Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
96. Akhir Kisah Ini


__ADS_3

Brak


Bruk


Bruk


Pukul 06.00 WIB.


Suara gaduh terdengar dari kamar Jovi. Rupanya perempuan berusia 25 tahun tersebut sedang membongkar berkas-berkas penting.


Tidak ada suara bising dari luar. Gerak gerik Aqila juga sama sekali tidak terdengar. Namun, Jovi tidak mencari tau lebih lanjut.


Berkas tersebut di cek Jovi, bukan karena tidak ada maksud. Rupanya Jovi bertekat kuat akan pergi merantau.


Amplop coklat khas lamaran kerja tertulis kota Jakarta untuk mengirim lamaran kerja. Hal itu akan di anggap Jovi akan menjauhkan dirinya dari pemberitaan media.


Jovi menganggap, hubungan dia dengan Ernest memang sudah dari awal memiliki banyak rintangan.


Dari tidak di setujui oleh warga net, bebet bibit bobot yang tidak seimbang, serta tidak di anggapnya Jovi pada lingkup pertemanan Ernest, membuat perempuan cantik tersebut memilih mundur.


Tubuh Jovi sedikit kurang enak badan. Beberapa minggu terakhir tubuh dan fikirannya sama sekali tidak pernah beristirahat.


Jovi seperti tidak merasakan, kondisinya seolah tetap dipaksa untuk terlihat fit. Apalagi dengan keinginannya yang harus di imbangi tekat kuat.


"PT. JacobNesia, RS. HARAPAN, Jakarta Medical Center, PT. Asnaria Jaya," gumamnya.


Jovi menulis satu persatu alamat PT yang dituju. Sembari menunggu pengumuman rekrutmen dari RS. INTAN MEDIKA, ia seperti tidak ingin membuang waktu.


Jemari lembut tangannya menari di atas kertas putih. Seperti tidak memiliki rasa bersalah, Jovi tetap menulis sambil merasa aneh.


Pasalnya dari tadi, tidak ada suara cerewet Aqila, ataupun aktivitas mama Jovi di dapur, maupun aktivitas papa Jovi yang sedang menyiram bunga.


"Mama."


"Papa."


Jovi memanggil pelan satu persatu, tetapi suara itu tidak akan pernah terdengar dari luar. Jovi menaruh bolpoint, ia membuka ponsel beberapa chatt Ernest sudah memenuhi notifikasi.


Hanya saja Jovi sengaja tidak membuka pesan tersebut. Beberapa saat kemudian.


Tringg.. ting.. tingg..


TUAN ERNEST MEMANGGIL...


Tetap di biarkan saja oleh Jovi.


**********************


RUMAH TUAN TONI WIJAYA.


Dengan senyum dan senang hati Tuan Toni menawarkan teh manis di atas meja yang dibuatkan Bik Yuni.


Papa dan Mama Jovi sering tertangkap saling pandang untuk mengutarakan niatnya. Sedangkan Aqila tampak bermanja di atas pangkuan mamanya.


"Ernest baru saja berangkat subuh tadi. Karena ada rapat mendesak yang akan di lakukan jam 7 pagi masalah bahan baku perusahaan," kata Tuan Toni.


"Kenapa pagi-pagi sekali, kok untung saya sudah bangun hehehe..!! bagaimana?? kira-kira kita akan melakukan pengukuran baju seragam kapan ini Pak Yusuf?."


Tuan Toni memanggil Bik Yuni. Ia menyuruh mengambilkan katalog di lantai atas tempat bekas pemotretan Jovi dengan Sist Eleaa di atas kemarin.


"Ini tuan, katalognya."


"Ouh terima kasih Bik Yuni," Tuan Toni mengambil katalog.


Dengan sangat bahagia meski belum mandi. Tangan Tuan Toni memberikan contoh design di katalog tersebut.


"Maaf sebelumnya Tuan Toni, saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya yang sebesar-besarnya kepada Tuan dan Nak Ernest," papa Jovi memulai.


Tuan Toni mengernyitkan dahi.


"Memangnya kenapa? apa ada masalah? tentang apa ya Pak Yusuf."


"Tadi malam Jovi baru memberanikan diri berbicara pada saya Tuan Toni, bahwa dia belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Dan Jovi sendiri enggan untuk di tunggu oleh Ernest, karena memang Jovi tidak mematuk batas sampai kapan dia akan sendiri."


Wajah Tuan Toni langsung berubah. Raut wajahnya tampak terlihat sangat kecewa. Mama Jovi memalingkan muka tidak kuat melihat.


"Kok bisa," ucap lemas Tuan Toni.


"Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik? Di mana sekarang Jovi? tadi malam Ernest cerita, katanya dia lelah dengan Jovi, tapi saya tidak tau apa permasalahannya."


Tuan Toni mengambil ponsel menghubungi Ernest. Tetapi telepon sedang berada dalam panggilan lain.

__ADS_1


"Tapi Jovi mengatakan ke saya bahwa tidak ada masalah apa-apa tuan. Atau bisa saja anda salah dengar dari Ernest tuan? barangkali Ernest curhat tentang pekerjaan."


"Tidak, tidak..!! Pak Yusuf ini, meskipun saya belum punya cucu tapi pendengaran saya ini masih benar kok hehe."


Mama papa Jovi tersenyum.


"Selama ini Ernest tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari saya. Semua pasti di ceritakan, dan kebetulan memang tadi malam dia cerita, disitu saya kira masalah sepele anak muda kan biasa. Ternyata..????," ujar Tuan Toni.


"Awalnya saya juga begitu tuan. Saya yakin bahwa Jovi ini ada masalah saat habis jalan dengan Ernest. Tapi beberapa ucapannya sepertinya memang itu keputusan Jovi sendiri," jawab papa Jovi.


"Jovi kan memang tipikal anaknya seperti itu, jadi dia tidak pernah mau mengatakan isi hatinya, semua di pendam sendiri. Saya juga tau ini dari Ernest, yaa.. yang saya harapkan pernikahan ini tetap berlanjut."


"Sebaiknya kita dengarkan penjelasan dari Ernest dulu saja. Dan kita sebagai orang tua membantu doa untuk masalah ini," kata mama Jovi.


Papa Jovi dan Tuan Toni mengangguk.


"Mungkin siang Ernest sudah pulang. Nanti saya akan langsung kabari anda Pak Yusuf, dan jangan sampai masalah ini berlarut-larut, saya sangat sedih sekali."


Ketiga orang tua terus tampak berucap harapan agar semua baik-baik saja. Jovi sangat sukses membuat masalah baru hari ini.


Mama dan papa Jovi serta Aqila berpamitan pulang.


*******************


RUMAH JOVI.


Lama membiarkan suara di luar sepi. Jovi membuka pintu, ia penasaran mengecek apakah memang mama, papa dan adiknya masih tidur.


Ceklek.


"Mama, mah."


Jovi membuka pintu kamar.


"Nggak ada siapa-siapa? ke mana mama sama papa."


Jovi mencari ke kamar mandi tidak ada juga. Di taman belakang Jovi melihat tumpukan koran juga masih rapi. Beberapa saat, lalu terdengar suara Aqila tertawa riang.


Jovi mencari ke garasi, mobil juga tetap ada di tempat. Suara Aqila berasal dari pagar teras rumah. Jovi lalu berlari.


Dari gorden warna abu-abu ternyata mama, papa, dan adiknya sedang berbincang-bincang dengan tetangga.


"Sini Fatah, sini kejar aku wlekkk."


Aqila berlari mengelilingi tubuh mama dan papa Jovi.


"Awass ya tamu (kamu)," ucap Fatah berumur lebih kecil dari Aqila.


Jovi kemudian masuk kamar lagi.


Semua berkas akan ia kirim ke kantor pos. Jarum jam yang menunjukkan pukul 06.45 sedikit mempercepat langkah kakinya.


Tring.. ting.. tingg..


TUAN ERNEST MEMANGGIL..


Sudah ada lebih 30 kali panggilan tak terjawab.


Jovi tak menghiraukan. Ia lantas pergi ke kamar mandi. Sembari sikat gigi, Jovi baru ingat bahwa dia masih membawa mobil jazz Ernest.


Jovi berniat mengembalikan apa yang bukan menjadi miliknya. Hubungannya hari ini juga akan di akhiri.


Selesai dari kamar mandi, Ernest seperti tak punya lelah. Layar ponsel kakak Aqila tersebut tetap sama mendapati panggilan masuk dari Ernest.


Jovi mengangkat panggilan.


"Hallo."


"Hallo sayang, lagi apa? hari ini kamu nggak usah ke rumah, ini aku lagi di kantor karena ada meeting mendadak."


"Saya saja yang ke kantor."


"Mau apa? nggak perlu repot-repot sayang, tadi sudah di bawakan Bik Yuni bekal dan obat-obatan kok. Kamu di rumah saja...!! nanti pulang meeting aku langsung ke rumah."


"Nggak lama kok, cuma paling nanti nggak ada setengah jam," jawab Jovi.


"Mau ngapain?? kamu bilang aja kalau semisal butuh sesuatu, memang ada sesuatu yang ketinggalan di kantor? apa tapi? ahhh.. aku tau."


"Bukan, bukan apa-apa," Jovi berfikir ulang mau menjelaskan di telepon.


"Ahh iya, iya, aku tau.. pasti kamu nggak rela kan, kamu jauh-jauh dari saya kan suster? haduh sayang, ngapain sih malu-malu, hahaha."

__ADS_1


Jovi diam.


"Nggak usah malu lah, sebentar lagi kan kita menjadi pasangan suami istri, cobalah sayang kamu kurang-kurangin sifat kamu yang malu sama suami sendiri. Eee.. tapi nggak papa kok, itu yang membuat saya sangat mencintai kamu."


Sambil tertawa kecil, suara Ernest terdengar jelas di telinga. Ulu hati Jovi terasa sakit, hati kecilnya sedikit tidak rela apabila harus meninggalkan Ernest.


Sayangnya, seluruh hati lebih menguasai lagi untuk memutus hubungan bersama pewaris tunggal Wijaya Grup.


"Oke, oke, nanti kamu ke sini jam berapa? jam 7 aku harus meetting dulu, tunggu sebentar ya nanti," pinta Ernest di telepon.


"Hallo, sayang? kok nggak dijawab."


"Sayang, Jovi..?? hei kamu dengarkan sayang," Ernest membolak balik ponsel, suara Jovi tiba-tiba menghilang.


"Jovi sayang."


"Aaaaa.. iya, nanti saya ke sana."


Tut..


Telepon di tutup oleh Jovi.


Tangis yang sudah di tahan, ternyata ada satu butir air mata yang tidak malu masih menetes keluar. Jovi segera menyapu kasar air matanya, ia tidak mau terlihat cengeng hanya karena cinta.


"Ayoo Jov, jangan lemah..!! kuat Jov, masak kamu lemah sekali, masalah yang seberat Tuan Fictor saja kamu bisa mengatasi, masak masalah sepele kamu tidak bisa. Bisa lah...!!."


Jovi bergumam sendiri.


Perempuan yang di cintai Ernest itu mengambil pakaian, serta menyisir rambutnya. Ia terus membayangkan sikap sikap buruk Ernest, agar rasa tidak teganya terhadap Ernest segera hilang.


Setelah siap Jovi bersiap pergi ke kantor Wijaya Grup. Beberapa map sudah di masukkan ke tas, kunci mobil honda Jazz di bawa pergi.


Dari luar, mama Jovi sedang berada di depan ruang televisi.


"Mamah, Jovi mau berangkat."


"Mau ke mana lagi? ke rumah Ernest?."


Jovi menggeleng kepala. Aqila lari terbirit-birit memeluk Jovi.


"Kakak Opi mau ke mana? Om Ernest nanti ke sini? Aqila kangen," kata Aqila sembari cengengesan.


"Kamu lo anak kecil? tau kangen-kangen segala, sana tuh mainan sama Fatah. Besok kalau udah besar kayak Kak Opi baru boleh kangen-kangenan."


Jovi mengacak-ngacak rambut Aqila. Kaki kecil adik Jovi lari meminta pangku ke mama tercinta.


"Mamah.. nggak ya mah? kangen kan boleh buat anak kecil ya mah? nggak cuma orang besar ya mah."


"Iya.., buat anak kecil, anak besar, tua muda semuanya."


"Wleeeekkkk," Aqila menjulurkan lidahnya ke Jovi. Jovi turut menciumi pipi Aqila.


"Cup, cup, emuuuachh."


Kanan kiri pipi Aqila habis di ciumi. Mama Jovi ikut tertawa. Tak sengaja, tubuh Jovi tersenggol lengan kiri mamahnya.


Tiba-tiba raut wajah mama Jovi berubah.


"Lho Jov, badan kamu panas? gitu masih mau keluar, jangan dulu.. di rumah aja."


Jovi langsung menarik lengannya cepat.


"Nggak kok mah, cuma panas biasa. Lagian Jovi cuma mau ke kantor pos sebentar kirim lamaran nanti balik pulang lagi."


"Masak?," mama Jovi berusaha memegang kening.


Belum sampai, Jovi sudah langsung menyingkirkan tangan mamanya.


"Nggak papa mah."


"Coba kamu cek suhu kamu dulu? 39 lebih itu."


"Nggak mamah, panas biasa karena kecapek'an. Habis ini Jovi langsung pulang. Jovi berangkat dulu," ucapnya sambil beranjak dari sofa.


"Jangan lama-lama, apa kamu di antar papa aja Jov."


"Nggak, nggak mah. Jovi berangkat sekarang aja."


Jovi berangkat mengambil tas, beberapa map tertata rapi pada pergelangan tangan kiri. Rambut panjangnya tertiup angin taman rumah, terkibas sangat cantik.


Tidak berselang lama, mobil sudah terdengar pergi meninggalkan rumah. Jovi berangkat menemui Ernest.

__ADS_1


__ADS_2