Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
47. Jakarta Malam Hari


__ADS_3

JAKARTA, PUKUL 18.00 MALAM.


Setelah Jovi melakukan penerbangan kurang lebih, selama 1 jam 30 menit menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Suster cantik tersebut telah sampai di Jakarta, dengan selamat.


Beruntung saat masih di bandara Juanda Surabaya, penerbangan sempat delay, sehingga Jovi masih bisa mengejar waktu. Jovi bisa terbang lagi, dengan jam terbang baru yang sudah di jadwalkan.


Koper hitam miliknya, tampak di bawa menuju keluar bandara. Jovi terlihat menggunakan atasan putih, dengan bawahan celana jeans warna biru. Serta jam tangan coklat tua, melingkar pada pergelangan tangan Jovi.


Akibat debat panjang Bik Yuni dengan Jovi. Dirinya tidak sempat mengambil jaket, yang sudah lebih dulu tertimbun oleh baju lain, di dalam koper. Roda koper tersebut, mengikuti arah langkah kaki Jovi.


Malam ini, udara kota Jakarta, benar-benar sangat dingin. Sepanjang jalan, rambut panjang milik Jovi, menampar pipinya secara bergantian. Sebagian bahu Jovi yang telanjang, terasa dingin tersapu angin malam.


Jovi meghentikan langkahnya, setelah sampai pada kursi tunggu luar bandara. Tangannya membuka ponsel, Ernest sudah melakukan 7X panggilan lebih, namun panggilan tidak terjawab.


"Triingg... tinggg.. tinggg....,"


Tidak tunggu lama ponsel Jovi sudah berbunyi lagi. Dari nomor yang sama, Ernest melakukan lagi panggilan masuk.


"Hallo Suster Jovi, sudah sampai mana?."


"Saya sudah sampai di Jakarta tuan, posisi saya masih di bandara, maaf tadi saya tidak tau kalau tuan menelfon,"


"Baik suster, kalau begitu, tunggu saya ya..? tidak ada mobil di sini, jadi mau tidak mau saya harus menunggu 5 menit mobil dari travel datang dulu suster,"


"Iya tuan, baik, saya tunggu Tuan Ernest di depan pintu masuk, saya memakai kaos putih dan celana biru malam ini,"


"Baik, tunggu di sana ya suster, suster Jovi nggak papa kan di sana sebentar..? atau kalau suster kelamaan, saya jemput naik taksi saja ya ke sana? biar suster nggak usah nunggu lama, begitu saja ya suster? saya sekarang tak turun, cari taksi,"


Terdengar suara tangan Ernest berkemas.


"Nggak usah tuan, nggak papa, nanti malah merepotkan Tuan Ernest, lagian cuma tinggal nunggu 10 menit saja, Tuan Ernest saya tunggu dulu di sini saja,"


"Baiklah suster, tunggu ya..?? ini saya mau turun, saya tutup telponnya ya suster, sabar ya.... habis ini saya datang,"


"Baik tuan, hati-hati di jalan."


"Oke. tutt...," Ernest menutup telepon.


Tangan Jovi mengembalikan ponsel ke arah saku celananya. Lalu lalang para manusia keluar masuk bandara, di pandang Jovi, untuk membunuh rasa bosan.


Hingar bingar lampu dop warna putih di setiap bandara, tampak menyala terang, memperlihatkan setiap wajah pengunjung bandara satu persatu di setiap ujung bangunan.


Meski sudah ada di Jakarta, lamunan Jovi masih tetap terpaku pada kejadian siang tadi, sebelum berangkat ke bandara. Hampir semua penjelasan yang di beritahu Jovi, Bik Yuni tidak mempercayai sama sekali.


Bibir Bik Yuni bahkan tidak memberikan ultimatum untuk mewanti Jovi agar baik-baik di Jakarta. Jovi juga tau, bagaimana berat hatinya Bik Yuni, hanya untuk mengucap kata "hati-hati", sebelum Jovi pergi.


Semua benar-benar menyakitkan, jika reaksi Bik Yuni saja seperti itu, Jovi sudah tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Ernest saat tau bahwa Jovi adalah mantan sekertaris Fictor.


" Ya Tuhan, kenapa semua terasa menyakitkan sekali, kenapa semua koensekuensi yang hamba-Mu pilih terasa semakin berat, dan lebih berat, katanya Tuhan tidak akan memberikan cobaan lebih dari kekuatan hambanya..? tapi kenapa cobaan ini masih berlanjut Ya Tuhan.....," kesedihan Jovi terlihat.


"Kenapa dunia ini rasanya begitu tidak adil? kenapa cobaan ini nggak ada habis nya, Ya Tuhan... Jovi, berapa hati yang sudah kamu kecewakan? mama, papa, bahkan Aqila yang tidak tau apa-apa, juga kamu libatkan Jov, kakak macam apa kamu ini?,"


Air mata Jovi yang menggenang, tampak tertahan, meski tidak turun sampai jatuh. Tatapan kosong, wajah lemasnya, benar-benar bisa terlihat, jika Jovi benar-benar sedih.


Sampai sekarang, kata-kata Bik Yuni masih terngiang di kepala, Jovi depresi tidak berhasil meyakinkan Bik Yuni, bahwa dia memang bukan wanita jahat.


Jovi sudah pasrah, jika nantinya Bik Yuni yang akan mengungkap jati dirinya lebih dulu. Perempuan cantik tersebut, akan menerima dengan lapang dada. Binar mata itu, perlahan, semakin lama berderai menjadi tangis.


Rasanya Jovi sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, semua terasa semakin sulit. Terungkapnya identitas Jovi, ancaman Fictor, beban hutang bunga yang naik 25%, membuat Jovi di landa depresi.


********************


Di tempat berbeda, Ernest sedang mencari keberadaan Jovi, bola mata Ernest bergantian lari, menyisir setiap kursi, dan ruang tunggu, yang Ernest lewati.


Perempuan berkaos putih, rambut panjang, satu persatu di amati Ernest, mencari Jovi dengan ciri-ciri tersebut. Setelah lebih dari 5 orang, menggunakan outfit seperti yang di sebutkan Jovi, akhirnya Ernest menemukannya.


Terlihat salah satu perempuan, sedang duduk menyendiri, dengan koper hitam di depannya. Yang di duga Ernest ternyata benar, wanita itu adalah Jovi.


Ernestpun langsung menghampiri Jovi.


"Suster Jovi, maaf ya saya lama," Ernest merasa tidak enak.


Jovi tidak bereaksi, nampaknya lamunan kesedihan belum membuyarkan fikirannya.

__ADS_1


"Suster Jovi."


"Aaaa... Tuan Ernest, maaf, maaf tuan, saya tidak tau kalau tuan sudah datang," Jovi beranjak berdiri.


"Suster sudah lama di sini? suster tidak kenapa-napa kan? kenapa mata suster merah? suster nangis?," Ernest mencemasi.


"Tidak tuan, aaa... saya cuma ngantuk,"


"Astaga.. maaf ya suster, mungkin saya datangnya terlalu lama ya? ya sudah kalau begitu ayoo kita ke apartemen, biar suster segera bisa beristirhat."


"Baik tuan," Jovi mengangguk.


Ernest dan Jovi pergi meninggalkan bandara, koper hitam milik Jovi di tarik Ernest dengan tangan kirinya. Sedang Jovi membawa tas selempangnya, serta tas ukuran sedang di tangan.


Kesedihan yang sedang melanda hati Jovi, membuat perempuan cantik itu, rasanya hanya ingin tidur dalam waktu lama sekali, dengan tidur Jovi bisa melupakan semua masalah yang datang bertubi-tubi.


Jovi dan Ernest masuk ke dalam mobil hitam expander, sudah lengkap dengan pengemudinya. Bapak sopir malam itu, membawa Jovi dan Ernest ke apartemen.


Salah satu apartemen mewah, letaknya berada di pusat Jakarta, menjadi rumah pengganti Ernest selama beberapa hari. Apartemen tersebut, sudah menjadi hak milik Ernest, saat Ernest, masih kuliah hingga sekarang.


Alumni Universitas Indonesia tersebut, pernah tinggal lama di Jakarta, untuk menyelesaikan study kuliahnya di kampus ibu kota Jakarta tersebut.


Suasana malam kota Jakarta benar-benar sangat indah. Jovi memandang dari arah jendela, banyak gedung pencakar langit, tingginya melebihi gedung kantor-kantor besar yang ada di Surabaya.


Jovi mengira, Surabaya sudah menjadi langganan kota yang sering macet parah. Tapi ternyata, Jakarta empat kali lipat, kendaraan pribadi, mengular di sepanjang perjalanan menuju apartemen.


"Suster."


"Ya tuan," Jovi menoleh.


"Apa suster sudah makan? pasti belum kan, ayoo.. kita makan di luar...!! suster mau?,"


Jovi geleng kepala.


"Kenapa tidak mau? di Jakarta sini banyak restoran enak lo, yang cabangnya tidak ada di Surabaya suster, mau ya..? atau kalau suster punya refrenshi pilihan restoran yang ada di Jakarta, boleh ajak saya ke sana..?,"


"Saya pengen istirahat saja tuan, bagaimana kalau tuan ke restoran sendiri saja," Jovi sudah ingin sekali merebahkan tubuh.


"Ayoolah suster.., mumpung malam ini kita ada sopir, besok saya sudah nggak janji, bisa ajak suster jalan-jalan nih, yaa....??," pinta Ernest.


Teduhnya wajah Ernest, yang beberapa hari lalu tidak bisa dilihat Jovi, malam ini suster Jovi sudah bisa memandang lagi setiap jengkal wajah tampan pimpinan Wijaya Grup tersebut.


Hidung mancung Ernest, dua matanya yang indah, alis hitam melukis di bawah kening, bibir manis yang pernah menciumnya, membuat Jovi tidak bisa berpindah pandangan.


Ernest pun juga begitu, pewaris tunggal bisnis keluarga Wijaya tersebut, merasa sangat bahagia. Malam ini Ernest sudah bisa lagi memandang Jovi, suster yang selama ini merawatnya, tidaknya di sangka, meluluhkan hati pasiennya itu.


"Mau ya suster..?."


"Mmmbbb... iya," anggukan pelan kepala Jovi mengikuti.


Setelah mendapat persetujuan, dari Jovi untuk makan malam. Ernest membangunkan diri, mengangkat tubuhnya duduk pada posisi semula.


Komando dari laki-laki tampan tersebut, langsung meminta sopir travel pergi ke restoran yang di maksud Ernest.


"Pak, kita ke Enmaru ya?."


"Baik tuan."


"Iya pak."


Mobil melaju dengan kecepatan standart, suasana malam kota Jakarta benar-benar bisa di nikmati oleh Jovi. Meski macet menjadi pemandangan biasa dimana mana, Jovi tetap menikmati jalanan kota Jakarta dari dalam mobil.


Walaupun hari sudah berganti malam, tidak menyurutkan para pengamen, sengaja mengetuk satu persatu mobil, untuk mengais rezeki. Dari yang usia remaja, ibu, orang lansia, hingga anak-anak sama-sama terlihat berebut kaca mobil.


Dari luar mobil suara itu tidak jelas, tapi yang jelas, tangan anak kecil itu terlihat meminta. Suara semakin jelas, saling sahut antar pengemis, saat Jovi membuka pintu kaca mobil.


Wajah lusuh, baju kotor pengemis itu, tersamarkan dengan lampu penerang jalan. Jovi tidak bisa membayangkan, bagaimana kondisi mereka di siang hari, dirinya semakin takut, jika Jovi gagal menyelamatkan keluarga dari hutang, posisi itu akan di gantikan Aqila.


"Aqila sayang... gimana kabar kamu sayang?? kakak rindu sekali Qila, doa'kan kakak ya dek, kakak bisa segera dapat kerja, biar bisa bantu papa melunasi hitung, kakak nggak mau, Aqila punya masa depan seperti mereka?,"


Pandangan mata Jovi semakin mengarah tidak tega. Saat ada anak kecil, se usia Aqila, dengan potongan rambut yang sama, sedang mengemis, mengetuk pintu mobil Ernest.


"Took.. took.. tokk...."

__ADS_1


"Kak minta uangnya kak, saya belum makan tiga hari, seikhlasnya kak, adik saya belum beli susu kak,"


"Kak, seikhlasnya nggak papa kak, saya belum makan kak," tangan anak kecil itu menengadah.


"Ini dek, maaf ya, cuma ada segini, tapi ini bisa kok buat beli makan kamu," Jovi mengambil sisa uang terakhirnya.


Ernest yang tadinya fokus melihat jalan, mendengar itu, mata Ernest melihat ke arah Jovi. Suster cantiknya tersebut, tampak memberikan uang 50.000.


"Horeee... ini buat beli susu adik saja, terima kasih kak."


"Sama-sama, jangan pulang malam-malam ya dek, nanti kamu sakit," Jovi tidak tega.


"Ini buat kamu ya, jangan lupa beli makan setelah beli susu adik kamu," Ernest menambahkan uang 100.000 lewat jendela dekat tempat duduk Jovi.


"Wah.. banyak sekali, terima kasih banyak kakak cantik dan ganteng, semoga kalian cepat punya anak," jawab asal pengemis kecil itu lalu pergi.


"Hah...." mereka saling berpandang.


"Punya anak suster?," kata Ernest.


"Hahahaha..."


Jovi dan Ernest lantas tertawa, doa pengemis kecil yang terkesan asal-asalan tersebut, sempat membuat mereka speakless. Tawa keduanya terdengar saling memecah di dalam mobil.


Jovi seolah lupa dengan masalahnya malam ini. Selalu ada saja cara Tuhan, sedikit membuat hamba-Nya untuk bahagia. Tawa Jovi bahkan sempat menyeka air, yang keluar dari matanya.


Ernest merasa sangat bahagia, kata sederhana yang di ucapkan pengemis tadi, bisa membuat Jovi tertawa. Selama ini Ernest tidak pernah melihat Jovi tertawa selepas itu, terlihat manis, dan menggemaskan.


"Hahaha, tuan, pengemis tadi panggil kita kakak, tapi doa'nya begitu, lucu ya?."


"Ya namanya anak kecil suster, haha.., mereka belum tau apa-apa," Ernest menyeka tawa.


"Hahaha, apa iya karena wajah kita yang boros ya tuan? jadi kita di bilang seperti itu, kok ada-ada saja," Jovi tetap tak henti tertawa.


"Bisa jadi suster, mungkin umur kita juga yang sudah waktunya menikah suster, jadi wajarlah doa mereka seperti itu..!!,"


"Hahaha, lucu aja ya tuan?, menikah aja belum, kita udah di bilang semoga punya anak tuan."


"Kalau di perbolehkan, saya tidak keberatan jika harus menikah dengan suster, suster bersedia menikah dengan saya? apa suster mau?," Ernest merubah nada menjadi serius.


"Hahaha.. menikah dengan saya? " Jovi tetap tertawa.


"Menikah?? menikah dengan tuan?," tawa Jovi langsung hilang, Jovi baru sadar, Ernest baru saja, menawarkan sesuatu.


"Ya... menikah, saya rasa selama ini, pacaran bukanlah hal yang efektif untuk menjemput jodoh, buktinya banyak di luar sana, yang pacaran bertahun-tahun, tapi menikahnya dengan orang lain ya kan?," Ernest melihat Jovi.


Bibir Jovi mendadak terkunci, tubuhnya gemetaran, jantungnya berdegup tak beraturan.


"Suster, menurut saya, menikah adalah janji bersama, menikah itu komitmen, jadi dimana pasangan suami istri berjanji sehidup semati, tidak akan meninggalkan dalam keadaan susah, senang, maupun sedih, ya kan? kalau itu sudah kita punya, kenapa tidak? bukan begitu?."


Jovi tidak menjawab apa-apa, meski ada mereka berdua di dalam mobil, tapi Ernest seolah berbicara sendiri.


"Dulu saya begitu mencintai mantan kekasih saya sebelum pacaran dengan Meghan, dia teman kuliah saya dulu, dia adalah perempuan yang saya gadang-gadang untuk menjadi istri saya di kemudian hari, kita pacaran hampir 3 tahun lebih, dia juga sudah kenal baik dengan papa dan almarhum mama, tapi waktunya saya berencana menikahi dia? dia bilang dia ingin mengejar karir dulu, saya tunggu dia satu tahun, dia bilang dan meminta saya jangan di tunggu, ya sudah saya berlapang hati, mungkin itu bukan jodoh saya, kemudian kami lost contac sampai sekarang," Ernest mengenang.


Kemancetan Jakarta, semakin mengajak Ernest untuk mengenang semua kejadian yang pernah terukir di hatinya. Lampu penerang jalan, gemerlip pusat pertokoan, semakin membuat Ernest masuk dalam nostalgia.


Jovi hanya mampu menyulap diri menjadi pendengar setia, ajakan menikah dari Ernest, berkali ingin di tepis oleh perasaannya, tapi selalu gagal. Dirinya mencoba sadar diri, bahwa Ernest tidak pantas untuk di miliki.


"Kemudian, saya bertemu Meghan, Meghan adalah sepupu teman kuliah saya, awalnya saya tidak ada rasa suka sama sekali, tapi Frans selalu meyakinkan saya bahwa Meghan adalah wanita yang saya cari, dan benar, saya tidak lama pacaran dengan Meghan, dan kami berdua berniat menikah, tapi apa yang terjadi, Meghan lebih parah, saat dia tau saya akan melamarnya, dia malah dengan sadar, pergi clubbing sama teman-teman mereka, ya.. sampai akhirnya saya kecelakaan itu, terus papa cari perawat itu," jelas Ernest.


"Sabarr tuan."


Sekarang Jovi baru mengetahui, penyebab Ernest sangat membenci mantan kekasihnya tersebut. Meghan ternyata sempat akan di pinang oleh Ernest tetapi tidak jadi.


Kehidupan mengantarkan Ernest, untuk bertemu dengan Jovi. Ketidaksengajaan dari ucapan pengemis kecil tadi, berbuah curhatan Ernest, menemani sepanjang perjalanan mereka.


Tak di rasa, mobil yang di tumpangi mereka berdua, sudah terlihat berbelok ke arah restoran Enmaru, di mana restoran romantis tersebut, berada di Jakarta pusat.


"Tuan, kita sudah sampai, mohon untuk segera bersiap turun, karena jika tuan belum melakukan reservasi, saya takut, restoran sudah penuh,"


"Baik pak sopir, terima kasih untuk masukannya, ayooo.. suster kita turun?,"


"Iya tuan..," langkah Jovi mengikuti.

__ADS_1


"Sama-sama tuan," sopir travel langganan Tuan Toni tersebut, membukakan pintu.


Jovi dan Ernest keluar mobil, kemudian berjalan masuk menuju restoran. Mereka berdua tampak terlihat serasi, karena tawaran Ernest saat berada di mobil, sekarang Jovi sedikit takut, saat harus berdekatan dengan tuan muda tersebut.


__ADS_2