
"Ernest, di sini adalah tugas Om untuk mengantarkan Jovi menjadi istri kamu, biaya itu harusnya sudah menjadi kewajiban Om Yusuf sebagai orang tua," papa Jovi menolak.
"Tapi Om, saya pribadi tidak mau Om dan keluarga sedih dengan pertunangan ini hanya karena beban biaya. Saya hanya mau moment pertunangan ini bahagia, tidak ada masalah lain."
Ernest bersikukuh. Papa Jovi ingin pertunangan Jovi berlangsung sederhana. Berada di rumah, tidak mengurangi kesakral'an dengan biaya sendiri.
"Aaa.. begini saja Om Yusuf, untuk pertunangan ini tetap menjadi tanggung jawab pihak laki-laki, karena ini kan adalah permintaan papa sebagai orang tua saya. Om selama ini sudah mengurus Jovi dari kecil hingga sekarang, tugas om sudah selesai."
Papa Jovi dilema. Jovi dan mamanya menunggu.
Uang tabungan Jovi selama ini juga telah terkuras habis akibat bunga pinjaman dari Fictor.
"Pak Yusuf, kewajiban mengantar putri kita menjadi istri seseorang memang benar adanya, tapi kalau memang sudah ada yang menjemput, untuk apa di antar. Kami sama sekali tidak berniat untuk bagaimana-bagaimana, kami hanya ingin moment pertunangan Jovi dan Ernest menjadi kebahagiaan kita semua."
Sedikit lama menunggu jawaban papa Jovi. Laki-laki berkacamata tersebut menganggukkan kepala.
"Woooo... alhamdulillah," papa Jovi tersenyum bahagia.
"Terima kasih banyak Om, semoga acara saya dan Suster Jovi berjalan lancar," Ernest bersama Tuan Toni adu pundak sambil tersenyum.
Papa Jovi tidak kuat menahan tawa, begitupun Jovi dan mamanya. Seharusnya keluarga Jovi yang lebih bahagia namun kali ini justru terbalik.
"Tuan Ernest, seharusnya kami yang begitu bahagia. Atas kebaikan Tuan Toni dan Tuan Ernest, saya juga mengucapkan terima kasih banyak ya," mama Jovi tak kalah bahagia.
"Saya juga sangat senang san (besan).. Tidak menyangka Ernest bisa mendapatkan perempuan seperti Jovi, di mana kadang ketika saya melihat Jovi di situ saya juga seperti melihat mendiang istri saya. Sabarnya Suster Jovi ke Ernest sama persis seperti dulu mama Ernest ke saya, kalau saya ngambek gitu, sudah bingung dulu mamanya Ernest," Tuan Toni terbawa suasana.
"Papahhh..," Ernest memandang papanya. Tuan Toni mengernyitkan dahi.
"Hahaha, ini kok malah saya jadi curhat ya?? intinya saya dan Ernest bahagia hari ini," suara Tuan Toni menggelepar.
"Hehehehe..," semua ruangan langsung di isi oleh semua keluarga di ruang tamu.
Jovi tidak pernah sebahagia ini. Apabila di luar sana banyak orang mencari menantu dari segi bebet, bibit, bobot tapi tidak untuk keluarga Wijaya.
Hari pertunangan di tetapkan tanggal 15 Juli 2020, bertempat di Hotel JW. Marriot, pada pukul 19.00 WIB. Di hadiri oleh kerabat, sahabat, serta teman se jawat.
Papa mama Jovi serta Tuan Toni masih tampak asyik berbincang. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30, sebentar lagi Jovi akan mengikuti test di rumah sakit.
Jovi berpamit.
"Tuan besar, maaf saya harus permisi dulu karena habis ini mau ikut test tulis di rumah sakit Intan Medika."
"Apa rumah sakit Wijaya?."
"Bukan tuan besar, rumah sakit Intan Medika," ulang Jovi sedikit malu.
"Ouhh.. iya, nggak papa. Kirain rumah sakit Wijaya, kalau RS Wijaya nggak perlu ikut test, depan kamu sudah komisaris utamanya itu," Tuan Toni melirik Ernest.
Mama Jovi dan suami senyum-senyum sendiri.
"Apa sih papa ini?," protes Ernest.
"Suster Jovi siap-siap aja, setelah ini saya antar ke rumah sakit, " Jovi mengangguk menuruti perintah tunangannya.
Di dalam kamar, Jovi mempersiapkan diri. Tidak ada yang istimewa dengan penampilannya.
Jovi mengenakan celana kain warna hitam, baju hijau tosca, rambut panjangnya di gerai cantik ke belakang. Satu bolpoint, tipe x, ada pada tas selempang warna coklat yang di bawa.
Setelah siap, Jovi bergegas jalan ke ruang tamu. Obrolan santai papanya dan Tuan Toni masih berlangsung hangat. Jovi membenahi poni, Ernest nampak tersenyum.
"Sudah cantik kok," goda Ernest.
"Yeeee.., kalau nggak cantik, kamu nggak bakalan mau," skakmatt papa Ernest sendiri.
"Iiiissshhh, papa nggak asik ah..!!"
Alih-alih menggoda, godaan Ernest justru di patahkan papanya. Mama Jovi dan suami geleng kepala akan kebucinan Ernest.
"Eh, itu lo Suster Jovi nungguin, jangan sibuk marahin papa. Di lihatin terus lo itu sama Suster Jovi kamu Nest, nggak sadar ya..!!,"
"Kan.. papa ini, paling bisa," Ernest tertawa, ia beranjak dari tempat duduk.
Mereka berdua pamit. Jovi mencium punggung tangan mama dan papanya. Ernest pun juga begitu. Tuan Toni mempersilahkan pergi.
Jalan mereka berdua tampak membersamai. Terik matahari langsung menyengat hebat. Kulit putih Jovi dan Ernest bak di sinari lampu.
Dari luar Pak Rahmat tersenyum menawarkan mobil. Bagian pintu mobil di buka satu, saat Ernest dan Jovi keluar pagar.
"Silahkan Tuan Ernest, Suster Jovi."
__ADS_1
Jovi melihati Ernest. Isyarat mata perempuan cantik tersebut menanyakan akan naik mobil mana.
"Naik mobil tuan yang ini ya, ini kuncinya." Jovi memberi ke Ernest cepat.
"Boleh, saya juga belum pernah lo naik mobil kamu Suster, cobain yaa...!!," Ernest tertawa.
"Mobil Tuan, bukan mobil saya."
Ernest menggeleng kepala. Ia tetap menyebut bahwa itu mobil kakak Aqila. Jovi dan Ernest pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Honda Jazz.
Kendaraan putih tadinya milik Jovi, beralih menjadi milik Ernest. Di mana sampai sekarang, Jovi tidak mengetahui, Ernest pernah menolong dia saat menjual mobil.
Mobil keluar kawasan perumahan. Lambaian tangan Jovi ke arah Pak Rahmat sangat sopan. Sopir kebanggaan Tuan Toni melambaikan tangan.
"Hati-hati Suster Jovi dan Tuan Ernest."
Kawasan kota Surabaya nampak menyambut ganas. Matahari di atas bumi, tidak pandang bulu membakar semua yang ada di bawahnya.
Terik matahari sampai berhasil menyusup kaca mobil. Ernest baru pertama kali, menyetiri mobil sendiri pada jam kerja siang hari.
"Nanti setelah selesai test dari rumah sakit buruan balik. Suster Jovi saya tunggu di lobby depan saja, nggak usah lama-lama, kalau ada yang ngajak, tetap langsung pulang dan jangan mau."
Nada bicara Ernest tegas. Pandangan mata Jovi merasa tidak percaya, sampai ia menoleh ke arah Ernest.
"Baik. Tuan sepertinya ada sesuatu? kenapa? Tuan habis marahan dee-ngan Dok-teer."
"Nggak, nggak papa. Cuma saya sudah tidak mau lagi melihat ada laki-laki lain yang mempermainkan rambut kamu bak anak kecil seusia Aqila seperti saat mengantar surat lamaran kerja."
Jovi mengangguk.
Ernest ternyata masih ingat. Bagaimana sikap manis Dokter Nalen memperlakukan tunangannya tersebut seperti anak kecil.
"Jika bukan karena gosip murahan yang sedang panas-panasnya di luar sana, dan harus ada pengalihan isu.. Saya tidak sudi, kamu bekerja di RS itu Suster Jovi. Bertemu laki-laki yang belum bisa menerima kenyataan, dan menganggap dirinya diciptakan Tuhan hanya untukmu." gerutu Ernest dari hati.
"Nanti, atau saat ada kesempatan, saya akan beritahu Dokter Nalen jika saya sudah memiliki tunangan. Sebelumnya Dokter Nalen memang tidak tahu, jadi mungkin sikapnya masih seperti biasa."
"Yaaa.. betul itu, kasih tau saja. Biar dia tahu, Jovi Andrianita bukan miliknya lagi." jawaban Ernest sangat enteng.
Jovi melirik Ernest, ia tahu Ernest sedang cemburu. Pandangan laki-laki tampan tersebut menatap ke luar jalan, seolah fokus mengendarai mobil.
Sikap Ernest benar-benar berubah tidak hangat. Ingatan Ernest ingat betul bagaimana Dokter Nalen mengambil kerah baju Ernest dengan sangat kasar.
"Nggak kok, siapa yang cemburu..!! hanya kurang suka dengan Dokter Nalen saja," intonasi Ernest sangat cepat membuat Jovi tertawa.
"Itu namanya cemburu," Jovi tersenyum.
"Cupp," Jovi mencium pipi kiri Ernest.
Tak pelak, perbuatan Jovi meluluhkan hati. Ernest terkejut akan ciuman tiba-tiba dari bibir Jovi. Senyum Ernest tampak mengembang.
Muka kesal, bibir manyun, hilang semua. Jovi merapikan lipatan baju pada lengan Ernest. Hidung mancung Ernest menyusup cepat, mencium pelipis kepala Jovi sembari tersenyum.
"Saya tetap selalu akan mencintai Tuan tidak ada yang lain," kata Jovi pelan.
"Terima kasih, cupp," Ernest mencium lagi.
HALAMAN RS. INTAN MEDIKA.
Perjalanan kurang lebih memakan waktu 45 menit. Mobil putih Honda Jazz di bawa Ernest masuk pelataran rumah sakit.
Parkir luas, menyumbang kebebasan menaruh mobil. Jovi keluar dari pintu mobil. Ia menunggu Ernest atret mobil masuk ke dalam barisan.
Tidak ada yang aneh, semua pengunjung rumah sakit tampak tidak merespon. Kehadiran Ernest tidak begitu di ketahui mereka.
Ernest menghampiri Jovi.
"Kamu sudah menyiapkan perlengkapan test suster?,"
"Sudah tuan, ada di dalam tas." Jovi jalan masuk lobby.
Kehadiran Ernest mulai di ketahui banyak anak. Di depan pintu masuk rumah sakit, banyak perempuan berdiri saling adu punggung menanti jadwal masuk.
Beberapa anak yang sadar bahwa di samping Jovi adalah putra Toni Wijaya, pandangan mereka tidak berkedip. Sesekali ada yang membandingkan foto Ernest di internet dan secara asli.
"Itu Jovi mantan suster Ernest Wijaya kan? tapi di sebelahnya itu anak Toni Wijaya ya?," bisik salah satu pelamar.
"Iya, nggak nyangka sih.. secara real life kenapa mereka masih berteman sedekat itu ya? Jovi kan pembohong, penghianat pula," timpal perempuan lagi tiba-tiba ikut bergabung.
"Eh kalian nggak tau, mungkin aja Tuan Ernest belum tau gimana aslinya Suster Jovi. Tau nggak, ternyata kan Suster Jovi juga yang jadi perusak hubungan Tuan Ernest dan Meghan juga,"
__ADS_1
"Ouuhh.. ya..," beberapa kerumunan nampak tidak terkontrol mencaci.
Berbeda dengan pelamar yang tidak berita tersebut, mereka hanya menaruh pandangan kagum melihat laki-laki se tampan Ernest.
Ernest tidak langsung pergi, saat Jovi sudah ikut masuk ke anak-anak pelamar kerja yang lolos. Ernest ikut berdiri di samping Jovi.
Senyumnya sama sekali tidak mau di bagi ke orang lain. Jovi memberi senyum pada beberapa anak yang melihat ke arah dia, ada yang membalas, ada yang membuang muka.
"Tuan, tuan sebaiknya jangan di sini..!! tuan tunggu di tempat lain saja, mereka sedang melihat kita," Jovi berbisik.
"Nggak papa di sini saja. Tau juga biarin, apa ngaruhnya buat mereka, lagian kita juga nggak merugikan mereka kan." tandas Ernest.
Jovi memberanikan melihat satu persatu pelamar. Mereka tampak cantik, hanya pandangan mereka sinis.
Semilir angin di pintu masuk rumah sakit, membuat helai rambut Jovi berlarian. Ernest suka berbisik hal lucu ke Jovi, tanpa melihat sekitar mereka.
"Haii.. Jovi sudah lama?," sapa seorang laki-laki.
Ernest mengangkat kepala, Jovi pun menoleh. Yang datang tidak lain adalah Dokter Nalen.
"Dokter Nalen, iya sudah dari tadi," Jovi tersenyum.
"Kenapa menunggu di sini? ayooo.. masuk saja ke ruangan saya..!! di sini panas, gerah juga kan."
Jovi melihat Ernest.
"Di sini saja." pinta Ernest.
Dokter Nalen memandang tidak suka. Raut wajahnya tetap tersenyum ketika Jovi melihat ke arah Dokter Nalen lagi. Sebetulnya Nalen sendiri juga jengah.
"Eh, ada Pak Ernest. Selamat siang Pak Ernest," sapa Dokter Nalen.
"Kamu datang dengan Pak Ernest ya Jov?,"
"Iya, di antar tadi dengan tuan," Jovi tersenyum.
"Panggilnya kok tuan sih Jov.. jangan bilang kamu nggak nyaman ya.. hahaha bercanda Jov."
Tatapan mata Ernest sontak meradang. Laki-laki berjas putih tersebut tidak segera hengkang pergi. Jovi kurang nyaman dengan pertanyaan Dokter Nalen, ia memilih diam.
"Apa loe nggak ada jadwal praktik? barangkali ada pasien yang masih menunggu, mending masuk lagi sana," sindir Ernest.
"Tuaaann..," panggil Jovi bernada agak marah.
Jovi terkejut, Ernest tidak sopan memanggil Dokter Nalen dengan sebutan "loe".
Belum di tambah, wajah Ernest tidak memperlihatkan keramahan. Ernest enggan melihat Dokter Nalen saat itu mengenakan baju putih.
" Ya.. memang tugasnya kan. Salahnya dari mana."
"Jangan panggil Dokter Nalen dengan loe gue tuan. Selama ini Dokter Nalen tidak pernah memanggil dengan sebutan loe, loe, gue, gue." Jovi menasehati.
"Pernah kok, dia bilang itu wakk,"
"Sudah, sudah Jov nggak papa. Panggilan loe, gue mungkin itu sudah biasa bagi Pak Ernest. Tapi tidak dengan kita, Pak Ernest masih butuh pemahaman lebih kenal kamu secara mendalam. Sudah, jangan marah-marah ya." Dokter Nalen melerai.
Jovi berfikir ulang, pertemuan Ernest dengan Sandi memang lebih sering menggunakan kata loe, gue. Apa yang di kata Dokter Nalen betul.
"Maaf Dokter Nalen," Jovi tidak enak.
"Nggak, nggak papa kok." senyum Dokter Nalen terlihat sangat tulus.
"Lo.. Dokter Nalen pernah kok Suster, malah dia duluan yang lebih awal manggil saya dengan panggilan loe. Kalau saya menyesuaikanlah."
"Kapan ya Pak Ernest? se ingat saya kok nggak pernah, saya saja baru kedua kali ini kan bertemu anda, waahhhh.. kok malah seperti lomba mengarang begini ya," bantahnya.
Pembelaan Ernest tidak di hiraukan Jovi. Perempuan cantik tersebut mengingat, pertemuan Ernest dan Dokter Nalen memang baru dua kali ini.
"Dia bohong Suster, sepulang dari Malang, dia pernah berkata ke saya, memperingati saya seperti preman," Ernest menjadi pusat perhatian ke dua kali.
"Kapan? hey.. saya memang di rumah Jovi saat itu Pak Ernest, tapi saya pulang lebih dulu."
"Sudah, sudah, berhenti..!! ini banyak orang, Tuan, tuan tahan jangan marah-marah di sini," Jovi menggenggam tangan Ernest pergi.
Sepasang kekasih tersebut meninggalkan lobby rumah sakit. Wajah Ernest memerah padam bukan malu, namun menahan amarah.
"Kurang ajar, bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta." Ernest sangat kesal.
Dari kejauhan bersama dengan pelamar lain, Dokter Nalen menyungging senyum berhasil.
__ADS_1
Jovi dan Ernest menghilang dari arah pintu koridor lain rumah sakit. Fokus Jovi terbagi sebelum masuk mengikuti test. Ernest di tenangkan lebih dulu.