
Mama Jovi datang bersama Aqila. Dokter Nalen terlihat takut, suara kesal yang dilontarkan berharap tidak di dengar mama Jovi.
Sambil merapikan selimut tidur di atas ranjang, Dokter Nalen menampilkan senyum sangat manis. Meski dada masih bar-bar khawatir, sepertinya tidak ada yang mengganjal.
"Eh tante."
"Hai Aqila, cantik sekali sih," Dokter Nalen mencubit pipi Aqila.
Gadis kecil adik kesayangan Jovi tersebut menghapus bekas cubitan Nalen dari pipi. Sembari tidak mau lepas dari pegangan tangan mama Jovi.
"Tidak tante, Jovi hanya mengingau, biasanya seseorang mengigau dalam kondisi tidak sadar, mereka akan terus memanggil seseorang yang terakhir dia temui."
"Memangnya Jovi habis bertemu dengan Ernest?," mama Jovi bertanya balik.
Dokter Nalen juga turut sama-sama kaget.
"Loh, memangnya tante tidak tau."
"Setau tante pagi tadi, Jovi pamit buat pergi ke kantor pos. Jadi tante nggak tau kalau dia ketemuan sama Ernest, aaaa karena kan? eh nggak kok."
Dokter Nalen mengerutkan kening.
"Untuk apa tante, Jovi ke kantor pos?," sebentar Nalen terlihat diam.
"Oooooooo...," kemudian kepalanya mengangguk angguk sendiri.
Mama Jovi mendekati Jovi. Jari-jari mungil Aqila mengikuti gerakan mamahnya mengelus lengan serta bagian tangan.
Wajah cantik yang biasa di lihat, hari ini Jovi nampak tak berdaya. Beberapa usapan lembut penuh cinta membelai tubuh. Aqila tau bahwa kakaknya sakit.
"Mama, kakak Opi kenapa?."
"Kakak Opi sakit sayang, Qila di sini jangan rewel ya?."
"Nanti kalau Aqila nggak rewel, kakak Opi langsung bangun mah?."
Mama Jovi mengangguk kepala.
Tampak seperti orang dewasa, Aqila menurut. Anak kecil tersebut duduk di sofa sambil membawa mainan di pundak berisi tas kecil.
Mama Jovi duduk di samping Jovi.
"Terima kasih Nalen atas semua bantuan kamu. Dari dulu sampai sekarang kamu yang selalu perhatian dengan Jovi."
"Sama-sama tante. Itu sudah menjadi sebagian tugas saya menjadi dokter. Saya sangat tidak tega sekali melihat terakhir kondisi Jovi waktu di kantor Pak Ernest, sangat mengkhawatirkan."
"Tadi sudah firasat, sebelum dia pergi emang badannya sudah panas. Tapi dia nggak ngaku, tante coba suruh di antar papanya juga nggak mau," mama Jovi menceritakan ulang.
"Berarti dari rumah sudah sakit ya tan? ouh Tuhan," Dokter Nalen memegangi kepala.
Mama Jovi melihat penasaran. Raut wajah Dokter Nalen tidak memasang bahagia. Kesedihan sangat tergambar di topeng wajah Nalen.
"Ada apa Dokter Nalen?," mama Jovi khawatir.
"Apa ada kondisi Jovi yang perlu rawat lebih?."
"Ouhh tidak, tidak tante.. Ya, gimana ya tante, saya sebetulnya nggak enak bilang ini. Ya tadi waktu di kantor Pak Ernest, tau Jovi sakit gitu dia kok tidak langsung menelpon rumah sakit? malah saya yang telepon ambulans sampai bawa ke sini, padahal dia kan punya rumah sakit besar."
Mama Jovi tampak sedih.
Dokter Nalen melanjutkan.
"Saya yang mengetahui kejadian itu langsung panik tante. Untungnya, kok saya sempat firasat nggak enak, dan buntutin Jovi ke kantor Pak Ernest. Huh, karena sebelumnya saya mengikuti mobil Jovi, dan itu hampir menyerepet."
"Serius? syukurlah, Jovi tidak sampai menabrak. Terima kasih sekali lagi Dokter Nalen."
"Sama-sama tante, lagian saya sudah menganggap Jovi sebagai orang yang berarti di hidup saya," ucap Nalen dibarengi senyum mengembang.
Mama Jovi tidak menghiraukan.
Ia termenung sebentar.
"Apa Ernest sudah tau bahwa Jovi membatalkan pernikahan ini? sehingga dia sakit hati, dan terus tega tidak mau menolong Jovi," tanya mama Jovi dalam hati.
"Tadi apa Ernest sudah ke sini?," mama Jovi khawatir.
Dokter Nalen menggeleng kepala.
"Apa setega itu Ernest dengan Jovi? tidak mungkin. Biasanya Ernest yang lebih dewasa dari Jovi. Ya Tuhan Jov, apa yang kamu lakukan ke Tuan Ernest?."
Kata hati mama Jovi di aduk rasa bingung. Dia tetap tidak percaya bahwa secepat itu perasaan Ernest berubah tidak peduli lagi pada putrinya.
Kalau memang iya, ucapan apa yang di lakukan Jovi sampai membuat Ernest begitu tidak peduli dan tega.
Apa yang sebenarnya terjadi, di siang hari dan sore ini, semua masih menjadi tanda tanya di kepala mama Jovi.
"Tadi ke sini tante..!," Dokter Nalen memberi tahu.
Akan tetap raut Dokter Nalen tidak ikhlas.
Mama Jovi menoleh.
"Tapi hanya duduk di lobby, saya sudah suruh masuk, Ernest tidak mau."
Suasana hening, mama Jovi tidak membalas ucapan Nalen.
"Alasannya jam besuk sudah selesai. Pak Ernest juga lebih sibuk dengan kegiatan kantor. Padahal saya kan dokter di sini , tentu tetap ada kelonggaran jam besuk. Ya.. di perhitungkan lah sebab Pak Ernest ini kenalan saya."
Mama Jovi mengangguk.
Ia enggan menanggapi Dokter Nalen yang di rasa sangat tidak realistis. Tidak mungkin Ernest seperti itu. Kata hatinya tidak sebodoh Jovi yang terombang-ambing.
Sementara, di luar halaman rumah sakit Intan Medika, tampak papa Jovi baru datang membesuk putri tercinta kesayangannya.
Wajahnya terlihat khawatir, belum mengetahui kondisi Jovi yang sekarang. Sepatu hitam dan jas kantor masih melekat, beterbangan mengikuti.
__ADS_1
Jalan yang sedikit terbirit-birit membuat ia menabrak seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, tak lain kenalan salah satu papa Jovi.
Bruuukkkkkkkk....
"Aduuh," desis laki-laki itu.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja pak," jawab papa Jovi hampir tersungkur.
"Pak Yusuf.."
"Loh, Pak Odi," papa Jovi tersenyum.
Mereka sama-sama terlihat berjabat tangan. Senyum mengembang terlihat di antara kedua.
"Wahh, senang sekali bertemu Pak Yusuf hehe," tawa Pak Odi cekikikan.
"Pak Odi," papa Jovi tertawa.
"Pak, saya dengar di berita Pak Yusuf bakalan jadi keluarga dengan penguasaha Wijaya ya..?? hehe," senyum khas Pak Odi memancing.
"Doa'nya saja," papa Jovi memainkan jemari.
"Loh, bukannya sudah pasti kan? saya lihat Pak Ernest ini sangat mencintai putri bapak lo."
"Hehehe."
Papa Jovi terlihat memaksakan senyum sembari tetap terlihat terburu-buru. Pak Odi lantas mengganti pertanyaan yang di lontarkan.
"Siapa yang sakit Pak Yusuf?."
"Ini anak saya pak, Jovi baru masuk rumah sakit siang tadi."
"Sakit apa memangnya? di ruang paviliun ya?."
"Iya Pak Odi, tapi entah, hasil lab'nya belum keluar pak. semoga saja tidak ada penyakit serius."
"Baik, baik, kalau begitu Pak Yusuf. Silahkan anda ke ruangan, maaf sudah menganggu perjalanan anda."
"Hehehe, terima kasih Pak Odi. Saya permisi dulu."
"Baik. Salam untuk istri dan putri anda juga Pak Yusuf," Pak Odi melambaikan tangan.
"Pasti," papa Jovi berlalu, menaruh senyum di atas bibir.
Sedikit menyayangkan, Pak Odi tidak bisa berbincang lama. Padahal, pemilik showroom Mandala tersebut ingin sekali mengetahui kebenaran kabar yang berada di luar.
**********************
KANTOR SEMESTA GRUP.
Lama tidak menjalankan misinya dengan Ernest, Fictor sedang pusing kepala memikirkan kerajaan bisnisnya dengan pondasi yang mulai keropos.
Bagaimana tidak, setelah kebusukan yang di ketahui Ernest tentang PT. Luxury yang menghancurkan perusahaan papa Jovi ternyata adalah salah satu perusahaan ilegal yang di bangun Fictor.
Laki-laki berjambang tersebut semakin tidak memiliki daya, harus bagaimana mengambil langkah. Belum lagi, Om Purwo, papa Fictor akan semakin membenci dirinya.
"Yang loe lakuin selama ini benar-benar di luar ekspektasi Fictor?? perusahaan papa Jovi yang loe anggap nggak berdaya, kenapa jadi sekuat ini? sebentar lagi, PT. EX-Lury akan tamat bersama Semesta Grup," decak Fictor di hati.
"Bagaimana jika nanti papa tahu semua ini? apa yang bakal gue katakan? gue harus gimana? profit perusahaan sedang tidak baik-baik."
Pandangan mata tampak sayu.
Fictor terlihat diam diatas kursi hitam kekar kantor. Matanya tidak berkedip, seperti ada sesuatu besar yang ada di fikiran laki-laki tampan tersebut.
"Tok.. took.. took.."
"Permisi.., Pak Fictor."
Selesai mengetuk pintu, Ola masuk ruangan.
Ola mencuri pandangan ke arah Fictor. Jika biasanya umpatan kata kasar langsung mendarat, Fictor tetap terdiam.
"Pak..,"
Fictor tidak menjawab.
"Pak Fictor," Ola lebih mengeraskan suaranya.
Lamunan Fictor tetap berjalan.
"Pak Fictooooor," Ola mulai habis kesabaran.
"Ni orang udah jadi patung, apa memang pura-pura nggak denger sih..?? emang dia kira lagi bercanda," gerutu Ola.
Ola mendekati, ia meniup-niup wajah Fictor seperti terkena debu. Tatapan dua bola mata tersebut seolah tidak membalas tiupan bibir Ola.
"Fictor, woeeyyy," teriaknya.
Mata Fictor terbelalak.
"Eh, ngapain loe?."
"Bengong mulu, kesambet baru tau rasa loe."
"Bisa nggak sih? mulut loe itu santai? nggak sok tau. Saran ya itu buat loe, biar loe segera punya pacar juga."
"Yeeee.. salah sendiri dipanggil dari tadi nggak nyaut? kayak loe juga udah berhasil punya pacar aja," jawab Ola ketus.
"Ya kalau gue niat, siapa sih yang nggak mau? loe aja juga bakalan mau sama gue,"
"Ngasal loe..!! sorry, gini gini kriteria gue minimal kayak? mmb.. Kayak ? siapa ya? ka, kayak."
"Kayak?? kayak?? kayak monyet lu." Fictor memarahi.
Rasa kesal bercampur rengekan Ola semakin perlahan terlihat tampak manja. Entahlah, Ola tiba-tiba merasa Fictor tidak segarang yang dia lihat.
__ADS_1
Ola senyum-senyum.
"Loe ngapain berdiri ? ada apa? manequin berdiri masih cantik, loe berdiri gak ada cantik-cantiknya?."
"Hisssh Fictor," ia kembali kesal.
"Udah lah, ini ada berkas yang harus loe tanda tangani. Kredit Tanpa Agunan yang kamu ambil sudah sampai batas tempo Fictor," Ola memberitahu.
Bibir Fictor tidak bergeming. Meski begitu, Fictor tetap terlihat santai.
"Dari Bank Berniaga, jatuh tempo perusahaan sebesar 20 triliun terhitung 3 hari dari pesan ini di kirim. Hubungi hotline kami : 231-446"
Pesan tersebut, melintas di layar ponsel Fictor.
Mengalami kondisi pailit. Belum lagi kondisi anak perusahaan Semesta Grup yang berada di ujung tanduk, Fictor benar-benar depresi.
"Arrrrggggghhhhh...."
"Braaaaakkkk...," kaca meja terlihat retak.
Fictor menjambak rambut.
Ola menjauhkan diri. Ia nampak takut sambil melirik Fictor.
Suasana benar-benar mencekam.
"Mejanya mahal? apa nggak sayang itu?," celutuk Ola mencairkan suasana.
Tatapan tajam Fictor tepat di mata Ola.
Tubuh Ola panas dingin.
"Diem," suara bentakan terdengar.
Ola mengalihkan pandangan. Dia harus menunggu tanda tangan dari Fictor untuk mengurus berkas.
Fictor mengambil bolpoin, ia menanda tangani beberapa berkas. Tetapi, rambutnya yang belum sempat dipotong, menutupi hampir bagian dahi begitu mengganggu.
Laki-laki berjambang tersebut memang sangat rapi dengan penampilannya. Mulai dari pakaian, hingga rambut yang disisir serta dengan pomade rambut tebal.
"Ola."
"Ahhh.. Ya, ada apa?."
Ola membuang muka, tanpa berani melihat.
"Sisirin rambut gue."
"Hah? apa? sisirin? nggak, nggak, ogah."
"Cepaattt..!"
"Gu, gue sekertaris di sini, gue bu, bukan,"
"Sudah cepetan.. jangan banyak ngomong, cepetaann..!!!."
"Aahh, aaa, iya baik," Ola ketakutan.
Fictor mendudukkan diri pada singgasana kebesaran. Kursi itu mengarah pada kaca besar yang dipenuhi pandangan gedung-gedung besar di depannya.
Ola tidak tau harus mengambil sisir apa? dimana? ia menggunakan sisirnya sendiri warna pink gambar LOL.
Takut berbuat salah, perempuan berambut pendek tersebut berdiri di samping Fictor. Ola benar-benar bingung menaruh sikap.
Perlahan, tatanan rambut miliknya mulai di rapikan Ola. Fictor merasa, sisiran tangan Ola sangat halus. Arahan sisir di rambut Fictor seketika itu tiba-tiba mengingatkan tentang Helen.
Fictor baru tersadar, bila perempuan terakhir yang menyisir rambutnya adalah kekasihnya Helen sebelum meninggal.
Ketidak sengajaan siang ini, membuat Fictor kembali mengenang masa lalu. Pandangan Fictor menjadi kosong.
"Bruuukkkk."
Tiba-tiba Ola di tarik ke depan, pas dihadapan Fictor. Mata Ola terbelalak. Kedua bola mata mereka saling bertemu. Tetapi ada yang aneh dengan Fictor.
"Cuppp,"
Tubuh Ola mendadak kaku.
Fictor mencium Ola seperti seseorang yang sudah lama tidak pernah bertemu.
Perlahan, bibir Fictor benar-benar mencium lembut kening Ola.
Tubuh Ola disergap rasa panas dingin, tiba-tiba aliran darahnya terasa hangat menjalar ke tubuh. Ola melihat Fictor yang memejamkan mata.
Ola semakin gugup, ia tidak tahu harus bagaimana.
Bibir Fictor mencium.
Ola ingin menyadarkan, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Baru kali ini, Ola merasakan ciuman dengan laki-laki yang ternyata perlakuannya sangat manis.
Laki-laki berperawakan putih itu memeluk Ola dengan sangat erat.
Fictor yang menutup mata.
Bayangannya, gadis yang di cium adalah Helen. Helen yang sudah lama meninggalkan dunia ini, Helen yang selalu menyisir rambut Fictor, dan tidak memperbolehkan kekasihnya tersebut sedikit saja terlihat berantakan.
Akan tetapi, belum lama, sebuah pemakaman Helen beberapa tahun lalu tergambar jelas. Mendadak, Fictor mulai sadar, bahwa Helen sudah meninggal.
Fictor tersentak, perempuan di depannya adalah Ola.
"Krriittt," suara decitan kursi berpindah.
Fictor menjauhkan diri dari tubuh Ola.
__ADS_1