
3 Bulan kemudian.
Setelah beberapa bulan sejak Jovi keluar dari rumah sakit. Beberapa acara mulai disiapkan menuju ke pernikahan. Lamaran dilangsungkan secara privat di salah satu hotel ternama Surabaya.
Tidak ada wartawan maupun media yang meliput lantaran jalinan asmara antara Jovi dan Ernest yang sempat menghebohkan jagad dunia maya beberapa waktu lalu.
Faktor masalah lain seperti ujian perasaan, rasa terombang-ambing Jovi yang tiba-tiba muncul, dipilih Tuan Toni untuk menenangkan calon menantunya tersebut.
Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah untuk Jovi dan Ernest. Semua masalah yang menghadang mereka bisa dilalui satu persatu. Dari yang mudah sampai begitu pelik.
HOTEL JW MARRIOTT
Hari sakral ini, Tuan Toni tersenyum sumringah menjabat tangan putra semata wayangnya tersebut.
"Ernest," senyum Tuan Toni.
"Papa," Ernest memeluk.
"Selamat nak, hari ini kamu akan menjadi seorang suami dan nantinya akan jadi ayah, ini bukanlah akhir, pernikahan adalah gerbang awal untuk menjaga komitmen cinta kalian."
"Terimakasih pa, Ernest akan selalu mengingat nasehat papa."
Laki-laki paruh baya itu secara lembut menepuk pundak Ernest. Busana kemeja serta jass hitam rapi tak kalah membuat Tuan Toni terlihat sangat tampan.
"Ernest ke dalam dulu pa, mau menemui Jovi."
"Oke silahkan, mumpung masih ada waktu untuk kalian sebelum resepsi di mulai," Tuan Toni memerintah.
"Papa sarapan dulu,"
"Iya, setelah ini papa turun."
"Ouh ya pah, tante Inggit dan om Vano tadi mencari papa," Ernest menunjuk arah ke pintu.
Tuan Toni menengok, Inggit dan Vano sedang memberi senyum, yang tidak lain tante dan om Ernest dari pihak papa.
Di dalam kamar hotel, wajah bahagia laki-laki kaya raya itu ingin cepat cepat menghampiri Jovi. Dari kaca besar sembari berseliweran tim MUA yang dipilih Ernest.
Jovi sudah terlihat sangat cantik. Lagi-lagi Ernest dibuat terpesona.
"Coba lihat ke atas, oke, ya begitu," suara MUA memerintah Jovi.
"Bibirnya di buka sedikit, oke cukup segitu saja,"
Jovi menuruti.
"Aduhhhh.. parah, cucok meong cin," Sist Elea dengan suara gemuruh.
Kaca besar di depannya memang memperlihatkan dirinya yang sangat cantik. Hingga tak sengaja mata itu menemukan Ernest yang sedang melihatnya dari belakang.
Jovi membuang pandangan dan malu.
"Eiitsss.. kenapa menoleh sayang? nanti lipstiknya nggak jadi ditaruh bibir di ke pipi doong ahh,"
"Terlalu cantik sih, sampai hampir jadi sempurna tau beb," Mega memuji.
"Bukan, bukan itu," Jovi melambaikan tangannya tidak setuju.
"Terus apa?," Mega sambil menata rambut.
"Ahhh, Tuan muda memang tidak salah pilih, istrinya cantik parah," Sist Elea belum paham.
"Nggak, bukan sist. Tapi itu," Jovi menunjuk.
"Tapi ini, tapi itu, ahh banyak tapi tapi'nya,"
"Hahahhaaha."
__ADS_1
"Tapi bo'ong," Hansel menyauti.
"Tapian deh lo," humor Sist Elea naik.
"Kasihan itu, kasihan." Mega Hansel membenarkan.
Sist Elea dan asistennya semua tertawa lucu. Mereka sangat lucu membuat ruangan jadi bersuara riuh. Jovi tersenyum, kodenya sama sekali tidak dipahami.
Sampai pada akhirnya, MUA mulai menyadari kedatangan Ernest. Sist Elea saat mengambil hairspray tanpa disadari menoleh ke bayang-bayang yang ada di pintu.
"Eh, Tuan Ernest," bisik pelan ke Mega.
"Sapa dong,"
"Kamu lah, kamu tadi yang ngetawain,"
"Malu gue," Mega saling melempar tatapan ke MUA Jovi.
Hansel buru-buru memperbaiki gaun Jovi yang tidak tertata rapi. Suasana mendadak hening seperti kampung ditinggal penghuninya.
Ernest berjalan menghampiri tempat duduk Jovi. Akibat bercanda tim MUA, semua seolah-olah sedang sibuk dengan job masing-masing.
"Hallo, kenapa ruangannya sepi?," tanya Ernest.
Para tim MUA saling pandang.
"Kalau mau rame, di pasar tuan," celetuk Sist Elea.
"Hahahhahaha."
Tawa seluruh ruangan terpingkal-pingkal.
"Jangan dong, masak istri saya sudah cantik begitu dibawa ke pasar. jelas salah, karena pedagang sayur, apalagi cabe nggak ada yang secantik dia."
"Ciiiieeee.. Ciieeee... Ciiee..."
"Tapi kalau istrinya Tuan Ernest sudah pasti cantik seperti nona ini, ya kan???," Sist Elea menggoda.
"Jelas pasti, tanpa ditanya, cukup dilihat wajahnya, semua sudah tahu kalau Jovi Andrianita itu menantu Toni Wijaya, istri sah dan calon ibu dari 11 anak Ernest Wijaya."
"Aseeeeeekkkk"
"Eaaakkk,"
"Cihuuuyyy, ahaii deh," Mega tertawa.
"Sebelas loh, tambah satu jadinya selusin Tuan."
"Hahhahahaha." Ernest tertawa.
Jovi justru sangat malu atas kebucinan dari suaminya tersebut. Tidak menunggu lama, akhirnya pekerjaan dari tim MUA sudah membuat Jovi terlihat sangat cantik sekali.
Kesan lipstik merah dibagian bibirnya untuk mempertegas bagian wajah Jovi yang terlihat anggun
Gaun putih yang memiliki nilai harga ratusan juta tersebut, sangat membuat tubuh tinggi Jovi tersulap sebagai model gaun pengantin.
Bucket bunga putih juga telah disediakan oleh tim yang masih tergeletak rapi diatas kursi bagian hotel. Menyadari bahwa kegiatan mereka hampir selesai, Ernest mulai mendekati Jovi.
"Maaf, setelah semua selesai, bisa tinggalkan kami berdua sebentar saja."
"Baik Tuan," perwakilan tim.
"Itu tolong di kemasi cepat, waktu akad dan resepsi kurang dari 30 menit lagi," sist Elea memerintah.
Seakan sudah terhipnotis. Ernest menatap wajah Jovi sangat dalam, lalu lalang para tim MUA seakan tidak menghalangi pandangan Ernest ke Jovi.
__ADS_1
Setelah semua selesai, dan ruangan sudah hening, Jovi lalu berdiri di hadapan Ernest. Bunga putih yang terguling diatas kursi berada kuat digenggaman Jovi
Ernest semakin mendekat, perlahan tapi pasti, tangannya sudah mulai memegang lengan Jovi.
Di ruangan hanya mereka berdua.
Udara AC dan harumnya ruangan yang menemani.
"Hari ini, kamu begitu terlihat sangat cantik sekali. Saya tidak pernah menyangka ditakdirkan Tuhan memiliki istri yang sangat cantik dan begitu baik seperti kamu."
"Saya lah yang harusnya tidak menyangka, dalam perjalanan hidup yang begitu sulit, saya menemukan seseorang yang terlalu sempurna seperti tu,"
"Husssttt....!!, " Ernest menutup bibir Jovi.
"Hitungan menit kita akan menjadi suami istri, kita bukan tuan dan suster lagi, kita sepasang suami istri cupp, " Ernest mencium kening Jovi.
TEMPAT RESEPSI & AKAD HOTEL JW MARRIOT
Memasuki ruang resepsi pernikahan, Jovi dibuat tak bisa berkata-kata lagi. Semua ornamen dan pemilihan warna dominan warna putih, putih dipilih Ernest karena menurutnya suci.
Aqila dan mama Jovi turut ikut menyambut tamu dan berkenalan kepada kerabat-kerabat Tuan Toni. Sebelum resepsi digelar, Ernest dan Jovi melangsungkan akad. Tak lama, banyak orang yang mengamini.
Jovi mencium tangan Ernest lalu Ernest mencium kening Jovi. Aqila tampak diam diatas pangkuan mamanya, akad nikah Jovi dan Ernest sedikit membuat air mata papa dan mama Jovi tercecer.
Di samping orang tua Jovi, ada Tuan yang turut bahagia melihat putranya bahagia. Sedikit kesedihan dihati, bahwa mendiang mama Ernest tidak bisa menyaksikan pernikahan Ernest.
"Mah, Sekarang anak kita sudah menemukan tambatan hatinya. Dia bernama Jovi, perempuan yang cantik dan anggun seperti mama, dia anak yang penyayang, dia lah perempuan yang dicintai oleh anak kita sekarang, semoga mama bahagia di sana Aamiin" doa Tuan Toni.
Tidak lama, Tuan Toni juga membersihkan kacamatanya yang mengembun.
"Selamat ya sayang, semoga pernikahan kalian abadi sampai maut memisahkan," pungkas mama Jovi menciumi Jovi.
"Baik ma, Jovi akan selalu menjaga pernikahan ini sampai akhir hayat Jovi," jawabnya memeluk.
"Selamat nak, sekarang kamu sudah menjadi laki-laki seutuhnya, mempunyai istri dan ikatan pernikahan, cepat dikaruniai momongan," pesan papa Jovi.
"Terimakasih banyak pa," Ernest mencium tangan mertuanya.
Jabatan Ernest setinggi apapun tidak membuat ia lantas menghilangkan kesopanannya. Jovi melihat ke arah Ernest dengan sangat bangga.
Laki-laki tampan tersebut juga mengecup dan mengusap rambut Aqila dengan sangat sayang. Jovi tak lupa mengucap terimakasih dan meminta doa pada Tuan Toni.
"Pah, semoga Jovi dan Ernest bisa langgeng sampai kakek nenek dan cinta kita abadi selamanya, seperti papa dan almarhum mama Ernest."
"Tentu nak, pasti itu, papa yakin kalian bisa. semoga pernikahan kaliah sakinah, mawaddah, warahmah." Tuan Toni mengelus pundak Jovi.
Setelah itu, semua kerabat memberikan selamat pada Jovi dan Ernest. Acara berjalan dengan lancar tanpa mencari tahu berita diluar, karena wartawan dilarang masuk atau meliput.
RESEPSI PESTA PERNIKAHAN.
sah menjadi suami istri. Jovi dan Ernest melaksanakan pemotretan setelah akad nikah. Beberapa tamu undangan mulai memasuki ruang pesta.
Seluruh dadi rekan kerja, sahabat, teman kerja baik dari Tuan Toni dan Ernest datang semua. Hari ini, Jovi disulap sebagai tuan putri sehari, semua mata tertuju pada mereka.
Pernah menaruh hati pada Jovi, dan tau cintanya bertolak belakang, Nalen terlihat tetap hadir. Teman kuliah alumni UI mulai dari Frans, Kiano, Gerald, Sandi, semua nampak datang.
Ola juga terlihat tampak datang sendiri tanpa Fictor.
Lalu, semua mata kerabat dari Tuan Toni melihat ke arah perempuan yang sangat familiar di bagian kehidupan cinta Ernest.
__ADS_1
Sebagian masih mengenali, tante Inggit tidak menyangka bahwa surabaya masih menjadi kepulangan wanita cantik tersebut.