Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
67. Titik Terang


__ADS_3

Ola jalan cepat. Ia memperhatikan langkah kakinya tanpa suara segera langsung masuk ke lift. Takut di ketahui Fictor karena menguping. Hati Ola setengah mati takut.


Baru mendengar Fictor berencana seperti itu. Bulu kuduk sekertaris Fictor tersebut sudah bangkit dari tidur. Sakir hati Dion dan Fictor di rasa Ola sama-sama gila.


"Fictor loe itu nggak ada insyaf insyaf'nya.. gue bakalan kasih tau Jovi kalau dia nggak boleh jauh dari Ernest. Keselamatan Ernest mulai terancam, Jovi.. Ya Tuhan, Jovi mimpi apa sih loe.. hidup loe menderita banget."


Ola menyandarkan tubuh paling belakang. Di antara para pegawai yang juga ada di dalam lift tersebut. Kadang kaki Ola di hentak kesal, berharap Fictor segera masuk ke penjara.


Ponsel di tangan Ola langsung jadi sasaran. Nama Jovi berada di urutan paling bawah setelah lama Ola tidak pernah berkomunikasi sejak keluar dari Semesta Grup.


Pesan terakhir Ola masih terlihat belum di balas Jovi. Perempuan berambut sebahu tersebut menduga Jovi belum mempunyai jawaban. Apakah PT. Jyco benar-benar bekerja sama dengan Wijaya Grup atau tidak.


"Tutt... tuutt... tutt..." panggilan terhubung.


"Ayoo Jov, angkat." gumam Ola.


Beberapa penghuni lift melihat ke arah Ola. Nama Jovi di ucap lagi. Sekertaris fenomenal Semesta Grup yang sudah resign.


"Tluut.. baterai kosong.. daya akan segera mati." peringatan yang terbaca di ponsel Ola.


Tidak sadar bahwa selama melakukan panggilan ponsel Ola sudah lowbat. HP mati, Ola tidak mendengar lagi sambungan telepon yang belum di angkat.


***********************


RUMAH JOVI.


Sesampai di rumah, Jovi langsung menidurkan Aqila. Rasa lelah tak langsung mengajak tubuh perempuan cantik tersebut pergi ke kamar. Jovi mencari sedang di mana papanya.


Rambut panjang tadinya tergerai sangat indah, di tali seadanya dengan jepit hitam. Card ATM BCA milik Jovi di genggam untuk papanya.


"Pah.. papah." Jovi celingukan di taman belakang. Jovi jalan lagi ke dapur tempatnya bersebelahan.


"Papah..."


"Ya Jov.." suara itu terdengar lirih hampir samar tidak dengar.


Langkah kaki Jovi mundur lagi, arah taman belakang ternyata juga di situ papa Jovi bersantai. Orang tua tercinta perempuan itu nampak termenung tidak membawa koran atau secangkir teh.


Jovi melihat sekitar. Papa Jovi benar-benar tidak membawa apapun. Seduhan teh kesukaannya ataupun media cetak elektronik yang biasanya di bolak balik tangan papa Jovi, tidak di pegang.


Jovi mengenakan sendal, ia mendekati laki-laki berkulit putih sama sepertinya. Kacamata papa Jovi sengaja terlepas, matanya terlihat memerah. Jovi masih melihat sisa hapusan air mata di pipi papanya.


"Pah... papa kenapa? Jovi sudah bawa uang untuk kita membayar hutang bunga ke Pak Fictor pa.. ini bisa untuk dua bulan pa." ucap Jovi menyodorkan kartu gesek miliknya.


Papa Jovi tidak menerima. Ia tetap berpangku tangan di tempat duduk sekarang di bersamai dengan Jovi.


Jovi tidak tau apa yang terjadi. Kesalahan apa lagi yang di buat sehingga papa Jovi diam lagi tidak mau menjawab ataupun menerima ATM tersebut.


"Pah.. ini cukup pah untuk membayar bunga hutang kita pa.. 2 bulan pa, memang masih kurang pa.. tapi Jovi juga berusaha pa..!!."


Papanya masih diam tak bergeming.


"Papah... pah," Jovi menggoyang lengan papanya.


"Ya Tuhan, papah.., papah kenapa? Jovi salah apa lagi sih pa? papah." tidak di sadari air mata menetes.


"Pah..," Jovi memanggil lagi. Matanya ikut berkaca. Desiran angin menyibak pelan rambut papa Jovi.


Ada 5 menit papa Jovi masih diam. Tiba-tiba suaranya memecah keheningan. Menoleh ke arah putri cantiknya, seperti menata pita suara mengatakan sesuatu.


"Jov....."


"Ya pah.."


"Tadi mama cerita semua tentang kamu nak.. papa benar-benar tidak tau ada situasi yang melanda kamu se sulit itu.. papa merasa gagal menjadi orang tua Jov, papa tidak bisa melindungi kamu sebagai anak perempuan papa, selama ini papa tidak bisa menjadi pengayom kamu untuk pulang.. papa sedih Jovi.. dosa papa banyak ke kamu."


"Papah..." Jovi memeluk erat papanya.


"Pah.. papa jangan ngomong seperti itu, selama ini papa sudah menjadi orang tua yang paling Jovi banggakan.. tanpa didikan dari papa, Jovi tidak akan pernah bisa sekuat sekarang pah.. Papah.. Jovi sayang sama papa, mama dan Aqila.. kalian bertiga adalah alasan pertama Jovi bisa melewati semua ini." Jovi menangis. Air matanya tidak bisa di bendung lagi.


"Harusnya papa bisa melindungi kamu dari Pak Fictor, harusnya telepon kamu beberapa waktu lalu membuat papa sadar lebih dulu Pak Fictor orang jahat.. ta-tapi malah papa tidak mempercayai kamu nak."


"Sudah pa.. yang berlalu biarlah berlalu.." Jovi sama-sama ikut menangis. Pelukannya semakin erat.

__ADS_1


"Jovi.. maafkan papa nak.. papa bahkan sudah lupa kapan terakhir memeluk kamu Jov.. papa lupa kapan terakhir kali menggodai masalah asmara kamu? Ya Tuhan Jov.. banyak hak yang hilang dari kamu hanya karena keegoisan papa.. Di usia kamu yang masih kecil ini, kamu sudah harus ikut memikirkan cara melunasi hutang keluarga kita."


Jovi memeluk papanya semakin erat. Kalungan dua lengan Jovi di pundak papanya seolah mengatakan bahwa selama ini Jovi sebetulnya sangat rapuh.


"Jovi rindu dipeluk papa.. Jovi rindu semua kebiasaan kita dulu pa.. Jovi ingin kita bahagia seperti dulu pa, Jovi tidak mau kehilangan mama, papa dan Aqila hiks."


Pelukan dari papa Jovi hampir melemahkan pertahanan putrinya ingin lagi menjadi manja.


Mata Pak Yusuf tersebut mengalirkan deras air mata. Selama ini tidak pernah, papa Jovi terlihat se cengeng itu. Kegagalannya dalam melindungi putri sulungnya tersebut menyisakan tangis.


Rambut lurus yang dulu sering dibelai jemari kusut tangan Pak Yusuf tersebut, sampai sekarang masih tetap sama lurus. Bau harum anaknya, sikap manja putrinya yang selama ini di kubur dalam. Masih kental di hati.


"Papa berjanji Jov.. papa akan berusaha lebih giat agar keluarga kita tidak seperti ini lagi.. sampai ajal menjemput papa, janji papa akan selalu membahagiakan kamu.. sekali lagi kita berjuang bersama-sama ya nak."


Kepala Jovi terasa mengangguk di dalam pelukan papanya. Kehangatan kasih sayang laki-laki hanya dari papanya. Sebab ia lama menyendiri tidak punya kekasih hati.


Mama Jovi tidak sengaja menguping pembicaraan, saat akan memberi ponsel ke Jovi. Suasana hening tanpa teriakan Aqila, menjadi mengharu biru.


Karena telepon sama sekali tidak berhenti, mama Jovi terpaksa harus memisahkan pelukan kedua orang berharga dalam hidupnya tersebut. Tuan Toni melakukan panggilan masuk dari tadi.


"Jov......," panggil mamanya.


Mendengar suara mamanya memanggil. Perlahan ikatan peluk lengan Jovi merenggang, turun melepas. Air mata langsung di usap cepat. Ia menoleh ke arah mamanya sedang berdiri di samping pintu.


"Ya mah.. ada apa?."


Papa Jovi ikut melihat istrinya.


"Ini ponsel kamu bunyi terus, ada yang nelpon namanya Tuan Toni RS."


"Tuan Toni?." Jovi langsung jalan ke mamanya. Larut dalam kesedihan, perempuan cantik tersebut lupa dengan janji Tuan Toni.


"Itu papanya Tuan Ernest?."


"Iya mah."


Mama Jovi memberikan ponsel anaknya. Langkah kaki Jovi masuk jalan ke dalam kamar. Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 Sore. Belum mandi, ia sudah menyiapkan pakaian.


Jovi menunggu Tuan Toni menelpon lagi. Jemari tangannya sudah kehabisan waktu setelah menekan tombol terima telepon. Karena sudah lama, akhirnya telepon mati.


"Triinggg.. ting.. tingg....,"


TUAN TONI MEMANGGIL....


"Hallo Suster Jovi."


"Ya Tuan Toni, maaf tadi saya di belakang.. jadi tidak dengar kalau Tuan menelpon."


"Ouh iya, tidak papa..!! Suster Jovi, Ernest sudah sampai di Surabaya.. tolong ya.. Suster ke rumah mengecek kondisi Ernest saja.. nanti setelah itu suster bisa pulang kembali sesuai dengan perjanjian."


"Baik Tuan kalau begitu.. nanti saya akan menyiapkan makan malam, obat dan vitamin untuk Tuan Ernest.. setelah itu saya baru pulang."


"Iya.. dari tadi malam mengeluh kepalanya pening, tolong di cek ya Suster Jovi..!!!"


"Baik tuan besar."


"Suster, saya sudah membuka rekrutmen baru untuk pengganti suster, sabar dulu ya suster..!! Semoga suster masih berkenan menjaga Ernest sampai dengan rekrutmen selesai."


"Iya tuan. saya bersedia." Jovi tidak bercerita tentang dia baru saja bertemu Ernest.


"Kalau begitu, suster bisa bersiap.. Terima kasih banyak suster Jovi."


"Sama-sama tuan." Jovi menutup telepon.


Jovi tidak berharap besar menaruh cinta pada Ernest. Entah kelangsungan hubungan seperti akan Jovi jalani. Kadang ia malah membandingkan posisinya dengan Ernest yang tidak sepadan.


Tapi kadang Jovi berfikir, mencintai Ernest akan ada waktunya sendiri. Perempuan cantik tersebut mempunyai keyakinan tulus di hati, bahwa Ernest di ciptkan tepat untuknya.


Belum berpulangnya Tuan Toni ke rumah, menjadi alasan Ernest belum menceritakan semua cinta dan masalah Jovi. Ernest yakin, papa tercintanya tersebut akan merestui hubungan mereka.


Meski di ketahui Tuan Toni adalah laki-laki galak, namun beliau tidak pernah memberi standart berat untuk calon istri putranya. Sekaligus akan menjadi menantu tunggal di keluarga Wijaya.


Jovi bersiap mandi dan ganti baju.

__ADS_1


*********************


RUANG TENGAH RUMAH TUAN TONI.


Setelah datang dari jalan-jalan bersama Aqila dan Jovi. Sempat beristirahat sebentar, Ernest sudah bangun dari tidur terhitung hanya 45 menit saja.


Tidur laki-laki tampan tersebut nampak tidak tenang. Ernest sudah membangunkan diri, jalan ke arah ruang tengah mencari udara segar.


Suasana ruang tengah memiliki view langsung mengarah pada taman dan kolam renang samping rumah, menenangkan serta sejuk di pandang mata Ernest.


"Ke mana orang-orang ? sepi sekali.." Ernest mendudukan diri. Kakinya di selonjorkan ke arah meja depan sofa.


Ernest sudah membawa laptop, power bank, sambungan wifi sudah di aktifkan. Seperti ada sesuatu ingin di kerjakan putra tampan Tuan Toni tersebut.


MEMANGGIL GHAZI... Tutt.. tuttt...


Telepon sudah terhubung.


"Hallo.. Selamat sore Tuan Ernest."


"Hallo Ghazi.. maaf telepon tadi pagi sempat terpotong.. Ghazi saya tidak mau bertele-tele.. info terbaru yang saya dapat tentang Jovi, papanya memiliki tumpukan hutang karena pekerjaannya.. apa kamu tau apa pekerjaan papa Jovi?."


"Tuan Ernest.. Jovi Andrianita adalah anak sulung dari pasangan Yusuf Andri Affandi dan Rita Maulidya. Jovi memiliki adik bernama Aning Farzana Aqila informasi itu saya dapat dari daftar pelajar Stikes Wijaya. Bapak Yusuf adalah pengusaha kelas menengah, anak buah saya menelusuri perusahaannya hampir collaps karena hutang. PT'nya dalam dua tahun ini hanya melayani pembuatan seragam proyek2 dari permintaan PT. PT. kecil."


"Begitu ya.. kalau untuk nama PT?? apa nama PT Pak Yusuf itu? barang kali mungkin PT tersebut pernah mengajukan kerjasama ke Wijaya Grup tapi sudah di tolak lebih dulu karena tidak sesuai dengan kebutuhan Wijaya Grup."


Ghazi tertawa. Atasan yang sering membayar ratusan juta tupiah hanya untuk satu informasi tersebut sangat nampak polos.


"Hehehe.. perusahaan itu bernama PT. Persada Jaya, saya lihat dari trade record perusahaan, Persada Jaya tidak pernah mengajukan kerjasama ke PT tuan.. Maaf Tuan Ernest, market pasar perusahaan Pak Yusuf lebih rendah dari perusahaan lain yang sudah mengajukan kerja sama dengan Wijaya Grup."


Ghazi menjelaskan pelan maksudnya jika perusahaan papa Jovi tersebut sangat berbeda jauh dengan kondisi perusahaan milik Ernest.


Bahkan beberapa kualitas PT yang pernah di tolak perusahaan Ernest, masih terbilang lebih bagus. Apabila di banding perusahaan papa Jovi yang sekarang.


Ernest memahami pelan, perusahaan calon papa mertuanya itu (kalau jadi) sudah carut marut.


"Kalau seandainya Wijaya Grup mengajak kerjasama bisa kan? sehingga PT Pak Yusuf ini bisa memiliki income yang banyak dan kembali normal."


"Maaf Tuan Ernest tidak bisa, Wijaya Grup adalah PT besar.. apabila Tuan melakukan kerjasama dengan Persada tentu mereka tidak akan memiliki modal banyak untuk menerima pesanan dari PT anda.. 6 bulan yang lalu perusahaan ini juga melakukan PHK terbilang besar untuk 80 karyawannya."


"80 karyawan? lumayan banyak itu.. saya yakin perusahaan papa Jovi ini awalnya adalah perusahaan yang bagus tapi karena masalah, perusahaan ini kalang kabut.. saham serta klient perusahaan pasti merosot banyak ya?."


Jiwa bisnis Ernest bergelora.


"Betul Tuan Ernest.. perusahaan itu di ketahui kehilangan saham 60% dan hanya beberapa klient saja.."


Ernest merasa kasihan. Bahwasannya Rumah Sakit yang sekarang berjaya pernah mengalami hal serupa.


"Info yang saya dapatkan, awalnya perusahaan ini berdiri lancar, sampai akhirnya PT ini menerima proyek peng gandaan seragam untuk PT. Luxury hingga 3000 seragam, di waktu bersamaan PT. Luxury mengatakan bahwa perusahaannya bangkrut sehingga tidak bisa membayar pada PT. Persada."


"Weeewww... sadis itu.. harusnya lakukan pembayaran, dan Persada bisa menuntut ke pengadilan dong.. bagaimana itu masih menjadi beban. pasti kan juga ada bukti tertulis dan penanda tanganan kontrak." Ernest pusing dan kasihan.


"Tuan Ernest, PT Persada tidak memiliki uang banyak untuk menuntut sebab sudah mengeluarkan modal banyak untuk pembuatan seragam.. yang lebih menyedihkan saya menemukan temuan baru, setelah hilangnya PT. Luxury ada PT baru bernama PT. Ex-Lury di mana para petinggi dan pegawainya sama persis dengan PT. Luxury.."


Ernest tidak habis fikir, siapa pemilik perusahaan PT. Ex-Lury tersebut.


"Ghazi.. saya mau tau kamu cari tahu banyak perusahaan yang membodohi PT Pak Yusuf ini.. sementara ini, saya akan menyuruh perusahaan anak cabang di Sidoarjo mengajak kerjasama PT. papa Jovi."


"Baik Tuan Ernest."


"Kalau Persada Jaya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan.. apabila gugatan itu bisa di menangkan papa Jovi, keluarga Jovi akan kembali hidup normal.. penalti pasti akan di bayar 2x lipat oleh perusahaan tersebut karena sudah melanggar perjanjian." Ernest membatin dalam hati.


Ernest hanya geleng kepala. Wajahnya mendekam sedih. Penghianatan, dan penindasan menjadi cobaan berat dalam hidup Jovi dan keluarga.


Tidak bisa mengajak bekerja sama secara langsung dengan PT. besarnya tersebut. Ernest berencana perusahaan anak cabang Wijaya Grup yang ada di Sidoarjo ikut andil membangkitkan kesejahteraan para karyawan PT. Persada Jaya.


"Tookk.. took.. tokk.."


"Ting.. tung.. Ting.. Tung..," bel ruang tamu berbunyi.


"Iya sebentar." Ernest menutup pembicaraan dengan Ghazi.


Hilangnya bibi yang ada di dalam rumah entah ke mana. Ernest harus menerima tamu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2