
"Tuan, tapi tadi kan saya sedang menyiapkan makan."
"Percuma nyiapin makanan, orang yang mau makan aja masih di dapur."
"Kan sekarang sudah di sini."
"Tapi kan barusan."
"Bodo, yang penting di sini." Jovi menurunkan tubuh sedikit. Lidahnya di julurkan.
"Ya sudahlah.. terserah."
Ernest menghela nafas. Alih-alih mencoba ngambek, laki-laki tampan tersebut berpindah pandangan, duduk di kursi menatap layar televisi.
Jovi mengikuti. Dia berjalan duduk di samping Ernest. Baju santai yang di kenakan Ernest tampak menawan tanpa lingkar jam tangan pada pergelangan tangannya.
Jovi melihat Ernest. Pandangan mata mereka saling tabrak tetapi Ernest bersikap cuek. Satu persatu ucapan Jovi selalu membuat gemas indra pendengaran laki-laki tampan itu.
"Tuan."
"Hmmm.. apa?."
"Tuan mau makan sendiri atau di suapi? kalau tuan mau makan sendiri, ini obatnya dan ini makan malamnya.. saya izin pulang ya tuan."
Spontan, Ernest menengok semakin sinis. Bekas tangan masih melepuh karena air panas tadi, terlihat memegangi kepala. Jovi tidak paham, akan kode yang di berikan.
Semakin lama, dua-dua'nya tangan Ernest kompak memangku di antara pelipis mata masing-masing. Jovi mengintip wajah Ernest.
Sikap Ernest nampak membuat perempuan cantik tersebut di landa kepanikan.
"Tuan, tuan kenapa ?? kepalanya Tuan Ernest kenapa di pegangi? sakit kepala tuan belum sembuh?."
Jovi memeriksa tengkuk kepala Ernest. Suhu tubuhnya memang sedikit hangat. Sudah turun jika di bandingkan saat jalan bersama dengan Aqila siang tadi.
"Tuan.. tuan sebaiknya makan dulu, setelah itu saya ambilkan tambahan obat.. sebentar ya tuan saya ambilkan."
Jovi beranjak mengambil kotak obat. Kornea mata Ernest mengikuti ke mana suster cantik tersebut pergi. Jovi benar-benar mengambil box obat milik Ernest.
"Suster Jovi.... ahhhh.. dia kenapa tidak peka sama sekali sih."
Langkah kaki Jovi terdengar berbalik. Kepala laki-laki tampan tersebut di benamkan lagi. "Kreeetak.. kreetek..," pemilihan obat menyibukkan tangan Jovi.
"Tuan, Tuan Ernest minum obat sini saja, dosisnya tidak terlalu tinggi.. ini bisa menambah darah jadi kepala Tuan tidak akan pusing lagi.. kelihatannya tuan terkena anemia."
"Apa sust? anegila?."
"Anemia tuan, bukan anegila."
"Ouh.., sudah nggak seberapa pusing sih.. Suster Jovi yang buat saya merasa pusing."
Ernest mengangkat kepala. Senyumnya mengikuti menatap perempuan di samping sofa tersebut. Jovi tidak sengaja jahil, namun ternyata sikapnya sedikit tidak di sukai Ernest.
"Tuan.., tuan pusing karena jengkel dengan saya gara-gara spatula panas tadi? Tuan Ernest.. Saya tadi sengaja melakukan itu."
Jovi mengambil punggung tangan Ernest yang terluka.
"Ini lukanya tidak parah kok tuan.. besok sudah kempes.. merahnya juga akan hilang.."
"Lihat ini, tangan saya yang putih kayak pahanya cherrybelle sekarang kamu nodai.. lihat itu merah kan? masih sakit suster, jangan di pegang dulu."
Ernest juga tahu bahwa luka di tangannya sama sekali tidak parah.
"Tadi saya panik tuan. Maaf Tuan Ernest, saya seperti itu karena saya takut tuan, nanti bibi -bibi ada yang melihat." suara Jovi memelas. Jarinya meremas dengan sendiri.
Jovi beranjak berdiri mengambil salep untuk luka bakar tangan Ernest.
"Eitttsssss... mau ke mana?."
Ernest menarik tangan Jovi. Hilang keseimbangan, Jovi terkejut lalu jatuh di pangkuan Ernest.
"Bruuuuukkkkk.."
Tubuh sintal perempuan cantik itu nampak pas berada di tangan Ernest. Jovi menutup mata rapat, ia tidak sadar tangan Ernest menangkapnya lebih dulu.
"Suster, sekarang sudah tidak ada bibi jadi jangan takut."
Jovi membuka mata.
Ernest membisikkan kata tersebut dengan sangat pintar. Sangat lembut, terdengar pelan, dan berhasil membangkitkan bulu kecil di telinga Jovi.
Ernest membuat Jovi tidak bisa berkutik. Pasalnya, dua tangan kekar milik Ernest mengunci rapat tubuh perempuan yang selalu lari bersamanya.
"Tuan, Tuan Ernest belum makan, nanti supnya keburu dingin tuan."
Jovi melirik makanan di meja. Ernest tidak menghiraukan ucapan dari mulut kakak Aqila tersebut. Satu tangan kanannya, menyilakan rambut Jovi ke belakang telinga.
Mendapati perlakuan seperti itu, Jovi melihat ke arah Ernest. Gerakan Jovi sempat terasa ingin beranjak, namun Ernest menghalangi.
Meski tenang, tekanan ke arah tubuh Jovi kerap di lakukan. Tangan Ernest bermain tepat di bagian belakang telinga. Jovi merasakan, Ernest bukan hanya sekedar menyilakan rambut Jovi.
"Suster.. saya ingin dengan kamu malam ini."
Bisikan itu pelan masuk ke telinga. Nafasnya hangat keluar hidung. Tarikan nafas itu nampak ber irama, pelan, memburu, pelan lagi seperti itu.
Kedua hidung mancung Ernest dan Jovi semakin membuat tidak ada jarak antar ke duanya. Ujung hidung Ernest menyapu setiap lembar daun telinga Jovi.
Jovi tidak mampu melakukan penolakan. Hangat nafas Ernest menggelitik telinga.
Dengusan hidung itu perlahan terasa di imbuhi kecupan. Ernest mengecup Jovi berkali-kali.
Belum ada satu jam turun dari lantai dua setelah kejadian di ruang CCTV. Nampak membuat mudah Ernest dan Jovi dalam membangkitkan gairah bercinta.
"Cup, cup, cup."
Ritme pelan Ernest mencium telinga Jovi berlari ke bawah leher.
"Cup, cup, cup."
"Sluurph.. cup, cup,"
Gerak bibir Ernest terlihat cepat.
Dengan mata menutup, Jovi benar-benar bisa merasakan bagaimana pandai nya putra Tuan Toni itu melumpuhkan pertahanan wanita di depannya.
"Euummb.. euummb.. euumb.."
__ADS_1
Bibir serta lidah Ernest menyambar leher. Gigitan kecil, sedotan bibir di area bawah telinga nikmat melanda.
Bukan hanya bagian itu saja, Ernest juga menciumi tengkuk di bagian kepala Jovi.
"Uuuuuhh...," Jovi melenguh.
Ernest mencium bibir Jovi. Ia memainkan lidahnya di dalam bibir itu.
Lidah mereka membelit satu sama lain. Langit-langit rongga bibir Jovi di goyang lidah Ernest atas bawah.
"Sluurrph.. sluurrph.."
Suara bibir mereka membuat suara.
"Euummb.. uggghh.. slruuphh."
Ernest melumati bibir bawah Jovi.
Setiap inchi bibir merah tersebut tidak luput dari cumbuan panas bibir Ernest. Sudah lama, Ernest tidak merasakan mencumbu wanita seperti malam ini.
Jovi hilang kesadaran. Nafasnya meraung nikmat. Jovi mengangkat kepalanya tidak tahan. Semua tubuh sudah di jalari dengan nafsu.
Ernest mencium ulang bagian bawah leher.
"Euuhhh...," erang Jovi tidak tertahan.
"Ayooo kita ke ranjang." bisik Ernest.
Jarum jam pukul 18.30, Ernest beranjak berdiri. Tak mampu membopong tubuh Jovi karena luka patah tulang. Ia membimbing kaki Jovi mengikuti Ernest ke ranjang.
Tidak mau kehilangan waktu, Ernest memeluk pinggang. Jovi menutup mata. Bibir mereka berpagutan. Lidah Ernest menari menerobos masuk ke dalam bibir Jovi lagi.
"Euummb.. aahhh.. sluurph.."
"Euumbb...,"
Jovi tidak tahan lagi. Dari tadi sikap Ernest sudah tidak membuat berdaya. Rengkuhan nikmat malam itu, nafas mereka saling memburu. Ernest mulai berani meremas pantat Jovi.
"Tuuaaan...., sluurrph.." Jovi menyabet bibir Ernest.
"Aaahh.. suster." Ernest menjadi gila.
Jovi semakin sering menggesek area bagian bawah Ernest.
Mata Ernest memejam, bibirnya di serang Jovi tanpa permisi. Ernest semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
Jovi menggesek terus tubuhnya naik turun menjepit milik Ernest.
"Brrruuuuuukkk..."
Tidak tahan, sikap Jovi seperti menantang Ernest. Tubuh Jovi jatuh ke ranjang. Ernest melepas pakaian yang di kenakan.
Jovi melihat celana Ernest sudah berbeda. Celana pendek yang di kenakan Ernest, seolah sudah tidak kuat menahan senjata milik tuannya itu.
Ernest menindih tubuh Jovi.
Tubuh kekarnya membuat sesak nafas.
Satu persatu kancing baju milik Jovi di lucuti. Dari atas ke bawah, pelan tapi berhasil.
"Cup.. eummb.. euum."
Jovi mencari lagi bibir Ernest. Mulutnya tidak tahan, mengigit nikmat tipis bibir milik tuannya.
"Aaaaahhh..."
Jovi mendesah. Tangan Ernest menyusup semakin berani. Perlahan meremas bagian dada. Remas, di lepas, remas lagi, di lepas, remas lagi.
Dengan ritme seperti itu terus Jovi tidak tahan.
"Tuann.. ahhhh..."
Jovi sudah seperti singa kehausan. Kepalanya seperti mencari sesuatu, ke kanan kiri tidak tenang. Kepalanya sering terangkat ke atas.
Keinginan pulang nampaknya sudah tidak terbersit lagi. Tubuh Jovi sudah berkeringat.
Dengan hormat Ernest tetap memperlakukan Jovi sangat baik. Memberi ritme pelan lalu kencang.
"Happp.. sluurph.."
Ernest langsung melahap. Memilin ujung kecil terlihat berwarna coklat pink itu. Ukurannya termasuk besar. Kaki Jovi tidak karuan lagi merusak sprei.
"Slruupph.. sluuurrph.."
Ernest menikmati. Tubuh Jovi mengejang. Ernest membenamkan wajahnya.
"Nyaammm.. sluuurpph.. sluurph."
Terus seperti itu.
Lidah Ernest terus memainkan semua bagian bergantian. Ia mengigit kecil, meremasi pundak. Semua bagian atas basah karena air liurnya.
"Sluruuuph.. eeuumb.. sluurphh."
Ernest mencetak kiss mark di sekitar leher. Jovi membuat Ernest nampak bergairah.
Ernest seperti sudah tidak bisa mengenali Jovi seperti biasa. Wajah Jovi sudah di penuhi dengan nafsu.
Tangan lain Ernest bergerilya.
"Sluuurphh.. Euumb.."
Suara Ernest masih melahap semua. Wajah serta bibir Ernest belum mau terpisah dari peluk hangat perempuan cantik tersebut.
"Aaaahhhh.. uuuuhhh..,"
Erangan nikmat itu keluar. Jovi mencengkram pundak Ernest. Sangat nikmat.
Ernest mencari sesuatu. Ada yang basah tapi bukan baju.
Ernest menggeseknya. Bibir Jovi melenguh menikmati. Tak tahan, semakin lama Ernest semakin tidak tahan.
Tubuh mereka semakin panas.
Gelora cinta dari gairah malam ini. Jantung Jovi berdesir lebih cepat 3 kali lipat. Nafsu Ernest sudah pada puncaknya.
__ADS_1
"Suster.. saya ingin dengan kamu sekarang..!! saya sangat mencintai kamu Suster Jovi."
Jovi mengecup bibir Ernest tanda persetujuannya.
"Cup."
Perlahan, tangan Ernest menurunkan, memisahkan dari pakaian. Pinggang Ernest jadi sasaran peluk jemari tangan suster cantiknya tersebut.
"Took.. took.. took.." suara orang mengetuk pintu.
Seperti di sadarkan, Jovi menatap Ernest dengan bola mata ke pintu. Tidak mau memperdulikan, Ernest tetap ingin melanjutkan bercinta dengan Jovi.
Sayang, Jovi menolak. Sorot mata Jovi tetap sama menginstruksikan pintu itu harus segera di buka.
Jovi menyuruh membuka dengan isyarat mata. Ernest geleng, ia menolak.
"Took.. took.. took.."
"Tuan Ernest.."
"Toook.. tok.. tok..."
"Tuan Ernest.., tuan."
Suara itu berasal dari Bik Yuni. Sangat kesal, Ernest menyambet kimono ada di samping ranjang. Jovi langsung merapikan baju lebih cepat dari Ernest.
"Ya bik, sebentar."
"Baik tuan."
Ernest berjalan. Ia tampak meminum susu di atas meja, sebelum keluar. Dua tegukan, Ernest langsung keluar membuka pintu.
Benar, ada Bik Yuni. Perempuan itu membawa paket berukuran tanggung. Ernest menghela nafas, hanya karena paket ia gagal bercinta dengan Jovi.
Bik Yuni sama sekali tidak menaruh curiga. Ernest yang menggunakan kimono, seperti baru selesai mandi untuk bersiap tidur.
"Ada apa Bik Yuni?."
"Ini tuan, ada paket dari Jakarta.. beberapa berkas tuan yang tertinggal sudah di kirim lagi."
"Ouh iya, terima kasih.. kapan-kapan kalau ada paket cukup di taruh di ruang tamu dulu aja ya..!!."
"Baik tuan kalau begitu."
"Iya.." Ernest mengangguk.
"Suster Jovi sudah pulang tuan?."
"Belum, itu masih di dalam menyiapkan obat.. saya habis makan malam."
"Ouh.. ya-ya sudah tuan, saya permisi."
Bik Yuni lalu permisi. Ernest kembali menutup pintu, masuk ke dalam kamar. Jovi duduk di depan TV. Kesal juga baru di tinggal sebentar, pakaian Jovi kembali terlihat rapi.
Ernest buru-buru menghampiri.
"Suster sayang.. kenapa sudah di sini? kita selesaikan yuk." Ernest memeluk.
"Tuan Ernest, tuan makan saja dulu.. ini sudah malam, tuan belum makan."
"Lah... alasan..!! keburu udah nggak nafsu, hilang gairah." Ernest menyadarkan kepala di sofa.
Jovi merasa bersalah. Ia mengarahkan perhatiannya ke arah piring dan sendok belum tersentuh tangan.
Betapa sakitnya hasrat yang tidak bisa tersalurkan Ernest rasakan lagi. Sudah dua kali dengan alasan berbeda.
"Ada saja gangguannya." gerutu Ernest.
"Tuan makan dulu, nanti lama-lama juga hilang."
"Susteeeeer.. kamu cewek, bilangnya gampang.. coba sini jadi cowok rasain gimana rasanya dapat PHP di atas ranjang, kliyengan kepala kamu 5 hari nggak selesai-selesai."
"Halah bercanda, nggak juga sih kalau 5 hari." Jovi menyendokkan makanan untuk Ernest.
"Suunggguhh ini suster.. pusingnya 2 kali lipat suster."
Jovi membantu memijit kepala sebentar.
Sudah sadar Jovi tidak akan mau menerima ajakan Ernest ke ranjang. Sikap pasrah laki-laki tampan tersebut terlihat menurut, di suapin apa saja menu yang di masukkan Jovi.
Masih manja. Ernest mengunyah pelan, kepalanya menyandar pundak Jovi. Kadang mata indah putra tampan Tuan Toni itu mengerjap cepat. Karena Jovi, ia harus menahan lagi membuang pelan.
Televisi di nyalakan, mendengarkan berita update kriminal terbaru harapan terakhir Ernest agar bisa menurunkan tegangan tinggi pada senjata nya itu.
Berhasil.
Ernest fokus mendengar perkembangan berita jual beli saham terbaru. Berita kriminal masih gagal, jual beli saham lebih efektif menarik perhatian Ernest.
Tampaknya, perhatian Ernest sudah terbagi. Dari tadi kakak Aqila tersebut melihat Ernest, tapi Jovi tidak di hiraukan. Suapan nasi masih lancar ke mulut, meski mata tetap menonton.
"Tuan Ernest."
"Hmmm..."
"Apa sebelumnya tuan pernah tidur dengan wanita lain kah?."
Pertanyaan Jovi langsung melihati Jovi. Ernest tersenyum.
"Kenapa? yang penting kan saya tidak meniduri kamu."
"Ya, ya, bukan begitu..!! siapa tau Tuan Ernest tipikal orang yang suka jajan perempuan di luar."
"Jajan katanya, emang gorengan..?? nggak lah, saya tidak suka jajan perempuan di luar sana.."
"Tapi kan mereka cantik-cantik tuan."
"Secantik apapun itu.. Sejauh ini sih, saya hanya akan melakukan dengan orang yang saya cintai saja.."
"Siapa? berarti Meghan? atau siapa tuan? atau ada perempuan lain?" Jovi langsung nampak terkejut.
"Kasih tau nggak ya."
"Tuan.. jangan seperti itu.. tuan kasih tau dong."
Berkali-kali tubuh Ernest di goyang tak henti-henti, hanya untuk mendapatkan jawaban tentang pertanyaan Jovi. Tidak kasihan, Jovi melakukan itu terus menerus.
__ADS_1