Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
68. Meminta Kesempatan Kembali


__ADS_3

"Siapa?." teriak Ernest sembari merapikan berkas.


"Saya tuan."


"Bibik ? bentar bik, beresin kerjaan dulu."


"Toook.. took.. tokk...," pintu di ketuk terus menerus.


"Iya.. iya.. sabar."


Ernest tidak memperdulikan. Ia menyelesaikan menutup laptop, Merapikan semua file, baru Ernest jalan membuka pintu.


"Habis dari mana aja sih Bik..? kok nggak ada orang di rumah." gerutu Ernest sembari jalan.


"Cekleeek..," pintu di buka.


Gerutu se cepat pesawat jett tadi langsung tidak terdengar. Tangan putih Ernest tidak turun berpindah masih memegang gagang pintu.


Kaos biru kombinasi abu-abu yang di kenakannya sore itu nampak terlihat. Ernest hanya menggunakan celana pendek warna hitam ukuran se lutut. Kakinya menggunakan sendal jepit hitam merk zandilac.


Tidak menyangka ia datang lagi ke sini. Wanita yang selama ini di perkirakan Ernest tidak akan melangkahkan kaki ke rumahnya. Hari ini benar-benar datang.


Ernest langsung membuang muka. Tatapan malas di tunjukkan oleh Ernest. Kehadiran Meghan sore ini sama sekali tidak di harapkan putra tampan Tuan Toni itu.


Mantan sekertaris Ernest tersebut langsung memberi senyum. Rambut coklatnya tergerai di belakang pundak. Meghan tampak menenteng satu tas hitam ukuran laptop pada tangannya.


"Meghan, ada apa lo ke sini?."


"Bohong ya loe..?? sengaja panggil gue Tuan, biar gue bukain pintu." telunjuk Ernest menunjuk sengit.


Ernest merapatkan ke dua daun pintu rumahnya. Tadinya yang begitu lebar, di buka hanya seukuran tubuh Ernest.


"Cupp..," Meghan mencium langsung Ernest.


"Meghan.....," dorongnya.


Sorot mata Ernest tak ubah geram. Ia mengambil tisu kering di meja ruang tamu. Pipi Ernest di gosok geli. Bukannya malu, Meghan justru berwajah cengengesan.


"Ya karena gue tau, kalau gue datang mengatas namakan Meghan, loe nggak bakalan mau buka pintu ini.. panggil tuan itu kan HAK semua orang?."


"Nggak, itu berlaku cuma buat loe aja.. ada apa sih ke sini? kerjaan? atau yang lain? mending kalau selain pekerjaan, pulang aja deeh..."


Ernest mempersempit ruang gerak Meghan. Wajah Ernest di sembunyikan separuh pada belakang pintu.


"Ernest.. loe lama ada di Jakarta? gue rindu banget sama loe Ernest.. hampir semingguan lebih loe nggak masuk ke kantor."


Meghan tidak bisa memeluk Ernest. Sebab tubuh Ernest sengaja di apit oleh dua daun pintu. Kesal dengan ulah Ernest, Meghan nekat mencium lagi.


"Bruuukkk....,"


Kening Meghan terjedot pintu. Sikap sigap tangan Ernest langsung menutup pintu. Membuat benjolan merah di kening perempuan cantik tersebut.


"Ernest...," rengek Meghan manja.


Biasanya dulu saat pacaran Ernest paling suka saat Meghan berekspresi seperti itu. Laki-laki tampan tersebut pasti langsung akan memeluk. Tapi kali ini tidak.


Sebenarnya Ernest ingin tertawa, tapi ditahan. Tidak berhasil di tahan, wajah rupawannya masih menampakkan senyum.


"Ya salah loe kan..!! ada apa ke sini? kalau tidak ada apa-apa pulang aja.. gue lagi kurang enak badan, mau istirahat, kalau gue bisa ngantor kan nanti loe biar seneng.. ya..??? jadi sekarang loe pulang aja, oke?? huuss.. huss.. huss..,"


"Ya ampun Ernest, loe jahat banget sih.. gue ke sini kan mau silaturahmi."


"Ya besok pas perusahaan ulang tahun aja gue adain acara silaturahmi sama orang-orang komplek nanti loe salami semua.. udahlah Meg, boring gue.. gue mau masuk.. pulang aja sana." Ernest menutup pintu.


"Ernest, Ernest, iya iya.. tunggu..!! ini ada titipan dari Bu Eva beberapa contoh design katalog untuk perusahaan kita.. gue di minta ke sini biar loe bisa milih design katalog yang mana? nanti langsung share di whatsapp kantor."


Ernest membuka lagi pintunya. Ucapan Meghan di dengarkan secara seksama. Ernest terlihat mengangguk paham.


"Udah gitu aja kan..?? ya udah sekarang loe pulang, udah jam 5 kasihan loe nanti kalau kelamaan di sini.. rumah loe jauh kan." Ernest mengambil cepat katalog di tangan Meghan.


"Ernest gue kan, gue masih mau di sini ketemu loe.. gue sayang banget sama loe.. gue masih pengen punya kesempatan satu lagi.. pliiisss...!! kejadian di restoran yang ninggalin loe itu, beneran gue cuma lupa aja dan nggak ada niatan nggak mau dateng, seperti perkiraan loe Ernest."


Meghan menarik. Ia memegangi tangan CEO muda Wijaya Grup tersebut. Luka lama sengaja di kulik Meghan lagi demi mendapatkan kesempatan.


"Udah basi... sudah, sudah, pulang aja. males gue ingat yang dulu-dulu.," Ernest menutup pintunya masuk ke dalam kamar.


"Ernest.. buka Ernest..!!! kenapa si Nest loe nggak pernah ngasih gue kesempatan lagi? Tuhan aja selalu ngasih kesempatan bagi hamba-Nya yang salah, tapi kenapa loe nggak Nest..??."


Suara Meghan terdengar mulai berubah menjadi tangis. Ernest mendengarkan seksama, suara sesenggukan nafasnya dicampur air mata.


"Braak.. braak.. brakk...,"


"Ernest buka Ernest..!! Ernest apa loe se gampang itu membuang kebersamaan yang sudah kita lewati selama setahun bersama menjadi tidak berarti lagi.. Ernest....!!!!."


Meghan memanggil serak. Ernest tidak mau berlama-lama mendengarkan Meghan di belakang pintu. Hatinya sudah tidak bisa di kembalikan seperti dulu.

__ADS_1


Ernest masuk ke kamar.


Di dalam kamar, ia tampak menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan pelan. Sedikit terbawa suasana atas masa lalu yang sempat di lontarkan Meghan.


Sakit hati Ernest masih ada sampai sekarang. Meghan yang bisa meyakinkannya, juga Meghan sendiri yang menghindari pertunangan itu.


15 MENIT KEMUDIAN...


"Ting.. tung.. ting.. tung..,"


Suara bel di imbangi lagi dengan ketukan pintu. Ernest langsung memicingkan mata. 15 menit setelah tidak mendengar tangis Meghan. Pintu rumah di gedor lagi oleh Meghan.


Kesal dari tadi peringatan pulang tidak di indahkan, Ernest langsung jalan keluar. Katalog terbanting di atas tumpukan kasur dengan katalog lain.


"Ternyata loe masih aja kaku kayak dulu.. dulu yang nggak dateng siapa di restoran siapa? sampai gue kecelakaan.. itu luka butuh kering tidak di sentuh lagi Meghan.." batinnya.


Perasaan laki-laki tampan tersebut meradang hebat. Ketukan itu seperti tidak berdosa, masih mengetuk terus menerus.


"Tuan.. ini saya tuan."


Meghan masih menggunakan cara yang sama. Memanggil Ernest dengan sebutan Tuan.


"Kreeekkkk..," pintu di buka.


"Gue udah bilang jangan panggil gue tuan, gue nggak sudi loe manggil gue tuan, tuan, tuan...!! Ternyata nyadarin loe cuma dengan kata suruhan pulang, tetap aja ngebuat loe ada di sini.. pintu ini nggak akan terbuka lagi buat elo.. atas kesalahan masa lalu loe ke gue, Paham loe?."


Sakit hati itu sangat terlihat. Wajah Ernest di buang ke samping. Tetapi telunjuk tangannya tegas menunjuk perempuan di depannya. Menjelaskan tanpa memandang.


"Tuuuuaann...."


"Masih tuan lagi?." Ernest spontan menoleh. Matanya melotot.


Air mata perempuan tersebut bercucuran. Ernest tertegun, suara lantangnya berubah lirih.


"Sussteerrrr..."


Jovi menyeka air mata.


"Saya ke sini bukan atas keinginan saya sendiri.. Tuan Toni yang meminta saya untuk menjaga anda beberapa minggu ke depan.. saya tau kesalahan saya di masa lalu memang menyakiti anda, tapi saya juga sudah menjelaskan dan meminta maaf.. Tapi...?? mungkin sakit hati itu tidak akan se cepat itu hilang.."


"Terus saya memanggil apa? kalau bukan tuan? kenapa tadi anda bisa berubah sikap, kalau memang ternyata anda sebetulnya masih sakit hati." Jovi menangis.


"Suster Jovi, suster...!! bukan seperti itu Suster Jovi.. kata-kata itu saya tujukkan untuk suster Jovi tapi untuk orang lain, sungguh suster jangan salah paham ya?."


"Tapi anda berkata pas setelah membuka pintu dan saat saya datang.. saya tidak papa tuan, saya memang salah, saya tetap pembohong."


Jovi diam. Ernest menyeka air mata perempuan cantik tak berdosa itu. Pelan namun pasti, dekapan tubuh hangat Ernest langsung meghampiri Jovi.


Putra semata wayang keluarga Wijaya tersebut memeluk erat Jovi. Ia tidak menyangka, Jovi datang lagi ke dalam hidupnya. Kembali ke Griya Indah rumah Ernest.


"Jangan menangis ya..!! saya benar-benar tidak sengaja melakukan itu semua Suster Jovi.. saya tidak menyangka kamu datang lagi ke dalam kehidupan saya.. husstt... jangan banyak nangis."


"Tapi saya takut.. Tuan Ernest sebetulnya masih sakit hati dengan saya hiks.. hiks.." pundak Ernest terasa di basahi air mata Jovi.


"Kenapa takut? saya tidak pernah sakit hati dengan kamu.. kecuali kamu meninggalkan saya lagi.. baru mungkin saya akan sakit hati." Ernest mengusap lembut rambut Jovi.


"Terima kasih tuan."


Di teras rumah penyatuan pelukan dua insan tersebut terlihat romantis. Rengkuhan tubuh Ernest benar-benar menenangkan Jovi. Mereka berdua melepas pelukan setelah suasana kondusif.


Seperti janji Ernest, tangannya langsung mengajak Jovi jalan ke arah ruang CCTV. Selama bekerja di rumah Toni Wijaya, baru kali ini Jovi melihat ruangan CCTV rumah di beberapa komputer.


Ada 4 komputer di ruangan ukuran 5x9 meter tersebut. Beberapa sudut rumah yang di pasang CCTV, di reka ulang lagi adegannya termasuk kedatangan Jovi.


Ernest menghampiri satu komputer. Komputer itu mengawasi CCTV pagar, teras, dan halaman rumah bagian depan. Beberapa kejadian langsung di repeat Ernest.


Sebelum Jovi datang, ada sosok perempuan bagi Jovi tidak asing di matanya. Meghan tamu sebelum dirinya. Sakit hati terbersit di hati, saat pipi Ernest di cium Meghan.


"Maaf ya suster.. kenapa saya marah ? ya saya marah karena dia bukan karena Suster Jovi.. masalah sebutan tuan, tadi Meghan juga memanggil saya dengan nama tuan, saya lepas kontrol balik keluar.. marah-marah itu tadi."


"Marah-marah tapi kan sudah di cium perempuan cantik? nggak papa dong.. tetep untung kan Tuan Ernest."


"Loh.. kok Suster malah gitu sih? apa saya kelihatan suka waktu saya di cium Meghan? nggak kan? itu saya tidak tau kalau Meghan tiba-tiba nyium saya."


"Namanya laki-laki bilang se benci-bencinya juga sama saja kalau tetap mau di cium.. banyak kan di luaran sana.. yang bilangnya benci-benci.. tapi mau-mau aja.. ya namanya kucing di kasih ikan pasti mau lah." Jovi menyudutkan Ernest.


"Suster kok malah memojokkan saya sih?."


"Siapa yang memojokkan? Tuan Ernest masih ada di tengah gitu kok, bukan di pojok."


"Suster Jovi.. kenapa jadi semakin melebar gini sih masalahnya..?? Mana perumpamaannya di ibaratkan kucing ketemu ikan lagi.." Ernest kesal.


"Sekarang kan banyak seperti itu.. bilangnya nggak mau, tetep aja mau.. banyak kan yang tadinya benci juga jadi cinta lagi.. iya awalnya ciuman lama-lama nambah."


"Ya ampun Suster Jovi.. Di situ saya sudah gosok wajah saya pakai tisu loh suster.. apa perlu saya ambil gosok panci di dapur buat ngilangin ciuman dari Meghan."

__ADS_1


Bukan diam. Jovi masih ngedumel masalah yang sama. Jovi semakin sering membantah. Ernest melihati terus ke arah perempuan cantik tersebut. Sampai akhirnya Jovi salah tingkah.


Terus di lihat, terus di tatap. Jovi bingung sendiri. Cerewetnya protes pada Ernest perlahan mengendur hilang, tapi masih ngotot.


"Ya Meghan kan cantik, bisa jadi awalnya nggak mau terus lama-lama juga mau.. orang yang di paksa nikah awalnya nggak suka juga lama-lama suka.."


"Terus..??."


"Ya apalagi dalam satu kantor yang sama.. meskipun sudah di pindah bagian bidang lain.. Buktinya juga masih bisa ke sini dengan alasan masalah pekerjaan kan.. Jadi pasti akan ada kesempatan lain lagi selanjutnya.


" Iya.. terus."


"Ya te-terus.. te-terus kan bi-bisa ajaa."


"Bisa aja kenapa?."


"Aaaaaa....,"


"Aaaa... kenapa?." Ernest berdiri mendekati Jovi.


"Kenapa diam? terus dong, kenapa?." tubuh Ernest lebih dekat, semakin dekat, hingga tidak ada jarak di antara keduanya."


Dua tangan Ernest terasa melingkar pada kedua sisi pinggang Jovi. Tak ada jarak di antara mereka, badan Jovi di tekan Ernest ke arahnya. Kali ini, detak jantung Jovi bisa di dengar oleh Ernest.


Jovi tidak berani mendongak ke atas, dagu Ernest sempat menatap kepala Jovi. Laki-laki tampan tersebut mengangkat satu tangan kanannya membantu Jovi melihat ke arah dia.


"Suster Jovi.. kamu cemburu kan? kamu cemburu ada wanita lain mencium pipi saya."


Tatapan tajam mata Ernest membuat Jovi ciut nyali. Bola mata Jovi lari ke kanan kiri tidak mau melihat Ernest.


Sampai pada akhirnya Ernest berhasil membuat perempuan cantik tersebut tidak mengalihkan pandangan. Ernest lebih menghimpit tubuh Jovi ke arahnya.


"Cium saya..!! biar bekas ciuman dari dia hilang, dan hanya tersisa ciuman kamu yang ada di pipi saya."


Jovi menatap Ernest. Bibir mungil sudah lama tidak pernah di rasakan Ernest itu, mulai berani mendarat ke arah pipi kanan Ernest.


"Cup...," Jovi menciumnya.


"Hanya satu?." Ernest tersenyum.


"Cup...," Jovi mencium pipi kiri.


"Masih ada satu? ini?." Ernest menunjuk bibirnya. Jovi tersenyum malu.


"Cuppp..."


Niat hanya mengecup bibir Ernest. Saat perempuan cantik tersebut menempelkan bibir, sangat cepat Ernest langsung melahap bibir bawah Jovi.


"Eummmbb...," bibir Ernest mengulum kenyal bagian bawah bibir."


Jovi mengimbangi. Bagian atas bibir Ernest di sedot lembut namun berhasil memunculkan gairah ciuman sore itu. Bibir mereka saling berpagut, membuat suara.


"Slruuupph..," lidah Ernest mampu masuk, merampas setiap ujung lidah Jovi.


"Euuuummmb..," Jovi menikmati.


"Euummmphh..," Ernest lebih ganas menciumi.


Tangan Jovi sudah berpindah tempat. Dua tanga perempuan cantik tersebut melingkari di pundak Ernest. Kepala keduanya saling condong, sama-sama tidak mau melepaskan.


"Sluuurph..." Ernest menyedot, mengaitkan lagi lidahnya.


"Euummp.. eummpp.. euuumb."


Kali ini Ernest memainkan bagaian bawah bibir Jovi. Pindah setelah itu, lidah mereka saling mengait. Darah Jovi berpelesiran deras, tubuhnya hangat. Cengkraman di lengan Ernest semakin kuat.


Nampaknya laki-laki tampan tersebut paham, orang yang di cintainya sedang dalam kondisi birahi yang tinggi. Meski begitu, ia tetap menjaga sopan tidak mau menyentuh bagian sensitif lainnya.


Tidak sengaja Jovi lebih merapatkan lagi tubuh ke Ernest. Pertahanan Ernest goyah, senjata bawahnya di senggol terasa berdiri kuat.


Lagi-lagi karen harus mengimbangi Ernest. Kadang kakinya jinjit, lalu balik berdiri biasa, tidak sengaja perlakuan itu menggesek dari luar senjata Ernest dengan sering.


Jovi tidak menyadari, rasa hangat juga langsung ikut menjalar ke tubuh Ernest. Gairah mereka semakin tinggi.


"Euummb...," Jovi jinjit lagi. bibir Ernest di basahi dengan lidahnya. tubuh Jovi di turunkan lagi.


Mata Ernest terbelalak. Jovi sering melakukan hal tersebut. Gesekan itu kadang membuat mata Ernest terpejam dan lupa diri.


"Aduuh.. Suster Jovi kamu membuat bahaya.. pusing ini kepala Jov."


Leher Jovi menjadi sasaran utama sedotan kecil membekas merah. Belitan lidah dari Ernest, menjadikan bulu kuduk Jovi merinding.


"Allah hu akbar... Allah hu akbar.. Allah hu akbar.. Allah hu akbar." suara adzan maghrib terdengar.


Mendengar adzan, Ernest langsung menyelesaikan ciumannya. Terakhir ia menaruh kecupan pada kening dan kedua pipi Jovi.

__ADS_1


Suara toa masjid baru menyadarkan ke dua insan tersebut.


__ADS_2