
"Teeeet... teetttt... teeeeet..."
Bunyi bel istirahat di kantor Wijaya Grup terdengar.
Sampai terdengar bunyi bel istirahat, Ernest dan Jovi masih berkutat di dalam ruang kerja. Sedangkan Sonia langsung segera turun ke lantai 3 sebelum pergi ke arah kantin yang berada di lantai dua.
Di ruang staff editing, Sonia tidak tega melihat teman sekerjanya dulu, sekarang dipusingkan oleh tumpukan file yang perlu di edit. Setelah tidak menjadi kekasih Ernest, Meghan benar-benar dibuang pergi oleh CEO muda itu.
"Anjiing...., susah banget semua ini, gimana sih caranya? biar aplikasi ini bisa nambah kolom? susah banget," gerutu Meghan didepan komputer kantor.
"Meghan, istirahat yuk.. udah jam istirahat kali cin, sibuk amat loe didepan komputer," tepuk Sonia dipundak kanan Meghan.
"Eh Son, bentar nih, asli bener-bener anjingg.. gue rasanya tiap hari rontok rambut gue, cuma gara-gara aplikasi ini ta nggak loe Son?," Meghan masih fokus.
"Sabarr dulu Meghan, gue yakin kok habis ini loe bakalan di pindahin balik ke posisi sekertaris," Sonia memberi kabar bahagia.
"Ninggalin itu komputer jadul, dan balik lagi ke lantai 5," imbuhnya.
"Eh iya, gimana gimana..?? si Ernest nggak pening tuh, sama berkas yang barusan loe kasih tau, kalau berkasnya kecampur semua jadi satu," Meghan bersemangat lagi.
"Iya, tadi waktu gue kasih tau kalau Devi nggak masuk, dan Pak Ernest minta berkas PT. Antariksa, gue bilang nggak bisa cari, karena gue juga banyak kerjaan.. padahal aslinya gue sih bisa banget."
"Aduuuhhh.. Sonia, makasih banget ya Son, loe emang beneran sahabat gue, asli deh, nggak pake bohong bohongan," Meghan langsung memeluk Sonia.
"Hahaha tenang, pasti gue bakalan bantuin loe kok, cari cara buat ngembaliin posisi loe sebagai sekertaris," Sonia juga tersenyum.
"Oke oke, kalau gitu ayoo kita ke kantin sebentar, gue juga udah laper banget, staff disini kayak "guguk" semua, beneran nggak ada yang mau bantuin gue Son," rengek Meghan keluar ruangan.
"Mungkin mereka belum terbiasa sama kedatang loe aja kali Meg, setau gue staff editing orangnya ramah-ramah kok."
"Sonia.. loe itu cuma berdasarkan katanya aja kan.. aslinya burik semua, tau tuh.. cuma staff bawahan aja, udah lagaknya ngalah-ngalahin orang staff lantai 5, gedek gue sama mereka."
Keluhan Meghan diceritakan satu persatu kepada Sonia. Teman se ruangannya saat dulu menjadi sekertaris Ernest. Mereka berdua menuju kantin di lantai 2, berbondong dengan anak yang lainnya.
Box makan dari kantor yang sudah disediakan oleh kantor, diambil satu persatu oleh para karyawan. Mereka menambahkan menu lain, sesuai dengan favorit mereka masing-masing.
Meghan dan Sonia memesan 2 gelas cappucino, mencari tempat santai di foodcourt kantor siang ini. Setelah selesai bergelut dengan antrian panjang, mereka berdua berjalan mengambil duduk di salah satu pojok kursi.
"Meghan, Ernest nggak curiga kan, kalau berkasnya bisa amburadul, sebetulnya itu karena kita?," Sonia bertanya disela-sela makan.
"Loe gimana sih Son..?? kan harusnya gue yang tanya begitu ke elo, lha tadi waktu loe ditanya Ernest, gimana reaksinya dia?."
"Kalau Pak Ernest sih percaya, kasihan gue sebenernya, lihat Pak Ernest syock karena tumpukan berkas yang gue bawa."
"Biarin lah... biar dia sedikit flashbcak ke gue sedikit, kalau tanpa gue, si boss kuwalahan kan? gue nyesel tau Sonia, nolak Ernest," Meghan membanting sendok makan.
"Ya gimana lagi Meg, nasi udah jadi bubur, dulu loe terlalu menyepelekan Pak Ernest sih, padahal loe ngedapetinnya udah mati-matian, kalau bukan karena Frans, itupun Pak Ernest masih pikir-pikir lagi."
"Iya ya.. tau ahhh.. pusing gue," jawab Meghan mencacah nasi makan siang di depannya.
Meghan kembali flashback, bagaimana dulu susahnya mendapatkan hati Ernest, kalau bukan karena sepupunya Frans yang sering mendekatkan Meghan dengan Ernest, mungkin dia juga tidak bisa menjadi kekasih Ernest.
Apalagi dulu Ernest masih begitu mencintai mantan kekasihnya bebi, teman kuliahnya dikampus Universitas Indonesia. Beruntung, hati Ernest bisa luluh oleh sikap Meghan yang sedikit arogan.
"Gimana tuh, sama susternya yang sok peduli, masih ikut Ernest ke kantor nggak Son?," tanyanya kembali mulai kesal.
"Siapa sih itu namanya? sampe sekarang gue nggak tau kali Meg," Sonia tak kalah arogan juga.
__ADS_1
"Namanya Jovi."
"Ouh... iya si, dia setiap hari diajak terus sama Pak Ernest, anaknya cantik, cuma gue nggak pernah tuh tegur sapa ama dia, jarang keluar sih dari ruangan si boss."
"Helehhh cantik apa? biasa aja, bener juga kata loe Sonia, dulu aja gue jadi sekertaris, walaupun jadi pacar Ernest jarang banget dipanggil ke ruangan."
"Iya, kayak spesial banget susternya satu ini, ya positif thinking aja, didalem ruangan terus kan kondisi Pak Ernest emang beneran belum sembuh total," tututnya mencoba menenangkan.
Semua semakin membuat Meghan merasa kesal, dengan sikap Ernest akhir-akhir ini. Perasaannya masih tidak terima, bila ada perempuan yang dekat dengan mantan kekasihnya tersebut.
Jam makan siang, yang sudah hampir berjalan 20 menit lebih, ternyata belum menyelesaikan obrolan antara Meghan dan juga Sonia. Semua tentang Ernest, menjadi topik utama mereka.
"Eh Son, tau nggak, kemarin gue dibuat kesel banget sama si suster satu itu, waktu reuni si Ernest, dia tiba-tiba nimbrung, jemput Ernest loh..!! kesel gue, rencana gue gagal total," Meghan mengadu pada Sonia yang sudah tau semuanya.
"Tapi sebelumnya susternya di ajak nggak sama Pak Ernest?."
"Nggak lah, orang Ernest cuma sama supirnya.. udah gitu, temennya Ernest pada mabuk semua, kok bisanya si tuh suster anyaran, tiba-tiba jemput Ernest."
"Wahhh.. nyalinya besar juga itu suster, sampe nyusulin Ernest ke tempat reuni, apa jangan-jangan Suster Jovi suka sama Pak Ernest ya Meg?," kata Sonia menduga.
"Aaahh.. Sonia loe jangan gitu dong, nggak lah, masak iya, si Jovi mau jadi rival gue dapetin Ernest lagi, duuuh.. sorry nggak level tauk," ucapnya begitu percaya diri.
"Hahaha kali aja, kan gue juga cuma nebak aja Meg."
"Gue tau, tapi tebakan loe nggak seru," Meghan terlihat kesal.
Tidak begitu lama, duduk dua perempuan yang tadinya berhadapan tersebut. Sonia langsung mengecilkan volume suaranya, berbisik ke telinga Meghan, melihat dulu kondisi samping kursi yang sudah sepi.
"Meghan, terus gimana sama obat perangsang yang loe kasih ke Pak Ernest?."
"GAGALL....!!!," bisiknya.
"Yaaahhh.. sabar dulu lah Meg, pasti ada jalan banyak menuju roma," Sonia mencoba menenangkan kembali.
Meghan bersandar pasrah diatas kursi meja kantin siang itu.
Sedangkan karena ulah Meghan dan Sonia, Ernest sama sekali belum menjamah nasi yang tadi ditawarkan Jovi.
Didalam ruang kerja, setelah Ernest meminta waktu mengecek berkas, dan menunda sarapan paginya, menjadi makan siang. Dia kembali berkutat pada tumpukan berkas lagi.
Jovi kembali mengemas box makan serta mempelajari sendiri berkas bermap merah itu, daritadi Ernest membuka, semua file masih tidak sesuai dengan yang dicari. Dipindahkan ke sisi kanan.
Puluhan file, hampir pas hitungan 100, menumpuk diatas meja sangat tinggi, hampir menutupi wajah Ernest. Perempuan cantik tersebut, dalam hati berdecak kagum oleh keberhasilan besar wijaya grup. Jovi membaca file milik PT. Antariksa.
Dari satu PT Antariksa saja, wijaya grup dipercaya, untuk memegang beberapa tander proyek. Perusahaan yang berjalan di bidang developer and contractor tersebut, dipercayai menangani banyak proyek oleh para klien'nya.
Jovi tidak bisa membayangkan, betapa banyak aset yang dimiliki keluarga Ernest. Belum lagi, perusahaan anak cabang, yang dimiliki Tuan Toni dikota lain dan satu perusahaan baru milik Ernest yang ada di Jakarta.
Fikiran Jovi semakin diajak berhayal, seandainya perempuan cantik itu yang menjadi sekertaris di kantor Wijaya grup. Jovi tidak akan segan-segan meminta Ernest, untuk bekerjasama dengan perusahaan papa'nya yang sedang pailit.
"Treeett.. treett... treeet..."
Ponsel Jovi bergetar disaku baju.
Perasaannya dibuat tidak enak kembali, setiap langkah, setiap aktivitas Jovi, benar-benar dihantui dengan bayangan Fictor, atasannya.
Akhir-akhir ini, dirinya mulai tidak kuat, benteng perasaanya semakin mengajak, untuk segera memberi tahu Ernest.
__ADS_1
Rasa hati Jovi sudah lelah, hampir satu bulan diombang ambing perasaan bersalah dan ketakutan. Hampir setiap hari, setiap detik, semua aktivitasnya dipenuhi oleh kegelisahan.
"Jovi, besok loe di suruh kesini sama Pak Fictor, gaji loe nggak bakal di transfer ke rekening, kalau loe nggak mau ke sini.." whatsapp Ola 11.00 wib.
"Ya udah Ol, besok gue cari cara dulu, biar bisa ijin keluar kantor," balas Jovi.
Hari ini sudah tanggal 26, Jovi lupa jika besok sudah tanggal 27, dimana waktu tanggal gajian dirinya akan cair. Jovi begitu tidak sabar menunggu hari esok, tangannya mulai bahagia menghitung total gaji dari Fictor.
Gaji dari semesta grup di total Jovi sebesar Rp. 8.000.000,-, jika dikalkulasikan oleh pernyataan Fictor, yang akan menggaji Jovi 2x lipat, karena sudah bersedia menjadi suster Ernest, itu berarti total gajinya 16.000.000,-.
Belum lagi, gaji dari Tuan Toni, akan dibayarkan pada tanggal yang sama juga. Meski Jovi sendiri lupa mengingat, besaran gaji yang akan dibayarkan. Semua sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Daritadi Jovi tidak mengetahui, jika sikapnya di amati oleh Ernest. Dua tangan suster cantik, yang memilah file, memberi tanda setiap file dengan huruf abjad, semakin membuat Ernest kesal, takut Jovi memberi masalah baru.
"Suster, kenapa kamu mencorat coret semua berkas di dalam map merah suster?," tanya Ernest mengagetkan Jovi.
"Suster Jovi. suster jangan sok tau deh, maksudnya apa ini ada tanda spidol A, B, C, D disetiap berkas..?? bukan tambah membantu, malah menambah saja," gerutu Ernest tidak berhenti.
"Maaf tuan, saya hanya memberi tanda abjad, untuk pengelompokkan setiap berkas, sehingga memundahkan pencarian setiap berkas."
"Sudah suster, di kantor ini map setiap PT sudah dikelompokkan masing-masing, tanpa suster suruh, semua juga sudah dilakukan untuk memudahkan pencarian file setiap PT."
"Iya tuan saya tau, tapi satu PT tidak akan hanya satu laporan saja kan, pasti terbagi menjadi beberapa berkas lagi," bantah Jovi tidak mau kalah.
"Iya.. tapi saya minta kan, suster ikut membantu mencari file design PT Antariksa saja, yang daritadi belum saya temukan."
"File design banyak tuan, kalau tuan mencari satu, tidak cocok, ditumpuk lagi, berkas tetap akan bercampur jadi satu."
"Lalu bagaimana??, kamu menemukan," jawabnya sedikit marah.
Jovi mengambil setengah tumpukan map merah, yang semua berisi bagian design, sudah ditandai dengan huruf A. Laporan design yang dari tadi dicari Ernest.
Laki-laki tampan tersebut, tidak menyadari, bahwa daritadi Jovi sudah mulai meringankan beban tumpukan berkas yang sudah kalang kabut, karena ditinggalkan Meghan.
"Dari PT. Antariksa ini, ada berkas design, saya sudah tandai dengan huruf A semua, promo saya tandai huruf B, bahan baku dan denah lahan saya tandai huruf C, dan D untuk laporan statistik serta pengembangan, yang E untuk tanda laporan besaran agunan dari proyek tersebut," jelas Jovi.
"Maaf Tuan Ernest, kalau tulisan saya jelek, biar semakin mudah, tuan bisa meminta ke sekertaris atau bagian lainnya, mengetik ulang lalu di ditempel pojok kanan map."
"Wahhh.. sejak kapan suster memiliki ketrampilan sehebat itu? selama ini apa suster Jovi pernah menjadi sekertaris? atau bekerja di perpustakaan?," Ernest mendekatkan wajahnya.
"A-a-a saya belajar waktu PKL di rumah sakit wijaya tuan, waktu itu saya ditempatkan pada staff rekam medis, yang mengurus data riwayat penyakit pasien pengunjung."
"Benar seperti itu?," Ernest masih tidak yakin.
"Iyaa tuan, sungguh," singkat jawaban dari Jovi.
"Ouh seperti itu, pantas saja, kamu mahir mengelompokkan data, sesuai dengan tander proyek yang dikerjakan, terimakasih banyak suster," Ernest memberi senyum pada Jovi.
"Sama-sama tuan."
Ernest dibuat tercengang dan takjub oleh keahlian tersembunyi Jovi, yang baru diketahuinya hari ini. Berkas yang tadinya ditumpuk ulang Ernest, semua sudah dibedakan Jovi dengan beberapa huruf.
Dari ruang direktur utama, bunyi selesai istirahat makan siang, sudah kembali terdengar. Para staff kembali ke ruangan, memisahkan Sonia dan Meghan lagi.
Ernest masih tidak habis pikir, setelah dirinya mengecek file yang sudah di kelompokkan oleh Jovi, semua file benar-benar tidak ada yang salah.
Bahkan file design, dari design lay out luar, serta design denah ruangan, betul-betul dibedakan oleh suster Jovi. Ernest tidak percaya, jika hanya pengalaman pernah magang saja, tidak akan membuat Jovi semahir ini.
__ADS_1
Kepercayaan Ernest beberapa minggu lalu, mulai dipertanyakan lagi. Jovi mulai memiliki kehebatan yang aneh, semua membuat Ernest, akan mencari tahu lebih lanjut kembali.