Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
43. Mengajukan Resign Ke HRD


__ADS_3

 ______________________________________


SURAT PENGUNDURAN DIRI


 


Kepada Yth.


HRD SEMESTA GRUP Corp.


di Tempat


Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Jovi Andrianita


Jabatan : Sekertaris


Alamat : Jl. Kalimaya No.3 Surabaya


Dengan ini menyatakan, saya mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri. Dimulai tanggal 1 Juni 2020, sebagai karyawan di perusahaan SEMESTA Grup Corp.


Ucapan terima kasih yang sebesar besarnya saya sampaikan, atas kesempatan yang sudah diberikan, untuk dapat bekerja di SEMESTA Grup Corp.


Melalui surat ini saya memohon maaf kepada semua pihak dan jajaran staff yang bernaung di perusahaan SEMESTA Group Corporate. Terimakasih


Surabaya, 28 Mei 2020


ttd


JOVI ANDRIANITA


______________________________________


"Apa kamu sudah benar-benar memikirkan hal ini matang-matang saudara Jovi?," tanya kepala staff HRD.


"Sudah pak."


Pagi ini Jovi sudah berada di ruang staff HRD, mengurus surat pengunduran diri Jovi dari kantor, yang sudah memberi ladang pekerjaan, untuk mengais beberapa pundi-pundi rupiah.


Semua dokumen lengkap pengunduran yang menjadi persyaratan, sudah di serahkan Jovi sesuai permintaan. Tidak adanya Ernest di rumah, memberikan peluang banyak agar Jovi bisa keluar.


Jam di ruang lantai satu tersebut, menunjukkan pukul 08.30 pagi. Di dalam ruangan, Jovi ditemani dua pelamar baru dilain kursi, untuk mengisi formasi kosong di kantor Semesta Grup.


Suasana di luar ruangan tidak bisa Jovi lihat, karena bloking area pada ruang HRD lebih ketat daripada ruangan yang lain. Hanya kadang, gelak tawa pegawai dari luar, menyelinap masuk ke dalam ruangan.


"Pak Hendra lihat, pekerjaan kamu selama ini bagus, absen selalu tepat waktu, menjalankan lembur setiap diminta, melakukan perjalanan dinas sesuai jadwal yang sudah di tentukan, apa yang lantas membuat kamu ingin resign?."


"Saya ingin mencari pengalaman baru."


"Hanya itu? tidak masuk akal, baiklah.. Apa Pak Fictor sudah tau rencana pengunduran diri kamu?."


"Sudah pak."


"Sebetulnya saya sangat menyayangkan sekali pilihan kamu untuk keluar dari kantor ini Jovi, selama 3 tahun, kamu adalah satu-satunya sekertaris Bapak Fictor yang paling bertahan lama, staff HRD pasti akan sangat susah mencari pengganti kamu."


"Saya tanya sekali lagi, apa kamu benar-benar sudah yakin dengan keputusan pengunduran diri ini Jovi?,"


"Sudah pak, saya sudah yakin."


"Baiklah, form pengunduran diri sudah kamu selesaikan, surat pengunduran diri juga sudah kamu lampirkan, jadi tolong, saya minta ini," Pak Hendra menyodorkan lampiran.


"Apa ini pak?" Jovi mengambil lembaran.


"Kantor meminta pengganti uang jaminan sebesar Rp. 10.000.000,- sebelum ijazah di kembalikan pada pegawai yang mengundurkan diri,"


"Hah...?? kenapa bisa begitu Pak Hendra?? setahu saya, kantor tidak pernah memiliki peraturan seperti ini," Jovi terkulai lemas di kursi.


"Peraturan ini baru, dan juga baru berlaku tertanggal mulai hari ini, jika Jovi belum memiliki total uang senilai 10.000.000,-, maaf kalau kami masih harus menahan ijazah S1 anda Jov,"


"Ya Tuhan....,"


"Fictorrrr.....!!!," batin Jovi di dalam hati.


Peraturan baru macam apalagi ini, semua cara benar-benar dikerahkan Fictor hanya untuk menyulitkan Jovi keluar dari perusahaan besutannya tersebut.


Nampaknya laki-laki bernama lengkap Anjan Fictor Perdana itu, sangat tidak ikhlas jika Jovi bisa berhasil keluar dari Semesta Grup. Fictor tau, masalah ekonomi yang membelit keluarga Jovi, pasti mengharuskan Jovi untuk mengurungkan niat resign'nya tersebut.


Dengan meminta penebusan ijazah senilai 10.000.000,- Fictor yakin, Jovi tidak akan sanggup membayarnya. Apalagi tertanggal bulan ini juga, papa Jovi belum mengirim bunga pinjaman dari papa Fictor, Om Purwo.


Langit-langit atap kantor, seolah mendadak berubah warna menjadi hitam. Sarapan nasi yang di nikmati Jovi bersama Bik Yuni tadi pagi, mendadak habis dilahap cacing pita.


Semua bayangan Fictor memerintahkan Jovi membunuh Ernest kembali lagi menyeruak. Jika Jovi resign dari kantor tanpa ijazah, itu sama saja dengan menegakkan benang basah, alias sia-sia.


Jovi tidak akan mungkin mendapatkan pekerjaan baru, diposisi yang sama, jika ijazah yang dilampirkan perempuan cantik tersebut, adalah ijazah SMA.

__ADS_1


"Bagaimana Jovi? coba kamu fikir lagi, saran Pak Hendra, mungkin saat ini, tetap bekerja sebagai sekertaris di kantor adalah pilihan yang tepat Jovi, sayang lo.. uang 10 juta hanya untuk mengambil ijazah, itupun belum tentu diluar sana, kamu langsung mendapatkan pekerjaan bagus."


"Silahkan kamu pertimbangkan lagi, cari kerja sekarang itu susah Jovi, kalau tidak memiliki channel, atau orang dalam, atau mampu bayar uang, semua sama saja susah, ingat kan dulu kamu masuk ke sini, itu pun karena kamu di minta Pak Fictor, coba kalau kamu yang melamar sendiri, belum tentu kamu diterima, apalagi ijazah kamu beda."


"Iya pak."


"Hidup itu memang kadang tidak adil Jovi, yang dibawah semakin di tindas, yang diatas semakin berkuasa, itu sudah hukum dunia, mau bagaimana lagi, sekarang kita sama-sama masih butuh mencari uang, jadi mau tidak mau harus bertahan," tutur Pak Hendra.


"Iya.." suaranya lirih tak bertenaga.


Sedikit banyak, kepala staff HRD tersebut, mengikuti banyak kisah Jovi bisa sampai menjadi sekertaris Fictor. Pak Hendra tau, jika masuknya Jovi dulu, karena niatnya untuk membantu melunasi hutang papa Jovi.


Pak Hendra lah juga yang memilih Jovi dan menginterview kakak Aqila tersebut, diantara banyaknya calon perawat RS Wijaya, yang dibawa Fictor ke kantor. Untuk menjadi karyawannya.


Sampai sekarang, mata Pak Hendra selalu menatap kasihan jika berpapasan dengan Jovi. Wajah yang sebetulnya terlihat sangat cantik ketika tersenyum. Justru Jovi jarang menampakkan lengkung manis di bibirnya.


"Pak Hendra, saya mohon izin keluar sebentar dulu pak, saya minta waktunya untuk memantabkan keputusan saya,"


"Baik, nggak papa, silahkan..!! nanti kalau sudah deal, kamu bisa ke sini lagi."


"Baik pak, saya permisi dulu."


"Iya, silahkan."


"Kreeekkk..." Jovi keluar menutup pintu ruang staff HRD.


AC dari ruangan Pak Hendra terasa masih menjalar pada tubuh Jovi. Dua resepsionis Vika dan Hilda yang Jovi kenal, nampak memberikan senyum ke arahnya.


Jovi berjalan mengambil duduk, di meja ruang tunggu, ruangannya tidak jauh dari staff HRD. Kaca besar yang menjadi benteng semesta grup, memperlihatkan, bagaimana panasnya cuaca di luar sana.


Jovi sudah tidak berbuat banyak lagi, marahnya Fictor, rasa bersalahnya Jovi pada Ernest, terkejutnya papa Jovi karena bunga pinjaman yang tiba-tiba naik, membuat Jovi binggung harus mengambil keputusan yang mana.


Semua niat baik Jovi, masih dihadang banyak sekali cobaan. Tidak ada sama sekali keajaiban yang datang menjemput Jovi. Semua harus menggunakan uang, uang, dan uang.


Jovi ingin sekali menangis sejadi-jadinya. Hatinya sudah lama ingin mengajak Jovi pulang ke rumah, tetapi masa kerja masih ada 2 hari lagi.


"Ya Tuhan, kenapa berat sekali cobaan ini? Fictor selalu berkuasa, cara apalagi yang bisa gue lakuin Tuhann,"


"Jovi.. Jovi.. ayooo berfikir, dari mana lagi uang 10 juta, di dalam rekening BCA uang 150.000.000 udah loe janjiin ke papa Jov buat bayar bunga ke Fictor, itupun masih kurang, kalau di ambil 10.000.000 pasti nanti jadi beban papa lagi.. Ya Tuhan... berat amat hidup ini,"


Jovi memegangi kepala dengan dua tangannya. Pening di kepala Jovi, seolah seisi bumi menindih tubuh, sehingga menjadikan dirinya tak berdaya.


Bulan ini Jovi tidak gajian, insentiv dari kantor, lelahnya menjadi suster Ernest, sama sekali tidak di bayar oleh Fictor. Jemari tangan itu, tiba-tiba memencet tombol layanan M-Banking di dalam ponsel.


Isi otak Jovi kali ini, hanya berupa uang, uang, dan uang. Dari mana dapat uang? gimana caranya dapat sepuluh juta? semua sahut menyahut lewat kepala, mencari jawaban.


"Hah..... 20.000.000," mata Jovi tercengang.


Tangan yang meraba layanan M-Banking tersebut, tak sengaja memperlihatkan jika Jovi mendapatkan gaji dari Tuan Toni Wijaya senilai Rp. 20.000.000,-. Sebagai upahnya menjadi suster Ernest selama satu bulan ini.


"Dan ini 5.000.000,-" Jovi membaca transferan yang ke dua, diberi keterangan lembur di kantor.


Rasa hati tidak percaya dan menyangka, jika ternyata keluarga Wijaya, mampu memberi gaji pada Jovi, yang mana nilai rupiahnya, sangat jauh di luar ekpektasi kakak Aqila tersebut.


Jovi baru sadar, jika lembur dengan Ernest saat membantu mencarikan file dari PT. Torifam dan PT. Mahakam dihargai Ernest dengan nilai uang 5.000.000,-, yang mana bonus uang tersebut, total nilainya setengah dari gaji Jovi sebagai sekertaris.


Tawa girang membentuk simpul lewat senyum yang Jovi miliki. Wajah cantik, kakak Aqila tersebut, tersuntik semangat dahsyat, Tuhan seakan menjawab semua keluh kesah yang jadi kesedihan Jovi.


Tubuhnya langsung lari, menuju ruang staff HRD. Jovi tidak sabar, ingin menyelesaikan semua penguduran dirinya hari ini juga.


"Toook... toook.. took..,"


"Permisi Pak Hendra."


"Ya, silahkan masuk lagi Jovi."


Jovi mengambil duduk.


"Bagaimana? kamu sudah mendapatkan keputusan?," Pak Hendra ragu.


"Iya pak, saya sudah mendapatkan keputusan, hari ini saya memutuskan benar-benar resign dari perusahaan, dan akan membayar uang jaminan untuk pengambilan ijazah saya pak," ucapnya dengan senyum bahagia.


"Waahhh... sungguh..?? syukurlah, saya ikut senang mendengarnya."


"Iya pak, terima kasih banyak, saya juga berterima kasih pada Pak Hendra, jika bukan karena campur tangan bapak, pasti saya tidak akan bisa masuk ke kantor ini," Jovi mengenang masa lalunya.


"Tidak papa, dulu saya memilih kamu, karena memang saya lihat kamu orang yang berkompeten dan mau belajar,"


"Iya pak."


Jovi menandatangani surat pengambilan ijazah berserta data diri, dan beberapa pelengkap persyaratan pengunduran diri. Data diri saat awal Jovi masuk ke kantor, juga masih di arsip secara rapi.


Pak Hendra menaruh senyum memandang Jovi, sedang tak henti-henti tertawa sendiri. Jasa Pak Hendra lah juga, sehingga papa Fictor mau meminjamkan uang kepada papa Jovi, waktu dulu.


Pada tahun 2018, nilai pinjaman yang diminta papa Jovi terhitung kurang lebih 2 miliar. Lambat laun menginjak tahun 2020, sisa pinjaman yang tersisa tinggal Rp. 900.000.000,-

__ADS_1


"Ini pak, saya sudah menandatangani semua, uangnya saya transfer di rekening ini pak, dan sudah masuk," Jovi menyerahkan lampiran dan bukti transaksi.


"Baik, kalau begitu, sambil menunggu berkas kamu kembali, saya minta kamu meminta tanda tangan Pak Fictor, di bagian ini, ya?? nanti di bagian mengetahui, kamu minta tanda tangan beliau,"


"Ouh begitu, baik Pak Hendra."


"Saya permisi dulu pak, mari..."


"Ya mari...."


Jovi meninggalkan ruangan.


"Anas tolong kamu carikan berkas ijazah atas nama Jovi Andrianita ya?," Pak Hendra memberi perintah.


"Baik pak,"


"Di bagian kearsipan, map putih yang ada tulisannya alumni Stikes Wijaya,"


"Loh kenapa alumni Stikes Wijaya pak?,"


"Sudah, kamu nggak perlu tau, ayoo cari saja," Pak Hendra menyembunyikan semua.


"Baik pak, kalau begitu," Anas pergi dari ruangan.


Para pegawai baru mungkin tidak akan tahu, masalah perekrutan sebagian pegawai yang berasal dari alumni Stikes Wijaya. Hanya Pak Hendra serta para pegawai lama di kantor Fictor, mengetahui rahasia umum tersebut.


*************************


Ruang Staff Lantai 4


"Kreeeekkkkk....," Jovi membuka pintu.


Seperti biasa, celoteh suara dari Elmara, Robi, dan Vega langsung mengendus telinga perempuan cantik tersebut. Kedatangan Jovi selalu di manfaatkan mereka bertiga, menyindir puas satu sama lain.


Berbeda dengan Ola dan Alice, tetap menaruh senyum pada teman se kantornya tersebut. Jovi membiarkan apapun yang di katakan oleh Robi, Vega, maupun Elmara.


"Eh.. eh.. kalau gajian aja, belum ada seminggu, udah ke sini 2x lebih lo Veg, kemarin-kemarin ke mana? meeting? iya nggak sih," Elmara sengaja mengeraskan suara, agar di dengar Jovi.


"Ahhh... iya, iya, mungkin sekarang Jakarta Surabaya bisa ditempuh cuma dengan 15 menit aja kali Elmara, bo'ong buanget..," Vega melirik sinis jalan Jovi.


"Buanget.. buangssatt kali, hu.....," sahut Elmara.


"Kok bisanya masih punya muka gitu ya? aduuuh.. makan gaji buta tapi nggak nyadar diri, kena azab illahi baru tau rasa loe Jov, makan uang haram, keringat kita," Robi terang-terangan ke Jovi.


"Heh, mulut loe tuh diem Rob, asal loe tau aja, sebulan kemarin Jovi tuh nggak gajian, jangan asal deh, mulut loe kalau bicara, pake bawa-bawa azab lagi, loe kira loe itu Tuhan," bentak Ola.


"Halahhh.. nggak gajian, emang terus gue percaya aja gitu, hiiiihhhh... buktinya pas gajian dateng mulu ke kantor, kalau nggak duit banyak, nggak bakal tu kakinya mau masuk ke ruangan ini," Robi tetap mencari celah.


"Ya iyalah, naik mobil ke sini kan juga butuh bensin, emang Jovi mau gitu aja, dateng-dateng di suruh tanpa di bayarin," lanjut Elmara.


"Besok-besok awas kalau penjara penuh, karena dituntut makan gaji buta loe Jov," Vega melingkarkan dua tangannya.


"Mulut kalian tuh, bisa nggak sih, diem satu-satu, kalau nggak tau apa-apa, jangan ngomong, kalian tuh emang cocok ada di kantor ini," Ola beranjak dari kursi tak terima.


"Eeeh.. sudah, sudah, Ola biarin aja, ngapain di tanggepin, buang tenaga," Jovi mendudukkan Ola lagi.


"Mereka kurang ajar tau Jov, sama loe," telunjuk tangan Ola menunjuk Robi dkk.


Jovi memandang satu persatu, Vega, Robi, dan Elmara. Semua yang di lakukan Jovi selalu salah di hadapan mereka. Kecemburuan para pegawai lain, masih mengakar, setelah tau legalitas S1 Jovi tidak pernah di permasalahkan Fictor.


Suasana di ruangan, normal dengan aktivitas mereka, mulai mendudukkan diri masing-masing seolah tidak ada apa-apa. Sorot mata Jovi, dibuang tak di hiraukan Vega, Elmara, juga Robi.


Jovi menunjukkan lampiran kertas yang di bawa dari staff ruang HRD. Masalah pengunduran dirinya dari kantor, yang belum di ketahui oleh anak-anak.


"Elmara, Vega, Robi, Ola, Alice, maaf kalau selama ini gue banyak salah sama kalian, yang jelas mulai bulan depan gue udah resign dari kantor semesta grup,"


"Gak percaya," Elmara menyepelekan.


"Eh dia beneran bawa form pengunduran diri lo El, gimana nih?," bisik Vega.


"Nggak mungkin, nggak mungkin, kayak dia nggak butuh uang aja," Robi ikut menimbrung.


"Hah...???," Alice yang paling bereaksi di ruangan.


"Jovi, jangan dong, gue nggak mau jadi sekertaris Pak Fictor Jov," mimik wajah Alice begitu ketakutan.


"Ya biar Vega, atau Elmara aja yang gantiin gue jadi sekertaris Pak Fictor Lice, biar ngerasain, rasanya jadi gue selama ini," Jovi menenangkan Alice.


"Santai aja Lice, nanti gue yang bakal rekomendasi'in mereka sebagai penganti gue ke Pak Fictor," gertak Jovi pada Elmara dan Vega.


Vega mulai ciut nyali, bibir merah yang tadi dengan enteng mengatai Jovi, langsung diam tak berucap sepatah katapun. Badan Vega gemetar, takut jika Fictor menunjuk dirinya sebagai sekertaris.


Di tengah ketidak pedulian Elmara, ternyata Elmara juga menyimpan takut yang sama. Antara mereka bertiga, Hanya Robi yang berada di posisi aman.


Jahatnya Fictor sebagai pemimpin Semesta grup, sudah menjadi rahasia umum di kantor itu, sehingga rasa panik langsung menghantui mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2