Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
29. Sama Sama Canggung


__ADS_3

Paginya setelah kejadian tadi malam, Ernest sudah bangun lebih dulu. Meski Jovi belum memasuki kamar, dirinya sudah mulai bersiap untuk mandi.


Tubuhnya masih sama, bertelanjang dada, dengan celana yang sama, saat Ernest berangkat ke reuni. Dia pergi mandi sendiri, mengisi air di bathup serta dengan tambahan sabun.


Tidak biasanya, Ernest lebih mandiri dan tidak memanggil susternya. Ponsel putih apple miliknya, juga dibawa untuk mandi. Ada yang ingin ditelusuri oleh Ernest.


Tinggi tubuhnya perlahan, dituntun sendiri berjalan ke kamar mandi. Dengan sisa satu luka, dibagian tumit yang masih di gips. Tidak membuat Ernest begitu kesusahan.


"Took.. took... tok.. tok.."


"Tuaan Ernest...," panggil Jovi dari luar mengagetkan dirinya.


"Yaa..," Ernest sengaja tidak membuka kamar.


"Tuan waktunya mandi tuan, nanti kesiangan ke kantor," Jovi mencoba mengingatkan dari luar.


"Saya sudah mandi suster, saya ganti baju, suster siapkan sarapan saja," pinta Ernest membohongi.


"Baik kalau begitu tuan, nanti kalau tuan sedikit kesusahan panggil saya ya tuan," Jovi masih mencemasi dari luar pintu.


"Iyaaaa...," suara Ernest membesar.


"Tapi benar ya? Tuan Ernest tidak papa kalau mandi sendiri?," ucapnya memastikan lagi.


"Iyaaaa..," Ernest berharap Jovi segera pergi.


"Benar ya tuan? tuan tidak kesusahan ya?," ulang Jovi tidak terima.


"Iyyaaaaaa....," teriak Ernest kesal.


Ketika sudah tidak lagi ada suara perempuan tersebut, Ernest sudah bernafas lega lagi. Tadi malam, dirinya masih dibuat bertanya, apa yang dilakukan terhadap Jovi, sehingga membuatnya ketakutan.


Di dalam bathup yang sudah disiapkan sendiri oleh Ernest, tubuhnya masuk. Kaki kanan putra Tuan Toni tersebut, sengaja dibiarkan menggantung, tidak dimasukkan ke dalam bath up.


Tangan Ernest menikmati rendamannya dipagi hari, dia merasa terlalu menambahkan banyak parfum dan sabun, tubuhnya hampir semua dilumuri busa-busa melimpah.


Ernest mengecek, CCTV pribadi yang ada didalam kamarnya. Dimana CCTV tersebut, langsung terhubung dengan ponsel miliknya. Beda dengan CCTV lain dirumah, yang langsung dihubungkan ke PC ruang pribadi Tuan Toni.


Ernest mengecek CCTV, dalam rekaman CCTV tersebut, mulai dari Jovi membawa ia baru datang, hingga sampai Jovi menjatuhkan Ernest di atas ranjang. Semua benar-benar diulang pada video tersebut.


Sekilas, Ernest sudah bernafas lega, ternyata tidak ada hal-hal yang menakutkan dari dia pada suster Jovi. Punggungnya sudah merebah di bathup dengan lebih rilex dan santai. Masih dengan menonton rekaman CCTV.


Selanjutnya, mata Ernest di perlihatkan baiknya Jovi mengecek kakinya. Laki-laki tampan itu, senyum- senyum sendiri. Mata Ernest kembali terbelalak, ketika dirinya berani menjatuhkan tubuh Jovi diatas kasur.


"Anjjiir.. Ernest, yang loe pikirin apa sih? kenapa malah nyasar ke suster Jovi," gumamnya sendiri.


Matanya masih tertegun, melihat Jovi diterkam tak berdaya diatas ranjang. Dari penolak Jovi, semua tergambar jelas dalam video rekaman CCTV. Ernest malu setengah mati, melihat videonya sendiri.


Ternyata yang dilakukan Ernest tadi malam, betul-betul sangat parah. Penyesalan mendera, tapi semua sudah jadi bubur. Itupun juga bukan kehendak Ernest sendiri.


"Suster Jovi, dia begitu cantik, anggun, perempuan yang penurut, semua laki-laki akan sangat bahagia, jika bisa menjadikan dia istri," Ernest membatin dalam hati.


Senyum Ernest tergambar lagi, saat mengingat rekaman CCTV, dimana Jovi ingin mencoba bangkit, tetapi tak bisa. Dosa apa yang dibuat Ernest tadi malam.


Tapi tiba-tiba wajahnya muram, saat Ernest mengingat kembali, di rekaman CCTV, tangannya menyusup ke dalam baju Jovi. Hal yang sangat begitu memalukan sekali.


"Ernest, bodoh bodoh bodoh," gerutunya membatin lagi.


Rasa kesal bercampur malu, semua tumbuh didalam hatinya. Ernest semakin tidak tau, sikap akan yang akan diberikan, saat dirinya bertemu dengan Jovi.


Putra Tuan Toni tersebut, segera bergegas keluar kamar mandi, mengganti pakaian, dengan setelah jass warna putih dan celana yang senada. Semua sangat membuat Ernest, terlihat tampan.


Dasi abu-abu, kemeja hitam, semua dipadukan dengan jass putih. Kebahagiaan Ernest bisa mengenakan baju sendiri, selain bisa menghindari Jovi, tangan kanannya sudah terlihat sembuh.


Ernest keluar membuka pintu, Jovi sudah bersiap didepan ruang kamarnya. Mereka sama-sama berpandangan, tetapi tidak ada yang mengawali untuk bertanya.


"A-aa-a...," Jovi memulai.


"Eemb...," Ernest juga menanyakan sesuatu.


Keduanya menjadi salah tingkah.


"Kamu duluan saja suster."


"Tidak tuan, tuan dulu saja."


"Kamu saja."


"Tuan saja."


"Kamu Jovi," Ernest menatap tajam.


"Kamu Ernest," Jovi juga menirukan gaya yang sama seperti Ernest.


"Gitu ya sekarang," tunjuk Ernest senyum tersipu malu.

__ADS_1


Ernest sedikit menyesal, Jovi menggunakan kesempatan ini, sesuai dengan apa yang diajarkan Ernest beberapa waktu lalu. Mereka justru sama sama tidak enak.


"Baiklah baiklah," dia terlihat mengalah dari susternya.


"Sekarang saya mau tanya, apa yang mau kamu tanyakan?," kata Ernest.


Peribahasa senjata makan tuan, kelihatannya patut diberikan pada Jovi. Kali ini, perempuan cantik, kakak Aqila dibuat Ernest mati kutu. Terlihat Ernest senyum berhasil.


"Emb.. itu tuan, emb.. tuan mau sarapan di kantor atau dirumah?," Jovi menawarkan.


Tangan Ernest melihat jam tangan, sudah pukul 07.10 WIB.


"Sudah siang ternyata, sarapan di kantor saja suster," ajaknya.


"Baik tuan kalau begitu."


"Iya silahkan," Ernest memberi tahu Jovi untuk berjalan lebih dulu.


"Terimakasih tuan," Jovi merasa tidak enak.


Suasana menjadi canggung kembali, mereka berdua berjalan keluar rumah. Tidak adanya Tuan Toni hari ini, sedikit membebaskan gerak Jovi.


Perempuan cantik tersebut, menggunakan rok putih mengembang dibawah lutut, dipadukan baju hijau tosca bermotif bunga, sangat terlihat cantik. Rambutnya dibiarkan terurai, poni sampingnya, dijepit ke belakang.


Di luar mobil sudah disiapkan Pak Rahmat, mereka berdua seperti biasa berangkat naik mobil honda civic keluaran terbaru. salah satu mobil mewah lain milik Ernest.


Hal yang sudah sering terjadi, kemacetan tidak bisa terelakkan, pada pagi saat jam kantor segera dimulai. Di dalam mobil Ernest dan Jovi sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Ouh ya suster, nanti sore kita ke rumah sakit sebentar ya? saya membutuhkan tongkat kecil, biar kaki saya tidak sakit, kalau terlalu lama digunakan jalan," ajak Ernest nanti sore.


"Tuan Ernest apa sudah tidak menggunakan kursi roda?," tanya Jovi.


"Tidak usah, kemarin buktinya saya tidak papa kan, jalan tanpa bantuan alat apapun," Ernest merasa lukanya lebih baik.


"Baik kalau begitu tuan, retak ditulang kaki tuan, tadi malam saya cek, memang tidak begitu ada keretakan yang hebat seperti tangan tuan," tutur Jovi.


"Ouh iya, masalah tadi malam..," jawaban Ernest terhenti sendiri.


"Ahh, kenapa tuan?," Jovi juga setengah mati malu, jika Ernest ingat semuanya.


"Sudah sudah, tidak, lupakan saja suster," Ernest menyudahi.


"Iya tuan," ucapnya lega.


"Bagaimana tuan?," pura-puranya bodoh.


"Tidak jadi, tidak jadi, lain waktu saja," Ernest mengalihkan pandangan pada ponsel.


"Baik," jawab Jovi mengangguk.


Jovi hanya berharap untuk tidak membahas kejadian memalukan tadi malam. Kadang di fikiran Jovi, dia tidak habis fikir, bisa-bisanya kejadian tadi malam sedikit membuat dia terlena.


Perempuan cantik tersebut, memandang Ernest dari samping, tampan dengan balutan jass yang dipilihnya sendiri. Jovi kembali mulai takut, Fictor belum menghubunginya sama sekali hari ini.


Dari kejadian tadi malam, reuni kampus yang dilakukan Ernest, sangat memukul hati perempuan tersebut. Wajahnya kebingungan dan sedih, bagaimana sekarang Fictor tau, selama ini Jovi membohongi.


Jovi merasa ingin segera menyudahi penyamaran yang dilakukan. Menunggu beberapa minggu, agar tulang kaki Ernest sembuh. Dirinya berharap, Ernest maupun Tuan Toni tidak memperpanjang lama kerja'nya.


Sedikit banyak, Jovi sudah mengetahui karakteristik Ernest. Mungkin jika memberi tahu lebih dulu padanya, semua mungkin menyakitkan, tapi tidak seberapa. Jika dibanding Fictor yang memberi tahu Ernest.


Apa yang dibicarakan oleh Ernest beberapa waktu lalu, masih tertanam di fikiran wanita cantik itu.


"Akan lebih bahagia masuk penjara setelah mengeluarkan pendapat, daripada pendapat kita yang dipenjara."


Jovi kembali gelisah, berdiskusi dengan hatinya. Jika dirinya masuk penjara, dia akan memiliki catatan kriminal, semua pasti akan membuat terpukul kedua orang tua'nya.


"Ya Tuhan, beri aku petunjuk, aku harus bagaimana?? rasanya aku sudah tak kuat Tuhan. Pak Fictor sudah tau, aku berbohong kepadanya selama ini," batin Jovi matanya menatap keluar jendela.


Hari ini, sebelum matahari mengangkat tinggi dari timur. Semangatnya sudah hilang, matanya hanya berkaca kesedihan. Jovi melihati ponsel, mengatakan Fictor akan menghubunginya.


Mobil yang dikemudikan Pak Rahmat melaju dengan kencang. Mengikuti instruksi dari Ernest, meminta agar segera sampai di kantor tepat waktu.


Meski jabatannya sebagai direktur utama pada perusahaan Toni Wijaya tersebut. Putra Tuan Toni itu, tidak serta merta membuatnya berangkat asal-asalan ke kantor.


Ernest benar-benar disiplin, dia memposisikan dirinya tetap seperti karyawan, yang taat akan aturan perusahaan. Meskipun dia sendiri adalah pemiliknya.


"Sedikit cepat pak, sudah hampir jam 8,"


"Baik Tuan Ernest," Pak Rahmat tidak berani membantah.


"Kalau ada celah, dan waktunya cukup buat menyalip, salip saja lah pak," Ernest tidak serantan.


"Iya tuan."


Pak Rahmat mengeluarkan kelihaiannya dalam mengendarai mobil. Yang digunakan hanya dalam waktu-waktu mepet saja. Benar saja, laju mobil langsung menunjukkan angka 120km keatas.

__ADS_1


"Wuuuuuuussss....," mobil melaju sangat kencang.


Deretan mobil pribadi di haruskan mundur satu persatu, setelah mobil putih honda civic milik Ernest, selalu berhasil mengambil alih.


"Ciiiiitttttt......"


Pak Rahmat menge-rem mobil secara mendadak.


"Bruuuuukkkkkk..."


Beruntung bukan mobil yang menabrak seseorang. Tetapi tubuh Jovi yang terpental diatas tubuh Ernest kembali. Sebab laju mobil sedikit miring karena menyalip mobil di sampingnya.


Pak Rahmat juga ikut sedikit tersungkur ke arah depan setir mobil. Sedangkan Ernest syock memandang Jovi, kembali menumpukkan diri diatas tubuhnya.


Mata keduanya saling berpandangan, Jovi ingat kembali, bagaimana malam itu, Ernest melakukan semuanya pada Jovi. Apalagi hal geli saat tangan-tangan Ernest menyusup.


"Waaaaaaa.........," teriak Jovi sekencang mungkin.


"Suster, ada apa suster?," spontan Pak Rahmat menengok ke belakang.


"Aaahhh... e-e-enggak pak," Jovi membangunkan diri, menjauhkan tubuhnya dari Ernest.


"Itu tuan muda suster, bukan hantu,"


"Iya pak, saya juga tahu, maaf pak, sudah mengagetkan."


"Memangnya suster, ada apa dengan tuan muda?"


"Nggak ada apa-apa pak rahmat."


"Kok sampai histeris suster? suster takut? takut kenapa sus?"


Jovi hanya diam tidak menjawab pertanyaan sopir kesayangan Tuan Toni tersebut. Tidak mungkin dirinya memberi tahu semua yang terjadi.


Sedangkan Ernest hanya tertegun, belum bangun dari tubuh, yang sudah di tabrak oleh Jovi. Dirinya dibuat malu setengah mati, Jovi berteriak tidak sopan.


Kemudian Ernest membangunkan diri, menggaruk rambut, yang sama sekali tidak gatal. Memperbaiki posisi duduknya kembali, menjawab pertanyaan Pak Rahmat.


"Takut jatuh cinta sama saya mungkin pak," jawab Ernest sembari merapikan jass putih.


"Hahahaha, bisa saja tuan ini..," tawa Pak Rahmat terdengar.


"Baru kali ini kan pak, ada orang histeris lihat wajah saya, biasanya semua terkesima," celoteh Ernest menyindir.


"Hehehe, suster teriak, mungkin saking terkesima'nya dengan anda tuan haha," ternyata Pak Rahmat pandai bercanda.


"Ya sus, kamu terkesima?," tanya Ernest mencoba menggodai.


Sialnya Jovi hanya menggelengkan kepala.


Jovi tidak menanggapi lagi, dia terdiam saja. Sikapnya terlihat masih begitu canggung, dan tidak tertarik dengan bercanda basi Ernest.


Laki-laki tampan, CEO muda tersebut, merasa baru kali ini, bercandanya diasingkan. Jovi adalah perempuan yang susah ditarik perhatiannya. Sikap tersebut tidak pernah didapatkan Ernest dari perempuan manapun.


Berkali Ernest hanya memandang tak percaya, bisa-bisanya dia tidak dihiraukan oleh susternya itu. Perasaannya tiba-tiba kesal dan tidak terima, bagaimanapun dia harus perhatian Jovi.


"Cantik juga nggak seberapa? jual mahalnya kayak anaknya raja," gerutunya dalam hati.


"Jovi... lihat nanti, suatu saat kamu bakalan jatuh cinta sama gue, ngemis-ngemis perhatian, sekalipun kayak Meghan gue nggak bakalan ngurus,"


PLAAKK...!!


"Kenapa jadi Jovi?," gumamnya dihati.


Suara Ernest menggampar pipinya dengan tangan kiri. Kelihatannya dirinya terlihat kesal, karena fikirannya ngelantur, tidak bisa dikondisikan.


"Tuan, tuan kenapa?," seketika Jovi langsung terkejut.


"Iya tuan, tuan kenapa?," Pak Rahmat juga tak kalah terkejut.


"Hah, nggak papa, tadi cuma nyamuk," Ernest bingung menaruh sikap.


"Nyamuk, aides aighepty apa tidak tuan? nanti saya bisa kena marah Tuan Toni," jawab susternya ketakutan.


"Haduuh iya tuan, saya juga minta maaf tuan, padahal mobil tadi sebelum berangkat, juga sudah saya bersihkan, saya semprot parfum, besok saya semprot baygon tuan," supirnya tak kalah panik.


"Pak Rahmat, kenapa nggak disemprot dulu pak, baru diberi parfum," kata Jovi.


"Haduuuh suster, maaf, biasanya juga nggak pernah ada nyamuk," jawab polos sopir mobil Ernest.


"Apa kita ke rumah sakit sebentar?," ajak Pak Rahmat.


"Sudaah sudaaah, kalian ini apa apa'an sih? saya tidak kenapa napa," jawab Ernest kesal melihat kelakuan Jovi dan Pak Rahmat.


Ada-ada saja kejadian di pagi hari, menuju perjalanan ke kantor Ernest. Semua sedikit menyembunyikan tawa Ernest, melihat panik suster dan sopir pribadinya pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2