Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
20. Rencana Kontrol Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Hujan badai semalam suntuk, yang mengguyur area perumahan tempat tinggal Tuan Toni. masih menyisakan sisa-sisa rintikan air hujan, diluar pelataran rumah Tuan kaya raya tersebut.


Suara adzan subuh dengan indah, mulai menggelitik masuk kedalam setiap lubang ventilasi rumah Tuan Toni. Untuk membangunkan dengan cepat seluruh bibi-bibi yang menghandle pekerjaan didapur.


Kekeliruan menyiapkan hidangan makanan yang dilakukan Jovi, hingga mengakibatkan alergi Ernest kambuh, Semakin memperketat peraturan dirumah besar itu.


Para asisten rumah tangga terlihat berbondong-bondong, mencoba meminimalisir setiap pekerjaan yang rentan dengan kesehatan Ernest.


Jam dinding besar pada pojok ruang tengah yang biasa digunakan Tuan Toni bersantai menunjukkan pukul 04.15.


Apalagi ditambah suara telenan dan pisau potong yang berhasil menciptakan komposisi indah ditelinga Jovi pagi itu. Berhasil mengajak Jovi membuka mata lalu mendudukan diri.


"Pak Fictor, maaf saya baru bisa menghubungi.. kemarin setelah Pak Fictor telpon, alergi Pak Ernest kambuh karena saya salah mengambil hidangan. Malamnya pak Ernest terkena hipotermia.." (Isi whatsapp Jovi pada Fictor)


Jemari tangan perempuan bermuka bantal itu melayar lancar ke setiap kata yang akan Jovi tulis. Tangan-tangan lentik itu seolah menurut oleh apa yang diperintakan sang pemilik ponsel.


Dipagi sebuta inilah Jovi memiliki waktu untuk menghubungi Fictor. Tangganya dengan cepat mengetik, sesuai apa yang diperintahkan oleh pikirannya. Membohongi Fictor adalah pilihan Jovi.


"Pak Fictor, Tuan Ernest sekarang demam tinggi, dan kaki kirinya retak lagi karena habis terpeleset didalam kamar mandi, lalu tulang rusuknya kemarin dicek bengkok 1 dari hasil rontgen Rumah Sakit karena kecelakaan tempo lalu" (Jovi mengirim whatsapp lagi)


Jovi ingat jika Fictor akan selalu bahagia apabila Ernest tidak kunjung membaik. Dengan terpaksa tangan-tangan Jovi memberanikan diri untuk membohongi atasan kejamnya itu.


Meski hal itu memiliki resiko yang besar ketika Fictor tau Jovi membohonginya. Semua sedikit memantik rasa takut, dihati kecil suster Ernest tersebut. Semua menjadi kegalauan.


Namun kembali lagi, Jovi menganggap membohongi Fictor adalah jalan yang terbaik daripada harus mencelakai Ernest. Selama Fictor tidak pernah bertemu Ernest, semuanya akan baik-baik saja dan berjalan lancar.


"Suster Jovi," suara laki-laki memanggil dari luar.


"Iya sebentar," Jovi membawa kakinya keluar kamar.


Terlihat sudah ada Tuan Toni, yang berdiri didepan kamarnya dipagi sebuta ini. Ada apa pagi ini, Jovi sudah dibangunkan oleh suara, orang tua kaya raya tersebut.


Benar saja, jika para asisten rumah tangga membangunkan diri lebih pagi, hal itu karena Tuan Toni sudah memutari ruangan, tidak seperti biasanya.


"Tuan Toni, ada apa tuan?," Jovi mengeklik penutup pintu.


"Suster Jovi, saya baru tau kalau tadi malam Dokter Edo mengirim pesan ke saya."


"Iya tuan, ada apa?."


"Dokter Edo menyuruh Ernest check up ke rumah sakit, sekalian mengecek langsung kondisi alergi Ernest," suara lembut Tuan Toni tidak seperti tadi malam.


"Baik tuan, kalau begitu, saya akan segera membangunkan Tuan Ernest untuk bersiap berangkat check up," Jovi menunduk masih merasa bersalah.


"Tolong, hari ini Ernest tidak usah berangkat ke kantor dulu, saya minta biar dia lebih fokus dengan rawat jalannya."


"Iya tuan, baik."


"Saya minta, Ernest dibawakan bekal lagi saja, karena nanti Dokter Edo sudah melakukan jadwal praktik jam 8 pagi," tutur Tuan Toni.


"Ba-baik tuan," jawab Jovi takut, Tuan Toni membahas lagi kesalahan kemarin pagi.


Perhatian laki-laki paruh baya tersebut, memang betul-betul tidak main-main untuk putra tercintanya. Semua kebutuhan dan apa yang diperlukan Ernest lebih dulu di koreksi dengan Tuan Toni.


Semua itu dilakukan, karena sekarang, Tuan Toni merasa menjadi orang tua tunggal bagi Ernest. Istrinya sudah lebih dulu meninggalkan dua laki-laki yang sangat spesial di hidupnya.


"Ya sudah.. bangunkan saja Ernest suster, biar nanti tidak kesiangan berangkat ke rumah sakit," pintanya lalu meninggalkan Jovi.


"Baik tuan," Jovi mengangguk.


Perginya Tuan Toni, membuat hati Jovi seperti tersiram air segar, yang bisa melegakan diri. Apalagi sikap Tuan Toni tidak lagi menyindir, ataupun membahas lagi bekal sarapan yang salah.

__ADS_1


Tubuh Jovi kembali bersemangat, setelah dirasa Tuan Toni sudah memaafkan dirinya. Orang tua laki-laki Ernest, merasa memberikan sedikit toleransi kepada Jovi, pegawai barunya.


Tubuh tinggi dan kaki jenjang Jovi, melangkah sangat bahagia. Ke kamar laki-laki, yang berhasil mencumbunya tadi malam.


Meski sebetulnya, Jovi juga masih teringat, saat Ernest menciumi bibirnya, namun dia menaruh sikap seperti tidak ada apa-apa. Itu semua di delete langsung, dari fikiran Jovi.


"Selamat pagi Tuan Ernest," Jovi membuka pintu menyapa Ernest.


"Ouh suster," Ernest sudah mendudukan diri disamping ranjang.


"Tuan Ernest, tadi tuan besar bilang, hari ini tuan tidak usah masuk kantor.. karena ada jadwal kontrol ke rumah sakit."


"Heem," Ernest menurut.


"Kelihatannya, hari ini gips ditangan Tuan Ernest, sudah bisa dilepas tuan" katanya memberi kabar bahagia.


"Syukurlah, sudah bosan makan disuapi soalnya." Ernest tersipu malu.


"Hehehe.. iya tuan," jawab Jovi.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan."


Anggukan Ernest menyetujui.


Sebelum mendandani Ernest untuk pergi kontrol ke rumah sakit, dan menghindari lagi, kesalahan hidangan yang dilakukan Jovi. Ia langsung pergi menemui Bik Yuni.


Perempuan cantik masih berbaju kuning, sama seperti tadi malam tersebut, pergi ke dapur terlebih dahulu. Daritadi sudah membuat suara bising, ditelinga dan menjadikan ruangan sedikit bising.


Aroma masakan dari arah dapur, sudah menusuk masuk ke dalam indra penciuman Jovi. Ketika dirinya berjalan ke arah kitchen set, berukuran besar di salah satu ruangan.


Bik Yuni yang juga berada didepan meja makan, melihat Jovi berjalan dan memberikan senyum ke arah Bik Yuni. Sudah lama Jovi, tidak bercengkrama dengan bibi-bibi di dapur, setelah Ernest aktif masuk kantor lagi.


"Iya bibi, ada apa?," ucapnya lalu mendekat.


"Suster, maafkan Bik Yuni ya suster..!! gara-gara Bik Yuni tidak membedakan piring hidangan, suster dimarahin Tuan Toni tadi malam," tangan Bik Yuni merangkul lengan Jovi.


"Ouh itu, nggak papa bibi, itu juga salah Jovi.. Jovi nggak ngecek lebih dulu hidangannya," kata Jovi benar-benar legowo.


"Maaf ya suster.. bibi benar-benar sedih, kemarin dengar suster dimarahin tuan besar," raut wajah Bik Yuni seperti menahan tangis.


"Nggak papa Bik Yuni," Jovi tersenyum merangkul asisten kepercayaan Tuan Toni tersebut.


Kebiasaan mengalah dan sabar Jovi terbawa sampai dia bekerja di rumah Ernest, semua begitu dirasakan para asisten rumah tangga, yang bekerja dirumah Ernest.


Meski Jovi sudah mendapatkan pembelaan dari Ernest, tetapi wajah cantiknya masih mengembang senyum, mengatakan jika dirinya lah yang tetap bersalah.


Bik Yuni dan semua pekerja dirumah Ernest, merasakan, sebagai suster, Jovi tidak pernah semena-mena menyuruh mereka. Apa yang menjadi tugas dan kewajiban Jovi, dilakukannya dengan baik, tanpa merepotkan asisten yang lain.


"Benar ya sus, maafkan bibi," ucapnya masih begitu tidak enak.


"Sudahlah bibi, nggak papa.. Jovi sudah terbiasa seperti itu, biasa dimarahin sama atasan Jovi di kantor," semua keluar dari mulut Jovi tidak sengaja.


"Apa suster? atasan suster? kok di kantor?? apa suster kerjanya dobel ya?," Bik Yuni menanyai balik tak percaya.


Pertanyaan Bik Yuni seketika itu langsung menyadarkan Jovi, jika dirinya sempat keblablasan, dan tak sengaja menceritakan pada bik Yuni.


"A-a bukan gitu maksudnya bik, a-a Jovi udah biasa dimarahin Tuan Ernest waktu ikut ke kantor ke-kemarin, gitu bik," Jovi menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"Ouh.. kalau tuan muda maksudnya?? Yang sabar suster, kalau tuan muda seperti itu."


"Iya bik, Jovi juga menyadari," ucapnya seolah semakin meyakinkan.

__ADS_1


"Sebetulnya meski begitu, Tuan Ernest orangnya lebih lembut, daripada tuan besar suster," jawab Bik Yuni tersenyum.


"Hehehe tuan muda sih biasa seperti itu suster, jangan kaget.., tapi Tuan Ernest setiap marah itu, kalau sudah ya sudah.. beda dengan Tuan Toni..," bisik Bik Lusi juga berada di dapur.


"Hehe i-iyaa bik," jawab Jovi sengaja melukis senyum.


"Tuan Ernest itu, baik suster, cuman memang awalnya saja, mungkin sedikit cuek," tuturnya.


Dan dipagi sebuta ini, Jovi sudah harus membuat dosa dengan menjelek-jelekkan Ernest, agar dirinya masih berada di titik aman penyamarannya sebagai suster.


Beruntung Bik Yuni dan Bik Lusi mempercayai alasan yang dibuat Jovi. Kejadian tidak sengaja tersebut, sudah membuat Jovi dag-dig-dug di dalam hati.


Bibi-bibi dirumah Ernest, nampaknya tidak mau, tuan mudanya dijelek-jelekkan. Apa yang dibilang oleh para bibi-bibi dirumah, dibiarkan saja oleh Jovi, sudah membuatnya sedikit tersenyum.


"Tapi meskipun gitu, Tuan Ernest kan baik banget sama suster.. Pak Rahmat bilang, Tuan Ernest waktu pulang memangku suster ya..??," Goda Bik Yuni.


"Ng-nggak kok bik, cuma saya ketiduran dan itu nggak sengaja," Jovi mencoba mengelak.


"Cieee.. cieee... cieee...," Bik Lusi tak kalah menggodai.


"Umpama iya, juga nggak papa kok suster," mereka tertawa.


"Iya lo suster, Tuan Ernest umpama sama suster juga cocok," tutur Bik Lusi.


"Iya iya betul..," Bik Yuni mengiyakan.


Jovi dan kedua asisten rumah tangga dirumah Tuan Toni, pagi itu sama-sama tertawa. Membuat gelak tawa di antara kebersamaan yang terjadi, menggodai malu, membuat merah muda pipi suster Ernest.


Lalu setelahnya, Jovi kembali ke kamar Ernest, dirinya sudah lebih dulu selesai, mempersiapkan bekal. Dan bersiap berangkat, pergi ke rumah sakit menemani Ernest check up.


Di dalam kamar tuan muda, Jovi mengambil kemeja panjang berwarna biru tosca yang dipilihnya sendiri, tanpa persetujuan dari Ernest terlebih dahulu.


Perlahan tapi pasti perempuan hidung mancung itu, sudah mulai tahu, jika Ernest memiliki hati yang lebih lunak dibanding papanya. Hanya mungkin orang dekatnya saja yang paham.


Dugaan Jovi tidak meleset, laki-laki didepannya itu, mau-mau saja dipilihkan kemeja warna biru tosca oleh dia. Namun semua justru terlihat tampan, karena Ernest memiki warna kulit yang putih.


"Suster, sepertinya tadi malam kamu masuk ke kamar ya?," tanya Ernest.


"Iya tuan, tadi malam saya mengganti baju tuan, dan membersihkan tubuh tuan," Jovi mengambil salep khusus untuk mengobati alergi Ernest.


"Ouh pantas, rasanya kemarin tubuh saya betul-betul kecapek'an, gatal campur kedinginan suster," Ernest mengangkat lengannya.


"Iya tuan, tadi malam tuan sempat terkena hipotermia karena hujan deras," Jovi mengolesi lengan Ernest dengan salep warna hijau.


"Untung saja, saya punya tubuh yang kuat jadi hipotermia'nya pergi sendiri," Ernest memasang wajah sangat percaya diri.


"Ya tuan, biasanya memang hipotermia bisa mereda setelah suhu tidak dingin lagi," jawab Jovi sedang jongkok mengolesi tubuh Ernest.


"Kalau tadi malam aku merasa tubuhku menghangat sendiri.. mungkin karena imunku yang diatas rata-rata ya suster?," tanya Ernest.


"Iya... iya..," Ernest menjawab sendiri.


Jovi tersenyum sembari meratakan cream obat alergi Ernest ketubuh. Dia hanya membiarkan tuan tampannya tersebut membanggakan diri.


Semua itu justru membuat Jovi bahagia, karena Ernest hampir tidak mengingat sama sekali kejadian di waktu malam.


Dari arah atas perut, tangan Jovi mengusap dua bidang dada Ernest mulai kiri, lalu kearah kanan. Sesaat tangan Jovi merasakan indah setiap tubuh Ernest.


Wajar saja jika Meghan selalu tak kuat menahan birahi dan selalu ingin menjamah setiap melihat lekukan tubuh Ernest.


Lengan,leher,pundak dan dada bidang Ernest tidak ada yang luput dari olesan cream, yang sudah dikirimkan Dokter Edo kealamat rumah Ernest. Sesekali Ernest mengangkat tubuh karena merasa geli oleh olesan lembut tangan Jovi.

__ADS_1


__ADS_2