
Pukul 05.30, pagi ini Ernest belum bisa bangun dari tidur. Karena subuh baru sampai ke rumah, mata laki-laki tampan itu, masih menutup indah, diatas tempat tidur kamarnya.
Lelah tubuh Ernest benar-benar sangat terasa, setelah hampir semalaman, tidurnya terjaga dari mati lampu. Tidur Ernest pagi ini, masih begitu pulas, tidak bisa membangunkan diri, pergi ke kantor.
Rasa lelah, nyeri kaki, tubuh meriang, semua dirasakan Ernest saat pulang naik mobil. Sehingga, mengajak tubuhnya untuk beristirahat di rumah.
Ernest sengaja memberi pesan suster Jovi maupun Pak Rahmat, saat pulang subuh tadi, agar tidak membangunkan Ernest. Dia sedang memilih absen dari kantor.
Semua berbeda dengan Jovi, perempuan cantik itu, sudah selesai mandi dan berganti baju. Kalender kecil di meja lampu kamar, hari ini menunjukkan tanggal 27 mei 2020.
Tanggal tersebut, langsung di sambut lengkungan senyum pada wajah suster cantik bernama Jovi Andrianita tersebut. Alarm tanggal 27 dari ponsel, juga tak kalah ikut memecah keheningan.
Pagi ini, semua lelah dan perjuangan Jovi selama 1 bulan, sebagai suster untuk tuan muda, akan dibayar kontan oleh atasannya Fictor.
CEO super galak di kantor semesta group, di mana tempat Jovi bekerja. Tidak di sangka Jovi, rela memberi pundi-pundi sebanyak itu, hanya untuk membalaskan dendamnya.
"Kreeekkk....," Jovi membuka pintu kamar.
Perempuan cantik tersebut, masuk ke dalam kamar Ernest terlebih dulu. Jovi memandang, Ernest masih tidur nyenyak. Dengan kaos santai, sudah digantikan Jovi subuh tadi.
"Tuan Ernest, terimakasih, karena Tuan Ernest, saya bisa mendapatkan gaji 2x lipat.. Meski saya banyak berhutang budi pada Tuan Ernest, doa'kan saya ya tuan, suatu saat saya ingin merawat tuan selamanya."
"Selamanya? Tuan Ernest kan tidak cacat, dia tidak akan membutuhkan suster lagi, aahhh... apa sih Jovi yang kamu pikirkan?."
Lamunan Jovi di rusak sendiri oleh kesadaran dia. Berdiri kakinya, sorot matanya memandang Ernest, terus menerus. Entahlah, di akhir masa kerja Jovi, dirinya sering melamun, saat bersama Ernest.
"Tuan Ernest, saya pergi sebentar ya tuan, saya tidak lama, hanya ada keperluan sedikit."
"Baik suster, silahkan.. hati-hati ya suster Jovi," Jovi menirukan suara Ernest.
"Siap tuan, kalau begitu saya permisi," tawanya cekikikan meninggalkan Ernest.
"Ceklek..," Jovi menutup pintu kamar.
Sebelum Jovi pergi ke kantor, ID Card kantor semesta group, sudah di kantongi oleh Jovi. Perginya dia pagi ini, mengajak kaki dia pergi ke dapur mencari Bik Yuni.
Seperti biasa, suster kesayangan Ernest itu, melihat Bik Yuni asyik bercanda dengan Bik Lusi dan Bik Ima. Semua melakukan aktivitas dapur, diiringi canda tawa masing-masing.
Hanya dengan aroma masakan, perut Jovi sudah terasa di isi kembali, oleh bau sayur asem-asem, dan krengsengan ayam pagi ini. Namun rasa lapar sedikit di tepis, agar Jovi lebih dulu sampai di kantor Fictor.
"Selamat pagi Bik Yuni, Bik Lusi, Bik Ima."
"Eh suster, selamat pagi," Bik Yuni memberi senyum.
"Suster Jovi cantik sekali, mau kemana?," tanya Bik Lusi.
"Sarapan dulu suster," Bik Ima membawa hidangan.
"Nanti saja bik, saya mau ada perlu sebentar, nanti kalau Tuan Ernest mencari saya, bilang saya keluar ya Bik."
"Ouh baik suster, nanti saya sampaikan,"
"Ya udah, kalau begitu saya pergi sebentar ya bik..!! mari Bik Yuni, Bik Lusi dan Bik Ima."
"Iya suster hati-hati."
"Jangan lama lama ya suster," pesan Bik Yuni.
"Baik bik, siap," senyum Jovi sudah menghias.
Perempuan cantik tersebut, pergi keluar rumah menggunakan taksi. Beruntung, arah garasi masih tampak sepi, belum ada Pak Rahmat, Pak Yoyok maupun Pak Tono.
Tuhan maha baik, selalu memberikan kesempatan pada Jovi, ijin keluar rumah tanpa bingung. Satu persatu cara Tuhan, benar-benar setia menyelamatkan Jovi dari kecurigaan Ernest.
********************
KANTOR SEMESTA GROUP.
Satu jam perjalanan menggunakan taksi, dari arah Perum Griya Indah rumah Ernest, menuju kantor di kawasan kota satelit tersebut. Pukul 07.20 Jovi sudah sampai di depan kantor.
Sisa 10 menit, dari waktu masuk. Lalu lalang para staff kantor, sudah mulai hilang satu persatu. Jam check lock terakhir sudah diburu masing-masing pegawai, dengan semua lari kecil mereka.
Jovi membuka pintu, ikut lari terbirit, seolah mengubah dirinya sebagai sekertaris Fictor lagi. Rasa cemas sebetulnya di rasakan Jovi, tetapi gaji bulan ini, lebih menggulung rasa bahagia di hati perempuan tersebut.
Jovi naik lift ke lantai 4. Dimana itu adalah ruang kerja dia bersama Ola, sekaligus sebagai ruang direktur utama semesta grup, bernama Anjang Fictor Perdana.
Terlihat Ola sudah mulai bergelut dengan komputer di depan meja. Alice, sekertaris pengganti Jovi, nampak menduduki meja kerja Jovi, berada pas di sebelah Ola.
Elmara, Vega, dan Robi juga nampak berada di meja kerja mereka sendiri. Rasa canggung serta gemetar menghadapi semua teman kerja, sempat membuat nyali Jovi menciut, ingin kembali pulang.
Entahlah, tiba-tiba rasa bahagia atas gaji yang sudah ditunggu Jovi, langsung sirna di kepala. Perempuan cantik tersebut takut, teman sejawatnya akan marah besar pada Jovi.
"Kreeekkkk...," Jovi membuka pintu.
"Selamat pagi," sapanya tidak berani keras.
__ADS_1
"Hai Jov, lama nggak ketemu, muncul-muncul cuma pas lagi gajian aja loe," celoteh Elmara langsung menyambut, saat Jovi sampai di ruangan.
"Eh Jovi, kemana aja loe, habis tugas keluar planet ya?? kok baru kelihatan," sindir Robi, teman kantor bermulut pedas.
"Iya nih, mentang-mentang kesayangan Pak Fictor, seenak jidad ninggalin kantor," Vega juga mengecap pedas lewat kata-kata.
"Biasalah, tangan kanan, kalau kita cuman tangan pembantu," Robi seperti menaruh dendam.
"Hahaha.. Rob, jangan gitu dong, anjiiir.. masak wajah wajah kita kayak pembantu sih," Elmara justru membuat bahan candaan.
"Robi aja lah Ra, gue sih ogaah..," Vega menggeleng.
Mereka semua tidak tau, selama ini Jovi selalu menjadi tangan kanan, dimana rela terus menerus di tindas oleh Fictor. Semua tidak seindah yang di bayangkan para pegawai di kantor semesta group.
Kedekatan Jovi dan Fictor seperti sudah menjadi rahasia umum, sayangnya para karyawan tidak berani berbuat banyak. Sebab Fictor tetap berkuasa, memberi mandat, atas apa yang bisa di kerjakan pada kantor.
Jovi tidak menghiraukan, dia tetap berjalan ke arah Ola dan Alice teman kantornya, yang baik hati. Untung, Alice lah yang di suruh Fictor, menggantikan posisi sekertaris, bukan mereka.
"Jovi, loe ke kantor nggak ngabarin gue, tau gitu gue bareng loe aja tadi."
Ola mencengkram pundak Jovi secara gemas, melampiaskan rindunya selama ini, lama tidak pernah bertemu.
"Gue aja naik taksi."
"Ouh iya lupa, pasti loe meluncur dari rumah si tuan kan ya?."
"Heem," kepala Jovi mengangguk.
"Eh si itu, udah dateng?," Jovi melirik ruang sebelah.
"Udah, udah daritadi malah," bisik Ola berekspresi sama seperti Jovi.
"Ooo.... ya, ya..."
Sebelum masuk, perempuan cantik tersebut menyempatkan diri, untuk menyapa Alice.
"Alice, maaf ya ngerepotin kamu banyak."
"Eh.. Jovi, nggak papa kok."
"Gimana?? kamu nggak bingung kan sama tugas bagian mejaku?,"
"Iya kadang kalau bingung, aku tanya Ola kalau nggak gitu browsing dulu ke internet, gak papa lah ribet-ribet dikit hehe, itung-itung tambah pengalaman."
"Iya Jov, sama-sama, kan ini juga perintah Pak Fictor, tenang saja."
"Heem, makasih ya.."
"Oke," ucap Alice melanjutkan pekerjaan.
Setelah selesai memastikan, Alice tidak memiliki kendala berat dalam pekerjaan. Jovi masuk ke ruang direktur utama, tak lain tak bukan adalah ruang neraka.
RUANG DIREKTUR UTAMA SEMESTA GROUP.
"Kreeeekkkk....," Jovi membuka pintu.
"Selamat pagi Pak Fictor, maaf saya baru datang pak," gemetar jantung Jovi mulai terasa.
"Ouh Jovi, duduk dulu."
"Baik pak."
Laki-laki bernama lengkap Anjang Fictor Perdana, nampak sedang menerima telepon dari seseorang. Memaksa Jovi, harus menunggu beberapa menit, untuk berbicara.
Sudah lama, Jovi tidak memandang, tubuh besar, serta jambang hitam di wajah Fictor. Selama satu bulan, saat Fictor menyuruh lembur pun, mereka berdua sama sekali belum bertemu lagi.
Fictor sudah terlihat menutup telepon, sorot matanya mulai sudah tidak se tenang saat menyuruh duduk Jovi. Batu cincin di tangan kirinya, semakin membuat Fictor, nampak kejam.
"Jovi.. Jovi.. Jovi.."
"Ya Pak Fictor."
"Gue mau tanya sama loe, sudah berapa lama loe ninggalin kantor ini? hanya untuk menjadi kacung laki-laki sialan itu."
"Satu bulan tiga hari pak."
"Bagus kalau loe masih ingat, terus?? loe dapat apa selama ini, sebulan loe nggak kerja, ninggalin kantor, dan sekarang ke sini HAH....!!!."
"Ma-maaf Pak Fictor, saya kesini atas perintah bapak, Ola chatt saya, katanya saya di suruh kesini."
"******......"
"BRAAKKK....," Fictor menggebrak meja.
"Maksud gue nyuruh loe kesini, loe itu harus bawa kabar baik.. HAH..!!! kenapa loe bohongin gue, tentang kondisi si Ernest, JAWABB...!!"
__ADS_1
"Ayo jawab, gue tau, waktu Ernest datang ke reuni, kondisi dia nggak seperti yang loe bilang ke gue, buta mata loe."
"Ma-maaf pak."
"Yang loe lakuin selama ini apa? jadi nggak loe ngeracun dia? jadi nggak loe ngebenturin tuh kepala Ernest ke kamar mandi? emang dasar, kelakuan loe nggak lebih dari anjing."
"Sa-saya tidak tega."
"Tidak tega? tidak tega."
"Pyaaaarrrr.....," vas bunga di banting Fictor.
Jovi gemetaran, jantungnya berdebar tidak karuan. Fictor sedang kesetanan pagi ini. Laki-laki berjambang tersebut, beranjak dari kursi, berjalan ke arah tempat duduk Jovi.
"Loe bilang loe nggak tega, loe ini kerja sama siapa? loe ini lagi lupa diri, atau gimana?."
Fictor menjambak sebagian rambut Jovi.
"Aaaa...., maaf pak, saya sudah mengecewakan Pak Fictor, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi pak."
"Maaf, maaf, loe kira maaf itu cukup? HAH..!! loe kira bayar loe 8.000.000 itu, uang yang sedikit, dan kerja loe sama sekali nggak becus, Anjingg..."
"Ma-maaf Pak Fictor," kepala Jovi mendongak, bibirnya menyeringai kesakitan.
"Masih bilang maaf lagi, loe denger gue nggak sih, emang uang 8.000.000, bisa nge ganti, cuma buat kata maaf loe," tangan Fictor semakin menarik tega rambut sekertarisnya.
"Saya tidak bisa Pak, saya tidak bisa melakukan tugas Pak Fictor," tangis Jovi mulai keluar.
"Ouh sekarang udah berani nolak perintah gue, udah lupa, sama utang papa loe, gue bakalan langsung up bunga hutang papa loe jadi 7% mau??."
"Loe nantangin gue ceritanya," tangan Fictor berpindah arah mencengkram wajah Jovi.
"Hikss... hikkssss...," isak tangisnya terdengar.
"Gue nggak bakal kasih ampun sama papa loe yang tua bangka itu, bunga 7% karena anaknya udah nggak mau nurut sama gue, itu kalau loe berani nantang gue."
"Tidak pak, saya tidak berani."
"Kalau nggak berani, kenapa loe malah bantuin si Ernest sembuh Joviiiii.... dasar BRENGSEK...!!"
"Bangsaaat.. loe Jov."
"Plaaaaakkkkk..," Fictor menampar pipi kanan Jovi.
Suster cantik kesayangan Ernest tersebut, tak kuat menahan tangis. Rasa nyeri, warna merah langsung terlihat pada bekas tamparan Fictor.
Perlakuan yang di lakukan atasannya pagi ini, benar-benar paling parah, jika dibanding dengan apa yang dilakukan Fictor pada Jovi beberapa waktu lalu.
Jovi harus menelan pil pahit atas kegagalannya menjalankan misi. Sarapan pagi dari Fictor, sangat menyakiti perasaannya. Tangis yang ditahan, tetap saja, air mata menetes ke pipi.
"Selama ini, gue anggap loe selalu handal sama tugas yang gue kasih, tapi sekarang loe malah jadi nggak pecusss."
"Apa loe takut masuk penjara? loe takut di cap sebagai pembunuh? atau jangan-jangan loe udah jatuh cinta sama si Ernest? sampe bisa jadi ***** kayak gini."
"Jovi.. sialaan loe," Fictor menendang kaki Jovi.
Perempuan cantik tersebut hanya diam.
"Gue nggak bakal transfer gaji loe, kerja loe beneran nggak bisa di andelin,"
"Tapi gue tetep mau loe jadi suster si Ernest, dan tunggu rencana gue selanjutnya." Fictor mengepalkan dua tangan di depan tubuh.
"Pak Fictor, saya ingin kembali kerja menjadi sekertaris lagi saja, saya tidak mau menjadi suster Tuan Ernest Pak,"
"Plaaaaakkkkk...," Fictor menampar Jovi lagi.
"Jangan pernah sebut Ernest, sebagai tuan loe di depan gue, dan INGAT.. loe nggak akan bisa kembali ke semesta group, kalau belum bisa ngebuat Ernest celaka."
"Tapi pak."
"Braaaakkkkk...," tendang kaki Fictor pad kursi yang Jovi tempati duduk.
"Semakin loe ngebantah perintah gue, semakin loe nggak bisa ngebunuh Ernest, gue yang akan kirim loe ketemu Helen."
"Tapi pak, saya tidak mau, saya bukan pembunuh, saya tidak mau membunuh seseorang, saya punya keluarga, saya ingin melunasi hutang Pak Fictor bukan dengan cara seperti ini Pak."
"Ooo begitu.., baik, 25% bunga hutang papa loe langsung gue ajukan ke pihak bank, gimana? jumlah aja hutang papa loe yang totalnya 900.000.000, dengan bunga 25% yang gue minta, SILAHKAN..!!"
"Satu bulan bunga yang harus loe bayar ke gue 195 juta, beda pinjaman pokok yang bisa loe lunasin sama papa loe."
Fictor memandang remeh ke arah perempuan cantik, wajahnya sudah penuh dengan rasa pasrah dari kekejaman atasan semesta group tersebut.
Semua begitu sulit, Jovi masih sangat susah untuk bisa lepas dari Fictor. Sebetulnya Jovi sendiri, sudah ingin mengakhiri semua permainan yang di buat Fictor.
Gaji bulan ini benar-benar tidak di dapat Jovi. Apalagi setelah pernyataan dari Fictor yang mengatakan tidak akan mendapatkan sepeserpun gaji pada bulan ini. Semua terasa begitu memilukan.
__ADS_1