Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
99. Kembali Pulang


__ADS_3

"Serius loe yang ngelakuin? aduh parah loe Nalen.. Gimana kalau Jovi sampai tau? Eh, Pak Ernest dam Jovi sebentar lagi mau menikah."


"Hahaha menikah? memang sudah pasti? kapan sih nikahnya ? baru mau kan? nggak bakalan terjadi pernikahan di antara mereka."


Kata-kata itu masuk ke telinga Jovi.


Pas setelah dia benar-benar sadar diri, hati lembut perempuan cantik tersebut seperti tertancap kayu, sesak di ulu hati.


Laki-laki yang selama ini di anggap Jovi turut bahagia atas akan berjalannya pernikahan dia, justru tidak berharap Jovi menikah.


Jovi baru menyadari, bahwa yang membuat kaki Ernest cedera bukan pengunjung rumah sakit melainkan Dokter Nalen.


Tubuh tinggi Dokter Nalen yang membelakangi Jovi, sangat tenang bercerita dengan Dokter Edo lewat telepon.


Jovi ingin membangunkan diri.


Tapi lagi-lagi ia mendengar.


"Edo, Edo, loe belum tau Jovi habis bertengkar hebat dengan Ernest ? Jovi percaya dengan apa yang gue katakan dari pada dengan Ernest," Dokter Nalen mengangguk.


Jovi menurunkan pundak ke tempat tidur lagi.


Suasana yang hening, membuat Jovi bisa mendengar apa yang di ucapkan Dokter Edo dari telepon meski tanpa loudbspeaker.


Dokter Edo terdengar marah-marah.


"Harusnya loe itu mulai menjauh dari Jovi, gue tau loe udah sayang banget sama dia dari dulu waktu dia kuliah, jauh sebelum Jovi kenal Ernest, tapi plisss.. sekarang si Jovi ini udah besar Nalen, dia butuh kebahagiaan."


"Gue juga berhak membahagiakan Jovi, bukan cuma Ernest aja yang bisa. Gue sakit hati, kalau Jovi benar-benar mencintai Ernest, loe nggak tau gimana sakitnya gue, waktu lihat Ernest dan Jovi di pesta Sandi," intonasi Dokter Nalen memang menahan amarah.


"Untungnya Meghan bisa gue jadiin senjata," kata-kata tersebut di dengar samar.


Deg.


Dar.


Hati Jovi terhantam sakit yang amat parah.


Bibir pucat pasi berwarna putih itu semakin kehilangan semangat. Terasa sangat kelu, nampak kaku, tidak bisa berucap apapun.


"Meghan?? jadi Dokter Nalen juga termasuk orang yang tidak menyukai pernikahan ini?? Dokter Nalen padahal saya menganggap Dokter tulus dengan saya," Jovi membatin dalam hati.


Mata perempuan cantik itu tidak bisa mengeluarkan air mata. Ini sudah seperti mati rasa.


Beberapa saat.


Merasa seperti ada yang melihat ke arahnya, Dokter Nalen menoleh. Ia melihat Jovi tidur, ia juga memastikan Jovi masih tertidur.


Jovi berpura-pura.


Ternyata iya, Jovi masih pulas dalam istirahat.


Perlahan, Dokter Nalen membenahi poni rambut Jovi yang menurun sendiri. Kepalan ponsel di tangan kiri masih terus di jawab Dokter Nalen.


Usapan di pipi kiri sangat Jovi rasakan. Ia yang berpura-pura tidur semakin tidak sudi di pegang Dokter Nalen.


"Terserah loe Nalen, gue sendiri nggak ada hak buat mencampuri kehidupan loe, tapi sebagai teman gue udah mengingatkan," Dokter Edo terdengar kecewa.


Tok.


Tok.


Tok.


Dokter Nalen mendengar suara ketukan pintu.


"Men sudah dulu, ini ada tamu mungkin dari keluarganya Jovi, besok gue telepon lagi. Sampaikan maaf gue buat big boss RS. Wijaya, tuan putrinya udah gue bawa ke sini hahaha."


"Nggak lucu, sarkas banget loe."


Beberapa percakapan Dokter Edo sempat di ucap.


Tidak lama ternyata Dokter Nalen sudah mengakhiri. telepon tertutup.


Ceklek


Dokter Nalen membuka pintu.


"Om, tan-" Dokter Nalen menghentikan ucapannya.


Ernest datang dengan Devi staff perempuan.


"Ouh anda ternyata," Dokter Nalen sangat angkuh.


"Seorang petinggi RS. Wijaya datang ke sini hahaha.. rupanya insting anda sangat kuat, saya meminta maaf sekali Bapak Ernest Wijaya, ambulans rumah sakit anda saya bawa ke,"

__ADS_1


"Saya ke sini hanya ingin memastikan kondisi Jovi, bukan yang lain..!!"


Dokter Nalen terdiam.


"Tooloong," Ernest memohon.


Devi yang mengikuti Ernest sangat menaruh kasihan. Se mengalah itu atasan Wijaya Grup hanya untuk bertemu Jovi.


"Izinkan saya untuk masuk sekali saja," tatapan Ernest tampak mengalah.


"Tapi maaf, Jovi sedang istirahat. Lagian kondisinya masih terlalu lemah untuk menerima tamu, dan dia belum siuman."


"Saya hanya ingin melihat keadaannya..!! saya tidak butuh Jovi bisa melihat saya atau tidak, saya hanya ingin memastikan apa dia baik-baik saja," bentak Ernest.


"Tidak, tidak bisa," tolaknya.


Ernest menghela nafas, rasa kesal dan pening bercampur satu di ubun-ubun.


"Jangan khawatir, anda adalah orang pertama yang tetap akan di lihat Jovi saat dia sadar nanti. Saya tidak menginginkan itu," mata Ernest berair lagi.


"Kalau hanya itu yang anda takutkan, saya akan menyetujuinya." tatapan Ernest sayu.


Hari ini, putra tampan Tuan Toni tersebut seperti berada dalam titik terendah hidupnya. Bahkan Fictor saja tidak pernah memperlakukan Ernest seburuk itu secara terang-terangan.


Dokter Nalen berfikir.


Ia melihat lagi Jovi masih tertidur, lalu kembali memandang Ernest.


"Baik, 5 menit, silahkan..!!!"


"Terima kasih," Ernest sangat bahagia.


Ernest dan Devi lalu masuk.


Devi sangat geram melihat wajah Dokter Nalen yang sangat sok. Ingin sekali di jegal lelaki biadabb yang menjahati semua orang.


"Busuk," ucap Devi sengaja dan Dokter Nalen mendengarnya.


Dokter Nalen melihat sengit perempuan ber rok hitam diatas lutut itu.


Secepatnya Ernest jalan, tubuh berdiri di samping ranjang, meski Jovi tidak bisa melihat akan tetapi berharap Jovi merasakan.


Karena percakapan Dokter Nalen, keadaan Jovi menjadi drop lagi.


Di ruangan, Dokter Nalen tampak sibuk bicara bersama dengan Ernest. Ia sangat membanggakan dirinya sendiri.


Ernest mendengar penjelasan Dokter Nalen secara seksama.


Devi berasa ingin muntah mendengar kata-kata yang keluar. Sakit hati Devi sempat ingin menendang Dokter tersebut.


"Syukurlah, semoga dia semakin membaik," Ernest menanggapi sangat baik.


Devi menoleh dan sangat geram.


Infus yang tergantung, tertancap selangnya ke arah tangan kiri Jovi. Ernest sedikit bernostalgia bagaimana dulu Jovi sangat dengan sabar merawat dia.


Jovi bisa mendengar sangat jelas.


Semua semakin membuat Jovi terpukul. Perempuan cantik tersebut hampir membuang kesempatan di per istri oleh CEO Wijaya.


"Tuhan seperti menjodohkan saya dengan Jovi, awalnya saya diajak Jovi ke kantor anda tapi saya enggan. Saya juga tau, sebelum sampai di kantor, Jovi sempat hampir menyerepet mobil pengemudi lain tapi dia tetap berangkat. Sampai akhirnya ada staff kantor anda menelpon rumah sakit kami," kata Dokter Nalen.


Penjelasan Dokter Nalen kembali membuat Ernest sakit hati. Tidak di sangka kedatangan Jovi sebenarnya bukan sendiri, melainkan mengajak Dokter Nalen.


Ernest tetapi tidak sebodoh Jovi. Dia tahu, Dokter Nalen sudah membencinya dari dulu.


"Iya dan tidaknya siapa yang tau? Jika memang juga iya, saya berterima kasih pada Dokter Nalen sudah merawat Jovi," jawab Ernest.


Sangat terlihat sekali sindiran halus. Bola mata Dokter Nalen terus membesar, matanya memicing runcing pada Ernest.


"Waktu anda sudah habis, anda sebaiknya keluar," usir Dokter Nalen.


"Baik," Ernest mengangguk.


Sebelum pergi, Ernest mendekati Jovi. Waktu yang hanya 2 menit, tangan dingin Ernest terasa memegang lengan hangat Jovi meski sebentar.


Ernest berbisik pelan.


Tubuhnya membungkuk, seolah berharap Jovi bisa mendengar suara Ernest. Baju rumah sakit berwarna biru yang di kenakan Jovi, tertetes air mata Ernest.


"Sembuh ya sayang," Ernest menangis.


Tangan Jovi terlihat memutih, bibirnya mencetak warna yang sama. Ernest tidak tahan, jika di izinkan ia ingin menemani Jovi.


Semua waktu sudah tidak tepat.

__ADS_1


"Tinggal 1 menit, apa perlu saya hitung mundur,"


"Hei, Dokter Nalen, anda punya perasaan atau tidak. Suster Jovi sedang sakit, Pak Ernest itu kekasihnya bukan orang lain, punya hati nggak sih? kok ada timer-timeran segala," Devi sudah tidak tahan.


"Dua puluh, sembilan belas, delapan belas, tujuh belas, enam belas," Dokter Nalen tidak memperdulikan.


Devi sangat kesal.


Ernest mendekatkan bibir ke telinga, Jovi yang masih tertidur di bisikkan sesuatu. Sembari berucap sesuatu, Ernest mengusap tangan Jovi.


"Cepat sembuh Suster Jovi..!! maafkan saya belum bisa menjadi lelaki terbaik untuk kamu, semoga sukses untuk semua cita-cita yang akan kamu bangun, saya sangat mencintai kamu," tutur Ernest berlinang.


Jovi sebenarnya tau, dia juga mendengar, tapi tubuhnya yang terlalu lemas, menghalangi semua.


"Empat, tiga, dua, satu..!! waktu habis."


Fix Dokter Nalen menyaku ponsel dan menggiring Ernest pergi.


Devi yang kasihan, mengajak Ernest keluar ruangan. Yang di lakukan Dokter Nalen sangat over protektif terhadap Jovi yang bukan siapa-siapanya.


Brakk..


Pintu kamar ruang Jovi tertutup.


Devi benar-benar menghela nafas panjang. Ernest sudah tidak menoleh lagi ke belakang, ia menahan sesak dari sisa kesedihan yang terjadi.


"Sabar Pak Ernest, bapak jangan ke sini lagi..!! kalau mau bertemu Suster Jovi bapak masih bisa bertemu, kalau nanti Suster Jovi pulang ke rumah saja."


"Dasar Dokter gila, stress.. Dokter spesialis neraka jahanam," Devi menggerutu.


Ernest diam, langkah kakinya berjalan mengikuti lorong keluar rumah sakit, tanpa sepatah kata.


Semua membuat Devi menjadi tidak enak sendiri, mata sembab atasannya itu masih sangat terlihat meski sudah tanpa air mata. Ernest seperti memiliki banyak tekanan.


"Pak Ernest," Devi mencoba memanggil.


"Ya, kenapa?."


"Maaf Pak Ernest, apabila tadi ucapan saya kurang berkenan di hati Pak Ernest dan mencampuri urusan pribadi bapak. Saya salah tidak menjaga ucapan saya."


Ernest melihat Devi.


"Saya tidak papa, lagian tidak ada kaitannya dengan itu semua. Terima kasih banyak Dev, sudah mau membantu saya, maaf ya hari ini saya merepotkan kamu."


"Tidak pak, tidak papa. Sama-sama pak," Devi menundukkan tubuhnya sebagian sebagai rasa terima kasih.


Jalan Ernest dan Jovi di lanjutkan lagi.


Dari arah belakang, terlihat punggung Ernest dan Devi saling berdampingan menyusuri lorong rumah sakit. Ernest memberi tahu sesuatu pada Devi.


"Devi, kemungkinan setelah ini saya akan menetap di luar negeri untuk beberapa waktu."


"Hah? kenapa Pak Ernest? Eh, a, a, maaf Pak Ernest nggak-nggak jadi. Baik pak."


"Lalu bagaimana dengan perusahaan Pak Ernest? Apa Tuan Toni lagi yang akan menghandle?."


"Entahlah, saya belum memikirkan sampai ke situ. Tapi yang jelas saya akan memilih luar negeri saja."


"A, a, ta-tapi bukannya Pak Ernest akan? aa... tidak jadi pak."


Devi merasa hubungan asmara bosnya sedang terganggu. Perbincangan sangat terlihat santai.


"Pak Ernest, Pak Ernest.. galau'nya orang kaya emang gitu ya..? sedih dikit keluar negeri, menenangkan diri. Saya galau, sedih, bahagia juga tetap ngantor pak," kata Devi membatin dalam hati.


Suasana lorong sangat terlihat lenggang. Beberapa pasien terlihat keluar ruangan menikmati pergantian udara, Ernest memikirkan apakah Jovi sudah sadar atau belum.


Tanpa di minta kepala Ernest menoleh lagi ke belakang.


Tampaknya memang Ernest harus benar-benar ikhlas. Kamar tersebut masih tertutup, pertemuan tidak akan mengantarkan Jovi dan Ernest lagi.


"Suster Jovi, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Dua, tiga tahun mendatang kita akan sama sama hadir menjadi orang asing. Tak saling mengenal meski sekarang saling sayang," Ernest membatin dalam hati.


Jalan kaki Ernest menurun lambat. Devi ikut mengimbangi berjalan pelan. Tidak mudah berpisah dengan Jovi, Ernest menyayat hatinya dengan penuh kenangan.


BRUUUKKKKK...........


Ernest tersungkur.


Ada seseorang jatuh, ia menindih tubuh Ernest dari belakang. Devi tertegun mendapati tubuh pasien tersebut lunglai tak berdaya.


"Aduuuh," pekik Ernest.


"Pak, itu?." Devi memberitahu.


"Siapa? coba tolong bantu Dev,"

__ADS_1


Ernest terkejut.


__ADS_2