Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
59. Showroom Mobil


__ADS_3

Pagi ini Jovi bangun. Tingkah receh Aqila dari tadi mengusik telinga. Mata Jovi tak kuat membuka, jam dinding menunjukkan pukul 05.30, ahh.. sayang rengek Aqila di atas ranjang menggagalkan.


"Kakak.. kakak Opi bangun, kakak kapan datang sih..?? nggak bawa mainan ya?," Aqila memprotes tepat ke arah gendang telinga Jovi.


"Aqila... kakak masih ngantuk," Jovi menarik selimut menjauhkan wajah Aqila dari indra pendengaran.


Tubuh Aqila terpental di atas kasur, bukan malah menangis Aqila malah membangunkan diri memasang wajah seperti tokoh ultramen memenangkan pertandingan dengan lawan.


Setelah begadang semalam dengan mama Jovi, sungguh kelopak mata indah perempuan cantik tersebut masih menggelayut mata.


Jovi tak kuasa membuka mata, meski jerit khas Aqila di atas kepala.


Tadi malam mama Jovi meninggalkan kamar pukul 03.15. Aqila sendiri yang menyalakan mata, lain Aqila semua keluarga di rumah tersebut meringkuh selimut tidur kembali.


Setelah perjalanan melelahkan dari Jakarta menuju Surabaya. Tulang belulang kakak Aqila tersebut seperti menyatu dengan kasur, susah di pisahkan tangan Aqila.


"Kakak Opi... kakak pulang dari Jamarta, kok nggak bawa oleh-oleh, kak beliin boneka barbie ? ayooo kak." tangan Aqila menarik lengan Jovi.


Jovi nampak menolak memasukkan kembali tangannya ke selimut. Tawa menyungging di wajah Jovi, saat ucapan Jakarta di ubah Aqila menjadi Jamarta.


"Masih tutup, nanti, nanti, jalan-jalannya nanti, kakak janji nanti Qil."


"Jam berapa?."


"Sepuluh." nada Jovi terdengar malas, tangannya memeluk guling.


"Kalau sekarang jam berapa kak Opi? masih lama? apa bentar lagi?." tubuh Aqila mendudukkan diri di samping kakaknya.


"Kakak Opi.., banguun, jam berapa kak?."


Baju bergambar LOL, lengkap dengan rambut pendek masih tetap terlihat rapi di pakai Aqila. Nyatanya, Aqila belum mengguyur tubuhnya dengan air.


"Lima."


"Lima, enam, delapan, tujuh, sepuluh."


"Hahaha.." Jovi tertawa. Ia tahu, alih-alih adiknya berniat menghitung wktu, tapi malah salah kaprah.


Jovi lantas membangunkan diri. Matanya masih mengantuk, hanya saja tingkah polos Aqila lebih mendominan rasa kasihan di hati kakaknya tersebut.


"Aqilaa.. hitungan kamu salah sayangg."


"Yang betul gimana? ini, lima, ini empat, berapa lagi kak?." Aqila mengangkat jari-jari tangan.


Jovi memandang tidak tega, jari-jari Aqila benar-benar menghitung sebisa dia. Sudah lewat dari tiga puluh hari, enam puluh jam denting jarum jam, dan sekarang ada Aqila apa Jovi tega meninggalkan sendirian.


Tanpa peringatan, Jovi langsung memeluk erat Aqila. Sangat erat dan rambut Aqila menusuk wajah cantik kakaknya tersebut.


"Kakak Opi..," pekik Aqila.


"Apa?, apa?, apa? hiiihh, gemess, gemess, gemesss," Jovi mendekap erat.


Setelah puas memeluk tubuh mungil saudara kandungnya. Tangan Jovi bermain di atas hidung Aqila. Se pagi itu kakak adik di dalam kamar mencetak suara gemuruh.


Jovi memandang sayu, sorot mata melihat Aqila tersenyum bagai malaikat tanpa dosa. Ada ketakutan dari lubuk hati, Jovi khawatir masa depan Aqila tidak akan se cerah dia.


Baru masuk ke bangku TK, kondisi ekonomi sudah teramat sangat sulit. Jovi tidak bisa membayangkan, apa Aqila bisa menempuh pendidikan strata 1 seperti ia.


Rumah sudah di agunkan ke bank, hutang besar belum terlunaskan. Lantas, kebahagiaan seperti apa akan di cetak oleh Jovi.


Jovi memasung kakinya di samping Aqila. Ia lantas menggenggam jemari kecil tanpa dosa itu.


"Aqila... doa'in kakak ya, biar cepat dapat kerja, doa'in Pak Fictor biar cepat dapat hidayah.. sehingga hutang keluarga kita normal seperti hutang pada umumnya ya.. kakak bener-bener sayang kamu."


"Kakak Opi bengong, kakak.. beli mainan, ayoookk, kakak Opi, naik mobil ke mall."


"Kakak Opi."


"Aaaaa....," rambut Jovi di jambak.


"Aqila.. sakit, apa? iya, iya, ayooo.. kalau gitu, mandi ya.. mama bangunin, tapi jangan ke mall, kakak belum punya uang lebih, besook ya.. kalau kakak ada rezeki lebih."


"Beli boneka barbie nya di mana? kalau nggak punya uang, kakak Opi minta papa ya? Aqila anterin kakak Opi kalau nggak berani."


"Hahahaha.. ada-ada aja, nggak usah, kalau barbie nya cuma satu, kakak masih ada uang kok." Jovi tersenyum.


Aqila lantas menurunkan diri dari ranjang. Kaki kecilnya benar-benar berlari mencari mama Jovi seperti yang di perintahkan oleh kakaknya tersebut.


"Mamah.. mamah.. banguun."


Dari dalam kamar Jovi, suara Aqila tak ubah seperti genderang dan alarm bersyukur. Ada malaikat kecil masih di kirimkan Tuhan sebagai penyemangat di hidup Jovi.


Jarum jam menunjukkan pukul 06.15.


Mata ngantuk Jovi sudah pergi, ia lekas berjalan ke arah almari mencari surat BPKB mobil Honda Jazz atas namanya.


Ada rasa sedih, tapi mau di apakan lagi. Pundi-pundi rupiah di butuhkan Jovi untuk melunasi hutang bunga bulan depan ke Fictor. Apapun caranya, ia harus mendapatkan uang sebelum jatuh tempo.


Jovi keluar kamar. Ia bersiap mandi, sebab telah menjanjikan Aqila sesuatu. Ruang keluarga nampak hamparan kosong, tidak ada orang. Jovi tetap menjalankan kaki.


Ada papa Jovi terlihat sedang berdiri di samping pintu dapur. Rasa takut hinggap, Jovi tidak berani menghadap papanya, setelah cek cok di telepon beberapa waktu lalu.


"Jov.."


"Ahhh.. ya pah."


Kaki Jovi mundur tiga petak, hadap melihat laki-laki paruh baya berkacamata.


"Papa sudah bayar hutang bunga untuk bulan ini, sisanya untuk bulan depan papa baru punya 50.000.000, itu sisa papa ambil uang deposito."

__ADS_1


"Aaa... iyaa pah."


Jovi memandang. Namun entah di sengaja atau tidak, papa Jovi seperti mengalihkan pandangan setiap putri sulungnya tersebut melihat ke arahnya.


Jovi tau, papanya sedang kecewa. Terbukti, tidak ada satu pun pertanyaan yang di lontarkan ke arah dia.


"Pah.. Jovi habis ini mau ke showroom, mau jual mobil sekalian Jovi mau keluar sama Aqila."


"Ke Mandala saja, di situ kamu bisa dapetin harga yang se banding dengan spek mobil kamu."


"Ya pah."


"Kamu baik-baik saja kan selama ini?."


"Baik pah."


"Ya sudah." papa Jovi membersihkan lensa kacamata.


Orang tua laki-laki Jovi, nampaknya masih mencoba berunding dengan hati. Rasa khawatir bercampur kecewa terlihat masih membabi buta.


Jovi juga menyadari kesalahan yang telah di perbuat. Jadi untuk tidak menyakiti satu sama lain, mereka berdua kompak tidak mengucap pertanyaan.


1 JAM KEMUDIAN.


Aqila sudah siap berdandan rapi, baju biru gambar frozen di imbuhi dengan bandana pita warna senada nampak membuat Aqila menjadi sangat cantik.


Jovi mengenakan rok jeans biru muda se lutut, dengan baju santai warna merah bata yang di masukkan. Untuk rambut, ia lebih suka membiarkan terurai di belakang kepala.


Jam tangan warna keemasan merk dior di kenakan Jovi pada bagian pergelangan kanan kiri. Ada gelang kaki di kaki kanan Jovi, semakin membuat ia terlihat cantik.


Jovi mencari Aqila di kamar.


"Aqila.. ayoook."


Mama Aqila memakaikan sepatu Aqila.


"Sebentaar kak Opi, Aqila pakai sepatu."


"Nanti kamu pulang jam berapa Jov?," tanya mama Jovi melihat Jovi menyadarkan tubuh di pintu.


"Nggak lama mah, soalnya Jovi ada janji dengan Tuan Toni, paling siang Jovi udah pulang."


"Katanya Tuan Toni di luar kota, gimana sih?." mama Jovi merasa aneh.


"Iya mah, tapi tadi malam Tuan Toni telpon, minta bantuan ke Jovi, dan bilang kemungkinan hari ini Tuan Ernest sudah sampai di Surabaya, tapi kurang tau jam berapanya."


"Bantuan apa? Tuan Ernest belum sembuh?."


"Terakhir Jovi ketemu sudah baik, tapi mungkin karena sekarang nggak ada suster lagi, jadi seperti makan dan minum obat banyak lalai'nya. Ya Tuan Ernest orangnya sibuk mah, sakit aja masih mikirin kantor, mungkin sebetulnya Tuan Ernest butuh be tress yang banyak."


"Kasihan Jov." mama Jovi mengenang apa yang di ceritakan putrinya. Ernest adalah Laki-laki yang baik.


"Ya sudah, kalau gitu jangan lama-lama, Jovi ingat ya.. kamu nggak boleh menunda untuk memberi tahu Tuan Toni, masalah papa, nanti mama akan ngejelasin ke papah kamu dikit-dikit, kalau kamu udah pergi ke rumah Tuan Toni ya..?."


"Heem." Jovi mengangguk.


"Makasih banyak ya mah. mama selalu jadi penenang Jovi." pundak mereka saling adu peluk.


*************************


SHOWROOM MOBIL "MANDALA"


Seperti apa yang di sarankan oleh papa Jovi. Sebelum mencari boneka, mobil lebih dulu terparkir di depan showroom besar kawasan Surabaya barat.


Jovi menggandeng tangan Aqila. Kedua'nya turun jalan menuju arah ruangan bermeja besar. Ada Pak Odi kenalan papa Jovi, keluar dari ruangan.


Beberapa pegawai sedang menyelesaikan tugas. Dari menyapu, mengepel, mengelap mobil, Aqila memandang satu persatu. Fokus Jovi hanya mencari owner showroom.


Hari ini, tidak banyak orang sedang melakukan penjualan. Ada sedikitnya 2 orang, selain Jovi ikut menanyakan harga jual mobil mereka.


Panas yang belum seberapa, di manfaatkan para makelar mobil mencari spesifikasi kendaraan yang cocok untuk pasar dagang masing-masing. Jovi tersenyum ke arah Pak Odi.


"Selamat pagi Pak Odi, saya putrinya Pak Yusuf."


"Ouh iya, selamat pagi. Ada apa ya mbak? siapa namanya? lupa saya." pria berperut gendut itu juga tersenyum.


"Jovi pak, ini tadi papa bilang nyuruh saya jual mobil di mandala pak. saya mau jual mobil."


"Ouh iya, iya, mobil apa mbak Jovi?."


"Honda Jazz Rs keluaran tahun 2018 pak."


"Baik, tunggu ya.. saya panggil pegawai saya dulu, buat ngecek kondisi mesin." Pak Odi memanggil salah satu pegawai.


"Iya pak."


Jovi dan Aqila menunggu di parkiran depan showroom. Dimana tempat jual mobil tersebut berhadapan langsung dengan apotik dan perempatan simpang raya.


Kursi tunggu sebelum di duduki Jovi sudah tersengat ganas matahari. Aqila nampak kepanasan, bandana cantik dan poninya mulai tumpang tindih dengan tangan. Dari tadi tangan Aqila mengobrak ngabrik wajah.


Belum sarapan, Jovi bingung mencari makan di mana. Bukan kasihan dengan dirinya sendiri melainkan lebih ke Aqila. Jovi membantu Aqila menyeka keringat, bibir Aqila nampak menyeringai lebih sering.


"Panas Qila?."


"Iya kak, haus."


"Bentar ya, habis ini kita cari makan dan tempat minum."


"Nggak mau."

__ADS_1


"Loh kok nggak mau, lha terus apa?."


"Kata kak Opi kan beli barbie bukan makan."


"Hahaha.. iya, iya, nanti dibeliin kakak, tapi makan dulu."


"Pokoknya beli dulu, nggak mau, harusss sekarang, Aqila mau boneka."


"Iya, iya, tunggu om'nya dulu, cek mobil yah, habis ini ya."


"Sekarang kakak Opi." Aqila mulai menangis.


"Aqila kok sekarang gitu sih, rewel ih Aqila, pulang aja kalau gitu, jangan nangis di sini, lihat itu di lihatin mas-mas, kakak Opi malu."


Sikap manja Aqila langsung terlihat, rayuan Jovi nampaknya belum berhasil. Rengekan Aqila mulai berubah menjadi tangis.


Jovi sedang susah hati, Aqila masih merengek dan proses pengecekan mesin juga baru di mulai.


************************


PEREMPATAN SIMPANG RAYA.


Ernest sudah sampai di Surabaya. Perjalanan ke rumah terhitung hanya kurang satu jam. Kepalanya tetap sama, masih pening padahal tidak digunakan berfikir.


Pak Yoyok yang mengemudikan mobil. Ernest berhasil tiba, setelah menggunakan jet pribadi kantor. Biasanya, jet tersebut di gunakan Ernest hanya untuk hal-hal penting.


Saat meeting mendesak ke luar negeri, atau saat klient membutuhkan jemputan dari kantor. Selebihnya, Ernest lebih nyaman menggunakan pesawat terbang yang di komersilkan oleh para petingginya.


Pak Yoyok berulang kali, menanyakan keadaan Ernest. Pening di kepala belum mereda, di tambah dengan bolak balik perjalanan Jakarta Surabaya, menjadikan tubuh Ernest kurang fit.


"Tuan, apa kita langsung ke rumah sakit saja?."


"Tidak usah pak, rumah sakit bau'nya tidak enak, papa bilang juga sudah mengirimkan suster lagi."


"Suster baru tuan?." Pak Yoyok berbalik tanya. Tidak tau apabila Tuan Toni memerintah Jovi lagi.


"Paling ya suster dari rumah sakit, oh ya pak, apa suster Jovi tidak ke rumah? setelah balik dari Jakarta." Ernest menyadarkan tubuh, memengangi kepala.


"Tidak tuan, saya kira malah balik bareng Tuan Ernest pagi ini." Pak Yoyok berhenti di lampu merah.


Suasana pagi nampak menghilang berubah jadi siang. Dari kaca mobil Ernest, terik matahari di kaca mobil belakang tidak memberi ampun para pengendara motor.


Ruko besar, beberapa store sudah di datangi pengunjung. Meski beberapa masih sepi, bengkel dan showroom terlihat memecah para pelanggannya.


Lelah merebahkan badan di dalam mobil. Ernest membangkitkan diri, mata Ernest sedikit mengerjap saat bertabrakan dengan sinar matahari.


Dari mata, laki-laki tampan tersebut membaca satu persatu nama ruko. Khalisa Shop, Gerai Indosat, Kopi Soft serta tempat sekitarnya di perhatikan Ernest satu persatu.


Pandangan mata, langsung menemukan perempuan cantik berbaju merah bata, mengenakan rok jeans biru laut ukuran se lutut. Lengkap di sampingnya ada anak kecil mengenakan baju Frozen.


Ernest membatin.


"Mungkin apabila Suster Jovi bersama dengan adiknya Aqila, mereka akan seperti adik dan kakak di depan parkir showroom itu, rambut kakaknya panjang, dan adiknya berambut pendek."


Tampaknya Ernest masih ingat foto Jovi dan Aqila pernah di lihat lewat ponsel susternya beberapa waktu lalu.


Ernest tidak bisa melihat wajah yang di perkirakan laki-laki tampan tersebut adalah adik kakak. Sebab nampaknya tangis pecah anak kecil itu, membuat perempuan itu membelakangi penglihatan Ernest.


Pak Yoyok juga mengajak matanya jalan-jalan. Selain ruko, dan store yang juga lebih dulu di lihat Ernest.


Pandangan mata Pak Yoyok berlari ke arah showroom. Mobil-mobil tak bertuan tersebut sangat terlihat mewah. Decak kagum Pak Yoyok hanya di hati, menginginkan satu mobil.


Triingg... Tingg.. Tingg..


GHAZI MEMANGGIL..


Ernest mengambil ponsel dari saku. Telepon lama yang sudah ditunggunya, akhirnya Ghazi menghubungi Ernest.


"Hallo.."


"Hallo, selamat pagi Tuan Ernest."


"Pagi juga Ghazi, bagaimana? kamu sudah mendapatkan informasi yang saya perintahkan."


Pak Yoyok asyik menikmati pandangan. Lampu merah di perempatan simpang raya memang terkenal memakan waktu.


"Dia sekarang sudah kembali ke Surabaya?."


"Sudah tuan, saya mulai mencari tahu perempuan atas nama Jovi Andrianita, dia adalah alumni lulusan Stikes Wijaya, dia pernah lolos rekrutmen namun perempuan itu lebih memilih bekerja di..,"


"Tuan.. Tuan Ernest, itu Suster Jovi." teriak Pak Yoyok mengejutkan Ernest.


"Apa Pak Yoyok? di mana? Pak Yoyok Pak Yoyok, saya sedang menerima telepon." kepala Ernest berdenyut lagi saat di gerakkan.


"Di ruang tunggu showroom tuan, sama anak kecil, itu Suster Jovi tuan, iya tuan Suster Jovi." Pak Yoyok membuka kaca mobil.


"Tuan.. Tuan Ernest hallo." Di dalam telepon, Ghazi mencari, ke mana suara Ernest.


Ernest memutar pelan gerak kepala. Rasa nyeri dan ingin mual mengajak ingin segera bertemu kasur.


"Tiiinn... tinn... tiiinn...."


"Tiinn... tiin... tiiinnnn..."


Mobil di belakang kendaraan mewah Ernest nampak membunyikan klakson tak sabar. Pak Yoyok melihat, rambu-rambu sudah berganti warna hijau.


Ernest menoleh di ruang tunggu yang di maksudkan Pak Yoyok. Ghazi tetap ada di panggilan masuk, meski tidak tahu lagi ke mana arah suara tuan mudanya.


"Itu pak." Ernest menoleh.

__ADS_1


__ADS_2