
Jovi merasakan, ada benda dingin menempel di atas kening. Sebelum bibirnya mengatakan atas masalah berat yang di hadapi minggu-minggu ini.
Mama Jovi mengompres kening putrinya.
"Mah... sebetulnya Jovi nggak ke Jakarta."
"Maksudnya?."
Mama Jovi duduk di samping tubuh, di mana Jovi sedang membaringkan badan.
"Kalau memang tidak ke Jakarta, kenapa tidak pulang?."
Jovi menghentikan dua tangan mamanya. Kedua jemari kiri dan kanan Jovi memeluk erat lengan orang tua perempuan yang selama ini ia rindukan.
Tubuh hangat putrinya, langsung di rasakan mama Jovi menyisir sebagian lengan yang di rengkuh tangan Jovi.
"Tubuh kamu hangat sekali Jov, minum dulu ya..!! mama ambilkan."
Jovi menggelengkan kepala, sorot mata tidak berani Jovi hadapkan ke mama Jovi.
"Kenapa nak? cerita saja."
Belaian rambut panjang menggelayut lewat tangan lembut mama Jovi. Waktu dini hari, saat tidak ada suara lagi selain suara mereka, ruangan mendatangkan angin malam.
Jovi tidak tau harus memulai dari mana, dosa Fictor, ketidak tahuan orang tua Jovi bagaimana Fictor memperlakukan putrinya, mengajak Jovi melebur satu persatu masalah.
AC kamar sengaja tidak menyala, penerang kamar yang hanya berandalkan dari lampu tidur, menjadi teman ibu dan anak mencurahkan segala isi hati.
Jovi yakin mama'nya akan memahami.
"Selama ini, Jovi tinggal di rumah Tuan Toni mah."
"Tuan Toni? siapa itu? kenapa mama tidak pernah dengar, itu orang kantor atau siapa?."
"Bukan, Tuan Toni bukan orang kantor, beliau adalah orang yang punya kampus di mana Jovi dulu kuliah mah, sekaligus yang juga punya rumah sakit."
"Mmmbbb.. iya.. terus kenapa kamu ke rumah Tuan Toni? Pak Fictor yang menyuruh? memang ada pekerjaan apa?."
Jovi menahan air mata, pertanyaan polos mama Jovi tak ubah seperti dusta lama yang di bangkitkan kembali.
"Mah."
"Ya."
"Mama percaya nggak? kalau Jovi bilang Pak Fictor tidak sebaik yang mama dan papa lihat selama ini."
Seketika itu, usapan tangan mama Jovi mendadak terhenti.
Jovi mengerti, semua terasa begitu mengejutkan.
"Memangnya kenapa?."
Lembut tangan mama Jovi mengusap lengan Jovi yang sedang meringkuh.
"Mama akan selalu percaya, kalau anak mama yang bilang."
"Mah, sejak keluarga kita menerima pinjaman uang dari Om Purwo, mulai dari itu Pak Fictor selalu menyuruh Jovi menuruti keinginannya, bukan hanya soal pekerjaan aja mah, semua urusan pribadi juga iya, kalau Jovi nggak mau, uang pinjaman keluarga kita selalu di jadikan Pak Fictor sebagai senjata, agar Jovi mau menuruti kemauan'an Pak Fictor."
"Joov... kenapa kamu nggak pernah cerita sama mama dan papa?."
"Jovi nggak mau aja, mama sama papa kepikiran, awalnya Jovi kira cuma perintah biasa mah, tapi tambah lama rasanya tambah berat. Ini bukan hanya sebatas lembur, bawa pulang pekerjaan kantor, seperti yang dikatakan papa mah, kalau hanya masalah itu, itu sudah menjadi makanan sehari-hari Jovi."
"Sungguh?."
Anggukan kepala Jovi terasa mengusik lengan halus mamanya.
Sesak di dada mama Jovi memang tidak terlihat, akan tetapi gemetar tangan serta jari-jari lentiknya, tidak dapat membohongi kecemasan yang ada di hati.
Wanita cantik yang sudah melahirkan Jovi ke dunia, mencoba untuk menegarkan hati. Tidak di sangka, diam putrinya selama ini, menyimpan tekanan batin yang banyak dan tinggi.
Jovi pun juga memilih untuk tidak menceritakan bagaimana buruknya sikap Fictor, selalu bermain kasar dan tega kepada mantan sekertarisnya tersebut.
Suka menyakiti, suka mencaci, kata-kata yang di lontarkan Jovi, sudah cukup mewakilkan semua.
"Lalu, kamu di suruh apa sama Pak Fictor ke rumah Tuan Toni?."
"Perintah berat lagi?."
Ikatan batin antar keduanya, seolah memudahkan apa yang ingin di katakan Jovi malam ini.
__ADS_1
"Iyaa."
"Ya Tuhan Jov."
Suara mama Aqila nampak lirih, Apa yang menimpa anak sulung benar-benar tidak di ketahui. Ini seperti amukan hebat, mencetak memar di hati mama Jovi tersebut.
"Jovi, satu bulan itu nggak sebentar, ngapain saja kamu di rumah Tuan Toni? kamu kenal? nggak kan, terus kenapa kamu ada di sana, Pak Fictor menyuruh apa ke kamu?."
Ingatan mama Jovi berlari pada peristiwa beberapa tahun lalu.
Meski tidak tahu secara gamblang, mama Jovi ingat, putrinya pernah lebih dulu berhasil lolos mengikuti rekrutmen di RS Wijaya.
Walaupun tidak berselang lama, akhirnya Jovi lebih memilih, memutuskan menerima tawaran menjadi pegawai di PT. Semesta Grup.
Karena tawaran gaji yang lebih tinggi, sehingga di perkirakan Jovi mampu mengentas hutang keluarga pada saat itu. Niat tulus seorang anak, ingin meringankan beban keluarga.
"Den-dam? Jovi ja-jangan bilang ka-kamu se kongkol dengan Pak Fictor membalaskan dendam."
Ucap mama Jovi terbata-bata. Intonasi pertanyaan juga semakin lama, semakin turun dan menghilang.
Jovi diam saja.
"Jovi jawab mama..!! bicara nak, atau memang ada sesuatu yang lain kamu bilang saja, apa mungkin kamu di jual Pak Fictor kepada Tuan Toni? Jovi, apa kamu sudah di nodahi oleh Tuan Toni? dan kamu mau di jadikan istri ke dua Tuan Toni?."
Jovi tersenyum, meski senyum itu tidak bisa di lihat mama Jovi.
"Mamah.., Tuan Toni itu tidak punya istri, istrinya sudah meninggal, dia cuma tinggal sama anaknya."
"Nahh.. apalagi istrinya sudah meninggal, jangan-jangan Tuan Toni mau menikahi kamu dan meminta bantuan ke Pak Fictor, Jov.. Jov.. mama nggak mau, kalau mama pu-punya menantu, yang us-usianya sama kayak papa kamu."
"Hahaha.. mamah, bukan begitu."
"Jovi.. mama nggak bisa bayangin, kalau Aqila di ajak main Tuan itu, bukan seperti main bareng om'nya tapi kayak main sama eyang'nya."
"Mamah." Jovi membangunkan diri tertawa terbahak bahak.
"Kamu jangan ketawa..!! mama sedih banget ini Jov, kalau semisal iya, apa memang sudah tidak ada laki-laki yang berkenan menikahi kamu, sampai-sampai jodoh kamu aki-aki, pokoknya kalau memang sampai iya, mama bakalan bawa permasalahan ini ke Komnas HAM, dan Komnas Perlindungan Anak."
"Mah.. mama ini kebanyakan baca cerita di Noveltoon ya, yang isinya seputar perjodohan, di paksa menikah menikah dengan orang kaya, atau kalau nggak gitu, sering nonton indosiar kan, bukan mah, bukan gitu ceritanya."
"Ya sih, biasanya sambil nyuapin Aqila, atau kalau nggak gitu nemenin Aqila mainan, mama lihatnya indosiar."
Jovi memegang dua tangan mamanya, mata sayu setelah banyak mengeluarkan tangis di Jakarta, mencoba lagi meyakinkan bahwa nasib yang di alami Jovi tidak seburuk itu
"Mamah, meski pertemuan Jovi dengan keluarga Tuan Toni sudah di rencanakan, dan Pak Fictor yang men setting semua, tapi keluarga Wijaya orangnya baik-baik mah, apalagi Tuan Ernest, dia jauh lebih baik dari semua."
"Tuan Ernest? siapa lagi itu?."
"Tuan Ernest, dia putra satu-satunya Tuan Toni mah, orangnya baik, tampan, bijaksana, mungkin idaman semua wanita." Jovi tersenyum layu.
"Masih muda?."
"Masih, seumuran dengan Pak Fictor, usianya 28 tahun, beda tiga tahun dengan Jovi."
"Baik mah, pengertian, kalau semisal Jovi salah, Tuan Ernest selalu memberi toleransi."
"Mmmb.. kenapa? anak mama suka ya dengan Tuan Ernest?," mama Jovi mengangkat dagu putrinya.
Pandangan mata Jovi menurun ke bawah, sorot mata seolah mengatakan Jovi tidak pantas dengan putra tampan Tuan Toni.
Ernest tidak sebanding dengan Jovi, anak dari seorang pengusaha pinggiran.
"Jovi... saat ini mama bukannya tidak mau mendengarkan cerita kamu tentang Tuan Ernest, mama mau tau dulu, sebetulnya kenapa kamu sampai bisa di rumah Tuan Toni? kamu saat itu masih berstatus karyawan di kantor Pak Fictor, kalau dalam sebulan kamu tidak masuk, harusnya kamu yang di PHK, bukan kamu yang mengundurkan diri, ada apa sebetulnya?."
Mama Jovi terlalu pintar untuk di bodohi. Se dari tadi perempuan cantik tersebut tidak menyadari, Jovi mengarahkan masalah ke lain tempat.
Jarum jam sudah berjalan menuju pukul 02.00 dini hari. Waktu seolah tidak di pedulikan oleh ke dua'nya.
"Pak Fictor, yang menyuruh Jovi ke rumah itu mah, selama ini Jovi nggak pernah berangkat ke Jakarta, Jovi kesana karena Tuan Ernest mengalami kecelakaan, Jovi di minta Pak Fictor harus jadi, pokoknya harus jadi suster Tuan Ernest, kalau tidak hutang keluarga kita lagi yang di jadikan ancaman."
"Lalu? kenapa Pak Fictor ikut campur? itu kan bukan masalah kamu lo Jov. ngapain juga kamu di minta menjaga anak Tuan Toni? nggak masuk akal."
"Seperti kata mama, dendam.." nada Jovi pelan kehilangan suara.
"Maksud kamu? Pak Fictor meminta kamu membalaskan dendam, kenapa? kamu bilang Tuan Ernest baik, mereka keluarga baik. Jovi, kamu jangan main-main nak sama yang namanya dendam."
"Jov, harusnya sebelum melakukan semua, kamu minimal berunding dulu lah dengan mama, kalau memang tidak berani bilang ke papa, ya sudah tapi mau gimana lagi? terus bagaimana?."
Mama Jovi lebih terlihat santai menghadapi permasalahan Jovi ketimbang dengan papa Jovi.
__ADS_1
Suami istri tersebut memiliki pemahaman yang berbeda dalam menyikapi masalah yang di buat oleh putrinya.
"Maafin Jovi mah, Jovi nggak bilang, bukan berarti terus Jovi sok dewasa, mau menyelesaikan masalah sendiri, karena Jovi kira mah, masalah tidak akan se rumit sekarang."
"Awalnya Pak Fictor hanya meminta untuk jadi suster, Jovi lolos, dan oke lah Jovi berangkat ke rumah Tuan Toni, Jovi kira cuma menjaga terus kembali lagi jadi sekertaris. Tapi jalan jadi suster Pak Fictor minta Jovi di suruh bunuh Tuan Ernest mah, disitu Jovi merasa nggak bisa lah mah, jangankan untuk membunuh, melihat Tuan Ernest sakit saja rasanya Jovi juga ikut sakit, jadi Jovi nggak akan mungkin tega menyakiti Tuan Ernest."
Sangat santai, dua tangan Jovi menyempurnakan gerak memegang ke dua pipi.
"Membunuh?." batin orang tua cantik Jovi.
Mama Jovi tertegun.
Celoteh bibir anak sulungnya tersebut, benar-benar tidak menandakan bahwa Jovi sedang sakit hati ataupun sedih.
"Jov.."
"Ya mah.."
"Kamu nggak sedih? apa yang barusan kamu ceritakan ke mama itu masalah berat Jov, dan kamu nggak nangis? kamu ini lagi sengaja jadi wonder woman atau memang nggak lagi nge prank kan?."
Jovi tertawa.
Dua tangan Jovi, memeluk hangat tubuh mamanya. Rindu bertumpuk selama ini, mengukir kebahagiaan di wajah perempuan berusia 25 tahun tersebut.
"Jov, mama bingung, ekspresi wajah kamu sangat sulit untuk di baca."
Jovi melepaskan pelukan.
Kali ini Jovi serius, tangan ia meraih wajah gelisah mama Jovi. Bola mata mereka saling bertemu, mengatakan sesuatu.
"Mamah.. selama Jovi meninggalkan rumah, di situlah rasanya air mata Jovi selalu habis tak tersisa, tekanan tinggi dari Pak Fictor, belum lagi setiap hari harus menjaga diri agar keluarga Tuan Ernest tidak mencurigai Jovi, karena Jovi adalah suruhan. Setiap hari Jovi harus menyimpan kegelisahan itu sendiri, tanpa ada teman."
"Sehari, dua hari, Jovi bisa bertahan, lama-lama kebaikan keluarga Tuan Ernest semakin membuat rasa bersalah Jovi menjadi besar, tidur sudah tidak bisa nyenyak, setiap hari yang terlintas di fikiran Jovi, Jovi hanya sebagai seorang penghianat, Jovi merasa berdosa karena semua."
Sorot mata Jovi mengalihkan pandangan. Ia tidak mau air mata yang sudah di tahan lama harus jatuh lagi.
Mama Jovi mengetahui, ada air mata yang menurun. Tidak cukup banyak, namun sebagai bukti, ada sakit parah mewakili hati.
Mama Jovi mengusap air mata.
"Apa mereka akhirnya tahu, kalau kamu suruhan orang lain? Jov.. sekarang mama takut, tuan-tuan itu akan menuntut kamu ke polisi. Hal yang kamu lakukan itu sama saja dengan membahayakan nyawa orang lain." bibir mama Jovi menurun ikut menahan.
"Selama satu bulan, Jovi tidak pernah menjalankan misi Pak Fictor dengan baik, paling parah, Jovi ketahuan berbohong. Jovi selalu bilang keadaan Tuan Ernest memburuk, tapi sebetulnya tidak. Awalnya dua tuan di rumah itu tidak tahu mah, kalau Jovi adalah suruhan Pak Fictor, tapi?."
Mendengar pernyataan dari Jovi, rasanya mama Jovi ingin pergi. Ia tidak sanggup putrinya memberi kabar buruk.
Pantat ingin segera di angkat pergi, tapi hati tetap tak tega, meski telinga enggan menerima. Mama Jovi tak kuasa, ada hal buruk menanti nasib putri cantiknya.
"Sayang.. sebelum Jovi jujur ke Tuan Ernest, pembantu di rumah Tuan Toni sudah lebih dulu tahu, surat resign yang tidak sengaja Jovi taruh di bawah bantal mah."
"Ya Tuhan Jov, sudah sudah, pokoknya besok mama bakalan antar kamu ke rumah Tuan Ernest, Jovi, ini bukan masalah sepele, kamu jangan menunda-nunda, atau kalau nggak gitu, kita siap-siap sekarang."
Mama Jovi sangat panik. Jam di kamar, menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Tidak ada lagi yang di fikirkan, kecuali keselamatan Jovi.
"Mamah.. percuma, Tuan Ernest masih di Jakarta, Tuan Toni masih di luar kota, mereka orang sibuk, bukan seperti kita."
"Nggak percaya, bohong kamu, mama nggak bisa tidur Jov, setelah kamu cerita ini."
Dua perempuan di dalam kamar nampak cemas. Mama Jovi meremas daster kain yang di kenakan. Sedang Jovi, ia bingung menyakinkan.
Kabar yang di bawa Jovi sangat buruk. Sebisa mungkin, mama Jovi akan mencari cara lain memberi tahu suami.
"Mah, sebelum Jovi pulang ke rumah, terakhir Jovi sudah membuat pengakuan ke Tuan Ernest mah, jadi mama tenang aja, tapi di situ hati Jovi sakit banget, Jovi di marahin habis-habisan,apa yang Jovi ucapkan tidak di percaya sama sekali mah dengan Tuan Ernest."
"Bodoh..!! Ya jelas tidak percaya lah Jov, siapa yang mau percaya dengan posisi kamu yang seperti itu, Nak.. entah siapapun yang ada di posisi Tuan Ernest, sekalipun itu mamah, mamah juga tidak akan mempercayai kamu secara langsung."
"Logikanya Jov, papa kamu yang bisnisnya kecil aja, saingan sudah macem-macem, nah apalagi mereka adalah pembisnis besar, bisnisnya bukan hanya satu saja, saingan kerja mereka di mana-mana, relasi kerja bukan cuma satu dua, lawan akan melakukan segala cara yang tidak halal, dalam mendapatkan apa yang mereka mau."
"Jovi... Tuan Ernest tidak mengenal kamu, apa dia tahu latar belakang kamu, kamu orangnya seperti apa, waktu satu bulan tidak cukup bagi orang seperti mereka menentukan sikap. Mamah tau, fikiran kamu, selama menjadi suster kamu tidak pernah membahayakan Tuan kamu kan, tapi nak.. kamu harus sadar, mereka adalah orang-orang yang selektif. Mama yakin kebenaran akan terbuka dengan berjalannya waktu, kalau kita sudah jujur, kita sudah mengatakan semua yang terjadi, selebihnya serahkan pada yang maha kuasa, ya...?."
"Iya mah."
"Terima kasih mah, mamah selalu bisa bikin Jovi tenang, doakan Jovi ya mah, Jovi lekas bisa membahagiakan mamah."
"Aamiin.., mama juga sayang sama kamu. cupp..," ciuman dari mama Jovi terasa mengendus kening.
Apa yang dikatakan mama Jovi ada benarnya. Sakit hati pada Ernest perlahan hilang, Jovi lupa menyadari, Ernest memiliki teman relasi banyak.
Hangat pelukan mama Jovi, menjadi support semangat. Malam ini, mata indah perempuan cantik tersebut bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1