Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
95. Usai Di Sini


__ADS_3

Jovi tidak takut, ia balik menatap mamanya.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?."


"Iya, sadar," dengan muka tanpa penuh dosa.


"Kalau sadar kenapa kamu berbicara seperti itu? Jovi.. Tuan Ernest itu calon tunangan kamu..!! pertunangan kalian sudah di depan mata Jov."


"Itu baru rencana mah, belum terlaksana, dan bisa dibatalkan."


"Jovi...!!!!," bentak mamanya lebih keras.


Suasana mendadak terhenti sunyi.


Sedikit batuk, atau gumam dari mulut Jovi tidak terdengar.


"Kalau memang kamu tidak mau dengan Tuan Ernest kenapa baru sekarang bilangnya? kenapa tidak bicara kemarin-kemarin? rasanya baru kemarin lo mama lihat kamu sangat bahagia dengan kedatangan Ernest dan Tuan Toni ke sini Jov."


Jovi tidak menjawab apapun.


Mama Jovi sangat kesal.


"Apa yang akan mama dan papa bilang ke Tuan Toni dan Tuan Ernest nanti? Jangan kamu kira pernikahan itu hal yang mudah," lirik tegas mata mama Jovi.


"Makanya Jovi belum ingin menikah, karena Jovi sadar bahwa pernikahan itu harus di fikirkan matang-matang. Jovi juga tidak hamil duluan, ngapain juga Jovi harus menikah terburu-buru."


"Kamu memang benar-benar ya Jov..!! mama nggak tau lagi dengan jalan fikiran kamu, baru kali ini mama sakit hati sama kamu.!!."


"Jovi belum ingin menikah," Jovi tetap berbicara meski pelan.


Tanpa jawaban, mama Jovi memicingkan mata, lalu membalikkan tubuh. Ia enggan menatap ke arah Jovi.


Sebenarnya Jovi sangat takut, nada bicara mama Jovi seumur hidup tidak pernah terdengar keras. Malam ini semua berbeda, Jovi bisa menggerakkan amarah mamanya.


Ceklekk.


Suara pintu.


Mama Jovi keluar.


Jovi melihat, ia tetap diam. Tidak menghentikkan langkah mamanya pergi.


Pandang mata terasa kosong, seperti ingin menepi tapi dia tidak sedang berlayar. Seperti ingin menyudahi, tapi tidak tau apa yang ingin di sudahi.


Mama Jovi beranjak buru-buru mencari papa Jovi. Baru beberapa langkah, kaki mama Jovi membuka pintu kamar suami.


Papa Jovi terlihat nampak lelap tidur di samping Aqila. Datangnya Jovi dari pesta yang sudah larut malam, hanya menyisakan mata Jovi yang masih belum tidur.


"Hiks.. hikss.. hiks.."


Sayup-sayup terdengar suara tangis.


"Hiks.. hiks.. hiks.."


Perlahan.


Mata mulai mengerjap, papa Jovi mencari kacamata, lalu duduk mencari suara tangis istrinya.


"Mamah..," panggilnya mengucek mata.


Di tepi ranjang mama Jovi benar-benar tertangis sedih.


"Kenapa?," suaminya menepuk pundaknya lembut.


"Mama capek pa..!!"


"Ya istirahat mah."


"Kenapa mama menangis?," tanya papa Jovi.


Nafasnya memburu, nampaknya mama Jovi sedang menahan sisa tangis di pelupuk mata.


"Mama udah capek pah sama Jovi, mama nggak tau lagi sama jalan fikirannya. Dia mau apa sekarang mama nggak peduli."


Dahi papa Jovi mengernyit.


Papa Jovi baru ingat, sebelum tidur putrinya belum kembali ke rumah.


"Jovi sudah datang? memang kenapa?."


"Jovi sudah mama beri tahu, tentang rencana Tuan Toni ?? yang menggabungkan tanggal pertunangan serta pernikahan."


"Tapi pah?."


"Tapi apa lagi mah? apa Jovi ingin pernikahan di Bali seperti teman-temannya."


Mama Jovi menghela nafas.


"Mama pusing, Jovi bilang dia tidak mau menikah terburu-buru, dia bilang masih ingin membantu papa dan mencari tabungan banyak untuk Aqila. stress pa, mama pusing mikir Jovi."

__ADS_1


"Pikirannya labil, labil itu anak."


"Kok bisa mah?."


"Ndak tau pa, mama sudah capek sama Jovi. Coba mau dia itu apa lagi? mama ndak habis fikir sama jalan fikiran Jovi."


Tangis mama Jovi mendera seru.


"Sabar mah, sabar," papa Jovi menenangkan.


"Sekarang kurang apa lagi Ernest ke dia? apa Jovi nggak tau betapa sayangnya Tuan Ernest dengan dia? terus sekarang, apa yang akan kita katakan ke Tuan Toni pa."


"Tenang dulu mah, mungkin ada sesuatu yang membuat Jovi seperti itu."


"Harusnya Jovi itu bersyukur, lihat..!! latar belakang dia yang seperti itu, mau cari suami yang gimana lagi? mama capek pa.."


"Sudah mah, sabar. Besok pasti keputusan Jovi berubah."


"Mama nggak habis fikir pa..!! Kasihan Ernest dan Tuan Toni hiks.. hiks.."


Kantuk yang tadi hinggapi mata papa Jovi, terasa langsung pergi. Papa Jovi beranjak dari tempat tidur mengambil kacamata.


Di luar pintu kamar.


Jovi berdiri.


Air matanya tidak menetes sama sekali. Keputusannya seakan sudah bulat.


Sejak hadir dalam pesta tersebut, Jovi merasa dia bukanlah orang yang tepat untuk Ernest. Ucapan Dokter Nalen terus mengiang bahwa Ernest tidak bangga memiliki Jovi.


Jovi kembali ke kamar.


Ia seakan sudah siap, fikirannya terus mencari info lowongan kerja agar tidak menggantungkan hidup ke keluarga Wijaya.


Jovi menutup pintu kamar.


Sebenarnya, fikiran perempuan cantik tersebut sedang kalut. Namun, tekat kuatnya menggagalkan pernikahan ini lebih besar.


"Di luar?? apa sekarang ada yang mengenal kamu?? bahwa kamu adalah pasangan Ernest Wijaya, bahwa kamu pacarnya Ernest?? nggak ada."


Kata-kata Dokter Nalen terus berlari di kepala.


Segala sifat baik Ernest terasa hilang dalam semalam. Pemikiran Jovi semakin mengada-ngada, Jovi semakin tidak yakin bahwa Ernest adalah orang yang baik.


Tok..


Tok..


Jovi melihat pintu. Tidak lama suara papanya memanggil. Bukan mengindahkan, Jovi justru memasukkan diri ke dalam selimut besar.


"Jovi"


Jovi tidak membalas.


"Jov, kamu sudah tidur?."


Jovi membiarkan.


Ceklek..


Suara gesekan sandal ke lantai terdengar semakin mendekat. Jovi menutup sebagian wajah dengan guling, rambutnya agak bergelombang sisa pulang dari pesta.


"Jov.."


Dengkuran nafas halus Jovi yang menjawab.


"Jovi, papa tau sebetulnya kamu belum tidur. Coba.. ayoo kamu bangun dulu.!!."


Ruangan hanya ada suara AC.


"Jovi...!!," nada papa Jovi tidak hangat lagi.


"Jov, papa ingin tanya sama kamu. bangunn sekarang..!!!"


Sreeekk..


Jovi membuang selimut, guling terbuang dari muka. Tatapan mata kakak Aqila tersebut jalan melihat arah selain arah papa Jovi berdiri.


"Papa ingin tau, kamu ada masalah apa? apa yang membuat kamu tiba-tiba berubah fikiran. Papa tau pasti ada yang melatar belakangi keputusan kamu ini?."


Hening beberapa detik.


"Tidak ada, semua murni keputusan Jovi."


"Nggak mungkin, masak nggak ada apa-apa kok bisa-bisanya kamu berubah pikiran. Orang tadi kamu berangkat juga sangat semangat terlihat bahagia dengan Tuan Ernest."


"Kamu kira kamu bisa bohongin papa? kamu kira kamu papa nggak tau isi hati kamu, pasti kamu dapat hasutan dari seseorang kan?."


"Memangnya papa tau, Jovi bahagia yang beneran dan tidak? ." Jovi nyolot.

__ADS_1


"Kok kamu bilang begitu? apa maksud kamu?."


"Buktinya waktu permasalahan Pak Fictor, papa tertipu kan?? papa marahin Jovi kan? Jovi masih ingat, papa justru marahin Jovi waktu Jovi naik taksi, padahal di situ Jovi sudah bilang ndak kuat."


"Kapan sih pa? papa bisa ngertiin posisi Jovi? apa karena Tuan Ernest kaya lantas Jovi harus cepat-cepat menikah dengan Tuan Ernest, apa itu keinginan papa." Jovi meneteskan air mata.


"Bukan, bukan seperti itu. papa tidak pernah bermaksud seperti itu. Papa merasa karena memang Ernest benar-benar sangat mencintai kamu."


"Sekarang Jovi mengungkapkan isi hati Jovi, papa sama mamah tetap masih tidak percaya. Apa sebanarnya ikatan batin antara anak dan orang tua itu hanya mitos?," tukas Jovi.


"JOVI...!!!"


Bola mata papa Jovi membesar. Papa Jovi langsung naik darah.


Akan tetapi seolah menekan amarah, tangan papa Aqila itu mengepal tanpa bersuara. Rasa hati sangat meradang.


"Ayo lanjutkan, apa yang mau kamu katakan lagi, barangkali ada yang masih ingin utarakan..!! sampai kamu tidak menganggap kasih sayang mama dan papa kamu adalah mitos."


"Jovi tidak mau pernikahan."


Papa Jovi menoleh, dada seperti terhantam benda berat, akan tetapi tidak ada darah.


Suasana hening.


"Baik."


Hanya itu yang dikatakan papa Jovi sembari mengangguk.


"Papa akak turuti keinginan kamu kali ini, sehingga kamu tidak menganggap lagi kasih sayang, ikatan batin antara anak dan orang tua itu adalah mitos."


Jovi tidak memandang papanya. Ia menunduk sembari menangis. Setelah terakhir ucapan papa Jovi terdengar, laki-laki berkacamata tersebut keluar.


Srek


Srek


Langkah kaki papa Jovi meninggalkan pergi.


"Maafkan papa, selama ini papa belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu. Maafkan papa juga apabila pernah mengajak kamu di masa sulit. Untuk saat ini, kamu tidak perlu lagi ikut melunasi hutang papa ataupun membiayai Aqila, karena papa masih kuat bekerja untuk kalian."


"Papa akan telepon Tuan Toni malam ini juga, selebihnya papa tidak akan ikut campur dengan kehidupan kamu."


Ceklek


Pintu terbuka.


Papa Jovi keluar.


Deg..


Perasaan hati Jovi mendadak dingin. Sepertinya apa yang di ucapkan Jovi malam ini benar-benar menyakiti perasaan orang tuanya.


Jovi terisak di dalam kamar.


Tangisnya menderu.


"Maafkan Jovi, mah, pah..!! Jovi tidak bermaksud seperti ini, Jovi sayang dengan kalian. Kalau Jovi tidak seperti ini pasti papa tidak akan mengabulkan permintaan Jovi. Hiks hiks huuu.."


Tangis mengucur deras.


Hidung Jovi tersumbat.


Suasana semakin malam tidak meyelesaikan. Papa Jovi masuk ke kamar menemui mama Aqila.


Memandang wajah suaminya, mama Jovi sudah berprasangka tidak enak. Papa Jovi menceritakan ulang apa yang di ceritakan putrinya tersebut.


Sempat tidak bisa menahan tangis, air mata yang jatuh di pipi suaminya terhapus tangan mama Aqila.


"Mungkin kali ini kita biarkan saja Jovi memilih jalan hidupnya mah. Menikah kapan, adalah hak anak bukanlah orang tua. Saat ini papa sudah terlalu mengambil banyak kebahagiaan dari Jovi, jadi biarkan dia memulai bahagia."


"Papah," bibir mama Jovi bergetar.


Suasana terasa sendu.


Tangis mereka memburu.


"Ya sudah, mama ikut papa saja. Tapi bagaimana kita akan menjelaskan semua ke keluarga Tuan Toni? pah, mama nggak tau harus bagaimana?."


"Kita istirahat dulu mah, besok kita selesaikan lagi. biarkan fikiran kita sama-sama tenang."


Papa Jovi lantas memeluk istri. Tidur pulas Aqila sama sekali tidak mengubah pandang mata papa Jovi.


Laki-laki paruh baya tersebut memandang kaca jendela. Keputusan berat di lakukan hanya untuk mengecewakan semua.


"Semua akan kita mulai dari nol. Papa harap mama jangan merasa kecewa. Kasihan Jovi, apabila nanti kita tekan secara terus menerus."


"Baik pah. Mungkin benar yang di katakan Jovi, seandainya Ernest tidak mau menunggu lagi berarti dia bukan jodoh Jovi pa."


Papa Jovi mengangguk. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, berharap ketenangan menghampiri.

__ADS_1


Ucapan Jovi sangat begitu membekas. Meski tidak keras, namun kegagalan papa dan mama Jovi menjadi orang tua sangat terasa.


__ADS_2