
Meja reservasi tempat Ernest dan teman alumni kampus mereka dulu, penuh menu hidangan restoran. Setengah anggur digelas mereka masing-masing juga ada, menyisip diantara tangan penikmat menu negara spanyol.
Frans tidak membiarkan lama, ponsel disamping nya bergetar hebat. Sepupu cantiknya, Meghan, diketahui Frans belum lama ini menjalin kedekatan dengan Ernest. Ernest juga berencana sudah akan melamar Meghan.
Begitu percaya diri, Frans mengangkat telepon dari Meghan. Dirinya tidak mengetahui, Ernest sudah putus lama dari Meghan. Ketika Frans masih berada diluar negeri.
"Hallo Meg, ada apa?," tanya Frans dalam telepon.
"Hallo Frans, mobil gue bocor, gue habis dari rumah temen gue, disekitaran altoro spanish nih?, loe lagi dimana?," kata Meghan meminta bantuan.
"Gue juga di situ, ini gue didalam altoro spanish," Frans terlihat bahagia.
"Eh, gue lagi reuni nih, sama temen-temen, gue didalam restoran, loe masuk aja Meg, ini gue juga sama Ernest," kata Frans memberitahu.
"Serius lo? beneran nggak sih? loe jangan bercanda dong, gue beneran?," ucap Meghan beralasan.
"Iya beneran, nih dengerin Ernest ngomong, Nest.. coba dong loe ngomong," Frans memberi ponselnya ke Ernest.
"Ya udah, tunggu gue disana ya Frans," Meghan bersemangat masuk.
Tidak lama, Ernest terlihat menepis ponsel yang diberikan Frans. Wajah Ernest tidak seperti biasanya. Frans mulai menduga, hubungan Meghan dan dia sedang bermasalah. Entah apa yang terjadi diantara kedua nya.
Sepupu Meghan tersebut, segera menutup ponsel, etelah memberi aba-aba pada Meghan. Untuk menyusul ke dalam restoran malam ini. Sudah lama juga Frans tidak bertemu Meghan, setelah ditugaskan ke luar negeri.
Semua teman-teman Ernest, masih menikmati acara reuni. Alkohol serta anggur merah, semua bergantian menyucup bibir anak-anak. Dari Gerald, Kiano, Marcel, Fictor dan Ernest semua mencumbu.
Kebiasaan buruk Ernest, ketika berkumpul bersama teman-teman kampusnya, terulang kembali. Anggur merah, digelas besar mencari siapa pemenangnya untuk malam ini. Berlomba menghabiskan tegukan, hanya dalam hitungan detik.
Ernest mencoba menolak berulang kali, namun tangan Kiano, Marcel, saling bergantian menuangkan minuman berwarna merah, ke dalam gelas milik Ernest.
Hingga kondisi Ernest mulai tidak bisa mengontrol diri. Dari efek minuman mahal yang dibeli, dan rutinitas buruk teman-teman alumni kampusnya tersebut.
"Nest, loe kenapa nggak mau jawab telepon Meghan? loe ada masalah sama dia," tanya Frans meminum anggur merah.
"Gue udah putus sama dia," Ernest memegangi kepala, kebanyakan minum.
"Seriusan loe, bukannya lusa kemarin loe baru bilang gue, kalau loe mau ngelamar Meghan?, Ernest loe gila, loe nggak pikir 2x men," Frans terkejut.
"Dia ninggalin gue di restoran sendirian, waktu gue mau ngelamar dia, dia nggak dateng atas kemauan dia sendiri, gue salah apa?," kata Ernest terjatuh dipundak Frans mabuk.
"Mungkin itu miss komunikasi, loe aja yang udah tergesa-gesa ambil keputusan Nest," Frans coba membangunkan lagi Ernest.
"Gue nunggu dia di restoran, hampir 8 jam, dia nggak datang Frans, dia asyik di club bareng temen-temennya," kepala Ernest semakin pusing.
"Kalau cuma itu, gue rasa itu cuma miss komunikasi Ernest," Frans kecewa mendengar putus mereka.
"Miss komunikasi? ciih... gue nabrak pembatas tol gara-gara Meghan, gue udah setengah mati cinta, tapi dia jahat men sama gue," jawaban Ernest keluar dipengaruhi alkohol.
"Gue hampir mati, dia nggak peduli sama gue, jahat ya men... kurang ajar memang..," mata Ernest remang memandang Frans.
"Frans, loe tau.. sekarang Meghan jahat seperti Fictor.. si pem fitnah gue, kalau gue pembunuh pacarnya.. gue nggak pernah ngebunuh seperti kata dia," Ernest tidak sengaja membahas Fictor.
"Ernest, Ernest, loe kondisikan omongan loe," ucap Frans masih kondisi sadar.
"Nest, nest, loe lagi nggak sadar, loe kontrol omongan loe Ernest," Frans takut Ernest mengeluarkan semua isi hatinya.
"Yang gue bilang bener men, Fictor iri sama gue, dia selalu ngejatuhin semua bisnis papa gue, gue tau itu," ucapan Ernest semakin ngelantur.
Fictor yang mendengar itu semua, dibuat meradang kembali. Meski Fictor sendiri juga sedikit mabuk karena alkohol, tapi kondisi mabuk Ernest lah yang lebih parah.
Tangan kanan Fictor, melempar kotak jam tangan yang tadinya akan diberikan pada dia, dari Ernest. Kesadaran yang ada diantara rasa mabuk Fictor, masih mampu melempar kotak tersebut.
Teman lain Ernest, juga banyak yang mulai tidak sadarkan diri. Marcel, Gerald dan Kiano sudah lebih dulu parah dimabuk minuman. Hanya Sandi serta Frans yang masih sadar akan diri mereka.
"Loe yang pe'ak, Ernest loe pecundang.. loe selalu lebih sukses dari gue, gue nggak terima loe bahagia, gue suka loe mati," tutur Fictor dari arah kursi berbeda.
"Ernest, dari dulu di kampus, loe selalu berhasil ngerebut perhatian anak-anak, loe kurang ajar, nggak pantes bahagia," ucap Fictor bola matanya naik turun.
"Nggak.. nggakk...," Ernest tercengir menunjuk Fictor.
"Suster loe itu suster gadungan, gue yang nyuruh dia, gue nyuruh dia ngebunuh loe, tapi suster loe gobloook.. jadinya loe malah masih hidup," celetuk Fictor didengar Frans dan Sandi.
__ADS_1
"Loe yang gila, loe gila.. loe halu," Ernest membantah sebisa mungkin.
"Loe mati, loe habis ini mati, gue habisin loe," kata Fictor meminjam pundak Gerald.
Mendengar sahut menyahut ucapan antar Ernest dan Fictor, keduanya seolah sedang mengobrol diatas kesadaran masing-masing. Namun sebetulnya itu hanya omongan ngelantur mereka, karena mabuk.
Sandi terdiam, mendengarkan Fictor mengatakan semua. Ucapan yang keluar dari Fictor, membuat Sandi merasa cemas dengan kondisi Ernest. Tetapi perasaan itu, langsung ditepis Sandi jauh.
Tapi Sandi kembali memikirkan, apa yang dikatakan Fictor, sepertinya tidak main-main. Matanya saling berganti melihat, ke arah Ernest dan Fictor. Semua menjadi pertanyaan baru, patut diselidiki.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 wib. Meghan masuk ke dalam restoran, mencari Frans dan juga teman alumni kampus'nya yaitu Ernest. Matanya melihat, semua berada dimeja reservasi nomor delapan.
Sebelum menghampiri, Meghan berjalan menuju meja bar, memberi tips kepada karyawan. Memesan minuman, sembari menyodorkan bungkus serbuk perangsang yang didapat dari Fictor.
Meghan kemudian berjalan menghampiri sepupunya Frans dan kawan-kawan. Teman kampus Frans, sudah banyak tergeletak diatas meja. Tak kuat menyangga efek alkohol yang mereka minum.
"Frans, sorry gue baru datang," kata Meghan berpakaian dress biru tua.
"Ouh nggak papa Meg, sorry anak-anak udah pada mabuk semua, Ernest juga," Frans memperlihatkan pundaknya ada Ernest.
"Mereka kebanyakan minum, nanti gimana? gue nebeng mobil loe ya Frans?" tanya Meghan memancing.
"Eh, jangan dong, gue besok ada lanjut survey bareng klient, bisa kemaleman gue," jelas Frans rumahnya jauh dari Surabaya kota.
"Terus gimana dong?, mobil gue masih di bengkel, gue sama Ernest aja ya," pinta Meghan tak sabar ingin menjebak Ernest.
"Loe bisa nggak San, nganterin Meghan?? si Ernest lagi nggak sadar soalnya, dia juga baru sembuh kan dari kecelakaan," tanya Frans terlebih dulu pada Sandi.
"Sorry brow.. gue nggak searah sama apartemen'nya Meghan, suruh bareng aja sama Ernest, si Meghan kan nggak lagi mabuk," Sandi memberi solusi.
"Ya kaan," Meghan semakin mendukung usul Sandi.
"Ouh, gitu aja ya Meg, loe jangan mabuk, biar gue nanti bilang ke supirnya Ernest, buat nganterin loe duluan," Frans beranjak.
"Oke siap," Meghan sangat senang bisa pulang dengan Ernest.
"Kalau loe mabuk dikit, gue cancel nih semuanya," tutur Frans mengetahui sepupunya sangat menyukai alkohol.
"Iya iya.. dasar cerewet," Meghan memeluk Frans.
Dikursi sebelah Ernest, pundak Meghan kembali dipinjamkan pada anak pemilik rumah sakit Wijaya tersebut. Mengajak kepala Ernest, tertidur pada pundaknya kembali.
Tinggal satu langkah lagi, Meghan merasa rencananya akan segera berhasil. Setelah Ernest tidak sadar diri, ditambah obat perangsang yang ditambahkan oleh waiters. Akan mengantar Ernest bermalam di apartemen Meghan.
Perempuan dengan gigi behelnya tersebut. Memandang Ernest, memeluk erat tubuh laki-laki yang masih dicintai'nya. Sudah lama, Meghan tidak pernah merasakan pelukan hangat dari Ernest kembali.
******************
Di Kantor Semesta Grup
Jovi sudah pulang dari lembur.
Mengingat kembali, apa yang dipesankan Ernest pada dirinya. Pukul 20.30 malam, Jovi baru bisa pulang, keluar dari kantor Fictor.
Perasaannya mulai takut, dia menebak Ernest sudah lebih dulu datang dirumah. Dan menunggu Jovi datang, yang belum kembali hingga selarut ini.
Kalau hanya untuk mengambil barang saja, waktunya juga tidak akan selama sekarang. Kebingungan Jovi membuat alasan lagi, memenuhi kepala.
Tangan kanan Jovi yang membawa ponsel, tak punya nyali menghubungi Ernest. Apalagi menanyakan sudah dirumah atau belum? itu semua bukan kewenangan Jovi.
Didepan mall tunjungan plaza, yang diperkirakan Jovi, tempat Pak Yoyok menjemput. Dia membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di tempat kebohongan yang diciptakan.
Tidak lama, mobil alphard hitam yang biasa digunakan Ernest. Memberhentikan diri, di trotoar jalan raya. Benar terlihat, Pak Yoyok didalam mobil tersebut.
"Suster Jovi, maaf menunggu lama ya," tanya Pak Yoyok mengenakan kemeja hitam.
"Belum kok pak," jawab Jovi membuka pintu mobil.
"Wah, saya kira tadi suster pulang dengan tuan, ternyata nggak?," kata Pak Yoyok membuat Jovi takut.
"Hehehe.. nggak pak," jawab Jovi sedikit.
__ADS_1
Kata-kata Pak Yoyok, diartikan Jovi, jika Ernest sudah ada dirumah. Sedangkan dirinya telat pulang ke rumah. Semua semakin membuat was-was. Jovi takut membuat kecewa Ernest.
Beruntung hari ini, Tuan Toni sudah menjalankan tugas, pergi ke luar kota. Kalau tidak, Jovi sudah dilalap habis, dan dipulangkan kembali ke rumahnya.
Jalanan kota Surabaya, memperlihatkan ramainya kota di malam hari. Gemerlip lampu, ada parade didekat kantor Ernest, dari salah satu perusahaan. Sangat nampak megah.
Pak Yoyok mengemudikan mobil, menunggu antrian macet tak kunjung surut. Jam sudah menunjukkan pukul 21.15 wib, namun mereka berdua belum bisa sampai ke rumah.
"Dari tadi tuan besar telpon ke rumah, tapi Tuan Ernest belum juga pulang suster," cerita Pak Yoyok saat menyetir.
"Emm.. iya pak," Jovi tak begitu menghiraukan.
"Iya suster, semua orang nunggu tuan muda pulang, tapi Pak Rahmat bilang, Tuan Ernest masih belum keluar restoran, jadi belum pulang," kata Pak Yoyok menjelaskan.
"Hah, apa pak, Tuan Ernest belum pulang?," jawab Jovi baru tersadar betul.
"Iya suster," Pak Yoyok terlihat sedih.
"Tapi masih sama Pak Rahmat kan pak?," tanya Jovi memastikan.
"Masih suster, tapi tuan muda sendiri kan sudah nggak pernah lagi keluar malam, kecuali sekarang semenjak mama tuan meninggal," ungkap Pak Yoyok.
"Terus Tuan Toni nggak tau kan pak? kalau Tuan Ernest belum pulang,?," Jovi khawatir.
"Enggak tau suster, semua bibi dirumah sudah sepakat, tidak memberi tahu tuan besar.. Tuan Ernest ditelpon tidak diangkat katanya," kata Pak Yoyok.
Jovi merasa kebingungan dan khawatir, hanya saja perasaan tersebut. Dibuang Jovi, karena masih ada Pak Rahmat bersama Ernest malam ini.
Mobil yang dikemudikan Pak Yoyok, sudah hampir sampai ke rumah. Tapi fikiran Jovi semakin tidak tenang, rasa hatinya mencemasi kondisi Ernest. Semua difikir oleh Jovi.
"Pak Yoyok, ayoo kita menyusul Tuan Ernest saja, saya takut ada apa-apa terjadi dengan tuan pak," nada suara Jovi khawatir.
"Tapi kita sudah hampir sampai dirumah suster, apa tidak sebaiknya kita menunggu Tuan Ernest dirumah saja suster?," Pak Yoyok memberi perbandingan.
"Jangan pak, sudah larut malam tuan belum pulang, saya takut pak, pokoknya kita menyusul Tuan Ernest ya pak," berkali Jovi menepuk pundak Pak Yoyok.
"Baik-baik suster, kalau begitu saya minta Pak Rahmat, share lock dulu tempatnya," kata Pak Yoyok mengeluarkan ponsel.
"Iya pak, ayoo.. pak, Tuan Ernest juga belum meminum obat untuk malam hari," Jovi semakin tidak tenang.
"Pak Rahmat, nggak aktif suster whatsapp'nya?," sopir itu memberi tahu.
"Telepon biasa aja pak, agak cepat ya pak," Jovi sudah semakin gugup.
"Baik, kalau begitu suster," Pak Yoyok menurut saja.
Mobil yang dikemudikan Pak Yoyok, putar balik lagi. Di hari yang sudah menuju tengah malam tersebut, mobil masih dipacu Pak Yoyok sekencang mungkin.
Jovi memberanikan diri mengirim pesan ke Ernest, namun ponselnya menunjuk, jika terakhir Ernest online di malam ini. Pukul 19.02 waktu indonesia barat.
Sesudah mengemudikan, hingga waktu kurang lebih setengah jam perjalanan. Mobil yang ditumpangi Jovi, telah memperlihatkan mobil lain milik Ernest sudah terparkir didepan parkir restoran.
Pak Rahmat keluar mobil, mengetahui Jovi dan Pak Yoyok datang ke tempat yang sama. Daritadi Pak Rahmat hanya berani menunggui diluar ruangan, menunggu Ernest keluar tapi tak kunjung datang.
"Suster Jovi, suster ikut kesini?," tanya Pak Rahmat.
"Iya pak, saya khawatir dengan kondisi Tuan Ernest, apa semalam ini tuan belum selesai ya pak reuni'nya?," tanya Jovi.
"Belum tau suster, teman-temannya juga belum ada yang keluar," kata Pak Rahmat.
"Biasanya, tuan selalu lupa waktu suster, dan biasanya pulang kondisi mabuk, semoga malam ini tidak," Pak Yoyok ternyata juga mencemasi.
"Hah? mabuk? jangan pak, Pak Rahmat, Pak Yoyok kalau gitu saya masuk dulu ke dalam," kata Jovi betul-betul nekat.
"Baik suster, kami tunggu," Pak Yoyok Pak Rahmat menunggu di depan.
"Iya pak, saya permisi masuk dulu," kata Jovi panik melangkahkan kaki.
Jovi masuk ke dalam restoran, ternyata suasana didalam restoran dilengkapi bar tersebut. Masih begitu ramai dengan pengunjung.
Perempuan cantik mengenakan baju coklat tua, langsung masuk. Mencari kerumunan meja paling banyak orang. Karena menurut Jovi, reuni pasti lebih dari dua orang.
__ADS_1
Dan benar, mejad reservasi nomor delapan, Jovi menemukan laki-laki berbaju coklat muda. Meski hanya dari punggung dan potongan rambut, ia sudah bisa mengenali Ernest.
Ada yang dipinjam bahunya oleh Ernest, tapi bukan laki-laki. Melainkan perempuan berambut panjang, terlihat mesra. Ernest menyandarkan kepalanya ke arah perempuan tersebut.