Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
81. Undangan Pernikahan


__ADS_3

Seusai menyelesaikan wahana satu persatu. Lelah mereka tampak menghinggap. Jovi dan Ernest mencari foodcourt di dalam wisata malam itu.


Mereka mengambil tempat duduk di pojok secara bersamaan. Ernest yang langsung tertawa, mengalah tempat untuk Jovi. Segelas minuman dingin, satu kopi instant pesanan Ernest nampak datang.


Suasana terlihat ramai. Beberapa ada yang mengistirahatkan diri tanpa memesan menu. Malam ini, suasana lebih di dominan pasangan seusia Jovi dan Ernest. Sehingga mereka tampak nyaman.


Ernest memesan lagi satu menu. Ia sedikit tertarik oleh menu kentang goreng dan sambal unik. Jovi mengecek ponsel. Ola mengirimkan link. Tertulis Suster tuan muda bermasalah.


"Jov, coba buka..!! gue nemu berita ini, nama loe mulai rame di luaran sana Jov, loe jangan kaget ya..!! semisal waktu loe nemu link ini, dan banyak berita tentang loe yang bikin nggak enak hati."


Jovi mengahabiskan sisa chatt Ola. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Kecemasan sempat hinggap di hati Jovi tadi seperti sudah menemukan jawaban.


Rasa penasaran bercampur berat hati serta ingin menangis jadi satu di rasakannya. Jovi membaca artikel dari link yang sudah di kirim Ola. Benar.., loading selesai, berita itu langsung muncul.


"Suster Tuan Muda Bermasalah?"


Publik tentunya masih ingat dengan perekrutan yang di lakukan oleh salah satu pembisnis yang tersohor di tanah air, siapa lagi jika bukan Toni Wijaya.


Keluarga Wijaya yang memiliki segudang bisnis tersebut baru-baru ini melakukan perekrutan kembali suster untuk perawat Ernest Wijaya. Tentunya publik sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut, pemilik serta pewaris tunggal aset bisnis Wijaya Corp itu di duga memiliki masalah dengan Jovi Andrianita.


Suster pertama yang lolos dalam besutan alumni Stikes Wijaya itu di duga telah mengecewakan putra tunggal Toni Wijaya. Beberapa kabar mengatakan, bahwa Jovi ternyata memiliki riwayat yang buruk saat lolos perekrutan.


Hal itu baru terungkap setelah Ernest memperkerjakan Jovi sebagai suster. Selain dara berusia 25 tahun tersebut adalah perempuan yang digadang pernah ikut mengundurkan diri dari perekrutan RS WIJAYA tempo lalu. Jovi juga pernah melakukan penggelapan uang.


Hingga sampai saat berita ini tertulis, belum ada konfirmasi dari semua pihak. Namun berita bermasalahnya Suster Untuk Tuan Muda mulai hangat di perbincangkan.


Penggelapan uang di duga ketika Jovi belum bekerja sebagai suster, namun beberapa pihak mengatakan bahwa Jovi Andrianita melakukan penggelapan di kantor. Kantor mana belum di ketahui, apakah itu kantor Wijaya Grup?


Jovi tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya sangat lemas. Ia segera ingin pulang. Matanya mencari lagi ke arah mana Ernest pergi. Ternyata Ernest sedang berbincang dengan seseorang.


Berita itu ditambah hoax bahwa Jovi melakukan penggelapan uang. Jovi tidak mau lagi membaca artikel serupa di bawah yang masih banyak. Bola mata perempuan cantik tersebut berkaca-kaca.


"Sejak kapan kamu menggelapkan uang? uang yang apa? Ya Tuhan, kenapa masih banyak cobaan-cobaan yang lain. Aku kira keluar dari kantor Pak Fictor sudah lepas semua dan tinggal menata hidup yang baru. Ternyata semua ini tidak semudah membalikkan telapak tangan." gumam Jovi di hati.


Seketika mood langsung ambyar. Seperti mendapat serangan jantung tapi Jovi tidak mati. Jovi menyoroti tempat sekitar hanya dengan tatapan kosong.


Ia nampak kehilangan rasa percaya dirinya. Baru kali ini masuk ke dalam surat kabar. Kabar buruk serta kecaman netizen sangat sakit di hati.


FOODCOURT PEMBAYARAN.


Ernest di depan pembayaran.


Laki-laki yang di lihat Jovi dari tempat duduknya ternyata Sandi. Teman kuliah Ernest sekaligus teman baik Dokter Edo. Tawa Ernest terlihat menyungging berkali-kali. Ternyata ada kabar bahagia yang di bawa Sandi.


"Loe harus datang ya Nest, wajib datang bawa gandengan,"


"Buktiin kalau loe cowok," canda Sandi menonjok dada Ernest.


"Aduuuuhh.. anjiiirr.. parah parah parah. Di mana-mana kan yang penting berapa amplopnya bukan gandengannya men haha."


"Nggak, nggak, gue tetep nggak setuju. Gue sedih aja brow.. masa iya putus dari Meghan loe belum bisa dapetin lagi sih? kalau nggak dapet dapet, gue patri tangan loe sama truk gandeng gitu aja ya..?? kali aja cocok."


"Hahahaha.. gilak, gila banget sih ide loe.. anti mainstream itu brow. Ya, ya, gue bawa gandengan. Bukan Meghan ya?? awas loe ngecengin gue sama Meghan lagi." Ernest menunjuk tegas wajah Sandi.


"Eh, eh, sorry Nest, loe ini nggak lagi meeting kan? itu alis di kendurin coba? iya, iya, gue nggak nyebut si sepupunya Frans deh."


"Nahh... begitu lebih baik."


Sandi menahan tawa. Bola mata berlari ke kanan kiri. Ernest malah tersulut emosi di beri ekspresi wajah seperti itu oleh Sandi.


"Eh lanjut ngejek nih?," Ernest mengangkat alis.


"Hahaha, nggak, nggak. Eh Nest, loe ke sini sama siapa? suster yang jemput loe di reuni masih sama loe? cantik loh dia, punya pacar nggak ya kira-kira?," Sandi berfikir sembari memegangi dagu.

__ADS_1


"Memang kenapa? loe ini udah mau nikah brow, nyuruh gue nyari gandengan malah nanyain cewek lagi. Jovi udah ada yang punya, dia juga udah mau nikah."


"Serius lo? sama siapa?."


"Eh bentar-bentar loe ini kenapa sih? mau lo kasih ke siapa sih?." Ernest mengernyitkan dahi.


"Hahaha, mau gue kenalin ke sepupu gue sebenarnya. Namanya Hilmi dia baru pulang dari luar negeri niatnya mau nyari yang serius. Kali aja kan kalau gue kenalin mereka, siapa tau jodoh."


"Hahahha.. masih musim ya biro jodoh? cari sendiri dong," ledek Ernest.


"Hahaha, ya bukan gitu men.. namanya jodoh kan dari mana-mana aja bisa." Sandi menemukan sesuatu yang aneh. Ernest tidak berhenti tertawa.


"Ernest, bentar, bentar. loe kenapa ketawa gitu? jangan-jangan, yang loe maksud pasangannya Jovi itu? aaaaaa....," telunjuk tangan Sandi menari di depan hidung Ernest.


"Hahahhaha..,"


"Ya kan? ya kan? eh Ernest loe ngaku deh. Apa loe jangan-jangan lagi ke sini sama Jovi ya? hayoo? anjaaaayyy.. di rahasia'in kan?," Sandi mendorong Ernest hampir jatuh.


Tubuh laki-laki berperawakan se Ernest tersebut terus mendorong Ernest sampai mendapat jawaban. Ernest tetap terus tertawa. Sampai akhirnya ia terhenti di tembok.


"Iya, iya, gue lagi sama dia. itu," Ernest menunjuk tempat duduk Jovi.


Sandi menoleh. Lama tidak melihat suster cantik tuan muda. Jovi semakin terlihat cantik di mata Sandi.


"Eh iya ternyata," raut wajah Sandi sangat bahagia.


"Karena loe kurang ajar sama gue men, sini gue bawa loe ke Jovi. Tuh.. cewek harus tau, loe nyembunyiin kabar kalau loe udah nggak jomblo lagi."


"Hahahaha, San, gara-gara jomblo kok kayaknya gue ini hina banget di mata loe ya? rasanya kayak odading yang anjiiiimm banget."


"Hahahhahaha," Sandi merangkul pundak Ernest. Mereka berdua menghampiri Jovi.


Dari jauh, Ernest semakin mendekat. Ia lari lebih dulu. Jovi yang termenung menggebrak pundak Jovi secara mesra. Jovi setengah mati terkejut. Ernest datang bersama dengan laki-laki lain.


"Tuaan...,"


Mata Ernest berkali-kali melihat Jovi lalu ke Sandi, ke Jovi lagi lalu ke Sandi. Jovi baru paham, ada teman Ernest dan ia memanggil Ernest dengan sebutan tuan.


"Panggilnya masih tuan?," tanya Sandi ke Jovi.


"Nggak lah men, tuan katanya. Jovi jelas panggil gue sayang dong.. ya yank ya?," Ernest merangkul pundak Jovi.


Perempuan cantik tersebut tampak mengangguk.


"Tadi saya sedang chatt dengan Tuan Toni kak," bohong Jovi sebisanya.


Sandi tersenyum. Ernest garuk-garuk kepala. Sikap Jovi di nilai sandi sangat polos. Teman-teman Ernest menggunakan suku kata "saya" "kamu" hanya saat acara formal tidak sehari-hari.


"Santai aja Jov, jangan pakai kata saya, loe gue aja kelihatannya lebih enak. Biasa sama Ernest di ajak bahasa se formal itu ya? Ernest parah ah.., plaakkkk,"


"Aduuuhh Sand," Ernest di tampar Sandi.


"Hahaha sorry, sorry, ya elu sih ?? yang bener napa? jaman sekarang masih pakai aku kamu, ganti lah sama loe gue. Sok lembut yeee lu kalo sama Jovi, biasanya sama gue juga loe gue, loe gue." Sandi duduk di depan Ernest dan Jovi.


"Kan seorang calon imam harus memberi contoh yang baik buat istrinya Sand, mana sih? loe yang mau nikah, kok gue yang ngerasa udah siap banget."


"Haahahaha, ya udah.. sini sekalian loe kasih gue kultum tentang pernikahan, coba gue mau denger," tantang Sandi.


Suasana langsung pecah dengan tawa Jovi, Ernest serta Sandi.


Makanan yang baru di pesan Ernest datang. Tambahan minuman satu melengkapi kehadiran Sandi. Kedua laki-laki tersebut mampu mengubah suasana hati Jovi.


Candaan dua sahabat tersebut sempat menggelitik perut Jovi. Ada saja kelakuan kocak Sandi dan Ernest. Liburan mereka benar-benar terasa liburan, masalah Jovi hilang lagi.

__ADS_1


Suasana foodcourt juga nampak masih ramai. Meski sudah keberapa kali pengunjung silih berganti. Mata Jovi memandangi sekitar. Sembari mendengar percakapan dua sahabat tersebut.


"Jov, loe udah di lamar belum sama Ernest?," tanya Sandi.


"Belum, tapi udah bilang ke mama papa kok."


"Wuuuuhh.. sebentar lagi dong ini..!! besok kalau nikah loe minta mas kawin yang banyak Jov, Ernest mah tiap hari isinya kerja mulu, tuh uang nggak enak kalau nggak di habisin,"


"Loe kira nasi? kalau udah lama jadi nggak enak, basi, terus buang ke sampah, ada-ada aja loe," Ernest menimpuk Sandi dengan nomor meja.


"Gue saran men, nah terus nikah sama CEO muda itu kurang greget kalau nggak tujuh hari tujuh malam resepsinya."


"Ogaaahhhhh...," desis Ernest.


"Nggak, nggak, aku juga nggak mau," timpal Jovi.


"Tuhhh.. dengerin telinga loe, bukaaa..," ledek Ernest merasa menang.


"Ouh iya, iya, gue tau nih. kalian nggak mau resepsi lama karena lebih milih malam pertamanya yang tujuh hari tujuh malam nggak keluar kamar kan? ngaku?,"


"Hahahahhaa..," Jovi dan Ernest tertawa terbahak-bahak.


"Nah itu ide loe baru brilliant men, kalau tadi gue sih ogah. Nahhh.. kalau yang nggak keluar kamar baru mantap ya yank?," Ernest melihat Jovi genit.


"Nggak," Jovi membuka mulutnya lebar. Suaranya sedikit membesar.


Sandi sekarang yang tertawa.


"Eh udah, udah ketawanya. Ya udah gue selalu doa'in yang terbaik untuk kalian. Gue mau married besok Minggu Jov, loe datang sama Ernest ya..!! biar dia punya gandengan."


"Ouh sudah mau nikah? selamat ya, semoga lancar sampai hari H. Baik-baik, nanti aku sama Ernest kalau tidak ada halangan pasti datang."


"Heemb.." Ernest turut mengangguk.


"Harus bisa lah? Ernest loe kosongin dong buat gue, sehari saja brow.. rencana besok gue baru sebar undangan ke temen-temen.. beruntung sih ketemu loe duluan, nggak susah-susah ke rumah loe haha,"


"Untung loe nggak mendadak, bisa kok gue usahain." Ernest tersenyum.


"Nahhh gitu dong.. thanks ya..!! suka gue kalau kayak gini. Nanti gue kirim undangannya, karena tadinya gue survey tempat preewed di sini, gak sengaja ketemu loe," Sandi sumringah.


"Bahagianya yang mau nikah, oke-oke."


"Kalau gitu gue balik dulu ya..!! Ernest jagain Jovi baik-baik. Jov.. Jov.. awalnya loe itu mau gue kenalin ke sepupu gue, anjiir.. di duluin Ernest haha, ga papa lah."


"Siapa emang?," Jovi menanyakan nama sepupunya.


"Udah, udah, loe balik sana..!! pergi, pergi, ambil undangannya segera kirim ke gue ya..!!," Ernest mengeluarkan paksa Sandi pergi.


"Hahahaha.. Nest, loe parah, gue mau ngobrol sama Jovi nggak bisa. Jov, gue balik ya..!! Nest gue balik, makasih atas jamuannya bersama kalian berdua. Jangan lupa datang," Sandi pamit.


"Iya, hati-hati Sandi," Jovi ikut melambaikan tangan.


Ernest mengantarkan Sandi keluar foodcourt. Mereka berpelukan sebelum pergi. Tangan Ernest melambai sampai batang hidung Sandi tidak terlihat lagi.


Ernest kembali masuk.


"Sayangggg.., ayoo kita pulang." ajak Ernest.


"Aaaa.. iya, ayoo tuan."


Melihat hari sudah malam. Apalagi jarak tempuh Malang Surabaya tidak bisa di prediksi. Mereka memutuskan untuk pulang. Ernest dan Jovi tersisa lelah setelah berlibur dadakan.


Sebelum keluar tentunya oleh-oleh di borong Ernest. Kartu gesek dan serta uang tunai memudahkan belanja mereka. Mereka berdua keluar.

__ADS_1


Mobil Pak Rahmat di cari Ernest. Nampaknya Pak Rahmat baru bangun tidur. Jovi dan Ernest masuk mobil.


Perjalanan mereka pulang nampak ada yang berbeda, tentunya cincin yang di sematkan Ernest pada jari manis sebelah kiri.


__ADS_2