Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
62. Seharian Dengan Aqila


__ADS_3

Lucu saja, Ernest bisa membawa suasana se nyaman itu pada para pengunjung. Nampaknya Jovi ikut terbawa suasana, Ernest mendampingi Aqila ke mana saja langkah Aqila pergi.


Memandang Ernest, dengan sabar mengikuti jalan Aqila. Mereka terlihat sangat lucu, kadang Aqila menunjuk sesuatu dan Ernest geleng kepala. Sebab boneka yang di minta adalah kera.


"Ya Tuhan, Aqila dan Tuan Ernest mereka terlihat sangat lucu. Aqila pasti bahagia kalau seandainya ada teman main lagi. Jov, kapan kamu punya pendamping hidup? teman-teman kamu sudah nikah, tapi kamu pacar saja tidak punya."


Fikiran Jovi bergerilya ke mana-mana.


Di usia 25 tahun, di mana semua teman-teman Jovi sudah menambatkan hati pada seseorang. Tapi ia, Jovi hampir tidak punya waktu memikirkan masa depan, dengan siapa Jovi akan menikah.


Hatinya sudah lama tidak di isi, asmara cintanya terakhir Jovi memiliki kekasih saat sebelum kenal dengan Dokter Nalen. Sudah berlalu 7 tahun Jovi tetap dengan kesendirian. Nalen belum bisa berhasil meluluhkan hatinya.


Jovi berjalan mengikuti Aqila dan Ernest. Meski baru mengenal, celoteh cerewet Aqila mengiringi jalan mereka di dalam rumah boneka. Rentetan para pengunjung di sibak Jovi, ia berlari ke Aqila.


"Aqila..."


Ernest dan Aqila menoleh.


"Kakak Opi," Aqila memeluk Jovi.


"Kakak, kakak Opi, Aqila di beliin mainan Om Ernest buanyak, ini." tangan Aqila tidak di sadari Jovi menenteng kresek putih store tinggi-tinggi.


"Aqila.. ini banyak sekali, tadi di rumah kakak bilangnya gimana? jangan banyak-banyak." Jovi merasa tidak enak.


"Omm....." suara Aqila memelas melihat ke arah Ernest.


Aqila diam. Adik kecil Jovi sangat penurut. Raut wajah tenang, sekarang berubah menjadi tegang di campuri rasa bersalah. Meski masih kecil, ia tahu saat melakukan kesalahan.


Panggilan suara ke arah Ernest tidak selantang dan se ceria tadi. Gadis kecil tersebut seolah ingin mengatakan, bahwa yang menyuruh Aqila membeli semua, atas persetujuan Ernest lebih dulu.


Dalam kresek, Jovi melihat satu set mainan barbie lengkap berukuran besar. Beberapa manik-manik boneka kecil LOL ukuran se jari telunjuk, di borong Aqila dan Ernest.


"Suster Jovi, biarin lah nggak papa, toh juga namanya anak kecil.. boleh di peringati tapi jangan sampai membuat Aqila tertekan, lagian hanya meminta boneka."


Jovi tidak bisa menjawab banyak. Perempuan cantik tersebut menuruti.


"Baik tuan."


"Ya sudah, Aqila bilang makasih sama Om Ernest, Aqila habis di belikan boneka banyak." Jovi memberi senyum.


"Iya.." Aqila bersemangat. "Om Ernest makasih ya.. Aqila sudah di belikan mainan buanyak hari ini, nanti di rumah boneka barbie Aqila sudah ada temennya om."


"Iya... sama-sama sayang." Ernest memainkan rambut lurus Aqila.


"Terima kasih banyak Tuan Ernest, sudah membelikan Aqila mainan sebanyak ini, semoga Tuan Ernest banyak rezeki."


"Aamiin, asal jangan banyak jodoh, jodohnya cukup satu kamu saja ya?."


Ernest melihat Jovi, mata kompak perempuan cantik tersebut mengalihkan pandangan. Jovi tidak menjawab.


Seusai membeli beberapa boneka barbie, Aqila tidak serta merta meminta pulang. Hari ulang tahun teman sekolahnya, membuat Jovi harus mencarikan kado untuk sahabat Aqila.


"Tuan Ernest.. sa-saya mau mencarikan boneka bu-buat temannya Aqila dulu."


"Iya nggak papa, ayoo... saya temani." Ernest menggandeng Aqila.


"Iya kakak Opi, ayooo... cari kado buat Livia kak." Aqila malah ikut menyemangati.


"Haduuuh.. Aqila, ini bocah poloa banget Tuhan, Aqila kakak ini deg-deg'an Qila."


Jovi berputar mengitari lorong boneka yang di sukai anak seusia Aqila. Kedekatan Ernest dan Aqila, tak ubah membuat gadis kecil itu lebih suka ikut dengan Ernest.


Jovi selalu ingin melarikan diri, jantung dia serasa berdegup kencang. Apabila terlalu lama di samping Ernest. Hari sudah menunjukkan pukul 11.30, mereka bertiga masih ada di dalam store boneka.


Dari tadi Ernest selalu mencoba jalan membersamai Jovi. Tapi lagi-lagi Jovi mempercepat langkah kakinya. Semua semakin membuat fikiran perempuan cantik tersebut tidak konsen.


Detak jantung Jovi lama tidak kunjung stabil, padahal Jovi sudah berusaha tenang. Saat Ernest mencoba melihat ke arah Jovi, dengan sadar kakak Aqila tersebut selalu memgalihkan pandangan.


Kedua bahu mereka saling bertabrakan, saat ada pengunjung lain tidak sengaja berpapasan dengan Jovi.


Entahlah, sejak kepulangan perempuan cantik tersebut dari Jakarta. Ada pembatas antar mereka. Meski Ernest tidak seberapa menjaga jarak, hal tersebut lebih sering di lakukan Jovi.


Mereka bertiga terlihat berdiri di depan rak boneka ukuran sedang. Harga jual yang tertera di boneka, satu persatu di baca Jovi.


Beda Aqila dan Ernest yang lebih asyik memilih boneka tanpa membeli. Ernest mendudukkan badan seukuran Aqila. Selain menemani Aqila, itu untuk meredakan rasa pening di kepala Ernest.


"Om, ini boneka apa? gajah?."


"Iya." bibir Ernest menyeringai menahan sakit.


"Gajah bahasa inggrisnya apa om?."


"Elephant."


"Kalau ini, monyet, apa om bahasa inggrisnya?." Aqila mengganti tangannya mengambil boneka lain.


"Monkey."


"Om, om, kalau ini boneka apa?."

__ADS_1


"Itu katak, frog."


Jovi hanya tersenyum mendengarkan Ernest dan Aqila mengobrol.


Aqila kegirangan. Ia menambahkan telunjuk tangannya mencubit hidung Ernest. Hal itu kerap di lakukan Jovi, mama dan papanya, sehingga Aqila bersikap begitu pada Ernest.


"Anak pintar, om harus banyak belajar, banyak bernyanyi ya..!!, biar nanti dapat bintang 3 dari ustadzah di sekolah." Aqila menyulap diri seperti mamanya.


"Om cuman bisa 1,2,3 gimana dong?."


"Aaaaaaa.. om nggak tau ya berarti, habis 3 itu 4 om, terus 5, 6, 7, 8, dan 9 om.. kalau 10 seperti ini.. yeeeee.... tepuk tangan Om."


"Yeeeeee... sepuluh yeeee... om bisa." Ernest menuruti. ia mengangkat tangan dan di lambai-lambi. Jovi baper melihat pemandangan itu.


"Aqila sudah sekolah TK ya? TK A atau TK B?." Ernest bertanya.


"Bukaaaaaannn, Aqila masih paud, sekolah Aqila bagus ada air mancurnya di depan, ada ayunan, ada selurutan, kapan-kapan ikut ke sekolah Aqila ya om."


"Iya, kalau om nggak sibuk ya." Ernest mengusap lembut kepala Aqila.


"Janji ya om?." Aqila mengalungkan dua lengan tangannya ke arah pundak Ernest.


"Iya." ucap Ernest mengedipkan mata kanan.


"Kakak Opi tau sekolah Aqila, nanti kalau Om nggak punya mobil, bawa mobilnya kakak Opi aja. Ok..!!."


"Iya." Ernest mengangguk.


Tidak sengaja saat Jovi mencuri pandang ke arah Ernest, saat itu Ernest juga tersenyum ke arah Jovi. "Plasssss...." perasaan Jovi tidak karuan.


Ernest beranjak lagi, sekarang tubuhnya benar-benar mendekat ke arah Jovi. Rasa hangat yang menjalar tubuh Ernest seperti sudah di kesampingkan, Ernest menggeser tubuh Aqila.


Jovi seperti baru mengenal Ernest. Tidak sengaja bertemu di showroom mengakibatkan mereka dalam pertemuan panjang. Aqila seperti menjadi mak comblang untuk Ernest dan Jovi.


"Suster Jovi."


"Iya tuan." Jovi membolak-balik tumpukan boneka di rak.


"Suster." tangan Ernest memegang rak.


"Ya tuan."


"Suster."


"Iya." Jovi dalam ke pura-pura'an seolah masih sibuk memilih boneka.


Ernest menumpuk tangannya di atas tangan Jovi.


Ernest mendekatkan bibir ke arah Jovi. Nafasnya hangat di telinga Jovi.


"Kenapa dari tadi saya lihat suster selalu mengalihkan pandangan, saat saya melihat Suster Jovi? coba lihatlah saya."


Jovi mengumpulkan tenaga melihat ke arah Ernest. Sorot mata tenang CEO muda itu di pandang Jovi tak berkedip.


"Apa Suster Jovi sudah tidak mau mengenal saya lagi? suster enggan bertemu saya?." kata Ernest. Suaranya sangat lembut.


"Ti-tidaak tuan." Jovi menunduk. "Saya hanya merasa, me-merasa, saya bingung menjelaskannya, tapi bukan masalah itu, sungguh tuan."


"Saya mencintai kamu suster."


"Daaarrrr....," meriam besar di lempar ke arah hati Jovi.


"Kakak Opi, kakak, ini kuda poni bagus, Livia pasti suka kak, beli ini ya kak, kakak Opi."


"Aaaaaa.. iya, iya, ini bagus." Jovi mengambil boneka sedang kuda poni dari tangan Aqila.


"Om bagus ya om? warnanya pink om, ada biru, tapi Livia suka pink om."


Ernest melepaskan tangannya dari Jovi.


"Iya Qila bagus."


Karena Aqila semua jadi gagal. Aqila menarik tangan Ernest ke arah tumpukan boneka kuda poni. Berbagai warna, model boneka, di perlihatkan satu persatu.


Jovi membayar boneka ke arah kasir. Ada dua kartu ATM BRI dan BCA, yang Jovi keluarkan ialah ATM BRI dari dompet. Jovi menunggu antrean.


Setelah dua pengunjung menotal harga barang yang mereka beli. Jovi yang maju mendapat giliran, di susul oleh beberapa pembeli yang juga sudah selesai membeli.


"Ini mbak."


"Satu boneka kuda poni ya mbak?." tanya pegawai mengenakan seragam merah.


"Iya."


"Totalnya 230.000 ya mbak."


"Oke.. ini ya mbak." Jovi memberi kartu ATM miliknya.


Jemari tangan perempuan cantik tersebut memasukkan sandi ATM'nya ke arah mesin EDC tepat di depan Jovi.

__ADS_1


Yang di keluarkan Jovi, tak sengaja adalah ATM BCA. Reflek Jovi juga memasukkan pin ATM BCA miliknya. Tidak di sadari, ATM BRI masih ada di tangan, Jovi lantas menukar.


"Eh mbak sebentar, maaf.. maaf.. ATM'nya salah, ATM saya yang itu kosong, pakai yang ini saja, maaf ya mbak salah ngasihkan." Jovi mengganti kartunya.


"Maaf mbak, tidak perlu, transaksinya sudah berhasil, di ATM BCA milik anda masih ada saldo yang cukup." pegawai memberi senyum.


"Berhasil? kok bisa, bukannya ATM BCA kemarin semua uangnya sudah aku transfer ke papa, kok bisa sisa ada 200.000 lebih, uang siapa itu? terakhir saldo di ATM BCA sudah tinggal 80.000." Jovi bergumam sendiri.


"Ini ya mbak.. belanjaannya, dan ini struk pembelian, terima kasih sudah berkunjung ke rumah boneka, di tunggu kedatangannya kembali."


"Iya. terima kasih." Jovi berlalu.


"Siapa yang mentransfer uang ke ATM? papah? papa tidak mungkin, apa Tuan Toni? kalau memang Tuan Toni, siang ini saja Tuan Toni belum menelpon lagi untuk jadi tidaknya menjadi suster lagi." Jovi merasa penasaran.


Meski ada pertanyaan mengganjal di hati, tetapi Jovi melihat Aqila dan Ernest sudah menunggu mereka di depan pintu masuk store boneka.


Ernest menyadarkan tubuh. Aqila sedang menari sesuka hati di depan pintu. Baru kenal sehari, dengan percaya diri Aqila selalu membuat Ernest tersenyum oleh tingkah konyol.


Kadang Ernest membetulkan gerakan tangan Aqila. Ernest khawatir, takutnya pergelangan tangan adik Jovi akan terkilir. Mereka berdua terlihat bercanda.


"Kreeeekkkkk......," Jovi membuka pintu.


"Tuan Ernest saya sudah selesai."


Ernest berhenti tertawa ke Aqila.


"Eh suster, sudah ya..!! ini lo lihatin Aqila ada aja polah tingkahnya, ada-ada aja, minta nari ala frozen katanya tapi dari tadi cuma loncat sana sini."


"Hehehe.. ya begitu tuan, meskipun di rumah juga begitu, cuma kalau sudah rewel susah di bujuknya."


"Seperti suster ya?."


"Tidaklah." Jovi salah tingkah.


"Dia berbeda sekali dengan kamu Suster Jovi, Aqila anaknya cenderung aktif, welcome dengan orang, ceria tapi suster lebih cenderung pendiam dan tertutup."


Jovi heran, Ernest selalu bisa menebak sifat, sikap, dan semua yang di alami Jovi.


"Tuan sudah makan?, saya dan Aqila mau makan dulu tuan. Apa Tuan Ernest tidak menelpon Pak Yoyok untuk pulang? Tuan Ernest sudah terlalu lama keluar dan ini sudah siang."


"Saya ikut suster dulu ya, sambil nunggu Pak Yoyok balik, mobilnya tidak ada di sebrang jalan, saya coba hubungin Pak Yoyok dulu."


"Baik tuan."


Lalu, Jovi merasa perut sudah mulai nyeri. Ia mengajak Aqila segera pergi ke arah cafe dekat dengan store. Ernest mencari Pak Yoyok dan mobilnya tidak nampak-nampak.


Akhirnya ia melangkahkan kaki bersama dengan Jovi dan Aqila. Terakhir Aqila sempat meminta di gendong namun Ernest tidak bisa menyanggupi.


Pening kepala yang sudah di tahan, membuat tubuh Ernest sempoyongan. Ernest, Jovi, dan Aqila masuk ke dalam cafe. mereka bertiga duduk di kursi cafe panjang.


Beberapa menu hidangan di pesan oleh Jovi untuk menuntaskan rasa lapar. Kotak tisu dibuat Aqila bermain bersama Ernest.


Jovi harus mengalah duduk bersama Ernest karena Aqila meminta duduk bersama dengan kuda poni serta beberapa kresek belanjaan kado dari Ernest.


Jovi terpaksa duduk satu kursi dengan Ernest hanya karena menuruti Aqila.


"Suster, pesankan saya teh ya..!!"


"Baik Tuan Ernest, tuan tidak pesan makan? saya pesankan sekalian ya tuan."


"Tidak, tidak, tidak usah suster, saya butuh teh saja, hueek." Ernest mual.


"Tuan Ernest, tuan tidak papa?." Jovi mengecek suhu tubuh.


"Tidak papa." Ernest menutup muka dengan tangan, matanya berkaca selesai mual.


"Panas Tuan ini berkisar 39° tuan, saya bawa paracetamol, habis ini Tuan minum biar reda." Jovi mengambil obat yang di berikan Dokter Nalen padanya tadi malam.


"Makan dulu saja, saya ndak." Ernest menundukkan kepala. Setiap gerak kepala Ernest terasa sangat pusing.


"Kakak Opi, Om kenapa? kenapa wajahnya di tutupi? om nangis ya kakak Opi?."


"Nggak, om sedang kurang enak badan, om Ernest butuh istirahat." Jovi memberi tahu.


"Om hanya belum makan Aqila." imbuh Ernest.


Jovi merasakan bagian leher yang di pegangnya juga sangat panas. Ia tahu, Ernest sangat kelelahan. Jovi bingung, Pak Yoyok juga belum terlihat menjemput.


Tubuh Ernest tadi masih bertenaga sekarang lemas. Bau ruangan cafe yang penuh dengan aroma lavender, membuat Ernest semakin mual. Ingin muntah, tapi hanya sebatas di bibir.


Aqila ikut bingung, Ernest tidak se ceria saat masih berada di toko. Pesanan makanan sudah datang, Jovi buru-buru mengambil sendok menyuruh Ernest makan.


Aqila terlihat pandai, menyantap sendiri makanan sudah di berikan Jovi di depan meja duduk Aqila.


"Tuan.. ini di makan dulu ya? Tuan sedikit saja."


Ernest menggelengkan kepala.


"Tuan, kalau tidak makan, anda tidak bisa minum obat, nanti malah tuan semakin lemas."

__ADS_1


Ernest membuka mata, wajah putih Ernest sudah merah berlapuk sakit. Matanya berair lebih sering, kondisi tubuh Ernest tidak lagi fit.


Ernest menyucup teh hangat yang ia pesan. Aqila menasehati kakaknya.


__ADS_2