
Jovi melepaskan pelukan tangan Ernest. Ia mundur menjauhkan diri dari laki-laki tampan tersebut. Sempat hilang kesadaran beberapa menit, Jovi nampak malu melihat ke arah Ernest.
"Sudah.. nggak usah malu." goda putra Tuan Toni.
"Aaa.. saya mau ke-ke ke bawah dulu tuan, mau mengecek obat dan menyiapkan i-itu dulu tuan." tangan Jovi menunjuk arah pintu. Bola matanya lari kanan kiri.
"Itu apa?."
"I-itu tuan.. ma-makan."
"Iya, makan apa?." kaki Ernest usil maju menghalangi langkah kaki Jovi pergi.
"Ya-ya itu, ma-makan malam, heem." Jovi menunjuk keluar terus. Anggukannya berkali-kali.
"Malam kok di makan sih? nggak salah itu."
"Tuuuuaaaan...." Jovi merengek.
"Ada apa panggil-panggil?."
"Kakinya...!!," Jovi melirik sinis.
"Tuann.. saya mau ke bawah, saya takut kemaleman pulangnya.. tadi saya sudah telat datangnya."
"Iyaa deh, iya.. silahkan." Ernest senyum mempersilahkan pergi. Tatapannya lucu.
Lari Jovi langsung terbirit-birit. Dari tadi sebetulnya ia sudah tak tahan, Ernest menahan keluar, menggodai terus menerus perempuan cantik tersebut.
Simpul senyum Ernest terlihat tampan.
Tangan mengambil ponsel. Niat baik pemilik perusahaan Wijaya Grup itu mengambil alih saham Persada Jaya. Ernest menanting jaya'nya perusahaan papa Jovi.
Ruang yang bersebelahan dengan kamar Tuan Toni tersebut tampak terawat. Meski jarang dari para penghuni rumah Ernest mempunyai izin untuk masuk ke ruang CCTV.
Ghazi lagi yang menjadi harapan Ernest untuk membongkar kasus besar atas bangkrutnya perusahaan Persada Jaya. Gelontoran dana senilai 500.000.000 dalam sekali kasus tidak menjadi masalah.
Ernest menghubungi Pak Lesmana.
MEMANGGIL PAK LESMANA...
"Tuut.. tuuut.. tuttt...," telepon sudah menyambung.
"Hallo selamat malam, dengan siapa ini?." Pak Lesmana asing dengan nomor pribadi milik Ernest.
"Hallo.. ini dengan Bapak Lesmana, pimpinan PT. W-Jaya anak perusahaan dari PT. Wijaya Grup?."
"Iya betul, ini dengan siapa?."
"Maaf pak, ini dengan saya Ernest.. pimpinan Wijaya Grup, ini nomor pribadi saya."
"Hah..?? aaa.... Pak Ernest..!! Mohon maaf pak saya tidak tau apabila ini nomor Bapak.. saya sama sekali tidak menyangka, Bapak menghubungi saya secara langsung.. karena biasanya Bapak menyuruh orang dari perusahaan."
"Hehe.. iya pak..!! Jadi begini Pak Lesmana, saya ingin salah satu PT anak perusahaan Wijaya, salah satunya PT W-Jaya ini, agar mengambil kerjasama dengan PT. Persada Jaya.."
"PT. Persada Jaya?."
"Pasti Pak Lesmana merasa asing ya?? Jadi begini pak, PT ini sebetulnya memiliki kualitas produk yang bagus.. Meski tidak terkenal namun perusahaan ini selalu memberi kepuasan dalam pengerjaan tander proyek.."
"Ouh baik, kalau begitu saya akan segera searching tentang profil perusahaan tersebut Pak Ernest."
"Tidak usah di searching.. Saya tidak peduli pokoknya saya ingin mulai dari sekarang, semua perusahaan yang bekerjasama dengan PT. W-Jaya, mempunyai syarat harus melakukan pemesanan seragam proyek dari perusahaan kita.. Dan itu di wajibkan..!!"
"Pak Ernest sedikit pendapat saya mungkin bisa di perhitungkan.. saya takut, klient akan merasa keberatan, lalu dengan persyaratan baru yang menurut saya sebetulnya tidak begitu berpengaruh bagi income perusahaan kita."
Pak Lesmana kurang yakin dengan perencanaan Ernest. Pasalnya saran perusahaan dari petinggi Wijaya Grup tersebut, hampir tidak pernah di dengar oleh Pak Lesmana.
"Maaf Bapak, Apa tidak sebaiknya kita tetap fokus dalam sewa dan peng gandaan alat berat saja?."
"Klient tidak akan merasa keberatan, percayakan dengan saya.. jika memang ada kendala di lapangan saya siap turun ke lapangan berangkat ke Sidoarjo.. Setelah uji coba dari PT. W-Jaya berhasil, Wijaya Grup juga akan menerapkan sistem yang sama."
"Baik Pak Ernest jika begitu.. siap saya dan para pegawai segera melaksanakan mengirim proposal permohonan kerjasama ke PT. Persada Jaya."
"Terima kasih ya Pak Lesmana.. satu yang saya minta lagi, jangan sampai pemilik Perusahaan itu tau, apabila W-Jaya adalah anak perusahaan dari Wijaya Grup.."
"Siap Pak Ernest."
Laki-laki tampan tersebut menutup pembicaraan. Ada beberapa pekerjaan masih mengharuskan ia tidak segera turun dari lantai dua rumahnya.
Ernest mengecek kondisi profit serta laporan rugi laba anak perusahaan yang akan bekerja sama dengan Papa Jovi.
Tidak tanggung, 100 lusin seragam proyek kualitas premium langsung di lempar pada permohonan. Jiwa pembisnis Ernest sudah mengalir deras dalam darahnya.
"Apabila Project ini berhasil.. bukan hanya Persada Jaya saja yang akan mendulang sukses.. Wijaya Grup semakin menjadi trandseter perusahaan Developer pertama yang memiliki inovasi perubahan-perubahan terbaru dalam memuaskan para klient."
Ernest berharap klient dari anak perusahaannya, menyambut antusias.
DAPUR LANTAI SATU.
Lain dengan Ernest masih bergelut pekerjaan. Jovi sudah dari tadi berdiri di dapur untuk menyiapkan makan malam sehat untuk Ernest.
__ADS_1
Rupanya, ia sedang memasak brokoli, bayam dan kentang. Ketiga sayuran tersebut memang sudah di yakini memiliki manfaat banyak bagi kesehatan tulang.
Olahan susu dari kulkas lebih dulu terlihat di tuangkan Jovi. Buah pencuci mulut jeruk serta stawberry Jovi pilih dengan alasan sama. Memiliki manfaat besar untuk kesehatan tulang.
Dari luar suara Bik Yuni, Bik Lusi, Bik Imah serta Pak Yoyok memantik kebisingan. Mereka baru saja datang dari acara pernikahan putra Pak Tono salah satu pegawai di rumah Ernest juga.
Gelak tawa mereka, membicarakan sisa pesta pernikahan Jovi dengar remang-remang. Ada rasa takut bertemu dengan Bik Yuni. Setelah beberapa lama tidak berjumpa.
Ingatan Jovi langsung berlari, bagaimana pedas mulut asisten kepercayaan Tuan Toni itu memaki Jovi tanpa rasa iba dan kasihan.
Pergi ke Jakarta bercampur tangis, Jovi mengenang peristiwa tersebut.
"Hahaaha.. kamu ada-ada saja Yun," Bik Lusi terdengar sedang ketawa.
"Iya lo Lus, tadi itu pas aku mau foto sendalku malah di injek sama menantunya Pak Tono.. besok kalau Pak Tono masuk bakalan aku bilang haha.."
"Suruh belikan baru Yun. yang 200.000 di pasar turi ya hahaha.." Pak Yoyok menimpali.
Tidak berselang lama, akhirnya mereka mulai menyadari keberadaan Jovi sedang berdiri di depan kompor. Pak Yoyok langsung semangat menghampiri. Bik Lusipun juga begitu.
"Eh itu suster Jovi."
Pak Yoyok berlari.
Bik Lusi serta Bik Imah ikut menyusul. Perawakan gemol dua asisten rumah tangga Tuan Toni itu semua tubuhnya gerak saat di gunakan berlari.
Maklum, lemak tertimbun sangat banyak. Mata Bik Yuni menyorot tajam ke arah Jovi berdiri. Ia benar-benar tidak salah, perempuan sedang berdiri itu memang Jovi.
"Suustterr...," sapa Pak Yoyok tangannya melambai.
"Ya Pak Yoyok.."
"Suster Jovi, suster ke sini lagi? Suster saya senang sekali suster kembali ke sini.." Bik Lusi sangat sumringah.
"Iya Suster Jovi.. saya juga..!! kita mah takut nanti pas Tuan Ernest datang terus makanan yang kita sajikan tidak sesuai." timpal Bik Immah.
"Hehe.. iya Bik, saya juga senang bisa kembali ke rumah ini."
Mata Jovi mencuri pandang ke Bik Yuni. Sapaan dari Bik Yuni tidak ada. Mata mereka tidak sengaja bertemu, Bik Yuni tetap diam. Jovi melihat terus tapi Bik Yuni membisu.
"Bik Yuni..," sapa Jovi memberi senyum.
Bik Yuni ketus melihat.
"Suster baru datang dari Jakarta bersama Tuan Ernest ya sus?."
"Tidak Bik Lusi.. saya datang sudah kemarin.. saya pulang dulu beristirahat.. Saya ke sini karena Tuan Toni meminta saya merawat Tuan Ernest lagi."
"Sudah Lus, Immah.. ayoo kita ke belakang..!! Yoyok biarin di sini.. tapi hati-hati Yok jangan lama-lama.. ada penyusup hiii.....," nadanya bercanda tapi ketus.
"Tuan Toni kapan pulang ya? biar tau selama ini, kalau di sini ada penyusup.."
"Kamu itu apa apa'an to Yun? masak wajahku ini seperti penyusup.. kok ada-ada saja.."
"Iya Yok.. penyusup.. yang biasanya di suruh orang gitu Yok, buat niat jahat."
"Kamu ini, makane ojo kakean ndelok sinetron (makanya jangan kebanyakan nonton sinetron)." Pak Yoyok kesal.
"Hahahaha..."
Ucapan itu di sambut tawa para bibi.
Pak Yoyok mengejek. Suasana di dapur sangat ramai. Jovi tidak ikut tertawa, senyumnya sedikit di paksa. Ia tahu, Bik Yuni memiliki maksud lain saat mengucapkan hal itu.
"Sudah Lus.. ayoo jangan lama, lama.. ini kita lihat di bawain bungkusan banyak sama Tono." Bik Yuni mengajak.
"Iya sih..!!," Bik Lusi menyetujui.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Suster Jovi.. ini mau bongkar oleh-oleh yang di kasih Pak Tono." kata Bik Immah.
"Iya Bik.. Silahkan." Jovi tersenyum.
Jalan pelan mereka cepat meninggalkan dapur. Tidak berselang lama Pak Yoyok ikut pamit pergi. Bik Yuni benar-benar tidak memiliki perasaan.
Suster cantik kesayangan Ernest tersebut mendadak seperti orang asing di rumah besar Griya Indah.
"Memangnya saya langsung percaya gitu kalau Tuan Toni menyuruh kamu..?? wajahnya aja yang di lugu-lugu'in." Bik Yuni membatin tidak suka.
Jovi tidak bisa fokus memasak sayuran. Suppport kuat dulu di dapatkan dari Bik Yuni sekarang malah berbalik membenci. Ia semakin cepat ingin pulang.
Beruntung sekarang perempuan cantik tersebut sudah tidak bermalam di rumah Toni Wijaya lagi. Jovi mengaduk pelan sembari mengingat apa yang barusan di dengarnya.
Ernest menuruni tangga.
Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan. Ia kembali menuju ke kamar. Mata indah Ernest tidak sengaja menemukan Jovi di depan kitchen set.
Ernest menyangka pandangan mata dia salah. Tapi benar, Jovi sedang memasak sesuatu di depan kompor. Jalan Ernest berbalik arah. Ia menghampiri Jovi.
Rambut suster cantik tersebut tergerai indah dari belakang. Jovi melamun. Meski tangan masih mengaduk brokoli. Namun semua fikirannya terasa di bebani.
__ADS_1
"Jovi.. apa iya setelah kamu menjelaskan semua ke Tuan Ernest, kamu tetap penyusup Jov di rumah ini? Tahan.. tahan Jov.. tunggu sampai ada Suster baru." Jovi membatin.
Ernest berjalan. Ia berdiri pas di belakang Jovi, tapi sepertinya kehadiran Ernest tidak di sadari. Laki-laki tampan itu mengamati, tangan Jovi mengaduk sayuran hijau.
"Suster Jovi, masak apa?." tengok Ernest sedang tersenyum.
"Kok diam."
"Suster.." panggilan tidak di hiraukan.
Ernest melihat susu. Ia menyucup sedikit rasa manis yang pas dalam susu tersebut. Nampaknya kehadiran Ernest masih benar-benar tidak di anggap Jovi. Ia semakin penasaran.
"Suster Jovi sayangg...,"
Ernest memeluk Jovi dari belakang. Tangannya mengait pada pinggang kecil perempuan cantik tersebut. Mata Jovi terbelalak. Ada sesuatu merapat di tubuhnya.
"Bik Yuni."
"Kok Bik Yuni?, ini saya.." pelukan manja Ernest menidurkan kepala pada pundak Jovi.
Jovi menoleh.
"Tuan Ernest."
"Begini ya.. malem-malem masak sambil bengong.. untung nggak gosong."
Ernest tidak malu lagi, hidungnya mengedus leher naik ke atas telinga Jovi.
"Tuan Ernest.. jangan seperti ini.. saya malu tuan..!! Tuan Ernest lepas." Jovi berusaha melepas kaitan kedua tangan kekar Ernest.
"Biarin.. biar semua orang tahu, kalau saya mencintai kamu Suster Jovi.. Ya Jovi Andrianita kan?." Ernest menciumi pipi putih kakak Aqila.
"Tuan.. nanti kalau bibi-bibi lihat, saya nggak enak tuan.. Tuan Ernest saya takut di lihat orang tuan.. lepas tuan."
"Nggak papa kan.. rumah, rumah siapa? rumah saya kan?."
"Nggak, rumah Tuan Toni..!! Tuan Ernest lepaaaaasssssss...," Jovi mulai marah.
"Iya, ya.. bener juga sih ini rumah papa."
"Tuan.. jangan seperti ini, Tuan ini bisa di kasih tau nggak sih? Tuan.. saya tinggal pulang lo."
"Tinggal aja kalau bisa." Ernest mencium pipi.
Jovi merengek kesal. Dirinya mencari cara bagaimana bisa melepas pelukan dari Ernest. Spatula panas sisa dari adukan sayur secara tega di arahkan pada punggung tangan telapak Ernest.
"Cesssss....," rasa panas menyengat.
"Aduuuuhhhh...," jerit Ernest.
Laki-laki tampan tersebut melepas pelukan dari tubuh Jovi. Ia mengipas tangan kiri, meniupi sendiri. Tangan putih Ernest nampak memerah.
"Suster kamu tega sekali sih..!! itu air mendidih suster.. panas Suster Jovi.. di kira air es apa? kekerasan dalam rumah tangga ini."
"Rumah tangga apanya? iya ini rumah, tapi tangga nya masih di belakang.."
"Bukan gitu, coba ibaratkan aja kita suami istri.. apa suster juga masih tega melakukan ini.. panas loe ini suster."
"Ya makanya kalau udah di bilangin, tapi masih aja ganjen."
"Ganjenn..?? njiiirrr... nyakitin juga kata-kata cewek ini." Ernest memicingkan mata.
Jovi pergi.
Sebelumnya ia sudah meniriskan sayuran sebagai makan malam Ernest. Susu, buah-buahan, makan tambahan sayuran siap di hidangkan.
"Suster.. Suster.. mau ke mana? suster woeeyyy..."
Jovi membiarkan.
"Ya Tuhan.. dia nggak peduli banget lo."
Ernest lunglai. Separuh hatinya pergi ke ruangan lain. Ia menutup pintu kulkas. Es batu kristal di taruh Ernest pada tangan merahnya yang melepuh.
"Suster masak brokoli, Ernest di sakiti.. tangan luka lagi.. di obatin sen.. dirii.. Hidup serasa kaku, Jovi tega ke aku.. merana lah.. kini merana.."
Ernest mendendangkan lagu dangdut angka satu dari caca handika. Sayang lirik di ubah se enak jidad oleh laki-laki tampan tersebut. Mengganti sajak, dengan nasibnya barusan.
Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 malam. Tugas Jovi hampir selesai, menunggu Ernest menyelesaikan makan malam. Sehingga bisa pulang naik taksi.
Tidak lama, Ernest sudah terlihat masuk kamar. Muka putra tampan Tuan Toni tampak di tekuk. Jovi kasihan, Ernest menepuk terus punggung tangan merah akibat ulah Jovi.
"Tuan.. sakit ya?."
"Nggaaakk..!! Nikmat."
"Tuan.., maaf." Jovi merasa bersalah.
"Tadi ke mana aja? sekarang baru minta maaf.. TELAATT.!!." Ernest menggoyang dagu, bibirnya meruncing.
__ADS_1
Jovi ingin tertawa tapi di tahan.