
"Suster Jovi, sebetulnya Dokter Nalen itu siapa suster? apa selama ini Dokter Nalen adalah kekasih Suster Jovi? kali aja selama ini suster malu mengatakan itu."
"Dokter Nalen? tidak.. saya tidak berpacaran dengan Dokter Nalen tuan.. saya hanya sudah kenal lama dengan Dokter Nalen, dan kemarin tidak sengaja bertemu lagi."
"Tapi Dokter Nalen cinta kan dengan suster?."
Jovi diam. Pura-pura tidak dengar. Ernest mengumpat pas di telinga Jovi.
"Saya sudah menduga, pasti iya."
Bertemunya Ernest dengan Jovi adalah ketidak sengajaan. Ernest takut, setelah ini ia sudah tidak bisa bertemu ataupun menemui Jovi lagi.
Meski sikap suster cantiknya tersebut tetap ramah. Ernest masih saja takut. Kedua bola mata Ernest terlihat sangat tidak tenang. Lari memandang ke arah Jovi, balik lagi lari melihat ke arah luar.
Ernest belum bisa meyakinkan hati, sejak berkali sering gagal dalam melamar sang kekasih. Setelah Bebi, lalu Meghan, ia tidak mau, dengan Jovi akan terulang lagi.
Jovi memejamkan mata, lalu kadang matanya terbuka lagi. Tidur siang nan amat sangat terjaga, apalagi Ernest belum tau rumah Jovi. Ia tetap mengangkat kelopak mata tinggi-tinggi berharap rasa kantuk akan pergi.
"Suster Jovi.. apa suster memang benar-benar sangat-sangat mencintai profesi Dokter?."
"Haa....." Jovi menguap. Kepalanya mengangguk.
Ernest legowo, jika perempuan yang ia cintai menyukai Dokter. Asal bukan Dokter Nalen.
"Suster.. apa di dalam fikiran Suster Jovi tidak pernah terbersit untuk ingin segera menikah? ya.. seperti kebanyakan perempuan lain, usia suster sudah 25 kan?."
Jovi menggeleng kepala.
"Sudah 26 tahun, bulan Juli nanti tuan.. saya belum mau menikah karena saya tidak mau menjadi beban untuk suami saya.. di mana orang tua saya masih memiliki banyak hutang, saya juga punya Aqila yang masih kecil, dia memerlukan pendidikan dengan banyak biaya.. kadang saya punya ketakutan, Aqila tidak akan bisa mengenyam pendidikan yang baik seperti saya.."
Pak Yoyok ikut hanyut dalam perbincangan yang tak sengaja ia dengarkan.
"Untuk saat ini, saya hanya ingin punya tabungan lebih agar bisa mendaftarkan asuransi pendidikan untuk Aqila, hanya itu.. saya tidak punya harapan besar, saya hanya ingin itu saja."
Jovi menahan bibir agar tidak mewek. Sesak di hati sebetulnya mengiringi. saat Jovi ingat, rumah yang ia tinggali sudah di jaminkan papa Jovi pada Bank Swasta.
Hati Ernest bergetar. Mendengarkan pernyataan yang terlontar dari mulut Jovi. Hatinya benar-benar tulus, bakti tulus seorang anak perempuan untuk meringankan beban orang tua. Hingga mengesampingkan keinginan sendiri.
Ernest tidak bisa membayangkan. Beban berat harus di pikul Jovi selama ini. Ingatan, Jovi baru mengundurkan diri dari kantor Fictor, semakin Ernest ikut memikirkan kondisi ekonomi keluarga tersebut.
"Tapi suster? orang yang mencintai suster Jovi tidak akan mempermasalahkan itu, hanya seorang calon suami egois yang tidak mau tau tentang itu. Bahkan saya yakin Suster Jovi.. kita bisa berusaha menutup hutang keluarga bersama-sama."
Ernest tidak sadar, dia menggunakan kata "kita" di mana Ernest belum menjadi calon suami Jovi.
"Suster Jovi, dalam pernikahan bukankah kesedihan istri juga kesedihan suami, begitupun juga sebaliknya dengan kebahagiaan? orang yang sudah berani mencintai, berarti dia juga sudah siap menerima semua baik buruk dari kita."
Jovi diam. Hatinya kalut. Tangannya meremas jemari lain. Kata-kata Ernest selalu bisa menembakkan peluru tepat sasaran. Jovi tidak dapat bergumam.
"Tuan Ernest, meskipun saya tidak tahu tetapi saya yakin ketika seorang laki-laki mengajak menikah, ia pasti menaruh harapan besar untuk bisa memiliki anak, mempunyai rumah tangga sendiri.. jika saya mengajak suami saya bersusah payah sama saja saya adalah orang yang egois.. sedangkan hutang keluarga saya sudah menumpuk bahkan sebelum ia melamar saya.."
"Saya tidak mau menjadi orang yang egois, jika nanti ada orang yang benar-benar mencintai saya, saya tidak mau menjadikan cinta yang dipunyai calon suami saya untuk senjata agar suami saya mau menuruti semua yang saya inginkan dan harapkan.. Saya selalu yakin, Tuhan sudah menulis kapan waktu saya akan bertemu dengan jodoh saya.. entah kapanpun itu."
Suasana di dalam mobil semakin hening.
Ernest tidak mampu merubah sikap. Matanya memandang Jovi, pikirannya kosong lari pergi ke mana-mana.
Kadang hanya gerak tangan Aqila tidak sengaja menyenggol lengan kakaknya. Jovi menegarkan hati. Lehernya tidak mampu menopang kepala, Jovi menunduk ke bawah.
Dari kata terakhir Jovi, Ernest tahu. Sebetulnya Jovi hanya berusaha menegarkan hati. Semua ucapan yang terlontar bibirnya, hanya sebatas kiasan kata.
"Suster Jovi, saya hormati jika itu memang menjadi keputusan kamu.. saya berjanji di hidup saya, saya akan tetap selalu menunggu kamu sampai kapanpun itu.. tidak peduli usia kamu sampai 28, 30, 33, 35, bahkan 45, saya tetap akan menunggu dan mencintai kamu Suster Jovi." Ernest memeluk Jovi. Pelukannya sangat erat.
Jovi merengkuh pundak laki-laki tampan tersebut. Tangis lalu tiba-tiba pecah tanpa di minta. Ernest mengusap lembut rambut serta pundak putih perempuan cantik tersebut.
"Saya tidak ingin kehilangan kamu Suster Jovi.. saya sangat mencintai kamu, saya tidak mau kesalahan saya di Jakarta akan mengajak Tuhan untuk membuat kamu pergi dari hidup saya.. Suster Jovi saya tidak mau itu terulang lagi."
__ADS_1
Jovi melepas pelukan Ernest.
"Tidak papa tuan.. saya tau mempercayai orang baru di dalam hidup tuan tidak akan mudah. sebab kolega dan patner bisnis akan menghalalkan segala cara pribadi untuk mendapatkan keinginannya."
"Iya itu, bagi saya membedakan hal seperti butuh waktu.. ya maaf karena sebelumnya suster menjadi bagian dari perusahaan tersebut, sudah lah jangan di bahas.. saya khawatir itu hanya akan menyakiti perasaan Suster Jovi saja."
Jovi mengangguk.
Selain Ernest, di kursi mobil depan, Pak Yoyok ikut terlarut dalam suasana di mobil. Sopir Tuan Toni tersebut baru tau, bahwa selama ini Ernest memang benar-benar menaruh hati pada Suster Jovi.
Mendapatkan hati Jovi ternyata tidak semudah bayangan Ernest. Mencintai perempuan pekerja keras lebih susah, karena pendiriannya kuat.
Entah cara apa yang akan di tempuh Ernest untuk mengangkat kejayaan hidup bagi Jovi dan keluarga. Tidak berselang lama, mobil hitam di kendarai Pak Yoyok sudah memasuki kawasan perumahan.
Ernest mengamati bangunan sekitar, Perumahan Archadya masih terbilang mewah walau tidak se mewah kawasan elite perum Griya Indah rumah Tuan Toni.
Mobil terparkir di depan pagar rumah Jovi. Aqila mulai membangunkan diri setelah berkali tangan kakaknya menepuk pipi putih anak kecil tersebut.
Jovi menurunkan diri. Ernest membantu menggendong Aqila, sebelum tubuh kecil Aqila di lempar ke arah Jovi.
Aqila kembali tidur, saat kepalanya jalan menemukan pundak kanan kakaknya. Mereka sampai di rumah pada pukul 14.15 WIB.
"Tuan Ernest, terima kasih untuk tumpangan yang sudah tuan berikan. saya pamit."
"Sama-sama, maaf ya suster hari ini saya belum bisa mampir, salam saja untuk Aqila dan keluarga Suster Jovi.. Besok-besok kalau ada waktu saya pasti mampir."
"Iyaa... Tuan Ernest hati-hati, segera istirahat kalau sudah sampai di rumah."
"Baik." Ernest tersenyum.
"Hati-hati ya Suster Jovi." Pak Yoyok melambaikan tangan dari kaca mobil.
"Iya Pak Yoyok." Jovi membalas dengan lambaian.
Seusai itu, Ernest langsung masuk mobil. Jovi sudah membopong Aqila masuk ke rumah. Pandang mata Ernest ikut berlari ke mana Jovi pergi, hingga sosoknya hilang di belakang pintu.
Pulangnya Jovi ke rumah. Tidak serta merta langsung membuat Ernest tenang. Ada beberapa cara yang akan di perkirakan laki-laki tampan tersebut untuk membantu masalah Jovi.
Telefon dari Ghazi yang sempat tertunda beberapa waktu lalu. Menjadi sasaran pertama ponselnya sore ini. Cara yang di perhitungkan Ernest harus benar-benar logis. agar Jovi tidak curiga.
"Triiinggg... triinngg... tringgg..."
PAPA MEMANGGIL...
Ternyata Tuan Toni lebih dulu melakukan panggilan masuk.
"Hallo pa."
"Hallo Ernest, apa kamu sudah sampai di Surabaya? papa baru selesai menghadiri acara dari PT. X-Z Armada, apa kamu sudah di rumah."
"Iya pa, ini Ernest sudah di Surabaya sebentar lagi sampai di rumah.."
"Oke.. eh Ernest, papa sudah menghubungi rumah sakit untuk membuka rekrutmen baru suster pribadi buat kamu, tes'nya sama dengan dulu.. tapi kamu harus kembali beradaptasi lagi? nggak papa kan?."
"Iya pah.. nggak papa.."
"Pah.." Ernest memanggil.
"Kalau seandainya habis ini Ernest kuliah lagi gimana pa? rencana Ernest ingin ambil jurusan kedokteran dan kerja di rumah sakit kita sendiri, gimana pa?."
"Ha...?? ngapain?? nggak salah kamu, nggak, nggak, papa nggak setuju ada-ada aja kamu.. terus kantor mau kamu kemana'in? kamu itu lo yang punya rumah sakit, kamu petinggi RS Wijaya kok malah mau jadi Dokternya.. kamu itu kenapa sebetulnya?."
"Ya nggak papa sih pa, cuma pengen aja, menggeluti bidang yang belum pernah Ernest jajaki.. kali aja nemu Suster cantik buat jadi jodohnya Ernest."
"Kalau cantik, Suster Jovi juga cantik.."
__ADS_1
"Hahaahha..."
"Udah ya Ernest pokoknya papa nggak setuju. kamu itu adalah porosnya Wijaya Grup, papa sudah tidak bisa mengahandle semua itu. Rumah sakit dan Wijaya Grup sama-sama penting. paham?." suara Tuan Toni memarahi.
"Iya pa.. paham.. Ernest kan hanya membuat perbandingan."
"Oke, kalau begitu, ya sudah, papa mau balik dulu ke hotel.. papa tutup ya Ernest."
"Ya pah. Byee... tut." Ernest menutup telepon.
Keinginan Ernest mendapatkan gelar sebagai doctor ternyata tidak mendapat restu dari papanya. Yang di katakan Tuan Toni ada benarnya, Ernest bukan laki-laki sembarangan.
Jabatannya terhitung tinggi, karirnya sukses, sehingga profesi Dokter tidak ada apa-apanya. Apabila jika di bandingkan dengan pekerjaan Ernest selama ini di kantor.
Tanpa andil putra tampan Tuan Toni tersebut, Wijaya Grup tidak akan se sukses sekarang. Menduduki posisi sebagai perusahaan developer terbaik tahun 5 hingga 6 tahun berturut turut.
*************************
KANTOR SEMESTA GRUP.
"Fictor.. nih.. berkas map merah loe tanda tanganin, cek dulu satu-satu, gue udah rapiin bagian-bagian yang salah."
Ola mendorong berkas dengan sangat kasar. Tubuhnya tidak di dudukkan seperti biasanya, saat Jovi memasuki ruangan.
"Taaaiiii ya loe, woeyy.. apa tuh pantat loe bisulan, bisa nggak sih loe duduk dulu.. issss.. anjjjiiingg.. berkas kalau ngasih itu yang sopan, pernah belajar PKN nggak sih loe itu?."
"Mau ada bisul atau kutu air gue juga ogah deketan sama loe, najiiz...!! Sok-sok'an ngomongin PKN nah loe pelajaran agama masuk nggak? itu mulut gue nggak pernah denger loe baca istighfar."
"Ehhh.. anjjiiinggg ya loe, gue gampar muka loe sampai item, mampuuusss.. masuk liang lahat loe." mata Fictor melotot.
"Gampar aja kalau loe berani? gue bakalan langsung resign dan loe bakalan gila ngajarin sekertaris baru."
"Mulut loe bisa diem nggak?? gue ludahin mulut loe baru tau rasa, cuma cewek bacccot loe banyak banget."
"Eyeyeyeyeyee....," Ola sangat berani meledek.
Fictor memicingkan mata. Ola terlihat sangat sangat santai. Setiap hari Fictor kesal karena tingkah Ola yang cerewet.
Kata-kata kasar yang di lempar Fictor ke arah Ola benar-benar tidak mempan. Ola benar-benar berbeda dengan Jovi, sahabat karib Jovi tersebut nampak lebih berani.
Semua kata-kata kasar Fictor sama sekali tidak menyakiti perasaan Ola. Perempuan berambut sebahu itu mendengar obrolan Fictor masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Lama tidak mendengar kabar Fictor, sejak kepergian Jovi dari kantor Semesta Grup. Kali ini, perusahaan developer terbesar nomor 2 itu, mengalami ke goyahan di dalamnya.
Setelah Alice mengundurkan diri karena tidak kuat menjadi sekertaris Fictor. Mau tidak mau, hal itu membuat Ola akhirnya menempati jabatan tersebut.
Fictor menandatangani berkas.
"Harusnya loe itu koreksi diri Fictor, lihat tuh pegawai-pegawai loe yang baik hati.. Jovi, Alice mereka pada nggak betah sama loe, mereka resign gara-gara loe itu jahat."
"Bacooot loe bisa diem nggak?." Fictor menggebrak meja.
"Ya kan mulut-mulut gue, gue ke kantin nggak minta loe, dari teh hangat harga 3000 di kantin sampai 5000 gue juga beli sendiri." Ola nge dumel sesuka hati.
"Arrrrrgggghhhhh....," Fictor menjambak rambut berulang kali.
"Ola.. gue lama-lama stress punya sekertaris kayak loe.., loe itu bisa nggak sih ngomong cuma pas ada perlu aja, jangan nyerocos mulu kayak kompor gas bangssaat.."
"Salah sendiri loe dengerin, tuh telinga loe tutup kan bisa." Ola malah yang mengatur Fictor.
"Udah, udah, bisa gila gue di ruangan ini selama terus menerus sama loe." Fictor pergi memboyong ponsel serta power bank.
Sikap cerewet Ola ternyata membuat Fictor sangat terganggu. Langkah kakinya pergi ke bawah menuju lobby kantor. 25 menit lagi juga suara bel istirahat berbunyi, Fictor mengambil duduk di kursi sendiri.
Hampir selama satu minggu, laki-laki berjambang tersebut tidak memantau kabar atau menghubungi Jovi. Sejak keluar dari Semesta Grup, Jovi belum pernah mendapat telepon lagi.
__ADS_1
Kegagalan tander proyek yang harusnya di menangkan oleh perusahaan Fictor itu, sehingga ombang ambing pendapatan serta kerjasama dengan perusahaan lain sangat membutuhkan perhatian Fictor.
Atasan galak Jovi tersebut semakin benci dengan mantan sekertarisnya sendiri tidak lain adalah Jovi. Fictor tidak terima. Ia tidak akan membuat hidup Jovi tenang.