Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
89. Depresi Haqiqi


__ADS_3

"Iya, terima kasih kak."


"Jangan di panggil kak, panggil saja saya Sist Elea dan ini asisten saya Mbak Mega," Sist Elea tersenyum.


"Ouh baik."


"Kalau di sana, dua laki-laki pegawai saya namanya Ferry dan Hansel. Mereka anak buah eike cin." ucap Sist Elea.


Jovi di buat tidak bisa berkata-kata. Ruangan dengan ukuran luas tersebut berubah menjadi boutique gaun pernikahan, yang mana harga-harga gaun terbilang sangat fantastis.


Sembari jalan, gaun-gaun itu di amati Jovi dengan begitu menawan. Payet-payet dalam gaun serta beberapa bridal terlihat tampak anggun, meski belum di kenakan.


"Nona Jovi, mari ikut saya..!! kami di minta Tuan Toni untuk memilihkan gaun yang sesuai serta dengan tatanan rambutnya, oke..!!," ujar Sist Elea.


"Jadi jangan bosan-bosan ya Nona Jovi, kalau itu tulang nanti rada remuk seolah habis ikut cat walk di Jakarta," timpal pegawai banci Sist Elea.


"Eembeerrrrr," Hansel menambahi dan lantas tertawa.


Jovi hanya mengangguk.


Jovi kurang tau bagaimana berekspresi, rasanya seumur hidup Jovi lahir di dunia, perempuan tersebut benar-benar tidak pernah bermimpi menjadi cinderella.


Kedua bola mata Jovi seperti masih tidak percaya. Memandang satu persatu gaun, di mana nominal angka juga terbilang sangat fantastis.


Payet-payet di atas baju, terjahit rapi sesuai gambar designer. Beberapa dari gaunnya ada yang sesuai tinggi Jovi, ada yang melebihi tingginya, jadi semua di atur jadi satu.


KAMAR ERNEST.


Di bawah ruangan, Tuan Toni bersama Ernest tampak berunding sesuatu.


Pesta pertunangan di adakan sebentar lagi, namun beberapa kendala muncul termasuk luka baru pada kaki Ernest.


Setelah terdiam cukup lama, Tuan Toni terlihat mengutarakan keinginan. Kelopak mata yang sudah berkeriput itu, memandangi putranya.


"Ernest.., papa rasa apa tidak sebaiknya pesta pertunangan kamu dan Jovi, langsung di segerakan bersama dengan pesta pernikahan."


Ernest mengangkat dagu melihat papanya.


"Maksudnya pah?."


"Ernest, papa khawatir, apabila semakin kita mengulur waktu, semakin memberi jeda untuk pernikahan kamu, akan lebih banyak lagi masalah yang datang."


"Bukan apa-apa Ernest, papa kasihan melihat Suster Jovi," suara Tuan Toni lirih.


Kepala Ernest menunduk, fikirannya menelusuri lagi bagaimana kejamnya pemberitaan di luar sana.


Bagaimana, dulu Jovi berusaha memperjuangkan bahwa ia tidak salah di depan Ernest, semua terekam kembali. Tatapan kosong Ernest, membuat Tuan Toni paham.


"Ernest, berita di luar akhir-akhir ini sudah amat sangat meresahkan. Jovi adalah gadis yang pendiam, kamu tidak akan tahu bagaimana ia menyembunyikan kesedihannya, apa itu masih membuat kamu harus berfikir ulang lagi, untuk mempercepat pernikahan ini."


Ernest menganggap betul yang di utarakan papanya.


"Papa kurang suka, dengan cara yang kamu pilih bersama Suster Jovi untuk mengalihkan issue di luar, issue ini tidak akan tuntas meskipun Suster Jovi sudah menjadi pegawai rumah sakit lain, kamu camkan itu."


Tuan Toni sangat menitik berat pada kata-kata terakhirnya.


Ernest termenung.


"Ernest, papa yakin, masuknya Jovi ke dalam RS barunya. Aaa..papa lupa RS itu namanya apa? tapi jelas, di situ nantinya akan juga ada orang yang tidak suka kamu. Hal ini justru akan semakin di manfaatkan oleh semua pihak Ernest."


"Karena di situ sebetulnya sudah ada Dokter Nalen yang tidak suka Ernest pah."


Putra semata wayang Toni Wijaya tersebut membatin.


Bahasan pertunangan Ernest seolah menjadi topik perdebatan tak kalah panas, saat berada di ruang rapat. Belum lagi Jovi memiliki prinsip hidup sendiri untuk memutuskan masalah.


Hadirnya Jovi dari kalangan yang tidak setara, juga sebagai orang baru, menjadi dominan permasalahan cinta mereka.


"Baik, nanti Ernest akan bicarakan dengan papa Jovi langsung. Tolong papa jangan bicarakan ini pada Jovi pa, karena akan sangat susah mendapat persetujuan dari suster Jovi pa."


"Iya.. karena Jovi akan lebih mementingkan nama baik keluarga kita dari pada keadaan dia. Baik, papa tidak akan bilang Jovi."


"Terima kasih banyak pa." Ernest membuang nafas besar.


Melihat jam tangan, Tuan Toni pergi ke atas mencari Jovi. Ernest tidak tahu menahu perihal gallery wedding yang di persiapkan Tuan Toni di atas.


"Papa mau ke atas, apa kamu mau ikut Ernest? di sana akan ada bidadari yang cantik," senyum kecil menggoda.


Ernest menoleh pelan, ia mengernyitkan dahi.


"Bidadari? siapa pah? Suster Jovi kan?,"


"Iyaaa, tapi jadi bidadari setelah ini."


"Hahaha papah, suka bercanda saja."


"Lohh...," mata kanan Tuan Toni berkedip centil.


Karena penasaran, Ernest turut ikut pergi ke atas.


Dengan senang hati, Ernest menggunakan tongkar walker untuk berjalan. Di sana tidak ada yang spesial, ruang lantai dua tidak ada yang aneh.


Di kamar sebelah pintu ruang CCTV, dari dalam banyak cahaya seperti ada yang melakukan pemotretan. Ernest bingung, pekerjaan apa yang di lakukan Tuan Toni.


"Papa, ini papa tidak sedang melakukan pemotretan majalah kantor di rumah kita kan?."

__ADS_1


"Hahaha.. memangnya kantor kita masih kurang luas lagi, sampai harus ke rumah ini."


"Terusss...??," Ernest terhenti di depan pintu.


"Kreeeeekkkk..." pintu terbuka.


Ernest sangat terpana. Perempuan cantik selama ini di cintainya mengenakan gaun putih panjang, dengan rambut panjang di ceprol, sudah tidak mengedipkan mata Ernest.


Tuan Toni di samping Ernest turut senyum. Jovi benar-benar sangat cantik, senyum sendu khas wajah kakak Aqila itu saling beradu tatap.


Jovi memandang ke Ernest, lalu pergi memandang papa mertua. Jalan kakinya cepat, bibirnya menggerai senyum, namun hati tidak bisa tergambar.


"Tuan...," Jovi berlari menghampiri Ernest.


Ernest langsung senyum bahagia.


"Tuan," Jovi memeluk.


Ernest tertegun, matanya melirik ke Jovi.


"Tuan, ini sangat lebih dari cukup, harusnya tidak perlu seperti ini, terima kasih banyak tuan," senyum manis Jovi memeluk.


"Sama-sama," ujar Tuan Toni.


"Loh.. kok papa..!! Sayang, aku di sini," tangan Ernest menunjuk tubuh.


"Iya kan, maksudnya tuan besar," Jovi bingung.


"Hahahaha.. Suster Jovi memang mau meluk papa Nest, gimana sih kamu," Tuan Toni mengangguk ke Jovi.


"Jadi gitu ya..!! jadi emang sengaja sayang papa aja, nggak sayang sama tunangannya." Ernest menarik Jovi ke pelukannya.


"Mentang-mentang papa yang ngasih kejutan ini, jadi lupa sama aku, iya??? hiihhh..," Ernest menurunkan hidung ke telinga serta rambut Jovi.


"Bukan, bukan begitu tuan," Jovi kegelian.


"Tuan," Jovi tertawa, saat Ernest menggesek hidung ke leher jenjang dia.


Para pegawai yang tergabung di Ellen's Gallery baper sendiri melihat ke uwu'an pasangan calon pengantin tersebut.


"Cup..,"


"*Cup,"


"Cup," Ernest mencium berulang pipi kanan kiri Jovi.


"Emuuach," bibi Jovi di kecup cepat. sehingga Jovi terlambat melakukan perlawanan*.


Mata Jovi terbelalak, ingin marah, Ernest justru memasang muka cengengesan. Jovi lantas menggeser tubuhnya, sembunyi di pundak Ernest manja.


"Anjiiirrr.. mana gue jomblo mak," timpal pegawai perempuan satunya.


Tuan Toni ikut salah tingkah sendiri, melihat putranya begitu.


"Parah, parah, parah, Sist Elea nanti pas pernikahan, Suster Jovi jangan di make up cantik-cantik ya..??," Tuan Toni geleng-geleng.


"Wah.. kenapa tuan?," semua bertanya.


"Ya itu, takut sebelahnya Jovi, resepsi belum kelar nanti udah nggak kuat nahan."


Ernest tertawa.


Jovi malah semakin malu.


"Hahaha.. ciiaaaaa," semua menyorak seru.


"Nggak papa, kan biar rumah cepat ramai," Ernest percaya diri.


Semua rombongan pegawai boutique tertawa. Sikap polos Jovi dan semua tuan-tuan mematahkan issue di luar yang di dengar para pegawai.


Di mana kehadiran Jovi sangat tidak di inginkan, Jovi hanya seorang parasit, Ernest Wijaya kecewa pada susternya, pemberitaan itu sangat salah besar.


Berselang sebentar, Jovi dan Ernest melakukan fitting baju pernikahan. Semua berjalan lancar, meski Ernest harus menggunakan lagi gips dan tongkat walker.


*******************


KANTOR SEMESTA GRUP.


Fictor selesai dari toilet. Wajahnya senyam senyum tanpa sebab jelas. Kebiasaan laki-laki tersebut tidak pernah di tanggapi lebih oleh pegawainya, kecuali Ola.


Ola melirik, dahinya di kernyitkan. Bibir mungil sahabat Jovi tersebut komat kamit tapi tak bersuara. Pria kekar berjambang itu, masuk ke ruangan.


Fictor mundur lagi dari jalan.


"Ola, loe tau nggak?."


Ola mendongak, ia melihat Fictor yang memang lebih tinggi darinya.


"Apa?."


"Kalau loe itu kurang senyum, makanya jomblo terus hahaha," tawa Fictor sedikit membuatnya tampan.


"Lihat nih, kayak gue, tertawa. Musem aja muka loe kayak cucian kering."


"Eeeee.. awas aja ya loe, kalau nanti gue dapat pacar Dokter, gue bakal iming-iming'in ke loe ya. Sana ah, males gue sama loe."

__ADS_1


"Idih... Dokter. Ya cocok sih, buat nge Dokterin jiwa loe yang udah nggak bener itu hahaha."


"Sana..!! masuk tuh ke ruangan loe, tumben banget sih loe ngajak ngomong gue, jadi bikin emosi tauk," Ola melanjutkan pekerjaannya.


Sahabat Jovi itu membiarkan Fictor bicara ngalor ngidul sesuka hati. Jass biru di kenakan Fictor masih berlarian di depan wajah Ola, pasalnya Fictor belum pergi.


"Eh, Ola, loe itu harusnya berguru tuh sama si jongoss'nya keluarga Wijaya, enak kan, bisa ngerubah hidup loe dari yang kismin nanti jadi kaya raya."


Ola memicingkan matanya. Kata-kata Fictor selalu sukses membuat hati Ola sakit.


"Mending loe itu masuk, sana..!! siapa sih yang loe maksud? Jovi? kalau Jovi sih dia bidadarinya Wijaya Grup, bidadarinya Ernest Wijayaaaa..."


"Lhah loe nyusul aja jadi kacungnya Wijaya Grup, kan temen loe udah di sana..!! ngapain loe masih di kantor sini? jangan-jangan loe cinta ya sama gue?."


"Fictor, sana deh, loe itu masuk aja."


"Heh.. siapa loe? gue yang punya kantor ini," Fictor langsung melotot.


"Braaakkkkkkk....," meja di gebrak.


Ola sekarang yang takut, nyalinya sekejap langsung menciut. Ola tidak berani menatap mata Fictor.


Sifat itulah sampai sekarang membuat Fictor menjomblo. Selain kejam, atasan Semesta Grup tersebut juga dingin dan keras.


"Bidadari Wijaya yang loe banggain itu, habis ini bakalan jadi bidadari kesleo.. Jangan sombong dulu loe,"


Fictor lalu masuk ruangan.


Ola menghembuskan nafas lega.


"Huuh... Ya ampun, jantung. Untung loe nggak lari keluar, meski rasanya mau protol."


Sikap Fictor selalu tidak bisa di prediksi. Semua yang berawal bercanda, dengan Fictor pun berubah menjadi bencana. Laki-laki tempramental yang penuh misteri.


Ola yang terdiam di atas meja, memikirkan sesuatu.


"Bener juga ya yang di katakan Fictor, kenapa gue nggak ikut Jovi aja ke Wijaya Grup, kenapa gue masih nemenin si Fictor di sini??," Ola melamun.


"Fictor kan jahat, tapi kenapa gue nggak pernah ada niatan pergi dari kantor ini ya..?? Aaaaa.. apa gue? haduuhh nggak, nggak. Emang gue di sini udah cinta pekerjaan gue, ya kan Ola? ya ya dong, mau apa lagi."


Ola menjawab jawab sendiri pertanyaannya.


Ruang Direktur Utama Semesta Grup


Lelah dengan sikap Ola, Fictor membuka laptop. Ia berharap, dunia maya memberikan kabar yang lebih baik dan semakin lebih baik.


Beberapa hari ini, putra sulung Bapak Purwo itu sangat bahagia Jovi menjadi bualan sana sini.


Apalagi setelah Fictor menyisip opini baru, Jovi sebagai penggelap dana perusahaan, semua semakin panas di perbincangkan.


"Hahaaha.. publik sudah tidak percaya lagi dengan loe Jov, sebentar lagi waktunya antek-antek Wijaya itu membuang loe, pelan, pelan, dan sekarat loe Jov."


Fictor tertawa, gosip Jovi masih panas di perbincangkan.


"Pus.. mpus, mampuuus loe Jovi, Jovi. Kalau loe berani keluar dari kandang singa, di luar sana banyak buaya menanti loe," Fictor mengangkat bibir kanan.


"Tringgg.. tingg.. tingg..."


Pak Hakam EX LURRY.


"Ada apa? si Hakam telpon." bola mata Fictor memutar.


"Hallo Hakam, ada apa?."


"Selamat siang Pak Fictor, maaf pak menganggu ketenangan bapak. Kami ada masalah pak, perusahaan Persada Wijaya mendapatkan tender besar dari perusahaan yang di rahasiakan."


"Apa iya? perusahaan apa? nggak mungkin donk, mana ada orang yang mau ngajak kerjasama perusahaan collaps seperti itu, nggak mungkin."


"Iya pak sungguh, dan kami dengar PT. Persada Jaya akan mengajukan gugatan ke pengadilan menuntut perusahaan kita pak," suara manager terdengar gemetar.


"Brengsseeeeekkkk.. kenapa kita bisa sampai kelolosan seperti ini? PT mana yang mengajukan tander ke perusahaan itu. Loe tau nggak, kondisi Semesta Grup juga sedang pailit. njink."


Fictor memangku kepala dengan tangan kiri. Seketika pikiran langsung kacau.


"Maaf pak, maaf. Kami sendiri tidak tau, PT mana yang mengangkat tander proyek sebesar itu dari PT.nya papa mbak Jovi pak."


"Oke baik. Jangan sampai mereka tau bahwa PT. Ex Lurry adalah anak cabang Semesta Grup arrgggghhhh..." Fictor mengacak rambut.


"Tut.." telepon di matikan Fictor.


Yang di lakukan Fictor akan sangat tidak mungkin. Pasalnya tatanan organisasi perusahaan tidak akan semudah itu di ubah.


Tak berselang lama, laptop di atas meja masih menyala. Menggeser timeline terbaru, dengan berita


"HOT NEWS : HARI PERNIKAHAN ERNEST WIJAYA DAN JOVI ANDRIANITA SUDAH DI SEBAR"


Bola mata besar Fictor terbelalak.


"Judul macam apalagi ini, brengsekk.." bibir Fictor mengumpat berkali-kali.


Time line terhangat siang itu, sudah sukses dibaca 128000 kali padahal baru hitungan jam.


"Brakkkk....," laptop apple series terbaru jatuh di buang Fictor.


"Kenapa semua justru di luar dugaan, anjirrr.."

__ADS_1


Wajah Fictor sudah memerah panas. Semua yang di perkirakan Fictor meleset jauh. Dia tampak mencoba tenang, hanya gelisah lebih mendominan wajah berjambang laki-laki tersebut.


__ADS_2