Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
86. Menahan Hati


__ADS_3

Jovi berhenti di depan ruangan sepi. Entah ruang apa, ia tidak memperhatikan. Kursi panjang penunggu pasien, Jovi duduk di situ, tetapi Ernest memilih berdiri.


Tinggi tubuh Ernest berdiri di samping Jovi. Ernest tidak mau memulai pembicaraan, perasaan dan tangannya ingin menghujam bibir laknat Dokter Nalen.


"Tuan, saya tau tuan sudah lama cemburu dengan Dokter Nalen. Tetapi tuan, apa iya ketika Dokter Nalen tetap menyapa tuan dengan sopan, Tuan bersikap kurang menghargai Dokter Nalen."


Jovi menatap punggung besar Ernest yang sedang membelakangi Jovi. Ernest tidak membalas ucapan Jovi, tetap diam mematung.


"Tuan, saya begini itu berarti bukan saya membela Dokter Nalen. Saya hanya mau Tuan Ernest dan Dokter Nalen minimal bisa saling menghargai."


Ucapan Jovi yang ke dua ini juga di biarkan.


"Tuan...," panggil Jovi pelan.


"Ada lagi yang mau Suster katakan? ayoo.. lanjut."


Jovi memandang takut. Nada Ernest tenang tapi cukup mengangkat rasa takut di hati Jovi.


"Tidak, tidak ada tuan."


Ernest memalingkan wajahnya. Sekarang Ernest baru duduk di samping Jovi, meski dengan pandangan mata lurus ke depan.


"Saya mau tanya, seingat Suster Jovi, sejak kapan saya tidak menghargai orang lain? pernah kah?. Bahkan Fictor, yang jelas-jelas menaruh dendam kepada saya, saya tetap berusaha memanusiakan dia."


Jovi tersentil kata-kata sederhana mulut Ernest.


Perempuan cantik tersebut memandangi punggung laki-laki itu.


"Di mana letak saya tidak menghargai Dokter Nalen? Ya karena kamu tidak tau, kasarnya Dokter kebanggaan kamu itu menarik kerah baju saya. Dari dulu saya selalu mengatakan, di dunia ini saya benci dengan kebohongan, sudah hanya itu."


Kata-kata Ernest terucap. Jovi dapat mengambil kesimpulan, secara tidak langsung Ernest ingin mengatakan bahwa Dokter Nalen berbohong.


Jovi beranjak.


Tangannya menggengam lengan Ernest. Usapan jemari Jovi perlahan menyentuh bulu-bulu halus. Ernest sangat sakit hati.


"Selama ini saya tidak pernah membanggakan laki-laki manapun. Sungguh, saya tidak pernah. Saya menyimpannya dalam hati, terlebih hanya hati saya yang tau, cukup tuan saja yang saya banggakan."


Ernest terdiam. Jovi menatap secara lembut. Pelan namun pasti, kepala itu menoleh mencari Jovi.


Sorot mata Jovi mengharap cemas. Jika hati bisa bicara, perasaan lembut Jovi mengatakan, ia sangat mencintai Ernest.


Ernest mengusap pipi Jovi. Jemari Ernest menurun ikut membubuhkan diatas tangan Jovi.


"Baik, saya percaya kamu. Sudah waktunya masuk test, kamu harus masuk sayang. Semangat..!!," Ernest tersenyum manis.


"Baik Nessa," mata Jovi terkedip memberi isyarat.


"Nessa? apa itu?,"


"Nessa itu, Ernest sayang," Jovi terkekeh.


"Ha..?? kok aneh sih? tapi nggak papa, asal jangan tossa aja."


"Hahahaha.. tuan, jangan begitu," Jovi menampar pura-pura pipi Ernest.


"Iya kan Jossa..!! Jovi sayang, begitu kan ya? bener nggak sih?," Ernest ikut-ikutan mencari panggilan kesayangan.


"Jossa?? kikikikik," Jovi menahan tawa.


"Ya.. ya.. nggak papa," imbuhnya meng"iya"kan.


"Tunggu deh suster," Ernest tersenyum.


"Apa?," Jovi melirik.


"Sadar nggak kalau kita ini Jones?."


Jovi kesal. Ia dan Ernest berpacaran kenapa di anggap jones.


"Dari mananya jones..? jangan karena tuan cemburu terus mengatas namakan jomblo ngenes ya?," Jovi menuding Ernest.


"Kita pasangan, baru bahas tunangan, ada acara ngenes-ngenesan (miris-mirisan)."


Ernest memutar bola mata.


"Hey, hey, bukan. Bukan begitu sayang. Jones itu singkatan dari nama kita Jovi Ernest. Siapa yang ngarang sampe ke jomblo-jomblo," Ernest tertawa.


"Hahahahaha"


Di luar koridor sepi lorong rumah sakit, Jovi dan Ernest mengulum senyum. Dokter Nalen dari ruangan lain, memandang sakit hati.


Jalan kaki Dokter Nalen segera menghampiri Jovi. Ia lari cepat seolah ttergesa-gesa.


"Jovi, test udah mau di mulai. Pelamar yang lain sudah masuk semua, tinggal kamu."


Jovi menoleh.


"Aaaaa.. iya baik Dokter Nalen. Mmbb.. Nessa di sini dulu ya..!! aku mau pergi dulu," Jovi menaikkan alis.


Ernest mengangguk. Tangan Jovi melambai pergi. Dokter Nalen langsung menyuguhkan punggung pergi dari depan Ernest.


Tidak berhenti, Ernest mengikuti Jovi dan Dokter Nalen dari belakang. Berkali tangan Jovi sempat di raih Dokter Nalen, ia selalu menepis.


Satu bolpoint hitam mengait di jas putih Dokter Nalen juga ditawarkan, sayang Jovi tidak membutuhkan itu.

__ADS_1


Dokter Nalen menunjukkan tempat test. Jovi memberi senyum, masuk bersama teman pelamar lain.


Dokter Nalen juga terlihat ikut masuk ke dalam ruangan, menunggu Jovi berdiri di depan daun pintu.


Rekan se jawat Dokter Nalen senyum pada Jovi. Tampaknya Dokter Nalen sudah sering membahas Jovi di tempat rumah sakit ia praktik. Sehingga, datangnya Jovi ke rumah sakit menjadi perhatian tersendiri.


"Len, itu? calon loe," tanya Andre.


Dokter Nalen bilang iya.


Para staff RS. Intan Medika menyiapkan lembar test. Jovi yang mengambil tempat duduk, dapat pertanyaan seseorang.


"Jovi ya..??," tanya perempuan berseragam RS. Intan Medika.


Jovi terkejut, ia mengangguk kepala.


"Ini yang calonnya Dokter Nalen?," bisik staff di samping berseragam sama. Lalu perempuan yang menanyai Jovi mengangguk.


"Krasan-krasan ya di sini, kan kerja sama calon suami sendiri," tiba-tiba goda laki-laki tak lain Andre.


"Aaa.. eng-gak." Jovi melihat Dokter Nalen.


"Eh, eh, Andre..!! awasss ya macem-macem," Dokter Nalen tertawa sembari mengepalkan tangan.


"Dokter, itu wajah nggak perlu merah kayak jambu air dong, malu sama pelamar hahaha," kata Andre.


Andre ikut tertawa berlebihan, sehingga cukup menjadi perhatian para pelamar yang datang.


"Kalau Jovi lolos, pizza hut 5 kali berturut-turut juga boleh lo Dok, itung-itung kuota buat hubungin calon di sedekahin, kan kalo udah satu tempat kerjaan nggak perlu lagi VC," goda perempuan teman Dokter Nalen.


"Hahaha.. parah, parah kalian. Kuota di ganti pizza bisa dari mananya? ntar data'nya juga di ganting topping kan malah berabe hahaha."


Ada yang kurang nyaman lantaran test yang harus berjalan khidmat jadi ajang lelucon pegawai RS. Jovi mengguling wajah ke bawah, berharap candaan segera mereda.


Jovi merasa Dokter Nalen sudah harus di sadarkan, bahwa Jovi bukan miliknya.


Ernest ternyata di luar. Ia menunggu tidak jauh dari ruang test.


Tawa Dokter Nalen juga di dengar Ernest, tetapi laki-laki tampan itu tidak tahu, apa penyebab pasti Dokter Nalen tertawa bahagia.


Ernest bersandar diri pada pilar. Ponsel di tangan membawa senyum. Sedikit foto-foto dari Malang jadi tontonan ulang Ernest sambil menunggu Jovi keluar.


"Pak Ernest," sapa perempuan.


"Iyaa," Ernest membalas senyum.


"Hihihi...," perempuan itu malu, kemudian lari.


Ternyata hanya pegawai RS yang mengenali, Ernest ada di Rumah Sakit Intan Medika. Beberapa teman lain perempuan tadi juga ikut berlari.


"Iya, ampun senyumnya bikin meleleh. Ramah ya ternyata Pak Ernest."


"Heem, iya, iya.. bener itu," semua mengiyakan.


"Ada apa ya kira-kira Pak Ernest di sini? Tapi dia benar-benar tampan yaa ampun."


Beberapa dari mereka masih memuji Ernest sangat semangat.


Telinga Dokter Nalen mendengar samar. Di pintu ruang test beberapa perawat membicarakan ke tampanan Ernest.


Dokter Nalen keluar. Ia mencari batang hidung Ernest, ternyata benar bahwa Ernest sedang berdiri tidak jauh dari ruang test.


"Pantang menyerah juga ya ternyata anak Toni Wijaya itu. Lihatin aja loe Ernest, kalau emang loe bener-bener nantangin gue buat jadi rival untuk dapetin Jovi," Dokter Nalen berbicara sendiri.


Ernest sedang menerima telepon. Kedua mata Dokter Nalen tetap tajam tidak mengendur, sudah seperti akan mengajak bendera perang.


Dokter Nalen mendekati.


Tidak menunggu lama, Ernest menyelesaikan pembicaraan dan menutup telepon.


"Hmmm..," suara Nalen menampakkan diri.


Ernest menoleh.


"Dokter Nalen."


"Masih di sini ternyata. Aaaa, bagaimana? sudah menikmati kemarahan Jovi? lain kali, Pak Ernest jangan gunakan kata loe gue lagi ya..!! kasihan lo saya hahaha."


"Rasanya bukan saya yang perlu di kasihani, tetapi anda. Masih tetap mencintai perempuan yang sama, di mana Jovi sama sekali tidak menaruh hati pada anda," wajah Ernest penuh senyum.


Dokter Nalen tidak terima, matanya melotot, wajahnya merah bata.


"Mulut loe kalau ngomong di jaga. Yang tau perasaan Jovi cuma dia sendiri, jadi loe berhenti sok tau. Sekalipun Jovi tidak mencintai gue, gue rasa loe bukan orang yang dipilih Jovi."


"Jangan berbangga dulu dengan apa yang anda katakan sekarang, karena Jovi adalah tunangan saya." Ernest serius.


"Hahaha, tunangan? Bapak Ernest Wijaya, loe itu cuma sekedar orang baru di kehidupan Jovi, NGGAK LEBIH," Dokter Nalen menekankan kata terakhir.


"Ya terserah."


Dada bidang dua laki-laki di depan ruang test sama tegap akan menantang. Hanya karena tempat umum, Ernest mengurungkan niat.


"Bruuukkkk..," kaki Ernest tertendang Dokter Nalen.


"Bruuuggh..," suara itu terdengar lagi.

__ADS_1


Sengaja atau tidak, yang jelas bagian kaki yang tertendang mengenai tepat pada posisi luka patah kaki Ernest.


"Aaaaaaahhhhh," mata Ernest terpejam menahan.


Kakinya terasa sangat nyeri. Sepatu hitam kerja Dokter Nalen sempat Ernest lirik, tendangannya cukup hebat jika hanya sebatas tidak sengaja.


"Hahaha, maaf tidak sengaja Pak," Dokter Nalen melihat Ernest menarik kaki ke tempat duduk.


Raut wajahnya benar-benar menahan sakit. Sebelumnya Dokter Nalen tidak tau, apabila kaki Ernest dalam masa penyembuhan patah kaki.


..."Gruduukk.. gruduuk.. gruduuk.."...


Para pelamar berhamburan keluar, test sudah berakhir.


Dokter Nalen kaget, test berjalan lebih cepat dari yang di perkirakan. Dokter tersebut melihat Jovi keluar dari ruangan, Dokter Nalen langsung merangkul pundak Ernest.


"Pak, Pak Ernest tidak papa..??," tanya Nalen matanya sibuk melihat Jovi keluar ruangan.


Ernest menjauhkan lengan Dokter Nalen, ia tidak sudi. Pada pojok mata Ernest, keluar butir air mata. Sakit kakinya tidak bisa di utarakan.


"Woooeeeyy.. hati-hati kalau jalan, ini itu rumah sakit bukan lapangan," teriak Dokter Nalen.


Tidak tau apa maksudnya, Dokter Nalen teriak begitu saja. Ernest mengambil ponsel, nomor telepon Pak Rahmat di scroll ke bawah.


Dari jauh, Jovi berlari menghampiri Dokter Nalen dan Ernest. Awalnya ia santai, perlahan Jovi mengamati, raut wajah Ernest menyeringai menahan sakit.


"Tuan Ernest," Jovi berdiri.


Ernest melihat Jovi, bibir atas bawah Ernest menyatu di lipat ke dalam. Matanya berair, kaki bagian kanan Ernest di pegang terus.


"Tu-tuaan kenapa? kakinya? kenapa kakinya?," Jovi refleks mendudukkan diri di depan Ernest.


"Sakitt suster, tadi ter-ten,"


"Eh.. itu Jov, tadi Pak Ernest tidak sengaja kena terinjak kaki pengunjung rumah sakit yang lewat. Aku nggak tau anak magang itu siapa?," sahut Dokter Nalen gugup.


"Yang betul pengunjung atau anak magang?," Jovi semakin kebingungan.


"Ma-maaf, maksudnya pengunjung Jov, kalau anak magang mungkin aku masih identitasnya. Sebentar ya.. aku carikan kursi roda dulu untuk Pak Ernest, kita langsung ke ruang ortopedi saja."


Jovi mengangguk. Dokter Nalen gemetaran, ia langsung buru-buru pergi seolah benar-benar panik. Ernest bibirnya tetap menyeringai sakit.


"Tuan, tuan, kenapa sampai bisa di tabrak pengunjung lain? tuan harusnya minggir, mungkin tadi tuan di tengah ya.??," Jovi melepas sepatu Ernest.


"Aaaaa.. pelan suster, itu sakit sekali," lagi-lagi tangan Ernest langsung keringat dingin.


"Ya Tuhan, bengkak lagi. Tertendang yang bagaimana? kenapa sampai begini? kalau hanya kesenggol tidak sampai seperti ini?."


"Pulang saja yuk..!! jangan di rumah sakit ini, biar nanti papa panggil Dokter. Suster ambil kuncinya di saku," pinta Ernest.


"Tuan, kita kan sekarang di rumah sakit? luka tuan harus butuh penanganan, patah tulang tidak bisa dilihat dari luar, jadi kita tidak bisa begitu saja pulang."


"Setelah itu langsung pulang, kalau suster tidak mau, saya yang pulang sendiri naik taksi. Bawa pulang saja mobilnya..!!," Ernest menahan marah.


"Iya.. iya.."


Jovi beranjak pindah duduk di samping Ernest. Ia menyeka sedikit keringat pada pelipis mata.


Jovi mengangkat kaki Ernest lurus, guna mengurangi rasa sakit.


Harusnya Ernest tidak sudi di rumah sakit itu lagi. Jika Ernest membahas lagi Nalen, pertengkaran tidak bisa di hindari lagi.


Mulut dusta Dokter Nalen semakin lama ternyata cukup mengancam. Belum ada berapa jam di rumah sakit, ada saja peristiwa menguji kesabaran Ernest.


Dokter Nalen datang.


"Pak Ernest, ini kursi rodanya, silahkan Pak Ernest,"


"Mari tuan, saya bantu..!!"


"Nggak Jov, nggak usah, kamu cowok. Biar aku yang bantu Pak Ernest saja, ini sudah kewajiban laki-laki." Dokter Nalen merebut lengan Ernest.


Putra tampan Tuan Toni itu berpindah ke kursi roda. Ernest kasar menyingkirkan jemari Dokter Nalen dari bajunya.


Jovi melihatnya, mendapat perlakuan seperti itu mata Dokter Nalen mengadu ke arah tatapan mata Jovi. Ibarat di tolong tidak tau terima kasih, tetapi Jovi memilih diam.


"Biar Suster Jovi saja yang mendorong," pinta Ernest.


"Baik."


Dokter Nalen mundur.


"Di sana Jov, ruang ortopedi.. kita ke sana..!! Ada Dokter Arfin sedang praktek, nanti kita langsung masuk saja."


Jovi mengangguk.


Ernest, Jovi dan Dokter Nalen berjalan ke ruang ortopedi. Benar, di sana Dr. Arfin sedang ada di tempat. Luka Ernest lalu di periksa, Jovi dan Dokter Nalen menunggu.


"Tadi, yang menginjak kaki Tuan Ernest berperawakan seperti apa Dokter?,"


"Aaaa.. orangnya memang tinggi besar, jadi mungkin itu yang sedikit berpengaruh pada luka Ernest, ya kan?,"


"Luka Tuan Ernest seperti terkena tendangan sungguhan, kalau hanya tersenggol kaki pengunjung atau terinjak pasti tuan tidak sampai seperti itu," Jovi menatap Dokter Nalen.


"Namanya musibah Jov, kan kita tidak tau..!! contoh kadang ada orang yang jatuh dari kursi, kelihatannya sepele, tapi ternyata diagnosa yang muncul kanker, atau lainnya."

__ADS_1


Jovi mempercayai. Ucapan Dokter Nalen memang ada benarnya.


__ADS_2