Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
44. Terbang Ke Jakarta


__ADS_3

Selepas membuat tenang perasaan Alice, Jovi langsung meninggalkan ruangan, mendadak sunyi seperti tak berpenghuni. Kadang batuk Ola, menyeruak keluar memecah keheningan.


Elmara sempat menyesali kejadian mencemooh Jovi pagi ini. Seandainya Elmara tidak berbuat seperti itu, namanya akan tetap aman, jauh tidak di nobatkan menjadi calon sekertaris baru Fictor.


Jovi membawa masuk form pengunduran, meminta tangan untuk Fictor membubuhkan tanda tangannya, sebagai salah satu syarat sebagai mantan pegawai Semesta Grup.


Ruangan staff lantai 4, sudah menunjukkan lebih dari pukul 10.00 pagi. Dari saku baju Jovi, getar panggilan tidak di hiraukan oleh suster cantik tersebut.


Jovi mengira, papa'nya lah yang mencari lagi dirinya, mungkin hanya untuk memarahi, atau menyuruh Jovi jujur. Bukan menenangkan, malah membuat Jovi kembali pening.


Perempuan cantik tersebut, masih pada pendiriannya, Jovi tidak akan memberi tahu orang tuanya masalah besarnya dengan Fictor, sebelum Jovi berhasil resign, serta menuntaskan masa kerja menjadi suster untuk tuan muda.


"Kreeekkkk...." Jovi membuka pintu.


"Selamat pagi pak,"


"Hahaha..., emang loe baru tau, kalau Ernest itu bodoh, ya emang bodoh dari dulu," suara Fictor yang di dengar Jovi.


"Pak Fictor, selamat pagi," Jovi mengulangi.


Nampaknya Fictor tidak menyadari kedatangan Jovi, di depan pintu ruangan.


"Kalau loe bisa ngerencanain itu dengan sukses, gue rasa kita bakalan sukses, sama-sama saling untung coy... loe dapetin cinta'nya, gue dapetin kehancurannya," Fictor memutar kursi.


"Selamat pagi Pak Fictor."


"Ya pagi-pagi, masuk aja,"


"Baik pak."


Jovi berjalan ke arah meja besar Fictor, rambut panjang yang menjuntai sampai punggung Jovi, mengikuti arah tubuh Jovi jalan. Fictor baru sadar, Jovi lah yang masuk, bukan staff perempuan lain.


Laki-laki berjambang tersebut, tidak menyangka, jika Jovi akan kembali lagi ke ruangannya. Peraturan baru, sebelum resign, sudah di canangkan lebih dulu, mengira Fictor, Jovi tidak akan bisa resign.


Tatapan mata Fictor, langsung lebih tajam, setelah sadar bahwa yang datang ada Jovi. Kenapa Jovi masih berani menaruh kaki, berjalan tanpa beban, ke arah atasannya tersebut. Membuat Fictor semakin benci.


"Ada apa lagi loe ke sini? apa cuma buat lihatin ke gue, kalau kaki loe masih normal bisa jalan dua duanya, HAH...??,"


"Kelihatannya gue perlu, matahin dua kaki loe deh, biar loe cacat seumur hidup, nggak bisa ke sini."


"Maaf Pak Fictor, saya kesini untuk,"


"Untuk apa? untuk nggak jadi resign kan? terus untuk minta gue maafin loe lagi? sama tangisan loe yang udah basi itu, ciihhhh...!! dasar bangsaaat...,"


"Gimana? loe nggak jadi resign? masih butuh uang? masih nerima tawaran kerjasama gue kan? buat ngirim tuh kacung Ernest Wijaya ke neraka?," Fictor mengarahkan bibirnya ke kanan.


Fictor menganggap, peraturan baru dari kantornya, akan membuat suster Ernest tersebut, sudah tidak berdaya dan mempunyai nyali lagi, hanya untuk punya niatan resign.


Selain Jovi di butuhkan untuk melancarkan rencana busuk Fictor terhadap Ernest, ketakutan Fictor kehilangan salah satu investor terbesar PT. Semesta Grup, karena Jovi meninggalkan perusahaan, perlahan menggerogoti hati.


Jovi memiliki andil besar terhadap kesuksesan Semesta Grup. Perempuan cantik kakak Aqila itu, selalu berhasil menyabet tander baru, proyek-proyek dari perusahaan lain. Ketika ikut meeting bersama dengan Fictor.


"Jadi pak, saya ke sini, mau minta Pak Fictor untuk menandatangani surat pengunduran diri,"


"Pengunduran diri?," Fictor tidak percaya.


"Ini pak suratnya,"


"Bapak, tanda tangan di sini..!!," tangan Jovi menunjuk bagian "Mengetahui Direktur".


" Anjiinggg..... Jovi benar-benar resign..!! bagaimana dengan Mr. Bram? jangan sampai perginya Jovi, juga mengajak Mr.Bram pergi juga dari proyek," Fictor menyembunyikan kesedihannya.


Fictor menanda tangani form pengajuan Jovi resign dari kantor.


"Jadi, secara tidak langsung, loe udah sanggup ya..? loe udah siap menerima semua konsekuensi dari gue? kalau loe resign dari kantor ini, gue jamin hidup loe nggak bakal tenang,"


Jovi hanya mendiami Fictor.


"Kelihatannya, loe ngeremehin gue banget ya Jov?? bangsaaaatt...,"


Fictor melihat lagi, Jovi masih dengan posisi sama, menaruh tangannya di atas rok, dengan bibir terkunci.


"Loe itu nggak tau di untung, anjiiing...," Fictor kesal menendang kaki Jovi dari bawah meja.


"Rasanya emang harus ya, gue yang harus datang sendiri ke rumah Ernest, untuk bilangin ke mereka, semua kebusukan loe Jovi, mamppuussss.. kalau nanti si Toni masukin loe ke penjara,"


Jovi tetap tidak bereaksi, setiap kali masuk ke ruang direktur utama. Semua sudah seperti penjara, bahkan lebih baik pelayanan di lapas, jika di banding, kekerasan Fictor selama ini.


"Kalau sampai loe bilang semua ke Ernest tentang masalah ini, gue nggak main-main, INGAT...!! keselamatan adik kecil loe, nggak lama lagi, bakalan gue kirim buat nyusul Helen, PAHAM loe..!!,"


Ancaman demi ancaman dari Fictor, tetap tak membuat Jovi bergumam satu patah katapun.


"Brengseekkk... loe punya mulut nggak sih?? buat jawab pertanyaan gue..!!," Fictor meremas lampiran surat pengunduran diri Jovi.


"Pluuung...," form pengunduran diri Jovi di buang ke sampah.


"Pak Fictor, jangan......," Jovi memungut kertas berharganya.

__ADS_1


"Kreeeeeteg...," tangan Jovi di injak sengaja sepatu kerja Fictor.


"Aaaaaa.... iiihh...," suaranya menahan sakit.


Jovi menarik langsung menarik tangan, tapi tidak bisa. Tebalnya lapisan sepatu kerja, seperti mematahkan satu persatu tangan Jovi. Kulit putih jemarinya, langsung terlihat lebam membiru, akibat ulah Fictor.


Sakit hati atasan Jovi tersebut, sudah mendarah daging. Gagalnya Fictor, tidak bisa menahan Jovi, untuk tetap menjadi sekertaris di kantornya, membuat Fictor hilang kendali.


Depresi serta ketakutan Fictor, jika investor PT. Jyco Corporate memutus kerjasama dengan Semesta Grup, langsung mengiang di hati. Kantor kebanggaan Fictor itu, harus gigit jari sementara waktu.


Fictor ingat, pada meeting terakhir bersama Mr. Bram, Investor tersebut, selalu menanyakan di mana Jovi? ketika pejabat tinggi Semesta Grup, tidak membawa sekertaris cantiknya, saat meeting.


"Gue tau, pasti loe udah bangga kan?? loe bisa keluar dari kantor ini, loe udah merasa menang kan? INGAT.. kata-kata gue Jov, kalau sampai loe bilang semua ke Ernest, mati itu anak mama loe yang kecil,"


"Pergiii loe... pergi sana," dua tangan Fictor depresi meremas rambut.


"Kenapa Pak Fictor selalu jahat dengan saya pak? kenapa Pak Fictor selalu tega dengan keluarga saya? saya tau, kalau papa saya punya hutang banyak ke papa anda, tapi saya juga bayar, keluarga saya tidak minta uang itu secara cuma-cuma, papa saya selalu mati-matian mencari uang siang malam agar hutangnya lunas," Jovi tak tahan akan kejahatan Fictor.


"Saya tetap akan mengingat hutang budi keluarga saya ke bapak, selama ini saya selalu menuruti apa yang menjadi keinginan Pak Fictor, apa pak, yang tidak pernah saya lakukan? Membunuh bukanlah balas dendam yang baik, kenapa Pak Fictor bawa-bawa adik saya, Aqila masih kecil, dia tidak berdosa dan tidak tau apa-apa,"


Mendengar ancaman Fictor, akan mencelakai Aqila, membuat Jovi tidak lagi dapat membendung, emosional perasaan, kakak kandungvAqila tersebut.


Fictor dan Jovi sama-sama tampak depresi. Di dalam ruang direktur, tangis Jovi pecah, mendapat tekanan bertubi-tubi dari Fictor. Niat baik suster Ernest itu, selalu terhadang batu besar, setiap melangkah.


Fictor sendiri, juga tetap terlihat tidak mau mengalah, tumpukan dendam kepada keluarga Wijaya, masih ikut mengalir dalam darah putra Bapak Purwo Negoro tersebut.


"Ketenangan tidak akan Pak Fictor dapatkan, selama dendam, dan rasa iri masih membakar hati Pak Fictor, semua orang ingin seperti anda pak, berada di posisi yang tinggi, memiliki kekayaan berlimpah, tetapi anda justru menghabiskan setengah kehidupan Pak Fictor, hanya untuk balas dendam," Jovi berani melihat wajah Fictor.


"JAGA MULUT LOE.., berani-beraninya mulut loe bilang gitu ke gue,"


"Plaaakkkkkkk...," tamparan tangan Fictor mendarat hebat.


"Selama ini loe nggak tau apa-apa, loe nggak pernah ngerasain gimana rasanya di tinggal kekasih yang loe cintai, loe nggak tau gimana kondisi kecelakaan yang membuat kondisi tubuh Helen, organ tubuhnya hampir tidak bisa di ambil tangan, dan itu gue saksikan sendiri.. apa loe tau, kesedihan gue saat itu? sakiiiiitttt......,"


"Semua keluarga Wijaya itu, bangsaaat.....," mata Fictor berbinar.


"Saya tidak peduli, permisi...!!!," kata Jovi meninggalkan ruangan.


"Kreekkkkk...," Jovi menutup pintu.


Ucapan terakhir Jovi sebelum meninggalkan ruangan, seolah mengibarkan bendera perang pada Fictor. Mata Fictor langsung di ingatkan lagi, atas dendam dia terhadap Ernest.


Semua orang di dunia ini, seperti tidak peduli lagi dengan Fictor. Setetes air mata itu turun, menetes pada pipi Fictor.


"Kenapa tidak ada orang yang memihak gue? loe kurang ajar Jovi, loe tega ninggalin gue," Fictor menangis.


Selama hidup, Fictor seperti merasa sendirian di dalam hidupnya. Mama dan papanya sibuk sendiri, keberhasilan Fictor, selalu di banding-bandingkan dengan adiknya bernama Panji.


*************************


RUANG STAFF HRD.


Jovi kembali lagi ke ruang staff HRD, Pak Hendra ternyata masih berada di tempat. Wajah merah bekas tamparan, tangan bengkak di injak Fictor, harus Jovi bayar, hanya untuk meminta tanda tangan.


Sisa tangis perempuan itu, tidak bisa tersamarkan oleh wajahnya yang putih. Jovi memperlihatkan diri, seolah sedang tidak terjadi apa-apa dengan Jovi.


Pak Hendra sedikit terkejut, namun tidak berani menanyakan langsung pada Jovi. Apa yang sebenarnya sudah terjadi, antara Jovi dengan Fictor.


"Jovi, apa kamu baik-baik saja? kamu tidak apa-apa?," Pak Hendra cemas.


"Tidak papa pak, saya baik baik-baik saja."


"Ini pak,"


Jovi memberikan lampiran surat, sudah berhasil di tanda tangani oleh Fictor.


"Aaaa... Ya Tuhan, jadi kusut begini," Pak Hendra menggeleng kepala.


"Maaf pak, bekas remasan tangan Pak Fictor tidak bisa hilang dari kertas," ucap Jovi walaupun tidak menjelaskan.


"Yang sabar ya nak.....," Pak Hendra kasihan memandang Jovi.


"Iya Pak Hendra, terimakasih,"


Kepala staff HRD itu, terdengar memanggil Anas, tadi di minta untuk mengambil berkas milik Jovi. Surat Srata-1 sudah menjadi hak milik alumni Stikes Wijaya tersebut.


Nafas lega Jovi ter buang perlahan, lewat indra penciuman pagi itu. Jovi berterima kasih pada Pak Hendra, sudah menjadi pembimbing selama dirinya bekerja di Semesta Grup.


"Ini ijazah kamu, dan ini bukti transaksi, jika kantor sudah menerima uang tebusan,"


"Iya pak."


"Semoga kamu segera mendapatkan lagi pekerjaan ya Jovi..!! jaga diri baik-baik di luar, saya pasti akan selalu mengingat kamu,"


"Aamiin, terima kasih banyak Pak Hendra, saya tidak akan bisa lupa dengan bapak, terima kasih atas bimbingan Pak Hendra selama ini," Jovi tersenyum.


"Dulu saya masih ingat, pertama kali saya bergabung menjadi staff di kantor Semesta, saya sama sekali tidak bisa apa-apa, mengetik surat saja, ketikan suratnya amburadul, sampai akhirnya Pak Hendra selalu memberi saya arahan, dan mengajari cara mengetik sepuluh jari,"

__ADS_1


"Hehehhe.. ternyata kamu masih ingat,"


"Itu kenangan saat menjadi pegawai baru pak hehe, masih lugu, belum tau apa-apa,"


"Yang terpenting sekarang kamu sudah berhasil menjadi sekertaris terbaik di kantor ini, saya sarankan kamu mengambil kuliah lagi saja Jovi, agar nantinya karir kamu lebih berkembang, dan ijazah kamu linier, sesuai permintaan perusahaan, jadi nantinya pengalaman kamu pernah menjadi sekertaris Pak Fictor, tidak terbuang sia-sia,"


"Doa'kan saja Pak, semoga saya bisa mengambil kuliah lagi, terima kasih banyak Pak Hendra,"


"Sama-sama."


Setelah perbincangan Jovi dengan Pak Hendra, perempuan cantik tersebut, keluar ruangan. Membawa map coklat, yang di dalamnya berisi ijazah, serta beberapa dokumen penting.


Di akui atau tidak, Perusahaan Semesta Grup, sudah berhasil membawa nama Jovi, sebagai sekertaris terbaik pada di salah satu ajang pada tahun 2017. Jovi pasti akan merindukan, tempat yang selama ini, menjadi persinggahannya selama 3 tahun.


Dulu Jovi bercita-cita melakukan pengunduran diri sebagai sekertaris, jika sudah menikah dan menjadi istri. Namun sayang, kenyataan tidak semanis bayangan, kehidupan lebih pahit dari yang di fikiran Jovi.


Meski masalah sudah bisa teratasi, sekarang Jovi mengkhawatirkan kondisi Aqila. Ancaman Fictor mengancam telinga, dan hati Jovi. Dia berharap Tuhan memberikan lagi jalan keluar.


"Treeeeetttt... tret.. treet.."


Belum lama Jovi meratapi nasib, ponsel di saku baju, terasa kembali bergetar. 10X panggilan tidak terjawab, dari siapa lagi? nampaknya, tidak ada Ernest maupun Tuan Toni di rumah, masih harus membuat Jovi taat peraturan.


"Ada apa lagi ini Bik Yuni?," gumam Jovi di hatinya.


Jovi melihat 4X panggilan tak terjawab dari Ernest, 4X dari telepon rumah Tuan Toni, dan 2X panggilan tak terjawab berasal dari papa Jovi.


"Tuan Ernest, rumah, ada apa?," Jovi memandang layar.


"Tringgg.. tingg.. tinggg...,"


"Hallo tuan,"


"Hallo suster, suster di mana? kenapa telfon saya tidak di angkat?,"


"Saya di luar tuan, tadi ada perlu sebentar, ada apa Tuan Ernest?,"


"Pantas saja, saya telefon dari tadi tidak ada jawaban,"


"Maaf tuan, soalnya tadi hp saya mode getar, ada apa tuan?,"


"Suster Jovi saya bisa minta tolong, tadi saya sudah telefon ke rumah, bantu ambilkan berkas saya yang tertinggal di laci, map'nya warna hitam, lusa lalu, saya taruh di laci, tolong suster ambilkan ya..?,"


"Warna hitam? yang mana tuan?,"


"Berkasnya cuma satu, semua materi meeting saya ada di situ, saya lupa bawa suster, nanti suster minta antar Pak Yoyok saja, biar lebih cepat.. card pintu dan nomer pin laci, sudah saya kirim ke whatsapp suster, tolong suster cek ya..?,"


"Baik tuan, kalau begitu saya segera pulang, untuk ambil berkas..!!" Jovi keluar kantor.


"Aaaaa... suster, suster,"


"Ya tuan, ada apa lagi?,"


"Umpama nanti kalau suster sudah ambil berkas, terus saya minta suster terbang ke Jakarta, bisa?? kira-kira suster keberatan atau tidak?,"


"Ke Jakarta tuan, mmbbb.... apa tidak di kirim lewat pos saja tuan? sama-sama sampai," Jovi sudah tidak punya uang untuk ke Jakarta.


"Kalau lewat ekspedisi, saya takut dokumen saya tidak sampai tepat waktu suster."


"Nanti begini saja tuan, saya kirim dokument yang express tuan, jadi kemungkinan 1 hari lagi sudah sampai,"


"Nggak bisa suster, klient saya datang besok selasa, maximal berkasnya harus sampai di sini besok sore, tolong ya suster? saya minta bantuan sekali ini saja? ya.. ya..?," Ernest memohon.


"Bagaimana ya tuan? saya bingung."


Jovi tidak mungkin memberi tahu Ernest, jika gaji sebagai suster sudah habis untuk membayar hutang. Akhirnya dia hanya diam karena bingung.


"Aah.. apa enaknya gini saja, nanti saya transfer uang ke rekening suster, untuk akomodasi pergi ke Jakartanya, setelah itu suster boleh pulang lagi kok, saya antar pulang suster sampai bandara?," rayu Ernest.


"Suster Jovi," panggil Ernest.


"Suster gimana? mau?,"


"Baik tuan, saya mau," Jovi langsung meng'iya'kan.


"Terimakasih banyak Suster Jovi."


"Kalau begitu saya ambil berkas sebentar, berkemas dulu, lalu pergi ke Jakarta, kalau begitu saya tutup teleponnya ya tuan, saya mau pulang,"


"Baik suster, hati-hati ya...!!"


"Ya tuan," "tuuuuttt...." telepon sengaja langsung di matikan jemari tangan Jovi.


Jovi sama sekali, tidak menaruh curiga pada Ernest. Tertinggalnya salah satu berkas putra Tuan Toni itu, di manfaatkan Ernest, untuk meminta Jovi ikut ke Jakarta.


Awalnya Ernest menganggap, niat yang di urungkan untuk mengajak Jovi ke Jakarta, biasa saja, tidak menyisakan rindu di hati. Namun tidak menyangka 1 bulan kedekatan Ernest dengan suster cantiknya tersebut, membuat Ernest merasa bergantung banyak pada Jovi.


Ketika minum obat, ketika makan, semua ingatan Ernest, hanya menjalar menyebut nama Jovi saja. Bahkan saat Ernest terjaga dari tidurnya, hanya suster suruhan Fictor itu, yang berhasil, mengambil semua hati Ernest.

__ADS_1


Ernest merasa sehari tidak bertemu Jovi, ada yang kurang dengan dirinya. Putra tampan Tuan Toni tersebut, tidak dapat menahan lama rindu yang menggumpal pada setiap getaran hati Ernest.


__ADS_2