
Mendengar semua yang diucapkan oleh Fictor, mengajak Jovi harus berfikir dua kali, ketika berniat mengundurkan diri dari kantor semesta group. Rasa hati sudah tak sanggup, namun keadaan masih memaksa.
Jovi tidak mungkin punya uang perbulan sebanyak 195.000.000, seperti yang diminta oleh Fictor, padanya. Darimana perempuan cantik tersebut, bisa mendapatkan hasil uang sebanyak itu.
Gaji dari semesta group cukup untuk dibuat membayar bunga, sebelum angka itu, dinaikkan 4x lipat oleh Fictor. Atasan kejam Jovi, selalu mempunyai cara, menindas Jovi setiap kali.
Belum selesai rasa nyeri pada bagian pipi suster Jovi. Fictor sudah membawakan form pengunduran diri, mencoba menantang wanita, sedang tak berdaya di kursi kantor.
"Gimana sanggup nggak lo, ngebayarin hutang bunga + pokok yang dipinjamkan sama papa gue," Fictor menertawai.
"Karena loe udah berani membangkang, sama apa yang sudah gue perintahin, jangan harap loe bisa jadi sekertaris lagi di kantor ini," mata Fictor menatap tajam.
"Silahkan isi nih form pengunduran diri, kalau loe bener-bener nggak mau mengotori tangan loe, buat ngebunuh si Ernest," tangan Fictor menaruh form.
Kepala Jovi tetap tidak mengalihkan pandangan, tatapannya kosong, memandang lantai putih kantor, yang terlihat samar bayangan tubuh Jovi, sedang duduk di atas kursi.
Dirinya sudah lelah diperbudak oleh Fictor, keputusan Jovi sudah bulat, mencari jalan lain untuk melunasi hutang. Sekalipun itu, harus menjual dirinya, pada pria berhidung belang.
Menurut Jovi itu lebih terhormat, jika dia harus mengotori tangannya sendiri, membunuh pria tak berdosa dan tidak tau apa-apa. Ernest tidak akan dikorbankan Jovi, sekalipun Fictor langsung melunasi semua hutang papa Jovi.
"Lihat gue," Fictor mencengkram wajah Jovi.
"Orang yang udah berani berurusan sama gue, jangan harap bisa bernafas lega, kecuali mati, paham loe," tangannya membuang kasar wajah Jovi.
Fictor jalan pergi ke arah kaca.
"Jovi, kalau loe benar-benar nggak mau lagi menuruti apa yang gue inginkan, jangan harap keluarga loe bisa tidur tenang di rumah," Fictor marah.
"Praaaaakkkkk..," suara asbak rokok di banting Fictor.
"Gue juga bakalan ngasih tau Ernest, kalau loe itu suruhan gue, loe pembohong, loe penghianat, meskipun sekarang loe baik di depan si Ernest, loe nggak lebih, cuma sekedar pesuruh gue," telunjuk tangan Fictor meneriaki.
"Pikir ulang, kalau loe masih mau ngebantah tawaran gue." tandas Fictor.
Semua tetap tak ada respon dari bibir Jovi. Matanya masih berair, wajahnya memerah tak kuat, bibir Jovi mencoba menghambat, tangis yang sebetulnya sudah terpecah.
Apa yang dikatakan Fictor ada benarnya, sebaik apapun Jovi di depan Ernest, tetapi dia tetap penghianat. Tambahan pahala dari segi mana lagi, yang akan dapat mengampuni dosa besar Jovi.
Satu persatu, kebaikan Ernest, mulai mengusik hati dan fikiran, perempuan cantik tersebut. Mata tak berkedip Jovi, kembali mengingat, bagaimana paniknya Ernest saat maag Jovi kambuh.
Semua terasa menyakitkan, apalagi setelah perasaan cinta, yang mulai muncul di hati Jovi. Perlahan dikubur dalam-dalam. Jovi merasa tidak pantas, jika di sandingkan dengan putra tunggal Toni Wijaya tersebut.
"Tuan Ernest, apakah tuan tetap sudi mengenal saya? Tuan, apakah tuan Ernest, akan selalu baik pada saya? setelah mengetahui, saya menjadi suster hanya karena suruhan," air mata itu mengalir di pipi Jovi.
"Tuan Ernest terlalu baik, kamu hanya seorang pecundang Jovi, kamu tidak lebih hanya pesuruh, iya, kamu tidak lebih hanya pembohong dan penghianat," batinnya lagi.
Binar mata Jovi, mengingat, bagaimana baiknya Ernest selama ini kepada dia. Gelak tawa Ernest dan Jovi, saat terjebak di ruang berkas, mendadak mengiang hebat, pada kedua telinga perempuan cantik tersebut.
Sampai saat ini, Jovi selalu berusaha menepis, rasa cinta, mulai menjalar pada tubuh. Jovi langsung menghapus air matanya kasar. Pamit pergi meninggalkan Fictor.
"Baik, kalau begitu, saya permisi dulu pak," Jovi mengangkat tubuh, berdiri dari kursi.
"Pergi, oohhh.. OKE, silahkan..!! 25% menanti loe Jovi, anjiiiingg... SIALAN,"
"BRAAAKKK..," kaki Fictor menendang kursi yang tadi ditempati duduk Jovi.
"Maaf, sudah menganggu kerja Pak Fictor pagi ini, selamat pagi," tuturnya membungkukkan tubuh.
Fictor langsung berjalan ke arah Jovi, tangan kanan Fictor mencekik leher putih, tak berkalung. Jovi kelimpungan, tenggorokannya sakit, sebab perlakuan Fictor.
"Paaaaakk..," Jovi teriak takut.
"Loe yang memulai duluan," tangan Fictor mencengkram lebih ganas.
"Tiiiiidaaaakk pak," nafas Jovi sesak.
"PERGI loe.. pergi cepetan, dasar perempuan nggak tau di untung loe Jov," Fictor melepas kesal dan sangat marah.
__ADS_1
Rasa tamparan di pipinya belum hilang, cekik leher tangan Fictor ke arah Jovi, menambah pilu pengambilan gaji pagi ini. Semua bukan tentang menjemput gaji, tetapi menjemput ajal.
Suara kursi yang di jatuhkan Fictor, tepat di belakang Jovi, masih membuat jantung Jovi, berdegup tidak teratur. Jemari tangan Jovi, menyabet lembar form pengunduran diri, dari meja Fictor.
Kekecewaan perempuan cantik tersebut, sudah teramat dalam. Gaji puluhan juta, menjadi incaran Jovi, sejak diminta menjadi suster Ernest tidak di cairkan.
Sepeserpun Jovi tidak mendapatkan upah, bahkan lemburnya beberapa waktu lalu, juga sia-sia tak dibayar. Kaki Jovi berlari kecil ke luar ruangan, tidak kuat membendung tangis.
"BRAAKKK.....," Fictor menutup pintu kasar setelah Jovi pergi.
"Pergi loe sejauh mungkin, brengsek, gue nggak bakal acc surat pengunduran diri dari loe Jovi.." teriak Fictor di dalam ruangan.
Fictor seperti masih tidak percaya, tangan Jovi mengambil form pengunduran diri. Dimana tadinya, Fictor menyepelekan Jovi, bahwa Jovi tidak akan berani mengundurkan diri.
Jika Jovi benar-benar pergi, Fictor sendiri akan merasa kesulitan. Tander proyek di kantor semesta group, beberapa petingginya selalu mencari Jovi saat meeting, dan menjelaskan prospek perencanaan kerja.
Publik speaking yang bagus, sangat membuat para investor Fictor, menyukai Jovi ketika ikut meeting dengan Fictor. Mungkin semua akan butuh penyesuaian ulang, jika Jovi benar-benar mengundurkan diri.
"Jovi.. gue nggak bakal, ngebuat loe lolos begitu saja." gumam Fictor ulang.
*******************
RUANG STAFF SEMESTA GROUP, LANTAI 4.
Jovi keluar, wajahnya merebak warna kesedihan, Ola langsung memandang, ketika bunyi pintu terdengar, sedang ada orang yang keluar.
Beberapa staff kantor seperti Elmara, Vega dan Robi, hanya berani bermain pundak, menduga apa yang sedang terjadi pada Jovi. Rambut Jovi berantakan, melumuri wajah, dengan tangis yang masih saja mengurai.
Ola mendadak menghentikan kursor komputer di tangan kanannya. Jantungnya tak kalah ikut berdegup kencang, apa lagi yang terjadi pada sahabat di kantornya tersebut.
Heningnya ruangan staff di lantai 4, semakin memperjelas sisa tangis Jovi, yang masih tersisa. Bekas merah di pipi, terlihat samar membekas. Tamparan Fictor hari ini, sudah menyadarkan Jovi dari segalanya.
Ola langsung berdiri, dia jalan, merangkul pundak teman seperjuangan'nya saat masuk ke kantor semesta group. Kedua alumni stikes wijaya tersebut, sudah paham akan kejahatan Fictor.
"Jov... loe kenapa..? dimarahin?," Ola mengintip wajah Jovi yang menunduk.
"Udah jangan nangis...," Ola menggandeng tangan sahabatnya.
"Loe balik kerja aja Ol, gue udah mau balik, gue nggak papa," pundak Jovi masih naik turun karena tangis.
"Nggak, kerjaan gue udah hampir selesai," Ola keluar ruangan.
Jalan kaki Ola dan Jovi mengajak pada kursi tunggu, berada pas di depan lift lantai 4. Tangis suster Ernest kembali membabi buta, saat tinggal sisa Jovi dan Ola di ruangan.
3 tahun yang lalu, Ola dan Jovi, masuk sebagai staff di kantor semesta group. Dulunya mereka adalah calon perawat, yang sudah lolos seleksi di RS Wijaya, lagi-lagi karena niat busuk Fictor, Ola dan Jovi mendekam di tempat ini.
Lorong kantor sangat sepi, wajar, karena ini memang masih jam kerja, dan terhitung masih di mulai. Kepala Jovi mematung memandang lift tanpa ucap patah kata. Bibirnya mengharu biru, kesedihan di bulan ini.
Tangan Ola menggenggam, dua tangan tak bertenaga milik Jovi. Setidaknya, suppport dari Ola, sedikit menenangkan hati suster cantik, kesayangan Ernest itu.
"Jov, loe kenapa? Fictor ngapain loe lagi..? loe di tampar ya..?," tangan Ola meraba pipi Jovi.
"Aaaahh.. jangan di pegang Ol, sakit, nggak kok, cuma cek cok sedikit," Jovi menjauhkan tangan Ola.
"Pasti loe habis di tampar lagi kan sama Fictor, kapan ya tuh orang kualat, atau jabatan dia di gantiin sama adiknya aja, kesell gue."
"Fictor itu kerangkanya aja yang manusia, hatinya benar-benar iblis, siluman, jin, semua jadi satu di tubuhnya," gerutu Ola tak henti.
Jovi diam saja, tetap tak bergeming, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 juga tidak di hiraukan Jovi.
"Ol, gue ini orang jahat ya? kalau gue masuk penjara, loe apa masih mau temenan sama gue? atau kalau semisal gue ngebunuh orang, kira-kira loe masih mau nggak, temenan sama kriminal," tangis Jovi pecah.
"Jovi, Jovi, apa sih yang loe omongin? Ya Tuhan Jovi, loe nggak jahat, loe justru baik banget Jov, kenapa loe bisa ngomong kayak gini sih..?? Jovi, Jovi sabar Jov," jemari tangan Ola mengusap cepat, derai air mata Jovi.
"Siapa yang loe maksud mau loe bunuh Jov..?? Jovi, loe jangan bikin gue merinding, Jovi.. sadar Jov, loe banyak-banyak istighfar Joviii..."
"Gue bingung Ol, gue harus gimana? pikiran gue buntu? depresi gue hiks.. hiks...," kepala Jovi terjatuh dipundak Ola.
__ADS_1
"Ya Tuhan Jov, Jovi loe jangan kayak gini, gue malah jadi ikutan sedih Jovi," Ola memeluk erat tubuh Jovi yang lunglai.
"Gue akui kok, gue butuh uang Ol, utang papa gue juga masih banyak, tapi gue nggak mau Ol. kalau disuruh ngebunuh orang, apalagi orang itu nggak berdosa, hiks hiks....."
"Jovi, Jovi, apa sih yang loe omongin? Jovi loe jangan ngelantur," Ola terlihat syock.
"Gaji gue nggak di acc Ola, bunga utang papa gue di naikkan Pak Fictor jadi 25%, dia kecewa udah ngebohongin dia, tentang keadaan tuan muda. Gue nggak bisa Ola, gue nggak sanggup."
"Ya Tuhan Jov, Jovi yang sabar ya Jov..!! otak Fictor makin di racuni sama iblis, loe jangan mau," saran Ola meskipun Jovi tidak menyebutkan nama yang di maksud.
"Kalau loe sampai berani ngebunuh, bisa-bisa loe nanti, seumur hidup mendekam di penjara Jov, tuan muda bukan orang sembarangan di kota ini, orang tuanya pasti akan menuntut berat."
"Hikss... hiksss...," tangisan Jovi tetap menggema.
"Jovi dengerin gue..!!," Ola membangunkan tubuh Jovi.
"Jov, kalau loe masuk penjara, pertama hutang papa loe tetep akan banyak, dan yang kedua, loe bayangin gimana hancurnya perasaan mama sama papa loe, waktu tau anaknya masuk penjara, pasti mereka bakal sedih banget Jov," Ola mengelus pundak Jovi.
"Iyaaa...," anggukannya sangat pelan.
"Jovi, selama ini loe udah berkorban mati-matian biar hutang papa loe cepet lunas kan, loe bela-belain seperti ini, cuma demi apa, demi hutang uang yang segera lunas kan? loe nggak lagi balas budi kan?." Ola melihat Jovi berderai air mata.
"Tapi gue ngerasa punya hutang budi banyak Ol, karena Om Purwo perusahaan papa gue, nggak jadi bangkrut, ya walaupun masih banyak hutang dimana-mana."
"Jov, kalau selama ini loe balas budi ke Fictor itu salah besar, Fictor bukan orang yang pantas dikasih balas bukti, toh nyatanya sekarang suku bunga hutang papa loe, langsung dinaikin jadi 25% kan? gara-gara apa? karena loe nggak bisa, nuruti kemauan dia."
Suasana hening tidak terelakkan, Jovi diam di hadapan Ola. Kakak Aqila tersebut, benar-benar sabar dan tegar. dalam menghadapi semua ujian.
"Triiinggg... tiiing.. tiingg..," dering ponsel Jovi berbunyi tapi tidak terdengar.
"Jov, selama ini loe udah terlalu baik jadi orang, lihat, apa selama ini kerja keras loe di hargai sama Fictor?? apa selama ini Fictor selalu berterima kasih sama loe? nggak kan Jov..??."
"Lebih baik, mending loe jujur dulu aja ke tuan muda, jelaskan yang sebetulnya terjadi Jov, gue takut, kalau semua udah terlambat, malah jadi boomerang buat loe Jovi...!! Kalau loe tega, kasih tau aja sekalian Jov, tentang kebusukan Fictor selama ini," Ola geram.
"Kasihan Pak Fictor Ol..," gumam Jovi lirih.
Kebusukan Fictor terhadap keluarga Ernest, memang sudah sangat banyak. Mulai dari rekrutmen yang sudah berhasil di rusak Fictor, media selalu di beri uang suap, untuk memberitakan bisnis keluarga Wijaya, dengan tidak baik.
Rasanya, kaki Ola dibuat ingin jalan pergi menemui Ernest, memberitahu, satu persatu kejahatan Fictor. Sayang, sahabat Jovi itu sendiri, masih butuh uang, untuk membantu kuliah adik Ola.
"Gue sendiri nggak tega Jov, lihatin loe bertahun-tahun disini, setiap hari di intimidasi sama Fictor, wake up Jov, ayooo... mana Jovi yang dulu, pas kuliah selalu ceria, nggak pendiam kayak gini, Ya ampun Jovi, gue sayang banget sama loe, gue nggak tega lihat loe kayak gini," ganti Ola yang menangis.
"Makasih ya Ola, loe udah selalu ada buat gue, mau susah ataupun seneng, gue juga sayang banget sama loe,"
"Sama-sama Jov, meskipun loe bukan saudara kandung gue, tapi gue sayang sama loe udah kayak saudara sendiri."
"Heemm.. makasih ya.."
Jovi menepuk pundak Ola, memaksa melukis senyum pada wajahnya. Agar Ola, tidak ikut menangis karena suasana haru biru dilorong, yang hanya ada mereka berdua.
Lembar form pengunduran diri, dibawa keluar Jovi tadi, masih menggulung di samping tubuhnya. Perempuan cantik tersebut, tidak menyadari bahwa dari tadi ponsel Jovi sudah bunyi berkali-kali.
Rasa sedih, bercampur depresi sedikit berkurang. Setelah Ola memberi saran dan mendengarkan semua keluh kesah Jovi di pagi itu.
"Gue mau mengundurkan diri saja Ol, kelihatannya resign dari kantor, udah jadi pilihan terakhir gue, masalah nanti gimana ngelunasin hutang papa, nanti difikir sambil jalan," keputusan Jovi keluar.
"Jovi, meskipun gue nggak bisa dukung loe lewat finansial, tapi gue selalu dukung, apapun keputusan loe Jov."
"Makasih ya Ol, loe sudah sedikit membuka jalan fikiran gue," senyum Jovi terlihat ikhlas.
"Sama-sama Jov, mending loe balik, nanti loe dicariin sama laki-laki tampan pasien loe," suruh Ola pergi cepat.
"Heem, makasih Ola."
Jovi melihat jam tangan, jarum sudah menunjukkan pukul 10.10 WIB. Semua meleset, tidak seperti yang Jovi rencanakan. Kembali tiba dirumah sebelum pukul 10.00 pagi.
Perempuan cantik tersebut, memasukkan form pengunduran diri ke dalam tas. Pelukan Jovi dan Ola nampak terlihat, sebelum kaki panjang Jovi pergi menuju lift.
__ADS_1
Akhirnya Ola dan Jovi berpisah, setelah Jovi masuk ke dalam lift, dan Ola kembali ke ruangan. Semua sangat berat, dihadapi oleh Jovi.