
Dari luar ruangan Jovi menunggu Ernest lama.Ia sudah lelah menonton tayangan televisi. Kedua kakinya berirama saling membuat ketukan. Jovi melihat sekitar, meeting belum juga bubar.
Bagian punggung sudah terlihat lelah menopang tubuh. Jovi menggunakan tangannya menopang, agar tidak lelah duduk. Lama menunggu Ernest, Jovi jadi kepikiran lagi dengan ucapan Devi.
Rasa penasaran Jovi semakin berlanjut. Tatkala hal itu diketahui bukan dari Tuan Toni. Sempat berfikir buruk ke arah papa Ernest juga, tetapi tidak lama Jovi langsung menepis pemikiran itu sendiri.
"Apabila Tuan Toni yang melakukan semua ini karena sakit hati dengan kamu Jov, tentu Tuan besar tidak akan memerintahkan untuk melamar. Bukan, bukan, ini bukan dari Tuan Toni. Tidak mungkin sekali, fokus fokus Jov."
Dahinya mengernyit. Alis kedua Jovi menyatu seolah gandeng. Ia sedang bingung memikirkan dari mana sumber Devi mengetahui berita tersebut.
Sama sekali tidak ada rasa curiga ke Fictor. Jovi berulang menuduh Meghan. Hanya saja apabila Meghan pelakunya, ia tidak akan berani. Sebab Ernest pasti akan langsung memecatnya.
Jovi membuka ponsel.
Tadinya Jovi tidak jelas. Ia membuka asal-asalan icon mana akan ia pilih. Dari aplikasi whatsapp beralih ke facebook, pindah ke twitter selalu begitu. Sampai pada akhirnya, Jovi membuka web berita.
Tidak di sengaja, time line berita pada waktu itu. Memunculkan foto Tuan Toni, tampak berwibawa menggunakan jass dalam salah satu acara. Jovi tertarik dengan satu judul artikel.
REKRUTMEN BARU, TONI WIJAYA MEMBUTUHKAN SUSTER, BERIKUT KUALIFIKASINYA.
Berita itu memang berisi semua kualifikasi mendaftar sebagai suster baru tuan muda. Jovi baru menyadari, keluarga Ernest memang benar-benar terpandang.
Semua hal terkecil perekrutan suster tuan muda menjadi magnet tersendiri bagi para pengguna sosial media. Pada kolom komentar, Jovi menemukan beberapa netizen menanyakan mengapa di lakukan perekrutan lagi.
Jovi sebenarnya takut, membuka lebih lanjut semua komentar. Ia penasaran, Jovi sungguh tidak menyadari, apabila semua yang di lakukan keluarga Wijaya sebagian menjadi sorotan publik.
"Kenapa harus ada perekrutan lagi sih? bukannya suster yang di terima kontrak kemarin sudah melalui banyak test, gajinya juga udah pasti gede, hadewhhh.. sini we aja yang ngelamar," tulis akun @rian_mustikapratiwi.
"Ehh.. loe pada nggak tau, si suster yang ketrima kemarin tu denger-denger katanya bermasalah, mungkin itu yang membuat Toni Wijaya cari pengganti lagi." jawab akun sok tau @florasweat.
"Wahhh.. andai dulu gue alumni Stikes Wijaya, umur gue masih mencukupi mending gue aja deh.. siapa sih susternya namanya? dia juga katanya dulu ada masalah waktu perekrutan, tapi gue nggak tau pas perekrutan apa?," imbuh akun @dewikunti.
(Maaf ya.. kalau author pinjam nama kalian untuk jadi netijen wkwk 😆 )
Semakin ke bawah komentar tersebut semakin menyesakkan. Jovi tidak mau melanjutkan, matanya berubah pandangan, mencari artikel sama.
Viral..!!! Perekrutan Suster Tuan Muda? Ada apa dengan Suster Jovi?
Sembari menunggu loading internet. Jovi di liputi pusing, kehidupan di sekitarnya terlihat normal namun tidak ketika di sosial media.
Berhasil membuka artikel, Jovi mulai membaca bagian atas artikel mengenalkan nama lengkap perempuan cantik tersebut. Semakin lanjut
"Doooooorrrrr..."
"Hah...???," Jovi terkejut.
Ernest datang dengan jahil. Wajah Ernest sangat sumringah.
"Tuann.., nggak lucu," nada Jovi sengit. Dahinya mengernyit tanda ia sedang serius.
Jovi memfokuskan lagi matanya ke layar ponsel. Beberapa rekan meeting sedang lewat di depan Ernest, tampak memberi senyum. Hasil meeting membuat mereka puas.
Ada Devi menyusul di belakang Ernest. Berpamit kembali ke Surabaya dengan sopir kepercayaan Ernest. Putra Tuan Toni tersebut mempersilahkan Devi pulang ke Surabaya.
"Pak Ernest saya balik dulu ke Surabaya.. Kalau nanti balik, Pak Ernest dan Suster Jovi hati-hati," Devi pamit.
"Iya pasti, kamu juga hati-hati." ucap Ernest.
"Suster, Devi mau balik lagi."
"Ouh Devi mau balik, iya Devi hati-hati ya." jawab Jovi.
Devi mengangguk. Sebetulnya Devi masih merasa tidak enak dengan Jovi. Tetapi mereka berdua tidak memperlihatkan satu sama lain.
Setelah Devi pergi, Enest duduk di samping Jovi.
"Suster, kamu nggak tanya bagaimana hasil meeting saya?."
Jovi menggeleng kepala.
"Sayang, saya lagi seneng banget hari ini. Mau tau nggak kenapa?."
Ernest dikacangin. Ia melihat Jovi mengulang ulang sesuatu.
"Lagi apa sih? sibuk banget, banget itu,"
Ernest menumpangkan dagu di atas pundak Jovi. Sikap manja laki-laki tampan tersebut di lihati banyak pegawai. Ernest bodo amat. Baru di sadari, Jovi membaca artikel terkait dirinya.
Takut ada kesedihan lagi. Ernest segera merampas ponsel Jovi ke arah tangannya.
"Ehhh... tuann," Jovi berbalik menghadap Ernest.
__ADS_1
"Mana..!!," Jovi meminta ponsel. cassing putih dibelakang pinggang Ernest di coba rebut sekuat mungkin.
"Nggak boleh," Ernest menggenggam erat tangan Jovi.
"Tuan, tapi itu ponsel saya. saya mau melihat sesuatu. Tuan kan juga punya ponsel sendiri," Jovi merebut. Ponsel itu ditindih sebagian tubuh Ernest.
"Nggak boleh, kalau dibilang nggak boleh ya nggak boleh. Gadget itu nggak baik buat mata kamu sayang, yang baik untuk mata itu wortel, tomat, dan sayuran lain yang mengandung vitamin A, dan E alias Ernest."
Jovi tersenyum.
"Iya, tau kok. Taaaa-pi saya bukan Aqila yang bisa Tuan Ernest beri ultimatum seperti itu, jadi mana? sini HP'nya."
"Tidak boleh sayang,"
"Mana? cepetaan..!! Tuan Ernest jangan malu-maluin dong, kayak anak kecil begini. Malu di lihat para pegawai dan orang-orang," gerutu Jovi pas di telinga, masih berusaha mengambil ponsel.
"Pokoknya nggak boleh, Suster tau nggak, saya merasa terduakan dengan HP kamu ini, bayangin, HP cuma buatan manusia, apa istimewanya coba kan?."
"Ya sama aja, Tuan Ernest juga buatan manusia."
"Iya juga ya..!! ya tapi kan spek saya ibarat HP sudah seperti Iphone 11, bibit unggul mama sama papa. Udahlah, suster ini kalau tidak bisa di bilangi dengan kata-kata, saya beneran cium di sini lo,"
Ernest mendekati Jovi sangat dekat. Jovi mundur pelan, tubuhnya di dorong ke belakang. Ponsel berhasil ada di saku Ernest. Hitungan detik, hidung Ernest hampir menempel pipi Jovi.
"Tuan, jangan seperti itu. Masih banyak pegawai-pegawai penting yang melihat kita. Ini tempat umum Tuan Ernest."
Jovi menoleh ke ruangan sekitar. Ada salah satu pegawai tertangkap mencuri perhatian ke arah ia dan Ernest. Perempuan cantik tersebut menutup mata malu.
"Memangnya kamu kira, saya di sini bukan orang penting. Kelihatannya kamu lupa siapa saya? dan harus di sadarkan secara cepat dengan,"
"Dengan apa? nggak semua itu harus berakhir dengan ciuman. Ayoo kita ke mobil," raut wajah Jovi langsung tegang.
"Dengan ruqyah.. kamu perlu ruqyah ke pak kyai."
Jovi tertawa. Pipi Ernest di cubit gemas. Tergambar manis senyum putra tampan Tuan Toni. Berkali Ernest menabrak pundak Jovi secara manja. Jovi langsung pergi.
"Suster Jovi."
"Genit." Jovi meninggalkan ruangan.
"Tunggu dulu." Ernest berlari.
Banyak mereka mengucap kata beruntung ke arah Jovi. Dara berusia 25 tahun tersebut berhasil meluluhkan boss besar Wijaya. Mereka saling tertawa. Jovi dan Ernest terlihat sangat serasi.
Dari pintu utama kantor W-Jaya. Ernest terlihat berlari menyusul Jovi. Tanpa jass hari ini, lengan putih laki-laki tampan tersebut menyeringai di sengat matahari.
"Hayooo kena kamu..!!"
Ernest langsung meraih pinggang Jovi dari belakang. Halaman luas kantor PT. W-Jaya menyapu rambut Jovi ke wajah Ernest. Jovi tertawa.
" Tuaaaan..,"
"Apa? ini nih, yang namanya pegawai tidak tau di sayang. Udah di sayang-sayang, berani beraninya nyuekin huhhh."
"Bukaan begitu, tuan saja yang manja."
"Manjahh.. seperti siapa itu? artis yang bilang manjah. Syahroni ya suster? maju mundur syantik, syantik."
"Syahrini tuan, saya dengarnya geli kalau tuan yang bicara begitu."
Jovi tak henti tertawa. Di belakang susternya, Ernest tetap berjalan sambil memeluk Jovi. Sepi halaman, membuat Jovi tidak malu di perlakukan Ernest seperti itu.
Langkah kaki perempuan cantik tersebut tetap sama. Mereka tampak sedang bercanda. Jalan ke arah mobil, kepala Ernest tidak sengaja membentur pipi Jovi.
"Tuan Ernest, sebetulnya tuan tau kan masalah perekrutan suster baru dari Tuan Toni, yang menjadi viral di tanyakan netizen?."
"Netizen apa sih? jangan dengarkan netizen. Dengarkan apa yang dikatakan calon suamimu ini saja. Hidup itu kita yang jalani bukan mereka, ya kamu dan saya, bukan kamu dan mereka."
Ernest melepas pelukan di pinggang. Ia jalan di samping Jovi. Tangan kirinya mengusap lembut rambut Jovi.
"Ayooo makan, Suster belum kan? tadi saya sudah makan di tempat meeting. Makan di sini atau di Malang?," tanya Ernest.
"Memangnya jadi ke Malang? lihat gunung?."
"Huumb, lihat gunung bukan gunung-gunung yang lain ya..!!," goda Ernest.
"Bukan, ini gunung nyata." ketus Jovi.
"Gunung itu juga nyata," Ernest menunjuk baju Jovi.
Tangan Jovi dengan ringan mendaratkan tamparan pelan ke pipi Ernest. Kata mesum, mesum, mesum diledekkan ke arah Ernest. Jovi seolah lupa dengan gosip yang terjadi di luaran sana.
__ADS_1
Mereka berdua lalu masuk ke mobil. Pak Rahmat membuka pintu. Dan Jovi sangat sopan menutup pintu sendiri.
Halaman parkir PT. W-Jaya berangsur di tinggal. Mobil milik Ernest melaju pergi ke arah tujuan Malang. Pak Rahmat mencari tempat makan di sekitar jalan raya, hanya saja dari tadi belum ketemu.
Jovi, Ernest, serta Pak Rahmat saling asyik membicarakan makanan enak khas malang. Buah-buahan serta sayur mayur yang berkembang pesat di sana.
25 tahun Jovi hanya menghabiskan waktu dengan bekerja. Perempuan cantik tersebut bukan tidak punya uang untuk berlibur, namun keinginan membantu orang tua Jovi lebih tinggi.
Setelah makan siang, Ernest dan Jovi melanjutkan perjalanan mereka. Lelah menunggu perjalanan tak kunjung sampai, Jovi mengantuk hebat. Belum tertidur sama sekali sejak dari Surabaya.
"Pak Rahmat, kira-kira ini sampai Malang jam berapa ya pak? sore ya pak kelihatannya," tanya Ernest.
"Iya tuan, kemungkinan sore. Kalau Tuan Ernest dan Suster Jovi mau melihat gunung ya sudah tidak ada tuan. Terlalu sore juga."
"Iya juga ya pak, nggak papa lah nanti cari wisata alam lain yang masih buka di sana saja. Gimana suster? pulang atau tetap ke Malang ya?," Ernest bingung.
Ternyata Jovi tidur. Ernest melihat perempuan di sebelahnya tersebut baru memejamkan mata. Tidak tega membangunkan, Ernest tetap membiarkan Pak Rahmat membawa mobil sampai ke Malang.
Hampir dua jam perjalanan, mobil belum ada tanda-tanda memasuki kawasan kota Malang. Macet jalanan di sertai perbaikan jalan, sehingga mengganggu kenyamanan berkendara.
"Nanti Suster Jovi sedih pak, kita tidak jadi melihat pemandangan gunung. Kemana ya Pak kita, saya juga biasanya ke Luar negeri, kalau ke daerah deket-deket rumah malah bingung."
"Lebih baik Tuan Ernest cari di google tuan. Tempat mana yang tuan rasa cocok dengan Suster, pasti suster Jovi akan sangat senang."
"Ouh iya, kenapa saya tidak kepikiran sampai situ ya pak? kelamaan nggak punya pacar akhirnya bingung caranya kencan ya pak?."
"Hehehehe, Tuan Ernest bisa aja." Pak Rahmat tertawa.
Tidak lama, setelah bolak-balik melakukan googling. Akhirnya Ernest memutuskan pergi ke Batu Malang saja. Ada salah satu tempat di rasa Ernest membuat Jovi senang.
"Kita ke matu malang saja ya pak?."
"Ouh baik tuan."
Tanpa angin, tangan hujan, Ernest membenahi posisi tidur Jovi di pundak. Rambut panjang milik putri sulung Pak Yusuf di rapikan Ernest bak hair stylis.
Lama menunggu di perjalanan. Canda tawa Jovi tidak ada.Ernest menelpon Ghazi. Mobil sangat hening.
"Tuutt.. tuuut... tut...," panggilan terhubung.
"Hallo.. selamat sore Tuan Ernest."
"Iya selamat sore Ghazi. Eh Ghazi, maaf, saya ada pekerjaan untuk kamu lagi? Ada orang sengaja menyebar berita hoax dan memanfaatkan rekrutmen suster baru yang dibuat papa. Di sini suster saya Jovi yang paling dirugikan. Rasanya kurang ajar sekali."
"Maaf, maaf," imbuh Ernest mengatai.
"Kemungkinan orang yang berada di belakang hal tersebut sudah merencanakan lama tuan, dan dia memang menunggu waktu dan mencari celah yang pas tuan, jadi kemungkinan saya kira masih akan ada rencan jahat-jahat lainnya." Ghazi tak kalah jenius.
"Ya saya juga berfikir seperti itu. Apa pun itu, saya hanya ingin berita hoax ini jangan berlama-lama berada di masyarakat. Tolong Ghazi, kamu cari dari mana sumber pertama kali berita dibuat? apa nama media? hapus link-link konten hoax sebisa kamu dulu saja."
"Baik tuan. Saya segera laksanakan."
"Terima kasih ya." Ernest menutup telepon.
Menjadi orang kaya. Ernest sebetulnya tidak punya waktu mengurus hal hoax beredar di masyarakat. Semakin ke sini, Ernest semakin sadar, dari dulu lawannya selalu menyerang menggunakan sosial media.
Dan di sini Ernest seperti terlalu menyepelekan. Sehingga hal tersebut di manfaatkan lawannya.
BATU, MALANG.
Pukul 16.00 WIB.
Dari terik matahari hingga berubah senja. Senja pun sudah berganti hampir malam. Ernest mulai membangunkan Jovi. Kepala perempuan cantik bersandar di pundak Ernest itu, di gerakkan pelan.
Pak Rahmat keluar mobil pergi ke kamar mandi.
Perjalanan tidak sesuai perkiraan meleset jauh. Mobil berhenti di salah satu hotel mewah di batu, Malang. Amarta Hills Hotel and Resort.
"Suster, ayoo bangun kita sudah sampai di Malang." bisik Ernest pelan.
"Suster Jovi, ayooo bangun sayang."
"Susterrr.. ini sudah sore, ayoo istirahat di hotel dulu."
Jovi mendengar suara Ernest membangunkan. Tidak lama mata merah Jovi dipaksa harus benar-benar mau bangun. Sekitaran hotel mana mobil sedang berhenti. Jovi tidak mengenali.
"Kita di mana tuan?."
"Di Batu sayang. Ayoo kita turun, istirahat sebentar di hotel, nanti malam kita jalan-jalan."
Ernest ingin membuat moment. Jarang sekali ia bisa memberi waktu untuk Jovi. Menjadi kekasih laki-laki kaya ternyata benar-benar sangat di manja. Wajar apabila Meghan tidak bisa move on.
__ADS_1