Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
28. Malam Penuh Gelora


__ADS_3

Malam ini, Ernest sudah berhasil keluar dari jebakan Meghan, mantan kekasihnya. Didalam mobil, menuju perjalanan ke rumah, kepala Ernest masih terlihat tidak berdaya dipundak Jovi.


Bau alkohol dari baju coklat yang digunakan Ernest, sangat menyengat ketika berada di mobil. Wajahnya sudah lunglai, rambutnya tak serapi saat berangkat ke reuni tadi sore.


Dari tadi Jovi merasa ada yang aneh, dengan sikap Ernest. Kepala Ernest, dari awal masuk mobil tidak bisa santai. Matanya terpejam, tapi kepalanya gelisah seperti mencari sesuatu.


Berkali-kali Jovi mencoba menjauhkan leher laki-laki tampan itu, bibir Ernest selalu mengarah pada leher jenjangnya, menciumi tanpa malu.


Pak Rahmat melihat dari arah kaca, spion kecil yang menggantung di dalam mobil mewah, memperlihatkan. Ernest sedang menciumi Jovi tanpa malu.


"Euuumm...," suara Ernest mencium leher Jovi.


"Euuuhh....," suara desah Ernest, tangan kanannya merangkul pundak Jovi.


"Tuan...," Jovi kesal, sudah berkali-kali melepaskan pelukan Ernest, tapi diulang lagi.


"Sayaaang....," panggilnya menanggapi.


Jovi semakin menaruh kesal, baru kali ini, suster cantik tersebut bisa marah kepada Ernest. Biasanya, apa saja sikap manja tuan mudanya itu, Jovi selalu bisa sabar dan menurut.


"Cuuppp..," Ernest mencium pipinya.


"Tuan....," Jovi tampak terkejut.


"Mau lagi ya..., aku sayang kamu," tuturnya ketika mabuk.


"Sadar tuan, bukan sayang..," kata Jovi menjauhkan kepala Ernest.


"Cuupp......," dengan berani Ernest mencium bibir Jovi.


Kepala Jovi tertegun, rasa hati ingin menggampar pipi anak Tuan Toni Wijaya, agar segera sadar. Jovi bukan Meghan, ataupun wanita lain yang mudah dimintai ciuman.


Jovi melihat, Pak Rahmat dari tadi mengamati mereka berdua. Tubuh lunglai Ernest, segera disandarkan jauh, pada jok mobil malam itu.


Semua tenang, keadaan menjadi normal kembali. Pak Rahmat juga bisa kembali fokus, menyetir mobil. Salah satu sopir Tuan Toni itu, menduga ada yang tidak beres dengan Ernest.


Dalam kondisi mabuk Ernest sehebat apapun, Pak Rahmat rasa, Ernest tidak akan melakukan hal murahan, diatas ketidaksadarannya tersebut.


Mobil sudah sampai dikawasan perumahan, roda mobil terlihat sudah membelokkan kendaraan, kembali ke rumah Ernest. Pak Tono segera membukakan pintu pagar sendirian.


Suasana dirumah sudah sangat sepi, hanya beberapa lampu yang masih tersisa menyala. Pukul 23.59, mereka baru sampai di rumah, mengistirahatkan diri ke dalam kamar.


Mobil yang dibawa Pak Yoyok, sudah lebih dulu terparkir di garasi mobil. Pak Rahmat juga terlihat nampak lelah, sebab menunggu Ernest selama berjam-jam di restoran.


Hari ini pekerjaan melelahkan untuk semuanya. Terutama bagi para sopir dirumah Ernest. Apalagi Jovi, dia masih harus mengganti baju Ernest, dan membersihkan bau alkohol ditubuhnya, sebelum bersiap tidur malam.


"Suster Jovi, saya pamit ke belakang dulu ya," Pak Rahmat menutup pintu mobil.


"Baik pak, terimakasih banyak Pak Rahmat."


"Sama-sama suster, saya pamit istirahat dulu ya suster.. hari ini saya menunggu Tuan Ernest sangat lama, mata saya sudah mengantuk," mata Pak Rahmat sudah merah menahan kantuk.


"Ouh baik pak, selamat beristirahat kalau begitu pak," ucapnya sembari tersenyum.


"Baik suster, suster bisa bawa tuan ke kamar kan?," tanya Pak Rahmat lebih dulu memastikan.


"Ouh bisa pak, bisa," kata Jovi sudah berhasil mengeluarkan tubuh Ernest.


Pak Rahmat pergi meninggalkan Jovi dan Ernest. Perempuan cantik itu, kemudian membawa Ernest masuk ke dalam. Mengaitkan lengan Ernest, ke pundak kanan Jovi.


Kadang Jovi merasa tidak bisa menahan keseimbangan, ketika Ernest berjalan hampir membuat dirinya tersungkur. Tubuhnya yang lebih pendek dari Ernest, agak membuat Jovi kesusahan.


"Suster...," panggil Ernest bicaranya tidak jelas.


"Ya tuan, ada apa?," tanya Jovi, pundaknya diremas oleh Ernest.


"Aaahhhh...," suara Ernest mendesah membuat Jovi takut.


"Tuan, tuan tidak papa kan?."


"Mau suster..."


"Mau apa tuan?,"


"Cuuppp...," cium Ernest lagi.

__ADS_1


"Euummmhhh.." sedotan dari bibir Ernest begitu kuat.


"Tuaannnn....," marah Jovi melihat sekelilingnya.


Jovi merasa ketakutan lagi, Ernest kembali berulah seperti di dalam mobil. Tubuh kekar laki-laki tersebut, seperti dijalari sentuhan hangat, yang ingin membuat Ernest melepaskan kejantanannya.


Badan Ernest berkali-kali seperti merasakan kejang, darahnya berdesir lebih cepat dari biasa. Suhu tubuhnya tiba-tiba hangat, tapi bukan karena sakit.


Jovi membuka pintu, langsung membuang tubuh besar Ernest, ke atas ranjang. Ditutupnya pintu kamar, menyalakan lampu, dan AC kamar, yang tadinya mati.


Pertama kali yang dilihat Jovi, adalah kondisi tumit kaki Ernest, masih dibalut gips warna coklat. Syukurlah, kondisinya tetap sama, tidak ada kondisi buruk seperti yang dikhawatirkan Jovi.


Kepala Ernest terlihat gelisah, tetap seperti mencari sesuatu. Daritadi kepalanya geleng kanan dan kiri secara terus menerus. Jovi yang masih fokus membersihkan kaki, acuh tak acuh membiarkan Ernest.


"Susterrr.....," panggilnya pelan.


"Iya tuan ada apa," Jovi menoleh sembari membersihkan kaki Ernest.


"Sinii.......," pintanya pelan.


"Sebentar tuan, saya selesaikan dulu," kata Jovi.


Tak berselang lama, tubuh rampingnya, ditarik oleh tangan kanan Ernest. Sedikit membuat Jovi tersentak, ketika tubuhnya jatuh pas diatas dada putra Tuan Toni.


Jovi melihat Ernest menutup mata, jemarinya meremas lengan tangan Jovi. Perlahan remasan itu, berubah menjadi usapan sentuhan lembut, ditangan. Jovi merasa sedikit aneh, namun hal itu belum begitu diharaukan.


Tangannya mencoba melepaskan jemari Ernest. Meski awalnya sangat susah, tetapi kemudian berhasil lepas. Selanjutnya, Jovi mulai membuka kancing baju Ernest, sudah penuh dengan bahu alkohol.


Mata Ernest membuka, melihat Jovi membuka kancing baju. Semua terasa semakin membuat tak betah birahinya, Ernest membayangkan bibir Jovi dijamah, dicium berkali-kali.


"Tuan, bangun sebentar, saya lepas baju tuan dulu," bisik Jovi seperti biasa.


"Euuh....," hanya itu yang terdengar dari Ernest.


"Sebentar saja tuan," pinta Jovi ketika Ernest justru memandangi Jovi tak berhenti-henti.


"Ciummm...," pinta Ernest tidak menyambung.


Jovi hanya melihat Ernest sebal, malam ini lelaki tampan tersebut, berubah seperti seseorang yang haus sexs, dari tadi sampai sekarang, yang diminta peluk dan cium.


Suster Jovi sekarang, sudah mulai terbiasa melihat, belahan dada bidang Ernest begitu gagah. Lengan yang terbentuk, karena olahraga rutin, membuat tubuh Ernest semakin indah dipandang.


Bibir Ernest semakin lama justru semakin ngelantur, ketika berucap. Berkali-kali, Jovi diminta Ernest tidur dengannya.


"Blaaaakkk.....," tubuh Jovi di tindih oleh Ernest.


"Tuann...., tuan mau apa?," ucap Jovi ketakutan.


"Cium, peluk saya sebentar suster," jawab Ernest menyilakan rambut dari telinga Jovi.


"Tuan, tuan sadar tuan, tuan sedang mabuk," tutur Jovi tidak nyaman diperlakukan Ernest seperti itu.


"Saya mau suster, kamu cantik sekali," kata Ernest sangat berani dari biasanya.


"Tuan, sudah tuan," Jovi mencoba beranjak.


Laki-laki tersebut, tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Jovi. Ernest justru mulai menyentuh lembut jemari susternya, naik ke lengan atas tangan Jovi.


Sentuhan yang diberikan oleh Ernest, sangat terasa lembut, membuat bulu halus ditangan Jovi berdiri semua. Sentuhan itu naik, memainkan rambut Jovi dengan tangan kirinya.


Tubuh kekar Ernest menindih diatas Jovi, membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Jovi berusaha membangunkan diri, namun tetap saja tidak berhasil.


Dada bidang Ernest terasa menempel ke tubuhnya, yang masih dihalangi oleh baju Jovi. Perempuan cantik tersebut, semakin dibuat tidak berdaya, saat Ernest berkali-kali, mengecup daun telinga Jovi.


"Cuup... cuup.. cuup..," suara bibir Ernest mengecup telinga Jovi.


Nafas Ernest memburu turun, ke arah leher putih susternya. Menciumi dengan lembut, membuat kecupan disetiap inci leher. Semua terasa hangat, membuat jantung Jovi berdesir hebat.


Kadang nafas Ernest tersengal tak beraturan, merasakan birahi Ernest, semakin terasa bergelora, ingin segera melepaskan kejantanannya.


"Tuan, sudah tuan," pinta Jovi tak didengarkan.


"Tuan," Jovi sedikit berani membentak.


"Cuuupp..., eeuuuumb," suara bibir Ernest berhasil mencium, menyedot bagian bawah bibir Jovi.

__ADS_1


Jovi semakin dibuat tidak berdaya, oleh sentuhan dan perlakuan yang diberikan Ernest malam ini. Bibirnya dikunci rapat, masuk ke dalam, meski bagian bawah bibir Jovi sudah berhasil dibasahi bibir Ernest.


"Eeuummb..., sluruuuph," bibir kedua'nya membuat suara.


Tidak lama, lidah Ernest berhasil masuk kedalam mulut Jovi. Mencari lidah Jovi, diajak menari bersama. Kedua lidah mereka saling mengait, menambah birahi Ernest semakin tak buat dibendung.


"Sluuurphh.., eeummb," lidah Ernest membelit, bibirnya menyedot masuk ke dalam.


"Euuummb....," Ernest menyedot atas bawah bibir Jovi.


Ciuman panas malam itu, semakin membuat Jovi kehabisan nafas. Tubuh suster cantik tersebut, berubah suhu menjadi hangat, semua karena Ernest yang dari tadi menyerang tak berhenti.


"Aaahhh....," desah Jovi tak sengaja keluar dari mulutnya.


Semua semakin menggila, Jovi hampir dibuat tidak bisa berfikir normal, karena semuanya. Tubuh Ernest terasa semakin ditekan ke arah tubuh Jovi, tidak sengaja menggesek bagian dadanya.


Jovi mengangkat tubuhnya tidak tahan, begitupun juga Ernest merubah posisinya, semakin berani menempatkan diri, diantara kedua paha Jovi.


Perempuan cantik tersebut merasakan, ada yang bergerak-gerak mengganjal dibagian bawah tubuh Ernest. Malam ini, Ernest ingin mencapai kenikmatan surga dunia dari Jovi.


"Tuan, sudahh.....," panggil Jovi matanya memejam.


"Euuummb....," Ernest masih tak berhenti mencium.


"Tuaaannn," panggilnya pelan tak kuat menahan perlakuan dari Ernest.


Nafas keduanya saling memburu hebat. Penolakan Jovi sudah tak sekuat awal tadi, apalagi dengan kedua tangan, yang masih digenggam erat Ernest, semakin membuat dirinya pasrah.


AC diruang kamar Ernest, tadinya terasa dingin, tak kuat merasuk mendinginkan tubuh keduanya, yang sudah panas dibuai nafsu.


Ernest sangat pandai menjamah semua bagian tubuh Jovi, bibirnya berlari ke arah leher, membuat tanda merah, dari lidah dan sedotan bibir Ernest.


"Ahhh...., cuuup," Ernest mengirim kecupan ke leher Jovi.


"Tuaan...," panggil Jovi tak kuat menghadapi semua.


Langsung terlihat mencetak warna merah bata. Tidak sampai disitu, ciuman Ernest kembali bergerilya, menyusuri kedua daun telinga suster cantiknya. Nafasnya terdengar sudah berat.


"Aaaahhh...," suara Ernest sudah tak kuat lagi.


Kedua tangan Ernest, menyusup masuk, ke dalam baju coklat tua yang dikenakan Jovi. Semua membuat Jovi langsung tersadar, merasakan tangan Ernest berhasil masuk.


Mata Jovi terbelalak, fikirannya sudah tersadar, mencoba Jovi untuk menyadarkan Ernest.


"Tuaaann....," teriaknya ketakutan.


"Tuan, sudah tuan, Ernest, berhenti," teriaknya lagi.


Ernest masih mengusap lembut, kulit perut Jovi yang putih. Tangannya, meraba naik sampai ke atas, mencari dua gundukan kembar, yang biasanya hanya dilihat dari luar.


Tangan Ernest seperti tak sabar, ingin memilin serta meremas apa yang dipunyai oleh Jovi tersebut. "adik kecil" Ernest sudah keras menegang.


"Toloong...," teriak Jovi langsung terdengar dari arah pintu kamar.


Jovi menggulingkan tubuhnya berkali-kali, ke kanan kiri dengan kasar. Tangannya tak sengaja menyikut wajah putih Ernest, membuat Ernest sedikit tersadar.


"Aduuhhh.....," Ernest langsung spontan melepaskan Jovi.


"Ma-maaf tuan," ucapnya sembari langsung membangunkan diri.


"Suster.....," panggil Ernest sudah mulai sadar dari alkohol.


"I-i-iya tuan," jawab Jovi berlari turun ke bawah ranjang memakai sandal.


"Kamu balik ke kamar saja," minta Ernest.


"Baik tuan.... saya pergi, usahakan malam ini tuan jangan panggil saya dulu," kata Jovi ketakutan.


"Iyaa....," jawab Ernest mengatur pusing kepalanya.


Tulang pipi yang terkena sikut Jovi, amat sangat terasa nyeri. Tapi semua masih mengalahkan, rasa keinginan Ernest bercinta malam ini.


Laki-laki tampan tersebut, seperti ingin menjamah Jovi lagi, tetapi kesadaran Ernest yang mulai membaik malam ini, membuatnya menahan semua.


Kepala Ernest terasa pusing, karena birahinya tidak bisa tersalurkan malam ini. Dirinya yang bertelanjang dada, menutup mata, mengontrol diri, walaupun "adik kecilnya" tidak bisa diajak bekerja sama.

__ADS_1


Beruntung teriakan yang dilakukan Jovi, tidak memancing kedatangan para bibi maupun supir, ataupun pegawai lainnya dirumah Tuan Toni. Jovi pergi meninggalkan kamar, dengan perasaan masih deg-deg'an.


__ADS_2