
"Triit.. tiitt.. trriiit.. tit."
Fictor menerima whatsapp dari grup Alumni UI. Pernikahan Sandi dan pose Ernest bersama teman-teman lebih dulu memenuhi galeri.
Laki-laki berjambang tersebut tidak tau bahwa Ernest datang bersama dengan Jovi ke pesta pernikahan.
"Fictor, loe lihatin apa ?? lampu traffic udah warna hijau tuh, jalan woyyy.."
"Mulut loe diem dulu napa Ol, berisik..!!!."
"Dasar gila, itu lampu merah udah hijau Fictor."
Ola mengetuki kepala.
"Hiiihh.. amitt, amiitt.. jabang bayi..!! gue punya pacar kayak loe," Ola mengangkat pundak geli.
"Emang loe tipe gue? jauuuuuhhh...!! nggak minat gue."
"Apalagi gue, hiiiiii... udah wajah angker, kelakuan kayak setan, udah berasa kuburan itu wajah."
"Tapi setau gue nggak ada setan yang se glowing muka gue," Fictor senyum kecil.
Ola menapuk pipinya, baru kali ini Fictor bisa bercanda seperti itu.
"Fictor.. loe bisa bercanda? hahahahha, gila, gila."
Ola tidak berhenti tertawa. Fictor sama sekali tidak memperdulikan, laki-laki berjambang lebat itu menatap tajam mengendarai mobil.
Tak lama, klakson dari belakang mobil memprotes mobil Fictor. CEO Semesta Grup mengambil jalur belok ke arah kiri menuju gedung pernikahan.
"Fictor, Fictor, loe lucu juga ternyata," Ola berbicara sendiri.
"Loe lama-lama saraph, ngobrol-ngobrol sendiri kayak oma gue yang udah umur 90 tahunan, mati loe habis ini."
Ola langsung melirik.
"Fictor bercanda loe, hiiiissshh.. nggak lucu."
"Ya biar, emang gue bukan pelawak gimana bisa lucu? aneh lu.."
Ola hanya berdiam diri. Fictor selalu bodo amat. Kadang Ola merasa aneh, sikap atasannya tersebut tidak bisa di tebak oleh fikiran manusia, alias sesuka hati.
Mobil masuk ke dalam gedung pernikahan.
Tidak di sangka, seorang sekertaris baru Semesta Grup di ajak menghadiri acara pernikahan. Ola bingung, gedung tersebut tidak seperti club, yang sudah menjadi bayangan Ola.
Mobil berhenti di parkiran, tamu undangan masih banyak dan terus berdatangan. Beberapa dari mereka mengenali Fictor sebagai teman alumni kampus dulu.
"Fictor..!!"
"Apa lagi? loe manggil-manggil mulu kayak dora," kata Fictor membuka pintu mobil.
"Emang club favorit loe berubah jadi gini ya tampilannya?."
"Club?? mabuk maksud loe." Fictor menghampiri Ola membuka pintu mobil.
Keluar mobil Ola terlihat menganggukkan kepala. Pertanyaan dia ke Fictor tampak masih serius. Tangan Fictor secara cepat mengarahkan kepala Ola ke arah pigora pre wedding.
"Tuuhhh.. mata loe buka lebar ya Ola Ole, goblook banget sih loe, bisa bedain gak mana club mana gedung pernikahan."
"Aduuuhh, aduuuhh." Ola menyingkirkan tangan Fictor dari kepalanya.
"Ya loe bodoh banget sih, lulusan mana sih loe, bedain gedung sama club malam aja nggak bisa," rambut Ola di timpuk bohong oleh Fictor.
"Aaaaa.. ng-nggak gitu, ya se-se setau"
"Seta seta, seta apa? ngomong gagap amat, dulu loe lahir pasti lidah loe nggak di kerok, ayoo lah masuk."
"Heem."
Tidak seperti di novel, Ola ditinggal jalan lebih dulu oleh Fictor, perempuan sahabat Jovi tersebut berlari mengejar Fictor.
Dari hati Ola sedikit tidak percaya, bahwa Ola di ajak menghadiri pesta pernikahan. Meski jahat, itu adalah hal termenajubkan di dalam hidup Ola.
Ola tersenyum sendiri tapi tidak tau apa yang di fikirkan.
DI DALAM PESTA PERNIKAHAN.
Setelah Jovi menarik tangan Dokter Nalen menjauh dari Meghan. Jovi juga hilang dari pandangan Ernest yang masih di atas pelaminan.
Tangan lembut Jovi menghentikan Dokter Nalen di ujung kursi para tamu undangan. Jovi sepertinya lupa siapa dia, dan bagaimana semua orang memperhatikannya.
"Dokter Nalen tidak papa? Dokter, Jovi minta maaf karena Jovi, Dokter dihina Meghan seperti itu," mata Jovi berbinar.
Dokter Nalen tersenyum.
"Tidak papa," ucapnya sambil menggenggam tangan kanan Jovi.
Jarak antara Dokter Nalen dan Jovi sangat dekat, hanya beberapa "cm" dari sepatu mereka.
"Siapapun yang berani dengan kamu, tentu saya tidak akan segan-segan untuk membela kamu Jov, Tidak boleh, ada siapapun yang menghina kamu," ucap Dokter Nalen.
"Saya tidak tau, seandainya kalau tidak ada Dokter Nalen, bagaimana Meghan akan menghina saya? Saya sebenarnya sudah tidak nyaman di pesta ini, saya ingin pulang Dokter."
Jovi menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Aaaa.. tidak, tidak..!! saya di sini karena percaya ada Tuan Ernest yang menjaga saya, tadi mungkin hanya sedikit salah paham dengan Meghan."
"Kelihatannya dia memang sengaja mempermalukan kamu Jov, kadang yang di bilang Meghan ada benarnya, selama ini apa Ernest pernah mengenalkan kamu? Ernest bahkan tidak pernah memberi tahu siapapun tentang hubungan asmaranya, dia seperti tidak bangga memiliki kamu."
"Tidak, tidak begitu," jawab Jovi.
Mata Jovi yang tadinya menunduk, terbelalak melihat mata Dokter Nalen.
Bibir mereka sama-sama tidak berbicara, namun pandangan mata Dokter Nalen memberi isyarat.
Jovi jadi semakin ingin menangis, rasa percaya diri yang sudah ia bangun sedemikian hebat, runtuh berhamburan jadi debu.
"Saat Ernest berpacaran dengan Meghan, siapa yang tidak tau Meghan? Meghan bahkan sempat di masukkan ke dalam daftar perempuan cantik kekasih CEO. Dia memang sering mengelu-elukan kamu, tapi kenyataan tidak bisa di hianati Jov."
"Dokter Nalen, sudah makan atau belum? mari Dokter kita makan bersama, atau ambil minum," Jovi mengalihkan pembicaraan.
"Di luar?? apa sekarang ada yang mengenal kamu?? bahwa kamu adalah pasangan Ernest Wijaya, bahwa kamu pacarnya Ernest?? nggak ada."
Jovi terpengaruh. Matanya berair, bibirnya menurun sedang sedih. Sedangkan Dokter Nalen menaruh iba, tangan Dokter Nalen menggenggam erat tangan Jovi.
"Sabar ya, sebagai seorang yang sudah lama kenal kamu, aku akan selalu ada di samping kamu Jovi, sampai kapanpun itu."
"Saya tidak papa," Jovi mencoba menarik tangan.
"Jovi, Jovi, di sini aku laki-laki, aku tau perasaan kamu, meskipun di sana si Ernest malah asik-asik sendiri sama temennya nggak mikirin kamu."
Dokter Nalen mengintip wajah Jovi.
Jemari lembut perempuan cantik tersebut terasa dingin. Rupanya Dokter Nalen hafal dengan kebiasaan yang di miliki kakak Aqila tersebut.
Sebelumnya Jovi sudah tidak begitu nyaman berada di pesta, di tambah ulah Meghan, dan Dokter Nalen semua menjadi lengkap.
Jovi pergi.
"Jovi.., mau ke mana? kamu nggak kenal orang di sini?," pinta Dokter Nalen.
"Saya mau menunggu di luar saja Dokter."
"Oke baik-baik, aku temenin ya..!!"
"Bruuukkk."
Dada Dokter Nalen di jauhkan dari Jovi.
"Nggak ada yang perlu di temenin, Jovi tunangan gue, mulai dari sekarang usahakan jaga sikap loe."
Jovi menoleh, laki-laki itu menggandeng erat tangan Jovi. Rupanya Ernest berhasil jalan cepat sembari menahan sakit, untuk mengejar Jovi.
Dokter Nalen tidak terima.
Semua para tamu undangan memperhatikan keributan Ernest dan Dokter Nalen.
Ernest merasa bersalah.
"Gue nggak pernah ngebiarin dia sendiri, sebisa gue pasti gue bakalan jagain Jovi. Jadi tolong jaga mulut anda," jawab Ernest.
"Jagain yang model apa? lihat..!!! sampai bajunya ketumpahan minuman, loe tau nggak? parah, parah.." Nalen menggeleng kepala.
Ernest melihat baju yang di kenakan Jovi.
"Sudah, sudah, jangan bikin keributan di sini. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar," Jovi melerai.
"Sayang, kamu tidak papa..!! kita ke toilet untuk membersihkan baju kamu ya..!!," ajak Ernest.
"Tidak perlu, tumpahannya sudah mengering kok." Jovi enggan melihat ke arah Ernest.
Tidak sudi melihat Jovi bermesraan dengan Ernest, langkah kaki Dokter Nalen mengajak pergi.
"Kamu marah dengan saya?."
"Aaa.. tidak, saya hanya merasa capek saja."
"Coba lihat ke arah saya?,"
"Dekorasinya sangat bagus sekali."
"Lihat ke saya?," Ernest mengulang perkataannya lagi.
Jovi tidak mau melihat Ernest. Bola matanya lari-lari seolah benar-benar takjub oleh dekorasi pernikahan.
"Ya sudah, ayoo kita pulang saja," Ernest menggandeng lengan Jovi.
"Jangan, tidak baik kalau kita tidak menyelesaikan undangan sampai acara selesai," Jovi menyingkirkan.
"Dari pada kamu tidak nyaman di sini kan, lagian kaki saya sudah mulai sakit karena lama berdiri suster. pulang saja lah, saya tau kamu sudah berat hati ke pesta ini."
Jovi diam.
Ernest membenahi poni rambut Jovi. Make up Jovi di ratakan lagi oleh tangan kekar putra Tuan Toni tersebut.
Ernest mengambil kursi menyuruh Jovi duduk. Dirinya mengambil tisu di jass, lalu baju Jovi sisa tumpahan dari Meghan dibersihkan ulang Ernest.
Tisu masih memerah terkena bekas sirup, sehingga dress sedikit menjadi lebih bersih. Sambil menahan sakit, Ernest jongkok mengelap rajutan kain putih yang di gunakan Jovi.
Semua mematahkan spekulasi Dokter Nalen. Semua mata memandang, para tamu berkerumun menggunjing sikap Ernest yang terlihat tulus pada kekasihnya.
__ADS_1
"Mana lagi yang terkena? ada lagi sayang?,"
"Tidak tuan, tidak ada."
"Maaf ya, gara-gara saya, kamu jadi seperti ini. Maaf ya sayang, saya belum bisa menjaga kamu seperti kamu menjaga saya dulu," kata Ernest.
Jovi tidak berhenti memandang. Ernest yang di depannya membersihkan baju dengan berjongkok, tampak serius membersihkan noda baju Jovi.
Semua para tamu saling berbisik, begitu baik sikap tuan tampan muda tersebut pada calon istri kelak.
"Ernest benar-benar pengertian dengan kekasihnya," ucap Frans pada Marcel.
"Iya, dia benar-benar sudah menemukan bebi yang baru dalam hidupnya."
Mata Frans melotot. Ia baru sadar, bahwa ia berbicara dengan sepupu Meghan.
"Eeehh.. maaf, maaf, maksud gue, dia benar-benar sudah bisa menemukan pengganti Meghan brow," ulang Marcel tercengir.
"Tapi gue rasa, Meghan masih ada di hati Ernest," bela Frans.
"Maybe?," Marcel mengangkat pundak.
Di tempat berbeda, Dokter Nalen bersama Dokter Edo ternyata juga sempat memandang ke arah Ernest dan Jovi.
Hanya saja, Dokter Edo enggan membicarakan sikap Ernest kepada sahabatnya tersebut. Sebab, Dokter Edo tau, bagaimana Dokter Nalen mencintai Jovi dulu hingga sekarang.
Tangan Dokter Nalen terlihat mengepal. Sakit hatinya semakin mendarah daging melihat Ernest jadi buah bibir.
"Tenang, sabar, pasti ada yang lebih baik lagi," Dokter Edo menenangkan.
"Dia orang baru di kehidupan Jovi Do, tapi kenapa dia yang justru dengan Jovi. Gue yang udah nungguin Jovi," suara Nalen memelas.
"Nalen, sehebat apapun kita menjaga kalau dia bukan untuk kita pasti akan pergi juga, kita ke sana saja." Edo tidak mau mengajak Nalen larut dalam kesusahan.
Dokter Nalen mengikuti ke mana Dokter Edo membawanya. Edo sendiri merasa bersalah, mengajak Nalen menghadiri pesta pernikahan Sandi.
Suasana acara pernikahan Sandi semakin ramai. Semakin malam, deretan susunan acara, satu persatu sudah berjalan lancar.
Ernest mengajak Jovi untuk berpamit pada teman-temannya terlebih dulu, sebelum pulang.
Jovi sendiri tampak meng"iya"kan permintaan Ernest. Berharap, sedikit kesalahan yang diperbuat Ernest tidak terjadi lagi.
"Kita ke Marcel dulu ya..!!."
Ernest menggandeng Jovi.
"Aaaaa.. tidak, tidak, saya mau ke toilet tuan," Jovi menolak.
Di samping Marcel, ada Frans sepupu Meghan, ada Gerald, Kiano dan teman-teman Ernest.
"Kenapa? kamu takut dengan Marcel? atau dengan Frans? nggak papa, kan ada saya."
"Tidak, bukan seperti itu tuan. Saya memang mau ke toilet sebentar saja, nanti saya kembali," Jovi meminta dengan polos.
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama ya..!! atau saya antar kamu dulu sayang, ya..!! dari toilet nanti kita langsung pulang."
Jovi tersenyum.
"Tuan, saya kan bukan anak kecil lagi, saya tau kok mana toiletnya, tuan pamit dulu saja."
"Ya sudah, oke..!!"
Jovi undur diri, dia pergi ke toilet. Ernest berjalan menuju teman-teman kampus. Sebenarnya Jovi takut melihat wajah Frans yang tidak ramah pada Jovi.
Dari kejauhan mata Frans sudah terlihat tidak suka. Jovi sendiri sedikit trauma apabila nanti tiba-tiba ada Meghan datang bersama kekasih teman kuliah Ernest dulu.
Jovi pergi ke kamar mandi.
Ernest menghampiri Kiano, Gerald, Frans, Marcel yang masih ada di acara pernikahan sahabatnya.
"Eh brow, gue izin pulang dulu udah malem."
"Wuiihh tumben-tumbenan Nest, biasanya lanjut clubbing, insyaff men dia," Frans menggoda secara sarkas.
"Iya nih, nggak asikk lu," Gerald menghentikan kepulangan Ernest.
"Iya lo, lebih asyik loe sama Meghan Nest, ke mana mana bisa clubbing bareng," Frans membangkitkan masa lalu.
"Eeiittssz.. masa lalu," Marcel menutup mulut.
"Bukan begitu, nggak enak aja, lagian gue sama pacar gue juga, dia udah capek seharian tadi fitting baju dan lanjut pergi ke pesta."
"Woowww... loe serius nikah brow, ahaayyyy.. akhirnya CEO Wijaya menikah juga coy," Marcel memeluk manja.
"Eh, gila loe, di pesta jangan manja manja begitu, gue bilangin pacarnya Ernest," Kiano memisah pelukan Ernest dan Marcel.
"Maklum, Marcel belum rela kalau gue tinggal nikah, sabar ya beb..!!," Ernest tertawa.
"Beb, beb, bebiiii...!!" Kiano, Marcel dan Gerald tertawa.
Ernest semakin terpingkal, namun Frans terlihat kurang bisa legowo. Bahwasannya dulu yang menjadi mak comblang antara Meghan dan Ernest adalah Frans.
"Eh, gue kira berita di artikel itu boongan Nest, ternyata lancar juga ya loe diem-diem," Marcel mencium Ernest.
"Iiiihh Marcel, loe jijik brow..!! relasi gue di sini banyak, jangan cium gue di sini, nanti gue di kira homo." Ernest menggosok pipi.
__ADS_1
"Baik-baik, selamat ya Ernest, habis ini nikah juga loe," semua memberi selamat dengan bahagia.