Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
27. Berebut Tuan Muda


__ADS_3

Selain pandangan ke arah Ernest serta teman wanitanya. Ada yang lebih membuat Jovi tertegun, bola matanya tidak bisa berpindah haluan, melihat Fictor menyandarkan tubuh di kursi menghadap arah Jovi berdiri.


Jovi seperti disengat listrik, kaki hingga sekujur tubuh perempuan itu, berdiri gemetaran. Rasanya, melangkahkan kaki saja, dirinya sudah tak sanggup. Beruntung lalu lalang pengunjung restoran, tidak begitu memperlihatkan Jovi dengan jelas.


"Pak Fictor? bagaimana ini? sekarang Pak Fictor sudah tau, selama ini dirinya, ku bohongi, ya Tuhan.. bunuh saja Jovi sekarang," ungkapnya membatin dalam hati.


Mungkin jika bisa keluar, detak jantung Jovi sudag menyembul keluar dari tadi. Semua gagal total ditengah jalan, Jovi memperkirakan, Fictor akan lebih jahanam menjalankan misi untuk Ernest.


Kaki Jovi mengajak ingin balik saja, biar Pak Rahmat ataupun Pak Yoyok yang memanggil Ernest. Namun, hati Jovi semakin tak betah, ketika memandangi Ernest sudah dengan tubuh lunglai serta pandangan kosong.


*******************


Waiters yang sudah bekerjasama dengan Meghan, datang ke meja pesanan nomor delapan. Ada Sandi dan Frans yang tidak menaruh curiga sama sekali. Minuman lemon tea dari tangan pegawai ditaruh meja tepat di depan Ernest.


Meghan tersenyum bermaksud jahat, dia langsung mengambil minuman didepan Ernest. Membisikkan terlebih dulu kata mesra, membayangkan akan memiliki malam yang indah penuh gelora.


"Ernest, aku sayang banget sama kamu, maafin aku, sudah pernah ninggalin kamu, jika waktu bisa diputar, aku ingin menghabiskan seluruh hidupku denganmu Ernest," Meghan berbisik ditelinga Ernest.


"Haaa.... kenapa kamu nggak datang Meghan? kamu jahat? kamu bukan orang yang aku cintai lagi," Ernest bergumam sesuka hati.


"Tidak, tidak, gue beneran sayang sama loe Ernest, gue cinta," ucap Meghan membangunkan badan Ernest.


"Cuuuuppp.....," suara bibir Meghan mengecup mesra bibir Ernest.


Tidak ada perlawanan dari Ernest, mata laki-laki tampan tersebut, membuka tutup efek lelah juga. Meghan mengambil lemon tea dari meja, memberi hampir setengah gelas ke Ernest.


"Kamu minum dulu ya sayang, habis ini, kita buat malam yang panjang," bisik Meghan pelan ke telinga Ernest.


"Loe suruh Ernest minum apalagi itu Meg? kasihan, dia udah kebanyakan minum," kata Sandi tidak suka.


"Apa sih? ini cuma lemon tea biasa, gue ngasih ini biar Ernest sadar, gue juga tau, kalau dari tadi dia udah mabuk berat," gerutu Meghan dengan kesal.


"Ya dia udah nggak sadar, masih loe paksa minum, makin nggak selesai nih acara," Sandi bergumam menyentil.


"Frans, kita udahin acaranya yuk, anak-anak udah pada mabuk, semua pada nggak sadar diri tuh," tunjuk Sandi didepan meja.


Ada Kiano, Gerald, Fictor, sudah tergeletak dimeja, dikursi, mengikuti arah kepala mereka. Tangannya sudah tidak ada yang menari lagi, sudah terkulai lemas disamping tubuh masing-masing.


Meghan juga semakin semangat, semua sudah sesuai. Setelah Ernest meminum obat perangsang, kebetulan juga Sandi sudah mengajak membubarkan diri.


"Oke men, loe coba bangunin Kiano sama Marcel, gue bangunin dulu Fictor, sama Gerald," Frans beranjak menyadarkan Fictor.


"Iya yuk, ayooo kita pulang, gue juga udah capek banget," imbuh Meghan membangunkan Ernest.


"Marcel yang paling parah Frans, dia nggak bangun bangun," Sandi kesal membangunkan Marcel.


"Sama nih, si Fictor juga kebanyakan minum, padahal tadi awalnya Fictor cuma minum dikit men," kata Frans mengambil gelas ditangan Gerald.


"Ya namanya cowok, lihat alkohol dikit pasti nggak bakal kuat, kayak lihat cewek," imbuh Meghan.


"Hahaha.. bisa aja loe," Frans tertawa.


Tiba-tiba Jovi datang menghampiri meja Ernest. Tak diduga kakinya benar-benar berani berjalan kesitu, tapi ditemani oleh Pak Rahmat.


"Permisi, saya mau mengajak Tuan Ernest pulang..!!," ucap Jovi mengambil perhatian.

__ADS_1


Sandi, Frans dan Meghan kompak menoleh kearah suara perempuan begitu asing, ditelinga mereka. Apalagi Meghan, sedikit kecewa oleh kedatangan suster Ernest tersebut.


"Siapa ya?," Frans berdiri disamping meja dekat Fictor.


"Saya Jovi, saya susternya Tuan Ernest, tuan sudah waktunya pulang, saya dan Pak Rahmat mau menjemput tuan," kata Jovi sopan pada Frans.


"Ouh begitu, iya nih, ini anak-anak sama gue juga udah rencana mau pulang," jawab Frans tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Maaf ya suster, pasti tadi sudah menunggu lama dirumah," imbuh Sandi yang tempatnya agak jauh dari Jovi.


"Tidak apa-apa tuan, Tuan Ernest juga bilang tadi kalau mau pulang telat," Jovi memanggil teman Ernest sebutan "tuan"


Meski pembawaan Jovi begitu tenang, matanya dari tadi melihat Fictor terkapar tak berdaya. Jovi bahkan tidak mendengar suara atasannya bergumam, atau hanya sekedar menyapa.


Jovi mengajak cepat Pak Rahmat, untuk mengambil Ernest keluar dari kursi. Kebetulan Meghan, masih memegangi lengan Ernest tak rela pulang.


Dari tadi yang Jovi takutkan, Fictor tersadar lalu memanggil Jovi. Perempuan cantik tersebut, juga membayangkan, Fictor mencekik dirinya hidup-hidup malam ini.


"Heh Jovi, kalau Ernest aja udah bilang dia bakalan pulang telat, kenapa loe yang repot-repot jemput dia kesini, anjing loe," kata kasar dari Meghan.


Jovi baru sadar, jika perempuan yang disamping Ernest dari tadi adalah Meghan. Mata indahnya melihat Meghan menggunakan dress biru tua, selesai meminumkan lagi lemon tea dari mulut Ernest.


"Meghan...," kata Jovi tak menyangka.


"Maaf Meg, tapi Tuan Ernest sudah waktunya pulang, beliau juga belum minum obat," jawab Jovi mencoba membantah.


"Emangnya ngaruh apa kalau telat minum obat cuma 1x aja, halah.. itu cuma alasan loe aja kan, loe mau ngambil Ernest dari gue kan," ucapan Meghan tapi bisa terkontrol.


"Heh Megh, maksud loe apa sih? susternya itu cuman mau ngajak pulang si Ernest, apa hubungannya sama ngambil Ernest dari loe?," Frans memandang Meghan aneh.


"Ya.. ya.. maksud gue kan, nanti loe suruh gue pulang sama si Ernest, kalau si Jovi jemput, gue nggak ada barengan pulang donk," alasan Meghan sadar emosinya tadi sedikit meluap.


"Kalau cuma masalah itu, ya loe habis ini persiapan juga ikut ke mobil toh nanti sopirnya Ernest juga tetep bakalan nganter," gerutu Sandi semakin kesal.


"Iya nona, nanti saya antarkan nona ke apartement seperti pesa den Frans tadi ke saya," imbuh Pak Rahmat.


"Nahhh kan..., gitu udah diduluin emosinya, ngatain suster Ernest yang nggak, nggak," Sandi kelihatannya menaruh kesal dalam pada Meghan.


"Sudah, sudah, mending loe bantuin Ernest, biar Pak Rahmat bawa Ernest ke mobil dulu," Frans menengahi.


Mendengar percakapan ditelinga Fictor, dengan sedikit samar, tidak jelas pada pendengarannya. Laki-laki berjambang tersebut, membangunkan diri, melihat remang Jovi berdiri disamping Frans.


Fictor memperjelas pandangannya. Sedikit pengaruh alkohol dari tubuh Fictor, melihat jelas jika memang Jovi disamping Frans dan sopir Ernest.


"Heh.. Jovi," panggil Fictor menunjuk Jovi.


"Hah?" Jovi tertegun, kepalanya menoleh ke Fictor.


Pak Rahmat yang baru pertama kali melihat Fictor, sama-sama kepalanya dan Jovi menoleh bareng kepada pria putih berjambang tersebut.


"Suster Jovi kenal?," tanya Pak Rahmat.


"Ng-nggak pak, saya nggak kenal," jawab Jovi sangat gagap.


"Ouh maaf-maaf, mungkin itu karena tadi, Ernest sedikit bercerita tentang susternya pak," Frans memberitahu.

__ADS_1


"Uwalahh.. hehehhe," Pak Rahmat tersenyum.


Tidak berselang lama, setelah Fictor menunjuk kearah Jovi. Sisa minuman alkohol, masih mempengaruhinya. Menjadikan Fictor tergelatak kembali.


Setelah itu, Pak Rahmat menggeser tubuh Meghan dan membantu Ernest beranjak dari kursi. Bau tubuh serta baju Ernest sudah penuh dengan campur alkohol yang diminum, entah habis berapa botol.


Meghan yang berdiri, ternyata pikirannya masih mencari cara untuk, bagaimana Ernest bisa menginap di apartement mantan sekertarisnya tersebut.


Restoran sudah mulai tutup, hanya bar yang masih aktif oleh para anak-anak muda. Dan DJ sudah mulai memainkan musiknya.


"Pak Rahmat, bawa Tuan Ernest ke mobil Pak Yoyok saja ya, biar nanti Pak Rahmat antar Meghan ke apartement, ini sudah malam pak," tutur Jovi.


"Iya baik suster, Tuan Ernest sudah bau alkohol dan tidak sadarkan diri," Pak Rahmat menyetujui.


"Loh gimana sih? kok gue malah nggak jadi pulang sama Ernest, tadi kan perjanjiannya gue pulang bareng sama Ernest," Meghan mulai emosi.


"Maaf non, malam ini, kebetulan ada mobil dua, ada Pak Yoyok yang tadi mengantar suster Jovi, jadi biar tidak sampai malam, saya antar pulang nona Meghan terlebih dulu, biar Tuan Ernest dan Jovi pulang kerumah," Pak Rahmat menjelaskan.


"Enggak enggak, gue nggak mau, gue mau pulang sama Ernest," Meghan bersikeras.


"Pokoknya gue harus dapetin goyangan Ernest, sekalipun itu didalam mobil," kata Meghan membatin dalam hati.


"Meghan, loe ini maunya apa sih? yang loe butuhin kan, bisa pulang sampai apartement sih? kenapa jadi loe ngotot banget," Sandi membentak Meghan.


"Ya nggak mau donk gue, kan perjanjiannya tadi, Pak Rahmat nganter gue bareng sama Ernest juga," alasan Meghan tak masuk akal.


"Terserah loe deh," kata Sandi kesal dengan tangan membangunkan Kiano.


"Meg, Meghan.. loe malam ini beneran kelewatan deh, kalau loe nggak mau dianter Pak Rahmat, udah pulang sama gue aja," Frans juga turut kesal.


Meghan hanya diam tidak membalas apapun jawaban dari Frans.


"Heh Jovi.. loe kurang ajar," kata Fictor tiba-tiba mengagetkan semuanya.


Diantara perdebatan pulangnya Ernest, justru Fictor kembali bergumam tak jelas mengatai Jovi, seolah sudah kenal. Frans dan Sandi hanya menggeleng kepala.


"Fictor, loe kalau belum sadar, mending diem deh," ucap Frans disamping Fictor.


"Gue tau, dia berengsek, bohongin gue," tunjuk Fictor berulang-ulang.


"Sok tau loe," sahut Frans heran dengan kelakuan Fictor.


Jika Frans menganggap ucapan Fictor, hanya omong belaka, tapi tidak dengan Sandi dan Meghan. Mereka berdua beranggapan, ada hal yang memang terjadi antara Jovi dan Fictor tapi mereka tidak tahu.


Sedangkan dari Jovi, perempuan cantik tersebut tak dapat bergumam apa-apa. Wajahnya terlihat panik, ketika Fictor sadar diantara mabuknya malam ini.


Jantungnya berdebar, saat Fictor mampu memanggil Jovi kembali. Kakinya ingin berlari, tetapi mematung tak bisa beranjak pergi. Sial memang.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya aden aden semua," pamit Pak Rahmat.


"Ayooo suster," ajak Pak Rahmat menyadarkan Jovi dari pandangannya ke Fictor.


"Ouh iya, permisi semuanya," kata Jovi meninggalakan restoran.


Pak Rahmat, Ernest dan Jovi meninggalkan restoran. Semua bergegas pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Meghan benar-benar dibuat meradang oleh kejadian malam ini.

__ADS_1


Dia tidak berhasil membawa Ernest kedalam pelukannya. Bahkan matanya masih tak tega melepaskan pandangan dari Ernest, keluar restoran di bantu Pak Rahmat sopirnya.


Akhirnya Meghan pulang dengan Frans, Gerald sudah setengah sadar mengajak Fictor pulang. Sementara Kiano dan Marcel diboyong semua oleh Sandi, ke dalam mobil sport milik Sandi, teman Dokter Edo tersebut.


__ADS_2