
Ernest terlihat kecewa dengan semua, makan malam yang di perkirakan Ernest akan menjadi awal kebahagiaan antara Ernest dan Jovi. Justru di jadikan Jovi sebagai ajang berpamitan.
Beberapa menit saat Ernest terlihat mendiami Jovi, tetap tidak mengubah keinginan Jovi untuk segera kembali ke Surabaya, mata Jovi melihat Ernest sedang mengacuhkan dirinya.
Daritadi mata Ernest selalu melihat ke arah kaca, nampaknya Ernest mencoba menikmati setiap gemerlip lampu, yang di selimuti indahnya pekat malam.
"Tuan marah dengan saya?."
"Tidak."
"Tuan masih mau mendengar penjelasan saya kan?."
"Tidak."
"Tuan, saya mohon tuan, dengarkan saya..!!," bibir Jovi gemetaran.
Reaksi Ernest hanya terlihat diam, tidak bersuaranya tuan muda tersebut, di anggap Jovi bahwa Ernest masih mau mendengarkan semua penjelasan, akan Jovi sampaikan.
"Sebelumnya saya berterima kasih sekali, tuan sudah memperlakukan saya dengan baik, selama saya menjadi suster untuk tuan Ernest. Kebaikan-kebaikan tuan Ernest, akan selalu saya ingat, meski nantinya saya tidak akan bersama tuan lagi. Saya tidak berharap banyak di akhir masa kerja saya sebagai suster, saya hanya ingin jika suatu saat nanti saya dan tuan kembali bertemu, Tuan Ernest tetap mau memanggil nama saya,"
"Saya sengaja memilih mengucapkan semua ini lebih dulu, karena saya takut, saya khawatir, tuan tidak akan memberikan saya kesempatan untuk berbicara seperti ini lagi, setelah saya menjelaskan semua, dan tuan tau si-siapa saya," air mata Jovi menetes.
"Tuan, selama ini, saya tidak tau, apa yang membuat saya begitu lemah saat saya harus berhadapan dengan tuan Ernest? jujur saya merasa berat meninggalkan ini semua, rasanya baru kemarin saya datang ke rumah merawat tuan, sekarang waktu sudah menyuruh saya harus kembali menjalani hidup, saya ingin sekali waktu bisa memperlambat semua ini, saya merasa berat, saya tidak mau per-perpisahan ini terjadi."
Saat melontarkan kata terakhirnya, Jovi tak kuasa menahan tangis. Wajah yang baru saja kering dari sisa tangisnya karena ucapan Bik Yuni, sekarang air mata Jovi harus keluar lagi membasahi pipi.
Ketegaran yang selalu Jovi perlihatkan selama ini, semua kekuatan yang selalu Jovi bangun untuk menegarkan hatinya satu bulan ini, untuk meyakinkan bahwa Jovi bisa meghadapi setiap cobaan, mulai meninggalkan keyakinannya satu persatu.
Ernest langsung menoleh ke arah Jovi, saat tangis perempuan cantik tersebut mulai terdengar lebih mengiang di telinga putra Toni Wijaya itu.
Restoran Enmaru sudah tidak lagi berhasil mengemban senyum Jovi. Tidak perlu waktu lama, Jovi sudah berhasil membasahi pipinya dengan derai mata.
"Jangan menangis suster, bicaralah, saya akan mendengarkan apa yang suster katakan..!!."
"Kenapa suster bicara seperti itu? ada dan tidaknya suster di samping saya, kamu tetap suster Jovi yang saya cintai. suster Jovi tetap perempuan pertama yang saya minta menjadi istri saya, kapanpun itu?."
"Hiks.. hiks.." isak tangis Jovi semakin pecah.
"Husstt.. sudah, jangan menangis ya..!," Ernest menyeka air mata Jovi.
"Suster, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, suster terlihat sangat mencemaskan sekali perpisahan ini? selama mulut saya masih bisa bicara, tentu, menyapa suster adalah kewajiban saya."
"Terima kasih tuan."
Tangan Ernest memeluk wajah Jovi. Namun dengan pelan, Jovi melepaskan jemari-jemari tangan mulia itu, dari wajahnya.
"Tuan, di antara semua nasihat dari tuan, saya masih mengingat satu, tuan mengatakan bahwa lebih baik masuk penjara, setelah kita mengeluarkan pendapat, dari pada pendapat kita yang di penjara."
"Ya betul."
"Apa itu sama dengan, lebih baik kita di benci dengan seseorang setelah kita memberitahu kebenaran, dari pada kebenaran itu yang yang di sembunyikan, sama kah tuan?."
"Sama." Ernest mengangguk.
"Tuan, 3 tahun yang lalu saya mengundurkan diri dari perekrutan sebagai calon perawat di RS Wijaya bukan karena tanpa sebab."
"Ya saya tau, suster sudah pernah menceritakan itu pada saya."
"Tuan, semua masih ada lanjutannya, hampir sama seperti yang tuan Ernest ketahui, beberapa dari calon perawat RS Wijaya, memang di rekrut oleh perusahaan lain, dan saya tau, perusahaan itu bernama Semesta Grup Corporate, perusahaan itu bergerak di bidang yang sama seperti Wijaya Grup, sebagai developer sekaligus kontraktor. Meski saya tidak pernah mendengar secara langsung, tapi desas desus yang saya dengar, kedua perusahaan itu tidak pernah akur, Semesta Grup selalu bersaing ketat untuk mengalahkan Wijaya Grup, sebagai perusahaan developer terbaik di Surabaya."
"Jangan sebut lagi nama perusahaan itu, dari mana suster Jovi tau semua?."
"Apa suster mendapat semua informasi itu, dari teman alumni suster yang bekerja di perusahaan itu??." Ernest mulai serius menatap Jovi.
"Tidak tuan, tapi saya sendiri yang bekerja di situ," mata Jovi berjuntai ratusan air mata.
"Kaaa... mu?," kaki tangan Ernest terasa lemas.
__ADS_1
"Iya tuan, saya."
"Tidak, itu tidak mungkin, saya tidak percaya."
"Benar tuan, saya bekerja sebagai sekertaris di perusahaan tersebut, sudah 3 tahun saya bekerja di sana sejak saya mengundurkan diri dari perekrutan rumah sakit, karena atasan saya juga, saya di suruh untuk mengikuti seleksi suster dan merawat Tuan Ernest," air mata Jovi keluar lagi.
Jovi seolah tidak peduli dengan apa yang dirasakan Ernest. Mulutnya tetap terus menjelaskan semua identitas serta kejadian yang selama ini, belum di ketahui Ernest.
Tangis dari mata Jovi, mengiringi semua perjalanan pengakuan dirinya. Malam ini, Enmaru mendadak berubah sebagai restoran yang suram.
Pekatnya langit, gemerlip lampu yang tadinya indah di pandang mata, terasa membunuh perlahan. Tingginya monas, hamparan laut lepas pulau seribu, benar-benar sudah tidak bisa lagi meneduhkan hati Ernest dan Jovi.
"Sekertaris? Semesta Grup?."
Jovi menganggukkan kepala.
"Sekertaris? tinggi sekali jabatan kamu? dari mana kamu bisa mendapatkan jabatan setinggi itu? setau saya, Stikes Wijaya tidak pernah mengeluarkan legalistas S1, selain S1 keperawatan, kebidanan, dan kedokteran."
Jovi ketakutan.
"Ouh.. saya paham, saya paham, berarti kamu juga alumni yang termasuk meng"iya"kan rekrutmen busuk dari kantor itu? kamu juga pasti ikut tergoda dengan iming-iming gaji besar dari perusahaan itu kan?." Ernest melirik tajam.
"Sa-saya bisa jelaskan semuanya tuan, saya sebetulnya juga dilema waktu itu, menjadi perawat di rumah sakit Wijaya sebenarnya adalah cita-cita saya dulu tuan, ta-tapi,"
"Tapi apa? bilang tapi apa? bullshit sama yang nama cita-cita, saya tidak menyangka kamu ternyata penyusup? penghianat, pembohong, lalat lebih berharga jika di sandingkan dengan kamu." muka Ernest sangat marah.
Jovi hanya bisa menangis, semua yang dikatakan Ernest, benar-benar pantas untuk dirinya. Ternyata apa yang di katakan Fictor tempo lalu, sekarang di ulang lagi oleh Ernest.
Keberadaan mereka di restoran Enmaru, seperti sudah tidak di pedulikan lagi oleh Ernest. Laki-laki tampan, yang mencintai Jovi itu, merasa Jovi benar-benar tega terhadapnya.
"Wa-waktu itu," ucapan Jovi sedikit terjeda lama.
"Sa-saya benar-benar membutuhkan pekerjaan yang bisa bantu papa saya membayar utang tu-tuan, sa-saya terpaksa ha-harus mengambil pekerjaan itu, maafkan saya tuan, saya tidak bisa komitmen dengan RS Wijaya, yang lebih dulu meloloskan saya sebagai perawat tuan," hanya air mata yang Jovi keluarkan.
"Lantas kenapa selama ini kamu tega membohongi saya? kenapa kamu tidak pernah menjelaskan kepada saya Jovi..? kenapa Jovi? kenapa kamu baru bercerita sekarang? berapa hari saya dengan kamu, hampir setiap hari kita bersama, saya tidak pernah sama sekali mendengar kamu berniat menjelaskan ini semua,"
"Siapa yang memegang Semesta Grup sekarang? ayooo bilang..!! Fictor? Bagas? Andrian? atau siapa? sebutkan? Apa kamu tidak punya malu sedikit saja, sehingga kamu punta rasa tidak enak saat mendaftarkan diri sebagai perawat saya?."
"Tapi kelihatannya kamu sudah tidak itu semua," Ernest sangat kecewa.
Jovi nampak tertegun, saat Ernest menyebut nama-nama para petinggi kantor Semesta Grup. Bibir Jovi terasa terkunci, tubuhnya ikut melemas, tak kuasa menahan tangis.
"Kenapa kamu begitu egois Jovi? kamu S1? kamu berpendidikan? apa kamu tidak bisa memilah, mana perintah yang masuk akal dan tidak? apa saya perlu menyekolahkan kamu lagi? biar kamu bisa berfikir, untuk tidak menerima perintah bodoh seperti itu lagi Jovi..!! Ya Tuhan.." Ernest depresi, dua tanganya memangku kening wajah Ernest.
"Jovi... kenapa kamu se jahat itu dengan saya? kalau kamu sekertaris, kenapa kamu mau saja menjadi suster? kamu harusnya tidak datang ke dalam hidup saya Jovi..!! Ya Tuhan, astagfirullah, sabar Ernest sabar." ucap Ernest meneteskan air mata.
Jovi hanya mampu menangis, rasa berdosanya selama, rasa bersalahnya terhadap Ernest, benar-benar sunguh membuat dirinya tak tega melihat Ernest.
Kedua mata Jovi seolah menjadi sumber air mata, yang masih dengan deras menuruni pipinya. Setidak pantaskah itu, Jovi masuk ke dalam hidup Ernest. Semua terasa sangat memilukan.
Jika tau, akan menyakiti hati Ernest sedalam ini. Mungkin Jovi akan lebih memilih jeruji penjara dari pada melihat CEO muda Wijaya Grup itu, terlihat sangat kecewa terhadap Jovi.
"Saya benar-benar tidak punya pilihan lain tuan, maafkan saya tuan."
Lewat wajah yang di sembunyikan Ernest, matanya sudah memerah, air matanya tak sengaja turun sedikit ke pipi.
"Tuan, tuan tidak papa," Jovi mencoba menyampingkan lengan Ernest yang menutupi wajahnya.
"Jangan pegang pegang saya."
"Srrtttt....," Ernest membuang tangan Jovi.
"Tuuan...," air mata dan ketegunan menyelimuti hati Jovi.
"Tuan Ernest sudah membenci kamu Jovi." batinnya di hati.
"Apa kamu tidak bisa menunggu sebentaar saja..!! apa kamu sudah tidak bisa?? menunggu saya pulang dulu dari Jakarta, baru menjelaskan ini suster..? kenapa harus malam ini juga kamu menjelaskan semuanya, braaakkk..."
__ADS_1
Ernest kesal terhadap dirinya sendiri. Tangannya memukul meja, rasa hati Ernest mengakar sakit hingga sanubari.
"Semakin saya mengulur waktu, saya merasa hidup saya tidak tenang, rasa bersalah dan berdosa, selalu menghantui saya, saat Tuan Ernest bersama dengan saya, kebaikan tuan, kepercayaan tuan Ernest pada saya, itu yang membuat saya tidak bisa berlama lama seperti ini tuan, maafkan saya tuan."
"Berhenti..!! saya tidak mau dengar apapun dari kamu." telunjuk tangan Ernest menunjuk Jovi dengan mata melotot.
"Saya mau pulang..!!" Ernest mengemasi ponsel dan kacamatanya.
"Tuan..," Jovi ikut beranjak pergi dari kursi.
"Saya tidak sudi, kamu memanggil saya tuan lagi, saya tidak memiliki suster seperti kamu, Jovi yang saya kenal sudah MATI..!!!"
"Tidak."
Jari tangan Ernest mengepal erat, matanya memerah, bibirnya sudah tidak bisa lagi tersenyum. Semua yang di rasakan Ernest malam ini, benar-benar lebih sakit, daripada saat Meghan meninggalkan Ernest di restoran.
Putra tampan Tuan Toni itu tidak menyangka, bahwa kecurigaan yang sudah di kubur dalam oleh Ernest, sekarang muncul sendiri tanpa di minta. Ernest seolah sudah tidak peduli dengan pandangan semua pengunjung yang mengarah ke arah Jovi dan Ernest.
Indahnya malam yang barusan di lihat Jovi dan Ernest begitu romantis lewat kaca besar restoran. Berubah balik mencekik semua janji antara Jovi dan Ernest.
Meski sangat kecewa dengan Jovi, Ernest tidak serta merta langsung mengusir Jovi. Laki-laki tampan tersebut, sadar, bahwa ini bukanlah Surabaya, dimana keselamatan Jovi masih menjadi tanggung jawab Ernest.
"Seandainya ini Surabaya, pasti saya sudah menyuruh pulang kamu Jovi, Argghhh...," Ernest memukul tembok.
Ernest belum punya kekuatan lagi, untuk menanyakan sejauh apa modus Fictor mengirim Jovi ke rumahnya. Yang jelas, mengetahui Jovi adalah sekertaris Semesta Grup, sudah membuat kesakit hatian Ernest selama ini.
Ernest dan Jovi terlihat melangkahkan kaki keluar restoran. Jalan mereka berdua terlihat berjarak sangat jauh. Jalan kaki Ernest lebih cepat di banding dengan Jovi.
Ernest bersama dua orang pengunjung memasuki lift.
Ernest memasuki lift turun. Jovi berlari, namun tombol turun sudah di pencet Ernest terlebih dulu, membuat langkah kaki terhenti.
"Tuan tunggu.."
"Tiiiitttttt......," Pintu lift menutup.
"Apa kamu tidak tau malu Jovi? kamu sudah menyakiti hati Tuan Ernest, tapi kamu masih ikut dengannya."
Air mata Jovi tak kuasa di tahan, perempuan cantik tersebut terpaksa harus ikut Ernest, lantaran seperser pun rupiah tidak ada di ATM, kecuali uang 500.000.
Jovi memasuki lift, turun sendiri ke lantai satu. Langkah kakinya mencari ke arah mobil X-Pander, yang di gunakannya bersama dengan Ernest. Beruntung ternyata mobil travel tersebut masih ada di tempat.
Lampu penerang jalan warna kuning, berhasil menyamarkan wajah Ernest yang terkena pantulan cahaya. Kesedihan itu, sungguh masih sangat terlihat nyata, mata merah Ernest masih terlihat belum begitu hilang.
Langkah kaki Jovi merasa malu, kaki itu tidak tau di untung, masih berani menumpang mobil fasilitas Tuan Toni. Ernest sendiri sudah terlihat tidak duduk di belakang membersamai Jovi.
Dirinya memilih duduk di depan sebelah sopir. Dari tadi sama sekali mata indah Ernest tersebut, benar-benar tidak mau memandang ke arah Jovi.
Bahkan hal kecil yang biasanya di lakukan Ernest untuk mencuri perhatian ke arah Jovi malam ini tidak terlihat lagi. Sopir di mobil tersebut, nampak kebingungan, dengan apa yang terjadi antara Jovi dan Ernest.
"Maaf tuan, apa tidak sebaiknya tuan di belakang menemani nona Jovi," sopir memberanikan bertanya.
"Tidak."
"Baik tuan kalau begitu," sopir langsung menyalakan mesin mobil.
"Langsung antarkan saja dia ke apartemen pak," pinta Ernest.
"Loh tuan mau ke mana?," sahut Jovi dari belakang.
Ernest diam tidak menjawab.
"Tuan, lebih baik saya pulang, dari pada harus di sini, melihat tuan, tapi tuan sudah tidak seperti dulu lagi,"
Jovi menangis, air matanya turun. Dengan waktu se kejap, perempuan cantik tersebut berhasil mengubah Ernest menjadi laki-laki yang dingin dan terkesan galak.
Beruntung malam ini, Ernest tidak membawa mobil sendiri. Jika iya, mungkin kecelakaan kedua akan kembali Ernest alami.
__ADS_1
Sakit hati yang berlipat di torehkan oleh Jovi membuat Ernest merasa ingin mengulangi kembali mengemudikan mobil sangat kencang, lebih kencang saat Meghan meninggalkannya.