Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
91. Memperkenalkan Calon


__ADS_3

Jovi dan Ernest berangkat menuju acara pernikahan.


Dress putih tampak senada dengan warna kulit kekasih Ernest. Jovi sedikit insecure bukan dengan penampilan, melainkan dengan teman-teman Ernest nanti.


Di pelupuk mata, Jovi shdah menbayangkan bagaimana Ernest akan berkumpul dengan pengusaha-pengusaha muda seangkatan, di situ Jovi harus pandai bersikap.


Lama di jajah oleh hal buruk dari Fictor, nampaknya berdampak tidak main-main menyerang kondisi psikis Jovi. Perempuan cantik itu terlalu sering di rendahkan.


"Tuan," Jovi memandangi Ernest.


"Hmmm.. ya, ada apa?."


"Apa nanti tamu teman tuan hanya pengusaha-pengusaha yang datang? tidak ada yang seperti saya."


Ernest mengerutkan kening.


"Maksudnya? memang kenapa?," Ernest menggenggam tangan Jovi.


"Bukan, tidak-tidak, tidak papa," Jovi menunduk, dengan tatanan rambut secantik pemeran Frozen.


Ernest mengangkat naik dagu Jovi.


Hal itu lah, yang selalu membuat Ernest semakin cinta, cinta dengan pasangannya tersebut. Sikap Jovi tidak pernah mencerminkan kesombongan sama sekali, tetap lugu dan rendah hati.


"Sayang, dengerin ya..!! pengusaha juga manusia, tanpa pakaian, dasi, dan jass, mereka sama dengan kamu, dengan saya."


"Tapi mereka lingkup hidupnya orang-orang sukses tuan, pasti pengusaha tentu tema obrolannya akan berbeda dengan orang awam seperti kita."


"Gini deh, abang kasih tau ya neng, apa calon suami neng kurang sukses? sampai si eneng merasa insecure dengan mereka, hmmm??,"


Bola mata Ernest berputar atas bawah.


"Hahahhahaa..," Jovi memeluk Ernest.


"Opo CEO koyo aku iki, isih kurang keren ta yank? pegel rek, aku mikir pacarku siji iki. (apa CEO seperti aku ini, masih kurang keren kah yank? capek rek, aku mikir pacarku satu ini),"


Tawa Jovi semakin terbahak-bahak, pasalnya Jovi baru pertama kali mendengar Ernest berbicara logat Surabaya.


"Uwes kok, uwes keren (sudah kok, sudah keren)," jawab Jovi.


Logat jawa mereka terlihat sangat medok. Sehingga membuat Jovi dan Ernest sama-sama terpingkal-pingkal.


Kadang Jovi memang sering lupa, pengusaha se tajir Ernest Wijaya adalah calon suaminya. Nasib baik di depan mata di persunting Ernest sering di lupakan.


"Gemesss tau sayang, abang ini merasa kayak jadi pengusaha yang gagal gitu, sampe-sampe istri abang ini insecure banget."


"Maaf bang, maaf ya bang, neng sering lupa," Jovi berurai air mata karena tawa.


"Rasakan ini, ciuman maut dewa."


"cuuuppp"


"muach.. muach,"


Ernest mencium kening Jovi gemas.


"*cupp.."


"muah, muah*,"


Hidung, pipi kanan kiri, di libar bibir Ernest. Bibir Ernest menekan sedemikian rupa, sambil di monyong-monyongkan. Sementara leher Jovi tertikam lengan kekar Ernest.


"Tuan, tuan, geli hihihi,"


Suara Jovi terdengar ingin melarikan diri, tapi Ernest tetap mengerjai mantan sekertaris Semesta Grup tersebut.


Jovi sangat manja, tubuhnya bersandar di bahu kiri Ernest, sembari wajah cantik Jovi menengadah tertawa melihati Ernest.


Poni buatan sist Eleaa rusak karena bercanda mereka di atas mobil.


Sesekali Jovi mengelap bintik keringat di atas hidung Ernest karena kebanyakan bercanda. Sementara, tangan Ernest tetap melingkari pinggang ramping Jovi.


Pak Rahmat jadi rindu istri, melihat pemandangan di jok belakang mobil. Keromantisan pasangan tersebut semakin sering terlihat, menuju pernikahan.


Mobil sampai di depan gedung acara pernikahan.


PARKIRAN GEDUNG.


Pak Rahmat mematikan mesin mobil.


Jovi turun dengan heels warna putih. Pintu mobil Ernest di buka, putra Toni Wijaya tersebut nampak tampan dengan setelan jass berwarna hitam.


"Tongkatnya jangan lupa di bawa tuan," pesan Pak Rahmat.


Ernest mengambil tongkat hitam ukuran setinggi paha.


"Jelek ya pak, malah mirip tukang pijit."


Pak Rahmat tersenyum.


"Kalau tuan yang pakai tetap tampan kok," hibur Pak Rahmat.


"Awassss.. lo pak. jangan sampai jatuh cinta sama saya," tangan Ernest menuding.


"Hahhaha, tidak tuan. Cuma rasa ingin memiliki aja."


"Wlleeeeee, Pak Rahmat bisa gitu juga ternyata, ke papah aja, jangan saya pak..!! saya masih muda juga soalnya." Ernest tertawa.


Jovi menggeleng kepala sambil tersenyum.


Tidak berselang lama, Ernest pamit masuk.


"Pak, saya dan Tuan Ernest masuk dulu," Jovi memberi senyum.

__ADS_1


"Iya Suster Jovi, silahkan..!! hati-hati," pesan Pak Rahmat.


Jovi dan Ernest masuk ke dalam gedung. Para tamu undangan tampak saling berdatangan, ada yang dengan pasangan, ada yang dengan keluarga.


Jovi mengamati satu persatu. Sekilas Jovi melihat dekorasi gedung terlihat sangat tampak mewah. Ada laki-laki sedang tertawa dan sebelahnya ada perempuan.


Di pintu masuk, foto pre wedding Sandi bersama istri sangat mesra, mereka mengambil tema out door di pantai.


"Cantik juga ya sayang, calon istrinya Sandi," puji Ernest.


"Aaaa.. iya, foto prewed'nya juga bagus," sanjung Jovi.


Srrrrrrrtt..


Jovi seperti melihat Meghan. Matanya mengerjap sekali, ternyata bukan. Jovi menahan ajakan Ernest masuk.


"Kamu lihat apa?," tanya Ernest melihat sekelilingnya.


"Ng-nggak. Tapi tadi se-seperti?,"


"Seperti siapa? udah ayo masuk sayang."


Jovi menurut.


Memasuki gedung, Ernest langsung di sambung, ia sangat tampak di hormati. Beberapa tamu yang menjadi bayangan Jovi, ternyata benar langsung menghampiri Ernest.


Tidak sengaja, Ernest memang bertemu klient kerja di pesta pernikahan Sandi dan Rayya.


"Pak Ernest, selamat malam," sapa salah satu teman kantor Ernest.


"Sebentar lagi nyusul ya pak," goda Pak Brian tersenyum.


Ernest dan Jovi kompak sama-sama tertawa.


Tamu yang datang, memang sangat terlihat welcome pada Ernest dan Jovi.


Beberapa juga sempat menanyakan kondisi Ernest dari kecelakaan, semua tamu tampak terlihat care. Awalnya, Jovi sedikit nervous tetapi lama-lama terkendali sendiri.


Di ajaknya Jovi menghadiri acara pernikahan, sekaligus membuat Ernest memperkenalkan Jovi sebagai calon istri.


"Ouh ini orangnya, calon sudah dikabarkan akan menikah dengan anda Pak Ernest? cantik sekali, salam kenal ya..!!," istri bapak Gunawan menjabat tangan Jovi.


"Iya ibu salam kenal juga." Jovi tersenyum, membungkuk'kan badan.


"Pak Ernest sangat pandai sekali memilih calon istri, saya ibu Mona suami Pak Hartono klient kerjanya Pak Ernest."


"Iya ibu, salam kenal saya Jovi," Jovi tersenyum takut.


Meski kalimatnya memuji namun wajah istri Pak Hartono memang tidak ramah, meski begitu Jovi berpura-pura tetap nyaman.


Kedua rekan kerja Ernest, Pak Gunawan dan Pak Hartono terdengar membicarakan tender proyek baru entah milik siapa. Jovi memanjakan mata, melihat pengantin dari jauh.


"Pak Ernest, katanya sedang membuat project baru dengan PT. Persada Jaya ya?," tanya Pak Gunawan.


"Hmmmb.. ya," Ernest senyum.


"Waaahh, tentu ini akan menjadi mega proyek terbesar di tahun ini Pak Ernest. Wijaya Grup akan menjadi pelopor utama sebagai perusahaan yang andil besar menghargai lapangan," Pak Gunawan sangat semangat.


"Tapi dengar-dengar, PT. Persada Jaya sudah hampir bangkrut, kenapa anda justru memilih perusahaan itu Pak Ernest?," sambung Pak Hartono.


Jovi langsung menoleh. Tak sengaja, perusahaan bernama sama seperti milik papa Jovi di sebut, kakak Aqila itu mendengarkan dengan seksama.


"Aaaa.. bukan, bukan. Kerjasamanya bukan dengan Wijaya Grup, aaa.. dengan PT. W-Jaya," Ernest tidak tenang.


"Ouh iya maksud saya itu. perusahaan Sidoarjo ya kalau tidak salah," Pak Hartono semakin mengejar.


"Iya."


Ernest merasa gerah, ia akhirnya berpamit menuju pengantin berdiri.


"Saya permisi dulu,"


"Ouh iya, silahkan Pak Ernest."


Ernest dan Jovi kemudian pergi. Jovi terlihat tidak memberi reaksi apa-apa. Ia belum sadar dengan obrolan para rekan kerja Ernest tadi.


Suasana gedung sangat terlihat megah. Alunan musik akustik dari band-band lokal, serta dengan hidangan catering tampak di nikmati para tamu undangan.


Kadang Ernest berbisik ke Jovi. Menggoda Jovi, agar mau menggunakan gaun pengantin seperti istri Sandi. Di mana gaun tersebut, belahan dadanya sangat turun ke bawah.


Jovi menampar Ernest, tersenyum tidak mau. Ernest sendiri juga geli melihat gaun-gaun seperti itu.


Semakin berjalan ke tempat pengantin, Jovi mulai merasa aneh. Jovi melihat beberapa tamu, yang di rasa tidak asing lagi bagi dia. Tapi dia lupa, di mana Jovi bertemu.


"Wooeyy.. Ernest, loe baru datang sayang," teriak Kiano.


"Brow.. sini woyyy," Gerald meneriaki.


"Ernest, sini..!!! loe jangan ketinggalan ya," laki-laki lain tiba-tiba menggandeng Ernest naik ke atas.


Jovi membiarkan Ernest di gandeng temannya, laki-laki yang menggandeng Ernest bagi Jovi semakin tidak asing.


Di atas tempat pelaminan, Ernest dan para sahabat foto bersama dengan Sandi dan istrinya. Dari pose cool, sampai pose gendong-gendongan versi mereka.


Mata Jovi terbelalak.


Dag


Dig.


Dugg..


Jantung Jovi berdebar. Tubuhnya panas dingin, melihat wajah Frans, Jovi baru ingat bahwa pesta pernikahan yang di hadiri Jovi adalah teman kampus Ernest.

__ADS_1


Sekarang dia ingat, yang menggandeng Ernest adalah yang terkapar mabuk di tempat reuni saat menjemput Ernest. Belum lagi, wajah Marcel sekarang sangat jelas di ingat Jovi.


Ada mereka semua, tentu ada Fictor.


Pandangan mata Jovi sangat tidak tenang. Bola matanya sering tiba-tiba lari ke samping kanan dan kiri secara cepat.


Jovi ingin menangis, sejak resign dari jabatan sekertaris Jovi memang tidak pernah lagi bertemu Fictor. Tentu ini akan membuat Jovi takut dan tidak tenang.


"Weleehhhh.., ada cinderella kampung ke sini."


Jovi berbalik, melihat siapa yang berbicara seperti itu pada dia.


"Meg.. Meghan."


"Kenapa loe gagap? belum makan loe, sana makan dulu..!! gue saranin, loe jangan kelamaan di acara ini takutnya nanti baju loe auto berubah compang camping, kayak di film cinderella."


Jovi tidak berucap, dia tampak malu sebab ucapan Meghan ke arah Jovi.


"Siapa sih dia?," tanya pacar Gerald di samping Meghan.


"Hahahaha, Ashilla, loe nggak tau dia siapa? susternya Ernest yang sekarang naik pangkat jadi, entahlah jadi apanya?," Meghan tercengir.


"Pacarnya ya? tapi kok gue nggak pernah dengar ya, Ernest cerita-cerita." gumam Ashilla.


"Nah.. pacar nggak sih, kalau udah kayak gitu? kalau pacar kok nggak di akuin ya? Suster Jovi, loe itu cuma lagi hoki, nggak bakal lama kenikmatan yang loe dapetin," Meghan menyungging bibir ke kanan.


"Tapi cantik kok dia, loe udah lama jadi susternya Ernest?," Ashilla penasaran.


"Sejak Ernest kecelakaan sudah ada 3 bulan dengan sekarang," Jovi mencuri pandang, Ernest masih di atas pelaminan.


"Woooeyyy, pembantu medis loe itu tau tata krama nggak sih? Ernest itu majikan loe, yang sopan dong panggil dia, otak loe nggak konsen ya, kurang minum, nih minum nih,"


Meghan menyuruh Jovi minum.


"Meg, Megh, loe jangan anarkis gitu ah, malu-maluin Megh," Ashilla memperingati.


Jovi tetap di paksa, tetapi Jovi menolak. Tangan Jovi menjauhkan gelas, di atas pelaminan Ernest menangkap Meghan bersama dengan Jovi.


"Eh gue turun dulu," Ernest pamit turun.


"Bentar dong brow, nih.. sama Kiano juga yang baru datang, lagi dong," ajak Marcel mendorong Ernest ke jajaran foto.


"Eh tapi itu, Meghan..!!," Ernest menunjuk.


Chheeeesss...


Minuman berwarna merah itu tumpah mengenai lengan dan sebagian baju Jovi.


"Upssss... nggak papa, nggak papa, baju loe terlalu biasa kalau nggak ada perpaduan warna lain, kalau gini kan jadi bervariasi," Meghan tepuk tangan loncat-loncat.


Jovi mengambil tisu. Lengan dan baju dibersihkan cepat.


Buggg..


Pundak Meghan di dorong kasar.


"Siapa sih?," gerutunya.


"Minta maaf nggak loe sama Jovi..!! beraninya sama perempuan, sini sama gue, gue siram wajah loe pakai air keras," suara lantang laki-laki.


"Nggak ada air keras, adanya titiit loe yang keras," Meghan asal.


Ashilla terkejut, Meghan ternyata sebrutal itu.


"Meghan, tenang Megh, ini acara pesta Meghan," Ashilla menenangkan.


"Hihhh.. loe itu, emang dasar ya..!!" amarah laki-laki itu semakin parah.


"Dasarannya gue emang cantik, dasar loe aja yang ngacengg'an," Meghan sakit hati di dorong.


"Mulut loe itu, nggak pernah sekolah ya.?? bobrok amat."


Jovi mulai sadar, ternyata itu Dokter Nalen.


Jovi tau, betapa malunya Dokter Nalen di bilang seperti oleh Meghan. Kemudian Jovi mengajak pergi, sebab wajah Dokter Nalen merah padam menahan marah.


*******************


DI DALAM MOBIL.


Seusai perdebatan Fictor bersama Om Purwo papanya. Laki-laki berjambang tersebut memang meminta Ola menemaninya entah ke mana.


Ola sebenarnya tidak tau, Fictor akan membawa dia ke mana. Di jok mobil bagian depan, wajah Ola bolak-balik melihat Fictor dengan sisa mata merahnya.


"Fic, loe udah tenangan?," Ola memberanikan diri bertanya.


"Mata loe nggak lihat, dari tadi gue juga nggak kenapa-napa," nada Fictor sudah kembali galak.


Ola jengkel, tapi dia juga kasihan.


Mata Fictor sudah mengerjap lagi dengan sisa-sisa air.


"Itu kalau di biarkan bisa bengkak Fictor," Ola juga ikut marah-marah.


Diam-diam Ola mengambil tisu di tas.


Tangan Ola berlari ke bagian mata kiri Fictor, menghapus sisa tangis. Sempat tertegun, Fictor tidak percaya, ada perempuan yang masih peduli dengan dia.


Beberapa detik Fictor memandangi Ola tanpa berkedip. Ola yang sadar, menggerakkan cepat tisu ke wajah Fictor "bug, bug, bug, bug."


"Ola, sakit gobloook..!! mata gue udah sakit, malah kerasa kayak lagi loe gampar."


"Ya.. Aaaaa.. iiii-itu nggak sengaja, emang orang kayak loe itu perlu di kasarin biar tobat," Ola membuang muka.

__ADS_1


"Dasaar, perempuan aneh." gerutu Fictor.


__ADS_2