
Semua ruangan dirumah Ernest, sudah terlihat gelap pada setiap sudut. Apalagi setelah para asisten rumah tangga, melaksanakan sholat isya', dan menutup pintu kamar mereka masing-masing.
Tidak ada suara televisi menyala, entah dari arah dapur, maupun ruang tengah dirumah tersebut. Tuan Toni juga sudah tidak ada diruangan, berpindah ke kamar.
Jovi masih terlelap tidur diatas ranjang, tubuhnya masih lengkap, menggunakan baju yang dipakainya tadi pagi. Hanya sepatu di kakinya, sudah terganti, dengan sendal bulu di kakinya.
Wajahnya sangat terlihat lelah, nasibnya mengantar Jovi untuk melakukan apa saja, agar bisa membantu keluarganya. Segera melunasi hutang, bisa hidup normal.
"Kritiik... kriitik.. kritiik..."
Suara gemericik air hujan.
Beberapa tetes air hujan mulai menurun, membasahi sang bumi, mengumpulkan suasana dingin disekujur tubuh Jovi. Lewat kaca jendela kamar, yang belum ditutupnya.
Matanya memulai membuka, setelah rintikan hujan terdengar semakin lebih sering. Sedikit percikan airnya, masuk melewati kaca jendela kamar.
"Kenapa dingin sekali," Jovi terbangun.
"Hujann...," kepalanya menengok ke jendela.
"Pantas saja, dinginnya sampai masuk ke tulang sum-sum," gumamnya lantas berjalan menutup jendela.
Kakinya mengganti sendal jepit, yang menyisip diantara ranjang dan laci lampu tidur. Tangan Jovi mengambil remot AC, untuk menambah suhu AC didalam kamarnya.
Dari suhu 14° diubah Jovi menjadi 21° agar ruang kamar menjadi tidak seberapa dingin, nuansa kamar hampir mirip, dengan kamar Jovi dirumah, ditempatinya belum ada satu bulan.
"Suster Jovi, hujan suster," Pak Rahmat menyapa dari luar jendela.
"Iya Pak Rahmat, ini saya baru tau," Jovi tersenyum diantara tirai yang menutup setengah wajah.
"Baru kok suster, hujannya," tutur Pak Rahmat sebelum akhirnya masuk garasi.
"Iya pak," dia tersenyum.
"Itu, saya dan bapak-bapak yang lainnya, langsung lari suster," Pak Rahmat sempat menunjuk gerombolan disamping pos satpam rumah.
Benar saja hujan semakin lebat, karena langit terlihat sangat gelap. Gerombolan yang dimaksud Pak Rahmat tadi, ternyata ada Pak Eko, Pak Yoyok, Pak Tono.
Mereka semua, berhamburan meninggalkan papan catur, yang baru dirapikan oleh Pak Lukman. Salah satu bapak satpam dirumah tersebut.
"Jadi rindu papa" Batin Jovi saat melihat semua pegawai laki-laki dirumah itu berkerumun.
"Apa dirumah juga sedang hujan ya??, Aqila pasti sedang digodain mama, biar cepat tidur," gumamnya sendirian membayangkan suasana di rumah Jovi.
Ternyata perempuan cantik tersebut, masih setengah hati meninggalkan rumah tercinta. Hujan malam ini. mengantarkan Jovi, merindukan rumahnya kembali.
Tidak disangka, meski mendapat fasilitas serta pelayanan baik dirumah Tuan Toni. Keinginan besar Jovi, agar segera kembali pulang sangat susah ditepis perasaannya.
Tubuh rampingnya mematung, didepan jendela yang sudah di tutup. Malam ini, Jovi sudah mengganti pakaiannya, atasan hijau, dan celana jeans santai ukuran 7/8 memotong diantara betis jenjangnya.
"Ternyata, hidup ikut orang itu tidak enak.. mungkin ini cara Tuhan agar kamu lebih mensyukuri nikmat Tuhan Jov, kalau tidak seperti ini mungkin kamu akan tetap mengkufurkan setiap nikmatnya" Jovi terdiam.
Masa lalu dimana Jovi sangat hidup berkecukupan, melukis jelas pada ingatan. Meski tidak sekaya raya Tuan Toni, tapi hidup Jovi sudah begitu bahagia.
Tetapi semua berubah, setelah bisnis papanya hampir bangkrut, dan memaksa Jovi untuk membantu semua. Tidak ada yang ditebak dalam hidup ini, semua sesuai skenario'nya.
"Bahagialah Jov, setidaknya ini cara Tuhan untuk segera melunasi hutang papa pada Om Purwo" Batin Jovi seolah sedang berdiskusi
Sikap manja Jovi pada saat masih menjadi mahasiswi, tidak pernah lagi tumbuh dalam diri Jovi yang sekarang ini. Yang lebih dewasa dan menerima takdirnya.
Semua berbeda, Jovi yang sekarang tumbuh menjadi seseorang yang penyabar, pekerja keras dan sedikit pendiam. Bicaranya tak banyak, tertutup kepada semua orang.
"Meski kerja dirumah ini, harus stay 24 jam tapi gajinya juga lumayan untuk menyicil hutang papa. Tuan Ernest masih harus sembuh dan mendapat perawatan" Mata Indah Jovi masih memandang hujan malam itu
"Hah.. Tuan Ernest."
"Tuan Ernest, bagaimana keadaannya?."
Jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 20.45 Wib, membuat Jovi berlari. Setelah lamunannya buyar dan sadar, jika dirinya tadi meninggalkan Ernest lebih dulu.
Ketika di ruang tengah bersama Tuan Toni, dan dirinya kemudian malah ketiduran. Jovi menutup pintu kamar dan membuka kamar Ernest.
Lampu ruang tengah sudah dimatikan lama, tidak ada bibi-bibi, yang masih menampakkan diri. Semua terasa sunyi, hanya air hujan yang sebagai pemanisnya.
Jovi mendapati Ernest, tubuhnya masih mengenakan lengkap pakaian kerja dari kantor. Tidurnya terlihat tak kalah pulas.
"Astaga Tuan Ernest."
"Tuan Ernest, belum ganti baju," Jovi terkejut.
Hanya ada jass, yang tertanggal diatas ranjang. Atribut seperti kemeja, dasi, celana, jam tangan, semuanya masih melekat pada tubuh Ernest.
Laki-laki beralis tebal tersebut, nampak terkapar, diatas ranjang dengan wajah sangat tampan.
"Tuan Ernest.. tuan..," Jovi memanggil.
"Tuan.. mari kita ganti baju dulu tuan."
"Tuan ini sudah malam.."
"Tuan Ernest.....," kali ini Jovi berani memegang pipi Ernest membangunkan.
"Euummb..," Ernest masih ditidurnya.
__ADS_1
Setelah tidak berhasil membangunkan Ernest, nampaknya Jovi harus berusaha keras. Membuka pakaian Ernest sendiri, di tengah hujan pada malam ini.
Suasana hujan diluar sana, malah dirasa semakin membabi buta, suara petirnya kadang mengganggu pendengaran Jovi.
Dirinya memulai semuanya, dengan membuka jam tangan, masih melingkar ditangan Ernest. Kemudian jemari tangan Jovi, merusak simpul dasi yang Ernest gunakan. Ditarik pelan dari leher laki-laki tampan tersebut.
Mata Jovi berjalan mengamati, melihat kaki Ernest sudah tidak bersepatu lagi. Dia menebak sendiri, mungkin karena Ernest, sudah melepaskan sendiri sepatunya lebih dulu.
"Tuan bangun tuan..," Jovi mencoba memanggil lagi saat Ernest tidak nyenyak tidur.
Tapi tetap saja, Ernest tidak menyahut.
Satu persatu kancing baju Ernest, dilucuti dari tubuh bidang CEO muda tersebut. Udara dingin dari AC kamar Ernest, semakin merasuk ke tubuh Jovi. Saat ingin menarik baju Ernest dari tubuhnya.
Perempuan cantik itu, merasa begitu kesusahan menarik baju Ernest. Apalagi, ditambah Ernest yang tidak mau terbangun dari tidurnya.
"Tuan... Tuan Ernest bangun sebentar ya..!!," Jovi menarik baju tetap tidak berhasil.
"Tuan..," panggilnya lagi.
"Eemmbbb.. susteer....," matanya membuka lalu menutup lagi.
Kesal, karena masih tidak bisa menarik baju Ernest lepas. Jovi naik ke atas ranjang, agar memudahkan pekerjaannya, dengan harapan bisa kembali tidur.
Jemari tangan Jovi berhasil melepas lengan baju Ernest, dari tangan kanan yang dipasangi gips. Tangan lembut Jovi, menyelundupkan baju, masuk ke bawah tubuh Ernest.
Jovi menarik baju Ernest dari kiri.
"Cleeeeetarrr......."
Suara petir di luar.
"Waaaaaaa..," Jovi berteriak.
Tubuhnya refleks, memeluk setengah tubuh Ernest, yang sudah tidak menggunakan pakaian.
"Mama.. Jovi takut mah," Ucapnya meski yang dipeluk bukan mama.
"Suster Jovi...," Ernest tersentak karena tubuh Jovi.
"Hah?," dia melepaskan tubuh Ernest.
"Kenapa ada disini?," tanya Ernest.
"Tu-tuan.. tuan sudah bangun?," mata Jovi terbelalak.
"euuuhh..," mata Ernest masih malas dibuka.
"Ma-maaf tuan, tadi saya takut sama petir," jawabnya menunduk.
"Hah.. untung Tuan Ernest belum sepenuhnya sadar," ucap Jovi yang tadi sudah ketakutan.
"Tuan ayo bangun..," dia membangunkan.
"Tadi aku belum sem-pat..," Ernest seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Belum sempat apa tuan?."
Tidak ada jawaban lagi, Ernest kembali tidur.
"Tuan Ernest," panggil Jovi tak menyerah.
"Tuan, angkat sedikit pundak tuan, biar saya bisa lepasin bajunya."
Meski tidak ada jawaban, perempuan berbaju santai tersebut. Merasa Ernest sudah mengangkat pundaknya, seperti apa yang diminta Jovi. Memudahkan Jovi, bisa melepas baju kerja Ernest malam itu.
Malam ini hujan masih mengguyur rata, semua terdengar, dari gemericik air yang ada dimana-mana. Perempuan cantik itu, merasa ada yang aneh. Saat melihat tangan Ernest kusut kedinginan.
"Apa jangan-jangan Ernest tadi berjalan sendiri ke kamar mandi?" atau "Ernest sedang terkena hipotermia?" ahhh.. semua mulai mengacaukan fikiran Jovi.
"Tuan.. Tuan Ernest kedinginan?,"
"Tuan Ernest, tua," panggil Jovi mulai khawatir.
"Tuan, tuan habis dari kamar mandi?," Jovi mengamati tangan Ernest.
Ernest terdiam lagi, dengan kepala gelisah diatas bantal putih tidurnya. Padahal Jovi tau, kalau laki-laki tampan tersebut, sudah mulai setengah sadar.
Lagi-lagi Jovi sangat membenci saat-saat seperti ini. Kejadian malam ini sama persis, seperti saat Jovi datang malam-malam dijemput Pak Yoyok.
Malam hari untuk kerumah besar Tuan Toni. Karena pada waktu itu, Ernest habis jatuh dari kamar mandi.
"Tuan Ernest.."
"Dingin suster...," bibir Ernest menyeringai.
"Dingin bagaimana tuan?"
"Saya ambilkan minyak hangat ya?," Jovi menawarkan.
"Tuan Ernest..," panggilnya lagi.
"Nggak usah" Ernest merapatkan bibirnya.
__ADS_1
"Terus apa, saya bawakan air hangat ya tuan?" semua ditawarkan oleh Jovi.
".............." Kosong lagi jawaban Ernest.
Lagi-lagi hanya kata dingin dan beberapa kata, yang terucap dari mulut Ernest. Tubuh laki-laki yang ada diatas ranjang bersama Jovi tersebut, seperti tidak kenapa-napa.
Hanya saja, kenapa Ernest merasakan dingin. semua itu membuat Jovi gelisah. Jovi lalu mengecek kembali tubuh Ernest.
"Wah.. kaki Tuan Ernest kenapa dingin sekali?? badannya juga dingin sekali," gumamnya memegang lengan serta dada Ernest.
"Tangan Tuan Ernest sudah pucat pasi," Jovi baru menyadari jika tangan Ernest sudah memutih.
Sejenak Jovi termenung
"Hah ?? Tubuh Tuan Ernest terkena hipotermia.. ini mungkin karena hujan lebat diluar, dan suhu tubuh Tuan Ernest yang sedang dingin," Ucapnya sendiri.
Jovi mulai menggosok tangan Ernest, menghangatkan tubuh, setelah tau Ernest terkena hipotermia.
"Apa yang harus aku lakuin?," tatap mata Jovi menjadi kebingungan.
"Tuan.. Tuan Ernest..,"
"Tuan Ernest bisa denger saya ndak?," Jovi berbisik pelan.
"Haduhh gimana ini?? tuan.. Tuan Ernest," entah sudah keberapa kali suara Jovi memanggil Ernest.
Jovi semakin khawatir, perempuan cantik itu tidak berani mengadu pada Tuan Toni. Apalagi, beberapa jam lalu Tuan Toni kecewa padanya. Apa yang akan terjadi, jika Jovi mengecewakan orang tua Ernest lagi.
Kemarahan Tuan Toni semakin terbayang, bentakan dan perdebatan yang baru saja Ernest berikan pada Tuan Toni, membuat Jovi dihantui rasa takut.
Jovi mencoba memikirkan, cara lain agar hipotermia Ernest segera pergi. Pikirannya kembali teringat, pada saat masih kuliah dulu.
Salah satu teman Jovi bernama Andika, memberikan pertolongan pertama pada Sania yang terkena hipotermia. Mereka pada saat itu, hanya menggunakan selembar pakaian, dibagian tubuh yang tidak perlu dilihat.
Kejadian tersebut sempat membuat geger anak-anak. Padahal itu memang pertolongan pertama, yang harus dilakukan dalam kondisi terdesak.
Apalagi cerita Sania, yang dicumbu dan dihangatkan tubuhnya oleh pelukan Andika, sekarang langsung mencemari pikiran Jovi.
"Susterr....," Ernest menggenggam erat tangan susternya.
"HAH...!!!," lamunan Jovi buyar.
"Iya tuan," jawabnya
"Bbbrrrrhhhhhh...." Bibir Ernest menggigil
Tidak pikir panjang, Jovi yang duduk diatas ranjang. Nekat membaringkan tubuh disamping Ernest. Walaupun tubuhnya langsung disambut hangat oleh pelukan Ernest, perasaan Jovi begitu tak karu-karuan.
Malam itu, hujan masih sangat lebat. Mungkin karena musim hujan yang terjadi di semester tahun ini.
Tangan Ernest memeluk erat tubuh Jovi, suster gadungan itu juga memeluk tubuh tuan muda begitu rapat.
Ernest menyembunyikan masuk kepalanya, dibawah wajah susternya, tepat dibagian leher Jovi seperti anak kecil. Kadang Jovi juga merasakan, Ernest tidak sengaja mencium leher putihnya.
"Cupp..," Ernest mencium leher.
"Jangaan...," Jovi menjauhkan wajah.
Perasaan Jovi semakin tak karuan, saat Ernest seperti mencoba mencari bibirnya. Padahal Jovi sudah menghindari Ernest, dengan mendongak'kan kepalanya tinggi-tinggi.
"Eeuuuummb...," Ernest mencium hangat lagi leher Jovi.
"Berrrhhhhh.....," wajah Ernest dibenamkan pada pundak suster cantiknya itu.
Ernest mencoba lagi, mencari bibir diatas ketidaksadarannya malam itu. Jovi memejam mata, seolah takut jika Ernest berhasil menemukan bibirnya. Kedua kaki Jovi juga sudah diikat oleh jemari dingin kaki Ernest diatas ranjang.
"Cuuuppp..." (Ernest berhasil mencium bibir Jovi)
Jovi menarik kepala menjauhkan dari Ernest, dengan tubuh yang masih dipeluk hangat oleg Ernest. Kemudian dengan mata terpejam Ernest mencari lagi kemana bibir Jovi tadi.
"Gleeeekkk.." Suara tenggorokan Jovi menelan savilarnya
Ernest berhasil mencium bibir Jovi, bibir laki-laki itu memagut lembut bibir seksi bawah Jovi. Sedotan bibir Ernest mendarat terus tak berhenti-henti, mengganti atas bawah.
Rasanya aliran deras darah tubuh Jovi berdesiran hebat. Semua karena Ernest yang terkena hipotermia, mencari kehangatan.
"Sluuuurrpphh..," suara bibir Ernest.
"Hmmmbb...," Jovi kehabisan nafas.
Bibir Jovi menjadi sangat merah setelah Ernest memaksa mengigit dan menciuminya. Terasa nikmat meski tidak disadari Jovi.
Udara malam dingin itu, semakin membuat Jovi tidak bisa lepas dari ciuman buas dari Ernest. Hipotermia pada tubuh Ernest perlahan berhasil, menjadi stabil turun. Meski udara dingin malam tersebut masih terasa, namun Ernest sudah merasa sangat hangat.
"Mmmmpp...," bibir Ernest menyatu dengan bibir Jovi.
"Euuuuhhhh...," Jovi ingin segera melepaskan tapi tidak berhasil.
Semua terjadi semakin tak terkendali, jauh dari ekpektasi yang berada dipikiran Jovi sebelumnya. Beruntung tidak ada yang mempergoki kejadian malam itu.
Setelah perlahan Ernest menanggalkan bibir perempuan cantik tersebut. Secara cepat, Jovi berlari membangunkan diri.
Ketika tangan putih Ernest mulai memerah, tanda tubuh pasiennya sudah nampak hangat. Semua terjadi malam ini sangat tidak sengaja.
__ADS_1
Apalagi hujan seolah mendukung dua insan tersebut dalam buaian malam yang hangat.