
Jarak tempuh Surabaya Sidoarjo memakan waktu cukup 1 jam. Tidak adanya hambatan, jalanan tampak lenggang tidak macet. Sisa 30 menit lagi segera sampai di tempat tujuan.
Di perjalanan, Ernest tampak banyak mengantuk. Seusai begadang malam bersama Tuan Toni, kepalanya tidak kuat sering membentur ke jendela. Jovi membenahi posisi kepala Ernest.
Mobil di kendarai Pak Rahmat, sudah keluar dari kota Sidoarjo menuju kecamatan. Jalanan yang di lewati sudah terasa asing. Panorama Surabaya kota tidak lagi ada.
Perusahaan anak cabang W-Jaya ternyata berada di Jl. Arteri arah Pasuruan Malang di perbatasan Sidoarjo. Jovi asyik menikmati pandangan. Jendela mobil tidak di buka, tatapannya tetap keluar.
Jalan tol baru, memperlihatkan indahnya persawahan. Bibir perempuan cantik itu tak henti berdecak kagum. Jalan arah Malang terdapat banyak gunung membentang.
Jovi bercerita dengan Pak Rahmat. Ia kadang tidak sengaja membangunkan Ernest. Saat ada sesuatu baru di lihat matanya.
"Tuan, tuan, lihat tuan itu pemandangannya bagus sekali," Jovi tidak tahan memberi tahu Ernest.
"Eeuuuh... yang mana?," Ernest mengucek mata. Kedua bola mata mengerjap cepat.
"Itu tuan."
Jovi hanya menunjuk pemandangan gunung, di tambah letaknya sangat jauh. Tidak imbang dengan kecepatan mobil. Ernest hanya mampu melihat sebentar.
Nampak bukit gunung sewajarnya, di selimuti oleh terik matahari akan tetapi masih berkabut. Mungkin itu membuat Jovi tertarik.
"Bagus ya tuan, padahal tidak begitu pagi tapi di sana gunungnya masih di selimuti kabut. Kelihatannya di sana suasananya begitu dingin."
"Suster suka?"
Jovi mengangguk senang. Enest tertawa. Senyum Jovi membuat Ernest mengingat, bagaimana dulu Jovi juga begitu menyukai Enmaru, Jakarta.
"Gunung itu tempatnya di Malang sayang, di sana memang suasana sangat dingin apalagi di Batu. Kalau suster mau, sepulang meeting, ayoo kita ke sana..!!"
"Apa Tuan Ernest tidak capek? kita pulang saja, kasihan nanti Tuan Besar dan mama papa saya nungguin kita. Lain kali saja Tuan, rencana hari ini kan cuma meeting."
"Anggap saja, ke Malang itu bonus meeting dari luar kota. Kalau menolak bonus ini, kamu wajib jalan bareng dengan papa, hayooo... pilih mana?," Ernest menakut-nakuti.
"Sama Tuan Ernest saja Suster, kalau sama Tuan besar nanti diajak ke museum, atau plesir lihat barang-barang antik di dekat pasar Turi juga, seperti Mbak Beby dulu ya Tuan hahaha." sambung Pak Rahmat.
"Hahaha, iya Pak. Pulang-pulang Beby langsung curhat ke saya, sepuluh menit serasa sepuluh tahun, saya ngakak parah waktu di ceritain Beby Pak Rahmat hahaha," Ernest tertawa.
Jovi panik. Tetapi pura-pura tidak menghiraukan. Ucapan Pak Rahmat sempat memantik ke khawatiran.
"Bagaimana Suster Jovi? kamu sudah siap? Nanti akan banyak pemberitaan, lama menjadi suster tuan muda, Jovi menambatkan hatinya untuk sang ayahanda CEO. iihhh.. geli banget Ya Tuhan, simpanan om-om. Jovi simpanan om-om kaya."
Ernest menunjuk geli Jovi. Pundaknya terangkat bersamaan. Merasa geli, tidak suka langsung di perlihatkan Ernest.
"Nggak, nggak, itu nggak mungkin. Mana mau Tuan Toni menuruti keinginan Tuan Ernest yang mengada-ngada. Dosa lo kamu Tuan, ngerjain orang tua." Jovi ikut sinis menunjuk balik.
"Hahaha, dia tidak percaya Pak Rahmat. Silahkan aja tidak percaya, dan besok yakinlah jika mentari tiba Suster Jovi, Tuan Toni akan datang ke rumah kamu meminta untuk menemani membeli barang-barang antik hahaha. Bareng sugar daddy."
Ernest sangat jahil. Jovi tetap tidak mempercayai kata-kata CEO itu.
"Tuan, Tuan Ernest harus minum obat kelihatannya. Jadi mulai aneh kan? halu semua."
"Nggak percaya ya udah, terserah. Temen kamu bakalan bilang Eh Jovi, kencannya sama om-om, itu lo pemilik Stikes Wijaya. Wah.. bakalan jadi obrolan hangat kamu suster, viral no bokis bokis,"
Ernest sampai menyeka air mata karena kebanyakan tertawa.
"Yang dikatakan Tuan Ernest itu betul Suster Jovi, saya saksinya yang dulu ngantar Mbak Beby dan Tuan Toni. Jadi mending jalan sama Tuan Ernest saja Suster, sama-sama muda kan sama-sama pas keinginannya, nanti malah kayak momong kalau sama tuan besar."
"Pak Rahmat sungguh?." tanya Jovi.
"Boong itu Pak Rahmat," Ernest tertawa lagi.
"Pak bohong ya? ini yang bener siapa?."
"Ya sungguh Suster, Tuan besar itu akan selalu menuruti permintaan tuan muda suster Jovi, hanya saja kadang Tuan Ernest yang suka iseng. Saya ini tidak pernah bohong dengan Suster Jovi."
"Suster Jovi jangan tertipu dengan kepolosan Tuan Ernest, nanti kalau suster tidak mau, malah beneran disuruh jalan sama Tuan Toni besoknya suster, hehe." saran Pak Rahmat.
Jawabannya sangat tenang. Jovi memicingkan mata ke Ernest. Keusilan Ernest ternyata sangat luar biasa. Jovi memukul bahu Ernest. Kadang di dorong secepat kilat.
Suara laki-laki tampan tersebut hilang tidak ada. Tawa Ernest sampai tidak mengeluarkan suara, mulutnya menga-nga, bola matanya sipit menghilang.
Obrolan santai di mobil, akhirnya membuat Ernest tertawa sendiri. Ia tidak menyangka, menggoda kakak cantik Aqila ternyata sangat seru.
__ADS_1
Tidak lama, mobil Alphard hitam series baru tersebut masuk ke halaman PT. W-Jaya. Mereka semua sudah sampai di tempat tujuan. Ernest merapikan pakaian.
Hari ini penampilan Ernest tidak formal. Atasan hitam motif, serta celana putih, lalu di imbuhi dasi. Dasi itu baru dipasangkan Jovi. Kerah di kembalikan ke posisi semula.
Jovi membuka pintu.
Ernest turun dari mobil.
"Suster Jovi, nanti saat saya meeting, suster tunggu saja saya di lobby atau di ruang tunggu ya..!! setelah saya keluar meeting, nanti saya jemput suster lagi."
"Baik Tuan Ernest."
"Kalau makan nanti di dalam kantor juga ada kantin.. jadi jangan di tahan ya..!! ingat penyakit maag kamu, ngerti ya?."
"Iya..," Jovi tersenyum.
Mereka berdua masuk ke dalam kantor. Dari mobil berbeda, Devi sekertaris kantor Wijaya Grup menghampiri Ernest. Mereka berangkat sendiri-sendiri.
Kedatangan Devi lebih awal 1 jam di banding atasannya. Melihat Ernest bersama dengan Jovi, Devi tak lantas angkuh. Ia memberi salam kepada Jovi dan Ernest.
"Selamat pagi Pak Ernest, selamat pagi Suster Jovi." sapa Devi ramah.
"Selamat pagi juga Dev," jawab Jovi.
"Kamu naik mobil kantor kan Dev? dengan Yudha ya?," Ernest memastikan.
"Iya Pak Ernest. Tadi kami berangkat dari kantor jam 7 sampai di sini jam 9."
"Ouh pantesan aja, maaf ya jadi menunggu lama kamu di sini."
"Hehehe tidak papa Pak," ujar Devi lantas tersenyum.
Selang beberapa menit, Pak Lesmana datang menjabat tangan Ernest. Laki-laki berperawakan tinggi, besar, berkulit sawo matang datang sangat ramah menjamu Ernest.
Suasana kantor sangat terlihat kondusif. Beberapa pegawai melakukan pekerjaan. Supervisor
Sebelum Ernest pergi meninggalkan Jovi, laki-laki tampan tersebut sempat mengusap lembut rambut Jovi.
Hal ini, tentu akan menjadi berita gempar kantor. Kadang Devi tidak sabar, melihat bagaimana reaksi Meghan. Ternyata sampai saat ini, mantan kekasihnya sangat dekat dengan Jovi.
Ernest berjalan di samping Pak Lesmana. Persiapan meeting, serta sedikit obrolan penting dengan Pak Lesmana terlihat serius di depan pintu aula.
Menunggu di panggil Ernest. Devi duduk bersama Jovi. Mereka duduk di kursi lobby. Sebelumnya, Jovi dan Devi sudah berbagi senyum. Devi pun memulai pembicaraan.
"Suster Jovi.. sengaja di ajak ke sini dengan Pak Ernest ya?," Devi sangat ramah.
"Iya, Tuan Ernest mengajak saya ikut ke sini."
"Suster masih kerja di rumah Pak Ernest ? kenapa Pak Toni Wijaya membuka rekrutmen lagi sus?,"
"Saya di minta menunggu Tuan Ernest sampai ada suster baru, jadi kesehatan Tuan Ernest masih ada yang memantau, memangnya kenapa?."
"Ouh tidak apa-apa Suster Jovi, cuma tanya aja sih.. kirain Suster Jovi melakukan kesalahan, jadi Pak Toni mencari Suster pengganti begitu, hehehe,"
Jovi tersenyum menggeleng kepala. Devi bingung sendiri, sepertinya Jovi benar-benar tidak tau menau akan pemberitaan media akhir-akhir ini.
"Tapi suster, bener nggak sih, kalau suster termasuk dari orang-orang yang mengundurkan diri dari perekrutan rumah sakit?,"
"Perekrutan rumah sakit?," jantung Jovi berdebaran.
"Dari mana Devi tau masalah ini? siapa yang memberi tahu? apa itu dari Meghan?."
"Aaaaa... maaf, maaf suster Jovi, saya tidak bermaksud apa-apa. Tidak papa suster kalau tidak mau jawab," Devi gelagapan.
"Devi, info itu kamu dapat dari Meghan ya?," .
"Tidak, Meghan tidak pernah cerita apa-apa. Suster Jovi jangan bilang Pak Ernest ya, saya takut, saya tidak berniat menyinggung hati Suster Jovi, beneran deh," Devi ketakutan.
"Tidak kok, tidak akan. Tapi maksudnya kamu dapat berita itu dari siapa?,"
"Devi, anda sudah di panggil Pak Ernest," seseorang menghampiri Devi. Setelah memanggil dari depan ruang meeting.
"Dev, memang ada berita tentang saya atau gimana? apa Tuan Toni yang menyebar info itu?,"
__ADS_1
"Sudah dulu Suster Jovi, saya sudah harus menemani Pak Ernest meeting, maaf ya."
Devi bergegas meninggalkan Jovi. Selain takut, ia khawatir akan melakukan kesalahan. Sebab, selama Devi mengorek desas desus yang beredar. Jovi benar-benar tidak tau.
RUANG MEETING PT W-JAYA.
Devi masuk ke ruangan.
Ernest dan Pak Lesmana lebih dulu ada di ruang tersebut. LCD proyektor, meja besar, di kelilingi kursi hitam, sangat siap menyambut 20 klient yang di hadirkan siang ini.
Dalam presentasi, proposal proyek baru nampak matang di persiapkan PT. W-Jaya. Seperti permintaan Ernest, project ini harus sukses.
Mimpi membangkitkan lagi kejayaan pada perusahaan papa Jovi, di niati baik oleh Ernest. Sehebat dan se cintai itu, putra Tuan Toni sangat peduli dengan keluarga Jovi.
Ernest langsung di sambut oleh Pak Lesmana, direktur perusahaan anak cabang Wijaya.
Para klient mengisi satu persatu kursi kosong di ruang meeting. Mulai ada banyak suara saling mempertanyakan proyek baru cetusan Ernest Wijaya siang itu.
Meeting di mulai.
"Silahkan Pak Ernest," Pak Lesmana mempersilahkan.
Ernest berdiri.
"Selamat siang, hari ini, saya Ernest Wijaya, saya adalah pimpinan dari Wijaya Grup Surabaya. Saya sengaja menyempatkan datang ke Sidoarjo dan bertemu dengan bapak-bapak terhormat, para klient perusahaan."
Semua klient tersenyum. kedatangan Ernest sangat di nantikan.
"Terima kasih sebelumnya, kepada semua direktur, baik company maupun individu, yang sudah mempercayakan proyek besar anda kepads PT. W-Jaya. Sebagai CEO Wijaya Grup, saya merasa bangga dengan PT. W-Jaya. PT ini adalah salah satu anak cabang perusahaan Wijaya yang sudah sukses di mana pertahun grafiknya very nice, and incredible"
"Terima kasih, applous terbaik untuk bapak Lesmana." imbuh Ernest.
Semua peserta meeting memberi tepuk tangan atas kinerja hebat pimpinan PT. W-Jaya Sidoarjo.
Pak Lesmana merapatkan kedua telapak tangannya. Seolah berujar terima kasih atas sanjungan di berikan oleh Ernest.
"Di sini, saya akan membuat terobosan baru. Di mulai dari PT. W-Jaya menyusul ke PT. lain di bawah naungan Wijaya Grup, saya mengumumkan bagi para klient yang ingin bekerja sama, baik penyewaan alat berat, arsitek, dan semua pekerja lapangan, di wajibkan menggunakan seragam."
Suara gaduh. Bisik-bisik para klient mendominasi ruang meeting. Hampir suara Ernest hilang. Kalah akan suara petinggi PT, PT lain yang hadir.
"Maaf Pak Ernest, dengan terobosan ini.. menurut saya hanya pihak PT W-Jaya saja yang di untungkan, tentu ini akan sangat memberatkan bagi perusahaan kami semua," ujar pimpinan PT. Silox.
"Benar apa yang di katakan pimpinan PT. Silox, Pak Ernest, apakah ini tidak terlalu kekanak-kanakan jika hanya untuk menyewa alat berat atau meminta jasa lain dari perusahaan ini, pekerja bagian lapangan perusahaan kita di wajibkan membeli seragam." sanggah direktur PT. Zield.
"Tapi dengan gebrakan baru dari PT. W-Jaya, saya merasa nantinya PT, PT kita ini akan besar menyusul PT W-Jaya. Kalau bukan di mulai dari PT W-Jaya, tentu perusahaan kita akan tetap stagnan seperti ini pak," ada perusahaan mendukung rencana Ernest.
"Tapi saya juga merasa keberatan, harusnya pekerja bagian lapangan itu adalah tanggung jawab perusahaan kami. Kerjasama kita dengan PT. W-Jaya pure, hanya penyewaan alat berat, kontrak konsult K3, dan jasa lain yang di tawarkan perusahaan Pak Ernest,"
Kata-kata itu, di setujui, di tolak, semua tamu meeting. Pak Lesmana sudah menduga, tentu akan ada pro dan kontrak.
Dari daftar 30 klient terdiri besar dan kecil. Beberapa perusahaan sempat menanyakan, efektifitas program baru buatan PT. W-Jaya.
"Saya lanjutkan, jadi begini, 1. Kenapa saya mewajibkan bagi perusahaan yang ingin menyewa alat berat, atau yang membutuhkan jasa lain di PT. W-Jaya harus menggunakan seragam, karena di lapangan hampir tidak tersentuh pengakuan. Dengan seragam ini, tentu mereka akan bangga bekerja di PT kita meski hanya sebagai buruh lepas, karena menurut saya itu sangat penting."
Semua klient mulai merenung. Suara ngotot mereka tidak keruh memenuhi ruangan lagi.
"Kenapa saya bilang terpenting? sebab selama ini banyak perusahaan besar tidak memperhatikan bagaimana memperbaiki elemen terkecil dari perusahaan yang bapak pimpin. Dengan seragam, tentu itu dapat membranding perusahaan kita. Di luar sana banyak saya temui, ketika saya kunjungan, ada banyak sekali perusahaan mendapatkan tander proyek besar. Tapi?? banyak orang tidak tau, proyek itu dipegang oleh perusahaan apa? karena pekerja lepas yang tidak di seragam. itu tindakan yang sangat saya sayangkan."
"Saya setuju dengan anda Pak Ernest, orang awan yang tidak paham dalam dunia kontraktor dan developer baik dari para penguasa kota kota ini, kadang mereka perlu menanyakan dulu, proyek ini di kerjakan PT mana? hasilnya bagus ya? tapi karena pekerja lepas yang tidak berseragam mereka harus menanyakan dulu ke mandor. Karena kadang orang pekerja lepas dia tidak tau bekerja dengan PT apa? jadi asal kerja dan dapat uang." Pak Farid menyetujui.
Satu persatu perusahaan mulai menyetujui. Banyak yang merasa sependapat. Para direktur perusahaan menimang satu persatu.
"Maka dari itu, dengan seragam kita bisa membuat identitas. Selain membuat kebanggaan di hati para pekerja bagian bawah, kita juga bisa memberi tahu pada orang awam. Jadi mereka bisa tau, oh ini lo? proyek rumah sakit ini di kerjakan PT. Zield, PT. Exxon, PT. W-Jaya, mereka bisa melihat itu dari seragam kita."
"Betul, betul.. benar itu pak, hal kecil ini sangat perlu dipertimbangkan oleh petinggi perusahaan-perusahaan," Pak Gio juga menyetujui.
"Di sini tentunya PT kami jelas tidak akan egois. Jadi agar menguntungkan bagi kedua belah pihak, ada dua nama perusahaan yang akan kita branding di seragam para pekerja, satu dari PT W-Jaya, dan satu dari perusahaan anda. Estimasi biaya pembuatan seragam juga kita bagi menjadi dua. Karena kami hanya membantu makan 47% PT. kami, 53% dana dari PT para klient." tutup Ernest di akhir meeting.
"Waaaahhhh.. itu sangat menarik sekali Pak Ernest kami setuju. Ini benar-benar simbiosis mutualisme," para klient nampak sangat bahagia.
30 klient yang hadir, semua menyetujuinya. Selain prosentase yang di tawarkan PT Ernest sangat menggiurkan. Hal ini juga akan membantu perusahaan menengah itu bisa lebih maju.
Ernest sangat bersyukur. Kejayaan PT. Persada Jaya, perusahaan milik papa Jovi sudah berada di pelupuk mata. Kebahagiaan itu di rasa akan sangat indah pada hari selanjutnya.
__ADS_1