
Setelah kepulangan Ernest dari keluar malamnya. Ernest terlihat memasang lesu saat berjalan menuju apartemen. Kakinya berhenti di apartemen bernomor 156.
Apartemen tersebut sudah menjadi fasilitas Ernest dari dulu. Saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, Tuan Toni sengaja membelikan putra tercintanya apartemen mewah seharga 33 miliar.
Maklum apartemen mewah di kawasan jendral sudirman tersebut, adalah apartemen yang tidak bisa di sewakan. Hanya bisa di beli dan kebanyakan di tinggali orang-orang kaya.
Anandamaya Residence sendiri berada satu kompleks dengan Astra Tower. Jakarta sudah menjadi rumah kedua Ernest saat dulu masih muda. Sebelum berpulang kembali, ke Surabaya.
Sesampai di depan pintu apartemen, Ernest langsung terkejut. Terlihat salah satu perempuan mendudukan diri di depan pintu sendirian. Dua lututnya di peluk oleh kedua tangan, dengan wajah yang di sembunyikan ke dalam tangan.
Nampaknya Jovi sedang menunggu Ernest di depan pintu. Baju dan celana juga masih sama saat digunakan Jovi untuk pergi makan ke restoran. Rambut panjang Jovi, terlihat menjuntai ke bawah, kadang tak sengaja menyapu lantai.
"Suster Jovi," Ernest berlari.
Tak berselang lama, Ernest langsung menghentikan langkah. Nampaknya kali ini Ernest terlihat mencoba membentengi dirinya sendiri, agar tidak terbawa perasaan atas semua sikap yang di lakukan suster cantiknya itu.
"Ingat Ernest, Suster Jovi sudah bukan seperti yang dulu." mata lelah Ernest memandangi Jovi.
Dengan posisi yang hampir tidak melihat wajah Jovi sama sekali. Dari dalam hatinya, Ernest sebetulnya tidak tega, setulus itu Jovi menunggu Ernest datang, sampai mau duduk di depan pintu apartemen.
Pukul 23.15, Ernest berdiri di samping pas Jovi. Laki-laki tampan tersebut, sama sekali tidak mendudukkan diri, Ernest memilih memanggil Jovi dengan berdiri di depan pintu.
Setiap apa yang di lakukan Jovi, benar-benar membuat Ernest galau. Cara dan trik apalagi yang akan di gunakan Jovi untuk mengambil rasa ibanya. Semua pikiran hanya berburuk sangka terus menerus.
"Bangun.., sudah malam," Ernest melihat Jovi masih tertunduk.
"Hey.. sudah malam, masuk nggak?," suara Ernest lebih keras dari sebelumnya.
"Hey penyusup.. bangun..!!,"
Ernest melakukan semua terlihat setengah hati. Namun wajahnya seolah benar-benar bisa menjalani peran antagonis dengan begitu baik.
Panggilan demi panggilan yang Ernest lontarkan. Tidak mendapatkan respon dari Jovi. Perempuan cantik tersebut, sudah terlelap tidur karena kecapek'an.
Ernest mulai membungkukkan tubuh, sikunya menyenggol lengan tangan Jovi. Sekali tidak bisa, siku Ernest lebih sering lagi di adu dengan kulit putih milik Jovi.
Perlahan, apa yang di lakukan Ernest terlihat membuahkan hasil. Jovi mengangkat kepala, mata Jovi mengerjap melihat ke depan. Tak lama, kepala Jovi menengok ke samping, ada Ernest sudah kembali berdiri tegap.
"Tuan."
"Tuan sudah pulang?," Jovi beranjak berdiri.
Ernest membiarkan, kakinya berjalan masuk meninggalkan Jovi.
"Tuan, habis dari mana? saya khawatir dengan Tuan Ernest," ucap Jovi mengikuti dari belakang.
Ernest makin tak sudi melihat Jovi. Saat ucapan-ucapan basi di buat oleh bibir indah suster cantik tersebut.
"Saya mau istirahat, kamu jangan ganggu saya." Ernest masuk kamar.
"Tapi tuan,"
"Braakk..," pintu sudah di tutup.
"Saya tidur di mana?," Jovi baru bisa melanjutkan lagi.
Ernest mungkin lupa, 1 dari 2 kamar apartemennya beberapa tahun lalu disulap Ernest bersama teman temannya menjadi ruang bermain billyard.
Di mana kamar apartemen hanya tersisa satu, untuk bisa di gunakan istirahat. Sedangkan sofa di ruang santai tampak masih penuh dengan barang-barang bawaan Ernest dari Surabaya beberapa waktu lalu.
Sedangkan untuk mengemas semua barang-barang di atas sofa, Jovi sudah tidak punya tenaga lagi. Kedatangan Jovi baru beberapa jam tadi, membuat tubuhnya kelelahan. Belum lagi, depresi pikiran sudah menguras habis hati dan tenaganya.
Tidak ada pilihan lain, Jovi berjalan ke arah sofa di mana set meja dan tape menjadi pandangan, design interior apartemen. Beberapa vas bunga juga menjadi pemanis ruangan, sehingga terlihat indah di pandang mata.
Meski apartemen sudah lama dikosongkan Ernest, setelah dirinya kembali pulang ke Surabaya. Namun apartemen milik pewaris tunggal kekayaan Wijaya itu, masih sangat terawat.
Beberapa foto lama Ernest bernama teman-teman kuliahnya di temukan Jovi, saat Jovi tidak sengaja mengemas berkas-berkas Ernest di atas meja.
Jovi juga tidak sengaja menemukan foto Fictor, dimana atasan Semesta Grup itu terlihat senyum ke kamera, dan berdiri di belakang Ernest pas. Masa remaja Ernest terlihat sangat tampan sampai sekarang juga.
"Lelahnya." Jovi sudah tidak kuat lagi mengemas barang.
Jovi hanya mampu membereskan sebagian barang-barang Ernest. Meski tangannya sudah bekerja semaksimal mungkin, nyatanya sofa masih banyak tumpukan barang lain.
Ada sebagian tempat, di mana Jovi bisa mendudukan diri. Perempuan cantik tersebut terlihat mengambil duduk, dan mematikan ponsel, sebelum akhirnya Jovi bisa bermimpi kembali ke masa lalu.
Sebelum mematikan ponsel, tangannya berjalan mengecek aplikasi M-Banking. Di sana saldo Jovi terlihat sungguh-sungguh 500.000. Harapan transferan uang menyasar, atau kiriman dari mana, memenuhi ilusi Jovi malam ini.
Jovi punya keinginan, jika ada saldo 2.000.000, perempuan cantik tersebut akan memilih penginapan lain di Jakarta sembari menunggu penerbangan Jakarta Surabaya di buka kembali.
"Seandainya, ada 2.000.000 saja saldo, atau 3.000.000, mungkin pergi dari sini lebih baik Jov.." lamun Jovi.
"Papa nggak mungkin punya rejeki lebih, bunga pinjaman saja sudah naik 25%, terus siapa yang kira-kira bisa transfer uang?."
"Ola..." Jovi nampak bersemangat.
Namun tubuhnya kembali melemas.
"Ola tidak akan memiliki uang lebih, adiknya saja butuh uang buat kuliah, haduuuh Jov.. sabarlah." ucapnya berpasrah.
Lamunan Jovi kembali ingat, gaji Ola selalu digunakan untuk membayar biaya kuliah adiknya yang ingin menjadi Dokter, di mana semua biaya hanya Ola yang menanggung. Karena ekonomi keluarga Ola yang tidak begitu baik.
"Kreeeekk..," Ernest membuka pintu.
__ADS_1
Malam ini, Ernest sudah terlihat keluar kamar dengan menggunakan piyama satin berwarna biru tua, semua terlihat kontras dengan kulit Ernest yang putih.
Bukannya memastikan keadaan Jovi, kaki Ernest nampak berjalan ke arah dapur mengambil minum. Suasana terdengar sangat hening, hampir tidak ada satu pun suara yang memecah, kecuali suara air yang di tuangkan oleh tangan Ernest.
Ernest kembali melangkah ke kamar, tetapi pandangan laki-laki tampan tersebut mulai tidak tenang, saat menemukan sesosok perempuan terlihat duduk di sofa, dengan rambut hitam panjang yang panjang.
Lampu sebagian ruangan sudah di matikan, membuat wanita misterius tersebut nampak menganggu pikiran Ernest. Ketakutan mulai menyelimuti, apalagi apartemen Ernest sudah lama tak berpenghuni, Ernest takut ada hantu di apartemennya.
"Siapa itu?," Ernest menaruh gelas kembali.
Perlahan, rasa penasaran Ernest semakin mengajak kakinya, memastikan siapa yang ada di sana. Bulu halus tangan Ernest ikut berdiri, kakinya terasa gemetaran berjalan.
Semakin mendekat ke sofa, Ernest merasa lehernya ditindih barang berat. Serasa kaku di sekujur tubuh, Ernest benar-benar berdebar.
Perlahan Ernest memberanikan diri, melihat perempuan panjang berambut panjang tersebut. Lampu gantung yang terlihat remang, semakin membuat perasaannya lebih berdebar terus menerus.
"Praakkk....,"
Ernest menjatuhkan benda, Jovipun menoleh.
"Waaaaaaaaaaa....,"
"Aaaaaaaa...," Jovi ikut berteriak.
"Suster..." Ernest memarahi.
"Ada apa tuan?," sontak Jovi langsung ikut berdiri.
"Suster Jovi, saya takut kamu di situ," rengek Ernest takut hantu.
"Aaaa... ma-maaf tuan, sa-saya mainan hp tadi." Jovi bingung tidak tau apa-apa.
Keringat Ernest beruntusan, gara-gara Jovi setengah nyawa Ernest terasa seperti di cabut paksa oleh malaikat. Semua lantaran, Ernest melihat Jovi wajahnya di sinari layar HP, yang ada di tangan kiri perempuan cantik tersebut.
Sungguh Ernest sangat kesal, Jovi membuat gemetar tubuhnya. Rambut panjang yang di miliki Jovi, seperti mengubah Jovi benar-benar mirip dengan hantu.
"Suster Jovi ngapain di situ? ampun.. jantung saya copot gara-gara suster Jovi." Ernest mengusap keringat.
"Maaf tuan, tadi saya mainan HP."
"Saya kira tadi itu hantu ternyata..,"
"Hhhppp... hahahaha," Jovi tidak kuat menahan tawa.
"Jangan ketawa," nada Ernest sudah berubah lagi.
Ernest terlihat tidak suka Jovi tersenyum ke arahnya. Kesadaran Ernest setelah lepas dari ketakutannya, membuat Ernest kembali galak. Jovi mulai takut, saat mata laki-laki yang mencintainya itu, melirik sinis ke arah Jovi.
Malam ini, suasana sungguh sangat berbeda dengan dulu. Pukul 23.45 Ernest dan Jovi tampak masih berada di ruang tengah.
"Maaf tuan, saya tidak tau mau ke kamar mana? jadi saya istirhat di sofa dulu." Jovi meremasi tangan.
"Kok ke kamar mana? memangnya kamu nggak tau, itu kan kamar? kenapa kamu mendadak seperti orang linglung sih." Ernest menunjuk kamar ke 2.
Jovi hanya melihat aneh ke arah Ernest.
"Kamar itu? tadi saya buka, itu ruang billyard tuan."
"Ruang billyard?," Ernest mengingat.
"Ouh iya, kamar itu ruang billyard,"
Tampaknya Ernest betulan lupa, meski perasaannya mulai khawatir terhadap Jovi, tetapi mulut laki-laki tampan tersebut enggan menawarkan kamarnya untuk Jovi bermalam.
Tumpukan jass, sepatu, buku, dan beberapa berkas, juga terlihat memenuhi semua sofa. Ernest merasa kasihan, tetapi, banyak tapi, tapi, yang muncul di hatinya.
"Ya sudah, istirahat di situ saja." suruh Ernest.
"Baik tuan."
"Nyalakan saja lampunya, kamu kan takut gelap." Ernest mengetahui kelemahan Jovi.
"Iya tuan."
Tanpa merasa berdosa, Ernest mengangguk kepala, menyuruh kembali Jovi istirahat di sofa saja. Kakinya berjalan meninggalkan Jovi tanpa berpamit terlebih dulu, apalagi mengucapkan selamat malam.
Malam ini, mereka berdua sama-sama terlihat baru mengistirahatkan diri pada pukul 12 malam. Ernest sendiri di dalam kamar tidak langsung tidur, tangannya memangku laptop mempelajari materi meeting besok.
Suasana di dalam kamar Ernest sendiri, hanya terdengar ketikan tangan di atas keyboard laptop yang Ernest bawa. Sesekali, suara tegukan air minum yang di ambil Ernest dari dapur, juga terdengar.
Pada pukul 00.30 mata laki-laki tampan tersebut, sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Ernest menaruh kembali laptop di samping meja, di situ Ernest menemukan pandangan berbeda.
Ada beberapa kapsul yang sudah di tata Jovi lengkap dengan vitamin untuk kesehatan Ernest. Satu kebiasaan baik Jovi tersebut, nampaknya tidak bisa di hilangi, malam ini, Ernest merasakan sesak di hatinya.
"Suster Jovi.. apa mau kamu? kenapa kamu masih terlalu peduli dengan saya, ini perintah Fictor, atau ini dari niatmu sendiri, semua benar-benar susah di bedakan," Ernest mengacak acak rambut.
Semenjak pengakuan yang dilakukan Jovi, antara yang tulus dan modus, semua begitu susah di bedakan Ernest. Tidak tau, setelah melihat obat dari tatanan tangan Jovi, laki-laki tampan tersebut, kembali mencemaskan Jovi.
"Ernest, Ernest, kenapa kamu begitu tega? dia anak orang, dia punya keluarga, kenapa kamu sebegitu tidak memanusiakan dia Ernest," ucapnya dilema.
Nampaknya Ernest kembali membuka pintu, melihat lagi di mana Jovi sedang beristirahat. Seperti yang di duga Ernest, tubuh wanita yang di cintai Ernest tersebut, menyandar di sofa.
Bukan ada di atas sofa, Jovi terlihat memilih tidur di bawah. Hanya kepalanya yang sedikit meminjam gagahnya sofa duduk. Tangan dan kaki Jovi terkulai lelap di atas lantai.
__ADS_1
Sofa sesak mungkin yang menjadikan alasan Jovi untuk berpindah tidur di bawah. Apalagi Ernest juga lupa, tidak memberikan bantal ataupun selimut sebagai penghangat diri waktu tidur.
"Suster Jovi...," Ernest membangunkan tak tega.
"Kenapa tidur di bawah? Ya Tuhan Ernest, kamu ini jarang buat pahala, malah bikin dosa aja," gerutunya terhadap diri sendiri.
"Suster bangun.."
Karena patah tulang serius di tangan Ernest, sampai saat ini, rupanya Ernest masih menjaga kondisi tubuhnya. Sehingga tidak bisa, menggendong Jovi ke dalam kamar.
Tangan Jovi terasa dingin, saat tidak sengaja tersenggol dengan lengan laki-laki tampan pemilik Wijaya Grup. Rambut panjang Jovi terurai menutupi mata, membuat lelap tidurnya semakin susah di bangunkan.
"Suster bangun ya.? suster Jovi."
"Eemmb..," Jovi mulai sadar.
"Suster, ayoo pindah ke kamar..!!," Ernest mendudukkan diri di depan Jovi.
"Tuan..," Jovi langsung menekuk kakinya yang tadi berselonjor.
"Tidur ke dalam, di sini dingin," Ernest meninggalkan.
Jovi pun berjalan mengikuti Ernest, baju yang di gunakan Jovi tampak masih sama. Celana jeans di gunakan Jovi untuk tidur, karena tidak sempat ganti pakaian, akibat mencari tempat istirahat.
Perempuan cantik tersebut masuk ke dalam kamar yang cukup luas dan rapi. Selimut besar berwarna putih, bantal-bantal besar, segera langsung ingin do terjuni tubuh Jovi. Tapi sayang, Jovi bukan pemilik kamar.
Ernest mengambil satu piyama lagi miliknya berwarna hitam, yang tidak di sangka di berikan ke arah Jovi. Pandangan mata Jovi tidak bisa lepas, dari hidung mancung Ernest, sedang mengobrak abrik lemarinya.
"Pakai ini, ganti baju, sebelum tidur..!! saya nggak terbiasa, lihat orang tidur dengan pakaian seperti itu."
Ernest memberi piyama miliknya, Jovi mengangguk tak membantah.
"Terima kasih tuan, atas pinjaman bajunya." Jovi pergi masuk kamar mandi.
Ernest pun lalu berjalan ke ranjang, tubuhnya sudah lebih dulu di masukkan ke dalam selimut hangat, tadinya sudah menjadi incaran suster cantiknya tersebut.
"Kreekkk..," Jovi keluar kamar mandi.
Pandangan berbeda di lihat Ernest, piyama hitam milik Ernest ternyata nampak kedodoran di kenakan Jovi. Tinggi badan Ernest yang sedikit berbeda dengan Jovi, membuat celana piyama tersebut menyapu lantai.
Jovi menutupi bagian dada'nya, di mana belahan piyama yang harusnya ada di atas menurun ke bawah belahan dada suster cantik tersebut. Jovi gemetaran, saat Ernest betul-betul menyuruh Jovi tidur di sampingnya.
"Tuan, saya tidur di mana?." Jovi melihat Ernest.
"Samping saya saja tidak papa, mata saya sudah tidak kuat, saya tidur dulu." Ernest menahan mata melihat Jovi.
Jovi benar-benar terlihat cantik dengan piyama hitam dan rambut panjang. Sayang Ernest sudah tidak peduli karena kantuk, yang sudah menyergap mata.
Jovi berjalan menaruh tubuh di atas ranjang. Posisi tidur Jovi nampak sudah menjaga jarak dengan Ernest. Semua terbukti saat Jovi menaruh tubuhnya di pinggiran tepi ranjang.
Ernest sendiri sudah terlelap tidur, mata lelah karena bekerja, pengakuan Jovi, malam ini sungguh menyita fikiran dan perasaan laki-laki tampan tersebut.
Suasana sangat terasa hening, hanya Jovi dan dua matanya yang masih belum terpejam. Langit-langit kamar nampak indah dengan cahaya lampu tidur di kamar Ernest. Jovi memberanikan diri, menoleh ke samping ranjang, melihat Ernest sudah tidur lelap.
Mata itu, bibir itu, hidung mancung Ernest, bisa di lihat dengan kasat mata. Wajah lelah dan mata terpejam Ernest membuat Jovi, kembali di ancam dengan rasa bersalah.
"Tuan, saya tau Tuan Ernest kecewa dengan saya..!! Tuan, jika saja Tuhan mempertemukan saya lebih dulu dengan tuan, pasti saya akan senang," Jovi memandangi wajah Ernest.
Semua rasa bersalah sedikit berangsur mereda, meski masih menyisakan sakit di hati Ernest. Namun Jovi merasa, itu adalah keputusan terbaik saat ini. Sebelum Fictor dan Meghan memberi tahu Ernest lebih dulu.
Tidak lama setelah itu, Jovi kembali ikut terlelap. Du tangan perempuan cantik tersebut, di tumpu pada atas tubuhnya, Ernest pun juga demikian.
PUKUL 02.30, Jovi tiba-tiba menangis.
"Hiks.. hiks.. jangan Pak, jangan ambil adik saya." kepala Jovi gelisah.
Ernest mendengar suara, tidurnya terbangun, dengan mata mengerjap bula tutup tampaknya Ernest mencari dari mana asalanya suara.
"Jangan Pak, jangan, hiks.. hiks..," Jovi sungguh-sungguh menangis.
Ernest mendekatkan tubuhnya ke Jovi. Kepala Jovi terlihat gelisah, karena mimpi buruk.
"Suster, Suster Jovi..!! suster bangun suster," Ernest menepuk pipi Jovi.
"Aqila..?? ini kakak, jangan tinggalkan kakak Aqila," ucap Jovi saat mendapati tangan Ernest.
"Suster, suster Jovi..!! suster, itu cuma mimpi," Ernest bingung.
"Kakak nggak mau jauh dari kamu Aqila, kakak pasti akan jagain kamu, Aqila," tangan Jovi meremas baju.
"Suster.. suster Jovi.. hussstt.. hey.. hey.. tenang, hustt.. sayang, hey hey... cup cup," suara Ernest tidak tega melihat.
Jovi kembali memeluk erat Ernest.
"Jangan tinggalkan kakak Aqila, kakak sayang kamu, kakak rindu kamu," air mata Jovi mengucur.
"Husttt.. jangan menangis, iya saya di sini," ucap Ernest menyilakan rambut Jovi.
"Kakak pasti bisa jagain kamu hiks.. hiks,"
"Iya iya,"
Ernest menyerahkan tubuhnya agar di peluk Jovi. Dua tangan Jovi nampak terasa erat memeluk Ernest. Malam ini Jovi menganggap bahwa Ernest adalah Aqila.
__ADS_1
Ketakutan yang sangat-sangat, Jovi mendekap Ernest dengan erat. Air mata yang tidak sengaja berhamburan keluar di atas ketidak sadaran putri cantik tersebut, dihapus Ernest satu persatu.
Malam ini mereka berdua sedang tidur berpelukan. Di mana dua insan yang saling di landa cinta, namun harus menyakinkan dirinya masing-masing. Atas misi yang terjadi beberapa bulan lalu.