Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
66. Issue Buatan


__ADS_3

Belum mereda sakit hati atas perginya Jovi dari Semesta Grup. Tander proyek tak di sangka Fictor juga ikut di ambil Wijaya Grup Corporate.


"Awassss aja loe Jovi.. loe yang bikin perusahaan gue terpuruk, loe yang gue kirim ke rumah tua bangka itu buat bunuh anaknya, malah loe sembuhin bajiinggaan itu.. loe ngebiarin si pembunuh itu tetap hidup.."


"Brakkkkkk..," Fictor menendang deretan kursi pas di samping pintu lift.


Tangannya meremas. Jambang di bagian dagu nampak tidak terurus, akibat masalah pekerjaan. Rambut lurus Fictor yang harusnya di rapikan bulan ini. Terlihat panjang menutup dahi.


Fictor menyendiri di ruang tunggu.


Alih-alih pergi dari ruangan untuk menghirup udara segar. Fictor terlihat harus bekerja keras lagi mendapatkan tander proyek dari perusahaan lain.


Beban fikiran yang ia bawa, tetap mengikuti. Fictor mengambil satu batang rokok, korek api menyala besar membakar ujung rokok di tangan.


Sedotan pertama di nikmati pelan oleh Fictor. Mulutnya membuang kepulan asap sedikit demi sedikit. Tidak peduli ruangan tersebut area smoking atau tidak. Fictor melakukan se suka hati.


"Yusuf.. loe benar-benar nggak bisa ngajarin anak perempuan loe itu cara bekerja yang baik.. Jovi... loe yang udah nantang gue buat ini semua. kita lihat se kuat apa loe tanpa gue."


Fictor mengendus aroma rokok yang ia bawa sendiri. Setidaknya, seduhan rokok dari dalam mulut, akan menghangatkan tubuh. Di mana ia jadi pencandu rokok sejak kematian Helen.


"Tiiitt.. tiiitt.. tiitt.."


DION MEMANGGIL..


"Hallo Dion.. gimana?." suara Fictor menerima telepon.


"Hallo Fic, gue udah di depan kantor loe nih, gue ke mana? ruangan loe lantai berapa sih?."


"Empat.. empat brow.. loe masuk aja, bilang mau ketemu gue, susah amatt sih." Fictor beranjak. Ia berdiri dari kursi.


"Anjaayyy loe tau, gue ke sini nggak di bolehin masuk sama pegawai kantor loe nih.. mereka ngira'nya gue orang blo'on kali."


Fictor mendengar percakapan Dion dengan pegawainya. Berulang kali, laki-laki penuh tato itu berusaha ingin masuk menemui sahabatnya.


Akan tetapi suara pegawai perempuan di lantai bawah tetap menyuruh untuk menunggu sebentar. Sampai atasan Semesta Grup tersebut benar-benar meng"iya"kan jika memang ada janji.


Dion sering mengumpat tidak jauh seperti Fictor. Melakukan body shaming juga ke arah pegawai di bagian informasi.


"Loe ini tahu bahasa Indonesia nggak sih, di baikin nggak bisa, di alusin nggak bisa, tuli campur rabun ya penglihatan loe.. gue ini mau ketemu Fictor, loe pasti pegawai baru kan..? gue ini temennya Fictor njingg.."


"Mohon di tunggu ya pak, bapak bisa duduk di kursi tunggu sebentar. Pak Fictor sedang tidak berada di ruangan pak dan kami sudah menghubungi sekertarisnya.."


"Gue bakalan minta Fictor mecat loe udik..!! wajah loe jelek, rambut kriting, mata kayak katak, nonjol ke depan, jelek lue." tukas Dion lebih parah dari Fictor.


Lama bersahabat dengan Dion, keduanya memang sudah seperti saudara. Bahkan melebihi hubungan Fictor dengan Gaftan, adik kandungnya.


Selama ini, Dion selalu jadi tempat bersandar Fictor dalam kekalutannya. Laki-laki bertubuh dengan banyak tato tersebut selalu membantu Fictor. Simbiosis mutualisme terjadi antar keduanya.


Jovi menjadi saksi, bagaimana kesadisan Fictor menuruti keinginan sahabatnya tersebut. Saat itu sangat menyukai Jovi notabennya sebagai sekertaris Fictor.


"Eh Dion, Dion.."


"Ya brow.. gimana?."


"Kasih ponsel loe ke arah pegawai gue." Fictor mencemasi.


"Nih.. makan tu atasan loe, ini Fictor mau bicara sama loe." Dion menyodorkan ponsel ke arah wanita itu.


Ponsel Dion berganti suara menjadi perempuan.


"Azna.."


"Iya Pak Fictor."

__ADS_1


"Biarkan dia masuk, Dion itu temen saya lain kali kamu itu harus banyak belajar.. pokoknya kalau ada tamu yang orangnya bertato, dengan ciri-ciri seperti Dion berarti itu teman saya. PAHAM kamu?."


"Pa-paham pak."


"Minta maaf sana.. sujud kalau perlu. Fictor memarahi. " Cepetan.. suruh dia masuk atau kalau nggak kamu saya pecat."


"I-iya Pak Fictor baik." nada pegawai kantor Semesta Grup gemetar takut.


Dari dalam ruangan, Ola terlihat keluar mencari Fictor. Kepala perempuan se bahu itu tolah toleh kanan kiri. Rupanya Fictor berdiri tidak jauh dari ruangan, dekat kursi tunggu.


"Fictor ada yang nyariin loe, atas nama Dion.. loe ngerasa punya janji nggak?." Ola mendekat menghampiri.


"Balik.. balik sana.. gue udah tau." Fictor mengipas tangannya agar Ola segera pergi.


"Oke ya udah." pundak Ola mengangkat bersamaan. tangannya menengadah tidak terlalu tinggi alias bodo amat.


Fictor menunggu Dion. Arah mata selalu memperhatikan siapa saja yang sudah keluar pintu lift. Ola masuk lagi ke dalam ruangan.


Sejak posisi Jovi di ganti oleh Ola. Elmara serta kawan-kawan tidak banyak bicara. Mereka menyadari, kepergian Jovi dari kantor karena sebab tekanan tinggi.


"Tiiiiiiiiiiiitttt..........." pintu lift terbuka.


Muncul sosok laki-laki berkaos hitam, dengan sepatu sport warna abu-abu. Ia memakai celana coklat muda. Potongan rambutnya rapi tapi sayang tato ditangan melengkapi penampilan.


Senyum sama-sama saling di tebar. Ketika mata Fictor lebih dulu menemukan Dion. Mereka berpelukan, Fictor merapatkan dada, menepuk keras pundak temannya tersebut.


Kursi tunggu di geser Fictor jauh ke arah samping jendela. Sebelum kedua'nya tampak santai duduk berdua.


"Fictor, lama nggak ketemu kenapa wajah loe jadi tua begitu? gue sebetulnya berat kalau loe suruh ke kantor ini, jadi inget Jovi.. gini-gini gue belum move on coy.." kepala Dion celingukan.


"Dia ke mana sih? nggak kelihatan.. kadang gue masih rindu sama dia, cuma basi lah.. taaii juga dia mutusin gue sepihak. anjrittt..."


Dion bukan sosok orang baru. (baca episode 1)


Tampaknya Dion belum mengetahui Jovi sudah resign dari kantor. Fictor langsung memicingkan mata. Dion mulai tau, ada yang tidak beres.


"Dari dulu dia juga taai.. loe jangan sebut nama dia lagi, loe nggak akan nemuin sundel bolong loe itu di kantor ini, dia udah resign pergi mati ke lubang buaya sama dedengkot Wijaya."


Fictor membakar batang rokok. Giginya terdengar membuat suara di gesek atas bawah. Dion masih belum paham maksud Fictor.


"Hah.. resign? lah.. loe pasti ngarang kan.. sejak kapan Jovi punya keberanian besar buat pergi dari kantor ini?." Dion geleng kepala.


"Beneran Di.. loe tau sejak dia gue kirim ke markas pembunuh Helen itu, tuh sundel berani sama gue.. gue minta dia ngebunuh si Ernest tapi dia nggak mau."


"Gooooblook..!! gila loe Fictor, heh Fictor loe itu jangan main kasar sama cewek brow.. gue kasih tau Fic." Dion merangkul pundak persahabatan.


"Apa'an sih?." Fictor menyingkirkan tangan.


"Fic, Fictor.. loe dengerin gue.. ya gini nih, kalau loe ngerencanain sesuatu tapi pakai emosi.. loe mikir nggak sih Fic? kita bisa membunuh tanpa menyentuh, tapi bukan gitu caranya.. kalau loe nyuruh Jovi sama saja loe bunuh diri, dia cewek men.. selain dia nggak bakalan tega, dia juga bukan orang licik yang terlatih, baik banget malah.. jadi Jovi nggak akan cocok sebagai senjata loe buat ngebunuh Ernessssst."


"Loe ada benarnya." mata Fictor memandang pintu keluar.


"Yups.."


Fictor menelaah satu persatu ucapan Dion. Laki-laki berjambang tersebut tampak menimang penilaian yang di ambil Fictor atas keputusannya.


Bersahabat lama dengan Fictor, Dion sangat hafal dengan kebiasaan atasan Semesta Grup itu. Dion bekerja pada salah satu perusahaan di Surabaya bagian digital marketing.


Keahlian Dion dalam mengusai perangkat lunak, serta berbagai sistem di komputer. Sempat mendulang sukses rencana busuk Fictor beberapa tahun lalu.


Publik tetap masih ingat, 5 tahun yang lalu keluarga Wijaya pernah dalam keterpurukan atas berita-berita buatan dan issue tidak sedap. Tanggung jawab itu di ambil sepenuhnya oleh Dion.


"Fictor, loe itu harusnya banyak belajar dari kegagalan misi loe buat ngejatuhin keluarga Wijaya.. di dunia ini banyak orang berwajah Drupadi dengan hati Sengkuni.. kenapa loe nggak bisa belajar dari hal itu sih?."

__ADS_1


"Nggak guna Dion.. kalau gue jadi orang baik, mereka nggak akan percaya.. sekalian aja gue kayak gini.. biar mereka makin takut sama gue."


"Nah ini ni.. pemikiran loe dangkal mirip anak TK." Dion menunjuk telunjuk tangannya ke arah Fictor.


"Anjiiingg... nggak usah nunjuk-nunjuk loe." Fictor tertawa. Dion ikut menertawai.


"Loe masih ingat nggak..? kenapa dulu kita bisa sukses menggiring opini masyarakat merusak citra nama baik Ernest Wijaya.. karena kita pakai akal, zama sekarang media sangat berpengaruh besar bagi kehidupan."


"Iya.. loe bener." Fictor mengangguk. Tubuh keduanya sama-sama sedikit condong ke depan. Sambil menikmati rokok.


"Kalau loe mau membunuh Ernest, pertama loe bisa mulai dari penyebaran media berita hoax di internet maupun televisi.. buat aja berita itu seolah ada relasi Wijaya Grup sakit hati karena cancel kerja sama dengan PT Wijaya.."


Fictor melihat Dion. Ia terlihat takjub mendengar perencanaan matang dari temannya tersebut. Dion lantas memandang balik.


"Setelah berita itu meledak.. tentu masyarakat penasaran, dan papa si Ernest jelas khawatir berat. Di sini Toni Wijaya tidak akan berfikir ke perusahaan loe.. Karena apa? karena selama ini Semesta Grup tidak pernah mencoba bekerja sama, bahkan semua juga tahu perusahaan loe nggak pernah ada kerjasama dengan Wijaya Grup."


Fictor semakin tidak bisa berkata-kata.


"Papa Ernest, dia jelas bakalan langsung membuka semua file perusahaan PT mana saja yang pernah di tolak.. selain kekhawatiran, loe bisa ambil keuntungan lain Fic, hubungan klient Wijaya Grup tentu tidak akan se harmonis dulu lagi. Kalau loe yang nyuruh Jovi ngeracun itu laki-laki, saat dia di tangkap polisi loe juga bakal ikut mendekam di sana.. paham loe." Dion menyembur wajah Fictor dengan kepulan asap.


"Bener juga kata loe, baru beberapa minggu ini gue juga kesel karena Mr. Bram dari PT. Jyco berpindah kerjasama dengan Wijaya Grup.. itu semakin bikin gue sakit hati.. dan juga Jovi. iya.. Jovi.. gue dendam sama dia." Fictor meremas tangan.


Fictor menceritakan awal Jovi masuk ke dalam keluarga Wijaya. Semua berawal karena keinginan Fictor sendiri. Hanya saja dalam perjalanan menuju misi, jadi gagal total.


Keakraban Fictor dan Dion rupanya membentuk chemistry yang kuat. Jam di ruangan menunjukkan pukul 15.00. Dengan isapan rokok berkepul dari mulut, Fictor dan Dion menikmati.


Meski tubuh di baluti tato namun pemikiran yang dimiliki Dion lebih cerdik. Dion bisa mencetus rencana-rencana busuk untuk keluarga Wijaya.


Meski sebetulnya tidak ada dendam kuat seperti Fictor. Dion ikut berfikir bagaimana cara memisahkan Jovi dari keluarga Wijaya. Agar nantinya perempuan cantik tersebut bungkam atas kejadian di masa lalu.


Meregang nasib berdua, Dion juga sakit hati dengan Jovi. Dua laki-laki di ruang tunggu itu, mempunyai dendam sama-sama besar pada Jovi. Satu asmara, satu karena Jovi pindah kerja.


"Fictor... sekarang loe tau nggak Jovi masih jadi suster si Ernest atau nggak?."


"Bodo amat.. mana gue tau."


"Fic, Fic.. kalau Jovi masih ada di sana, itu bisa bahaya buat loe.. apalagi jika Jovi sudah berhasil menjadi salah satu orang kepercayaan Ernest. bisa jadi sekarang Jovi sudah memberi tahu jika dia adalah suruhan loe." tebak Dion.


"Nggak lah, nggak mungkin.. Dion.. gue udah ancam Jovi waktu terakhir minta tanda tangan ke gue buat resign. Gue ancam dia kalau sampai dia bilang ke Ernest ataupun Toni Wijaya gue bakalan bunuh adiknya yang kecil itu. Lagian gue yakin, sekarang Jovi pening sama hutang bunga yang gue naikin jadi tinggi."


Fictor berdiskusi layaknya pekerjaan. Ola terlihat keluar ruangan. Dua laki-laki tersebut tidak menyadari, jam pulang kantor sudah ada di ujung tanduk. Mereka masih asyik ngobrol bersama.


"Kalaupun Jovi bilang ke Ernest pasti gue langsung dapat panggilan dari polisi.. gimana sih lo? mana tua bangka itu terima, kalau ada orang yang mau nyelakai anaknya, aneh." sekarang Fictor tampak lebih pintar.


"Gue pengen, Jovi ngerasain apa yang gue rasain? gue yang perintah dia, gue yang nyuruh dia ke rumah keluarga Wijaya tapi dia yang berhianat." hati Fictor sangat sakit.


"Buat saja Jovi tidak di percaya dengan keluarga Wijaya.. itu PR gampang, apalagi dia berasal dari Semesta Grup.. Ernest tidak akan percaya dengan Jovi begitu saja.. sebar berita hoax, blok link tempat kerja baru Jovi juga masalah mudah kan buat loe." Dion malah semakin mendukung.


"Iya.. gue sudah punya rencana bagus untuk dia.. biar sundel bolong itu menikmati udara bebas seolah dia benar-benar sudah lepas dari gue.. tapi lihat saja.. setelah itu gue jamin loe bakalan nangis darah Jov."


"Brakkkk..." Fictor menggampar kursi besi ruang tunggu.


"Jovi harus jauh dari keluarga Toni Wijaya terlebih dulu, sebelum loe melancarkan rencana loe sendiri ke Ernest.. itu aja sih menurut gue."


Fictor merangkul laki-laki bertubuh penuh tato itu sangat erat. Atasa Semesta Grup Coprorate tersebut nampak sangat kegirangan.


"Hahahaha.. Dion thank you.. ide loe beneran brilliant.. anjiiirrr.. kalau loe cewek.. gue bakalan nikahin loe deh."


"Jiiiiirrrrrrr... kayak gue udah nggak laku aja.. sana ah Fic, gue jijik tau." Dion membuang lengan Ernest.


"Hahahaha..."


Ola tercengang. Di balik pintu masuk ruangannya. Meski tidak bisa mendengar seksama, namun beberapa rencana busuk itu akan segera di legalkan oleh Fictor.

__ADS_1


__ADS_2