Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
55. Dokter Nalen Dan Cintanya


__ADS_3

Laki-laki itu mengenakan celana putih, warnanya senada dengan yang di kenakan Jovi. Baju kemejanya, berwarna hitam tanpa jass dinas, dia adalah Dokter Nalen.


Seorang Dokter yang sudah lama mencintai Jovi namun cintanya di gantungkan tak tentu kapan di pastikan. Sejak kuliah, Dokter Nalen sangat mencintai Jovi.


Semua berawal saat Nalen menjadi dokter tamu di acara kampus Stikes Wijaya, milik Ernest. Kedekatan Jovi dan Nalen memang sudah lebih dari teman, namun tidak ada status yang membuat mereka berdua resmi jadi kekasih.


Sehingga pertemuan tidak sengaja di bus malam ini, begitu membuat bahagia perasaan Nalen. Pasalnya, sudah lama mereka berdua lost contact, setelah Jovi memutuskan tidak menerima cinta Nalen, dan ingin fokus menyelesaikan skripsi pada waktu itu.


"Jovi.."


"Ya.."


"Kenapa kamu masih tetap cantik saja? kuliah maupun kerja, wajah kamu nggak ada bedanya."


Jovi hanya menjawab dengan bermain bola mata.


"Lama yaa kita tidak bertemu, setelah 5 tahun yang lalu kamu masih kuliah, dan pakai seragam putih-putih bareng Ola dan temen-temen."


"Iya," Jovi mengangguk.


"Ngomong-ngomong sekarang kamu kerja di mana? kamu sekarang kelihatannya agak pendiam ya, kenapa?." Nalen membandingkan Jovi dulu dan sekarang.


"Perasaan Dokter Nalen saja mungkin, saya masih seperti dulu hehe, sempat kerja di perusahaan Surabaya, tapi sekarang saya sudah keluar Dok."


"Di perusahaan? kenapa tidak di rumah sakit? katanya dulu cita-cita nya pengen jadi perawat di rumah sakit Wijaya, di ajak ke RS Intan Medika aja nggak mau," pandangan Nalen teduh ke arah Jovi.


"Masih ingat saja Dok." ucapnya malu.


"Sudah makan belum? bibir kamu pucat, kurang minum ya hari ini? mata kamu cekung, banyak pikiran juga ya kelihatannya?."


"Aaaa... nan-nantii.. iya nanti sa-ja." tangan Jovi menunjuk pelan.


Bertemu dengan Dokter, tidak bisa membuat Jovi berbohong dengan kondisinya. Profesi Dokter, benar-benar membuat Nalen, bisa membaca penyakit apa saja yang sedang mendera Jovi, kecuali penyakit hati.


Malam ini bus berjalan dengan kecepatan standart, dari jam tangan Jovi baru menunjukkan pukul 19.00, itu berarti butuh waktu 6 jam lagi untuk sampai di Surabaya.


Jovi mulai bisa mengatur detak jantung tubuhnya, setelah tadi detak jantung dari hati perempuan cantik tersebut berdebar kencang. Tanpa sengaja, melihat Nalen langsung duduk di sampingnya.


Tangan Nalen menutup gorden jendela bus, setelah tau, mata Jovi hampir terlalu sering mengerjap, saat lampu penerang jalan memantul masuk ke dalam bus besar bergambar panda itu.


Penampilan Nalen masih tetap seperti dulu, laki-laki tampan tersebut suka mengenakan beberapa gelang coklat diantara jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan Nalen.


Dokter muda teman Dokter Edo itu, tak henti memandangi Jovi sangat lama. Seperti ada sesuatu yang di fikirkan, namun tidak di utarakan pada Jovi. Mungkin karena masa lalu ke dua'nya sehingga Nalen sedikit terbawa suasana.


"Jovi."


"Iya."


"Makan ya? bawa roti? bibir kamu sudah pucat itu, kamu dehidrasi, minum dulu saja, kalau tidak mau makan,"


"I-iya," tangan Jovi mengambil minum.


Tidak lama tangan Dokter Nalen mengambil sesuatu di dalam tasnya. Jovi hanya memandang diam ke arah laki-laki tampan tersebut.


"Sini," pinta Dokter Nalen.


"Apa?."


"Ciiissss....," ada rasa dingin di bibir Jovi.


Nampaknya Nalen mengolesi bibir Jovi atas bawah dengan vitamin bibir.


Tidak bertahan lama, Jovi langsung menarik tangan Nalen.


"Sudah Dok, nggak usah, bibir saya sudah lembab, ma-makasih." ucapnya nampak tidak enak.


"Biar bibir kamu ada vitaminnya, kalau sudah kering kulit memerlukan vitamin cukup, jangan sepele'kan kesehatan, ya?."


"Iya Dokter Nalen," jawab Jovi mengangguk.


Meski 5 tahun sudah berselang, nampaknya kasih sayang Nalen tidak luntur begitu saja. Pekerjaan, dan kehidupan yang susah mereka berdua lalui sendiri, tidak membuat Nalen melupakan suster cantik Ernest itu.


Nalen melihat, pangkuan paha Jovi hanya membawa roti sisir tidak enak, itupun bungkusnya sudah tertempel margarin, seperti tidak fresh.


Nalen mengambilnya.


Roti di tukar dengan sebungkus roti sobek sari roti ukuran besar.


"Makan ini saja..!! ini rasa coklat kok, kesukaan kamu."


"Kreeek..," bungkus sudah di buka tangan Dokter tampan tersebut.


"Terima kasih Dokter." Jovi memberi senyum.


"Makan banyak ya..!! kamu sudah dewasa Jov," Nalen mengusap rambut Jovi.


Jovi merasa tidak enak, Dokter Nalen tetap menganggap dia sebagai perempuan yang di cintainya.


Dokter Nalen sama sekali tidak lupa, dengan apa yang menjadi kebiasaan kakak Aqila di masa lalu. Semua masih di ingat Nalen dengan jelas, tidak tenggelam, bahkan tidak hilang.


Sementara setiap sobekan roti dari tangan Jovi, perlahan, satu demi satu, di nikmati lambung lapar, yang sudah meraung dari tadi. Jovi baru mengisi perutnya, sejak dari tadi pagi.


Makan malam seadanya di dalam bus, tidak jadi masalah besar untuk perempuan cantik tersebut. Maag di perut sudah mulai mereda, setelah campur tangan dari Dokter Nalen untuk Jovi.


Tetapi tubuh Jovi masih bersuhu hangat, badannya terasa kelelahan, akibat bolak balik Jakarta Surabaya. Tenaga dan fikiran, habis untuk menghadapi masalah.


Jovi menikmati roti.


Makan roti, Jovi tiba-tiba teringat Ernest. Tepat malam kemarin, pukul 19.00 lamunan Jovi berjalan mengingat kembali restoran Enmaru.


Ajakan lamaran, dinner dengan menu makanan jepang, serta suguhan pandangan indah lewat kaca restoran tanpa permisi, masuk mengingatkan dirinya kembali.


Kunyahan roti di mulut, mendadak pelan, tak secepat beberapa menit sebelumnya. Jantung Jovi terasa sakit, tapi sakitnya tidak bisa di gambarkan lewat kata-kata.


Sedih Jovi tak kuasa, saat mengingat Ernest sedang sendiri di Jakarta.


"Tuan Ernest, apa tuan sudah pulang meeting? tuan makan malam dengan siapa? apakah Tuan Ernest masih ingat saya?," bibir Jovi menurun, mata indahnya berkaca-kaca.

__ADS_1


Kenangan itu, saat di Jakarta.


FLASHBACK ON.


"Kalau hanya untuk ke Enmaru, besok sore saya ajak suster balik ke sini, biar suster juga bisa melihat indahnya senja di sore hari."


"Iya, setelah saya pulang meeting tapi ya..?."


"Baik tuan."


FLASHBACK OFF.


"Janji itu? semua benar-benar manis, harusnya kita menikmati senja, bukan kembali ke Surabaya, skenario Tuhan mungkin salah,"


Jovi melamun.


Senyum Ernest, suasana Restoran Enmaru, tawa girang Jovi saat di restoran itu sendiri, mendera kepala tidak sungkan lagi.


Sebelum pengakuan itu, Ernest sangat baik. Sikap cintanya, perhatiannya hanya benar-benar untuk Jovi. Tawa girang di dalam mobil karena anak kecil, nampak mengajak kesedihan Jovi berlarut.


Mata indahnya mengalirkan air mata ke pipi. Jovi mengingat jelas, bagaimana janji baik tuan tampan'nya tersebut mengajak Jovi kembali ke Enmaru.


Tangan Jovi mendadak kaku, roti sudah tidak bisa lagi dirasakan nikmat oleh mulutnya. Perempuan cantik tersebut sangat merindukan Ernest.


FLASH BACK ON


Restoran Enmaru.


"Seandainya kita diberi untuk mengulang lagi waktu, apa yang mau suster lakukan?."


"Saya ingin kembali di masa kuliah, saya tidak mau berada di masa ini, masa-masa yang menurut saya terlalu berat, masa pendewasaan yang begitu melelahkan."


"Hahaha.. beratnya pasti karena akan melepas kepergian saya kan?," canda Ernest.


"Hehehe tuan bisa saja."


FLASHBACK OFF.


Saat itu, masih pada tempat yang sama di Restoran Enmaru, manisnya senyum Ernest masih dapat di lihat. Jovi masih ingat jelas, bagaimana cara Ernest tersenyum saat mengatai Jovi, jika suster cantiknya itu, berat melepaskan semua, karena Ernest.


Tersipu wajah Jovi, tampaknya juga tidak di lupakan oleh perempuan cantik tersebut. Se sesak itu, melepaskan orang yang sedang di cintainya. Hanya karena misi di masa lalu.


"Kenapa harus anda Tuan, orang yang kamu cintai Jov? kamu tidak pantas untuk tuan Ernest, kalian berbeda, kalian tidak untuk bersama, kuat Jovi, kuat, Tuan Ernest akan hilang dengan sendirinya waktu.,"


Jovi menangis.


Matanya terpejam lebih sering, sakit hati, dan rindunya sama-sama besar.


Malam ini, tak ubahnya tetap membuat Jovi sebagai perempuan pendosa. Hatinya luluh lantak, Jovi tidak hanya mengingat kejadian di Restoran Enmaru saja. Bagaimana baiknya Ernest, muncul lebih sering tanpa di komando.


Walaupun ada banyak sakit hati yang di torehkan oleh CEO muda Wijaya grup tersebut, namun semua tidak menutupi kebaikan Ernest.


Jovi hanya perempuan biasa, sekuat apapun menghindar, cintanya pada Ernest akan tetap membersamai, tergantung waktu.


Saat ini, bayang-bayang Ernest masih terlalu kuat untuk di tepis, setelah kepulangan Jovi dari Jakarta.


Lamunan di perjalanan menuju ke Surabaya, mengajak Jovi mengingat awal pertama kali, bagaimana gemetar tubuhnya saat melihat Ernest membuang para pelamar yang berdandan menor.


Semua kenangan bersama Ernest, manis asam menjadi suster untuk tuan muda, melukis di setiap bola mata perempuan cantik tersebut. Ingatan, saat Ernest membela tegas Jovi di hadapan papa'nya juga terlintas.


Semua hanya tinggal kenangan.


Jovi menangis.


FLASHBACK ON


Ruang Berkas pada waktu itu.


"Tuan, ayoo keluar, saya takut, tuan ayo keluar, saya takut."


"Iya iya suster, sebentar, kita belum bisa keluar suster, ini masih mati lampu," Ernest dicengkram pelukan hebat.


"Nggak mau, aku mau keluar, mama tolong Jovi ma," tangisnya mulai membasahi wajah.


"Jovi mau keluar tuan, Jovi nggak mau disini, ayooo tuan, hiks.. hiks..," suara serak Jovi menarik baju Ernest.


"Iya iya, tenang suster, suster suster, ada saya sus, disini ada saya," Ernest juga ikutan gugup.


"Huaa... pulang," Jovi histeris.


"Ya ampun suster, kamu ini kenapa? suster jangan bikin saya panik, ya Tuhan," Ernest mendekap erat Jovi khawatir.


"Hiks.. hiks.. pulang tuan," hanya itu terus yang dikatakan Jovi.


FLASHBACK OFF.


Ruang berkas juga menyisakan kenangan, semua memori saat terjebak di dalam ruang berkas karena mati lampu, tak ubahnya seperti bambu menancap hati pas di tengah dada.


Sangat sakit.


Terasa sesak.


Meng'ulu di hati.


Paniknya suara Ernest, terasa seperti ikut menyulap telinga Jovi, bahwa Ernest ikut berada di dalam bus. Padahal semua hanya ilusi, tak bertepi dan tak akan mampu berjalan pasti.


Jovi tidak bisa begitu saja membuang setiap kenangan bersama Ernest, ternyata itu tidak semudah yang di bayangkan olehnya. Ernest dan kenangannya, mengukir indah.


"Mungkinkah masih bisa bertemu Tuan Ernest? tidak mungkin."


Jovi menjawab sendiri.


Nalen yang baru sadar, Jovi sedang menangis, setelah beberapa menit meninggalkan Jovi dengan telepon genggamnya untuk urusan pekerjaan. Dokter bedah RS Intan Medika tersebut, langsung mengembalikan ponsel ke saku.


"Jovi, kenapa menangis? apa yang sakit? pusing? maag kamu kambuh?."


Jovi menundukkan kepala, menipu Nalen percaya. Karena semakin Jovi mengatakan tidak, Nalen akan tetap terus bertanya.

__ADS_1


Dokter Nalen mengecek suhu di kening Jovi.


"Badan kamu hangat, kemungkinan suhu tubuh sudah naik 38°, kamu demam Jovi."


Dokter Nalen meng genggam tangan kanan dan kiri Jovi bergantian.


"Tangan kamu dingin, kamu sedang cemas, kamu habis kaget ya, tenang ya..!!." Nalen mengusap lembut kepala Jovi.


"Habiskan dulu rotinya."


"Nggak mau."


"Oke.. oke.. ya sudah."


Dokter Nalen menidurkan kepala Jovi ke arah pundaknya.


Leher Jovi terasa hangat.


"Minum, minum dulu..!! ada paracetamol, kamu minum ya? nanti biar reda, aku bawa."


Jovi menuruti, karena tubuhnya sedang tidak enak badan.


"Jovi, Jovi, kamu ini tetap tidak berubah ya.. sudah besar, sudah harus mawas diri, jaga pola makannya, biar nggak sakit."


Nalen melingkarkan lengan tangannya di belakang leher Jovi. Sedang untuk tangan satunya, dokter tampan tersebut memegangi kening Jovi.


"Tidak papa Dok."


"Tidak papa gimana? kalau di biarkan kamu bisa kena typus, ini sudah mendekati gejala tipes."


"Nanti juga sembuh sendiri."


"Nggak boleh begitu, pernah kuliah jadi perawat kok ngomongnya gitu, yang sehat ya? jangan sakit-sakit, anak manja."


Ucapan Dokter Nalen nampak di biarkan begitu saja oleh Jovi. Nalen tidak tau, kehidupan Jovi sudah berubah 360° tidak se manja saat kuliah dulu. Hidup sudah harus mengajaknya tegar.


"Jovi, Jovi, saya sangat senang bisa bertemu kamu kembali." Nalen mencuri pelukan saat mata Jovi sudah terlelap.


Kerinduannya.


Cintanya.


Masih bersemayam di hati Dokter Nalen.


Malam ini, perjalanan ke Surabaya, tak ubah menyulap Nalen sebagai dokter pribadi untuk suster cantik tersebut. Pukul sudah menunjukkan 20.30 malam, masih ada 3 jam lagi perjalanan.


Bus nampak lenggang. Penumpang juga banyak yang sedang mengistirahatkan diri, untuk kembali ke kotanya.


**********************


RUANG MEETING, BALL ROOM HOTEL MONELIS.


Masih di Jakarta, Ernest baru saja terlihat keluar pintu dari meeting seharian dengan Mr. Bram, general manager PT. Jyco.


Senyum manis Ernest tampak membuatnya lebih terlihat sangat tampan. Ternyata, ada keberhasilan besar yang di hasilkan Ernest bersama dengan PT'nya.


Kesungguhan Ernest dalam mengurus bisnis, mengharuskan dirinya untuk pulang malam dari meeting kerjasama pembahasan proyek-proyek besar. Guna lebih mengibarkan sayap bisnis Wijaya Grup di kancah dunia.


Mr. Bram, laki-laki bule yang juga sering di jumpai Jovi saat meeting, berjalan keluar membersamai Ernest.


Kepuasan dari presentasi yang di sajikan oleh PT. Wijaya Grup, sangat memuaskan Mr. Bram, sehingga kerjasama proyek baru sudah ada di tangan perusahaan Ernest.


"I feel happy with the results of the presentation from PT. Wijaya Group for projects that we will work on together," Mr. Bram tersenyum.


(Saya merasa senang dengan hasil presentasi dari PT. Wijaya Grup untuk proyek-proyek yang akan kita kerjakan bersama)


"I'am also happy, did not expect PT. Jyco to cooperate with PT. Wijaya Group, thank you Mr. Bram, for having great trust in PT. Wijaya Grup, we will give our best to PT. Jyco." Ernest menjabat tangan Mr. Bram.


(Saya juga senang, tidak menyangka PT. Jyco mau bekerja sama dengan Wijaya Grup, terima kasih Mr. Bram, sudah percaya besar kepada PT. Wijaya Grup, kami akan memberi yang terbaik untuk PT. Jyco)


"Yes, yes, i'm sure of that, Wijaya Group will be able to do everything, even better than the Semesta Grup, that's our hope." Mr Bram geleng kepala sembari tersenyum.


(Ya, ya, saya yakin itu, Wijaya Grup akan bisa melakukan semua, bahkan lebih baik di atas Semesta Grup, itu harapan kami)


"Certainly," Ernest tersenyum.


"Actually, I really miss the secretary of PT. Semesta Grup, I haven't seen Jovi in a meeting for a long time," raut wajah Mr. Bram sedih.


(Sebetulnya saya benar-benar merindukan sekertaris PT. Semesta Grup, sudah lama saya tidak lihat Jovi ikut meeting).


"Really..??"


"Yes of course, why?."


"Aaaa.. it's okay."


Penerjemah Mr. Bram baru datang, Ernest langsung mengubah bahasanya.


Mr Bram mengatakan "Saya dengar Jovi sudah tidak bekerja di sana lagi.? saya jadi sedih, saya merasa kehilangan kompas bisnis karena tidak ada dia."


Raut wajah Mr. Bram memang terlihat sedih.


"Why..? what's wrong with Jovi?." Ernest melihat Mr. Bram.


Mr. Bram bilang "Karena melihat Jovi, saya seperti merasa punya kompas, di mana banyak persaingan bisnis yang kejam, dan sekertaris Semesta Grup itu, mampu meyakinkan saya, apabila PT.nya patut di percaya."


Mr Bram menambahkan, "Dia perempuan yang cantik, sayang Mr. Bram tidak bisa lagu bertemu sekertaris PT itu lagi, karena sudah keluar."


"Ouh, yes Mr.Bram, thanks for information,"


"Yes, you're welcome." Mr. Bram tersenyum.


Karena hari sudah malam, meeting juga sudah selesai. Mengajak Mr. Bram harus pergi, dan meninggalkan Ernest berpamit kembali ke hotel. Ernest pun juga turut kembali ke apartemen.


Informasi dari Mr. Bram yang pernah bekerja sama lama dengan Semesta Grup benar-benar mengatakan bahwa Jovi sudah resign dari kantor.


Ernest merasakan getar dada yang tiba-tiba sesak, pikirannya masih linglung sebab ucapan dari Mr. Bram sepulang dari meeting.

__ADS_1


__ADS_2