi, sengaja dikirimkan oleh seseorang?," tanya Ernest dalam hati.
"Kalau memang iya? lantas kenapa, sampai menjelang akhir kontrak, suster Jovi sama sekali tidak pernah memberi niat buruk? atau mencelakai gue sama sekali? apa sebenarnya yang di inginkan suster Jovi?," semua menjadi pertanyaan di dalam hatinya.
Dari belakang suster Jovi, Ernest berdiri tegak, dua tangannya ditaruh pada saku celana kanan dan kiri. Mata Ernest sama sekali tidak melihat, suster cantiknya itu, memiliki kendala saat mengetik.
Tetapi Ernest tidak mau, berprasangka buruk terlebih dulu pada Jovi. Dia tetap akan mengecek pekerjaan suster cantiknya itu, apakah sudah sesuai dengan yang di minta atau tidak.
Meski semua petunjuk sudah mulai mengarah pada Jovi, dengan tegas Ernest tetap akan menunggu terlebih dulu, bukti dari berita acara, yang sudah di ketik oleh sekertaris Fictor tersebut.
"Suster, jangan lupa perhatikan ukuran kertas, margin, spasi yang di gunakan, tanda baca juga ya..!!," Ernest memberitahu poin-poin yang dinilai.
"Baik tuan," jawabnya singkat.
"Jangan lupa, bubuhkan kop surat, sesuai apa yang suster ketahui?."
"Iya tuan, siap"
"Saya copy paste saja ya tuan kop suratnya?," Jovi mencari file di komputer.
"Iya terserah, enaknya suster bagaimana? terserah," Ernest memberi kebebasan.
Lentiknya jemari tangan Jovi, berlarian ke setiap tombol keyboard yang akan dituju. Jovi mengambil kop surat, lambang logo perusahaan Ernest, sudah di sisipkan pada bagian kiri atas, berita acara.
Ernest heran, jika memang Jovi adalah suruhan, kenapa Jovi justru memperlihatkan kehebatannya. Laki-laki tampan tersebut, semakin tak paham, oleh semua yang terjadi sore ini.
Ponsel gengam Ernest mulai dikeluarkan, semula berada di dalam jass putihnya, sekarang Ernest sudah membuka pesan whatsapp. Dirinya mencari salah satu nama staff HRD, di rumah sakit Wijaya.
Nama ibu Faradilla langsung ditemukan Ernest, ketika mengetik "staff HRD RS". Putra kesayangan Tuan Toni ini, mengetik pelan, sembari memperhatikan Jovi yang masih fokus menghadap komputer.
Jemari tangan Ernest, terlihat mengetik sesuatu. Tetapi kadang, tangannya menghapus lagi, apa yang sudah di ketik panjang oleh laki-laki tampan itu.
" Suster Jovi."
"Ahh.. iya tuan, ada apa?," Jovi mendongak ke atas.
"Kalau boleh tau, nama lengkap Suster Jovi siapa ya?," tanya Ernest masih menggenggam HP.
"Nama saya Jovi Andrianita tuan."
"Ouh iya ya.. terimakasih ya."
"Sama-sama tuan, memangnya ada apa ya tuan?," tanya Jovi sedikit merasa aneh.
"Tidak papa, selama ini saya kan memang tidak tau nama lengkap suster kan?," Ernest tersenyum.
"Ouh begitu, baik tuan."
Jovi lalu melanjutkan lagi pekerjaan yang diminta Ernest. Di belakang susternya, sekarang jemari tangan Ernest, tidak ada kendala dalam pengetikan pesan whatsapp , semua akan disampaikan pada ibu Faradilla.
"Selamat sore ibu Faradilla, saya bisa minta tolong? carikan data atas nama Jovi, yang dulu pernah mengikuti perekrutan kerja sebagai suster untuk saya? cari tahu juga sebanyak mungkin, dari daftar riwayat hidup yang dicantumkan? profesi apa yang dulu, dilakukan suster Jovi?," pesan terkirim pada ibu Faradilla.
"Kirimkan juga kepada saya? alamat rumah yang ditinggali atas nama Jovi Andrianita? Terimakasih sebelumnya ibu Faradilla, maaf sudah merepotkan." imbuhnya di pesan whatsapp.
Pesan tersebut, sudah terlihat centang dua biru, dimana berarti staff HRD di rumah sakit sudah membacanya. Semua kecurigaan Ernest, mulai dibabat habis satu persatu olehnya.
Beberapa pegawai di ruang staff direktur utama, sama sekali tidak membunyikan suara. Gelak tawa yang biasanya didengar Ernest dari ruangan, sore ini saat Ernest di ruangan tersebut, semua diam.
Ernest melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Sebentar lagi, kantor akan segera tutup, tetapi berkas PT. Mahakam dan PT. Torifam, belum di carinya.
"Trriiiiittt... tiiittt... tiiiiittt..."
Suara dari saklar listrik, yang berada di lantai 5.
Tidak menunggu lama, semua komputer di ruang staff lantai 5 mati semua. Ada suara para pegawai yang menyesalkan, tidak langsung menge'save data yang sudah di kerjakan. Begitupun juga dengan Pinkan dan Sonia.
__ADS_1
Dari pintu kaca staff Ernest, pegawai di staff lain, yang juga berada di lantai lima, keluar kandang satu persatu. Nampaknya hal tersebut, dimanfaatkan untuk beristirahat sebentar mengambil minum, dan sholat ashar.
Jovi sendiri mengaku kaget, semua komputer tiba-tiba mati, namun listrik di kantor masih menyala dengan normal. Ernest segera mencari tahu keluar ruangan, apa penyebab matinya komputer.
"Tuan Ernest, kenapa komputernya mati semua?," Jovi ikutan panik.
"Belum tau suster, biasanya pemadaman listrik, tapi ini hanya sebagian," Ernest melihat semua komputer mati.
"Iya tuan, tapi saya tadi belum sempat menyelesaikan berita acara, yang diminta Tuan Ernest," Jovi merasa tidak enak.
"Bagaimana tuan? Tuan Ernest belum sempat mengecek pekerjaan saya," imbuhnya merasa bingung.
"Ya sudahlah, mau gimana lagi suster? besok-besok saja lah," jawab Ernest pasrah dan sedih.
"Maaf ya tuan, saya juga sudah berusaha mengetik semaksimal mungkin, tapi belum selesai tadi," Jovi takut tidak memperoleh jabatan sekertaris.
"Nggak papa kok, lain kali aja," Ernest sebetulnya menaruh kesal.
"Baik tuan, kalau begitu."
Karena tidak ada pemberitahuan lebih dulu, oleh pemadaman yang terjadi sore ini. Semua menunda misi Ernest, yang sudah berjalan sebagian, dengan sangat lancar.
Disadari atau tidak, karena pemadaman, nasib Jovi sore ini sedikit tertolong. Semua menunda jati diri Jovi, belum di ketahui oleh Ernest.
Perempuan cantik itu tidak menyadari, Ernest sudah melakukan uji coba padanya.Sore ini Ernest juga belum sempat, mengkoreksi pekerjaan Jovi.
"Kalau hanya pandai menata berkas saja, semua belum meyakinkan, hadehh.. kenapa harus ada pemadaman juga sih?," Ernest membatin ragu.
"Suster, sebentar ya saya keluar dulu," pinta Ernest meninggalkan Jovi.
"Baik tuan."
"Suster disini saja ya..?? nggak papa kan," Ernest tidak biasanya meninggalkan Jovi.
"Tidak apa-apa tuan, saya di sini juga tidak sendirian."
"Ya sudah." jawabnya.
"Kalau suster butuh apa-apa, langsung telpon saya saja ya..!!," Ernest mengusap lembut kepala Jovi seperti anak kecil.
"Nanta, ayo ikut saya keluar, kamu cek saklar di lantai lima ya?," ajak Ernest.
"Baik pak, kemungkinan arus listrik yang dari gardu 4, sedang ada pemadaman," Nanta langsung bangkit dari kursi tempat duduk.
"Iya, tidak ada pemberitahuan juga ya?," obrolan Nanta dan Ernest keluar ruangan.
"Tidak ada Pak Ernest."
Ernest dan Nanta pergi ke luar ruangan, mengecek saklar yang tidak jauh di samping ruangan. Sementara Jovi ditinggalkan dengan Pinkan, dan juga Sonia, serta satu staff laki-laki bernama Reno.
Ruangan mulai gaduh, Pinkan dan Reno sama-sama menyesalkan dokument yang belum di simpan. Sedangkan, Sonia daritadi memandang ke arah Jovi dengan begitu sinis.
Jovi sebetulnya tahu, Sonia memandangi dirinya, hingga membuat Jovi terasa tidak nyaman. Hanya saja, suster kesayangan Ernest tersebut, pura-pura tidak tau.
Jam lembur di kantor, sedikit terhambat dengan pemadaman tiba-tiba dari PLN. Mata Sonia masih tidak berpindah pandangan, menatap tajam ke arah meja sekertaris, tempat Jovi duduk.
Perempuan cantik tersebut, bodo amat dengan sikap Sonia. Pasalnya, mau Jovi di kantor Ernest, maupun Fictor, hal itu sudah sering di alami oleh Jovi. Membuatnya sudah sedikit terbiasa.
"Kreeeekkk..."
Pintu ruang staff lantai 5, di buka oleh Meghan.
Jovi langsung tersentak, Meghan langsung datang ke ruangan Sonia lagi. Setiap Jovi melihat Meghan, dirinya seperti melihat juga Fictor, di dalam diri mantan kekasih Ernest.
Tidak sengaja, mata Meghan dan Jovi saling bertemu, ketika Meghan menutup pintu ruangan. Suster cantik tersebut, langsung menundukkan mata, mengatur perasaan, agar tidak panas dingin melihat Meghan.
Suara Meghan, yang mengatakan Jovi suster gadungan, kembali menyeruak pada fikirannya. Jovi takut, Meghan akan menyerang balik lagi, saat Ernest tidak ada bersamanya.
"Hallo Meg, lihat tuh, sebentar lagi ada yang mau gantiin posisi kamu loh," ucap Sonia menyapa Meghan ceria.
"Hahaha, gimana sih maksudnya? aduh.. gue nggak tau lo," Meghan memberi senyum pada Sonia, lalu melirik Jovi.
"Denger-denger tadi si boss bilang, kalau suster Jovi bisa menyelesaikan pembuatan berita acara, dia bakal jadi sekertaris Pak Ernest," Sonia sengaja bersuara besar, agar Jovi juga dengar.
__ADS_1
"Hah? loe beneran ngaak?," tanya Meghan pelan.
"Beneran, ngapain gue boong," Sonia menanggapi bisikan Meghan.
"Bentar-bentar, gue tanya Pinkan dulu?," Meghan masih tidak percaya.
Perempuan cantik itu, meghentikan langkah kaki Pinkan yang akan keluar ruangan. Karena satu AC ruangan ikut padam, sedikit membuat ruangan terasa gerah.
Meghan berjalan ke arah Pinkan yang tidak jauh dari meja Sonia. Menanyakan kebenaran, oleh apa yang sudah di katakan sahabatnya itu. Sedangkan Jovi, pura-pura sibuk dengan ponsel genggamnya sendiri.
"Pinkan, emang bener ya yang dikatakan Sonia," tanya Meghan.
"Yang mana Megh?," Pinkan malas ikut campur.
"Yang Sonia bilang, kalau tuh suster bakalan nge gantiin posisi gue," tuturnya.
"Posisi loe? bukannya loe udah di staff lain sekarang?," Pinkan memang tidak suka dengan Meghan.
"Ya maksudnya, dia yang bakalan ngisi posisi sekertaris, kalau Jovi bisa buat berita acara? bener nggak?," Meghan sedikit malu pada Pinkan.
"Emang tuh suster pantes gitu jadi sekertaris, hiiiihh, bakalan malu-malu'in kalau diajak kunjungan, cantik juga gue," imbuhnya.
"Iya kok bener, tadi emang Pak Ernest bilang begitu, ya bagus lah, biar Devi kembali ke meja dia, dan sekertaris diisi sama suster Jovi," bela Pinkan menyetujui pilihan Ernest.
"Anjiing loe, bukan milih gue, malah mihak suster gadungan itu," Meghan membuang muka.
"Emang ini pencoblosan, yang harus milih sana, milih sini, makanya intropeksi dong loe," ujar Pinkan.
"Kenapa loe jadi nyolot banget sih, emang apa sih masalah loe sama gue? gue cuma tanya aja kali."
"Ya loe bisa dikit nggak sih, bicara sopan, nggak bawa nama anjing, lagian loe udah di pindah ke ruang staff editing, masih aja ikut campur di ruang staff ini," Pinkan sudah kesal.
"Ya wajar dong, gue kan peduli sama Ernest, gue juga mantan sekertaris dan mantan kekasihnya, nggak masalah dong, kalau gue mastiin, di ruangan ini ada kendala apa nggak?," Meghan masih tidak tau diri.
"Terserah lah, lagian bolak balik loe dari lantai 3 ke lantai 5, nggak bakal digubris sama Pak Ernest," ledek Pinkan.
"Brengsek loe, staff taii, udah berani aja ngatain," Meghan tersulut emosi.
"Udah ayoo.. Reno, kita pergi," ajak Pinkan menggandeng temannya.
Reno terlihat mengikuti Pinkan pergi ke luar ruangan. Ternyata, sikap Meghan dan Sonia, sebetulnya kurang di sukai, oleh semua orang staff di ruangan Ernest.
Sikap Meghan terkenal arogan, tidak bisa menerima masukan orang lain, dan suka seenaknya sendiri, di jadikan alasan para pegawai membencinya.
Sehingga putusnya Ernest dan Meghan, adalah kabar bahagia kepada anak-anak kantor. Meski sedikit kendala pekerjaan di sisakan olehnya, Meghan sudah tidak se arogan dulu.
Pinkan yang sekarang, berani terang terangan menyindir mantan kekasih Ernest. Tanpa merasa malu, ataupun takut pada Meghan, seperti saat jabatan dia sebagai sekertaris.
"Dasar taai emang temen loe itu Son, nggak gue pindah,nggak gue disini, masih aja kayak dulu," Meghan menendang kursi kantor.
"Halah biarin aja si, kebanyakan yang seperti itu, kan emang iri aja sama loe Meghan, termasuk yang pakai baju hijau tosca tuh," sindir Sonia seperti kompor.
Pernyataan dari Sonia, kembali mengingatkan Meghan, jika di situ ada suster Jovi, masih duduk di tempat meja sekertaris kantor. Kemarahan Meghan, dilampiaskan langsung pada Jovi.
Kaki Meghan berjalan cepat menghampiri Jovi, daritadi rasanya Meghan ingin mencabik wajah putih suster Jovi. Apalagi adanya Sonia, semakin memperkeruh suasana.
Jam terus berjalan menunjukkan pukul 16.30, tetapi Ernest masih belum juga kembali. Sonia seolah mendukung apa yang di lakukan oleh Meghan, dengan menjaga pintu, takut Ernest datang.
"Heh Jovi, udah bangga ya, loe kemarin bisa bawa pulang Ernest, sekarang mau dijadiin sekertaris, hebatt ya loe, jampi-jampi loe kuat banget," bentak Meghan.
"Wajah lugu, kelakuan kayak *** (anjing) loe itu belum tau rasanya karma, loe bohongin Ernest kan? loe bukan perawat kan? ngaku aja deh..," suara Meghan memenuhi ruangan.
"Jawab dong, diem aja, kayak orang bisu, emang loe pantes jadi tuna rungu," kata Meghan tetap tidak di hiraukan Jovi.
"Eh kacung, jangan ciut dong, giliran nggak ada Ernest, loe cuma diem aja," tendang kaki Meghan ke arah tulang betis Jovi.
"Aduuhh..," Jovi melihat heels tinggi Meghan menendang kuat betisnya.
"Sakit ya..?? itu gak sebanding, sama sakit yang gue rasain, gara-gara loe, udiik..," rambut panjang Jovi di jambak.
"Mana sikap loe yang sok kayak pahlawan, waktu jemput Ernest pulang reuni sama supirnya ?? tunjukin dong, sama gue sekarang?," Meghan menantang.
"Gue perawat kok, kalau gue bukan perawat, nggak mungkin gue lolos rekrutmen," Jovi mengangkat wajah melihat Meghan.
__ADS_1
Jovi mulai khawatir, pernyataan Meghan, dari tadi tidak berubah, mengatakan dirinya sebagai suster gadungan, akan mulai meracuni pikiran Ernest sedikit demi sedikit.