Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
98. Tak Punya Hati


__ADS_3

Ernest sangat sakit hati. Ia tak menghiraukan Jovi dan menyeret kakinya pergi.


Wajah putih laki-laki tampan putra Tuan Toni, terlihat sembab, matanya seperti telah di tonjok preman merah-merah.


Air mata yang di buang ke kanan kiri wajah, membekas seolah Ernest selesai melakukan cuci muka.


Kisah cinta yang di anggap akan romantis justru berakhir tragis. Ernest akan meminta untuk segera pulang.


"Pak Ernest."


"Pak Ernest itu Suster Jovi pingsan," teriak dua resepsionis menerima tamu.


Ernest menoleh.


"Suster Jovi," Ernest berlari.


Di bawah kursi, tubuh Jovi terkapar ternyata sedang kejang.


"Ambilkan kopi di tempat dapur, cepat..!!," pinta Ernest gugup.


"P3K juga, iya P3K juga."


Satu pegawai buru-buru mengambil obat P3K. Kejadian siang ini begitu mengkhawatirkan.


Ernest langsung memangku tubuh Jovi. Tubuh Jovi mengalami kejang, bola mata Jovi melihat ke atas terus menerus. Sedang giginya mengigil.


Ernest sangat khawatir.


Sebelum gigi Jovi menggigit lidahnya sendiri, Ernest langsung memasukkan jari telunjuk ke arah bibir Jovi. Tangannya yang satu menyapu kening panas perempuan itu.


Tangan Ernest terasa di gigit dengan sangat begitu kuat, begitu sangat sakit. Panas di tubuh Jovi benar-benar sangat tinggi.


"Bangun Suster, Suster Jovi bangun..!!."


"Devi, Devi, panggil ambulans, telepon rumah sakit." Ernest panik.


"Sudah Pak Ernest, ambulans RS Wijaya sudah ke sini."


Jari-jari tangan Ernest melicuti kancing atas bagian tubuh Jovi.


Kerah, dan dua kancing ke bawah di lepas Ernest, air mata Ernest tidak kuat melihat Jovi seperti itu. Tubuh Ernest ikut terasa bergetar.


"Jangan seperti ini suster, Ya Tuhan."


"Devi, tolong kamu buatkan kopi, cepat..!! kejangnya masih terus."


"Baik Pak Ernest," Devi turut berlari dari ruang resepsionis.


"Cepat.. kamu telfon siapapun yang kamu bisa telefon, Dokter, Dokter atau apa kek yang tempat prakteknya di dekat-dekat sini."


"Ba-baik Pak Ernest."


Para pegawai berhamburan meninggalkan pekerjaan utama mereka.


Ernest sangat panik. Bibirnya menahan, buliran air mata mulai tersembul di pinggir-pinggir.


"Jovi, bangunn..!!."


Tangan Ernest terasa sangat sakit di gigit Jovi. Hal tersebut di lakukan Ernest agar lidah Jovi tidak tergigit.


Kepala Ernest mendekat ke arah Jovi, ia mencium kening Jovi, lalu menggosok tubuh Jovi. Tangan Ernest masih terasa dengan gigitannya.


Kreek.


Dokter Nalen masuk dari pintu utama kantor.


Ernest dan beberapa pegawai menoleh, mereka mengira bahwa Dokter Nalen adalah salah petugas dari RS. Wijaya.


Ernest terkejut atas kedatangan Dokter Nalen. Rupanya, Dokter Nalen datang karena telepon dari Devi yang menghubungi tempat praktik terdekat.


Ernest dan Dokter Nalen sama-sama saling berpandangan.


Nalen yang menyadari langsung mengalihkan pandangan.


Devi berjalan mendekati Dokter Nalen.


"Maaf, saya dari RS. Intan Medika, apa benar dari kantor Wijaya ada yang menghubungi hotline rumah sakit?."


"Iya benar dok, teman perempuan atasan saya yang sedang kejang. ke sini Dok."


Devi berujar sambil lari menuju ke Ernest.


Dokter Nalen melihat Jovi mengejang di pangkuan Ernest.


"Jovi," Dokter Nalen mendudukan tubuh.


"Dia kejang," Dokter Nalen menurunkan tas.


Ernest sangat berat hati melihat.

__ADS_1


Rasanya debat di pesta pernikahan dengan Dokter Nalen terbayang lagi. Kenapa lagi-lagi dia, Ernest mengalihkan pandangan.


Kedua laki-laki tampan tersebut seperti sudah saling memahami bahwa mereka sama-sama tidak nyaman.


Tiba-tiba Dokter Nalen tampak marah-marah.


"Apa yang loe lakuin? itu malah semakin membahayakan kondisi Jovi."


Ernest yang tidak paham ilmu kesehatan, bingung kesalahan apa yang di lakukan.


"Ke sini, tarik keluar," Dokter Nalen menarik keluar jari Ernest.


"Ta-tapi nanti, ba-bagaimana Jovi mengigit lidahnya?," Ernest berlinang air mata.


"Gue nggak mungkin akan membahayakan kondisi Jovi," kata Dokter Nalen kasar.


Devi dan Melani menoleh.


Mereka yang berada di tempat tersebut sempat tidak percaya, bagaimana seorang dokter membentak atasannya tersebut.


Staff perempuan kantor Wijaya itu tidak mengetahui bahwa Ernest dan Dokter Nalen sudah saling kenal.


"Awas, minggir..!!,"


Dokter Nalen menyingkirkan tangan Ernest. Ia mengambil kepala Jovi yang beberapa saat masih dalam dekapan Ernest.


Tubuh Jovi dibiarkan terbaring pada tempat yang tenang, kebetulan di ruang tunggu tidak ada suasana yang berisik dan cukup tenang.


"Tolong, pinjam jasnya untuk membantali kepala Jovi," pinta Nalen.


Ernest mengangguk, ia melepas jas miliknya. Terlihat Dokter Nalen menaruh dibawah kepala Jovi.


"Apa tadi pasien sempat muntah?," tanya Dokter Nalen.


"Sempat, tapi sedikit," tutur Ernest.


Tubuh Jovi di miringkan oleh Dokter Nalen. Kancing baju yang di buka Ernest sudah di benarkan oleh Ernest.


Putra Tuan Toni itu tampak masih khawatir, Ernest takut apabila nanti Jovi kedinginan. Di tempat yang sama, Dokter Nalen juga sangat mengkhawatirkan Jovi.


Tangan Nalen tampak berkali-kali mengusap telapak tangan Jovi. Beberapa saat kemudian, Nalen berpindah mengusap kening kakak Aqila itu.


Mata Ernest naik turun melihat semua sikap yang di berikan Dokter Nalen. Hati yang sudah luka seperti di beri bumbu tabur kepedihan.


Ernest menatap langit-langit plafon kantor.


Matanya mengeluarkan air mata lagi. Ernest mencoba mencuri lagi pandangan, Dokter Nalen tetap membisikkan kata-kata di telinga Jovi, tidak tau apa.


Sembari menunggu kondisi Jovi membaik, Ernest mengusap air matanya berkali-kali.


"Apa kamu memang benar-benar mencintai Dokter Nalen? apa memang kamu tidak mencintai saya Jov, saya sangat mencintai kamu." batinnya dihati.


10 menit kemudian.


Jovi terlihat sudah tidak kejang, akan tetapi putri Bapak Yusuf tersebut masih tidak sadarkan diri.


"Jovi sudah melewati masa kritis," Dokter Nalen memberi tahu Ernest.


"Iya, syukur, Alhamdulillah..!! terima kasih, te-terima kasih, aaa.. se-semoga cepat membaik," Ernest menjawab itu menahan air mata.


"Kreekkk.


Petugas Ambulans datang.


"Selamat siang, ambulans dari RS. Wijaya sudah datang."


"Baik Pak, mari mari," Dokter Nalen membopong Jovi masuk ke dalam ambulans.


"Tolong, tolong itu di pinggirkan kursinya, awas kena kaki Jovi."


Nalen di ikuti dua petugas ambulans pergi meninggalkan kantor.


Sadar diri, Ernest tidak bisa menggendong. Ia menyeret kaki menemani Jovi sampai masuk ke ambulans.


Dokter Nalen pergi dengan ambulans.


Map dan tas Jovi di kemasi Ernest. Tiba-tiba, Ernest jadi ingin kembali ke arena balapan menggendarai mobil sekencang-kencangnya.


Devi dan Melani saling pandang.


"Kenapa Pak Ernest?," bisik Devi


"Kelihatannya putus," Melani mengira-ngira.


Mereka melihat kasihan Ernest. Sebab yang selama ini staff tau, Ernest tidak pernah terlihat sedih.


Hari ini, Ernest seperti memikul beban berat. Seperti selesai mabuk berat. Namun tak disangka, ia tetap berangkat ke rumah sakit.


Sehancur apapun perasaan di hati. Ernest tetap menyusul calon tunangannya tersebut.

__ADS_1


"Devi, tolong antar saya ke rumah sakit..!! Saya sedang tidak bawa mobil dan sopir."


"Baik pak," Devi mengangguk.


*******************


RUMAH SAKIT RS WIJAYA.


Kedatangan Ernest ke rumah sakit membuat para pegawai dan perawat sangat syock. Mereka langsung membenahi posisi duduk mereka, apalagi untuk bagian admisi.


Devi tetap menemani Ernest sambil menuntun laki-laki tampan tersebut sebab sakit di kaki.


"Ambilkan kursi roda, ayoo ambilkan..!!," teriak Pak Umaris selaku penanggung jawab ruang depan.


"Roy cepetan," semua pegawai gugup.


Pegawai berseragam putih langsung membawa kursi roda.


"Duduk dulu Pak Ernest, nanti kaki anda akan semakin bengkak," nasihat Devi.


Ernest enggan untuk duduk. Ia berjalan ke arah admisi menanyakan Jovi sedang ada di kamar mana?.


"Atas nama Jovi, pasien yang baru saja ke sini ada di kamar berapa?."


"Jovi? maaf Pak Ernest, sebelumnya tidak ada yang ke sini. Kalau maksud Bapak adalah Suster Jovi, di sini belum ada pasien masuk atas nama Jovi," jelas pegawai.


"Bagaimana tidak ada? tadi mobil ambulans rumah sakit kita pergi ke kantor, di sana Jovi mengalami kejang dan sekarang di bawa ke sini," Ernest tetap ngeyel.


"Iya benar mbak, tadi saya yang telepon ambulans, dan Suster Jovi ke sini dengan Dokter, kalau tidak salah bernama Dokter Nalen," Devi menjelaskan.


Kedua resepsionis di bagian admisi tampak saling pandang.


"Maaf pak, tapi memang tidak ada," tutur pegawai berkacamata.


"Ini pasti ulah Dokter Nalen."


Ernest sekarang tau ke mana Dokter Nalen membawa Jovi. Karena tau bahwa RS. Wijaya adalah milik Ernest, akhirnya RS. Intan Medika pasti menjadi pilihan Dokter Nalen.


Berita tentang sakitnya Jovi langsung menyebar di seluruh penjuru rumah sakit. Tidak terkecuali Dokter Edo mendengar para pegawai, yang penasaran dengan siapa Dokter Nalen.


Pasalnya, Ernest sempat menyebut nama Dokter Nalen yang di perkirakan para orang rumah sakit menjadi orang ke tiga.


"Antar saya ke RS. Intan Medika..!!," ajak Ernest.


"Untuk apa Pak Ernest," Devi bingung.


"Suster Jovi ada di sana."


"Baik pak," Devi mengangguk.


Ernest dan Devi sama-sama keluar rumah sakit. Sakit di kaki Ernest tidak terasa lagi, rupanya Dokter Nalen benar-benar sudah merasa menang.


"Setelah kita sampai di sana, kamu berikan tas, map, dan pastikan kondisi Jovi membaik terus kita pulang."


"Baik pak, akan saya laksanakan."


Devi melihat Ernest sangat penuh kekecewaan. Dalam hitungan menit, kecewa nya ditumpuk terus menerus.


******************


RUMAH SAKIT INTAN MEDIKA.


Jovi tampak sedang berbaring di ruang kamar nomor 36. Dokter Nalen sedang duduk di sofa sambil menghubungi keluarga Jovi.


Keadaan Jovi tampak sudah membaik setelah cairan infus masuk ke dalam tubuh. Aroma AC di ruang kamar rumah sakit begitu menusuk hidung, Dokter Nalen sedikit tersenyum melihat ponsel.


Ternyata, ia sedang melakukan chatting dengan Dokter Edo. Kawan karibnya yang berdinas di RS. Wijaya.


Dokter Nalen berjalan ke Jovi. Di cek kondisi tubuh Jovi masih istirahat, nafasnya terlihat tenang sehingga membuat Dokter Nalen juga lega.


Tut... Tutt...


Telepon tersambung.


Dokter Nalen menelpon Dokter Edo.


"Hahahaha, gimana brow? Sorry, sorry, gue nggak niat jahat kok, cuma ngebuat boss loe sedikit berolahraga keras dengan kaki pincangnya."


"Anjjir loe Nal, Sumpah Nalen, loe kebangetan..!! gue kasihan banget sama Ernest, kata orang rumah sakit dia pergi menyusul ke Intan Medika sambil nahan sakit," jawab Dokter Edo di telepon.


"Hahhahahaha," Dokter Nalen tertawa sangat puas.


Tawa dokter tampan tersebut seolah lupa, bahwa di situ Dokter Nalen sedang bersama dengan Jovi.


Jari-jari Jovi bergerak, penglihatannya yang tidak jelas melihat Dokter Nalen sedang membelakangi dirinya.


"Loe tau nggak, tuh kaki pincang juga sebenarnya gue yang nendang waktu dia nungguin Jovi hahaha.."


"Nalen ini bukan bercanda. Gue nggak suka loe seperti ini. Gue tau loe cinta sama Jovi tapi jangan seperti itu sikap loe, hargai hubungan dia dengan Ernest, apalagi Ernest dalam keadaan sakit."

__ADS_1


Dokter Nalen tetap tertawa dengan sangat puas.


__ADS_2