Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
108. SUTM Season 2 - 1 Tahun Kemudian


__ADS_3

1 Tahun Kemudian


Jovi berdiri di depan jendela yang menghampar luas dengan pantulan sinar matahari yang lumayan menyilaukan mata.


"Sayang, jangan terlalu lama disini, kasihan anak kita, dia bilang ini terlalu panas untuk kulit mama ku yang cantik" bisik Ernest memeluk Jovi dari belakang.


Jovi tersipu malu.


"Sapa yang bilang seperti itu? yang ada itu suara kamu sayang," gumam Jovi sembari menoleh.


Ernest mengecup kening istrinya.


"Hahahaa, coba sini sini, kan apa yang papa bilang ternyata mama kamu tidak percaya nak," Ernest mengelus perut yang mulai terlihat membuncit.


Kehamilan Jovi sudah berjalan 3 bulan. Sejak hari pernikahannya, Tuhan sangat baik dengan langsung mempercayakan mereka untuk menjadi orang tua.


Jovi berbalik memeluk Ernest dengan begitu erat.


"Aku tidak tahu, kebaikan apa yang bisa membawaku bisa menjadi istrimu tuan. Kamu terlalu sempurna untuk aku yang hanya"


"Husssttt," Ernest menempelkan jemarinya didepan bibir Jovi.


"Nyonya Ernest tidak boleh seperti itu," Ernest mengecup bibir Jovi.


"Memiliki kamu itu, anugerah Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Maka dari itu, stop merendahkan diri sendiri untuk hal hal yang tidak penting."


"Terimakasih sayang," Jovi mengangguk.


Kemeja putih dengan jas hitam serta dasi abu-abu membuat calon ayah satu itu terlihat tampan. Sesekali Jovi membenahi kerah baju suaminya.


Jovi lalu turun bersama dengan Ernest menuju teras rumah. Mereka berdua menuruni tangga dari lantai dua menuju lantai satu.


Tiba-tiba Jovi kaget, Ernest membopong Jovi turun dari tangga.


"Sayang, jangan seperti ini, nanti aku malu dilihat papa." ungkapnya berbisik ditelinga.


Ernest tidak memperdulikan menuruni tangga satu persatu. Betis perempuan cantik tersebut terlihat putih bersih dengan pakaian warna coklat tua yang semakin membuat kontras.


Jovi melihat Tuan Toni sedang berada di meja makan.


"Sayang, turunkan, aku malu dilihat papa"


"Enggak papa, ini papa yang nyuruh aku. Papa bilang kamu gak boleh capek."


"Tapi bukan begini caranya, haduuh aku malu," Jovi bersembunyi dalam dekapan Ernest.


Dengan lucunya, Ernest justru menyapa papa'nya.

__ADS_1


"Selamat pagi papa, selamat pagi dari anakmu, menantumu, dan calon cucumu."


Ernest tersenyum tampan.


Tuan Toni mengikuti senyumnya.


"Selamat pagi tetapi nampaknya menantu papa sedang tidak nyaman dalam gendongan kamu," goda Tuan Toni.


"Karena papa terlalu menganggu ada disitu, mungkin Jovi akan berbeda kalau papa tidak disitu hahaha"


"Ouh yaaa, apakah papa harus ke taman belakang, pindah ke mana ini enaknya? hohoho."


"Akan ku kirim papa ke planet mars atau pluto? pemilihan dimulai dari sekarang haha."


"Tidak pa, tidak..!! Jangan dengarkan Ernest." Jovi menghardik panik.


Ernest kemudian menurunkan Jovi dan bergabung sarapan pagi bersama dengan Tuan Toni. Berkali-kali Ernest selalu menciumi rambut wangi dan panjang miliki istrinya tersebut.


Seketika Jovi meruncingkan tatapan matanya.


"Sayang, ada papa." lengan Ernest dicubit kecil.


"Biarin lah, papa juga udah pernah nikah kan, meskipun sekarang duda hahaha."


Jovi menginjak kaki Ernest.


"Aduuuuhhh, kamu ada indikasi kekerasan dalam rumah tangga ini sayang, hati hati lo."


"Aiiih iya, iya, maaf," Ernest mencium kilat pipi Jovi.


"Sayangg, sumpah ya kamu," Jovi dirundung malu.


"Kelihatannya memang papa harus siap dikirim ke Mars kalau seperti ini terus," timpal Tuan Toni.


"Hahahahha"


Tawa mereka lantas memecah seluruh ruangan.


Tuan Toni, Jovi, dan Ernest menikmati sarapan bersama. Terlihat Jovi menjadi menantu yang sangat sopan, ia mengambilkan beberapa lauk pauk untuk suami dan juga papa mertua.


"Apa mual mual kamu sudah mendingan nak?."


"Sudah pa, sekarang Jovi sudah lebih kuat setelah kehamilan jalan ke 3 bulan ini."


"Kamu jangan lelah lelah ya, apa kita harus pasang lift biar kamu tidak perlu naik turun?."


"Aah, iya tu pa, boleh tuh pa. Biar Ernest engga capek juga gendong Jovi setiap hari."

__ADS_1


"Papaaa.. nggak usah, jangan dengarkan kata anak papa. Aku kan nggak minta gendong, kamu tadi yang inisiatif sendiri kan?."


"Enggak, kamu yang minta tadi di depan kamar, malah kamu bilang juga kan sayang, kalau aku nggak usah kerja terus aku bilang " jangan sayang, kasihan nanti papa (tuan toni) harus ke kantor"


Jovi mengangkat bola mata ke atas, bibir nya manyun.


"Bohong banget, enggak pa.. bener..!! Jovi nggak pernah bilang gitu."


"Iya sayang, masak kamu lupa sih? mungkin bawaan baby ya, jadi kamu pelupa gini,"


"Kok kamu nuduh aku siih, Kapan kamu bilang?," bisik Jovi pelan.


"Ernest, Ernest, sudah.. kamu jangan menggodai istrimu seperti itu, kasihan. Maaf ya nak, Ernest emang jahil." Tuan Toni menggeleng kepala.


"Hehehe, maaf yakk," Ernest mencium pipi Jovi lagi di depan Tuan Toni.


Jovi mengusap cepat ciuman Ernest.


Ernest sukses membuat Jovi mati kutu di depan Tuan Toni. Pasalnya hari ini juga kali pertama Jovi ikut sarapan lagi sebab 3 bulan saat hamil muda, perempuan cantik tersebut terkulai lemas dan masih sering mual mual.


Selesai sarapan, Jovi mengantar Ernest sampai ke teras depan. Pak sopir sudah menunggu, Ernest berpamit mengelus perut Jovi.


"Papa pergi kerja dulu ya sayang, kamu jangan nakal nakal seperti mama kamu ya.." cium Ernest ke perut istrinya.


Jovi menggeleng senyum melihat kelakuan suaminya yang ada ada saja.


"Nanti papa bawakan es cincau, atau es cendol biar nanti kalau lahir kamu bisa goyang cendol dawet ya nak."


Jovi mengernyitkan dahi.


"Sayang, kamu kok malah makin kesana, makin kesini deh.. udah cepet berangkat kerja.. nanti kesiangan."


"Hahhaaha, ini cara aku mengekspresikan kebahagiaan aku sebagai calon papa sayaaangkuh."


"Muuuuaacccch," Ernest menekan bibir dan hidungnya ke pipi serta kening Jovi hingga membuat istrinya kesakitan.


"Astaghfirullah, Erneeeessstt," Jovi pasrah. sampai akhirnya dengan suka rela suaminya melepaskan ciumannya tersebut.


Mobil kemudian dikendarai oleh salah satu sopir yang diajak Ernest. Kemudian Jovi kembali masuk ke dalam rumah untuk istirahat.


****************


PERJALANAN KE KANTOR.


Ernest pergi ke kantor dengan kemudi sopir yang berjalan standart. Jadwal meeting hari ini, terlihat lebih padat dari hari sebelumnya.


Sebenarnya ia ingin berlama lama di rumah, akan tetapi ia sadar bahwa saat ini Tuan Toni sudah lepas kendali terhadap kantor maupun proyek-proyek perusahaan.

__ADS_1


Perusahaan bidang import dan eksport yang baru saja di dirikan sebagai salah satu cabang baru perusahaan yang didirikan. Saat ini perusahaan juga tengah mencari kepala divisi untuk lulusan luar negeri sebagai pengembangan program perusahaan terbarunya.


Devi sekertaris Ernest, mengirimkan jadwal meeting maupun pertemuan dengan pegawai baru yang ada di PT EKSPORT E&J . Terdiri dari inisial namanya Ernest dan Jovi.


__ADS_2