Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
71. Cemburu


__ADS_3

"Tuan.. bilang donk tuan, siapa tuan?."


"Apa urusan kamu? kamu kan bukan siapa-siapa saya.. emang pacar? nggak kan."


"Aaaa... tapi kan? meskipun tidak pacar, tuan pernah bilang begini.. Suster Jovi, ada dan tidaknya suster di samping saya, kamu tetap suster Jovi yang saya cintai. Suster Jovi tetap perempuan pertama yang saya minta menjadi istri saya, kapanpun itu?."


Ernest speechless. Ia tertawa. Jovi mengatakan semua itu sama persis dengan gaya bicara Ernest.


Sangat persis. Sampai cara menatap wajah Ernest pun di lakukan sama oleh Jovi.


"Hahahaha.."


"Ya kan.. tuan ingat kan..?? kalau tuan lupa, apa perlu saya ingatkan itu di mana? di.."


"Enmaru." Ernest Jovi kompak menjawab. Mereka lalu tertawa.


Tidak di sangka, kejadian romantis sebelum pertumpahan air mata pengakuan masih di ingat Jovi. Ernest terharu, ia memeluk Jovi erat.


"Saya tidak menyangka, suster masih mau mengingat kejadian di Enmaru.." ucap Ernest lalu melepas peluk.


Jovi memandangi penuh penasaran. Sikap Ernest saat ini, di nilai Jovi hanya untuk mengalihkan pertanyaan berat dari perempuan cantik tersebut.


"Terus pernah nggak?."


Ernest senyum penuh arti. Baru di bohongi Ernest sedikit saja, Jovi nampak panik.


"Nggak lah."


Jawaban Ernest sangat santai. Matanya tidak mengisyaratkan sesuatu. Jovi menyudutkan tidak percaya.


"Nggak mungkin."


"Suster tanya kan tadi?."


"Iya tanya." Jovi mengangguk.


"Lha iya, sekarang itu jawabannya..!! hahaha lucu ya.. CEO seganteng putra Tuan Toni gini masih perjaka."


"Ya bukan lucu, tapi itu memang harus.." Jovi menoyor kepala Ernest.


"Aduuuh.."


"Tapi iya, ini benar Suster Jovi.. saya tidak mengada-ngada..!! sungguh, yang saya katakan adalah benar."


"Hmmm..." lirik Jovi sinis.


Suasana mulai berubah. Saat Ernest mengingat petuah orang tua perempuan, sudah meninggalkannya pergi. Istri Toni Wijaya.


"Karena dulu, waktu mama masih hidup. Beliau bilang seperti ini. Ernest kalau kamu jadi laki-laki, berarti kamu adalah pemimpin untuk diri kamu sendiri, juga untuk calon istri kamu kelak. Kamu Ernest, harus bisa menjaga diri kamu sendiri, sekarang kamu sudah menjadi seorang CEO besar di kota ini..!! Bukan hanya di Surabaya, tapi Jakarta, Medan, Semarang, Sumatra, dan lainnya."


Bagaimana suara mama Ernest menasehati putra tercintanya tersebut membubuhi tanda mata.


"Sekarang publik mulai mengenal kamu nak. Nama kamu akan ada di mana-mana, kamu akan menjadi sorotan.. Mama tidak mau dengar, anak mama meniduri seorang perempuan sebelum resmi menikah, begitu kata mamah."


Bola mata selalu bergerak ke bawah, sikap tersebut dapat di artikan. Kejadian dan nasihat mama Ernest benar nyata adanya. Di kenang kembali. Jovi ikut terhanyut.


"Mama mengatakan itu, saat sehari setelah papa melantik dan meresmikan nama saya sebagai Direktur Utama di Wijaya Grup.. Awalnya memang terasa mudah, tapi lama-lama ternyata semakin berat. Hampir setiap hari klient yang di tolak kerjasamanya dengan Wijaya Grup. Wuuh.. mengirimkan wanita-wanita seksi, dunia bisnis itu berat, sadis juga."


Jovi mengangguk percaya. Apalagi Wijaya Grup adalah perusahaan besar dan bonavit. Hanya perusahaan high class mampu bekerjasama.


Semesta Grup perusahaan milik Fictor, beberapa kali juga mendapat tawaran sama. Tidur dengan perempuan kiriman, lalu menyetujui kerja sama proyek.


Semua seperti sudah menjadi rahasia umum bagi CEO CEO besar dalam dunia bisnis.


"Suster pasti tau, bagaimana beratnya godaan menjadi CEO.. Dunia malam selalu jadi makanan sehari-hari. Dalam negri, luar negri semua tipikal klient tetap sama. Perempuan cantik kalau saya mau, sudah ratusan yang saya tiduri."


Ernest sedikit tertawa.


Kejadian saat ada salah satu perusahaan, menawarkan wanita cantik tidur dengan Ernest. Lalu berharap menyetujui kerja sama, ternyata perempuan itu teman kuliah Ernest sendiri.


"Tapi kalau dengan Meghan? bagaimana? Meghan mantan kekasih Tuan Ernest, Meghan berbeda dengan perempuan lain. Kalian pernah punya masa lalu."


Jovi belum terima. Ia berharap tidak ada sesuatu terjadi dengan Ernest di masa lalu. Kadang Jovi membandingkan, sosok Meghan, lalu dengan masa pacaran.


Pikirannya buyar. Jovi tidak bisa tenang.


"Yang santai dong kalau tanya, serius amat."

__ADS_1


"Apa sih? orang tanya seperti ini kan wajar." seketika Jovi membuang muka.


"Iya.. iya.. jangan ngambek." Ernest mengusap kepala. Menaruh dagu di samping pelipis mata Jovi.


"Kalau Meghan sih? pacaran sama Meghan memang penuh cobaan."


"Ya kan?." Jovi mengendus sebuah kebohongan. Padahal belum selesai Ernest menjelaskan.


"Ya kan apa? kan saya cerita belum selesai."


"Pasti juga Meghan masih jadi mantan terindah, Tuan juga bakalan tetap jadi spesies Magamon." Gerutu Jovi. Ernest mengernyitkan dahi.


"Apa itu Magamon? kok saya nggak pernah denger."


"Manusia gagal move on." Jovi menjelasi, mukanya geram.


"Hahaha.. dapat dari mana itu? saya baru denger, lucu ya?." Ernest tertawa.


"Nggak, biasa aja."


"Aku juga punya, Suster jangan jadi Maperu ya? tau nggak maperu?."


"Nggak."


"Maperu, manusia pencuri hatiku hahaha.. lucu nggak?."


"Nggak."


Ernest memperhatikan Jovi.


"Pasti.. jadi begini kan?."


Setiap membahas Meghan nada Jovi selalu ketus. Ernest selalu serba salah di posisinya. Topik Meghan pasti berhasil membuat mereka berdua bertengkar.


Laki-laki tampan tersebut menghela nafas dalam-dalam. Membuang pelan.


Bibir Jovi hampir sama ukuran dengan bibir Tukul Arwana. 5 cm lebih ke depan.


"Lain kali nggak usah bahas Meghan aja lah, dari pada begini terus."


Ernest beranjak pergi.


Mata Jovi langsung mengikuti ke arah laki-laki tampan tersebut pergi. Raut wajah Jovi mendadak panik. Tetapi, berubah lagi karena tau Ernest kembali lagi.


Ernest mendudukkan diri ke sofa. Ia membalik tubuh Jovi. Perempuan cantik yang dari tadi terlihat tidak sudi menghadap ke arah Ernest.


Kepala Jovi menunduk. Ernest membiarkan. Ia mencoba menjelaskan lagi tentang masalah Meghan.


"Ini yang terakhir saya cerita Meghan."


Tidak menjawab, tapi Jovi dengar. Jarum jam lah yang mampu bersuara menemani Ernest.


"Dulu Meghan sering mengajak saya ke apartemen dia. Biasanya setelah saya mengantar pulang dia dari kantor, Meghan selalu menawari mampir. Kadang mampir, kadang nggak. Memang kan kita pada saat itu pacaran, jadi kita kadang makan di luar bersama. Wajar kan seperti itu."


"Tapi nggak perlu lah di jelaskan se detail itu."


Jovi jawab menggerutu. Ernest melirik. Ia cukup mampu memegangi kepala, takut meletus.


"Masih salah lagi." keluh Ernest.


"Nanti kalau saya langsung cerita intinya, pasti tanya awalnya gimana? sekarang di ceritain dari awal biar nggak tanya, ternyata masih salah."


"Tau kok tau, kalau tuan romantis."


"Arrrrgggghh.. Suster...!!! pening saya."


Ernest langsung diam membisu. Jovi tetap keukeh, ia juga tidak mau berbicara.


Di sini laki-laki yang mengalah, Ernest memulai pembicaraan lagi. Sekarang langsung ke intinya.


Mereka berdua di dalam kamar. Ernest tidak mau Jovi berlarut cemburu seperti anak SMA.


"Kenapa saya bilang penuh cobaan? karena setiap saya mampir, Meghan selalu menggodai saya dengan baju-baju dia yang seksi ketika saya ada di apartemen. Apalagi dia kan memang selama ini lebih agresif di banding saya. Tapi dia tau kok, saya tidak mau melakukan hal itu sampai ke sana.. karena saya juga pernah cerita tentang kata mendiang mama, dan kami berniat menikah itu."


"Kucing di kasih ikan mana mungkin nolak? kadang durinya aja di makan, apalagi dagingnya."


"Kuuucinggg lagi yang salah," kesal Ernest sudah di ubun-ubun.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Aqila kakak kamu rewel sekali.. dia lebih rewel dari pada kamu waktu minta barbie ke Om Ernest."


Ia berbicara sendiri. Ernest membuang nafas, menstabilkan emosi.


"Namanya laki-laki, munafiklah kalau tidak menjamah. masih menjamah tapi dalam konteks yang wajar.. Lagian dulu balapan lebih jadi hobi saya, dan clubbing malam, jadi saat-saat seperti itu sangat susah di ambil Meghan. habis nganter Meghan kumpul sama Frans dan lainnya."


"Buktinya juga tadi hampir lepas kontrol?." bantah Jovi lagi.


Untuk bantahan ini, Ernest menerima.


"Di usia saya yang semakin dewasa. Jujur pertahanan saya semakin lemah, tidak bisa di pungkiri di usia dewasa syahwat laki-laki, masa reproduksi kita sudah waktunya menetaskan telur-telur baru. Mencintai kamu, tapi Suster Jovi ? menunda kan ?."


Kamar yang di huni mereka tampak sunyi. Tak ada suara. Kecuali tenggorokan Ernest sedang ber-dehem.


Ernest melihati lagi Jovi. Ia mengambil kepala Jovi agar melihat ke arah laki-laki tampan tersebut.


Ernest menatap pas, bola mata Jovi tidak bisa lari lagi. Tajam mata putra tampan Tuan Toni menguatkan ketakutan Jovi.


Tidak berakhir dengan pelukan. Ernest terlihat garang. Dua tangannya memegangi pundak Jovi. Ia mencoba lagi berbicara dengan hati.


"Suster Jovi, berapa kali saya mengatakan mencintai kamu, berapa kali saya mencoba meyakinkan kamu, tapi kamu?? kamu selalu menggantung saya.. kamu cemburu, kamu cinta, tapi kenapa? rasanya kamu tidak punya keberanian banyak untuk berada di samping saya."


Jovi terdiam. Ernest mengubah tangannya berada pada kedua pipi perempuan cantik tersebut.


"Suster Jovi, apa kamu tidak pernah punya ketakutan? apa kamu tidak takut kehilangan saya? jika kita tanpa ikatan seperti ini. Apa kamu tidak khawatir, suatu saat ada di antara kita yang pergi lagi?."


Jovi tidak menjawab. Lidah mendadak kaku. Pita suara tidak mengeluarkan apa-apa. Jovi hanya menengguk air ludahnya sendiri.


"Suster Jovi, kita berdua sudah dewasa. Jujur saya tidak mau berlama-lama seperti ini. Dalam kondisi gelisah, selalu di hantui ketakutan, sama-sama takut kehilangan, tapi seolah memberi celah untuk saling melepaskan. Saya ingin dalam waktu dekat ini bertemu orang tua kamu, saya ingin mereka tahu, bahwa ada laki-laki yang mencintai anak gadisnya selama ini."


Jovi memeluk Ernest. Tiba-tiba butir air matanya mengalir. Ia tidak bisa menjelaskan perasaanya. Jovi berada pada hati yang kalut.


Perempuan cantik tersebut sebetulnya tidak mau, Ernest masuk ke dalam hidup bernotaben susah. Di cintai putra tunggal Wijaya menjadi beban berat bagi Jovi.


"Saya takut tuan, saya sebenarnya takut.. jika nanti saya menikah dengan Tuan Ernest akan ada pembicaraan banyak dari orang lain, keluarga saya hanya mencari sandaran pada orang kaya. Saya merasa tidak pantas berada di samping tuan."


Jovi menangis. Ia memeluk Ernest. Sangat susah, merubah stigma pemikiran putra Pak Yusuf.


"Huussst.. kita yang menikah, kita yang menjalani.. Kenapa memikirkan mereka? mereka bukan bagian dari kita? biarkan saja..!! Suster Jovi, cinta tidak pernah memandang kasta, saya mencintai Suster Jovi karena kepribadian bukan karena kekayaan. Harta tidak di bawa mati, tapi cinta saya abadi."


Tidak bermain perempuan, akan tetapi ucapan Ernest selalu menenangkan.


Jovi merasa beruntung, tidak percaya di cintai oleh laki-laki, di mana ia dulu mengenalnya karena rencana jahat Fictor.


Tuhan tidak pernah tidur, di balik setiap cobaan pasti akan ada hikmahnya. Semua air mata, perlahan di ganti oleh tangis kebahagiaan.


Lagi-lagi Ernest menyeka air mata Jovi. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Acara berita sudah berubah talk show. Hari sudah malam.


Ernest meminta Jovi agar segera pulang.


"Suster Jovi ini sudah malam, Suster pulang ya..!! maaf jadi kemaleman kan."


Ernest mengambil kontak mobil, tadi di ambil saat bertengkar dengan Jovi.


"Iya tuan, kalau begitu saya pamit permisi ke dapur dulu terus pulang."


"Pulangnya naik apa?."


"Naik taksi tuan."


Jawabannya pelan. Ernest tidak tega terus-terusan melihat Jovi berada di posisi berjuang sendiri. Perusahaan Pak Yusuf tidak berdaya, membayar beli mobil baru.


Berbanding terbalik dengan Ernest. Mobil yang tinggal pilih, sopir yang tinggal tunjuk. Tuhan memberi porsi kehidupan berbeda, antara dua insan sedang mencinta.


"Pulang bawa mobil saya saja. Jangan di kembalikan."


Ernest memberi kontak mobil. Kunci nya tidak asing pada indra penglihatan perempuan cantik tersebut. Jovi mengamati itu kunci mobilnya.


"Tuan, tapi ini mobil tuan sekarang? maksudnya jangan di kembalikan."


"Suster, selama Suster Jovi belum bisa membeli kendaraan baru, saya tidak mau kunci mobil itu di berikan lagi pada saya.. Anggap saja itu adalah fasilitas kendaraan dari saya untuk Suster Jovi."


"Tapi tuan? saya belum bisa beli mobil sekarang dan saya,"


"Sudah, jangan tapi tapi'an, sudah malam.. ayooo saya antar keluar..!! biar Bik Yuni yang membereskan piring ini nanti."


"Terima kasih banyak tuan." Jovi mengiyakan.

__ADS_1


Jovi tidak menyangka bisa menaiki mobil kesayangannya lagi. Ia keluar di antar Ernest mengambil mobil di garasi.


__ADS_2