
Setelah Jovi menyelesaikan tugasnya, pada pagi hari ini. Dia terlihat mengemas, dan merapikan kembali box makan. Tadinya berantakan, di atas meja kantor.
Perutnya mulai terdengar menggaung, karena bekal makan, lupa dibawa oleh Jovi. Namun dia tetap menyembunyikan itu semua, didepan Ernest.
Jovi tidak berani mengeluhkan, perutnya yang mulai sedikit nyeri. Karena sejak pagi, belum termasuki sesuap nasi sama sekali. Hingga pukul 10.00 wib.
"Haduuh... Jovi.. Jovi.. Kenapa biskuit gandum dan bekal makan, kamu tinggal didalam kamar sih?" Jovi membatin kesal.
Jam dinding, berada diatas pintu masuk. Semakin cepat menunjukkan pukul 10.10 pagi. Tidak ada hal lain yang dilakukan Jovi, kecuali terdiam.
Matanya memandang, laki-laki di sampingnya, tengah sibuk mengecek berkas-berkas kantor. Kelopak mata Jovi, seakan sudah lelah menari.
Daritadi dia hanya mengamati, setiap sudut ruangan yang tidak berubah. Hanya jam dinding, dengan jarum yang selalu berjalan mengganti waktu.
Kantuk kadang justru menyergap kedua mata Jovi, apalagi bangunnya tadi terlalu pagi. Membuat kedua bola mata sehati, dengan perasaan merasakan jenuh.
"Suster...," panggil Ernest memecah keheningan.
"Ya Tuan Ernest," Jovi memperbaiki duduknya.
"Suster Jovi, sudah sarapan tadi?," tanya Ernest tanpa memalingkan mata ke arah Jovi.
"E-emb sudah Tuan..," Jovi merasa tak enak.
"Besok kita berangkat pagi seperti tadi, jangan lupa bangun pagi lagi suster."
"Iya tuan, maaf, tadi sedikit menunggu saya. Besok saya bangun lebih pagi," ucapnya berjanji ke Ernest.
"Kamu itu perempuan suster, bangun itu yang pagi seperti Bik Yuni, besok jadi seorang calon istri dan calon mamah untuk anak-anak kamu," tutur Ernest menasehati.
"Hehehe iya tuan, terimakasih atas nasehat nya," Jovi terkekeh.
"Ngomong-ngomong, kamu bilang katanya punya adik? emang umur berapa tahun?."
"Umur tiga tahun tuan."
"Terpaut jarak yang jauh dong, sama kamu?? wah... kebobolan itu orang tua kamu haha," Ernest tertawa.
"Mungkin," jawab Jovi tersenyum malu.
"Besok kamu nikah, adik kamu belum tentu udah lulus SD," Ernest masih belum berhenti tertawa.
"Kurang tau tuan, hehehe" Jovi semakin bingung menjawab apa.
"Kreeeeeek...."
Pintu Kantor Ruangan Terbuka.
Jovi memandang ke arah pintu, Seseorang terlihat masuk kedalam ruangan. Matanya melihat, perempuan yang tidak kalah cantik darinya.
Rambutnya lurus sebahu, beratasan baju biru tosca, dan bawahan rok span putih. ID card kantor, terjepit rapi disebelah kanan baju perempuan itu.
Tubuhnya tinggi, berkulit putih, hidungnya standart, tetapi memiliki bulu mata yang lentik. Beranting besar warna putih. Dan tahi lalat kecil di pipi.
Mata perempuan itu, tidak sengaja bertemu mata Jovi. Yang juga memandang ke arah perempuan tersebut.
Terlihat pandangan'nya sinis. Perempuan itu dan lirikan tajamnya, kemudian memindahkan pandangan. Berjalan pada arah Ernest.
"Selamat pagi Pak Ernest, bagaimana kabarnya?," Tanya perempuan itu memulai pembicaraan.
"Baik," ucapnya.
Ernest mengangkat kepala, memandang kearah perempuan itu. Kali ini jawabannya lebih dingin, daripada saat bersama dengan Devi tadi.
"Pak, gimana kondisi bapak, setelah dari kecelakaan? sudah baikan?," sekarang perempuan itu duduk didepan kursi Ernest.
"Sudah."
"Pak Ernest sudah sarapan atau belum? Pak Ernest sudah minum obat? Bagaimana luka ditangan bapak sudah membaik kah?," perempuan itu begitu perhatian.
"Bukan urusan kamu."
"Pak, kondisi bapak tidak parah kan?," tanya perempuan itu tak henti-henti.
__ADS_1
"Meghan, kalau memang tidak ada yang penting, mending kamu keluar saja," perintah Ernest.
"Ernest, kenapa kamu pindahin aku ?? ke bidang yang bukan profesi aku ?? aku tau aku salah, tapi harusnya kamu jangan campurkan masalah kita ke dalam pekerjaan," kata Meghan pada point permasalahan.
Ernest diam, tak bergeming sama sekali. Menjawab pertanyaan Meghan, mantan sekertarisnya tersebut.
Kepala Ernest sama sekali tak sudi, memandang ke arah perempuan dengan gigi behelnya. Bahkan matanya saja, tak berpindah, dari pandangan berkas.
"Apa karena, aku nggak datang ke Restoran itu? akhirnya kamu marah dan mindahin aku? aku masih pengen jadi sekertaris kamu Ernest," rengek Meghan.
"Ernest, aku bisa jelasin kenapa aku belum bisa nerima ajakan pertunangan waktu itu?," ucap perempuan, mencoba meraih perhatian Ernest.
Jovi hanya seperti penonton di dalam ruangan tersebut. matanya tidak berpindah, melihat perdebatan Ernest dan perempuan cantik yang menjadi mantan sekertarisnya.
Ternyata CEO tampan tersebut, terjebak cinta lokasi bersama sekertarisnya sendiri. Tampannya Ernest, tidak akan ditolak oleh perempuan manapun. Saat menyatakan cinta.
Mantan sekertaris cantik, bernama Meghan tersebut. Semakin terbiasa, memanggil boss'nya, hanya dengan sebutan nama.
Mungkin, karena hubungan yang sudah sempat terjalin. Akhirnya membuat mereka, lebih intens memanggil sebutan nama. Tanpa ada formalitas, diantara kedua'nya.
"Ernest coba dengerin aku, Ernest." Meghan berteriak.
"Apa? apa yang kamu jelasin? nggak ada yang perlu dijelasin, lagian kita udah putus kan," Ernest memandang tajam Meghan didepannya.
"Aku kemarin cuma bingung mau gimana, akhirnya aku setuju aja kalau kita putus," Meghan semakin kebingungan.
"Ernest aku bisa jelasin semuanya? aku juga khawatir banget sama kamu? Kamu blokir nomerku, padahal aku khawatir sama kondisi kamu," ucap Meghan bibirnya gemetar.
"Bulshit yang kamu omongin semuanya Bulshit ..!! sampai jam 12 malam aku nunggu kamu di restoran, tapi kamu nggak ada kabar, bahkan aku mati saja.. kamu nggak akan peduli," Ernest tak kalah meluapkan emosi.
"Berapa kali aku nelfon ?? kamu justru kamu riject terus, udah berapa alasan yang kamu buat selama ini. berapa bulan aku nunggu kamu siap, tapi kamu tetap seperti itu," Ernest marah pada Meghan.
Kali ini Ernest membahas masalah di restoran. Jovi semakin tak paham, dengan apa yang didebatkan oleh dua insan itu.
Tubuh Jovi ikut tegang, menyaksikan perdebatan Ernest dan Meghan. Jantungnya berdebaran, jika kadang Ernest terdengar memukul meja.
"Tapi sayang.. aku bisa jelasin semua? aku belum siap nikah, aku masih pengen having fun bareng temen, kita ke clubbing bareng, hang out sama anak-anak, itu yang buat aku belum siap," Meghan menjelaskan alasannya.
"Ya nggak papa, nggak masalah kan sekarang, mau kamu clubbing sampai subuh, aku juga nggak bakal peduli," Ernest membuang muka.
"Baik Pak Ernest," ucap Meghan langsung mengganti panggilan pada atasannya.
Suasana ruangan kembali hening, tanpa cek-cok Meghan dan Ernest. Kali ini, mereka sama-sama diam. Meski masih berada disatu ruangan, dan masih di tempat yang sama.
Baru kali ini, Jovi melihat kemarahan Ernest. Sangat menjadi-jadi, kepada pegawai sekaligus mantan pacar Ernest. Wajah putihnya, hingga terlihat memerah.
Perempuan cantik, berhidung mancung tersebut. Tidak berani sama sekali, mencampuri urusan mereka berdua. Apalagi untuk melerai Meghan dan Ernest pagi ini.
Ernest memeriksa berkasnya kembali, tubuhnya tiba-tiba merasa panas, padahal AC di ruangan 16 derajat. Tubuh serta wajahnya terasa gatal, jadi sesekali Ernest menggosok pipinya.
Semua menyebar dengan cepat. tubuh yang gatal, digosok Ernest dengan tangan kanan. Tak kuat lagi ditahan. Tapi belum disadari oleh Jovi dan Meghan.
"Kamu siapa?," tanya Meghan melirik ke arah Jovi.
Jovi yang duduk sedikit jauh, disamping kursi Ernest.
"Bukan urusan kamu," sahut Ernest.
"Saya suster yang menjaga Tuan Ernest, selama masa pemulihan mbak," jawab Jovi meski takut Ernest marah.
"Sudah berapa lama?," tanya Meghan.
"Baru semingguan."
"Siapa nama kamu?."
"Jovi mbak."
"Ooh...," lirik Meghan meremehkan suster baru Ernest tersebut.
"Panggil saja saya Meghan, jangan mbak !! kampungan," pinta Meghan memasang muka tidak senang.
"Baik Meghan," Ucap Jovi.
__ADS_1
Jarum jam diruangan tersebut, menunjukkan pukul 10.40 siang. Perut Jovi semakin tak tertahan, dia merasa penyakit maagh nya mulai kambuh.
Lambung Jovi seperti ditusuk-tusuk, akhirnya dia lalu memberanikan diri, untuk berpamit keluar mencari makan.
"Tuan Ernest, saya ijin keluar sebentar," pamit Jovi.
"Mau kemana suster?," tanya Ernest.
"A-a ke kamar mandi Tuan."
"Ouh.. oke," jawab Ernest tak nyaman oleh rasa gatal ditubuhnya.
Jovi meninggalkan Ernest dan Meghan, didalam ruangan tersebut. Perempuan berlesung pipi itu, berjalan keluar mencari kantin di perusahaan Ernest.
Perusahaan besar, yang merajai industri bisnis nomor satu dikota Surabaya tersebut. Kantor sangat begitu megah, oleh tatanan arsitek handal.
Suasana kantor siang ini, nampak lenggang. Semua pegawai sibuk diruang masing-masing, hanya ada beberapa orang yang berpapasan dengan Jovi.
Jovi masuk kedalam lift, turun ke lantai dua Menuju kantin.
Dan benar, kantin kantor Ernest, berada di lantai 2. Semuanya Jovi tebak, karena di perusahaan Fictor, tempat dia bekerja. Kantin kantor juga berada di lantai 2.
Jovi berjalan menuju cafetaria, yang menyajikan banyak menu makanan. Mulai dari junk food, minuman coffee coffe, dan makanan pencuci mulut lain.
"Mbak, saya pesan roti maryam satu, sama coklat hangat satu ya," Jovi berdiri melihat papan menu.
"Oke kak, dimakan sini atau dibungkus?," tanya ramah pegawai kantin.
"Dibungkus saja," jawab Jovi memberi senyum.
"Staff baru ya mbak? kok saya nggak pernah lihat mbak'nya," tanya pegawai itu.
Sedang mengaduk susu coklat, yang dipesan Jovi.
"Bukan, saya suster tuan muda," tuturnya
"Eh maksudnya, suster Pak Ernest," Jovi membetulkan ucapan.
"Ouh.. suster Pak Ernest, beliau sudah masuk kantor lagi ya?," tanya perempuan yang diperkirakan Jovi seusianya.
"Iya, kelihatannya begitu," Jovi mengangguk.
Pelayanan ramah, semua terasa dari kantin perusahaan Ernest. Membuktikan bagaimana kualitas perusahaan, yang digawangi keluarga Wijaya itu.
Semua memang sangat bagus. Bahkan disetiap sudut kantin, tertempel slogan "Budayakan 3S (Senyum,Salam,Sapa)". Kualitas perusahaan, yang benar-benar terjaga.
"Ini mbak, totalnya 25000," kata pegawai.
"Terimakasih mbak," Jovi menerima bungkusan roti dan susu hangat, sembari menyodorkan uang.
"Wah mbak, ndak ada uang kecil kah? ini nggak ada kembaliannya." pegawainya mengaduk mesin kasir.
"Haduh gimana mbak, saya juga ndak punya, adanya 50.000 itu aja," Jovi kebingungan.
"Ini ada juga cuma 20.000," Jovi menemukan uang 20 ribu disaku bajunya.
Pegawai kantin itu, nampak berulang kali, mengacak kotak uang kasir di depannya. Suasana kantin juga mulai ramai, dikarenakan kantor sudah mulai mendekati jam istirahat.
"Mbak Nurul, saya pesan kopi hangat dan mie ayam satu ya," dengar telinga Jovi, staff mulai memesan menu.
"Mbak, kembaliannya tambahkan aja, ke mbak yang pakai baju putih itu," kata staff kantor yang bernama Alfian.
"Mbak suster, berarti mbak bayar 20.000 aja ya," pinta pegawainya mengambil uang 20 ribu ditangan Jovi.
Jovi menoleh kearah laki-laki yang berada disampingnya. Dirinya melihat, laki-laki berkulit putih, berambut lurus, dan matanya sipit, memberikan uang pada pegawai kantin.
"Ndak perlu repot-repot pak, saya bisa nunggu kembalian dari mbak'nya," Jovi sedikit tidak enak.
"Nggak papa," laki-laki itu tersenyum memandang Jovi yang baru kali ini ditemui dikantin.
"Tapi pak? saya berarti hutang ya 5000," Jovi tidak enak.
"Haha nggak usah, 5000 aja, udah kayak 5 juta," jawab Alfian.
__ADS_1
Alfian melihat wajah kebingungan Jovi, tetapi dia harus meninggalkan Jovi karena kerjaan yang harus dirampungkan hari ini.
Sebelum Alfian berterimakasih, Jovi sudah lebih dulu berterimakasih, pada laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Selanjutnya, Alfian kembali lagi ke ruang staff tempatnya bekerja.