
"Naik taksi," Jovi beranjak dari kursi.
"Sama aku aja Jov." Dokter Nalen langsung berkemas menenteng tas.
"Dokter Nalen tidak balik ke RS? kalau balik ke RS kan nanti kejauhan, saya naik taksi saja."
"Rumah suster di mana sih?." Ernest tidak tahu sama sekali.
"Perumahan Archadya." Jovi dan Dokter Nalen menjawab kompak.
Semakin lama Ernest semakin kesal. Ia sudah meradang, Dokter Nalen sama sekali tidak memberikan space waktu pada Ernest. Mereka berdua nampaknya bersaing ketat.
Nampaknya Ernest sudah dongkol. Ia menarik nafas dalam-dalam. Mengeluarkan pelan-pelan. Rasa sakit kepala semakin di aduk dengan kecemburuan siang ini.
"Saya tanya yang punya rumah." jawabnya ketus.
"Ya saya kan juga hanya memberi tahu.. ya kan ya Jov? apa Pak Ernest tidak pernah ke rumah Jovi, kalau saya sudah ada 3 kali'an ya Jov ke rumah kamu?."
Jovi mengangguk.
"Iya iya Dokter Nalen.. saya tau kok kalau anda itu memang lebih kenal Suster Jovi dari pada saya, dari tadi saya lihat anda sepertinya ingin mengatakan bahwa hanya Dokter yang paling dekat dengan anda."
Ernest sudah meradang.
"Hah..?? iya kah Jov...?? perasaan dari tadi aku biasa aja ya Jov.. emang ada sikapku yang seperti itu." Dokter Nalen menunjuk dirinya sendiri.
"Entah anda berpura-pura atau tidak, saya kira memang seperti itu. kalau memang tidak, ya biarkanlah suster Jovi yang menjawab."
Tatapan mata Ernest sengit. Dokter Nalen wajahnya sudah tidak teduh seperti beberapa jam lalu.
saya tambahkan ya..!! bukan saya tidak pernah ke rumah Suster Jovi, tapi belum pernah dan belum ada kesempatan."
"Hahahaha.. jangan bilang anda cemburu ya Ernest? bilang saja pak, dari dulu saya dengan Jovi juga bertemannya seperti ini.. mungkin Pak Ernest belum terbiasa saja melihat kita yang seperti ini" Nalen tertawa.
"Bolu bolu, saus kerang.. lain dulu ya lain sekarang, siapa tau sekarang anda sudah mencintai Suster Jovi kan sekarang? banyak kok dulu berkedok sahabatan tapi sekarang cinta." Ernest kolot.
"Ya Tuhan.." keluh Jovi.
"Kalau memang iya lantas kenapa Pak Ernest? kalau memang Tuhan menggariskan saya berjodoh dengan Jovi, waaah... pasti saya akan sangat senang sekali."
Kepala Jovi ikutan pening melihat polah tingkah Ernest dan Dokter Nalen seperti anak kecil. Tangan Jovi segera menggandeng Aqila. Bungkusan kresek di kalungkan lengan kiri Jovi. Aqila mengikuti arah kakaknya pergi.
Beruntung sikap kampung Ernest dan Dokter Nalen tidak mendapat perhatian pengunjung.
Yang biasanya Ernest selalu menghadapi masalah dengan cool, nampaknya ia tidak bisa menanggapi keceburuan'nya dengan santai.
"Maaf Dokter Nalen dan Tuan Ernest, saya mau pulang naik taksi saja.. anda berdua bisa pulang sendiri-sendiri saja, Dokter Nalen kan juga harus kembali ke rumah sakit, biar saya dan Aqila naik taksi saja."
"Suster Jovi, kelihatannya kok suster hafal banget ya dengan jadwal kerja Dokter Nalen, kalian pacaran?."
Jovi menghela nafas dalam-dalam. Rasa penasaran Ernest menggagalkan semua.
"Tidak tuan, saya ingat karena Dokter Nalen memang meskipun tidak ada jadwal praktik pasti ada di rumah sakit kalau untuk siang sampai sore.. jadwal RS Intan Medika berbeda Tuan Ernest kalau dengan RS Wijaya, kalau Intan Medika itu dokternya tidak di shift."
Dokter Nalen tersenyum menang. Laki-laki tampan tersebut memasukkan lengan kirinya ke arah saku. Matanya lirak-lirik mengejek ke arah Ernest.
"Ouh begitu.. ya sudah, saya minta maaf mungkin saya terlalu parno aja dengan kedekatan kalian berdua."
"Tidak papa, wajarlah Pak Ernest, ya mungkin karena saya dan Jovi memiliki chemistry yang kuat.. jadi anggapan-anggapan seperti yang dikatakan Pak Ernest itu sudah hal biasa."
Dokter Nalen merendah untuk menyombongkan diri. Ernest merasa kalah telak. Ia lantas memasukkan ponsel bergegas pulang. Rasa cemburu di hati, Ernest bermuka kesal dengan wajah memerah.
Pak Yoyok telah menghubungi Ernest. Sopir pribadi Tuan Toni itu sudah menunggu di luar. Merasa sudah tidak ada yang perlu lagi di bicarakan. Mereka lantas membubarkan diri.
Ernest sudah tidak urus. Mau Jovi pulang dengan siapa, dirinya sudah bodo amat. Rasa malu di skak mat oleh Jovi dan Dokter Nalen akhirnya membuat Ernest dia berada dalam posisi yang tidak di anggap.
"Hari sudah siang, kalau begitu saya pamit dulu Suster Jovi dan Dokter Nalen.. terima kasih dan salam kenal untuk Dokter Nalen."
"Salam kenal kembali, saya merasa senang berkenalan dengan anda Pak Ernest."
Ernest mengangguk.
"Iya tuan, hati-hati di jalan, salam untuk semua bibi-bibi dan bapak-bapak yang ada di rumah Tuan Ernest."
"Iya."
"Tuan besar masih di luar kota ya Tuan Ernest?."
"Ya."
__ADS_1
Jovi lantas mengurungkan niat memberi tahu Ernest. Jika ia di tawari oleh Tuan Toni kembali menjadi suster.
Ernest terkesan cuek. Jovi mendadak takut saat Ernest merubah sikap. Apa yang salah atas ucapannya atau salah Dokter Nalen apa. Jovi menjadi sedih.
Ingin menanyakan pada Ernest, tapi Jovi juga menjaga perasaan Dokter Nalen. Sebetulnya apa yang membuat Ernest cuek.
"Om Ernest mau ke mana kak Opi? Om, om, katanya mau lihat sekolahnya Aqila, kok om pergi.. Om Ernest mau pulang ya?."
Aqila menghalangi langkah kaki Ernest. Kepala Aqila menengadah ke atas melihati Ernest dengan tatapan melas.
"Iya, om mau pulang, besok-besok aja ya..!! maaf ya Qila om pulang dulu, om sudah di tunggu sama sopir om di luar.."
"Iya Qila, sama Om Dokter aja ya..? di mana sih sekolahnya Aqila, kan Om Nalen juga belum tau, kasih tau dong.."
"Nggak mau, Om Ernest tadi kan om sudah janji sama Aqila.. kok om pulang..? nggak mau, om nggak boleh pulang, om pulang sama Aqila, sama Kakak Opi, pokoknya om nggak boleh pulang." Aqila merangkul paha Ernest.
"Eehhh.. eehhh.. geli Aqila." Ernest menyingkirkan pelan. Ia memang tidak betah dengan rasa geli.
"Om Ernest kata mamah, janji itu adalah hutang om, om harus pulang sama Aqila.. kakak Opi pulang sama Om Ernest." Aqila menangis.
"Aqila.. Aqila.. kalau lihat sekolah ya jangan sekarang.. ini hari apa? sekolahnya tutup, Om Ernest capek, tadi kan yang bilang siapa, kalau badannya Om Ernest panas, Qila sendiri kan." Jovi merayu. Merangkul Aqila.
"Pulang sama kakak dulu, besok ke rumah Om Ernest terus baru lihatin sekolah Aqila. ya..?? nanti kakak beliin es krim, mau?."
"Nggak mau, Om Ernest pulang sama Aqila, kakak Opi pulang sendiri aja.. Aqila mau ke sekolah sama Om Ernest. sekarang ya om ya ?."
"Kakakkkkkkk Opi.. pulang sama Oommmm......." teriaknya.
Aqila mengeluarkan jurus andalan. Kaki di hentak-hentak ke lantai. Tubuhnya mendorong Jovi kuat-kuat. Melepaskan pelukan kakaknya kembali merapatkan barisan ke Ernest.
Tidak berhasil mendapat persetujuan dari Ernest. Aqila berteriak memenuhi ruangan cafe. Pandangan para pengunjung ada yang terlihat menutup telinga. Bahkan, ada yang tak segan langsung menegur Jovi.
"Mbak.. kalau adiknya rewel, mbug ya'o (harusnya) usahakanlah biar nggak rewel." ucap ibu-ibu pengunjung restoran bermata sengit.
"Maaf ya buk."
"Tau tuh.. jadi bikin nafsu makan hilang aja." imbuh perempuan tidak di kenal Jovi.
Ernest ikut kesal. Ia malah balik menatap orang yang memarahi Jovi dengan galak. Ernest langsung meng gendong Aqila. Seketika itu ruangan tangis terhenti secara cepat.
"Diem..!! kalau nggak diem om pulang."
Dokter Nalen dengan berat hati harus rela melihat pandangan menyakinkan. Dimana Ernest memboyong Jovi serta Aqila. Langkah kaki mereka saling membersamai pergi ke luar cafe.
"Braakkkk...." pukul tangan Dokter Nalen ke arah meja.
Dari gendongan mantan kekasih Meghan tersebut, Aqila sudah mengoceh gembira. Anggukan kepala sering terlihat di lakukan Ernest begitu pun juga Jovi.
Pak Yoyok menunggu di parkiran. Sempat terkejut, Suster di rumah Tuan Toni ikut menaiki mobil, namun Ernest sudah menjelaskan. Jovi dan Aqila hanya menumpang tidak ikut pulang.
Aqila, Jovi dan Ernest masuk mobil.
"Bruug..," Pak Yoyok menutup pintu mobil.
Aqila berada di pojok, selanjutnya Jovi di tengah dan Ernest paling samping.
Kecrewetan Aqila memenuhi isi mobil. Pak Yoyok kadang tertawa. Jovi menutup telinga ketika jeritan mulut Aqila berada pas di gendang telinga. Ernest tidak berhenti menggoda.
Harapan ingin memiliki adik kecil kadang terbersit. Tapi itu tidak mungkin, Tuan Toni sampai sekarang tidak ada niatan menikah lagi.
Mama Ernest di harapkan papa Ernest sebagai istri dunia akhirat.
"Om.. om.. Om Ernest punya adik nggak? kata mama.. Aqila itu cerewett maaf ya om." Aqila genit sembunyi di pundak Jovi.
"Eh bisa sadar diri ternyata."
Satu mobil lantas tertawa mendengar kata-kata Ernest.
"Om nggak punya adik, ikut pulang ya ke rumah Om Ernest biar rumah Om ramai, mau nggak?."
"Nggak mau, rumah om nggak ada boneka barbie, rapunzel, sama LOL.. Om bilang ke mamah sama papa om, minta adek, adek itu beli atau gimana kak Opi?."
"Ya mana kak Opi tau. kakak Opi nggak tau."
"Hahahaha... Qila Qila, ada Aqila kok jadi malah pengen punya adik ya Pak Yoyok. Papa kira-kira punya pacar nggak ya Pak."
Jovi dan Pak Yoyok lantas tertawa.
"Tidak lah tuan, Tuan Toni masih setia dengan almarhum mama Tuan Ernest, lagian tuan juga sudah tidak cocok punya adik.. harusnya tuan yang menikah dan memiliki anak hehe."
__ADS_1
"Sayangnya.. saya kurang hoki dalam urusan asmara Pak Yoyok.. doakan saja pak, biar saya bisa menikah layaknya laki-laki lain di luar sana.. kadang saya mikir pengen ikut take me out indonesia aja pak."
Jovi ikut tertawa.
"Hahaha.. tuan, tuan, ada-ada aja.. Tuan Ernest pasti akan mendapatkan calon istri seperti yang tuan inginkan.. banyak-banyak membuka diri untuk orang baru tuan, selama ini Tuan Ernest terkesan dingin dengan para wanita."
"Saya dingin suster?." Ernest lantas melihat ke arah Jovi.
"Ha... aaaa.. ti-tidak tuan."
"Ya bukan dengan Suster Jovi tuan, Suster Jovi itu pengecualian tuan. Kalau Tuan Ernest dengan suster sepertinya Tuan sudah nyaman dan sama-sama terbuka."
"Pak Yoyok sudah seperti pakar saja.."
"Hehehe.. kebanyakan nonton sinetron dengan Yuni sama Lusi tuan, maaf jadi begini hehe."
Pak Yoyok tidak berbasa basi menjawab pertanyaan Ernest. Sopir laki-laki paruh baya tersebut menganggap Ernest betul-betul memerlukan sarannya. Agar segera mendapatkan jodoh dan menikah.
Suara Aqila seperti sudah di telan bumi. Dari tadi tidak ada timpalan mulut cerewet Aqila. Adik Jovi ternyata sudah tidur pulas di pangkuan kakak cantiknya tersebut.
Kedua kaki Aqila nampak berselonjor. Nafasnya mendengkur halus lewat hidung. Rambut lurus miliknya, di belai Jovi berkali-kali agar tidak gelisah saat tidur.
"Sudah tidur suster?." Ernest menunjuk Aqila. Jovi mengangguk meng"iya"kan.
"Tidak jadi ke sekolah dia berarti?."
"Tidak perlu tuan, biasanya dia bakalan tanya tapi nanti kalau di alihkan ke pertanyaan lain sudah lupa."
Ernest mengangguk paham. Jovi melempar senyum. Tidak lama, kepalanya menunduk terpejam menikmati rasa kantuk. Meski tidak tidur.
Dalam perjalanan pulang, sebetulnya jarak tempuh yang harus di lakukan Pak Yoyok lebih memakan waktu. Sebab rumah Ernest dan Jovi berlawanan arah. Apalagi tambahan kota Surabaya penuh jalan satu arah.
Suasana hening. Hanya suara lampu sein mobil kadang memecah. Jovi menyandarkan tubuh. Ernest memandangi Jovi. Ia nampak masih tidak terima, atas kejadian di cafe tadi.
Siapa Nalen? belum memuaskan rasa penasaran Ernest. Candaan Jovi sempat terlontar bahwa ia begitu menyukai profesi Dokter. Di tanyakan Ernest dalam hatinya.
"Suster Jovi mengatakan dia sangat menyukai profesi Dokter.. cita-citanya jadi perawat ternyata hal itu yang melatar belakangi.. Tau begitu, kenapa dulu nggak ambil kedokteran aja waktu kuliah."
Ernest melihat Jovi. Pandangannya berubah lagi melihat ke depan. Tatapan mata penuh keraguan menggelayut senandung hati.
Sebenarnya Ernest tidak memiliki passion menjadi seorang dokter. Selama ini putra satu-satunya Toni Wijaya itu, dari kecil sudah di ajarkan papanya mengelola bisnis raksasanya di Surabaya.
Kegalauan hati melanda Ernest. Setelah selesai mengambil kuliah S1 di Universitas Indonesia. Ernest juga mengambil S2 bagian bisnis. Sehingga kesuksesan Wijaya Grup juga ada Ernest yang berandil besar.
Ernest berencana ingin mengambil kuliah kedokteran. Impian indahnya bisa bekerja di rumah sakitnya sendiri dan asisten dokter yang menemani pekerjaannya adalah Jovi. Tentu Ernest akan benar-benar sangat bangga.
"Dr. Ernest Wijaya S. Ked dan Suster Jovi S.Kp.. eh Jovi siapa sih namanya? lupa lagi." Ernest tersenyum.
"Sayang.. kamu terlihat tampan sekali, jazz putih dan stetoskop yang mengalung di leher kamu, semakin membuat aku mencintai kamu lebih dari diriku." Jovi memeluk Ernest.
"Itu sudah menjadi tugasku sayang.. ini cita-cita kamu kan.. kamu ingin menjadi perawat dan aku ? aku tidak akan rela, ada Dokter Dokter lain bersama kamu dalam melakukan pekerjaan.. apalagi si Nalen huh, jadi cukup aku saja."
"Terima kasih tuan.."
"Hustt... jangan panggil tuan,"
"Cuupp..." Ernest mendaratkan ciuman mesra ke arah bibir Jovi.
"Sekarang saya sudah menjadi kekasihmu Suster Jovi, saya benar-benar menyayangi kamu, saya berjanji sehidup semati akan selalu ada di sampingmu." Jovi langsung memeluk Ernest.
Putra tampan Tuan Toni tersebut nampaknya sedang halu.
Ernest langsung tersenyum ke arah Jovi. Tetapi perempuan cantik tersebut tidak berekspresi.
Mata Ernest melirik. Jovi sedang menyandarkan punggung. Indra penglihatannya menatap lurus ke depan. Dari tadi karena sibuk halu, Ernest sampai lupa di sebelahnya ada Jovi.
"Sus.."
"Ahh... ya tuan," Jovi baru menoleh.
Tampaknya sikap suster cantik Ernest tersebut baru menyadarkan. Bahwa dari tadi Ernest hanya berdelusi.
"Cuma ilusi." Ernest malu. Ia menutup wajah
"Kenapa Tuan Ernest?." Jovi masih bertanya lagi.
"Tidak.. tidak.., tidak papa suster. tapi boleh suster saya tanya sesuatu?." tawa garing Ernest di lempar.
"Boleh, ada apa tuan?."
__ADS_1
Jovi tidak tahu, Ernest baru bangkit dari kehaluannya.