
Berhasil pulang. Mobil yang di kendarai Jovi terlihat berbelok ke arah Perumahan Archadya. Masuk memarkir kendaraan di depan rumah.
Ada pandangan tidak biasa. Rumah sedang ramai, di depan pintu pagar rumah Jovi, mobil Dokter Nalen sudah memarkir dulu.
Dua daun pintu utama di rumah tersebut keduanya di buka sama-sama lebar. Mama papa Jovi nampak memang sedang menerima tamu.
"Dokter Nalen? siapa itu perempuan di sebelah Dokter Nalen." Jovi membatin, membuka kaca spion.
Kadang gelak tawa mereka hingga ramai menyeruak keluar. Tingkah lucu Aqila adalah penyebabnya. Jovi turun dari mobil, papa Jovi mengamati putrinya turun dari mobil yang sama.
Sepatu kerja warna hitam, sepatu perempuan memiliki tinggi tidak seberapa di tumit ada di sebelah sepatu Dokter Nalen.
Jovi melepas alas kaki, ia masuk ke rumah. Ada Ola dan Dokter Nalen duduk berdampingan.
"Mama, papa.. Jovi pulang."
Suara Jovi langsung di sambut senyum. Ola menoleh, Dokter Nalen menyaku'kan ponsel. Mama dan papa Jovi sudah menunggu.
Jovi memeluk Ola. Tidak sempat melakukan penolakan, Dokter Nalen mencium pipi kanan kiri Jovi.
Mama Jovi mulai khawatir. Yang di cintai oleh putrinya Nalen atau Ernest. Dokter Nalen tidak sungkan lagi, memperlihatkan sikap.
Ola memandangi. Sahabat Jovi tersebut bisa menebak, perasaan Dokter Nalen tetap sama seperti dulu.
"Sayang.. kamu baru pulang? ini ada Ola dan Dokter Nalen." mama Jovi memberi tau.
"Iya mah, tadi berangkatnya kesore'an ternyata."
Jovi mencium punggung tangan kanan mama papanya bergantian. Aqila tampak bermain dengan boneka barbie di belikan Ernest lagi.
Sebelum datangnya Jovi. Nampaknya Dokter Nalen dan Ola sudah memulai pembicaraan lumayan lama. Senyum mereka saling menghias di ruang tamu.
Dokter Nalen tidak menanyakan lebih lanjut pekerjaan Jovi yang masih terikat dengan keluarga Wijaya. Ia berkunjung untuk menjalin silaturahmi.
"Dokter sudah lama?." tanya Jovi.
"Lumayan, terus nggak sengaja ketemu Ola.. jatuhnya malah sedikit reuni." Dokter Nalen senang.
"Iya Jov, gue kira loe udah di rumah, ternyata masih kerja di rumah Tuan Toni ya Jov? kabarnya tuan muda gimana Jov, baik ya?."
"Iya Ola, ini masih diminta Tuan Toni buat jagain Tuan Ernest beberapa minggu lagi, sambil cari pengganti suster baru." Jovi menceritakan.
Nampaknya, menjadikan Jovi dan Ola sebagai alumni mahasiswi Stikes Wijaya, harus membuat Nalen menahan dua kali lebih sabar.
Dokter Nalen nampak jengah, Ernest menjadi perbincangan hangat mereka. Ia mencari cara, agar kehadiran Dokter Nalen ke rumah Jovi mendapat perhatian.
Papa Jovi menjamu tamu dengan baik. Obrolan ringan di berikan pada Dokter Nalen, saat menunggu lama Jovi dan Ola belum berhenti membahas Ernest.
"Jovi.."
"Ya Dokter Nalen."
"Saya ada lowongan pekerjaan di rumah sakit tempat saya praktik. Rumah sakit membutuhkan tambahan perawat dan staff rekam medis, mungkin kamu bisa mencoba."
Papa Jovi mendengarkan. Ia mencoba menyuruh putrinya meng"iya"kan tawaran yang lebih menjanjikan. Mama Jovi melihat peluang, anaknya mendapat kerja sesuai bidang.
"Coba aja sayang, siapa tau rejeki kamu kan.. kalau bekerja di tempat Tuan Toni benar gajinya banyak, tapi kan untuk masa kerjanya bisa habis se waktu-waktu." papa Jovi memberi saran.
"Memang terakhir kapan Nalen?." tanya mama Jovi.
"Pendaftaran di tutup 5 hari lagi tante, untuk test'nya di lakukan satu hari setelah pendaftaran.. menurut saya menjadi suster pribadi kerjanya juga lebih berat tante, berbeda dengan di rumah sakit."
"Iya memang, tapi semua kembali ke Jovi kan? terserah kamu saja Jov, kalau kamu minat bisa kamu coba itu." papa Jovi membebaskan.
"Iya pah."
"Kalau di rumah sakit Intan Medika kamu tidak perlu pulang malam lagi Jov. Jam kerja rumah sakit lebih santai dari pada di RS Wijaya."
Dokter Nalen langsung mengeluarkan beberapa persyaratan serta contoh-contoh surat lamaran. Sesuai dengan permintaan rumah sakit tempat Dokter Nalen bekerja.
Dokter Nalen terlihat sangat peduli. Papa Jovi mendengar sendiri bagaimana suara laki-laki tampan tersebut menawarkan bantuan ke putrinya.
Ola ikut terhanyut dalam pembahasan info lowongan kerja di bawa oleh Nalen. Sambil bermain dengan Aqila, mama Jovi melihat tidak asing mobil di depan.
"Jov, itu kamu bawa mobil siapa?." pandangan mama Jovi mengarah ke pagar.
"Iya Jov, mobil siapa itu?." papa Jovi ikut bertanya.
"Mobil Tuan Ernest pa.. Tuan Ernest yang nyuruh bawa mobilnya pa."
"Jovi.. bukannya itu mobil loe ya?." Ola lebih mengenali.
"Iya Ola, tapi udah gue jual.. kebetulan Tuan Ernest yang membeli mobil itu dari showroom."
"Waah.. gitu ya. Mungkin Tuan Ernest sengaja ngebeli biar nilai jualnya tinggi deh Jov. Karena secara logika Tuan Ernest nggak mungkin tertarik sama mobil loe.."
"Masak sih?."
"Ya bisa di bilang, dia ngebantu loe melewati perantara tangan orang lain. ya nggak sih?."
__ADS_1
"Nggak deh Ol kelihatannya. Karena pihak showroom sendiri bilang tipe mobil seperti milik gue saat ini paling banyak di buru oleh para customer."
Jovi menjelaskan seperti apa yang di katakan owner Showroom Mandala.
"Harusnya sih, dari pihak Pak Ernest kalau memang mau membantu, bisa dengan tinggal memberi Jovi cek sesuai berapa nominal yang di butuhkan saat ini."
Ola langsung menatap Dokter Nalen.
"Nah.. untuk mobil bisa diambil gunakan Jovi dulu, sampai Jovi punya kendaraan sendiri, tentu nggak susah kan apalagi keluarga mereka kaya raya." imbuh Dokter Nalen.
"Ternyata kedekatan Dokter dan Jovi selama ini belum bisa mengenal Jovi sepenuhnya ya..?? Dokter Nalen, saya tau sendiri, Jovi bukan orang suka mendapat belas kasihan dari orang lain, tanya saja sama orangnya.. selama ini dia selalu berusaha sendiri."
"Lho ngapain kamu ngegas? saya kan hanya menyampaikan pendapat saya baiknya bagaimana, apa itu salah? orang kan memiliki cara masing-masing."
Debat Ola dan Dokter Nalen sedikit mengusik telinga. Dokter tampan itu tidak suka, ada yang membela Ernest. Papa Jovi cukup tersenyum.
Sesama anak muda, ego mereka masih sama besar tingginya.
"Sudah, sudah..!! jangan bertengkar, ini bukan ring tinju lo.. ayoo di minum dulu jus jeruknya Ola. Silahkan Dokter Nalen." mama Jovi membawa minuman.
"Nanti kalau marah-marah, Tante Ola sama Om Dokter cepet tua lo." Aqila ikut memprotes lucu.
"Terima kasih tante." Dokter Nalen senyum.
"Kalau Kak Ola sih awet muda Qil. seumuran seperti Aqila sama temen-temen Aqila gitu."
"Hahaha.., Ola, loe nih ada-ada aja, nggak sekalian aja bilang baru lahir ke dunia kemarin." Jovi tertawa.
"Ya abis Jov, gemes gue hahaha."
Tawa Ola dan Jovi mengisyaratkan sesuatu.
Papa Jovi mulai bisa menilai karakteristik Dokter Nalen di depannya. Ola meneguk setengah jus dingin. Jovi senang, ada Ola datang malam ini.
Suasana berubah tidak kondusif ketika Aqila tiba-tiba menangis minta menonton youtube terus menerus. Mama Jovi melerai, tangis Aqila meraung hebat.
Papa Jovi lalu kemudian permisi. Mama Jovi pergi ke kamar dengan Aqila. Ola, Jovi, dan Dokter Nalen berada di ruang tamu.
Sama-sama mempunyai maksud, Ola saling pandang dengan Dokter Nalen. Jarum jam menunjuk cepat, jarum sudah pukul 20.15 malam.
Jovi mengembalikan tas. Ia balik, duduk di sofa yang sama dengan Ola. Dokter Nalen ada di sofa kecil samping Jovi.
Nalen memakai kemeja warna hijau, celana santai warna coklat. Ola seperti biasa, menggunakan jaket serta celana jeans warna biru.
"Ola, bagaimana kabarnya Pak Fictor? bagaimana kondisi perusahaan? apa sekarang finansial Semesta Grup sudah membaik?."
"Fictor belum sadar, butuh hidayah paket lengkap sama ruqyah Jov. kemarin sempat hampir collaps Jov, yang gue bilang ke elo sejak PT. Jyco memutus kontrak kerja pindah ke Wijaya Grup."
"Pasti lah, grup chat kantor aja nggak pernah gue buka.. semua kata-kata Fictor pantes jadi dep collector dari pada Direktur. Perusahaan waktu collaps kemarin, sempet gue denger ada yang mendanai masuknya project baru ke Semesta Grup, tapi gue nggak tau jelas,"
"Bodo amat yang penting gue tetel gajian tiap bulan." Ola mengangkat pundak ringan.
Dokter Nalen memandangi Ola kurang suka. Sifat ceplas ceplos Ola kurang menarik perhatian laki-laki yang lebih mencintai Jovi tersebut.
Dokter Nalen mengubah posisi duduk jalan ke arah Jovi dan Ola. Dokter Nalen mendudukkan diri pada lengan kursi sebelah Jovi duduk. Sesekali memainkan rambut.
"Yang jadi sekertaris siapa sekarang ? Elmara atau Vega, ah atau Alice?."
"Gueee."
"Terus Alice ke mana?."
"Si Alice resign, gue denger dia ketrima kerja di Elite Media, bagian editing berita-berita. Gue sebetulnya udah gedeg tuh sama Fictor, tapi dia kelihatannya bete gara-gara kecrewetan gue Jov."
"Sabar." Jovi tersenyum.
"Haduh Jov, loe ini kenapa tetep aja kayak dulu. Ekspresi loe cuma senyum, nurut, senyum, sok tegar, basi ah."
"Terus gimana? masak iya, ketawa? tapi nggak ada berita lain kan, selain itu?," tatap mata Jovi meyakini sesuatu.
"Iya itu, ada Jov sebenarnya?."
"Apa?."
Lirik mata Ola lari ke arah Dokter Nalen. Jovi segera paham. Kepalanya menengadah, ada Dokter Nalen ikut mendengarkan.
Ola tidak mau, ada orang lain selain Jovi mendengarkan ceritanya. Masih bekerjanya Ola di perusahaan Semesta Grup, mengancam keberadaan Ola sebagai staff kantor.
Apabila salah satu rahasia Fictor bocor ke orang lain. Apabila nantinya Dokter Nalen hilang kendali langsung bercerita ke lain orang. Ola tidak mempunyai nyali se hebat itu.
"Dokter Nalen, saya mau bicara dengan Ola empat mata sebentar, Dokter Nalen bisa tunggu di luar sebentar ya?," pinta Jovi.
"Ouh baik kalau begitu, silahkan.. silahkan."
Dokter Nalen pergi ke luar. Ola melihat sampai habis tubuh Dokter Nalen hilang dari pandangan. Jovi meremas tangan Ola. Sorot mata mendadak layu.
Ola sudah kebingungan. Memulai dari mana ceritanya malam ini.
"Kenapa Ola?."
__ADS_1
"Jov... tadi gue nggak sengaja dengar pembicaraan Fictor, gue nggak denger jelas Jov, tapi Fictor merencanakan sesuatu buat loe Jov."
"Ouh itu, kalau itu dari dulu firasat gue juga selalu bilang begitu Ol, makanya gue nggak mau berlama-lama jadi suster Tuan Ernest, gue takut itu akan mengancam keselamatan keluarga gue maupun keluarga Tuan Ernest."
"Heem Jov, tapi Jov, gue denger.. Fictor, dia, dia mau membunuh Tuan Ernest dengan cara menjauhkan loe dari keluarga Wijaya dulu."
"Masih?," Jovi tidak percaya niat jahat itu belum hilang dari hati Fictor.
"Heem, seperti itu," Ola mengangguk.
"Jov, apa nggak mending loe tetap jadi Suster Tuan Ernest aja ya Jov..?."
"Tidak Ola, kalau untuk itu gue mau mencoba mendaftarkan diri ke RS Intan Medika dulu saja.. dalam hal pekerjaan gue nggak mau bekerja ke Tuan Ernest maupun Fictor."
"Jovi, loe tau kan gimana jahatnya Fictor. Gue takut terjadi apa-apa sama loe, biar kalian saling menjaga mending loe bilang semua ke Tuan Ernest Jov."
"Iya, kalau untuk itu, secepatnya gue bakalan bilang ke Tuan Ernest. Ola.. makasih banyak ya Ola, loe selalu menjadi malaikat penolong buat gue, gue sayang banget sama loe."
"Gue juga sayang banget sama loe Jov, kalau bisa loe segera menikah aja sama Tuan Ernest, itu lebih baik dari sebaik-baiknya keputusan Jov."
Ola dan Jovi saling memeluk.
Kedekatan mereka tidak luntur, meski sudah tidak dalam satu naungan pekerjaan. Begitu lah teman yang sesungguhnya. Ada saat bahagia, tidak meninggalkan saat susah.
Suasana hening. Aqila sudah tertidur. Mama papa Jovi merencanakan ingin berpindah ke luar kota apabila perusahaan tetap stagnan, tidak bisa di selamatkan.
"Doa'kan saja ya Ola, Tuan Ernest mau main ke rumah sini, buat ketemu sama mama dan papa."
"Serius Jov?." Ola melepaskan pelukan Jovi. Senyum sumringah tidak menyangka.
"Iya."
"Jovi... Ya Tuhan, gue seneng banget, gue nggak nyangka Jov.. tapi ini memang hadiah terindah Tuhan buat loe, loe pantes mendapatkan ini semua."
"Caiiiyooo Jov," Ola memeluk erat lagi.
Leher Jovi terasa di cekik. Ola mendekap sangat kencang. Perlahan tangan perempuan berwajah manis itu melepas.
"Tapi Jov."
"Kenapa?."
"Itu," Ola menunjuk bayangan tubuh Dokter Nalen.
"Buat loe aja," Jovi tertawa.
"Iiiihhh.. mana mau dia sama gue? tapi kasihan Jov, kalau loe tinggal nikah."
"Makanya nikahin."
"Jovi.. aahhh.. nggak lucu..! percuma nikah sama gue, ingetnya ke elo terus nanti gue mati perlahan Jov."
"Hahaha, nggak papa, lama-lama juga lupa.. pokok gue nanti yang jadi mak comblangnya."
"Kalau Tuhan mengizinkan ya Jov." Ola ternyata sedikit berharap.
Kemudian Jovi mengantar Ola keluar. Dokter Nalen berdiri di pagar jauh dari pintu masuk. Ola makin senyum-senyum tidak jelas karena ulah Jovi.
Dokter Nalen tidak tau apa-apa, ia memandang aneh. Antara Jovi dan Ola sama-sama tidak beres. Ola akan berpamitan.
"Dokter Nalen, saya permisi dulu mau pulang."
"Ouh iya silahkan."
"Dokter, apa tidak sebaiknya Dokter Nalen mengantar pulang Ola.. Kasihan, Ola naik taksi lagian ini sudah malam."
"Nggak usah Jov, apa'an sih?." Ola grogi.
"Iya nggak papa deh kalau gitu, ini sudah malam juga.. besok saya ke sini lagi kalau kamu membutuhkan bantuan saya."
Ternyata Dokter Nalen mengiyakan. Ola langsung sumringah. Jovi mengkode, tertawa geli.
"Kalau begitu saya ambil tas dulu di dalam dan tadi ponsel saya masih di dalam."
Jovi mengangguk. Ola menunggu di depan garasi. Dokter Nalen masuk ke ruang tamu mengambil kacamata, Jovi mengikuti dari belakang.
Jovi ikut membereskan tas dan lampiran contoh surat lamaran.
"Jovi, saya pulang dulu."
"Iya Dokter, terima kasih sudah bermain ke rumah saya."
"Sama-sama, cupp." Dokter Nalen mencium bibir Jovi.
Tangan Jovi gemetaran tidak tau Dokter Nalen akan melakukan itu.
"Saya mencintai kamu Jovi." bisiknya pelan.
Jovi diam saja. Selanjutnya langkah kaki mereka jalan keluar. Suasana pelataran sudah sepi. Sunyi kawasan perumahan semakin memperlihatkan malam sudah gelap.
__ADS_1
Ola dan Dokter Nalen kemudian masuk mobil. Lambaian terakhir tangan Ola dari dalam mobil Nalen, sebelum akhirnya menancap gas pergi, di lihat Jovi.
Jovi kembali masuk ke dalam rumah.