Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
46. Keberangkatan Penuh Tangis


__ADS_3

Setelah mendengar suara klakson mobil, di bunyikan Pak Yoyok dari luar, Bik Yuni bingung harus melakukan apa.


Selain tangan Bik Yuni yang masih gemetar, asisten kepercayaan Tuan Toni tersebut, masih tidak menyangka selama ini Jovi menyembunyikan identitas dirinya yang asli.


Jovi langsung turun dari mobil, kakinya berlari menuju kamar, mengambil persiapan yang belum di lakukan Jovi sama sekali. Dari jam tangan yang melingkar, Jovi melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul hampir setengah tiga.


Pak Yoyok tidak turun dari mobil, mempercepat waktu berangkat ke bandara, untuk mengantar Jovi melakukan penerbangan. Menyusul Ernest, yang sudah lebih dulu sampai.


"Kreeekk......," Jovi membuka pintu kamar.


"Bik Yuu... ni...," Jovi tertegun.


Bola mata Jovi semakin tak tergerak, ketika tangan Bik Yuni belum sempat membereskan lembar penting milik Jovi, tadi tersimpan di dalam map. Entah Bik Yuni, maupun Jovi, mereka sama-sama dalam kondisi tercengang.


Jovi gemetar, dua kakinya seolah tidak bisa menumpu lagi berat badan Jovi. tulang rusuknya, satu persatu patah, seperti gugur melepas dengan raga, menyisakan roh, yang membuat Jovi semakin tidak berdaya.


Ini seperti kiamat kecil bagi suster cantik tersebut, Jovi tidak menyangka, sebelum misinya untuk memberi tahu Ernest tuntas. Bik Yuni justru lebih dulu menemukan identitas diri Jovi.


Waktu terus berjalan, namun jarum jam di kamar Jovi, seolah mendadak berhenti. Indra pendengaran yang di miliki Jovi, berubah seperti channel radio sedang tidak ada sinyal, alias mati.


"A-a-a-a suster, ma-maaf suster, sa-saya tidak sengaja, me-me-membuka ini," Bik Yuni gemetar menaruh lagi map milik Jovi.


"Bik Yu...... ni, sudah tau semuanya?," jawab lemas bibir Jovi.


"Aaaa... ta-tadi saya niatnya bantu suster Jovi untuk be-beres beres perlengkapan buat ke Jakarta, i-ini semua su-sudah saya bereskan suster Jovi," Bik Yuni mengalihkan pembicaraan.


"Bibik... Bik Yuni su-sudah baca surat saya??," Jovi semakin mendekat.


"Aaaaa.... ini, saya sudah masukkan alat make up suster Jovi kok, maaf saya juga ganti urung bantal di kamar, karena handuk basah suster."


"Bik, saya cuma tanya, apa bibi tadi membaca kertas yang di dalam situ..??," Jovi gemetar.


"Maaf suster, iya, saya sudah baca, saya tadi tidak sengaja membaca, maafkan saya suster sudah lancang,"


"Ya Tuhaaannnnn......," rasanya Jovi tidak kuat berdiri.


Seketika, tanpa di komando, air mata Jovi menuruni lembah putih pipinya. Binar mata Jovi terlihat memerah, Jovi takut Bik Yuni akan segera memberi tahu Tuan Toni.


Selain Bik Yuni adalah salah satu asisten kepercayaan papa Ernest, setelah Pak Rahmat. Pastinya orang baru seperti Jovi, akan susah di percaya, apalagi dengan bukti yang sudah jelas-jelas nyata.


Cobaan hidup apalagi ini, sebelum bertemu Ernest, ledakan cobaan silih berganti. Di sadari atau tidak, sejak Jovi menerima keputusan Fictor, untuk menjadi suster, malapetak selalu mengintai silih berganti.


Jovi sudah tidak bisa lagi berfikir, semua otaknya buntu. Apalagi mengingat jam penerbangan yang akan berjalan sebentar lagi.


"Maaf suster, kalau boleh tau, apakah suster Jovi benar sekertaris? maaf suster apabila saya lancang, sebetulnya saya tidak enak menanyakan ini, tapi jika sekertaris, kenapa suster tidak bekerja ke kantor, kenapa suster justru ke sini menjadi perawat Tuan Ernest ..?,"


"Nggak papa bik, Bik Yuni memang pantas menanyakan hal ini ke saya, saya yang harusnya minta maaf, saya sudah tidak jujur, dan memang yang salah dari awal," Jovi menahan air mata.


"Saya benar sekertaris bik, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan Bik Yuni..?? saya bingung memulai dari mana cerita saya, tapi yang jelas bik, saya sangat menyesal atas perbuatan saya." air mata Jovi menetes.


"Se-sekertaris...," Bik Yuni tidak menyangka.


"Kenapa?? kenapa suster membohongi kita semua? kalau suster sekertaris, kenapa suster datang ke sini menjadi perawat Tuan Ernest, ada apa suster sebetulnya? suster mata-mata ya?,"


"Saya bisa jelaskan semuanya bik, bibik jangan salah paham dulu," Jovi takut air matanya seperti mengerti ketakutannya.


Bik Yuni tidak tega melihat suster cantik di hadapannya itu menangis. Hati Bik Yuni di rundung dilema serta kalut yang begitu dalam. Asisten rumah tangga itu sendiri, juga tidak menyangka jika Jovi tega menyembunyikan identitasnya.


Pada satu sisi Bik Yuni tidak tega mendapati tangis Jovi yang menuruni pipi. Tetapi identitas Jovi yang baru, di temukan Bik Yuni sendiri, membuat Bik Yuni tidak bisa lagi percaya dengan Jovi 100%.


Jovi sendiri rasanya ingin pulang saja, dia sudah tidak lagi punya kekuatan untuk bertemu Ernest. Terbongkarnya identitas diri suster cantik tersebut, ternyata sedikit memantik rasa takut yang ada di hatinya.


"Saya memiliki hutang budi besar dengan atasan saya Bik Yuni, karena atasan saya sudah berkenan memberikan pinjaman uang untuk papa saya, karena saat itu keluarga saya benar-benar butuh sekali uang, lalu ketika pengumuman perekrutan perawat untuk Tuan Ernest, tiba-tiba saya di minta atasan saya, untuk menjadi suster Tuan Ernest bik, itu yang membuat saya ada di sini sampai sekarang.!!,"


"Maaf suster, lalu maksud atasan anda apa suster? kenapa suster Jovi di kirim ke sini?? bukannya menjadi perawat Tuan Ernest, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor? sekertaris dan perawat adalah profesi yang sangat berbeda suster? lalu apa maksud atasan suster membawa ke suster Jovi ke sini?,"


Jovi gelagapan, Bik Yuni tidak memberikan ruang untuk mendengar jawaban dari Jovi.


"Maaf suster, jika pertanyaan saya terlalu banyak, sa-saya ha-hanya panik, sa-saya khawatir, sa-saya takut suster, untuk apa atasan suster Jovi mengirim suster Jovi ke sini?."

__ADS_1


"Untuk kejelasan apa maksud atasan saya, mengirim saya ke sini, sa-saya tidak tau pastinya bik, saya hanya menjalankan sesuai keinginan beliau," Jovi menjelaskan tanpa menyebut nama Fictor.


"Terus kenapa suster tidak menolak? kenapa suster tidak menjelaskan semua pada Tuan Toni atau Tuan Ernest?."


"Sa-saya ti-tidak berani membantah atasan saya bik, saya takut beliau akan marah pada saya, yang membuat saya kehilangan pekerjaan saya, sementara saya masih butuh banyak uang untuk melunasi hutang papa saya," derai air mata Jovi berjatuhan.


Kecurigaan Bik Yuni masih berlanjut, Bik Yuni memperkirakan, bahwa masalah ini bukanlah masalah kecil. Ini bukan sekedar tentang indentitas diri yang sengaja disembunyikan. tetapi tidak memiliki tujuan lain.


Feeling Bik Yuni, tetap kuat. Jika Jovi menerima perintah dari atasannya seperti itu. Di pastikan Bik Yuni bahwa Jovi bukanlah perempuan baik-baik.


"Suster Jovi terlilit hutang? apa suster melakukan ini semua, hanya untuk uang saja, kenapa suster Jovi tidak menolak perintah atasannya? apa yang di katakan suster Jovi tadi, hanya alasannya saja," Bik Yuni tidak percaya.


Perempuan yang baik, tidak akan melakukan pekerjaan yang di luar konteks. Profesi sekertaris tidak ada kaitannya dengan perawat. Kedua profesi tersebut, bukanlah profesi yang sejalan.


Bik Yuni semakin tidak bisa menjangkau permasalahan besar ini. Kebaikan Jovi selama ini, yang di saksikan langsung mata Bik Yuni setiap hari, menaruh kesan peduli, justru menyimpan kebohongan yang tidak pernah di ketahui orang lain.


Asisten kepercayaan Toni Wijaya tersebut, tidak percaya, apabila Suster Jovi dikirim cuma-cuma oleh atasannya. Jovi yang tidak menyebutkan jenis gender atasannya, membuat Bik Yuni bingung.


"Tidak mungkin suster Jovi di kirim ke sini, hanya untuk menyembuhkan tuan muda, pasti masih ada tujuan yang tidak di beritahukan oleh suster Jovi? jangan-jangan suster Jovi......???," dugaan-dugaan di hati Bik Yuni bermunculan.


Jovi sendiri, sudah merasa pasrah atas pengakuan yang sudah di berikan. Dua kaki serta tubuh Jovi seakan enggan untuk berangkat menyusul Ernest ke Jakarta.


Meski tangis Jovi tidak terdengar histeris, air mata kesedihan Jovi, menetes terus menerua. Rindu rumah, rindu Aqila, mama, dan papa Jovi seolah menjadi sandaran istrihat yang paling indah.


Suasana di dalam kamar, hanya terdengar hening, tanpa suara. Bik Yuni masih tersihir dengan pengakuan langsung suster Ernest tersebut. Fikiran Bik Yuni benar-benar di buat kacau.


"Maaf suster, suster saya mohon jangan berbohong pada saya, suster Jovi saya sudah membaca sendiri, bahwa suster baru saja melakukan pengunduran diri hari ini, kalau suster menuruti keinginan atasan suster menjadi perawat, kenapa sekarang justru mengundurkan diri dari kantor? kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu? apa semua penjelasan Suster Jovi tadi hanya alasan saja,"


Bik Yuni semakin tidak bisa berfikir jernih, semua kecurigaan di hati Bik Yuni, semakin menumpuk, memunculkan tebakan baru, jika Jovi seperti perempuan-perempuan yang ada di TV.


Asisten rumah tangga tersebut, curiga, Jovi resign dari kantor, untuk cuci tangan atas permasalahan yang sedang membelitnya. Bik Yuni menganggap Jovi orang yang licik, menghalalkan segala cara hanya demi uang.


Sikap ramah Bik Yuni yang terlihat selalu ramah pada Jovi, hari ini tidak muncul sama sekali. Bahkan pandangan mata teduh yang di miliki Bik Yuni, sekarang berubah sinis, tak sudi.


"Ya Tuhan bik, sungguh bik, saya tidak bohong dengan Bik Yuni, yang saya sampaikan tadi, adalah yang benar-benar terjadi dengan saya bik, sungguh? saya tidak mengurangi atau menambahi," Jovi menangis.


Bik Yuni dengan tega, tidak menghiraukan tangis, salah satu pegawai rumah itu.


"Dengarkan saya bik, saya mengajukan resign karena saya sudah tidak kuat lagi menjadi sekertaris, atasan saya meminta saya untuk me-mem-bunuuuuhhh... huaaa..," Jovi memegangi tangan Bik Yuni.


"Sudahlah suster, jangan bermain seperti drama di televisi, maaf suster Jovi, saya kurang suka dengan suster Jovi, yang langsung menyalahkan atasan suster, sekarang saya jadi takut, suster memiliki niat jahat terhadap tuan muda," Bik Yuni menarik tangannya.


"Saya tidak pernah sedikitpun punya niatan seperti itu Bik Yuni, saya juga peduli dengan kesehatan Tuan Ernest, saya berharap kondisi Tuan Ernest lebih baik dan baik bik."


"Saya tetap takut, suster akan mengancam keselamatan Tuan Ernest..!!," jawabnya meremasi tangan.


"Astaga Bik Yuni.., kenapa bibi tega berfikir seperti itu, yang saya bicarakan itu sungguh bik, saya resign dari kantor, karena saya sudah tidak kuat,"


"Saya tau saya hanya pembantu, tapi saya bukan orang bodoh, yang langsung menelan mentah-mentah penjelasan suster, kalau suster memang orang baik, kenapa suster tidak dari dulu, menolak perintah atasan suster Jovi?? kenapa suster tidak resign dari awal? kenapa suster menutup nutupi identitas suster Jovi? apalagi mencoba untuk menjelaskan pada Tuan Toni atau Tuan Ernest?, buktinya suster tetap di sini, suster sudah jadi pembohong, penjilat."


"Saya berani sumpah Bik Yuni... saya menyadari semua kekeliruan saya, saya sudah berusaha menjelaskan pada Tuan Ernest, tapi selalu terpotong dan terpotong," tangis Jovi mengurai.


Pernyataan pedas yang di lontarkan Bik Yuni, sangat membuat hatinya terpukul. Jovi dan Bik Yuni sama sama memiliki pemahaman yang berbeda. Bik Yuni lebih menilai tanpa perasaan.


Jovi terlihat mengemas semua baju dan map ijazahnya, ke dalam koper. Rasa sakit hati, penyesalan, rasa berdosa, semua campur aduk jadi satu. Sepahit ini, konsekuensi yang harus di terima oleh Jovi akibat rencana Fictor.


Pak Yoyok ada di luar halaman rumah, memaksa tubuhnya turun dari mobil, mencari Jovi. Sudah hampir 20 menit menunggu, Jovi belum juga keluar kamar.


Sisa waktu semakin mepet untuk pergi ke bandara, menjadi kendala keberangkatan Jovi. Berulang kali dering telepon dari Ernest, yang di terima Pak Yoyok, semakin membuat Pak Yoyok lebih panik.


"Suster Jovi, ayooo.. Tuan Ernest sudah menelpon terus dari tadi," suara Pak Yoyok sambil berlari.


"Suster....."


Pak Yoyok melihat sedikit suara adu mulut terdengar dari arah kamar Jovi. Pintu kebetulan tidak di tutup. Pak Yoyok segera berjalan melihat, apa yang menghambat suster Jovi, belum keluar dari tadi.


Semakin dekat, telinga Pak Yoyok menangkap ada juga suara tangis, meski samar tapi suara itu benar ada. Semua membuat Pak Yoyok penasaran, masuk ke dalam kamar Jovi.


"Suster, ayoo buruan, tuan sudah menyuruh berangkat," Pak Yoyok mengintip suasana di dalam kamar.

__ADS_1


Penglihatan Pak Yoyok sedikit terbelalak, melihat Jovi mengemas pakaian serta derai tangis di matanya. Ada Bik Yuni, berdiri tertegun dekat dengan ranjang.


Bapak-bapak berkumis tebal tersebut, semakin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat Jovi menangis, dan teman kerja Pak Yoyok ada di dalam kamar Jovi.


"Yun... kamu ngapain di sini? Suster Jovi kenapa itu?."


Pertanyaan Pak Yoyok ternyata tidak mendapat jawaban dari teman sesama pegawai di rumah Tuan Toni.


"Gimana sih Yun..?? di tanya diem aja?," omelnya.


Pertanyaan yang tidak di indahkan oleh Bik Yuni, membuat Pak Yoyok langsung menghampiri Jovi. Dengan keluguannya, Pak Yoyok membantu Jovi memasukkan dasi dan sepatu milik Jovi.


Pak Yoyok tidak berani bertanya, tentang apa yang membuat Jovi menangis. Air mata di wajah Jovi, juga terlihat mengering dan berangsur hilang.


"Suster Jovi, maaf, saya di telpon Tuan Ernest, tuan sudah menyuruh kita untuk segera berangkat ke bandara suster," Pak Yoyok takut.


Jovi mengangkat kepalanya, mata merah Jovi terlihat jelas dan bengkak. Pak Yoyok memandang kasihan.


"Ayooo suster, agak cepat, masih ada waktu 30 menit menuju ke bandara, maaf sekali suster, kalau saya berani menyuruh-nyuruh suster,"


"Nggak papa Pak," Jovi tersenyum.


Bik Yuni yang melihat semua persiapan Jovi tampak begitu panik. Ketakutan semakin mendera, saat Bik Yuni membayangkan, ikutnya Jovi ke Jakarta, akan menyebabkan Ernest celaka.


Namun Bik Yuni tidak bisa berbuat banyak, Ernest dan majikan besarnya Tuan Toni, yang belum mendengar kesaksian Bik Yuni secara langsung. Mengajak Bik Yuni harus bersabar lebih dulu.


"Pak, kalau seandainya saya pulang saja gimana? berkasnya Pak Yoyok paketkan saja ke Jakarta? biar nanti saya yang jelaskan ke Tuan Ernest pak," pinta Jovi membuat Pak Yoyok terkejut.


"Loh kok begitu, maaf suster, saya tidak bisa membantah perintah Tuan Ernest suster, saya takut nanti tuan Ernest marah,"


"Nggak papa Pak, saya nanti yang menjelaskan, saya juga nanti yang akan meminta Tuan Ernest untuk tidak menyalahkan Pak Yoyok, ya pak ya?," Jovi tiba-tiba menangis lagi.


"Memangnya kenapa to suster ini? kok saya jadi bingung, suster tadi sudah bilang kan ke Tuan Ernest kalau mau ke Jakarta, eeehhh Ya Allah, suster suster,"


"Saya mau pulang saja pak, saya rindu rumah, nanti kalau tuan besar dan Tuan Ernest saya baru ke sini untuk pamit,"


"Iya Yok, biar suster Jovi pulang aja Yok, nanti tak aku aja yang paketin berkasnya tuan muda, terus anterin aku ke kantor pos," dukung Bik Yuni.


"Yun... kamu ini apa apa'an to? kok malah menyuruh suster Jovi pulang, orang dari tadi itu tuan Ernest sudah nelpon aku bolak balik tau nggak, cuma nanyain suster Jovi, gendeng (gila) kamu," Pak Yoyok kesal.


"Tapi Yok?,"


"Tapi, tapi..!! Yun.. Yun.. kita ini sudah membuang waktu banyak, suster Jovi sudah harus terbang ke Jakarta sore ini, ini itu perintah Tuan Ernest Yun," Pak Yoyok kesal.


Keputusan Pak Yoyok tetap tidak mengubah perintah Ernest sudah bulat, koper di boyong keluar oleh Pak Yoyok.


"Maaf ya suster Jovi, saya di sini juga hanya pegawai, saya tidak berani mengambil keputusan, saya mohon suster, ayooo.. kita segera berangkat kasihan tuan di jakarta sendirian," Pak Yoyok mencoba membujuk.


"Saya tidak berani, mengubah perintah Tuan Ernest, jadi mari suster kita berangkat sekarang, saya mohon sekali ini saja suster," kata Pak Yoyok.


Jovi hanya terdiam, Bik Yuni melihat ke arah Jovi berkali-kali, mata suster cantik tersebut masih basah karena tangis. Bik Yuni pun tidak punya kuasa banyak untuk menghentikan kepergian Jovi kali ini.


"Mari suster....," Pak Yoyok membersamai Jovi untuk keluar kamar.


"Hati-hati suster, jaga Tuan Ernest baik-baik suster, jangan sampai terjadi apa-apa," penekanan kata "jaga" dari Bik Yuni di dengar Jovi.


"Baik Bik Yuni, maafkan saya ya bik, selama ini jika saya banyak salah dengan bibi, saya takut tidak ada kesempatan saya lagi, untuk bertemu dengan bibi dan para pegawai di sini," kata Jovi.


"Sama-sama suster," Bik Yuni menahan tangis.


"Kalau begitu saya berangkat dulu, selamat tinggal Bik Yuni," Jovi tetap sopan membungkuk'kan badan ke arah Bik Yuni.


"Iya.."


Meski sudah di caci maki oleh Bik Yuni sehebat itu, tetapi Jovi tetap terlihat memberi sikap sopan saat meninggalkan Bik Yuni. Membuat sebagian hati Bik Yuni tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Meski kecurigaan yang ada di hati Bik Yuni pada Jovi, belum hilang se gampang itu. Namun, mendengar Jovi berucap tentang perpisahan, tak hayal menyimpan genang air, di kelopak mata asisten kepercayaan Tuan Toni tersebut.


Pak Yoyok dan Suster Jovi sudah terlihat naik mobil. Koper besar masuk ke dalam bagasi mobil. Jovi duduk di bangku belakang Pak Yoyok. Mobil berjalan keluar meninggalkan rumah.

__ADS_1


Satu persatu sudut pandang rumah, mulai hilang pada penglihatannya. Mobil yang di kemudikan Pak Yoyok melaju ke bandara, tanpa hambatan. Tuhan seperti mendukung kedatang Jovi ke Jakarta.


Cinta bukanlah sesuatu hal yang bisa dilihat dengan panca indra. Cinta tumbuh di dalam hati, bisa di rasa namun tak kasat mata.


__ADS_2