
Di dalam ruang berkas, lelap tidur Ernest dan Jovi ternyata tidak berjalan lama. 2 jam selang dari telepon Pak Rahmat, Ernest kembali dibuat tidak nyenyak istirahat.
Selain tubuh yang hanya menyandar, di rak berkas kantor. Daritadi kepala Jovi, terasa gelisah di pangkuan Ernest. Rambut panjang perempuan tersebut, mengusik paha di celana Ernest.
Lampu di ruangan masih mati, belum ada tanda menyala. Ernest mengerjap, matanya dikejapkan mengamati ruangan, masih tetap gelap gulita.
"Suster..."
"Suster Jovi...,"
Tampaknya Jovi masih tertidur, Ernest mengira Jovi sudah bangun, tetapi hanya tidurnya saja yang sedikit tidak nyenyak.
Daritadi rasa gerah mulai mendera pada tubuh keduanya. Ernest semakin tidak betah, dasi kerja di leher kembali di lucuti. Beberapa kancing sengaja dibuka Ernest, mengharap angin menyapa tubuhnya.
Tangan Ernest mencari lengan susternya, jemari tangannya merasa, tubuh Jovi sudah penuh dengan peluh keringat di tubuh.
Selain tangan dan lengan yang sudah basah, Ernest mengecek leher suster Jovi. Peluh keringat sudah membuat lengket rambut panjang dengan tubuh putih yang Jovi miliki.
Tidak tau, apa yang harus dilakukan, Ernest buru-buru membangunkan Jovi. Dia takut, akan ada apa-apa dengan kakak Aqila tersebut, jika lama membiarkan Jovi gerah.
"Suster.. suster Jovi bangun."
"Sus.. suster Jovi."
"Suster.. ayoo bangun, suster sedang kegerahan ini," bisik Ernest sembari menggoyang tubuh Jovi.
"Ayoo suster bangun.. suster Jovi," Ernest mengelap keringat.
"Suster.. husttt..."
Belum berhasil membangunkan Jovi, laki-laki tampan tersebut baru menyadari, ternyata ruangan memang sangat pengap. Dahi dan lengan Ernest tidak luput dari rasa lengket.
Di ruang gelap, Ernest tak tahan, melucuti atasan panjang yang digunakan tadi siang. Dada bidang, lekuk tubuhnya, serta perut six pack miliknya, terlihat sangat gagah.
Poni rambut Ernest di arahkan ke belakang, menyeka lagi keringat yang sudah membabi buta pada tubuh. Tak hayal, polah tingkah Ernest membuka baju, membuat Jovi terbangun.
"Tuan..."
"Kita sudah pulang?," Jovi membangunkan tubuh.
"Jangan buka mata dulu suster, kita masih terjebak di ruang yang sama."
Jovi tersentak, merapatkan mata lagi, yang tadinya sudah akan di buka.
"Belum kita belum pulang suster."
"Mau sampai kapan tuan?? ini jam berapa?."
"Baru jam setengah 12 suster."
"Ya Tuhan, lama sekali PLN ini tuan, saya sudah ingin pulang ke rumah Tuan Ernest."
"Huffftt.. mulai lagi," Ernest membatin kesal melihat Jovi.
"Sabar suster.. kenapa PLN bisa se lama ini. hufffttt.."
"Kita sudah di sini sudah hampir 7 jam tuan, dan belum juga keluar."
"Iyaa.. sudah lama memang," Ernest tertunduk lemas.
Jam tangan di pergelangan tangan keduanya, menunjukan pukul 23.45. Jarum jam baru berjalan 15 menit, dari bangun tidur Jovi malam ini.
Sekarang walaupun Jovi tidak bisa memandang ke arah Ernest. Tetapi tubuh dirinya menghadap pas di depan putra Tuan Toni.
Tangan Jovi sudah mulai merasakan gerah, setelah Ernest lebih dulu memulai. Ditengah padamnya lampu, bayang jemari tangan Jovi, membuang keringat, dilihat jelas oleh Ernest.
Semakin di tahan, tetap saja perempuan cantik itu tidak kuat. Baju tosca yang dikenakan Jovi, berulang sudah di tarik dari tubuh. Peluh keringat, membuat menempel kain tersebut pada tubuhnya.
Jass putih yang dipinjamkan Ernest, untuk menutup betis serta sebagian pahanya yang terlihat, sudah di buang pergi oleh Jovi.
Suasana begitu terasa sangat sunyi, tidak ada suara tikus maupun ponsel dari ruang sebelah. Hanya beberapa teriakan kecil di lantai 5 masih terdengar di ruang berkas.
Kemungkinan penjaga malam di kantor Wijaya group serta beberapa satpam, melakukan cek di setiap ruangan. Suara gelak tawa laki-laki, di dengar oleh mereka berdua, pada ruang berkas.
"Suster, suster Jovi merasa gerah?."
"E-e-enggak tuan, hanya pengap saja."
"Masak?," Ernest melihat Jovi masih belum berhenti menyeka keringat.
"Iya tuan betul, disini kenapa sedikit pengap ya tuan?."
"Disini bukan sedikit suster, tapi memang pengap, saya sendiri sudah tidak kuat lama-lama hufft.."
"Tuan Ernest butuh kipas?? saya ambilkan berkas ya..?? agar tuan tidak merasa gerah..!!," Jovi menaruh kedua tangannya di atas paha Ernest.
"Memangnya suster bisa? suster aja nggak berani buka mata kan."
"A-a-a ya saya awur aja tuan."
"Hey kok bisa itu lo, ya jangan dong suster, ini mati lampu, kita nggak tau kan berkas itu penting atau nggak," Ernest tertawa.
__ADS_1
"Tapi tuan pasti kegerahan, bagaimana tuan? tuan masih kuat?."
"Aaa.. apa kalau tuan mau, saya bantu tiup tubuh tuan Ernest ya..? gimana? biar membantu sedikit tuan," Jovi mencemasi keadaan Ernest.
"Suster, suster, sudahlah suster.. nggak papa."
"Nanti tuan bilang ya ke saya, kalau tuan butuh apa-apa? tuan kan baru sembuh dari sakit."
"Iya iya.. nanti saya bilang," Ernest mengusap lembut kepala suster Jovi.
Paniknya suster Jovi, benar-benar bisa dilihat Ernest dari wajahnya. Muka Jovi yang tidak ada 5 cm, dari Ernest, semakin memperlihatkan dengan jelas. Bagaimana Jovi sedang gugup.
Ketulusan perawat suruhan Fictor, sangat tidak sepele. Jovi seperti menjelma sebagai Tuan Toni KW 2, semua kebutuhan Ernest benar-benar harus dia sediakan.
Ernest mulai di buat jatuh cinta, atas sikap demi sikap perempuan cantik tersebut. Matanya tidak beralih pandang, masih menatap Jovi, melihat keluguan di wajah peluh keringat malam itu.
Tidak bisa membuka mata, gerak tubuh Jovi belum bisa begitu bebas. Lama kelamaan ternyata ucapan Ernest memang benar, ruang berkas tidak mempunyai ventilasi sebagai pertukaran udara, sehingga udara tetap panas.
Jovi sendiri tidak berani mengeluh ke Ernest. Lehernya seperti diubah sebagai sumber air terjun, dengan deras keringat, masuk menetes ke bawah dada.
Kebiasaan Ernest dan Jovi, setiap hari tidak pernah lepas dari AC. Semakin membuat keduanya sangat kelimpungan. Poni rambut Jovi saja, sudah tidak mampu berlari terbang seperti biasa.
"Tuan."
"Hmmm..."
"Disini sangat panas."
"Kan?? apa yang saya bilang memang betul."
"Heem."
"Suster pakai daleman? selain baju suster itu? kalau memang pakai, lepas saja bajunya," beritahu Ernest sangat santai.
"Hah.. e-enggak mau saya."
"Ya pakai, tapi nggak mau," imbuh Jovi tetap keukeh.
"Ya sudah, tahan dan berdoa aja, sampai bisa keluar dari sini."
"Tuaaannn..," rengeknya.
"Gimana lagi, betul kan? suster maunya gimana? kan juga masih mati lampu" Ernest tertawa.
"Tuan, Jovi minta tolong carikan kertas kosong dong tuan, biar bisa dibuat kipas." pinta Jovi tidak enak.
"Maaf ya suster, kaki saya sudah sakit, perut saya lapar, ditambah gerah, saya tidak punya tenaga suster Opi," panggil Ernest mencairkan suasana.
"Saya bisa bantu kamu? kamu mau?," Ernest mengangkat dua alis meskipun tidak bisa di lihat oleh Jovi.
"Apa..?."
"Bantu ngehayal punya kantong doraemon, biar pintunya langsung ke buka."
"Hahahaha.., tuan ada ada aja, ternyata halu tuan tinggi," tawa Jovi terpingkal.
"Loh bukan cuma halu'nya aja yang tinggi, birahi ingin bercintanya sekarang juga lagi tinggi," bisik Ernest mengerjai.
"Jangan...," Jovi menarik dua tangan dan memegangi tubuh.
"Hahahaha.. takut ya...? kamu menikmati ciuman tadi kan? ciuman dari saya," Ernest mendekat, nafasnya terasa hangat di depan wajah Jovi.
"Ng-nggak, a-a-a kan tadi tuan yang.."
"Yang apa? yang ketiduran siapa?."
Jovi dibuat mati kutu oleh Ernest, bibirnya sama sekali tidak bisa membuat peralihan. Semua terlihat gugup, Ernest semakin tak kuat menahan tawa. Apalagi di tambah mata yang masih tertutup, wajah Jovi terlihat lucu.
Jovi sendiri merasa malu, tidak biasanya Ernest memperjelas, ciuman yang terjadi malam ini. Bibir lembut perempuan cantik tersebut, terasa kaku, saat diajak mengucap sepatah, dua patah kata.
Jovi tidak tahu, daritadi Ernest sibuk jahil kepada dirinya. Keringat yang mengalir deras pada tubuh, semakin terasa lebih cepat, menyisir setiap lekuk tubuh Jovi.
Tidak tega melihat Jovi gugup, gemetar tubuh mendera dengan tangan meremasi tubuhnya sendiri. Ernest tersenyum, Jovi sungguh merasa takut di jamah lagi oleh tuan mudanya itu.
"Sudahhh jangan di fikirin, santai aja suster Jovi, saya hanya bercanda hehe."
"I-i-iya nggak papa tuan, sa-saya tau kok, kalau tuan memang bercanda," jawabnya dengan tawa terpaksa.
"Hmmmm.. iya," Ernest pura-pura percaya.
Mata Ernest sendiri, mulai mengantuk, merasa dua bola mata menggelayut, jalan ke kanan kiri menuju alam mimpi. Bibir merah Ernest, sudah sering menguap, matanya memejam.
Jovi yang berada di depan Ernest, hanya merasakan, suara diruangan kembali hening. Tidak ada gelak tawa, maupun ucapan yang di dengar telinganya.
"Tuan.."
"Tuan Ernest..."
Jovi mendiami ruangan.
"Tuan Ernest tidur?."
__ADS_1
"Tuan," tangannya meraba wajah Ernest.
Jemari Jovi memegang pipi, berjalan ke arah hidung, lalu mencari ke dua kelopak mata Ernest. Tangan perempuan cantik tersebut, membuat Ernest terkejut.
"Suster..., ada apa?."
"Tuan tidur..?."
"Iya.. saya ngantuk berat suster.. hoaammm..," suara Ernest menguap.
"Ouh maaf tuan, saya malah membangunkan tuan Ernest."
"Ngaaakk pa.... pa," mata Ernest benar-benar tidak kuat menahan lagi.
Ditinggal Ernest tidur, Jovi mendorong tubuhnya, duduk disamping Ernest lagi. Kepala tuan muda itu, mendongak ke atas, dengan mata rapat memejam.
Sementara itu, udara di dalam ruangan semakin terasa pengap. Sudah berulang kali Jovi menyeka keringat, tetap saja, kucuran pada dahi masih tidak mau berhenti.
Tubuhnya tak kalah juga di basaho keringat. Hampir semua baju Jovi sudah basah, karena peluhnya sendiri. Ernest pun juga terlihat, tetap telanjang dada malam ini, karena tidak kuat lagi menahan.
Entah jam berapa, Jovi tidak tahu, yang jelas, tidak ada lagi suara yang terdengar dari luar maupun dalam ruangan. Hanya lalu lalang kendaraan dari jalan raya, sesekali merayap masuk ke telingan perempuan cantik tersebut.
"Tuan...," panggilnya lagi.
"Tuan Ernest benar-benar sudah tidur..," gumam Jovi sendiri.
"Tuan."
Ernest tidak merespon.
Tangan kanan Jovi di kipas ke arah tubuhnya. Walau sama sekali tidak berhasil, setidaknya menahan dari rasa pengap di dalam ruangan.
Lebih dari 20 menit, tangan Jovi masih melakukan hal yang lama. Lambat laun, lelah juga lengan perempuan cantik tersebut. Jovi menghela nafas panjang, membuang berkali-kali.
Dia merasa kesepian, setelah Ernest tidur. Tiba-tiba bibirnya tersenyum sendiri, mengingat saat Ernest menggoda Jovi karena ciuman malam ini. Fikiran Jovi mulai susah di kendalikan, sudah berani memikirkan langsung siapa Ernest.
"Jov Jov sadar... ingat, ingat misi Jovi.. Kenapa malah ini otak isinya Tuan Ernest," pukul Jovi pada kepala.
Meski tidak bisa melihat langsung, Ernest sedang tidur di samping dirinya. Jovi membayangkan, bagaimana wajah tampan Ernest sedang lelap tertidur. Seperti biasa, ketika awal Jovi bekerja, dan menyuruh Ernest bangun.
"Tuan, seandainya jika saya jatuh cinta pada Tuan Ernest, apa itu salah?."
"Jovi.. Jovi.. Jovi.. apa sih yang kamu fikirkan? cinta itu nomer sekian, sekarang yang kamu fikirkan, lunasin utang papa, OKE..!!," perempuan tersebut membentengi dirinya.
Susah tidak kuat menahan pengapnya ruangan. Jovi membuka satu persatu kancing baju, menanggalkan kemeja polos warna hijau tosca, sudah digunakannnya sejak tadi pagi.
Sebenarnya Jovi agak malu, tapi pakaian dia saja, sudah tidak nyaman untuk digunakan. Hampir semua bagian, sudah basah oleh keringat. Jovi melipat baju, dan ditaruh pada samping tubuh.
Matanya sekarang mulai mengikuti Ernest, perlahan hilang dari peradaban dunia. Jovi sudah terlelap, dalam hitungan menit, mata tersebut nampak memejam dari tidur malam.
"Kleeeeeekkkkkk."
PUKUL 03.00 PAGI, LISTRIK MENYALA.
Merasa ada cahaya terang dimana mana, mata Ernest perlahan membuka. Sinar lampu di ruangan langsung menyambut, ketika kelopak Ernest membuka.
Dua mata Ernest mengerjap, melihat jam ditangan, menunjukkan pukul 03.00 pagi. Listrik menyala hampir menjelang subuh, total PLN melakukan pemadaman, selama 11 jam di kantor.
"Suster.. bangun."
"Suster.. listriknya sudah menyala."
Ernest mengemas dasi, baju yang berserakan begitu saja, pada samping tubuh Ernest.
"Suster, ayoo pulang..," Ernest menoleh ke arah Jovi.
Mata yang tadi masih dihinggapi kantuk, sontak langsung membuka lebar dua bola mata Ernest. Laki-laki tampan itu, melihat suster cantiknya tidak memakai baju hijau tosca seperti tadi.
Lengan putih tanpa busana, di lihat Ernest. Tank top putih memperjelas bentuk dua bukit milik suster Jovi. Sangat seksi, dengan rok putih di atas lutut, yang tertutup oleh jass putih Ernest.
Baru kali ini Ernest melihat Jovi, memakai atasan seksi tanpa lengan, pas di hadapan Ernest. Pasalnya, setiap hari, perempuan cantik itu, selalu menutupi tubuh nya dengan baju biasa.
"Suster.. bangun sust, ayoo pulang," bisik Ernest menggengam wajah Jovi.
"Eeeuuuuhhhh..,"
"Suster, sudah pagi ayoo pulang."
"Pulang??," tanya Jovi tidak sadar.
"Iya ayo pulang, kita sudah di tunggu Pak Rahmat di parkiran," Ernest mengenakan lagi kemeja putih.
"Iya tuan," Jovi mengambil lagi baju hijau tosca miliknya.
"Suster pakai jass saya saja, ayoo buruan, kita turun."
Ernest membantu Jovi, mengenakan jass miliknya. Setelah tangan kanan kiri Jovi membawa jass tersebut, Ernest beranjak dari duduk. Menggandeng tangan suster cantiknya itu pergi.
Pukul 03.15 pagi, Ernest dan Jovi baru keluar kantor. Beruntung Pak Rahmat masih belum tidur, menunggu atasan putra Tuan Toni, masuk ke dalam mobil.
"Wuuuuussss.....,"
__ADS_1
MOBIL MILIK ERNEST MELAJU KENCANG, KEMBALI KE RUMAH.