
Malam ini, jalanan kota Jakarta seolah mengerti dengan apa yang baru saja Jovi dan Ernest alami. Ramainya Jakarta beberapa jam yang lalu, sudah tidak terlihat lagi ketika mereka kembali.
Entah sopir yang sengaja mencari jalan pintas lain, yang jelas dua mata Jovi melihat jalanan tidak seramai sebelumnya. Ada hati yang sama-sama terluka malam ini, namun suster cantik tersebut, lebih terlihat tegar di bandingkan dengan Ernest.
Tidak ada hal banyak, yang bisa di lakukan Jovi kembali. Dia hanya berusaha, bola matanya tidak mengeluarkan air mata lagi. Sepinya jalanan Jakarta di paksakan Jovi untuk menghibur hatinya. Meski sebetulnya itu hanya sekedar penguatan.
Semua yang terjadi malam ini, mengantarkan lamunan perempuan cantik tersebut mengingat rumah. Walaupun bayang kemarahan papanya menghantui, namun senyum adiknya Aqila, juga mengikuti.
Menunggu pagi, adalah harapan terbesar Jovi. Selain kontrak kerjanya selesai, Jovi juga sudah melakukan semuanya. Hanya tinggal menunggu besok, Jovi berharap semua akan kembali normal.
"Triiingg.. tinggg.. tingg..."
PAPA MEMANGGIL....
Jovi membalikkan ponsel miliknya, di mana tadi ponsel tersebut ada di saku baju perempuan cantik tersebut. Tertulisnya panggilan masuk dari papa Jovi, membuat Jovi langsung buru-buru menyeka air matanya.
"Hallo pa.."
"Hallo sayang ini mama, bukan papa."
"Mamah...??," suara Jovi terdengar serak memanggil.
"Mama kok belum tidur?," air mata Jovi terlihat di seka.
"Belum, ini barusan nidurin Aqila..!! Jovi.. nggak tau kenapa tiba-tiba mama kepikiran kamu nak, apa kamu baik-baik saja Jov? kamu belum pulang nak? kapan pulang?."
"Jo-Jovi baik-baik aja mah, Jovi nggak papa kok, mu-mungkin cuma perasaan mama aja, tapi yang jelas Jovi udah pengen pulang mah," akhirnya tangis Jovi pecah.
"Besok mah, besok Jovi pulang," imbuhnya masih di ikuti tangis.
"Ya Tuhan Jov, kamu kenapa sayang? ada masalah apa? dengan siapa? Jovi, papa bilang kamu resign dari kantor? apa itu yang membuat kamu sedih sayang? tekanan kerjanya kelihatannya banyak ya Jov?."
"Nggak mah, Jovi nggak sedih gara-gara itu, resign dari kantor Pak Fictor memang sudah pilihan yang Jovi ambil mah, di sana bukan tekanan kerja yang berat mah, tapi tekanan mental."
"Rockeeeeeeeeeerrrrr..... waaaaaaaaaaaa..... treng teng treng teng... waaaaaaaaaa..... dont let me.. yaaaaaaaaa,"
Suara musik rocker yang sengaja, di putar oleh tangan Ernest.
"Aahhh....," Jovi langsung menutup telinganya.
Akibat musik keras, dengan sengaja di putar tangan Ernest. Penjelasan Jovi jika dirinya sudah tidak bekerja di Semesta Grup, benar-benar di lewatkan oleh Ernest.
Mendengar nama Fictor di sebutkan oleh Jovi, tak hayal membuat Ernest kembali meradang. Tape music yang ada di dalam mobil, lebih di sengaja lagi, di putar se kencang mungkin oleh putra Tuan Toni tersebut.
Semakin ke kanan, semakin cepat tangan Ernest memutar volume musik, walau tanpa ada izin dari Jovi. Sopir juga nampak terkejut, atas apa yang dilakukan oleh putra kaya Tuan Toni.
Jovi langsung menyadari, bahwa musik rocker yang di putar Ernest, merupakan bentuk protes maupun kode, untuk menyudahi percakapan antara Jovi dan mamanya.
Barang kali Ernest merasa terganggu, dengan apa yang di lakukan Jovi malam ini. Apa mungkin karena Jovi yang tidak meminta izin terlebih dulu, sehingga memantik kemarahan rival besar Fictor tersebut.
"Jovi, itu suara apa? kenapa ada musik se keras itu, aduuh.. telinga mama sakit," mama Jovi merasa terganggu.
"Mah.. udah dulu ya? pokoknya doa'in Jovi ya mah, semoga secepatnya Jovi bisa dapat kerja, daaa... mamah, Jovi sayang mamah,"
"Mama juga sayang kamu nak, jaga diri baik-baik Jovi, love you."
"Love you too ma tuuut." telepon di tutup.
Sesudah percakapan di selesaikan oleh kakak cantik Aqila tersebut. Ernest langsung menekan tombol off. Sopir yang menemani kepulangan mereka berdua, hanya bisa geleng kepala atas kelakuan gila Ernest.
Sekarang terlihat, gantian Ernest yang mengambil ponselnya. Entah siapa yang akan dihubungi, namun yang jelas tidak ada panggilan masuk ke nomer telepon Ernest saat itu.
Ternyata, Ernest mencari dua kontak telepon travel agent yang melayani tiket penerbangan dan kereta api. Tak puas, ada beberapa kontak baru, yang di searching Ernest dari mesin google.
Apa yang baru saja, di dengar telinga putra tampan Tuan Toni tersebut. langsung membuat Ernest berkeinginan, mengirimkan Jovi kembali pergi ke Surabaya.
"Hallo, apa benar ini dengan Kohana travel." Jovi mendengarkan suara Ernest.
"Ya, untuk besok saya bisa pesan tiket terbang tujuan Surabaya, saya minta fist class ya ? bisa? penerbangan memakai Garuda Indonesia, atau citilink juga boleh?."
Di sadari atau tidak, menerima telpon dari salah satu travel, seperti bentuk pengusiran halus Ernest kepada mantan suster cantiknya tersebut.
Jovi sudah terlihat pasrah, jika memang kepulangannya sudah tiba, mungkin kembali ke Surabaya adalah obat untuk semua. Menjalani kembali hidup, tanpa bayang-bayang Ernest lagi.
Perempuan cantik itu, sudah tidak memiliki harapan banyak, apalagi setelah sikap Ernest yang terlihat begitu dingin padanya. Sekarang Jovi tak hayal seperti Meghan ke 2 di hadapan putra Tuan Toni tersebut.
__ADS_1
"Ouh tidak bisa, kalau yang lain?."
Ernest tampak mendengarkan alasan yang di nerikan oleh admin travel dari telponnya.
"Jadi sementara tidak ada penerbangan Jakarta Surabaya, karena gempa bumi?." Ernest kecewa.
"Maaf pak, karena erupsi gunung di dekat bandara, maka kami mendapatkan informasi bahwa penerbangan untuk sementara waktu, di tiadakan."
"Kira-kira sampai berapa hari lagi ya mbak?."
"Kemungkinan masih belum dapat kami pastikan bapak, karena kami sendiri belum tau erupsi terjadi sampai berapa hari ke depan."
"Ouh begitu, baiklah, terima kasih untuk infonya."
"Sama-sama bapak, terima kasih sudah menghubungi Kohana Travel, kami akan memberi tahu kabar baiknya secepat mungkin, selamat malam."
"Baik." Ernest menutup telepon.
Ernest sama sekali, tidak terlihat memberi space lagi, terhadap Jovi untuk menjelaskan ulang pengakuannya.
Apa yang sebenarnya melatar belakangi Jovi di kirimkan ke rumah Ernest, menjadi suster untuk tuan muda tersebut. Sama sekali belum di ketahui olehnya.
Sakit hati lebih menguasai perasaan Ernest, dari pada menyelesaikan masalah terlebih dulu. Mengetahui jika Jovi adalah alumni rekrutmen yang tergabung dalam perusahaan Fictor, sudah sangat menyakiti hatinya.
Setelah jarum jam berjalan, lalu lalang mobil tampak berhamburan, sopir terlihat memberhentikan mobil di sekitar area jembatan.
Jovi tidak tau, tempat itu ada di daerah mana, namun yang jelas, jembatan besar nampak gagah berdiri. Menghubungkan antara Jakarta dan kota-kota pinggiran.
Setelah sopir menghentikan mobil, Ernest terlihat menurunkan diri. Kecemasan Jovi semakin menjadi. Saat Ernest terdengar membuka pintu mobil, ke mana Ernest, Jovi sama sekali tidak tau.
Jovi tau, Ernest tidak akan sudi menjawab satu pertanyaan dari Jovi. Namun yang jelas, malam ini, kekhawatiran Jovi benar-benar terlihat dari arah mata, yang mengikuti Ernest.
"Tuan.. tuan mau ke mana?."
Jovi tidak peduli, perempuan cantik tersebut masih bertanya, akan ke mana tuan mudanya.
"Tuan, ini sudah malam, tuan bilang besok tuan pergi meeting, tuan mau ke mana lagi?." bibir Jovi menurun ke bawah menahan tangis.
"Pak, tolong nanti antarkan dia ke apartemen, di kamar yang sama seperti tadi bapak menjemput saya ya?," Ernest tak melihat ke arah Jovi.
"Baik tuan, saya akan segera melaksanakan perintah Tuan Ernest."
"Tolong kalau nanti sudah sampai, kasihkan kunci ini ke dia."
"Ba-ik tuan," sopir melihat ke arah Jovi dengan merasa tidak enak.
Jovi semakin bingung, satu sisi dirinya ingin tetap Ernest kembali ke apartemen. Namun, semua pengakuan yang terlontar dari mulut Jovi, mengubah tatanan kepulangan mereka.
"Tuan, saya mau ikut tuan, tuan mau ke mana? tuan nanti pulang dengan siapa? tuan, saya khawatir dengan tuan Ernest? tuan," Jovi mencoba membuka pintu.
"Jalan pak, pulang." Ernest menyuruh.
"Tuan,"
"Jalan pak, saya bilang jalan, jalan sekarang," Ernest membentak.
"Baik tuan," sopir langsung menekan kunci pintu mobil, membuat Jovi tidak berhasil keluar.
"Pak, pak, berhenti pak..!! Pak, kasihan Tuan Ernest pak, pak tuan mau ke mana ?, pak.. berhenti..," tangis Jovi menepuk'i pundak sopir.
"Nona, maafkan saya, saya tidak berani membantah perintah tuan, nona Jovi tidak perlu khawatir, Tuan Ernest akan baik-baik saja."
"Dari mana bapak tau? Tuan Ernest sedang tidak enak hati, saya takut terjadi apa-apa dengan tuan Ernest, saya takut pak, saya lagi yang di salahkan, saya ingin pulang saja, saya lelaaaaaaahhh pak.."
Dengan tangan yang sudah tidak sanggup lagi memukul pundak sopir, Jovi melemahkan tubuhnya, karena tangisnya kembali mengurai.
Malam ini, Ernest benar-benar tidak memanusiakan perempuan yang sudah di cintainya itu. Lama-lama Jovi terlihat menyerah, Ernest tidak bisa di kendalikan seperti dulu, laki-laki tampan tersebut, sangat bersikap acuh tak acuh.
Lewat kaca belakang mobil, Jovi melihat Ernest berjalan menyusuri bawah jembatan. Di mana tenangnya air laut menemani langkahnya. Ernest mencoba menenangkan hati.
"Tuan, se tega itukah tuan dengan saya? hiks.. hiks.... Tuan Ernest, maafkan saya, malam ini, saya membalas lamaran dari tuan tidak dengan jawaban, tapi justru dengan pengakuan." mata Jovi sembab.
Jovi tidak tahu lagi harus melakukan apa. Tubuhnya terasa sudah tidak bertenaga. Nikmatnya hidangan seafood dari restoran Enmaru, sekarang hanya tinggal sisa.
Semua seperti mimpi, mobil berjenis masih sama, kali ini mengantar kepulangan Jovi penuh dengan tangis. Sedang keberangkatan mereka tadi, Ernest dan Jovi terlihat sama-sama bahagia.
__ADS_1
Bertandangnya Jovi ke Jakarta, merupakan mimpi indah sekaligus mimpi buruk. Hatinya remuk, hanya raganya yang masih utuh. Tangisnya pecah, hanya matanya yang masih menyala. Jovi sedang di landa dilema.
************************
JEMBATAN JAKARTA.
Di lain tempat ada Ernest yang tak kalah sakit hati. Meski tidak se emosional Jovi. Ernest lebih memilih untuk banyak diam, dari pada membuang energinya untuk berbicara.
Ernest merasa, jika dirinya mendengar Jovi berbicara, emosinya akan kembali naik, apabila Ernest menanggapinya. Untuk itu. Ernest ingin memberi waktu pada dirinya, menerima semua kenyataan pahit, yang baru di alaminya.
Bagaimana mungkin, mereka masih bisa tertawa saat Ernest masih menunggu reservasi meja di restoran selesai. Tak di sangka, badai kenyataan datang, merobohkan semuanya.
Jalan kaki Ernest terlihat pelan, tangannya memegang pembatas pinggiran jembatan. Kakinya berusaha di tegakkan, meski tubuh Ernest seperti ingin tersungkur.
"Jovi... se begitu pentingnya uang kah, sehingga kamu menghalalkan semuanya hanya untuk uang. suster.. bukan, Jovi bukan suster kamu lagi Ernest. Kenapa kamu mau saja di beri perintah bodoh seperti itu dengan Fictor? pasti uang dan uang yang Fictor iming imingkan." Ernest meremas tangan.
Hamparan laut lepas, menemani pekatnya langit memayungi semua insan berjalan ke alam mimpi di malam ini. Meski kadang ada air surga tak sengaja terjatuh, langit tetap saja hitam.
Lewat kacamata Ernest, laki-laki tampan tersebut mulai sadar, tidak seharusnya Ernest mengatakan, lalat lebih berharga jika di sandingkan dengan Jovi.
Lamunan Ernest mengajak kembali bernostalgia, saat Jovi hampir menangis ketika mendengar satu nasehatnya, sampai sekarang juga masih di ingat Jovi.
"Fictor, Fictor, ya.. Fictor tidak mungkin menyuruh suster Jovi secara cuma-cuma hanya untuk menemani kesembuhan kamu Ernest, kematian Helen, kematian Helen tidak akan semudah itu di lupakan oleh Fictor," Ernest mulai membuka fikirannya.
Beberapa tahun silam, meski kecelakaan mantan kekasih Fictor bukan di karenakan Ernest. Polisi dan pengadilan juga membenarkan, jika mobil yang di gunakan menabrak adalah mobil Ernest, namun yang mengendarai adalah teman Ernest.
Tetapi sampai sekarang, setiap pertemuan Fictor dengan Ernest, atasan Semesta Grup tersebut, selalu tak merasa sungkan lagi, mengatakan jika Ernest adalah pembunuh.
Permasalahan mulai terang, rusaknya perekrutan calon perawat rumah sakit Wijaya, dan persebaran berita hoax di waktu yang sama, pelakunya tak lain tak bukan adalah Fictor.
Ernest berencana, ingin memperkarakan kejadian yang pernah mencoreng citra baik keluarga Wijaya. Namun di sisi lain, Ernest tidak tega, keselamatan Jovi akan menjadi tanggung jawabnya, apabila Ernest benar-benar membawa masalah tersebut ke bagian hukum.
"Suster Jovi bersalah? tapi suster Jovi hanya alat, dia di gerakkan oleh Fictor, dan Fictor, dia tidak akan segampang itu mau di jebloskan ke penjara.. apa tujuan Fictor mengirim suster Jovi ke rumah? Suster Jovi adalah suruhan Fictor, tapi kenapa suster Jovi justru membuat pengakuan,itu sama halnya dengan dia bunuh diri..!!,"
"Jika Fictor memerintahkan sesuatu, tapi sampai akhir masa kerja suster Jovi selesai, tidak terjadi sesuatu, apa itu berarti suster Jovi gagal menjalankan misinya? ataauuuuuu.....," Ernest berburuk sangka.
"Atau ada misi lagi, yang Fictor rencanakan bersama anak buahnya itu, haaaaaahh...," dirinya membuang nafas.
Nampaknya putra tampan Toni Wijaya tersebut belum bisa menyadari, pengakuan Jovi adalah tanda jika suster cantiknya tersebut, sudah merasa berdosa terhadap Ernest dan keluarga.
Perasaannya kadang berubah ubah, hampir setengah hatinya merasa tidak yakin, apabila Jovi adalah perempuan yang keji dan memiliki banyak tipu muslihat, hanya untuk mendapatkan uang.
Namun sebagian kecil hati Ernest, sudah tidak bisa yakin sepenuhnya terhadap Jovi. Untuk membuat hati kecilnya tidak bergelut dengan keyakinan Ernest. Tangan Ernest meraba mencari ponsel.
Dari pengakuan yang Ernest tangkap malam ini. Jovi mengaku apabila dirinya terpaksa melakukan keinginan Fictor, karena terjebak dengan hutang akibat bisnis papa Jovi yang bangkrut.
Kebangkrutan papa Jovi di jadikan putrinya tersebut, sebagai alasan pengakuan. Benar atau tidak, Ernest mencoba mencari tahunya sendiri.
Nama Ghazi berhasil di temukan Ernest, untuk membantu laki-laki tampan tersebut, mencari tahu asal usul Jovi yang sebenarnya.
"Tuutt...," panggilan tersambung.
"Hallo, selamat malam Pak Ernest, ada yang bisa saya bantu?."
"Hallo Ghazi, aaa.. papa sedang tidak menugaskan kamu ke mana-mana kan?."
"Tidak pak, kenapa?."
"Begini, tolong ya, kamu jangan bilang ke papa, saya mau minta, tolong kamu cari semua info dan identitas mengenai perempuan bernama Jovi Andrianita, dia dulu merupakan mahasiswi Stikes Wijaya, data lainnya seperti alamat rumah dan lain-lain, kamu minta ke staff HRD saja."
"Baik pak, saya akan mengambil semua berkas besok di RS, dan mulai mencari tahu info tentang perempuan yang bapak maksud." Ghazi dengan tegas menerima perintah.
"Baik, terima kasih ya? saya berharap semua kabar yang kamu bawa, adalah kabar baik Ghazi." Ernest sedih mengingat Jovi.
"Sama-sama pak, maaf Pak Ernest, apa ini adalah perempuan spesial bapak? selama ini, saya jarang menerima perintah seperti ini, dari Pak Ernest hehe," goda Ghazi tidak tau waktu.
"Spesial bukan hanya perempuan, martabak juga spesial, menu di restoran juga banyak embel embel spesial."
"Hahaha.. bisa saja Pak Ernest, baik, baik pak, saya rasa ini sudah waktunya bapak beristirahat, agar besok kembali kerja, selamat malam Pak Ernest."
"Iya terima kasih Ghazi, selamat malam kembali, tuut...," Ernest menutup telepon.
Ernest hampir lupa, bahwa malam ini dirinya sama sekali belum sempat beristirahat. Kata-kata dari Ghazi membuat Ernest kembali ke apartemen.
Pukul 23.00, Ernest baru pulang dari tempat menenangkan diri. Laki-laki tampan tersebut, berhasil meninggalkan kebiasaan buruknya, untuk tidak bermabuk saat ada masalah.
__ADS_1
Ernest lain dulu, lain sekarang. Kehidupan mengantarkan Ernest pada kedewasaannya. Meski masih sakit hati dengan Jovi, ternyata Ernest juga masih mencemaskan suster Jovi.
Lewat taksi biru yang mengantarnya malam ini. Ernest sudah terlihat turun, masuk ke dalan lobi, dan masuk ke dalam lift, menuju nomor 156.