
Setelah pamit pulang pada Ola, untuk kembali menuju ke rumah Ernest, kaki Jovi berlari menghentikan diri, di depan trotoar. Lambai tangan Ola tidak terlihat, tetapi Ola masih memantau dari kaca jendela kantor pagi itu.
Rambut Jovi terlihat lari kemana-mana, sapuan angin dari pohon besar rindang, di depan halaman kantor, menjadi komando kemana arah rambut Jovi berlari. Terik matahari perlahan tapi pasti, lebih galak dan menyengat.
Lalu lalang kendaraan terasa lebih lenggang. Meski mobil pribadi tetap yang paling dominan, beberapa bus kota, sempat menawarkan tumpangan, tetapi ditolak geleng kepala Jovi.
Tangan perempuan cantik tersebut, melambai, menghentikan salah satu taksi. Tidak disangka, ternyata Jovi mendapatkan sopir sama, yang dulu pernah mengantarnya, saat pertama kali ke rumah Ernest.
Senyum dari sopir tua, menyapa indah pagi itu. Dulu Jovi pernah memberikan tips lebih kepada bapak tua tersebut, ternyata bapak sopir taksi, masih mengingat semua.
"Nona.. ketemu lagi ya Non."
"Eeh bapak, yang kapan hari itu ya? iya pak,"
"Silahkan Nona.."
Jovi tersenyum.
Jovi kemudian membuka pintu taksi, duduk di belakang, memangku tas warna putih miliknya. Dari kaca spion kecil, bapak sopir tua tersebut, masih memberi senyum pada Jovi.
Decak kagum dari bapak sopir tua, melihat anggun dan cantiknya wajah Jovi, bergumam sendiri di dalam hati. Sikap ramah yang di berikan oleh Jovi, tak hayal semakin membuat kagum sopir bernama Pak Mardi itu.
Gas mobil biru terasa mulai ditarik pelan ke depan, mengajak empat roda mobil, berjalan pergi, meninggalkan halaman kantor semesta group. Aroma AC, di dalam taksi, juga mulai terasa masuk lewat indra penciuman Jovi.
Tangan Jovi mengambil ponsel, yang ada di dalam tas. Sudah lama, sejak sampai di kantor hingga pulang. Jovi belum menjamah sama sekali, ponsel putih dilapisi pelindung lucu.
"Nona, kalau boleh tua siapa nama nona?."
"Saya pak? nama saya Jovi, bapak siapa namanya?."
"Ouh Jovi, kalau saya panggil saja Pak Mardi Non.."
"Baik kalau begitu pak, Pak Mardi ya..? hehe," senyum Jovi mengikuti.
"Iya Non, semoga Nona Jovi bisa jadi pelanggan buat saya ya Non?," kata Pak Mardi membuka percakapan.
"Iya pak, nanti kalau saya butuh taksi, saya akan hubungi Pak Mardi saja."
"Terimakasih banyak nona, Nona Jovi setiap hari naik taksi ya? Nona, kerja dimana?.".
"Tidak pak, biasanya saya kerja bawa mobil, cuma akhir-akhir ini, saya lebih sering naik taksi, saya kerja di kantor, tapi sebulan ini saya ditugaskan jadi perawat hehe, mengikuti alur saja pak," terang Jovi.
"Iya, Nona betul, sekarang cari kerja itu susah Non, mau nggak mau harus nurut sama kontrak kerja, saya sendiri, meskipun cuma jadi supir, juga tetap ngikut apa kata atasan, heehehe, ya gimana non, emang kerja ikut orang, beda kalau punya usaha sendiri."
"Hehehe iya pak."
Gara-gara Pak Mardi, fokus Jovi malah terbagi. Dua tangan yang tadinya ingin mengecek whatsapp, langsung pindah pergi, mencari kontak telepon, nomor HP papa Jovi.
Taksi melaju seperti biasa, diantara kerumunan mobil pribadi, tangan Pak Mardi mencoba mencari celah agar segera bisa menurunkan penumpang.
Perkenalan dari Pak Mardi, membuat Jovi mau tidak mau harus menanggapi. Walau kemelut terjadi didalam hatinya, sikap Jovi tetap bisa ramah, dan mengumbar senyum secara baik.
Satu, dua pertanyaan, muncul di dalam hati kecil Jovi. Jika Jovi mengundurkan diri, dia tidak bisa membayangkan, bagaimana papa Jovi, akan banting tulang sendirian, melunasi semua hutang.
Kesalahan besar telah perbuat oleh wanita cantik tersebut, karena Jovi lah, suku bunga jadi naik. Semua semakin lemas, ketika besaran hutang senilai Rp 900.000.000,- belum berkurang sama sekali.
Kerinduan Jovi pada rumah, sedang menghantam relung hatinya. Jovi mulai merindukan Aqila, mama, dan papa Jovi. Rumah akan menjadi tempat pulang paling indah, di saat seperti ini.
"Papa.. maafin Jovi pa, sebagai anak sulung papa, Jovi belum bisa mengentas hutang keluarga kita dari Om Purwo dan Fictor, Ya Tuhan, pah.. Jovi rindu rumah.."
"Seandainya Fictor memberi perintah, yang itu masih dalam konteks yang wajar, pasti Jovi nggak akan seperti ini pa, Maafkan Jovi pa, Jovi nggak pernah jujur sama papa, lebih baik papa dan mama tidak tau semua kejahatan Fictor, beban hidup keluarga kita sudah terlalu banyak," lamunan Jovi menatap keluar jendela.
Tiba-tiba taksi menge'rem' mendadak. Ada anak orang tua menyebrang, tanpa lebih dulu, tengok kanan kiri. Kejadian di dalam taksi, langsung membuat kepala Jovi terpental ke arah depan jok mobil.
Suara Pak Mardi langsung terdengar meminta maaf, atas ketidak nyamanan, yang sudah dilakukan oleh beliau. Mobil kembali melaju, beriringan dengan kendaraan mewah, milik para pengusaha.
Jovi ingat, dirinya tadi akan menelpon papa Jovi, keadaan termenung, langsung membuat Jovi sedikit linglung. Jemari tangan Jovi, menekan tombol panggilan telepon, lewat layar ponsel.
__ADS_1
5x panggilan di lakukan, papa Jovi belum menjawab telepon, panggilan tersebut, masih tidak terjawab. Sudah lama Jovi menunggu, dia berharap, papa Aqila itu, segera mengangkat telepon.
"Tuuuuuttt.... Tuuuttt... Tuuut...," panggilan terhubung.
"Hallo, papa...??."
"Kreeeekk, hallo, ya Jovi, ada apa?."
"Hallo, papa lagi apa? suara apa tadi pa?."
"Ouh ini, papa habis meeting, ini papa baru sempet sarapan, tadi papa berangkat subuh soalnya, klien papa minta meeting jam 8 pas tadi."
"Ya ampun pah, ini udah siang, tapi papa baru makan, papa jaga kesehatan pah, kerja papa jangan terlalu di forsir, papa ini suka ngingetin Jovi, tapi sering lupa diri juga" suara lemas Jovi menyandarkan tubuh.
"Hehe gimana lagi nak?? bangun kepercayaan klient itu susah Jovi, apalagi setelah kegagalan proyek besar, yang sudah dilakukan perusahaan papa tempo lalu."
"Iya pa, semoga lekas ada kabar baik ya pah..!!." Jovi ragu mengatakan keinginannya.
"Entahlah Jov, sampai sekarang belum ada kabar balik dari klient yang sudah mengajak meeting papa, atau tembusan kerja sama, ya semoga sebentar lagi ada."
"Iya pa," bibir Jovi menjawab lemas.
Semua perasaan yang belum stabil, justru tertambah, di lempar pernyataan papa Jovi, membuat Jovi tidak berdaya. Bibirnya hanya mampu menga-nga, tanpa suara.
Lemas tubuh Jovi, tertolong oleh jok taksi siang itu. Suster cantik Ernest, tak tega memberitahu, rencana keinginan Jovi, mengundurkan diri dari kantor Fictor, Semesta Group.
Bayangan kondisi ekonomi yang sulit, tidur di kontrakan, kerja siang malam, satu persatu, sudah mulai dibayangkan. Suara orang tua laki-laki di dalam telepon, semakin memupuk rasa bersalah Jovi pada keluarga.
"Kamu kapan pulang Jov?? sejak di Jakarta, kenapa kamu jadi susah sekali di hubungi? kamu jangan keluyuran, atau aneh-aneh loh ya.."
"Nggak pa, Jovi nggak kemana mana kok, Jovi jarang pegang HP pa, paling cuma pagi itupun sebelum Jovi berangkat meeting," ucapnya mengulang kebohongan.
"Mungkin Jovi pulang 3 hari lagi, balik ke Surabaya pa, tanggal 2 Jovi sudah sampai di rumah kalau tidak ada kendala."
"Ouh begitu, ya nanti papa kasih tau mama kamu juga, tiap hari mama sama papa was-was cuma karena kamu Jov, belum lagi Aqila, nyari terus, mana ma kakak Opi? mana pa kakak Opi? kenapa kakak Opi lama? pusing papa jawabnya."
"Hehehe..." tawa Jovi terdengar di paksa.
"Hemmm..."
"Pah..."
"Iya kenapa..?"
"Papa, Jovi mau resign dari kantor, gimana pa?," bibir bawah Jovi tergigit.
"Haahhh...!! kenapa?," suara papa Jovi langsung terkejut.
"Jovi nggak kuat pa, Jovi mau cari pindah kerja aja, cari kerja yang lain."
"Kenapa? kamu ada masalah ya? cari kerja ke mana? sekarang cari kerja itu susah Jov.. apa kamu udah pikir matang-matang tentang keputusan kamu?,"
"Ng-nggak pa, nggak ada masalah apa-apa, Jovi nggak kenapa-napa, Jovi sudah fikir semua, ya Jovi masih muda, mungkin merantau, atau pindah kerja kemana kan bisa pa, Jovi udah nggak kuat pah."
"Kalau udah difikir matang, kenapa resign?," papa Jovi masih tak percaya.
"Nggak kuatnya kenapa? gaji dari kantor Pak Fictor juga besar? apa yang bikin kamu nggak kuat? kalau kamu resign, terus bagaimana hutang keluarga kita? Aqila juga sudah waktunya masuk TK, Ya Tuhan Jovi," jawab lemas papa Jovi di akhir kata.
"Jovi udah bosen pa kerja di kantor Pak Fictor, Jovi mau keluar, pokoknya keluar, terlalu banyak tekanan pa disana," tangis Jovi samar terdengar.
"Kerja dimana aja juga banyak tekanan, mau di kantor Pak Fictor, atau di tempat lain, semua sama saja..!! JOVI.... cari kerja sekarang itu susah, semua nggak se mudah apa yang kamu fikirkan, papa nggak setuju, apalagi sampai kamu merantau, nggak mau, pokok papa nggak setuju."
"Tapi pa? Jovi beneran udah nggak sanggup pa, kalau Jovi sanggup, Jovi juga nggak bakal kok resign, Jovi juga mikir gimana cara kita bisa lunasin hutang, Jovi juga mikir pa." debat anak dan bapak itu tidak terelakkan.
"Kalau sudah tau, kenapa tambah keluar? kerja cuma jadi sekertaris, pulang malam, lembur, ngerjain tugas itu kan udah biasa, udah makanan kamu sehari-hari, malah sekarang ada acara resign segala, kamu itu anak yang nggak bisa nyenengin orang tua," kata itu tidak sengaja keluar dari mulut papa Jovi.
"Ya Tuhan papa.." Jovi lemas.
__ADS_1
"Semua anak juga pengen pah, bikin bahagia orang tuanya, bikin bangga mama papanya..!! Ya walaupun Jovi belum sepenuhnya bahagia'in papa mama, tapi Jovi juga udah berusaha."
"Iya berusaha resign," sindir papa Jovi.
Yang dikatakan orang tuanya, membuat hati Jovi begitu sakit. Perempuan cantik tersebut, hatinya semakin terasa menusuk. Satu persatu keburukan Fictor nampak jelas, mulai muncul.
Jovi merasa, segagal itu kah, dirinya tidak bisa membahagiakan orang tuanya. Tangisnya pecah, papa Jovi setega itu, mengejek darah dagingnya sendiri.
Air mata yang menetes, semakin deras dan lebih cepat. Jovi juga ingin, didengarkan perasaannya. Bahkan kondisi di mana dia sedang berada, tidak di hiraukan oleh suster cantik Ernest itu.
"Selama ini, papa nggak pernah ngerasain jadi Jovi kan? apa papa tau yang Jovi alami?? yang papa tau cuma Jovi pulang lembur, lembur dan lembur, itu kan?."
"Bukannya memang cuma itu?," papa Jovi masih terlihat marah.
"Jovi juga tau pa, kalau cuma ngerjakan berkas, pulang kantor, lembur, nggak mungkin Jovi keluar, papa apa nggak bisa, sedikit aja ngertiin Jovi pa..!!"
"Jovi sayang sama mama, papa, sama Aqila, tapi manusia ada batas kesabarannya pa, Jovi udah nggak kuat," isak tangis Jovi benar-benar jelas di telinga papanya.
Mendengar putri sulungnya menangis hebat di dalam telepon, semua baru menyadarkan hati papa Jovi. Papa Jovi seperti tidak percaya, anak perempuannya, menangis se kencang itu di telepon.
Satu persatu ucapan Jovi, ditelaah oleh papanya. Kondisi emosional yang tidak sengaja keluar langsung dari mulut Jovi siang itu, mulai diartikan oleh papanya. Bahwa selama ini, pasti ada tekanan hebat yang terjadi pada Jovi.
Hampir tidak pernah, selama ini papa Jovi mendengar kakak Aqila tersebut, menangis sedemikian itu. Selama ini, putri cantik, papa Jovi lebih terkesan pendiam dan memendam sendiri semua masalahnya.
Rasa penyesalan, dan binar mata papa Jovi langsung terlihat. Kenapa mulut papa Jovi, tega mengatai putrinya sekejam tadi. Padahal selama ini, Jovi selalu menghabiskan gajinya, hanya agar utang papanya lunas.
"Jovi.. ya udah, kalau gitu kamu segera urus aja surat pengunduran diri ke kantor, nanti papa bantu carikan kamu kerja, pasti nanti ada rejeki lain," kata papa Jovi belum menutup telepon.
"Hiksss.. hikksss....," ponsel Jovi hanya mampu memberi suara tangis.
"Sudah, jangan nangis, maafin papa ya..!! papa udah marahin kamu, papa minta maaf..!! papa yang salah, kamu sudah sangat baik menjadi anak papa."
"Nanti kalau kamu pulang, kita fikir sama-sama, kamu nggak perlu mencemaskan hutang ke Pak Purwo, itu sudah jadi tanggung jawab papa sebagai kepala keluarga, kamu harusnya tidak ikut memikul permasalahan berat seperti ini,"
"Ya pah, maafin Jovi ya pa, udah mengecewakan papa, Jovi janji, pasti Jovi akan cari pekerjaan yang lebih baik, itu janji Jovi."
"Semangatt...!! papa yakin anak papa pasti bisa.. ya..??," ucap papa Jovi matanya menahan tangis.
"Pasti pa, Jovi sayang papa, tunggu Jovi pulang ya pa?," senyum Jovi tampak mengurai.
"Iya sayang.. pasti papa tunggu, sama mama dan Aqila juga."
Satu kebodohan yang dilakukan papa Jovi, langsung di tebus dengan meng'iya'kan keinginan Jovi. Di dalam kantor, papa Jovi berharap putrinya tetap akan baik-baik saja.
Semua menjadi tanda tanya di hati papa Jovi, apa yang sebetulnya membuat Jovi tidak betah kerja di kantor. Selama ini, Fictor juga selalu terlihat baik, saat bertemu dengan papa Jovi.
Tidak ada curiga berat pada Fictor, papa Jovi justru menduga, putrinya ada masalah dengan teman se kantornya. Tetapi kadang, fikiran papa Jovi, dilema lagi.
"Kamu sekarang dimana Jov? masih meeting, atau sudah di hotel? kalau sudah di hotel, kamu langsung istirahat ya..!! jaga diri juga disana."
"Iya pa, ini Jovi mau ke hotel, papa juga jaga kesehatan ya..!! jangan lupa makan tepat waktu," Jovi menghapus air mata.
"Pasti, ya udah papa ini ada tamu, papa tutup teleponnya ya..?? hati-hati kalau pulang.."
"Iya pa, siap.. dadaaaaa... pa,"
"Daaaa sayang," papa Jovi menutup telepon.
Semua langsung meredakan tangis Jovi, semangat serta bahagia langsung menjadi amunisi tubuh Jovi siang ini. Setelah papa Jovi menyetujui keputusan resign, tugas Jovi hanya tinggal satu.
Di akhir masa kerjanya menjadi suster Ernest, Jovi ingin memberi tahu Ernest dan jujur, bahwa selama ini Jovi adalah mata-mata. Sehingga dia bisa memulai hidup normal kembali, dan tidak dibayangi rasa bersalah terus.
Pukul 11.00 siang, taksi yang ditumpangi Jovi, baru sampai lagi di depan pintu rumah mewah Tuan Toni. Jovi baru sadar, rencananya pulang sudah lewat beberapa jam tadi.
"Terimakasih ya Pak Mardi."
"Sama-sama Nona Jovi."
__ADS_1
"Iya pak."
Jovi masuk ke dalam rumah. saat taksi pergi melaju meninggalkan rumah.